Penggunaan gamis dalam Sholat, Sahkah?

Artikel dapat diunduh disini

Pakaian merupakan kebutuhan primer yang tak dapat lepas dari kehidupan sehari-hari. Sehingga, sangat layak diperhatikan terlebih ketika kita menghadap Allah saat sholat.

Kita diharuskan berpakaian suci dari segala jenis najis dan menutupi aurat sesuai ketentuan.

Permasalahan bersih dari najis, tentu kita sudah banyak yang memahaminya, namun bagaimana dengan menutup aurat? Bagaimana pakaian yang seharusnya dikenakan saat sholat? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kita kupas lewat tulisan Syaikh Masyhur Hasan Salman yang diterbitkan oleh penerbit Dar Ibni Qayim, Arab Saudi dihalaman 17-32. Beliau termasuk murid senior Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, pakar hadits abad ini yang karya-karyanya sudah beredar diseluruh dunia dan menjadi rujukan para thalibul ‘ilmi. Beliau dalam sebuah karyanya yang berjudul Al Qaulul Mubin fi Akhtha`il Mushallin membahas mengenai keterangan yang jelas tentang kesalahan orang-orang yang sholat.

Pakaian dalam Sholat

Kriteria berpakaian ketika sholat adalah:

1. Tidak ketat sehingga menggambarkan bentuk aurat. Mengenakan pakaian ketat jelas tidak sesuai syariat. Selain itu, dampaknya juga kurang baik dari segi kesehatan. Bahkan ada yang saking ketatnya hingga membuat pemakainya tidak dapat sujud. Bila karena mengenakannya seseorang meninggalkan sholat, maka jelas pakaian semacam ini haram. Imam As Syaukani dalam Nailul Author 2/115 berkata, “Wajib bagi wanita menutup badannya dengan pakaian yang tidak membentuk tubuh, inilah syarat dalam menutup aurat.”

2. Tidak tipis dan tidak transparan. Para fuqaha dalam membahas syarat-syarat sahnya sholat yaitu pada pembahasan “Menutup Aurat”, mereka mengatakan, “Syarat bagi pakaian penutup adalah tebal, tidaklah sah bila tipis dan mengesankan warna kulit.”. Dengan demikian siapa saja yang terbuka auratnya padahal ia mampu menutupnya, maka sholatnya tidak sah walaupun sholat sendiri di tempat yang gelap, karena sudah merupakan ijma’ akan wajibnya menutup aurat di dalam sholat.

Berkata Imam Syafi’i rahimahullah, “Bila seseorang sholat dengan gamis yang transparan, maka sholatnya tidak sah.” Beliau juga berkata, “Yang lebih parah dalam hal ini adalah kaum wanita bila sholat dengan daster (pakaian wanita di rumah) dan kudung, sedangkan daster menggambarkan bentuk tubuhnya. Saya lebih suka wanita tersebut sholat dengan mengenakan jilbab yang lapang di atas kudung dan dasternya sehingga tubuh tidak terbentuk dengan daster tadi.”

Oleh karena itu, hendaknya kaum wanita tidak sholat dengan pakaian yang transparan seperti pakaian dari nilon dan sejenisnya, karena bahan jenis ini walaupun luas dan menetup seluruh tubuh namun selalu terbuka atau membentuk. Dalilnya adalah sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Akan ada kelak pada umatku wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang…” (HR Malik dan Muslim).

Ibnu Abdil Barr berkata, “Yang dimaksud oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wanita yang mengenakan pakaian tipis atau mini yang membentuk tubuh dan tidak menutup auratnya. Mereka disebut berpakaian tetapi pada hakekatnya telanjang.”

Selain itu, kata As Safarini dalam Gidza`ul Albab, “Bila pakaian itu tipis hingga tampak aurat si pemakainya, baik lelaki maupun wanita, maka dilarang dan haram mengenakannya. Sebab secara syariat dianggap tidak menutup aurat sebagaimana diperintahkan. Hal ini tidak diperselisihkan lagi.” Sebagian fuqoha menyebutkan, “Pakaian yang transparan pada sekilas pandangan, keberadaannya seperti tidak ada. Karena itu tidak ada sholat bagi yang mengenakannya (untuk sholat).”

3. Tidak membuka aurat. Terkadang masih ada wanita yang tidak menjaga pakaian dan tidak memperhatikan menutup seluruh badan, sedang ia berada di hadapan Robbnya, baik karena bodoh, malas atau acuh tak acuh. Padahal sudah menjadi kesepakatan bahwa pakaian yang mencukupi bagi wanita untuk sholat adalah baju panjang dan kerudung.

Jika seorang wanita sudah memulai sholat padahal sebagian rambut atau lengan atau betisnya masih terbuka. Maka ketika itu –menurut jumhur ahli ilmu- wajib ia mengulangi sholatnya. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sayidah Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya sebagai berikut, “Pakaian apa yang pantas dikenakan wanita untuk sholat?” Beliau menjawab, “Kerudung dan baju panjang yang longgar sampai menutup kedua telapak kaki.”[17] (Riwayat Malik dan Baihaqi dengan sanad jayyid).

Imam Ahmad juga pernah ditanya, “Berapa banyak pakaian yang dikenakan wanita untuk sholat?” Beliau menjawab, “Paling sedikit baju rumah dan kudung dengan menutup kedua kakinya dan hendaknya baju itu lapang dan menuutup kedua kakinya.”

Imam Syafi’i berkata, “Wanita wajib menutup seluruh tubuhnya di dalam sholat kecuali dua telapak tangan dan mukanya.” Beliau juga berkata, “Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali telapak tangan dan wajah. Telapak kaki pun termasuk aurat. Apabila di tengah sholat tersingkap apa yang ada antara pusar dan lutut bagi pria sedang bagi wanita tersingkap sedikit dari rambut atau badan atau yang mana saja dari anggota tubuhnya selain yang dua tadi dan pergelangan –baik tahu atau tidak- maka mereka harus mengulang sholatnya. Kecuali bila tersingkap oleh angin atau karena jatuh lalu segera mengembalikannya tanpa membiarkan walau sejenak. Namun bila ia membiarkan sejenak walau seukuran waktu untuk mengembalikan, maka ia tetap harus mengulanginya.” Oleh karena itu wajib bagi wanita muslimah memperhatikan pakaian mereka di dalam sholat, lebih-lebih di luar sholat..

4. Bagi wanita juga ada dua keadaan yang diatur dalam syariat: 1. Keadaan mustahab yaitu melebihkan sekitar satu jengkal dari keadaan jawaz bagi pria. 2. Keadaan jawaz yaitu melebihkannya sekitar satu hasta. Sunnah inilah yang dijalankan oleh wanita-wanita di jaman Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan jaman-jaman selanjutnya. Dari sinilah kaum muslimin di masa-masa awal menetapkan syarat bagi ahli dzimmah harus tersingkap betis dan kakinya supaya tidak serupa dengan wanita-wanita muslimah. Hal ini sebagaimana diterangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim. Demikianlah beberapa perkara yang harus kita perhatikan dalam hal pakaian dalam sholat.

Pakaian dalam sholat sudah selayaknya berpedoman pada ketentuan yang diatur dalam syariat. Zaman sekarang, gamis yang berupa baju terusan panjang mulai digemari di kalangan wanita. Desainnya yang tidak kaku, nyaman, dan model yang bervariasi membuat gamis Berikut akan dibahas lebih dalam mengenai pro dan kontra pemakaian gamis saat sholat.

Kontra gamis

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab [33] : 59).

Makna ayat di atas menyebut kata “jilbab” sebagai pakaian bagi wanita. Jilbab atau gamis adalah busana terusan untuk menutupi seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Penggunaan gamis sebagai pakaian syar’i muslimah harus dilengkapi juga oleh khimar. Khimar adalah kerudung yang menutupi kepala hingga leher dan dada. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam QS. An-Nuur ayat 31: “Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, “Hendaklah mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (khimar) ke dadanya…”.

Lebih jauh dari itu, ada syarat-syarat lain yang perlu dipenuhi agar pakaian kita tergolong syar’i. Beberapa di antaranya yakni yang tertera dalam Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah Lil Imam Al Albani:

  1. Menutupi seluruh tubuh kecuali yang tidak wajib ditutupi
  2. Tidak berfungsi sebagai perhiasan
  3. Kainnya tebal tidak tipis
  4. Lebar tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh
  5. Tidak diberi pewangi atau parfum
  6. Tidak menyerupai pakaian lelaki
  7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir
  8. Bukan merupakan libas syuhrah (pakaian yang menarik perhatian orang-orang)”

Di samping itu, menutup aurat juga merupakan salah satu syarat sah shalat. Jika seorang wanita tidak menutup aurat ketika shalat maka shalatnya batal. Kemudian pertanyaan yang muncul selanjutnya, jika dengan memakai gamis dan khimar sudah menutup aurat seorang muslimah, apakah kemudian kedua hal itu cukup untuk dipakai saat shalat? Sedangkan yang kita sama-sama tahu seringkali gamis yang kita pakai tidak sampai menutup telapak kaki yang merupakan bagian dari aurat. Sehingga ketika shalat dengan menggunakan gamis kita tetap memakai kaos kaki. Padahal, kaos kaki yang kita kenakan tentunya memperlihatkan lekuk kaki kita yang berarti syarat berpakaian syar’i kurang sempurna terlaksana.

Pro Gamis

Di sekitar kita banyak dijumpai wanita shalat mengenakan mukena/rukuh yang tipis transparan, sehingga terlihat rambut panjangnya tergerai di balik mukena. Belum lagi pakaian yang dikenakan di balik mukena. Terlihat tipis, tanpa lengan, pendek dan ketat, menggambarkan lekuk-lekuk tubuhnya. Pakaian seperti ini jelas tidak bisa dikatakan menutup aurat.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ الْحَارِثِ عَنْ عَائِشَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ
قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ سَعِيدٌ يَعْنِي ابْنَ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Hammad dari Qatadah dari Muhammad bin Sirin dari Shafiyyah binti Al-Harits dari Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda: “Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah haid (baligh), kecuali dengan memakai tutup kepala.” Abu Dawud berkata; Diriwayatkan oleh Sa’id bin Abi ‘Arubah dari Qatadah dari Al-Hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (H.R. Abu Daud No. 546 Shahih menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani)

Adapun dalam hadits lain dijelaskan bahwa, Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Bila seseorang sholat dengan gamis yang transparan, maka sholatnya tidak sah.” Abdur Razzaq ash-Shan‘ani rahimahullah meriwayatkan dari jalan Ummul Hasan, ia berkata, “Aku melihat Ummu Salamah istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam, shalat dengan mengenakan dira’ dan kerudung.” (al-Mushannaf, 3/128)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, ‘Wanita shalat dengan mengenakan dira’, kerudung, dan milhafah.’ Selain itu, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah shalat dengan mengenakan kerudung, izar, dan dira’. Ia memanjangkan izar-nya untuk berselubung dengannya. Ia pernah berkata, ‘Wanita yang shalat harus mengenakan tiga pakaian apabila ia mendapatkannya, yaitu kerudung, izar, dan dira’.(Syarhul ‘Umdah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/322). Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Disenangi bagi wanita untuk shalat dengan mengenakan tiga pakaian: dira’, kerudung, dan jilbab yang digunakan untuk menyelubungi tubuhnya, kain sarung di bawah dira’, atau sirwal (celana panjang yang lapang dan lebar) karena lebih utama daripada sarung.

Apabila merujuk pada riwayat sahih menurut para sahabt diatas, maka penggunaan dira’ saat shalat sudah dapat digunakan. Jumhur ulama sepakat, pakaian yang mencukupi bagi wanita dalam shalatnya adalah dira’ dan kerudung. (Bidayatul Mujtahid, hlm. 100). Sehingga, dari berbagai hadits yang diriwayatkan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan gamis ketika sholat diperbolehkan asal gamis tersebut tebal, tidak transparan, dan tidak ketat membentuk aurat.

Berbagai sudut pandang yang dikutip dari Al-Quran, sunah, maupun jumhur ulama diatas telah disampaikan mengenai penggunaan gamis ketika sholat. Prinsip-prinsip Islam sebagai agama rahmatan lil alamin tidak hanya mengatur cara beribadah, namun juga meliputi semua aspek kehidupan. Mulai dari berdagang, berpolitik, berkeluarga, pembagian harta waris, dan masih banyak lagi. Bahkan adab berpakaian pun tidak luput dari aturan islam. Sebagai muslimah, kita berkewajiban untuk memperhatikan pakaian sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Terlebih ketika kita menghadap Rabb sang pencipta sebagai bentuk penghambaan kepada-Nya. Wallahu a’lam

Referensi:

  • Admin Islamidia. 2017. Available at islamidia.com/ini-perbedaan-hijab-jilbab-khimar-dan-kerudung/
  • Ammi Nur Baits. 2011. Available at konsultasisyariah.com/4550-wanita-yang-tidak-menutup-aurat-di-luar-shalat.html
  • Niswah. 2011. Available at aasysyariah.com/pakaian-wanita-dalam-shalat
  • Ummu Ubaidillah. 2013. Available at muslimah.or.id/3592-lindungi-diri-dengan-jilbab-syari.html
  • Webadmin. 2005. Karya Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman. Available at salafy.iwebland.com/baca. php?id=3,terjemahan kitab Al Qaulul Mubin, edisi bahasa Indonesia “Koreksi atas Kekeliruan Praktek Ibadah Shalat”, karya Syaikh Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan bin Salman, judul “
  • Yulian Purnama. 2015. Available at muslim.or.id/26725-makna-hijab-khimar-dan-jilbab.html

Kontributor : Dinda Depari, Fidela R, Nuraida Awanis, Ariesta Khansa, Andini Puji, Dwi Ayu Kartini

Editor : Handra Anugerahani

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan