MURATTAL AL QUR’AN SEBAGAI SOLUSI ATASI DEPRESI

Oleh Hanan Anwar Rusidi dan Silmi Kaffah

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

 

Gangguan depresi adalah salah satu jenis gangguan jiwa yang paling sering terjadi pada manusia. Menurut World Health Organization (WHO) dalam penelitiannya tahun 2000, penderita gangguan depresi berada pada urutan ke empat penyakit di dunia. Pada tahun 2020, diperkirakan jumlah penderita gangguan depresi akan semakin meningkat dan akan menempati urutan kedua penyakit di dunia. Seakan sulit untuk dicegah dan disembuhkan, menjelaskan bahwa kemajuan tekhnologi abad dua puluh belum dapat membantu memecahkan masalah ini seutuhnya. Perlu solusi lain untuk mencegah ketidaktenangan hati dan ketidaktentraman jiwa tersebut. Salah satunya adalah dengan murratal Al-qur’an.


Gangguan depresif merupakan gangguan medik serius menyangkut kerja otak, bukan sekedar perasaan murung atau sedih dalam beberapa hari. Gangguan ini menetap selama beberapa waktu dan mengganggu fungsi keseharian seseorang. Gangguan depresif masuk dalam kategori gangguan mood, merupakan periode terganggunya aktivitas sehari-hari, yang ditandai dengan suasana perasaan murung dan gejala lainnya, termasuk perubahan pola tidur dan makan, perubahan berat badan, gangguan konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah, perasaan putus asa dan tak berdaya serta pikiran untuk bunuh diri. Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir di semua aspek kehidupannya. [1]

Menurut Freud, kehilangan obyek cinta, seperti orang yang dicintai, pekerjaan tempatnya berdedikasi, hubungan relasi, harta, sakit terminal, sakit kronis dan krisis dalam keluarga merupakan pemicu episode gangguan depresif. Seringkali kombinasi faktor biologik (genetik), psikologik dan lingkungan merupakan campuran yang membuat gangguan depresif muncul.

Setiap individu tentunya pernah mengalami suatu kondisi depresi dan memiliki solusi yang berbeda-beda untuk mengatasi kondisi tersebut. Sayangnya, tidak sedikit yang lebih memilih mengambil solusi yang membawa kepada kubangan dosa dan kemaksiatan. Minuman keras, narkoba, dan perzinahan marak terjadi dimana-mana. Contoh perbuatan-perbuatan dosa tersebut sudah dianggap sesuatu yang wajar dan dianggap membawa kesenangan dan ketentraman dalam hidup mereka. Tetapi faktanya, perbuatan-perbuatan tersebut yang akan menyeret manusia pada kondisi psikis yang lebih buruk. Solusi dalam mengatasi  gangguan depresi sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit untuk dicari, namun kebanyakan orang hanya tidak menyadari bahwa solusi tersebut telah ada.

Salah seorang ulama salaf berkata: “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini”, maka ada yang bertanya: “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?”, Ulama ini menjawab: “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya”

Ibnu Qayyim membagi penyakit hati menjadi dua, yang pertama adalah penyakit hati yang tidak dirasakan oleh pemilik hati seperti penyakit jahl (kebodohan) dan syubhat atau syukuk (keraguan). Selain itu ada penyakit hati yang langsung dirasakan seperti kecemasan, kesedihan, kesusahan dan kemarahan. [2] Jika dilihat dari pendapat Ibnu Qayyim tersebut, maka gangguan depresi termasuk ke dalam penyakit hati yang langsung dirasakan.

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman bahwa obat yang paling agung adalah Al-Qur’an.

murratal

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)

Dari ayat tersebut, kata ‘min’ tersebut berfungsi sebagai libayanil jinsi atau menjelaskan jenis, bukan sekadar lit-tab’idh (menunjukkan makna sebagian). Hal ini menunjukkan bahwa semua bagian dari Al-Qur’an memiliki manfaat sebagai obat atau penawar pada penyakit jasmani dan rohani.[3]

Al-Qur’an sebagai solusi depresi dapat dilakukan dengan menggunakan metode murattal Al-Qur’an. Murattal adalah membaca Al-Quran dengan memfokuskan pada dua hal yaitu kebenaran bacaan dan irama. Saat ini banyak manusia justru jauh dari Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya diletakkan sebagai pajangan, ditempatkan di almari yang paling tinggi, tetap terjaga tanpa ada tangan yang menyentuhnya, dan tanpa ada suara merdu yang melantunkannya. Banyak orang menutup mata dan tidak mengerti akan keberadaan Al-Qur’an yang merupakan solusi dalam menata dan membersihkan hati dari berbagai penyakit hati. Padahal, hanya dengan mengingat Allah lah (berzikir) hati menjadi tenang dan bersih. Sesuai dengan firman Allah :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

Suatu hari Rasulullah SAW meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al Qur’an: “Bacakanlah kepadaku Al-Quran”. Kemudian Abdullah bin Mas’ud berkata: “Saya membacakan Al-Qur’an atasmu sementara Al-Qur’an turun kepadamu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Aku sangat senang mendengar ayat Al-Qur’an dari selainku”. Maka Ibnu Mas’ud membaca surat An-Nisa, maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pun menangis dan berkata kepadanya: Cukuplah sampai disitu.(HR Bukhari).

Hadist tersebut menunjukkan bahwa mendengarkan Al Qur’an dari orang lain pada waktu tertentu merupakan sunnah. Di dalam Al-Quran terdapat perintah untuk kita dalam mendengarkan Al-Qur’an dengan tenang. Menurut Salim, mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dapat menimbulkan efek positif pada tingkat kecemasan, stress ataupun depresi.[4] Dalam penelitian lain, pada dua kelompok anak autis yang sebelumnya memiliki nilai kognitif yang sama, setelah dilakukan terapi dengan menggunakan musik klasik dan mendengarkan murattal Al-Qur’an menunjukkan bahwa kelompok yang diperdengarkan murattal Al-Qur’an mempunyai skor perkembangan kognitif yang lebih baik dibandingkan pada kelompok musik klasik. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki pengaruh yang nyata pada tubuh manusia.[5]

Ayat-ayat Al Qur’an yang diperdengarkan kepada seseorang akan membawa efek ketenangan pada tubuh.[6] Mendengar murattal Al Qur’an akan memunculkan suatu medan gelombang yang akan memengaruhi gelombang otak manusia. Dengan menggunakan alat Electroencephalograph (EEG), terlihat reaksi otak berupa perubahan gelombang otak dari frekuensi beta menjadi frekuensi alfa yang membuat kondisi tubuh dalam keadaan relaksasi. Selain itu pada tahap selanjutnya akan terjadi peningkatan frekuensi gelombang delta yang akan membuat tingkat relaksasi lebih dalam dan penurunan depresi yang lebih signifikan. Gelombang delta merupakan gelombang utama yang berperan pada tidur manusia tingkat III dan IV. Semua reaksi pada otak yang dipengaruhi oleh medan gelombang tersebut akan meningkatkan berbagai neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin yang pada akhirnya akan memberikan efek pada tubuh sehingga akan muncul ketentraman dan perasaan tenang pada hati.[7]

Begitu banyak manfaat dari mendengar murattal Al-Qur’an yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Melalui Al Qur’an pula, kita dapat mendekatkan diri pada Allah, mempertebal iman dan memunculkan ketaqwaan. Demikian pula jalan keluar dan penyelesaian terbaik dari semua masalah yang di hadapi seorang manusia adalah dengan bertakwa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. ath-Thalaaq:2-3).

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” (QS. ath-Thalaaq:4).

Berbagai fakta dari hasil penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai suatu penawar dalam mengatasi berbagai masalah hati manusia seperti gangguan depresi. Alangkah baiknya kita melakukan suatu koreksi diri, sudah dekatkah kita dengan Al-Qur’an yang merupakan suatu petunjuk nyata dengan berbagai manfaatnya?

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2010. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Binarupa Aksara, Tangerang, Indonesi
  2. Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. 2011. Al Ighatsatul Lahfan. Al Qowam, Surakarta.
  3. Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. 2013. Al Jawabul Kafi, Solusi Qur’ani dalam Mengatasi Masalah Hati. Al Qowam, Surakarta.
  4. Salim SA. 2012. Ensiklopedi Pengobatan Islam. Pustaka Arafah, Surakarta.
  5. Wahyuni NA, Purwaningsih W. Perbedaan Efektifitas Terapi Musik Klasik dan Terapi Musik Murattal terhadap Perkembangan Kognitif Anak Autis di SLB Autis di Kota Surakarta. Gaster:1-10.
  6. Mueller PS, Plevak DJ, Rummans TA. 2001. Religious Involvement, Spirituality, and Medicine: Implications for Clinical Practice. Mayo Foundation for Medical Education and Research. 76: 1-11.
  7. Shaw G.L. 2000. Keeping Mozart in Mind. Academy Press, San Diego: California.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

+ seventy seven = eighty