MEMILIKI KETURUNAN DENGAN TEKNOLOGI BAYI TABUNG, BOLEHKAH?

Dokumen PDF Lengkap Dapat Download di Kajian 2 KKIA FULDFK

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

MEMILIKI KETURUNAN DENGAN TEKNOLOGI BAYI TABUNG, BOLEHKAH?
Penulis: Rezeki Ananda Elyani1, Rafsanjani Hidayatullah2
Editor: Sandria3
1
Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat
2Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
3Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Perubahan gaya hidup, perubahan jenis makanan dan minimnya aktivitas olahraga dewasa ini telah memberikan masalah baru bagi aspek kesehatan terutama pada sistem reproduksi, dari masalah amenorea sekunder sampai dengan infertilitas. Infertilitas menjadi masalah besar terutama bagi pasangan yang telah menikah dan ingin memiliki keturunan, infertilitas juga akan menyebabkan dampak negatif berupa gangguan psikologis bagi kedua pasangan. Seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, berbagai cara dilakukan untuk mengatasi masalah infertilitas, yaitu terapi hormonal, terapi siklus ovulasi dan inseminasi bayi tabung. Muncul pertanyaan dikalangan masyarakat Indonesia, Bagaimanakah inseminasi bayi tabung dilihat dari segi medis dan bagaimanakah pandangan agama Islam terhadap inseminasi bayi tabung? Halalkah? Bagaimanakah peraturan nasab dan hukum waris anak hasil inseminasi bayi tabung?

Bayi tabung atau dalam bahasa kedokteran disebut In Vitro Fertilization (IVF)  atau fertilisasi in vitro adalah suatu upaya memperoleh kehamilan dengan jalan mempertemukan sel sperma dan sel telur dalam suatu wadah khusus. Pada kondisi normal, pertemuan ini berlangsung di dalam saluran tuba. Proses bayi tabung ini berlangsung di laboratorium dan dilaksanakan oleh tenaga medis sampai menghasilkan suatu embrio dan diimplantasi di dalam rahim wanita dan akan terjadi proses kehamilan layaknya kehamilan normal di rahim wanita tersebut.(1,2)
Fertilisasi boleh dilakukan jika pada keadaan terdapatnya kerusakan atau sumbatan pada saluran reproduksi wanita, infertilitas pada laki-laki, dan infertilitas yang tidak diketahui sebabnya (idiopatik). Sebelum proses fertilisasi in vitro dilakukan, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu: umur wanita tidak boleh lebih dari 30 tahun, mempunyai status hormonal yang normal dengan ovulasi regular, setidak-tidaknya didapatkan satu indung telur yang normal, dan dapat dicapai untuk melakukan aspirasi sel telur (ovum pick up).(1,3,4)
Prosedur fertilisasi in vitro secara umum dapat dibagi menjadi beberapa tahapan. Tahapan awal sebelum memasuki 5 prosedur dasar proses bayi tabung adalah seleksi dan persiapan pasien terlebih dahulu. Jika pasien ada indikasi untuk mengikuti program bayi tabung, maka langkah selanjutnya adalah:

cProses Fertilisasi In Vitro

5 prosedur dasar proses bayi tabung (In Vitro Fertilization Process)5,6,7
Langkah 1: Stimulasi atau Merangsang Indung Telur
Normalnya seorang perempuan memproduksi satu sel telur setiap bulannya, oleh karena itu diberikan obat-obatan atau hormon yang dapat merangsang produksi sel telur lebih banyak lagi sebab dalam proses bayi tabung memerlukan lebih dari satu sel  telur untuk memeroleh embrio.
Langkah 2: Pengambilan Sel Telur
Proses selanjutnya adalah melakukan pengambilan sel telur untuk kemudian diproses  di laboratorium. Prosedur dapat dilakukan dengan cara follicular aspiration ataupun melalui laparoscopy. Pada hari yang sama juga akan dilakukan pengambilan sperma suami.
Langkah 3: Inseminasi dan Fertilisasi
Setelah proses di atas selesai, maka langkah selanjutnya adalah melakukan inseminasi atau pencampuran sperma dan sel telur pada media kultur di laboratorium sehingga diharapkan proses pembuahan (fertilisasi) dapat terjadi untuk menghasilkan embrio. Jika pada tahap ini diperkirakan kemungkinan proses pembuahan (fertilisasi) tidak dapat terjadi maka dapat dilakukan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) atau menginjeksikan sperma ke sel telur secara langsung.
Langkah 4: Kultur Embrio
Sel telur yang sudah dibuahi oleh sperma atau disebut juga embrio disimpan di tempat dan suhu yang sesuai di dalam inkubator selama 48 jam. Pada tahap ini juga petugas laboratorium akan memeriksa secara rutin untuk memastikan bahwa embrio tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya.
Langkah 5: Transfer Embrio
Setelah embrio terbentuk dan berkembang dengan baik, langkah selanjutnya adalah melakukan proses implantasi atau transfer embrio kembali ke dalam rahim agar terjadi proses kehamilan. Jumlah embrio yang diimplantasi atau ditransfer dapat lebih dari satu embrio agar dapat menghasilkan kehamilan kembar, triplet, atau lebih. Jika masih terdapat sisa embrio yang tidak diimplantasikan ke dalam rahim saat itu, maka embrio tersebut dapat disimpan pada suhu yang rendah untuk proses kehamilan berikutnya. Baru kemudian proses bayi tabung memasuki fase luteal untuk mempertahankan dinding rahim dengan memberikan Progesterone. Biasanya dokter akan memberi obat selama 15 hari pertama untuk mempertahankan dinding rahim ibu agar terjadi kehamilan. Proses terakhir adalah melakukan pemeriksaan apakah telah terjadi kehamilan atau belum, baik dengan pemeriksaan darah maupun USG.

  1. Di Indonesia, terdapat hukum kesehatan terkait teknik reproduksi buatan yang diatur dalam :
    UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, pasal 127 menyebutkan bahwa upaya kehamilan diluar cara alamiyah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami yang sah dengan ketentuan :
    a.    Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal;
    b.    Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu; Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
  2. Keputusan Menteri Kesehatan No. 72/Menkes/Per/II/1999 tentang Penyelenggaraan Teknologi Reproduksi Buatan.(1,3,4)

BAYI TABUNG DARI SUDUT PANDANG ETIKA

Program bayi tabung pada dasarnya tidak sesuai dengan budaya dan tradisi ketimuran serta agama islam. Di Indonesia jika dipandang dari segi etika, pembuatan bayi tabung tidak melanggar norma jika sel sperma dan sel ovum berasal dari pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama. Namun, dalam kasus proses bayi tabung yang berasal dari pasangan suami istri yang tidak sah secara hukum dan agama atau dari pasangan suami istri yang sah namun bukan diinseminasi di rahim istri yang sah atau sewa rahim maka akan menimbulkan perdebatan dalam segi etika. Ada yang berpendapat ibu yang menyewakan rahimnya adalah sama seperti ibu yang menyusukan anak tersebut, karena pada masa kehamilan anak tersebut mendapatkan nutrisi dari ibu yang menyewakan rahimnya, namun ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut tergolong dalam keadaan zina karena telah menanamkan hasil gamet di dalam rahim yang bukan mahromnya..(8,9,10)

  1. Mochammad Anwar, Sp.OG dalam Seminar Nasional Continuing Medical Education pada tahun 2009 menyatakan dengan banyaknya masalah norma dan etika dalam teknologi ini seorang tenaga kesehatan harus secara selektif memilah aspek etika yang dipegang oleh para penenliti di bidang rekayasa genetika yang didasarkan pada Deklarasi Helsinki antara lain :
  2. Riset biomedik pada manusia harus memenuhi prinsip-prinsip ilmiah dan didasarkan pada pengetahuan yang adekuat dari literatur ilmiah.
  3. Desain dan pelaksanaan eksperimen pada manusia harus dituangkan dalam suatu protokol untuk kemudian diajukan pada komisi independen yang ditugaskan untuk mempertimbangkan, memberi komentar dan kalau perlu bimbingan.
  4. Penelitian biomedik pada manusia hanya boleh dikerjakan oleh orang-orang dengan kualifikasi keilmuan yang cukup dan diawasi oleh tenaga medis yang kompeten.

Dalam protokol riset selalu harus dicantumkan pernyataan tentang norma etika yang dilaksanakan dan telah sesuai dengan prinsip-prinsip deklarasi Helsinki.(8,9,10)

BAYI TABUNG DALAM PANDANGAN HUKUM INDONESIA

Hukum perdata di Indonesia juga mengatur terkait masalah proses bayi tabung.

  1. Jika benihnya berasal dari suami istri lalu diimplantasikan ke dalam rahim istri, maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai status sebagai anak sah (keturunan genetik) dari pasangan tersebut. Jika embrio diimplantasikan kedalam rahim ibunya di saat ibunya telah bercerai dari suaminya dan anak itu lahir sebelum 300 hari perceraian, mempunyai status sebagai anak sah dari pasangan tersebut. Namun jika dilahirkan setelah masa 300 hari maka anak itu bukan anak sah dari ayah biologisnya dan tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan bekas suami ibunya berdasarkan Pasal 255 KUHP.
  2. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka secara yuridis status anak itu adalah anak sah dari pasangan penghamil, bukan pasangan yang mempunyai benih, dasar hukumnya adalah pasal 42 UU No.1/1974 dan pasal 250 KUHP
  3. Jika salah satunya berasal dari donor. Jika suami mandul dan istrinya subur maka dapat dilakukan fertilisasi in vitro dengan sperma dari donor dan akan diimplantasikan ke rahim istri, status anak yang dilahirkan akan menjadi sah dan memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya sepanjang si suami tidak menyangkalnya dengan melakukan tes golongan DNA sesuai dasar hukum 250 KUHP. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka anak yang dilahirkan merupakan anak sah dari pasangan penghamil tersebut sesuai hukum pasal 42 UU No. 1/1974 dan pasal 250 KUHP.
  4. Jika semua benihnya dari donor yang tidak terikat perkawinan namun embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita yang terikat perkawinan yang sah dengan suaminya maka sang anak yang lahir mempunyai status anak yang sah karena dilahirkan dari perempuan yang terikat dalam perkawinan yang sah. Jika transfer embrio diimplantasikan kedalam rahim seorang gadis, maka status anak yang dilahirkan memiliki status sebagai anak luar kawin karena gadis tersebut tidak terikat perkawinan secara sah kecuali sel telur berasal darinya maka anak tersebut sah secara yuridis dan biologis sebagai anaknya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia, Prof. Dr. Khuzaimah T Yanggo berpendapat mengenai teknik bayi tabung “Teknik bayi tabung diperbolehkan menurut Islam adalah tidak melibatkan pihak ketiga, jadi sperma dan ovum harus berasal dari suami istri yang sah dan masih rukun. Bila sperma dan ovumnya diambil bukan dari pasangan suami istri sah maka hukumnya  haram dan status zina”. Jadi bayi tabung diperbolehkan dengan syarat diatas.(1,3,4)

BAYI TABUNG MENURUT PANDANGAN ISLAM

Islam pada dasarnya tidak mempersulit keadaan sesuai dengan Firman Allah SWT

اِنَّ مَعَ العُشْرِ يُشْرَا

Artinya: “Setiap ada kesulitan, ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5).

Aspek hukum penggunaan bayi tabung didasarkan kepada sumber sperma dan ovum serta rahim. Dalam hal ini bayi tabung ada tiga macam, yaitu:

  1. Jika dilakukan dengan sperma dan ovum pasangan suami istri yang sah dan diimplantasikan ke istri yang sah maka hukumnya mubah. Dalam hal ini kaidah fiqih menentukan bahwa “Hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) diperlakukan seperti dalam keadaan terpaksa (emergency) padahal keadaan darurat/terpaksa membolehkan hal-hal yang terlarang.”
  2. Proses bayi tabung yang dilakukan dengan menggunakan sperma dan ovum dari donor maka hukumnya haram karena hukumnya sama dengan melakukan zina sehingga anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung tersebut tidak sah dan nasabnya hanya dihubungkan dengan ibu yang melahirkannya. Termasuk juga haram menggunakan sperma mantan suami yang telah meninggal dunia, sebab antara keduanya tidak terikat perkawinan lagi sejak suaminya meninggal dunia.
  3. Haram hukumnya bayi tabung yang diperoleh dari sperma dan ovum dari suami istri yang terikat perkawinan yang sah namun transfer embrio ke rahim wanita yang bukan ibu biologisnya. Atau dengan donor sperma yang bukan suami sah dari pasangan tersebut. Ini berarti bahwa kondisi darurat tidak menolerir perbuatan zina atau bernuansa zina, zina tetap haram dalam keadaan darurat sekalipun.

Alasan-alasan haramnya bayi tabung dengan menggunakan sperma dan ovum dari donor atau ditansfer kedalam rahim wanita lain, adalah:

  1. Firman Allah dalam Al Qur’an :
    Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.” (Q.S Al-Isra: 70)

    Artinya : “Orang-orang diantara kamu yang menzihar istrinya (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun” (Q.S Al-Mujadilah: 2)

  1. Hadits Nabi Muhammad SAW
    “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain)”. (HR Abu Daud, Thirmidzi, dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban) Hadits ini tidak saja mengandung arti penyiraman sperma ke dalam vagina seorang wanita melalui hubungan seksual, melainkan juga mengandung pengertian memasukkan sperma donor melalui proses bayi tabung, yaitu pencampuran sperma dan ovum di luar rahim yang tidak diikat perkawinan yang sah.
  2. Kaidah Fiqih
    Islam pada dasarnya memperbolehkan proses inseminasi bayi tabung dalam pelaksanaannya jika sperma dan ovum yang digunakan dari pasangan suami istri yang sah, namun ada beberapa hal yang membuat mafsadah (bahaya) bayi tabung, terutama pada proses bayi tabung dengan donor sperma maupun donor ovum.
  1. Pencampuran nasab, karena pencampuran hasil donor akan berkaitan dengan masalah mahrom dan hukum waris.
  2. Bertentangan dengan sunnatullah.
  3. Statusnya sama dengan zina, karena pencampuran sperma dan ovum tanpa perkawinan yang sah.
  4. Anak yang dilahirkan dari hasil bayi tabung dengan donor akan menjadi sumber konflik karena perbedaan gen sifat/fisik dan karakter serta mental yang tidak sama dengan ibu/bapaknya.
  5. Anak yang dilahirkan melalui bayi tabung yang pencampuran nasabnya terselubung dan dirahasiakan donornya, lebih jelek daripada anak adopsi yang umumnya diketahui asal atau nasabnya.
  6. Bayi tabung dengan menggunakan rahim sewaan akan lahir tanpa proses kasih sayang yang alami (tidak terjadi hubungan mental antar ibu dan janin).

Nabi Muhammad SAW bersabda, diriwayatkan dari Anas RA “Menikahlah kalian dengan wanita-wanita yang subur, sebab sesungguhnya aku akan berbangga di hadapan para Nabi dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat nanti.” (HR.Ahmad). Syariat Islam mengajarkan kita untuk tidak berputus asa dan menganjurkan untuk senantiasa berusaha dalam menggapai karunia Allah, termasuk dalam kesulitan reproduksi manusia. Dengan adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu biologi modern yang Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur dan menggunakannya sesuai dengan kaidah-kaidah ajaranNya.

Kesulitan reproduksi tersebut dapat diatasi dengan upaya medis agar pembuahan antara sel sperma suami dengan sel telur istri dapat terjadi di luar tempatnya yang alami. Hal ini diperbolehkan dengan syarat jika upaya pengobatan untuk mengusahakan pembuahan dan kelahiran alami telah dilakukan dan tidak berhasil. Dalam proses pembuahan di luar tempat yang alami tersebut, setelah sel sperma suami dapat sampai dan membuahi sel telur istri dalam suatu wadah yang mempunyai kondisi mirip dengan kondisi alami rahim maka sel telur yang telah terbuahi diletakkan pada tempatnya yang alami (rahim istri). Dengan demikian, kehamilan alami diharapkan dapat terjadi dan selanjutnya akan dapat dilahirkan bayi secara normal. Proses seperti itu merupakan upaya manusia melalui medis untuk mengatasi kesulitannya dalam reproduksi dan hukumnya boleh menurut syara’. Sebab upaya tersebut merupakan upaya untuk mewujudkan apa yang disunnahkan oleh Islam yaitu kelahiran dan perbanyak anak, yang merupakan salah satu tujuan dasar dari suatu pernikahan sebagaimana hadits di atas.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S At-Tiin: 4). (2,8,9,10)

Wallahu’alam bisshowab.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Soimin, Soedharyo, SH. (1995) Kitab undang-undang hukum perdata. Jakarta. Sinar Grafika.
  2. http://keperawatanreligionsantims.wordpress.com/2013/05/20/undang-undang-dan-kontroversi-mengenai-bayi-tabung/ – diakses tanggal 29 Maret 2016
  3. Guwandi, J, SH. (2007) Hukum dan dokter. Jakarta. CV.Sagung Seto.
  4. Fahri (2010). Bayi Tabung. http://fachri-kencana.blogspot.com/2010/11/bayi-tabung.html- diakses tanggal 28 Maret 2016
  5. Jackson RA, Gibson KA, Wu YW, et al (2004). Perinatal Outcomes in Singletons following in vitro fertilization: a meta-analysis. Obstet Gynecol. 103: 551-563
  6. Goldberg JM (2007). In vitro fertilization update. Cleve Clin J Med. 74(5): 329-38.
  7. The Practice Committee of the Society for Assisted Reproductive Technology and the Practice Committee of the American Society for Reproductive Medicine (2013). Criteria for number of embryos to transfer: a committee opinion. Fertil Steril. 99 (1):44-46.
  8. http://indonesiaindonesia.com/f/82005-kontroversi-bayi-tabung- diakses tanggal 29 Maret 2016
  9. http://abdulhelim.com/2012/06/anak-hasil-inseminasi-bayi-tabung-dala m.html- diakses tanggal 29 Maret 2016
  10. http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/fatwa/10/05/08/1 14856-apa-hukum-bayi-tabung-menurut-islam diakses tanggal 29 Maret 2016

 

Dokumen PDF Lengkap Dapat Download di Kajian 2 KKIA FULDFK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

− two = two