MASALAH UMAT JUGA MASALAH KU (1)

Oleh Silmi Kaffah dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Jika berbicara mengenai masalah pastilah yang dibicarakan tentang hal-hal yang tidak diinginkan. Manusia mana yang mau dirinya mendapatkan masalah. Ya kan? Tapi ada masanya dimana seseorang tidak dapat terhindar dari sebuah masalah. Baik itu sebagai ujian, cobaan, bencana ataupun azab. Umat Islam sendiri misalnya. Mulai dari nabi Adam As yang mendapat masalah karena bisikan dan rayuan setan hingga masa nabi Muhammad SAW yang juga diterpa oleh beratnya masalah dari kaum kafir quraisy. Bahkan hingga saat ini. Saat dimana fitnah bermunculan, syariat disepelekan, Al Quran ditinggalkan dan Islam mulai dilupakan. Ini lah masalah umat Islam. Apakah kita terus terdiam dari tidur berkepanjangan? Apa yang dapat kita perbuat terhadap masalah-masalah ini? Karena masalah umat bukanlah masalah muslim tertentu saja, melainkan juga menjadi masalah bagi muslim yang lain.

Masalah  adalah suatu hal yang tidak diinginkan keberadaannya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan. Jika masalah tersebut dibiarkan saja dapat menimbulkan masalah baru atau ketidaknyamanan dalam lingkup diri, masyarakat dan juga negara. Qadhaya Al Ummah adalah masalah-masalah yang muncul pada umat. Umat yang dimaksud adalah umat Islam secara keseluruhan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia memang sering mendapatkan dan menemukan sebuah masalah. Bahkan manusia itu sendiri adalah sebuah masalah. Allah mengisahkan dalam Al Qur’an:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al Baqarah ayat 30).

“Dan Kami berfirman:”Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.  Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman:”Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah ayat 36-37)

Masalah dapat dibagi menjadi dua yaitu masalah internal dan masalah eksternal. Masalah yang muncul dari dalam tubuh umat Islam itu sendiri dikenal dengan masalah internal. Mulai dari pribadi seorang muslim sendiri hingga bermasyarakat dan bernegara. Pribadi muslim yang tidak memiliki ilmu agama sama sekali atau kurang mengerti atau tahu akan ilmu agama namun belum mau menjalankan ajaran agama dengan benar. Ada juga yang dikenal dengan muslim KTP dan muslim beriman. Pembedanya adalah iman, karena iman bukan hanya sekedar percaya akan keberadaan Allah sebagai Tuhan yang esa, tapi juga diikuti dengan lisan dan perbuatan (amal dan akhlaq).

Menjadi muslim saat lahir merupakan sebuah kebaikan dan karunia dari Tuhan. Namun jika muslim sekedar muslim, maka untuk apa manusia diciptakan? Hakikatnya manusia terus tumbuh dan berkembang, begitu juga jiwa dan pikiran yang selalu sejalan dengan bertambahnya umur. Muslim  yang tidak dididik dengan ilmu agama yang benar dan tidak terus meningkatkan kualitas iman serta takwa akan berujung pada sebuah masalah atau mungkin menjadi “senjata makan tuan”, karena dalam Islam tiap manusia yang lahir di dunia ini akan dimintakan pertanggungjawaban oleh Tuhan baik kepada orang tuanya dan juga anak yang sudah baligh atas segala hal yang telah dilakukan.

“(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui( QS. Luqman Ayat 16)

Terbentuknya pribadi muslim yang ideal tidak akan ada tanpa adanya peran keluarga. Dari keluarga inilah input dasar kehidupan diberikan oleh kedua orang tua untuk menghasilkan output yang baik. Semakin berkualitas dan banyak input positif yang diberikan maka semakin berkualitas output yang dihasilkan dan terbentuklah generasi Islam yang membanggakan.

Salah satu keluarga pilihan yang terbaik di muka bumi ini dan diabadikan dalam Al Quran adalah keluarga Luqman. Allah mengisahkan untuk dijadikan pelajaran bagi setiap keluarga di dunia. Dikisahkan bagaimana seorang ayah yang bernama Luqman ini mengajarkan anaknya tentang hikmah dari tiap kejadian dan kunci-kunci ketauhidan sebagai pegangan masa depan dan pembuka pintu amal-amal kebaikan.

Seorang ayah yang sangat tahu bahwa tidak ada artinya hidup jika tidak beriman kepada Allah dan juga menjadi guru terbaik bagi anaknya. Berbeda sekali dengan kebanyakan keluarga muslim saat ini. Bisa dihitung berapa banyak ayah dan anaknya yang terlihat pergi bersama ke masjid dalam rangka berubudiyah kepadaNya. Bisa dihitung berapa banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk menggunakan pakaian sesuai syariat Islam. Bahkan beberapa orang tua bangga bila anaknya sudah memiliki pasangan “pacar” di saat sekolahnya atau bangga dengan pakaian terbuka anaknya. Berapa banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi “orang”. Ya, tentunya memprioritaskan anaknya menjadi seseorang yang dihargai di masyarakat dan berpenghasilan banyak tanpa memberikan pendidikan ilmu dunia dan agama yang matang. Inilah kenyataan umat Islam saat ini. Kemana Luqman-Luqman yang didambakan itu pergi ?

Mari kita bayangkan bagaimana jika pribadi atau sebuah keluarga tidak menerapkan nilai-nilai ketauhidan dan keislaman dalam kesehariannya. Dari beberapa kemungkinan yang muncul, tanda-tanda yang bisa dilihat adalah dari pakaian dan perbuatan. Pakaian yang digunakan tidak mencerminkan muslim sesungguhnya, tidak menutup aurat atau menutup aurat tapi tidak sesuai syariat Islam. Aturan berpakaian yang juga diatur dalam Al Quran dan hadis tidak begitu diperdulikan. Model-model terkinilah yang menjadi acuan tolak ukur berpakaian.

Aktivitas harian yang dilakukan tanpa mengacu pada aturan-aturan Islam. Sebagai contoh adalah menganggap remeh panggilan adzan dan mudah melupakan kewajiban ibadah rutin. Ini dibuktikan dengan banyaknya masjid namun sedikitnya jamaah. Khususnya saat waktu subuh tiba. Banyaknya kejahatan di tingkat masyarakat dan kejahatan pada tingkat negara yang dilakukan oleh muslim. Belum lagi budaya hedonisme, sekulerisme dan liberalisme yang sudah banyak terlihat. Semua ini menggambarkan begitu lemahnya nilai-nilai ketauhidan dan Islam pada pribadi muslim saat ini. Jika dari diri muslim sendiri belum yakin dengan agama rahmatllil’alamin ini dan tidak mau ber-Islam secara kaffah maka rintik-rintik masalah akan berubah menjadi badai masalah yang memporak-porandakan.

“Dan musibah apa saja yang menimpa Kamu, maka semua itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (Surat Asy-Syura ayat 30).

Masalah lain yang terjadi di dalam umat Islam sendiri adalah masalah perbedaan pendapat (Ikhtilaf = perbedaan dengan adanya dalil) dan Madzhab. Seringkali terdengar ada sebagian golongan yang mempermasalahkan ikhtilaf ini, misalnya permasalahan furu’ (permasalahan cabang) secara berlebih-lebihan. Misalnya shalat wajib dengan berqunut, jika tidak shalatnya tidak sah atau enggan shalat di belakang imam yang berqunut. Padahal ini tidak begitu dipermasalahkan oleh para ulama, bahkan Imam Ahmad tidak menyalahkan Imam Syafi’i dan pengikutnya karena berqunut, begitu juga sebaliknya.

Mempermasalahkan janggut dan isbal (celana di bawah mata kaki) secara berlebihan atau menyalahkan dan mencap bid’ah kelompok tertentu karena ada suatu perbedaan dalam beramal atau menganggap kelompok tertentu benar dan yang lain salah tanpa didukung alasan dan ilmu yang jelas juga bukan hal yang bijak dalam beragama. Kondisi ini menciptakan seakan-akan muslim saling bermusuhan dan berpecah belah.

Padahal ikhtilaf dalam memahami nash (teks) bukanlah perkara baru, ini sudah terjadi ketika Rasulullah SAW masih hidup, kemudian berlanjut hingga zaman sahabat setelah ditinggalkan Rasulullah SAW, hingga sampai sekarang ini. Maka yang perlu dilakukan bukan menghilangkan ikhtilaf, seperti rendah hatinya Imam Malik yang tidak mau memaksakan mazhab Maliki, tetapi memahami ikhtilaf sebagai dinamika dan kekayaan khazanah keilmuan Islam, selama ikhtilaf itu dalam masalah furu’, bukan masalah ushul (Prinsip atau dasar), sebagaimana yang dicontohkan para Shalafusshaleh di atas.

Mari kita cermati pesan dari Asy-Syahid Hasan Al Banna, “Mari beramal pada perkara yang kita sepakati, dan mari berlapang dada menyikapi perkara yang kita ikhtilaf di dalamnya”.

(Bersambung)

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

− one = one