Manusia Perahu

Mereka pergi berlayar menyelamatkan jiwa dan iman mereka. Apa yang bisa mereka harapkan dari negara asal mereka?! Keinginan untuk memperoleh pengakuan dan kebebasan ditolak oleh negara mereka sendiri. Kekerasan yang berkepanjangan membuat mereka pergi mengungsi, berlayar mencari negeri aman yang mau menerima mereka hingga terombang ambing ditengah lautan dengan sedikit stok makanan. Jangankan  memikirkan masa depan, membanyangkan hari esok pun mereka tidak berani. Dunia menyebut mereka sebagai manusia perahu. Tidak jarang para manusia perahu itu tenggelam ataupun mati karena kelaparan dan kehausan di tengah laut. Banyak pula yang ditahan atau diperlakukan semena-mena di negara-negara transit atau negara-negara penerima mereka. Mereka adalah Rohingya.

Siapa itu rohingya? Dalam beberapa tahun terakhir, kekerasan dan genosida kembali terjadi terhadap etnis Rohingya. Namun, masyarakat dunia masih belum mengambil langkah tegas terhadap kekerasan struktural yang telah berlangsung begitu panjang. Presiden Arakan Rohingya National Organisation (ARNO), Nurul Islam, mengatakan Rohingya telah tinggal sejak dahulu kala. Mereka merupakan orang-orang dengan budaya dan peradaban yang berbeda-beda. Jika ditelusuri, nenek moyang merka berasal dari orang Arab, Moor, Pathan, Moghul, Bengali, dan beberapa orang Indo-Mongoloid. Permukiman Muslim di Arakan telah ada sejak abad ke-7 Masehi yang sekarang disebut Rakhine.

Nama Rakhine sendiri identik dengan warna Arakan non-muslim yang tinggal di Rakhine state. Maka sebagai identitas pembeda dengan warna Rakhine Buddhist, sebutan sebagai “Rohingya” tak terlalu mereka permasalahkan. Rohingya diambil dari kata Rohang, nama kuno dari Arakan, dan yang tinggal didalamnya disebut Rohingya. Ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa istilah Rohingya disematkan oleh seorang peneliti Inggris bernama Francis Hamilton pada Abad ke-18 Masehi pada muslim yang tinggal di Arakan.

Kendati Myanmar telah merdeka sejak tahun 1948, namun warga Rohingya tidak pernah mendapatkan kebebasan. Mereka tidak diakui sebagai warna negara (stateless) dan dihapus dari delapan etnis utama dan dari 135 etnis lainnya. Mereka terus-menerus mengalami kekerasan. Pembantaian dalam skala besar terjadi berturut-turut pada tahun 1942, 1948, 1992-1993, 2012, 2016 hingga 2017. Penderitaan mereka diperburuk karna pemerintah juga turut andil dalam etnis cleansing tersebut. Presiden Myanmar, Thein Sein, (2011-2016) mengatakan, “Rohingya are not our people and we have no duty to protect them”. Bahkan dia menyebut etnis Rohingya di Arakan sebagai: a threat to national security. Orang Rohingya tidak punya teman di dalam negara Myanmar. Bahkan ada slogan popular di Myanmar saat ini yaitu: “Arakan is for rakhines. Arakan and Buddhism are synonymus. There is no Rohingya in Arakan. Drive them out to their country-Bangladesh.

Kejadian yang menimpa orang rohingya merupakan sebuah genosida. Pemerintah dan para ekstrimis bekerja sama untuk menghilangkan Rohingya dari bumi Myanmar. Terasing di negeri sendiri, tak memiliki kewarganegaraan, didiskriminasi, dan menjadi sasaran siklus kekerasan yang tak terduga. Begitulah kurang lebih gambaran kondisi warga muslim Rohingya yang diberikan oleh Gregory B. Poling, analis dari CSIS.

Pada Agustus 2017, militan Rohingya yang tergabung dalam ARSA  menyerang 20 pos polisi di Arakan. Pemerintah membalas dengan menghancurkan pemukiman penduduk Rohingya. Tidak hanya para pemberontak, tapi anak-anak, wanita, orang tua dan yang tak bersalah lainnya juga ikut menjadi korban.

Kita dan Rohingya adalah bersaudara. Persaudaraan yang lebih kuat dibanding persaudaraan karena darah dan persusuan, yaitu persaudaraan karena Iman. Rasulullah SAW bersabda,

Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya (tidak peduli padanya), menghinanya.

(HR. Muslim)

Perbuatan yang membiarkan (netral) atau bahkan mengaminkan kejadian yang menimpa Rohingya menjelaskan betapa lemah iman yang kita miliki. Seorang mukmin seharusnya jika melihat suatu kemunkaran maka ia harus mengubahnya dengan tangannya, lisannya atau setidaknya hati kita sedih dan tergerak ingin menolong mereka. Hingga saat ini, banyak organisasi-organisasi yang memberikan fasilitas bagi kita untuk menolong Rohingya. Kita tinggal memilih apakah ingin menolong atau menghiraukannya.

Kejayaan Islam tidak akan datang hingga mukmin dengan mukmin lainnya saling peduli dan saling mencintai. Rohingya, Palestina dan penderitaan mukmin lainnya cukup menggambarkan bagaimana keadaan Islam sekarang. Sebagian orang bahkan ada yang belum tahu tentang siapa Rohinya, etnis yang sudah bertahun-tahun mengalami diskriminasi. Hal yang kontras terjadi pada zaman kejayaan Islam, zaman Rasulullah SAW dan khilafah. Saat itu jika ada muslimah yang diganggu, maka kaum tersebut akan diusir seperti Bani Qainuqa, negara yang menawan meraka akan diperangi seperti Kota Amurriyah dan Kerajaan Navarre.

Tapi tidak terjadi pada zaman ini. Betapa sedihnya kita melihat muslimah di Rohingya diusir, muslimah di Palestina didzalimi, muslimah di Suriah diperkosa dan disakiti, muslimah di Afganistan di tembaki dan kita tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan mereka. Kita berharap-berharap kepada pemimpin-pemimpin kita cepat menyelamatkan mereka. Kita berharap pemimpin Myanmar bisa mengakui etnis yang sudah lama mendiami negara mereka tersebut.

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullahu Shallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya orang mukmin bagi mukmin (lainnya) bagaikan bangunan yang satu sama lain saling menguatkan.” (Shahih Al-Bukhari, 481, dan Shahih Muslim, 2585). Dan beliau pun menyilangkan jari-jemarinya,” kata Abu Musa.

“Barangsiapa yang meringankan dari seorang mukmin satu kesusahan dari kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan darinya satu kesusahan dari kesusahan hari kiamat. Dan Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesempitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah sentiasa menolong seseorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya ”

(HR. Muslim).

“Brother, perhaps it is easier for you to dream about the future, but for us, Rohingya people, never dream about the future since we are also not sure whether we still have tomorrow”

(Zaw Min Htut, President BRAJ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

forty − = thirty nine