Kutinggalkan dia, dan Kukejar cinta-Nya

 

“Mbak, dompetnya tadi jatuh,” kata laki-laki itu sambil mengangsurkan dompetku. Aku tidak menyangka akan bertemu dia di tempat fotokopi ini.

“Eh iya, terima kasih,” jawabku. Ia kembali ke tempat itu dan aku menghidupkan motorku menuju kampus. Jujur saja, aku gugup sekali saat ia berada di dekatku seperti tadi. Kurasa ia tidak mengenaliku. Karena sekarang aku berhijab.

Masih membekas dalam benakku apa yang ia katakan waktu itu.

“Berhijrahlah, niscaya kau temukan cinta.”

Aku tak begitu paham makna kalimat itu, yang jelas kalimat itu telah merubahku. Waktu itu aku masih duduk di bangku SMA. Seminar itu kuikuti bukan atas dasar seminar itu sendiri. Melainkan karena dia menjadi salah satu pembicara di sana. Ya. Dia. Laki-laki yang berhasil membuatku jatuh.

“Dar!” seru Dira seraya menepuk bahuku. Aku terkesiap. Anak ini memang suka muncul tiba-tiba dan hilang tiba-tiba. Aku mendumel dan melototinya. “Ih, Dira, kaget tauk!”

“Habisnya gue lihat lo bengong aja dari tadi sambil mandangin dompet. Emangnya kenapa tu dompet? Atau jangan-jangan lo habis ketemu Kak Khalid? Hayo ngaku!” tebaknya telak.

Aku menaruh telunjuk di depan bibir. “Sstt! Nanti kedengaran orang.” Dira memang suka berbicara tidak tahu tempat. Yang benar saja, sekarang kami duduk di tengah kantin yang sedang membludak.

“Ketemu di mana?” tanyanya sambil menaik-turunkan alisnya dan tersenyum jahil.

“Di tempat fotocopy Laura.”

“Wah. Jodoh.”

Di antara semua temanku, hanya Dira yang tahu kalau aku menyukai Kak Khalid. Latar belakang mengapa aku memilih kampus, jurusan tarbiyah, hingga alasan aku memilih mengikuti lembaga dakwah kampus adalah karena aku ingin bertemu Kak Khalid. Hingga mengapa aku berhijab.

Tak lama setelah itu Halwa, Nana, dan Risma datang beramai-ramai. Aku dan Dira langsung mengganti topik pembicaraan.

“Kelompok KKN sudah keluar! Kalian tau gak di kelompok gue cowoknya cuma Yahya?!” Nana membuka topik baru dengan antusias.

“Serius, Na?! Untung di kelompok gue ada tiga orang,” sahut Risma.

Pembicaraan kami berlangsung lebar dan bercabang-cabang. Merambat sampai ke artis Korea. Padahal awalnya ingin membahas judul penelitian yang akan diajukan kepada dosen pembimbing dan laporan PPL yang bejubel.

Aku membuka panel notifikasi di ponselku. Hari ini, tepat setelah shalat ‘ashar akan ada kajian rutin di masjid kampus. Mataku tertuju pada pengirim info itu. Muhammad Khalid Al-Fatih. Tampan, berwibawa, organisatoris, berjiwa sosial tinggi, dan seorang hafizh Qur’an 30 juz. Perempuan mana yang tidak tertawan olehnya?

“Eh, ada film bagus nih, nonton yuk?!” ajak Halwa dengan wajah berseri-seri. Nana, Risma, dan Dira langsung berebut mengepoin layar ponselnya.

“Oh gue pernah nonton trailernya di youtube keren. Tentang thriller science-fiction gitu, recommended deh pokoknya,” Risma berkomentar dengan antusias, yang lainnya ikut mengangguk setuju.

“Oke. Jadi gue pesan 5 tiket ya?” Halwa memastikan.

“Maaf, gue nggak ikut. Ada kajian ba’da ashar,” kataku, mereka langsung menunjukkan wajah kecewa.

***

Sehabis kuliah, kami berlima pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi dan membaca skripsi kakak tingkat terdahulu. Jujur saja, aku belum memiliki gambaran apapun terkait penelitianku.

Suasana perpustakaan sangat ramai. Setiap sudut dionggoki laptop, tas, dan alat tulis mahasiswa. Tak sengaja aku bertemu Kak Faurina. Mahasiswa jurusan Psikologi Islam angkatan 2014. Orangnya anggun dan cantik. Kerudungnya menjulur sampai setengah badan. Apabila ia tersenyum gigi gingsulnya membuat senyumnya semakin manis.

“Eh, Naura. Apa kabar?” sapanya ramah. Aku beruntung bisa mengenalnya saat masa orientasi dulu. Ia sangat baik padaku walaupun kami sangat jarang bertemu.

Alhamdulillah baik, kak. Kakak sendiri bagaimana?”

Alhamdulillah baik juga,” sahutnya dengan tersenyum. Ah, aku saja terpesona. “Oh ya, ada titipan nih dari Kak Khalid.”

Aku  tersentak pelan. Titipan? Dari Kak Khalid? Kak Faurina menjulurkan sebuah map transparan kepadaku. Aku cek. Ternyata itu adalah sertifikat dauroh mentoring yang kuberikan kepada Kak Khalid satu minggu lalu. Kebetulan aku mendapat amanah di bagian humas.

Yang membuatku heran. Mengapa sertifikat itu ada di tangan Kak Faurina?

Detik selanjutnya Kak Faurina pamit. Aku tahu ia salah satu mahasiswa paling sibuk dengan seabrek jabatan organisasi dan tugas kuliah. Apalagi kudengar dalam waktu dekat ia akan maju ujian skripsi. Ah, aku KKN saja belum.

Aku mengutarakan rasa penasaranku kepada empat temanku. Kebetulan yang sejurusan dengan Kak Faurina adalah Nana. “Astaga! Lo nggak tahu? Kak Fau kan—“ belum sempat Nana menyelesaikan penjelasannya, Dira tiba-tiba memotong.

“—eh, gue dapat bukunya nih! Metode Penelitian karangan Profesor Sugiyono!” serunya menggebu-gebu. Kebetulan kami memang mencari buku berbau penelitian seperti itu sejak tadi. Tapi sepertinya populasi mereka punah karena diburu mahasiswa yang juga mau menggarap skripsi.

“Kerja bagus, Ra!” celetuk Risma.

Beberapa tanda tanya masih bersemayam di kepalaku. Entahlah. Mengapa tiba-tiba aku berpikiran kalau Kak Faurina dan Khalid berpacaran? Tidak! Kak Khalid tidak mungkin melakukan hal semacam itu! Mungkin mereka teman. Kak Khalid kan memang terkenal seantero kampus. Siapa saja pasti kenal dengannya.

“Kita makan di mana nih?” tanya Risma setelah kami berada di dalam mobil Nana. Kami semua berbeda tempat tinggal, hanya aku dan Dira yang satu kos. Tapi kami sering ikut mobil Nana untuk pergi bersama.

Halwa langsung memberikan beberapa rekomendasi tempat makan. Bagi kami, ia memang kamus kuliner berjalan yang sangat lengkap. Sampai-sampai Halwa mempunyai akun instagram khusus untuk mengunggah semua foto-foto wisata kulinernya semenjak kuliah.

Dashboard Dira biasanya rapi dan bersih, tapi kali ini kulihat banyak tumpukan kertas di salah satu sudutnya. Kalau bukan catatan kuliah pasti print out foto oppa-oppa. Aku pungut tumpukan itu untuk merapikannya.

Ternyata beberapa di antaranya adalah undangan pernikahan. “Sedih gue, Ra. Teman SMA gue udah pada nikah semua,” ungkap Nana tiba-tiba mungkin karena aku membaca nama yang ada di undangan itu.

Yang terakhir membuatku sangat tertarik untuk membacanya. Undangan itu berbentuk persegi tapi kecil. Berwarna putih dengan motif tumbuhan. Sepertinya tema pernikahan itu adalah white garden party.

DEG!

Dadaku tiba-tiba berdebar sakit saat membaca nama mempelai yang tercetak di sana.

Walimatul ‘Ursy Khalid & Faurina.

Hari-hariku setelah itu berlangsung suram. Semangatku tersesap habis. Fokusku buyar. Tugas terbengkalai. Jangankan hadir kajian, makanpun aku tak ingat. Sehabis kuliah aku hanya mengurung diri kamar. Kurang lebih satu bulan waktuku hanya bermanifes kenestapaan. Duduk merenung lalu tergugu diam-diam.

Setelah shalat subuh aku memutar sebuah video seorang ustadz di youtube. “Imam Syafi’i berkata, “ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpakan atasmu pedihnya pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat menyemburui orang yang berharap kepada selain-Nya. Allah menghalangi dari perkara tersebut semata agar kamu berharap kepadaNya”.” Jelas ustadz itu, “Kecewa itu karena kita bergantung kepada makhluk. Semakin kita berharap kepada seseorang hati kita akan semakin lemah. Beda kalau kita hanya berharap kepada Allah, maka hati kita akan semakin kuat. Ud’uni astajib lakum; berdoalah kepadaKu, niscaya Kuperkenankan (permintaan) bagimu. Wa ilaa rabbika farghab; dan hanya kepada TuhanMu-lah hendaknya kamu berharap. Gimana kalau sudah terlanjur kecewa? Back to Allah.” …….”

Aku menangis tergugu di atas sajadah. Selama ini…. astaghfirullah…  apa yang telah kulakukan? Niatku? Kajianku? Bahkan hijrahku… semata-mata karena aku ingin Kak Khalid menyukaiku. Hingga ketika aku tidak mendapatkan yang kuinginkan, aku seperti berdiri di bibir jurang futur. Andai Allah tidak menyelamatkanku, pasti aku telah melompat.

Ya Allah kuatkan hatiku… tetapkanku di jalanmu… berikan aku teman-teman yang shalihah dan ampunilah aku…

Sejak hari itu, kuluruskan niatku dalam menapaki jalan hijrah. Karena niat akan menjadi penentu amal kita. Sejak saat itu pula, kuputuskan untuk meninggalkan dia dan mengejar cinta-Nya. Bergantung hanya kepada Allah dan semata-mata karena mencari ridha-Nya.

Akhirnya aku mengerti kata mutiara Kak Khalid waktu itu bahwa orang yang berhijrah pasti akan menemukan cinta. Cinta Tuhan-Nya.

Hatiku merasa tenang dan damai apabila aku mengerjakan sesuatu lillahi ta’ala. Percayalah. Tak ada tuntutan untuk mendapat balasan atau perhatian. Sedangkan dulu, aku selalu merasa cemas, gelisah, dan kepikiran kalau Kak Khalid tidak melihatku hadir di kajian. Apa yang kulakukan rasanya selalu tertuntut agar diketahui olehnya.

Sekarang aku berhijab Kak, aku kemarin ikut kajian lho kak, oh kemarin kakak jadi pembicara seminar tarbiyah kan? Kebetulan saya jadi peserta waktu itu! Hatiku sering bergumam merapal kata-kata itu. Walaupun—alhamdulillah—tertahan di tenggorokan lalu tertelan kembali sebelum terucap.

Ketika Allah menjanjikan pahala terbaik, pasti hati akan diuji seberapa azzam tekadnya seberapa ikhlas niatnya. Ibrah yang mungkin bisa kubagikan dari kisah hijrahku adalah… saudariku, dari mana pun jalan hijrahmu bermula, jangan pernah berhenti dan menyerah. Tak ada kata lelah dalam hijrah, karena proses memperbaiki diri adalah proses yang akan berlangsung seumur hidup.

“Ketika kau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Jika itupun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti.” –Imam Syafi’i—

“Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka aku akan mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari & Muslim).

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dam sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sungguh Dia (Allah) pasti akan memasukkan mereka ke tempat masuk (surga) yang mereka sukai. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (QS. Al-Hajj: 58-59)

***

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
11

Tinggalkan Balasan