Kiat Manajemen Waktu

oleh: Sonya Esti Kholifa – KSI Asy-Syifa FK ULM

Bismillahirrahmanirrahim

Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah waktu. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan waktu agar kita dapat memanfaatkannya sebaik mungkin di dunia untuk bekal di akhirat nanti. Dalam Islam, kita diajarkan agar senantiasa menghargai waktu yang ada dengan rajin melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Begitu berartinya waktu dalam kehidupan kita. Islam telah memberikan gambaran yang utuh tentang memuliakan waktu, karakteristik waktu, dan rahasia manajemen waktu nabi.

Dalam Al-Qur’an, Allah telah menempatkan waktu pada posisi yang sangat tinggi. 

“Dan mereka berkata” kehidupan ini tidak lain saat kita berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali dahr (perjalanan waktu yang dilalui oleh alam).” (QS Al-Jaatsiyah: 24).

Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menghargai waktu dengan banyak beribadah dan melakukan hal-hal yang baik & berguna. Seringkali kita terlena dengan menyia-nyiakan waktu dengan kegiatan yang buruk ataupun kurang bermanfaat.

Agar terhindar dari kebiasaan tersebut, ada beberapa kiat yang dapat dilakukan:

Allah menyukai orang-orang yang senantiasa bertakwa kepadanya dan ketakwaan tersebut berada pada perbuatan yang diwajibkan dan diharamkan oleh Allah. Untuk menjadi orang yang tidak merugi, alangkah baiknya jika kita mendahulukan apa yang menjadi kewajiban bagi kita sebagai umat muslim.

Sebagai seorang muslim pasti paham hal-hal wajib yang harus dilakukan seperti shalat 5 waktu, membaca Al – Qur’an, puasa Ramadhan, zakat, sedekah, dan banyak lagi. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai orang-orang yang selalu mendahulukan apa yang menjadi kewajiban sebagai seorang muslim. Jika amalan wajib sudah dijalankan maka setelahnya sempurnakan dengan amalan-amalan sunnah agar waktu kita senantiasa menjadi ladang pahala.

  • Tinggalkan yang Kurang Bermanfaat

Sebagai seorang muslim dianjurkan meninggalkan hal-hal yang kurang atau bahkan tidak bermanfaat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: 

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits tersebut, bagi seorang muslim dianjurkan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Misalnya: menonton tv secara berlebihan, bermain ponsel seharian, tidur seharian, dan lain-lainnya. Kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat tersebut sebaiknya dikurangi dan dihilangkan karena masih ada banyak hal bermanfaat lainnya yang dapat kita lakukan.

  • Jauhkan Kebiasaan Menunda-Nunda

Tidak ada yang menjamin kita masih bisa berdiri, berjalan, dan melakukan ini-itu esok hari. Jangan lah suka menunda-nunda melakukan amalan. Tidak ada yang tahu kapan Allah akan memanggil hamba-Nya. Jika hari itu tiba, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan waktu.

Perbuatan suka menunda tidaklah baik, tapi bila menunda suatu pekerjaan untuk melakukan ibadah wajib kepada Allah seperti shalat, maka hal tersebut diperbolehkan.

Dalam Sya’ir Arab disebutkan: 

“Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok. Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan.”

Jangan sering menunda-nunda sesuatu, terlebih jika hal yang ditunda adalah dalam perihal ibadah dan amalan baik lainnya, karena dikhawatirkan umur kita tidak sampai pada detik berikutnya. Kematian bisa datang kapan saja, bahkan dalam hitungan detik. Tidak ada yang tahu kapan Allah akan memanggil hambanya kembali, oleh karena itu sebaiknya jangan menunda-nunda sesuatu yang merupakan amalan baik, terlebih amalan yang merupakan ibadah.

  • Tinggalkan Masa Lalu & Fokus ke Masa Depan

Kebiasaan buruk, sifat malas, dan sifat gampang menyerah di masa lalu ditinggalkan. Waktu terus berjalan, jangan sampai kamu terjebak di masa lalu. Buatlah perencanaan hidup yang lebih baik dan terarah di masa depan.

Apabila seseorang mempunyai banyak target dalam hidupnya, maka ia haruslah fokus pada satu hal dahulu, agar apa yang telah didapatkannya tidak terlepas dan waktu yang dia miliki tidak terbuang sia-sia.

  • Selesaikan pekerjaan tepat waktu

Jika kita memiliki sebuah pekerjaan yang waktu penyelesaiannya dapat diselesaikan pada saat itu juga, maka akan lebih baik apabila pekerjaan tersebut diselesaikan tepat waktu, dan tidak mengulur-ulur waktu penyelesaiannya.

  • Buat batasan waktu

Untuk mengatur waktu yang ada agar tidak sia-sia, sebaiknya buat batasan waktu pada setiap kegiatan yang dilakukan. Misalnya: tidur dari jam sekian hingga jam sekian, belajar berapa jam dalam sehari dan pada jam berapa saja, dan lain sebagainya.

  • Membuat jadwal kegiatan

Agar waktu yang kita miliki dapat berguna dan terisi dengan hal yang bermanfaat, ada baiknya jika kita membuat daftar kegiatan tentang apa saja yang harus kita lakukan setiap hari.

  • Senantiasa Menyerukan Kebaikan

Dalam (QS. Al-‘Asr ayat 1-3) Allah SWT berfirman : 

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Sungguh merugi orang-orang yang tidak beriman dan tidak menyerukan kebaikan & menasihati orang-orang yang berada dalam kesesatan untuk bersabar dalam jalani hidup ini.

  • Niatkan Berubah Menjadi Lebih Baik

Untuk menjadi orang yang dapat mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya maka yang paling pertama adalah adanya niat dari orang tersebut. Apabila tidak ada niat dan keinginan untuk berubah, bagaimana bisa orang tersebut mengatur waktunya dan menjalankannya dengan bermanfaat.

Demikian kiat-kiat yang dapat kita lakukan sebagai seorang muslim dalam mengatur waktu. Jadi, sebagai muslim yang baik kita haruslah senantiasa mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya agar kelak kita tidak menjadi orang yang merugi. Karena sesungguhnya, orang yang merugi dapat kehilangan kesempatan untuk menempati surga milik Allah SWT.

Sumber :

  1. Al-Qardhawi, Yusuf. 2007. Manajemen Waktu.
  2. Darwis, Androecia. 2004. Ketika Tahun Berganti. Jogjakarta: Ar-Ruzz.
  3. Ihsan dan H. Ainul Ghoerry Suchaimi. 2012. Jalan Menempuh Ridha Allah. Surabaya: Al-Hidayah
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3

Leave a Reply