Kajian Etika Epidemiologi dan Islam Terhadap Petugas Kesehatan Rumah Sakit

Dikutip dari kajian yang di lansir  z-ismah.blogspot.co.id.

Salah satu syarat berdirinya rumah sakit adalah adanya sumber daya manusia yang mengisi organisasi rumah sakit. Sumber daya manusia rumah sakit berdasarkan UU No 44 Tahun 2009 adalah tenaga medis dan penunjang medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga manajemen Rumah Sakit, dan tenaga nonkesehatan. Setiap sumber daya rumah sakit yang tergolong sebuah profesi pasti memiliki sebuah kode etik yang harus dianut oleh anggota profesi.

Permasalahan penolakan bayi dirumah sakit bukan hanya masalah etika oknum rumah sakit saja tetapi juga etika dari petugas pelayanan kesehatan terkait dengan kewajiban profesi kepada masyarakat/kliennya. Kewajiban ini dapat berupa bersikap tulus, ikhlas, jujur, dan menggunakan semua ilmu dan kompetensinya untuk kepentingan klien atau masyarakat. Petugas kesehatan diminta memberikan informasi yang benar dan jujur terhadap apa yang sedang terjadi di Rumah Sakit (truth).

Jika petugas kesehatan mengatakan hal yang jujur dan benar kepada orang tua/keluarga pasien maka dimungkinkan keluarga pasien dapat mempercayai itu dan rumah sakit tidak mendapatkanblacklist terhadap apa yang terjadi (benefit). Tetapi menjadi sebuah kontradiksi bagi petugas kesehatan bahwa petugas kesehatan menyatakan hal yang jujur kepada keluarga pasien terkait informasi yang dibutuhkan tetapi sistem di organisasi yang membentuk sebuah informasi yang keliru/salah dan petugas kesehatan menjadi turun pangkat atau kehilangan pekerjaan(risk).

Petugas kesehatan diwajibkan menjadi pribadi yang profesional tetapi juga dituntut sebagai manusia yang berakhlak mulia. Islam mengajarkan pada manusia untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan profesional (Muslim,2010). Kriteria pribadi yang berakhlak mulia dan profesional adalah

  1. Tawadhu

“…. Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS An-Najm:34).

  1. Jujur

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS At-Taubah:119).

  1. Penyayang

 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu….” (QS: Ali Imran:159)

  1. Adil

 “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS:An-Nahl:90)

  1. Kerja sama dan suka bergaul

    “… dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…”(QS Al Maidah:2)

  1. Santun

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. 35. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar” (QS Fushilat:34-35).

  1. Memperdalam kedokteran bidang agama
  2. Memiliki rasa malu
  3. Mengutamakan kepentingan pasien
  4. Berlaku adil antara profesi, keluarga dan agama

 

Sumber : http://z-ismah.blogspot.co.id/2015/08/kajian-etika-epidemiologi-dan-islam.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

− four = 4