Jikalah Ini Ramadhan Terakhirku, Maka Aku Ingin Mengarunginya Bersamamu

Sore yang indah, ufuk barat mulai memancarkan pesona, membuai kedamaian, dan memanja senja dengan keelokan mentarinya. Peluhku mulai menguap, mungkin beranjak menuju sang surya bersama kawanan angin yang berterbang ria. Namun tak begitu lama, pemandangan itu sirna ditelan masa. Pergi menjauh bagai kekasih yang tak setia. Ia pergi tanpa pesan, dan hanya menyisakan kegelapan. Inikah fatamorgana? Memikat jiwa-jiwa pencinta dunia, padahal ia hanya sementara. Sungguh dunia ini hanyalah fana yang berdusta, terasa lama, tapi ternyata bagaikan suatu pagi atau sore saja dibanding akhirat sang keabadian masa.

Hasan. begitulah orang-orang memanggilku. Hasan Al-Fatih, nama yang sangat baik dan mengisyaratkan harapan kebaikan dari pemiliknya. Dulu ayahku adalah orang yang pandai membaca al-Quran, rajin mengikuti pengajian, bahkan yang diadakan mesjid-mesjid kampung sebelah pun ia datangi. ia begitu berwibawa dan bersahaja, berakhlak mulia dengan kesantunan tiada tara. Tak heran ia memberiku nama yang megah ini. Ayah terkagum pada sosok penakluk Konstantinopel yang perjuangannya membawa ia pada derajat sebaik-baik pemimpin sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

Aku adalah anak satu-satunya, sepeninggal ayah tiga belas tahun lalu, ibu memilih untuk tidak menikah lagi, lalu fokus membesarkanku. Sepertinya, ibu adalah bidadari tanpa sayap yang Alloh karuniakan terkhusus untukku, ia adalah madrasah pertama dalam kehidupanku. Ia berani mengambil peran ganda, sebagai ibu yang penuh kasih sayang, lalu menopang tugas ayah mencari nafkah.

Usianya beranjak senja, sinar matahari yang sedari dulu menaunginya saat bekerja mengeringkan ikan asin di lapangan pinggir pantai, kini tega mengurai ikatan-ikatan peptida protein lensa bola mata ibunda. Katarak telah merenggut jendela dunianya. Aku pilu, sedih dan sendu, menyaksikan kesulitan ibuku menghadapi hari-hari tanpa semburat sinar pembeda merah dan biru.

Sejak ibu terserang penyakit ini, akulah yang menggantikan tugasnya mencari sepeser uang. Taruhannya terasa berat bagiku, karena aku harus menggadaikan masa depanku. Selain tidak ada uang, aku juga tidak ada waktu untuk melanjutkan sekolah di jenjang SMA karena tersibukkan mencari penghasilan.

Aku hanya lulusan SMP, pekerjaanku sesuai dengan jerih payah pendidikan yang sempat aku kenyam. Sepeda ontel warisan ayah, kugunakan untuk mencari rupiah kehidupan. Berkeliling setiap hari, dari pagi hingga sore menghampiri mengitari kampung demi kampung di kecamatan kami. Berteriak lantang melengking menawarkan ikan-ikan laut hasil tangkapan para nelayan.

Hingga saat ini, ibu tidak mengizinkanku berperang dengan ombak di lautan, ia tak mau jika aku menjadi nelayan. Ia trauma berat pada kisah ayahku yang akhir hayatnya harus dipeluk samudra biru. Perahu tua yang ia tunggangi, tiba-tiba kalah dengan gejolak ombak yang berpesta di lautan. Berhari-hari jasad beliau sulit ditemukan, tim SAR sudah dikerahkan, tapi barulah pada hari ketiga sosok ayahku menepi di Pantai Pangandaran.

Aku memang tidak lagi belajar di sekolah formal, tapi ibu tak pernah alfa mengingatkanku untuk mampir ke pengajian-pengajian mesjid sebagaimana ayahku dulu. Ia tahu bahwa ilmu agama adalah yang utama. Namun ada satu hal yang belum ibuku tahu, yaitu bahwa anaknya mulai dewasa. Ia masih memperlakukanku layaknya anak SD yang manja menahun. Ibu sangat menyayangiku, tapi itu bukanlah hal aneh, karena memang hanya akulah satu-satunya teman hidup ibu di rumah gubuk kami.

Usiaku sudah menginjak dua puluh tahun, beberapa temanku melanjutkan sekolah bahkan sampai kuliah, tapi mayoritas mulai belajar mencari rezeki bersama ayah-ayah mereka di laut sebagai nelayan. Teman-teman perempuanku banyak yang sudah bersuami, mereka keluar dari Kantor Administrasi Sekolah lalu bertandang ke Kantor Urusan Agama. Sebagian mereka bahkan sudah memiliki momongan, ada yang baru satu, ada juga yang sudah punya tiga. Bagaimana denganku? Aku masih lajang, masih mencari petunjuk dari Alloh tentang dimana tulang rusukku sedang ia tempatkan.

Dia yang sedang duduk di dalam mesjid itu, ya, dia yang sedang dikelilingi anak-anak kecil santri TPA itu, adalah putri semata wayang dari salah satu keluarga terpandang. Ia berakhlak baik, dan kepalanya dipenuhi segudang wawasan. Teramat rupawan dan berhasil membuat hatiku tertawan. Juluran jilbabnya yang panjang, resmi membuat sel-sel saraf pusatku berkolaborasi mendukung hati ini untuk tak berpindah ke lain hati.

Langit dan bumi adalah satu paket yang membuat alam ini indah terpatri, namun jarak jauh keduanya, membuat mereka bagaikan dua insan yang tak pernah bisa saling mendampingi. Begitulah kiranya antara aku dengan Nurmala. Tapi Kawan, kalian harus ingat namaku; Hasan Al-Fatih. Pemilik nama itu haruslah gagah berani, termasuk demi mencari perhiasan terindah yang bisa Alloh anugerahkan pada hamba-hambanya di muka bumi. Perhiasan itu adalah, wanita sholehah.

Limpahan harta milik ayah Nurmala hanyalah setitik dari setetes nikmat yang Alloh titipkan pada dunia. Pengetahuan yang tertaut di kepala gadis itu tidaklah seberapa dibanding keluasan ilmu Alloh yang maha mengetahui segalanya. Kehormatan yang mereka dapatkan bahkan tak sampai sebutir debu dibanding kemuliaan Sang Maha Agung. Inilah kalimat-kalimat senjata penyemangatku. Tak ada yang tak mungkin, karena hanya Dialah penguasa segalanya, dan Ia, sesuai prasangka hambaNya.

Semangatku mulai mencuat, meluap-luap, bermunculan satu persatu, lalu beradu bergemuruh di dalam qalbu. Kupacu tenagaku hingga butiran peluh mengalah pada lelah lalu gugur dari waktu ke waktu. Siang hari, aku menjajakkan ikan keliling kampung, lalu malam setelah isya hingga jam sebelas malam, aku berkutat dengan montir-montir muda lulusan SMK yang berprofesi di Bengkel Putra Bahari. Dini hari jam tiga pagi, aku sudah berada di Pasar Pananjung menjual beragam sayuran segar. Aku bekerja membanting tulang, menyita hampir sebagian besar waktu tidur malamku demi menjemput benda mengkilap di toko emas Permata Biru pinggir jalan itu. Setidaknya, jika aku bertamu pada ayah Nurmala kelak, aku sudah menyiapkan sedikit bekal agar tak dilempar seenak hati atau dibuang tak diacuhkan.

Hari ini, tepat tanggal satu ramadhan, umat muslim bersuka cita bahagia, mengharapkan limpahan pahala di bulan penuh kemuliaan. Ramadhan syahrul mubarok, ramadhan syahrul Quran, ramadhan syahrul maghfirah. Termasuk aku, aku bahagia sekaligus takut. Bahagia menyadari keberkahannya, menikmati hari-hari dimana nafas menjadi tasbih, bahkan tidur menjadi ibadah. Tapi aku justru takut kalau-kalau tidak mampu memaksimalkan ibadah di bulan suci ini.

Sepulang tarawih malam pertama ini, dari sebuah sudut ruang aku mendengar suara tangis yang teramat pilu. Kubuka daun pintu, dan mataku tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk memeluk kedua lututnya sambil menangis tersedu-sedu. Ibu, kenapa menangis? tanyaku spontan, lalu kuseka kedua aliran air matanya. Ibu sedih Nak, kenapa dulu tak pernah terpikirkan untuk menghapal Al-Quran. Sekarang, bahkan untuk membaca pun, mata ibu sudah tak sanggup lagi. Ibu sedih sudah tiga tahun tidak membaca mushaf Al-Quran, hanya tahu sedikit hapalan surat-surat pendek yang dulu Kyai Haji ajarkan.” Ia semakin tersedu, meratap semakin dalam, dan aku pun terbisu, tertekan hentakan sendu yang menusuk qalbu.

Aku galau, kupeluk sang bidadariku, dan tetes air matanya dengan lembut berlabuh di pundakku. Bukan tak ada jalan keluar, tapi biaya lah yang memaksa ibuku untuk tetap bersabar. Operasi katarak telah banyak digencarkan,, tapi mau tak mau, tetap harus ada uang yang tak sedikit untuk hal itu.

Aku beranjak ke kamarku, lalu merenung menatap diri penuh dosa di depan cermin kusam yang merenta. Teringat sosok ibuku, kasih sayangnya, pengorbanannya, dan semua tentang kemuliaan jasanya. Kubandingkan dengan apa yang sudah kuberikan padanya hingga detik ini, ternyata nyaris nihil, aku sama sekali belum mampu membuatnya bahagia. Dan kini, aku justru tersibukkan dengan angan-anganku untuk menggandeng Nurmala.

Malam semakin sunyi, rembulan tertutup awan, bahkan bentuk nya pun hampir tak kelihatan. Aku berjalan meyusuri jalan setapak yang dikawal rumput-rumput liar kanan-kirinya. Langkahku diteduhi raksasa-raksasa pohon kelapa yang sedang menari dibuai angin darat, mungkin sebenarnya mereka sedang bertanya padaku Mau kemana Kau pergi Nak?

Kehadiranku di bibir samudra tidak disambut meriah oleh ombak-ombak yang biasanya ceria, mungkin mereka lelah setelah seharian berlomba menyentuh daratan. Aku melanjutkan perjalanan hingga berhenti untuk duduk di sebuah batu besar pinggir pantai. Beberapa ratus meter di sebelah baratku, nampak beberapa perahu kecil mulai bersiap menuju lautan luas, dilengkapi dengan jaring penangkap ikan yang akan memenjarakan satwa-satwa penghuni limpahan air asin ini. Para nelayan itu mungkin akan melaksanakan sahur pertama di tengah laut biru, disaksikan beribu bintang dan intipan ikan-ikan.

Seketika aku teringat ayahku. Ayah sangat menyayangi ibu, ia adalah sosok yang takkan membiarkan anak istrinya mengurai air mata hanya karena suatu iming-iming dunia. Ia akan bekerja keras demi memberi apa yang ibu dan aku mau. Teringat lebaran Idul Fitri lima belas tahun lalu, aku dan ibu memakai baju baru, tapi ayah hanya mengenakan baju koko yang biasa ia pakai untuk jumatan. Ternyata, uang ayah tidak cukup untuk membeli baju kami bertiga, namun ayah berlapang dada asalkan anak istrinya bahagia.

Malam ini, aku mengambil suatu keputusan. Aku tak peduli lagi pada tujuan awal yang membuatku membanting tulang siang dan malam. Aku ingin membuat ibu sehat kembali, aku ingin ia bisa melihat kembali. Bahkan jika uang yang susah payah kucari untuk melamar Nurmala harus aku gunakan pun, aku tak peduli.

Uang yang sudah aku kumpulkan selama ini masih jauh dari syarat ideal biaya operasi. Aku bekerja lebih keras lagi, menjual ikan sebanyak dua kali lipat dari pada biasanya, dan mendagangkan sayur lebih banyak dari sebelumnya. Aku bangun lebih awal, bermunajat di setiap momen sepertiga malam terakhirnya, lalu bergegas menuju Pasar Pananjung menjajakkan beragam sayuran, sahur disana ditemani lalu-lalang para pembeli dagangan. Setiap pulang tarawih aku bergegas bekerja menuju bengkel dan baru bisa tidur jam dua belas malam.

Hari ke sepuluh bulan ramadhan ini, uangku masih kurang seperenamnya. Aku bekerja semakin keras, bahkan mengurangi porsi jatah makan sahur dan berbukaku demi sedikit tambahan biaya operasi itu. Adalah pak Teguh, pemilik Bengkel Putra Bahari, yang berbaik hati meminjamkan uangnya guna menutupi kekurangan biaya untuk membuka pintu ruang operasi ibu.

Tanggal empat belas ramadhan, tepatnya pukul sembilan malam, aku mulai duduk gelisah di lorong ruang tunggu, berdoa harap-harap cemas menanti keberhasilan operasi ibu. Operasi dinyatakan selesai, tapi masih harus ditutupi perban. Malam berikutnya, kami kembali lagi ke Rumah Sakit untuk membuka perban ibu. Aku tidak ingin kehilangan momen indah ini. Aku berdiri tepat di depan bidadariku, tak peduli pada dokter yang memintaku sedikit mundur agar lebih memudahkannya mencopot perban itu.

Iya membuka kelopak mata dengan sangat hati-hati, berproses untuk mendapat lapang pandang seluas dulu saat masih jelas memandang. Terlihat semburat sinar lampu menelisik masuk pada celah matanya, membuat ibuku berkedip-kedip ragu-ragu. Beberapa detik kemudian setelah matanya membuka sempurna, ia berkata Hasan, anakku.

Aku bahagia bukan kepalang. Kupeluk ibu erat-erat, dan tanpa sadar air mataku jatuh menetes di bajunya. Betapa tidak, sejak tiga tahun lalu, inilah hari penting disaat ibuku bisa melihat kembali.

Sama sekali tidak ada penyesalan dalam diriku. Uang yang kukumpulkan untuk meminang Nurmala itu, ternyata lebih membuatku bahagia bisa melihat ibu tersenyum lebar menyaksikan dunianya yang kembali baru. Ibu bahkan tak tahu, dan aku tak ingin ia tahu tentang niat awal tujuan uang itu.

Aku tak peduli, aku hanya takut jika ramadhan ini adalah ramadhan terakhirku. Betapa jahatnya aku jika harus membiarkan ibu bersedih sepanjang waktu, sedangkan aku menikmati untaian kalimat-kalimat suci Al-Quran yang setiap hurufnya dilipatgandakan sekian kali pahala kebaikan. Aku ingin menikmati indahnya ramadhan ini bersama bidadariku, bersama-sama mencari rahmat dan maghfirahNya dalam naungan bulan yang Ia muliakan.

Satu sisi, aku merasa rugi, mengapa tidak aku kumpulkan uang itu sejak dulu, akibatnya aku harus bersusah payah bekerja keras mencari uang di awal bulan ramadhan yang selayaknya menjadi ladang panen pahala ibadah. Tapi tak apa, aku lebih takut lagi jika ini adalah ramadhan terakhirku dan kelak tak dapat bertemu lagi di tahun depan. Aku takut nyawa ini terburu-buru Alloh ambil sebelum aku sempat membahagiakan ibu. Jika pun tahun depan tak bisa kusapa lagi bulan seindah ini, aku ingin ibu tetap menikmatinya dengan khusyuk, serta menikmati huruf-huruf Al-Quran yang terrangkai indah berdasarkan wahyu.

Lima belas hari terakhir kedepan, aku tak ingin lagi bercengkrama dengan pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktu. Aktivitasku di bengkel dan di pasar kuhentikan sementara. Fokusku saat ini tidak banyak, hanya ingin membeli baju baru untuk ibu, dan berbekal agar bisa terhindar dari kesibukan dunia di sepuluh malam terakhir nanti. Jikalah tahun depan tak bisa kuraih lagi ramadhan, maka aku berharap malam lailatul qodar tahun ini bisa aku dapatkan, demi tabungan ibadah seribu bulan. Semoga Alloh memanjangkan umurku. Aamiin

Adapun untuk Nurmala, aku tetap berharap ia menjadi Nurmalaku. Aku siap berjuang kembali, bekerja keras lagi sembari memantaskan diri. Aku tahu kami bagaikan langit dan bumi, tapi ingatlah, bahwa langit dan bumi senantiasa saling melengkapi. Semoga, ia menjadi bidadari kedua setelah ibuku. Aamiin.

 

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan