JADILAH ORANG TUA BETULAN BUKAN KEBETULAN JADI ORANG TUA

 

 20170313092011

Hai, kamu. Iya kamu. Kamu yang sudah disiapkan untuk menjadi jodohku atau jodohnya. Eyaaaa.. apaan sih #lawan baper. Berapa umurmu sekarang? Sudah siapkah untuk menikah? Yakin sudah siap? Sudah siap mendidik anak-anakmu yang lucu nan imut nanti? Pasti kalian berpikir “Lho, kok udah ngomongin anak aja sih, nikah aja belum.” Eits, jangan salah gengs, ibarat mau mencari harta karun nih, kalian harus mendapatkan peta untuk tahu dimana letaknya dan bagaimana cara kalian mendapatkan harta tersebut. Disebutkan dalam hadist yang artinya : “Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim). Nah loh, kalian pasti mau kan punya anak yang tetep menjaga fitrahnya? So, tunggu apalagi? Baca artikel ini sampai selesai ya .. haha

Jadilah orang tua betulan, bukan kebetulan jadi orang tua

Banyak berita hoax yang tersebar di masyarakat luas gengs. Salah satunya begini nih, mendidik anak itu tidak ada ilmunya. Istilahnya “learning by doing” lah. Gilaaak.. Masak nasi goreng aja perlu resep, apalagi ini mendidik keturunan? Tentu resepnya lebih rumit, guys. Tapi insyaAllah kalau dijalani ganjarannya surga,lah, kecuali kalian gak mau masuk surga, ya beda lagi sih wkwkwk.

Banyak orang yang kuliah tinggi-tinggi sampai S3 demi mengejar karirnya tapi yang ngurus anak malah pembantu. Bukan berarti disini kita melarang wanita berkarir ya guys. Tapi lebih menekankan lagi bahwa bukankah ibu merupakan majelis pendidikan pertama bagi anak-anaknya? So, mulai dari sekarang, banyak-banyaklah membaca buku, datang ke majelis dan mendengar ibu-ibu rumpik yang sedang membicarakan anaknya. Haha

Ustadzuna Abdullah Zaen, MA hafizhahullah mengatakan, “Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap. Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya. Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas. Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang” (Dinukil dan diolah dari : http://tunasilmu.com/jurus-jitu-mendidik-anak/).

Paham mengenai tujuan mendidik anak

 Ketika sepasang manusia menikah, bukankah salah satu tujuannya adalah mendapatkan keturunan? Keturunan yang seperti apa? Yaitu keturunan yang sholeh dan sholehah. Dan ketika ditanya, untuk apa kamu mendidik anakmu? Maka jawablah “Agar mereka menjadi generasi penyembah Allah semata, generasi muwahhidiin muwahhidah yang seluruh ucapan dan perbuatan mereka dibingkai dan didasari dengan niat yang tulus untuk beribadah kepada Rabbul ‘Aalamiin. Agar setiap ucapan anakku dan setiap perbuatannya diridhai oleh-Nya. Agar batin dan lahir buah hatiku sesuai dengan keridhaan-Nya.”

Anak yang berprestasi di dunia saja tidak cukup

Sering kan kita dengar cerita, anak yang dulunya rangking 1 di kelas, sekolah tinggi sampai S3, begitu dia sibuk dengan pekerjaannya, dan orang tuanya mulai menua, malah dititipkan di panti jompo. Naudzubillah min dzalik.

“Tak akan bisa orang tua menjadi sukses mendidik anak dan tidaklah bisa sang anak menjadi sholeh atau sholehah sampai mengetahui syari’at-Nya.


Urgensi Mendidik Anak dengan Cinta dan Kasih Sayang

  • Definisi Cinta

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam mendefinisikan cinta, beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.

Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.

  • Definisi Kasih Sayang (Rahmah)

Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullah dikisahkan sebagai berikut.

“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”

Tanda-tanda cinta dan bukti-bukti kasih sayang itu adalah sebuah bahasa manusia saat mengungkapkan perasaan yang terpendam dalam hatinya. Nah, apa saja tanda-tanda dan bukti-bukti cinta dan kasih sayang yang tulus dari seorang ayah dan ibu kepada putra-putrinya? Berikut ini jawabannya.

  1. Cinta Allah Ta’ala
  2. Panggilan Cinta
  3. Sambutan Cinta
  4. Kata Cinta
  5. Sentuhan Cinta
  6. Dekapan Cinta
  7. Ciuman Cinta
  8. Candaan Cinta
  9. Penghargaan Cinta
  10. Pemberian Cinta

So, mulai sekarang mulailah belajar maksud dari 10 tanda cinta dan kasih sayang tersebut.

Sumber : muslim.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

61 + = sixty five