Islam dan Hoax

Hoax yang berarti berita bohong atau fitnah, akan ditinjau dalam perspektif agama, khususnya Islam. Agama memang kerap menjadi objek hoax sebab sensitifitas agama memang merupakan “isu paling seksi” untuk dijadikan legitimasi dan penggerak bagi arus hoax. Terlebih di tengah euforia keberagamaan yang begitu tinggi di tingkat “kulit” saja, tanpa diimbangi oleh kedalaman dan keilmuan yang memadai.

Dalam sejarah Islam, berita bohong, fitnah, atau hoax itu dicatat sebagai penyebab pertama guncangan besar bagi tatanan keislaman yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Itu terjadi saat terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, yang kemudian disebut sebagai al-fitnah al-kubra (fitnah besar). Saat itu umat Islam saling menebar berita bohong tentang pembunuhan Khalifah Utsman untuk kepentingan politik sehingga terjadi perpecahan pertama dalam sejarah Islam, yang bermuara pada peperangan antara Ali dan Muawiyah serta lahirnya sekte-sekte dalam Islam. Karena itu, tak aneh jika Sayyidina Ali buru-buru menasihati umat Islam agar jangan terjebak dalam kekacauan tersebut lantaran terprovokasi oleh berita bohong.

Perbedaan dalam teologi Islam awal yang terjadi atas dasar berita bohong justru melahirkan perpecahan, konflik, dan saling bunuh di tubuh umat Islam. Dengan fitnah, perbedaan tak lagi jadi “rahmat”, melainkan “bencana” sebagaimana sabda Nabi. Hoax menyulap perbedaan (ikhtilaf) menjadi perpecahan (iftiraq).

Lantaran bersumber dari ego, berita bohong dalam Islam menyeruak hingga salah satu simpul terdalam agama: hadits. Sejak 41 Hijriyah, berita bohong atas nama Nabi diproduksi dan disebarkan untuk kepentingan-kepentingan kekuasaan. Ia menganiaya mazhab, ulama, pandangan, dan segala sesuatu yang menjadi benteng bagi ego rezim. Sekedar gambaran kuantitasnya: dari 600 ribu hadis yang dikumpulkan Imam Bukhari, hanya 2.761 hadis yang dipilihnya, dari 300 ribu yang dikumpulkan Imam Muslim, hanya 4000 yang dipilihnya, dari 500 ribu yang diterima Imam Abu Dawud hanya 4800 yang dipilihnya, dan dari sekitar satu juta hadis yang dikumpulkan Imam Ahmad bin Hanbal hanya 30 ribu hadis yang dipilihnya. Padahal, sejak awal, Nabi telah bersabda, “Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.”

Sebagian pembuat hadis palsu dijuluki “pembohong zuhud”. Artinya, mereka sebenarnya seorang yang taat beribadah. Namun ketika digugat, mereka mengatakan telah berbohong bukan terhadap Nabi (‘ala Nabi), melainkan untuk Nabi (li Nabi) dengan asumsi untuk kebaikan Islam. Ini persis seperti fenomena dalam beberapa tahun terakhir di kalangan umat Islam Indonesia, ketika mereka secara sadar menganiaya sesama muslim atau umat non-muslim dengan berita-berita bohong atas dasar imajinasi bahwa dirinya “pembela Allah dan rasul-Nya”.

Kesucian agama dari berita bohong bersifat sangat penting, utama, dan mendasar. Sejak awal, Al-Quran dalam QS. Al-Hijr: 9 menegaskan bahwa apa yang difirmankan-Nya adalah benar-benar dari-Nya dan akan terus Dia jaga sampai akhir masa. Nabi diutus sebagai manusia suci (ma’shum) untuk meneguhkan kesucian agama yang dibawanya dari tuduhan atau prasangka berita bohong. Tuhan begitu keras terhadap pembuat dan penyebar berita bohong: melaknat, menyebut tak beriman, dan memastikan tempatnya di neraka. Sebab, berita bohong dalam keberagamaan bukan hanya membuat kesucian agama batal, tapi juga memaksa umat menerimanya meski bertentangan dengan akal. Walhasil, tutur Ibn Rusyd, “Jika kau ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah segala hal dengan agama.”

Oleh karena itu, pasca-Nabi, para sahabat, tabi’in, dan ahli hadis membentuk sebuah ilmu musthalah hadits yang di dalamnya mengatur agar sebuah hadis terhindar dari hoax atau kebohongan, penyelewengan yang disengaja maupun tak disengaja. Di dalamnya ada ilmu sanad (periwayatan) dan matan (konten), di mana setiap hadis harus berasal dari periwayat yang terjamin kepercayaannya (sehingga bahkan sekadar melakukan sesuatu yang tidak etis dalam Islam) dan kontennya juga dicek secara kebahasaan, dll bahwa ia memang dari Nabi dari segi kandungan dan salah satu yang utama adalah harus sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

Sebagaimana saat ini juga kerap kita rasakan, salah satu celah hoax adalah ketika sebuah berita berhadapan dengan kekuasaan, khususnya politik. Karena memang sejak masa awal-awal Islam, pasca-Nabi, teks agama yang suci (khususnya hadis) kerap dipolitisasi dengan diproduksi menjadi hoax atau dibuat perkataan yang disandarkan pada Nabi untuk kepentingan penguasa. Salah satu contoh misalnya Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi adalah pembohong dan pemalsu hadis di mana Imam Nasa’i memasukkannya sebagai seorang pembohong. Ia pernah berkata terang-terangan kepada Khalifah al-Mahdi dari Bani Abbas: “Bila Anda suka, akan aku buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas”. Namun Sang Khalifah menjawab: “Aku tidak menghendakinya!”.

Sifat “Kebenaran” dan “Kebatilan” pada dasarnya adalah seperti air dan minyak. Keduanya berbeda dan tak bisa bercampur. Namun, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Anfaal: 73, hoax bisa mengaburkan kebenaran dan kebatilan yang akan membawa manusia pada kerusakan besar. Misalnya, rangkaian periwayatan hadis akan runtuh jika di tengahnya adalah periwayat yang bermasalah karena menjadi taka da jaminan bagi kesucian hadis tersebut. Atau, sebagaimana permainan teka teki silang, jika salah satu jawaban Anda bohong, maka akan menimbulkan rentetan kesalahan yang menuju pada kerusakan besar tentunya. Di samping pula, hoax bisa menghancurkan struktur berpikir seseorang karena rentetan logika sebab-akibat akan rancu jika disusupi hoax.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

six + three =