International Hijab Solidarity Day (IHSD)

Sungguh bahagia rasanya melihat semakin banyak muslimah yang mengenakan hijab. Mereka terlihat menyejukkan, meneduhkan, dan aura kebaikan terpancar dari busana baik yang melindungi pesonanya. Sungguh indah bukan? Berhijab memang perintah Allah, bukti cinta Allah pada hamba-Nya untuk menjaga dan melindungi kita. Lalu adakah alasan yang cukup logis untuk melarang dan tidak melaksanakan perintah-Nya? Tidaklah pantas rasanya. Allah Sang Maha Cinta selalu menginginkan yang terbaik bagi hamba-Nya. Dengan melaksanakan perintah-Nya, kita berusaha menyempurnakan cinta-Nya. Berhijab adalah salah satu buktinya.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 4 September 2015, dunia telah memperingati Hari Solidaritas Hijab atau yang lebih kecenya dikenal dengan International Hijab Solidarity Day (IHSD). Hmm ngomong-ngomong udah tau belum gimana ceritanya bisa ada IHSD ini? Biar lebih jelasnya yuuk kita bahas 😉

Sebelumnya mungkin ada yang bertanya, kok hari peringatan hijab rasanya banyak ya, kemarin udah ada hari hijab sedunia, terus gerakan menutup aurat, terus sekarang ada hari solidaritas hijab, itu apa bedanya sih? Hhe oke kita coba jawab ya…jadi IHSD ini lebih ditekankan maknanya pada kata Solidarity -solidaritas- rasa senasib dan setia kawan. Hari dimana kita disadarkan bahwa di luar sana, di belahan bumi yang lain, ternyata banyak wanita muslimah yang mendapatkan perlakuan semena-mena karena hijabnya. Kasian ya :”( disaat mereka ingin taat untuk menyempurnakan cinta-Nya, malah dilarang dengan aturan-aturan miris seperti itu.

Lalu, apa yang terjadi pada tanggal 4 September?
Di London, 4 September 2004 diselenggarakan konferensi London. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya keputusan pemerintah London yang melarang mahasiswa untuk memakai simbol-simbol keagamaan, sehingga banyak warga muslim yang memprotes keputusan ini. Keputusan ini tentu saja menyulitkan muslimah untuk menutup aurat secara sempurna. Karena itu diadakanlah konferensi yang dihadiri oleh Syeikh Yusuf Al Qardawi, Prof Tariq R. dan juga 300 delegasi dari 102 organisasi Inggris International, yang menghasilkan beberapa keputusan :
1. Menetapkan dukungan terhadap penggunaan jilbab
2. Penetapan tanggal 4 september sebagai hari solidaritas jilbab internasional (IHSD)
3. Rencana aksi untuk tetap membela hak muslimah untuk mempertahankan busana takwa mereka.

International Hijab Solidarity Day (IHSD) awalnya diprakarsai para pemeluk Islam di 4 negara, yakni; Perancis, Jerman, Tunisia dan Turki. Karena di negara-negara tersebut para muslimah berhijab seringkali mendapat diskriminasi dan kesulitan. Banyak gadis muda berhijab diberhentikan dari sekolahnya. Sementara wanita Turki Muslim tidak diberikan perawatan medis dan akan dikeluarkan dari parlemen jika memakai hijab. Lalu di Tunisia wanita Muslim yang berhijab dibawa ke penjara dan disiksa. Ini adalah beberapa contoh penganiayaan yang diderita oleh wanita hanya karena mereka mengikuti ajaran agama sebagai ekspresi iman mereka. Selain itu pada 4 september 2002, Perancis resmi melarang penggunaan hijab bagi warganya.

Di Jerman, Marwa Al-Sharbini, 32 tahun, meninggal dunia karena ditusuk oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia pada Rabu 1 September 2009 di ruang sidang gedung pengadilan kota Dresden, Jerman. Saat itu, Marwa akan memberikan kesaksian dalam kasus penghinaan yang dialaminya hanya karena ia mengenakan Hijab. Belum sempat memberikan kesaksiannya, ada seorang pemuda Jerman menyerang Marwa dan menusuk ibu satu orang anak itu sebanyak 18 kali. Suami Marwa berusaha melindungi isterinya yang sedang hamil tiga bulan itu, tapi ia juga mengalami luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit. Tragis sekali bukan? Meski pemerintah Jerman berusaha menutup-tutupi kematian Marwa Al-Sharbini, cerita tentang Marwa mulai menyebar dan mengguncang komunitas Muslim di berbagai negara. Untuk mengenang Marwa, diusulkan untuk menggelar Hari Hijab Internasional yang langsung mendapat dukungan dari Muslim di berbagai negara.

Itulah beberapa sejarah dari Hari Solidaritas Hijab Internasional. Kita sebagai muslim di negara yang mayoritas umat islam terbesar di dunia sudah seharusnya menunjukkan solidaritas untuk keluarga seiman kita. “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perjuangan cinta ini harus terus kita lanjutkan. Saling menyemangati, menguatkan, dan terus mengingatkan. Ironis, ketika di luar sana banyak muslimah yang rela mati demi hijabnya, di sini saudari-saudari kita masih kukuh dengan sejuta alasan mengapa mereka masih belum juga mampu berhijab. Ketika di belahan bumi yang lain para muslimah merasa sedih karena sulit mengenakan hijab dalam aktivitas sehari-harinya, di sini saudari kita banyak yang merasa risih karena terus diingatkan akan kewajibannya untuk berhijab. Miris ya rasanyaa sedih sekali.

Yuk ah, shalihat…kenakan hijabmu. Ini bukan tentang kesiapan hati, tetapi tentang kewajiban diri. Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Ayo kita samasama berjuang, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini, terus ajak keluarga dan sahabat dalam kebaikan. Buktikan cinta kita dengan berhijab, teduhkan dunia hingga ke surga nantinya.
Salam solidaritas untuk muslimah hijab se-dunia!

@DEPkemuslimahan
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (FULDFK) Indonesia

Suport by DEP-IT Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (FULDFK) Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

eighteen + = twenty five