Hijrah et cauSadar

Hijrah et cauSadar

Think for a moment..

Berapa banyak shalat yang kita lalaikan? Berapa banyak sunnah yang kita sepelekan?
Berbagai ungkapan lisan tak dijaga, pandangan seenaknya, dan mendengar yang tak ada gunanya..
Atau barangkali karena kita malas Belajar agama? Atau kah sudah merasa tahu segalanya?

Di usia kita yang kurang lebih 20 tahun ini, benar kah kita sudah dewasa dan mencukupkan diri dalam menjadi muslim dan layak mendapatkan surga-Nya?

Dari SD sampai SMA.. kita sudah banyak belajar agama.. namun apakah sudah cukup dan tak perlu lagi diingatkan akan akhirat-Nya? Sudah tahu dan bosan mendengarnya?

Sungguh sedikit amalan baik pada diri ini, sungguh takut apakah terjebak pada riya atau kemunafikan hingga tak tahu diri..
Banyak dosa dan maksiat yang tak terhingga… Maka adakah rasa pada diri ini untuk berubah dan berusaha meminta ampunan pada-Nya?

 

Adakah rasa ingin mengubah diri dan berusaha beribadah dengan baik dan benar..
Adakah rasa ingin mengisi hidup ini dengan hal yang lebih baik lagi dan berusaha menghapus dosa kelam yang melekat bagai noda …

Adakah rasa.. ingin bisa masuk Syurga bersama keluarga tersayang.. Bukankah anak yang sholeh itu dapat menolong orang tua nya di akhirat kelak ?

Maka sudah kah kita berusaha menjalankan kewajibani kita tuk membahagiakan kedua orang tua sesuai tuntunan?

Wahai saudaraku.. Di sini lah titik sadar kita untuk berbenah dan perlu untuk berhijrah.. berusaha menjadi muslim yang lebih baik..

Karena siapa pun kita, berapa pun usia kita, tidak peduli tua atau muda, titik sadar adalah hal yang sangat berharga dan nikmat yang Allah berikan kepada kita untuk lebih dekat pada-Nya..

Allah Ta’ala berfirman,
وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)
(Taslim, 2013)

Ingat lah saudaraku, tujuan kita diciptakan..
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115).
Kita di dunia ini bukan hanya untuk main-main saja.. Kita pun tidak mungkin diciptakan untuk dibiarkan saja tanpa aturan dan larangan.. (Tuasikal, 2016b)

Imam Asy Syafi’i mengatakan,
لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى
“(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.
(Tuasikal, 2016b)

Sungguh telah datang syariat-Nya yang kita lalai akan melaksanakannya..
Terlebih melaksanakannya, tahu saja tidak, atau bahkan menyepelekannya?

Mungkin sekilas tampak sepele untuk kita senyum di hadapan muslim padahal itu sedekah.. (HR at-Tirmidzi no. 1956) (Taslim, 2010)

Mungkin sekilas tampak berat untuk kita shalat malam padahal itu adalah waktu berdoa yang mustajab.. (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758) (Tuasikal, 2016a)

Mungkin sekilas tampak tidak bermasalah untuk melakukan maksiat kecil, tapi efek domino bisa menghantui dunia apalagi akhirat kita..
Mungkin sekilas tampak tidak penting untuk kita berubah sekarang, tapi apakah kita tahu kapan akan dipanggil oleh-Nya?

Kita sadar akan lemahnya kita terhadap ilmu agama.. bingung apakah pilihan dan tindakan ini baik atau lebih baik ditinggalkan..

Karena sejatinya syariat Islam itu membawa kebaikan bagi pengikutnya, sudah sepatutnya kita sebagai muslim terus mempelajarinya, serta tidak bosan diingatkan tentangnya, karena futur/malas bisa menimpa siapa saja..

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)(Hakim, 2013)

Untuk itu, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengangkat kebodohan diri kita dengan cara menghadiri majelis ilmu.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)(Tuasikal, 2016)

Kita sadar selama ini banyak terpengaruh oleh lingkungan yang mungkin belum sadar akan pentingnya hijrah. Terutama dalam pertemanan yang sering kali kita menghabiskan waktu kita bersama mereka.

Sebuah pertemanan yang baik, akan mudah mempengaruhi pandangan, tindakan, dan pilihan temannya. Maka hal kedua kelilingilah diri kita dengan teman yang baik yang sama-sama ingin hijrah dan menghadiri majlis ilmu. Hanya saja, tidak berarti kita membenci teman kita yang belum sadar akan pentingnya hijrah. Kita bisa terus bersama mereka sambil perlahan mengajaknya untuk hijrah bersama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa) (Tuasikal, 2016)

Setelah kita sadar akan pentingnya ilmu agama, teman yang sama-sama ingin hijrah, dan mulai melakukan perubahan pribadi diri, maka kita akan sadar bahwa tidak cukup bersemangat saja, namun harus istiqomah meskipun dirasa sulit dan melelahkan.
Hal ketiga adalah berusaha istiqomah hanya berharap ridha-Nya.

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disampaikan oleh muridnya Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin,
أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَةِ
“Karamah yang paling besar adalah bisa terus istiqamah.” (Tuasikal, 2016)

Diantara usaha istiqomah adalah Ikhlas berhijrah, meninggalkan maksiat, bertekad menjadi lebih baik, mencari lingkungan yang baik, terus berusaha menambah ilmu melalui majlis ilmu, dan berdoa memohon pertolongan-Nya.

Terakhir, ingat lah bahwa hijrah itu bukan ajang pamer atau menebar kebencian, menyudutkan, apalagi mencela orang yang belum berhijrah. Tidak patut bagi kita, apalagi kita yang masih cetek ilmunya memarahi dan menghujat orang. Mungkin saja memang ada tindakan dari mereka yang salah, tapi tidak berarti kita bisa memberikan label jelek/tidak pantas pada orang tersebut. Dan bukan kah setiap insan manusia bisa hijrah dan bertaubat juga? Siapa kita berani me-monopoli hidayah Allah?

Ingatkah engkau masa awal dakwah Rasulullah? Apakah mereka mencela, memberontak, atau bahkan menebar kebencian kepada orang kafir? Tentu tidak. Saat itu banyak orang kafir yang tidak tahu indahnya hidayah dan ajaran agama Islam. Maka yang dilakukan Rasulullah bukanlah membalasnya dengan keburukan meski diberikan perlakuan tidak adil. Rasulullah tetap terus berdakwah dan istiqomah serta berdoa berharap mereka mendapat hidayah dari Allah.
Jika Rasulullah saja tidak berbuat yang buruk pada orang yang belum mendapat hidayah atau berbuat salah, maka siapa kita berani melakukan hal tercela?

Maka berhati-hatilah, mungkin saja informasi yang kita dapat saat ini hanyalah prasangka yang tidak benar.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. Apakah di antara kalian ada yang suka menyantap daging bangkai saudaranya sendiri? Sudah barang tentu kalian jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allaah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujurat: 12).

Sudah kah kita bertanya (tabayun) langsung pada orang tersebut? Sudahkah kita menegurnya secara pribadi? Sungguh akan lebih baik bagi kita untuk meninggalkan perbuatan yang tidak menambah keimanan, pahala, atau kebaikan untuk kita di akhirat. Maka lebih baik untuk kita terus belajar dan istiqomah dalam berusaha menjadi muslim yang baik.

Karena jika kita sadar..

Hijrah itu berarti termasuk apa yang kita dengar, berusaha menghindari informasi fitnah atau ungkapan sia-sia. Menjadi mendengar kajian serta Al-Qur’an.

Hijrah itu berarti termasuk apa yang kita lihat, berusaha menghindari pandangan yang tidak pantas dan terlarang. Menjadi melihat buku, kitab ulama, dan majlis ilmu.

Hijrah itu berarti termasuk apa yang kita ucapkan, berusaha menghindari ujar kebencian, gibah, dan dusta. Menjadi mengucap amarma’ruf nahimunkar, berkata baik atau diam.

Dan hijrah itu termasuk melangkah, langkahkan diri kita kepada hal yang bermanfaat. Meninggalkan hal sia-sia dan tak berguna ke hal yang bermanfaat tuk akhirat kelak dan mengharap ridha-Nya.

Allahua’lam..

Semoga bermanfaat. Saya sangat menerima kritik dan saran yang disampaikan secara pribadi.

Barakallahufiikum..

Ditulis di Pagutan, Kota Mataram, NTB, 24 Muharram 1439 H.
Oleh Azhar Rafiq (Univ. Mataram), Kelompok 1 M. Al Fatih, untuk GET DEP IT FULDFK 2017.

One thought on “Hijrah et cauSadar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

− one = one