Gay – Muslim, is it possible?

Hakikat manusia adalah hidup sebagai makhluk sosial, dimana manusia akan membentuk struktur atau sistem yang mampu melahirkan standar nilai dan norma sebagai pedoman hidup. Norma sosial yang terlahir dalam masyarakat berfungsi untuk menghindarkan pertentangan atau konflik antar individu. Norma sosial juga terkait dengan perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan perilaku yang kurang pantas untuk dilakukan, dimana perilaku baik akan dipuji sedangkan perilaku buruk akan dikenai sanksi.

Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia, banyak terjadi pergeseran norma yang berdampak pada munculnya beberapa penyimpangan. Beberapa pekan ini, umat Islam tengah digemparkan oleh sebuah berita di media terkait pernikahan kontroversial yang baru saja dilangsungkan di West Midlands, United Kingdom pada tanggal 11 Juli 2017. Berita tersebut membahas tentang pernikahan antara Mr. Jahed Choudhury dan Mr. Sean Rogan. Hal yang lebih mencengangkan lagi adalah pernyataan yang dikemukakan oleh kedua pasangan tersebut “We want to show the whole world that you can be gay and Muslim”. Ini adalah suatu pernikahan sesama jenis dan diklaim sebagai pernikahan Muslim Gay yang pertama di Britania Raya, negara dengan kebebasan sipil.

Tentunya pernyataan tersebut merupakan hal yang harus kita sesali jika telah terucap oleh insan yang setiap harinya mengucapkan dua kalimat syahadat, yang sudah mengaku menghambakan diri kepada Allah SWT. Sebagai seorang muslim dan mukmin, tidak akan salah jika hati kalian miris ketika berita ini sampai di telinga kalian. Karena sesungguhnya, you cannot be gay and Muslim.

Gay, yang juga disebut homoseksualitas, masih merupakan hal yang tabu dan sangat sulit diterima oleh masyarakat Indonesia. Budaya timur yang melekat di masyarakat kita menjadikan hal ini sebuah masalah yang besar. Namun berbeda tentunya dengan negara barat, masyarakat disana telah menerima keberadaan kaum homoseksual, bahkan menghalalkan pernikahan sesama jenis.

Cobalah googling dengan keyword Muslim LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender and Queer), atau search dengan hashtag MuslimGay pada kolom pencarian Instagram kalian atau berbagai media sosial lainnya, niscaya kalian akan terkejut dengan realita yang terpampang di sana, berbagai posting dukungan dan ajakan, lengkap dengan warna khas nya yang bercorak pelangi pun bertebaran. Inilah fakta sekaligus fenomena yang sangat menyedihkan, bahwa dukungan Muslim di luar sana terhadap kaum LGBTQ sudah merajalela, bahkan merasuk dalam umat Islam itu sendiri. Mirisnya lagi, sebagian mengatakan bahwa ini adalah salah satu bentuk memerangi Islamophobia di negara Barat.

Pada sudut pandang kuantitatif, masalah sosial dianggap sebagai sebuah perilaku yang dapat mengganggu banyak orang sehingga perilaku tersebut dianggap menyimpang dari perilaku-perilaku kebanyakan masyarakat. Pengalaman negara-negara anggota GCC (Gulf Coorporation Council) atau sering disebut dengan negara yang berada di kawasan Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, dalam memberikan sikapnya terhadap fenomena LGBT merupakan contoh dari analisis masalah sosial dari sudut pandang kuantitatif. Artinya bahwa kesepakatan legitimasi yang dicanangkan oleh negara anggota GCC tentang larangan keras adanya LGBT untuk eksis di negara tersebut telah menjadi kesepakatan bersama bahwa LGBT merupakan masalah sosial yang tak terelakan keberadaannya. LGBTQ adalah penyakit.

LGBTQ adalah suatu penyakit pikiran, juga penyakit perilaku yang bisa menular. Hal yang ditakutkan adalah masyarakat yang belum tahu menahu akan hal ini bisa latah, lalu semakin banyak oknum yang tertarik mengikuti jejak mereka. Di mana pemikiran orang-orang yang belum mempelajari atau memeluk agama Islam akan mengarah kepada persepsi yang salah, yakni Islam menghukumi gay sebagai suatu perbuatan yang diperbolehkan, naudzubillahi min dzalik.

Tidak hanya itu, Abdul Hamid El-Qudah, Seorang Dokter Spesialis Penyakit Kelamin Menular dan AIDS di Asosiasi Kedokteran Islam Dunia (FIMA) menjelaskan dampak-dampak yang ditimbulkan dari LGBT, diantaranya yaitu :

1. Dampak kesehatan

Dampak-dampak kesehatan yang ditimbulkan sekitar 78% pelaku homoseksual yaitu penyakit kelamin menular. Penyakit menular yang nomor satu menyerang kaum LGBTQ ialah Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Seorang pengidap AIDS bahkan lebih mudah terserang penyakit infeksi lainnya seperti kencing nanah anorektal (gonore anorektal), raja singa (sifilis), diare (Cryptosporidium, Shigella, Helicobacter, Entamoeba histolytica), kandidiasis, dan penyakit menular seksual (PMS) lainnya dikarenakan imunitas/kekebalan tubuh mereka yang sangat rendah.

2. Dampak sosial

Penelitian menyatakan “seorang gay mempunyai pasangan antara 20-106 orang per tahunnya. Sedangkan pasangan zina seseorang tidak lebih dari 8 orang seumur hidupnya. 43% dari golongan kaum gay yang berhasil didata dan diteliti menyatakan bahwasanya selama hidupnya mereka melakukan homoseksual dengan lebih dari 500 orang. 28% melakukannya dengan lebih dari 1000 orang. 79% dari mereka mengatakan bahwa pasangan homonya tersebut berasal dari orang yang tidak dikenalinya sama sekali. 70% dari mereka hanya merupakan pasangan kencan satu malam atau beberapa menit saja. Hal itu jelas-jelas melanggar nilai-nilai sosial masyarakat.

3. Dampak Pendidikan

Siswa ataupun siswi yang menganggap dirinya sebagai homo menghadapi permasalahan putus sekolah 5 kali lebih besar daripada siswa normal karena mereka merasakan ketidakamanan, dan 28% dari mereka dipaksa meninggalkan sekolah.

4. Dampak Keamanan

33% pelecehan seksual pada anak-anak di Amerika Serikat

Peringatan Allah akan kaum LGBTQ

Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ) jika dipandang dari sudut pandang Islam merupakan masalah besar yang dampaknya sangat membahayakan bagi umat manusia. Ajaran Islam melarang tegas perilaku menyimpang ini karena tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syu’arâ: 165-166

(165). أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,

(166). وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚبَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.

Dan dalam Al Qur’an pada QS. Al-A’raf: 80-81 yang berarti:

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (amat keji) yang belum pernah terjadi oleh seorang pun dari umat-umat semesta alam. Sesungguhnya kamu menggauli lelaki untuk memenuhi syahwat, bukan isteri. Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan.”

Ingatkah engkau akan kisah kaum Nabi Luth AS? Nabi Luth AS diutus oleh Allah untuk mendakwahi penduduk negeri Sadum, yang kehidupannya sarat dengan maksiat dan kedurhakaan terhadap Allah. Kemaksiatan yang khas dan amat menonjol adalah perbuatan homoseksual, liwath di kalangan lelaki dan sihaq di kalangan wanita. Inilah kaum yang pertama kali melakukan perbuatan yang sangat dihinakan Allah yakni perilaku homoseksual. Namun hati mereka keras, mereka tidak mau menerima ajakan dan nasihat kebaikan dari Nabi Luth AS. Hingga akhirnya Allah timpakan azab yang sangat pedih bagi mereka.

Dalam QS. Al-Hijr (:73-76), Allah Ta’ala mengabarkan tentang azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth AS, yaitu berupa siksaan yang sangat mengerikan. Allah turunkan gempa bumi yang sangat dahsyat disertai angin yang kencang dan hujan batu yang menghancurkan kota Sadum berserta semua penghuninya. Bertebaran mayat-mayat yang dilaknat oleh Allah di kota Sadum, dan hancurlah kota tersebut. Namun, sisa-sisa kehancuran kota tersebut masih ditinggalkan oleh Allah sebagai peringatan bagi kaum pada masa kemudian yang melalui bekas kota Sadum tersebut. Demikianlah kebesaran Allah dan ayat-Nya yang diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi hamba-hamba-Nya yang mendatang. Bukankah Allah sudah jelas-jelas melarang kaum homoseksual dari dahulu kala?

Dan perlu diketahui, para ulama mengatakan bahwa perbuatan sodomi lebih besar dosa dan hukumannya dari perbuatan zina. Jika orang yang belum nikah berzina, maka dia akan dihukum dengan 100 kali cambukan, lalu diasingkan dari negerinya selama setahun penuh. Sedangkan orang yang sudah menikah lalu berzina, maka dia dihukum rajam (dilempari batu) hingga mati. Adapun pelaku liwath, maka hukumannya adalah dibunuh dalam keadaan bagaimana-pun.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Barangsiapa yang mengetahui ada yang melakukan  perbuatan liwath (sodomi) sebagaimana yang dilakukan oleh Kaum Luth, maka bunuhlah kedua pasangan liwath tersebut. ” [HR Tirmidzi]

Lantas, tidakkah kaum LGBTQ takut akan balasan perbuatan maksiat mereka yang sangat pedih baik di dunia maupun akhirat?

Fitrah manusia untuk hidup berpasangan, laki-laki dengan perempuan

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59)

Sesuai fitrahnya, Allah SWT menciptakan manusia dan makhluk hidup berpasang-pasangan agar manusia mau memikirkan nikmat yang telah Allah berikan padanya, yaitu memikirkan akan ketetapan ini. Hikmahnya adalah dengan berpasangan tersebut keberadaan makhluk tetap ada, karena akan tumbuh dan berkembang, dan melanjutkan keturunan.

Dan bagaimana dapat melanjutkan keturunan jika berhubungan dengan sesama jenis? Pun hal ini tergolong sebagai perbuatan maksiat dan dosa yang sangat besar, sesuatu yang menimbulkan kemurkaan Allah karena telah mendustakan ketetapan-Nya, bahwa laki-laki seharusnya berpasangan dengan perempuan.

Nah, sudah tahu kan mengapa “You can’t be Gay and Muslim”? Perbuatannya saja sangat dilaknat Allah, apalagi jika keduanya memaksa dipersatukan dalam pernikahan, padahal sama sekali tidak sesuai syariat Islam dan tentunya melenceng dari hukum Islam, maka sangat jelas jika pernikahan tersebut hukumnya haram, jauh dari kata sah, layaknya perbuatan dosa yang diselimuti oleh topeng kebaikan.

Tugas kita sebagai umat Islam adalah jangan pernah sekalipun tertarik untuk menjadi penerus kaum Nabi Luth AS, perangi fenomena LGBTQ, janganlah jadi seseorang yang mendukung bahkan membanggakan perbuatan maksiat yang lebih keji dari zina ini, melainkan jika kita berjumpa dengan sosok yang seksualitasnya mengarah kepada penyimpangan, alangkah baiknya kita ajak ia bertaubat, kita nasihati dengan kebaikan agar bisa kembali pada jalan-Nya yang benar, dan hal terpenting yang tak boleh ketinggalan yaitu doa, sebagai senjata terjitu seorang mukmin, doakan mereka agar segera menjemput hidayahnya.

Semoga Indonesia menjadi negeri yang gagah dan mampu mempertahankan nilai-nilai moral sehingga dapat membendung berbagai paham-paham yang merusak dari luar. Negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini sudah semestinya mempraktikkan nilai-nilai Islam yang tinggi untuk terciptanya peradaban yang tinggi dan jauh dari pengaruh negatif seperti paham LGBT ini yang terbukti boroknya sebagai akibat dari paham liberalisasi yang tidak bertanggung jawab di negeri asalnya. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menaungi negeri ini dengan rahmat, kasih sayang, cinta serta ridha-Nya (baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur). Amin…..

Writer: Najla Asysyifa, Laila Syifa Rahmi
Editor: Rif’atul Islamiyah
KKIA DEP FULDFK 2017

REFERENSI

Bell, A. and Weinberg, M. 1978. Homosexualities: a Study of Diversity Among Men and Women. New York: Simon & SchusterCorey, L. And Holmes, K.1980.  Sexual Transmissions of Hepatitis A in Homosexual Men. New England J. Med. hal. 435-438. Dacholfany, ihsan dan Khoirurrijal. 2016. Dampak lgbt dan antisipasinya di masyarakat. NIZHAM, Vol. 05, No. 01. Retrieved from http://repository.ummetro.ac.id/files/dosen/f893aa81c705960fc6121c08f7204b50.pdfDearden, Lizzie. 2017. One of first muslim same-se marriages takes places in UK. Retrieved from http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/muslim-same-sex-marriage-uk-first-walsall-west-midlands-islam-homosexual-jahed-choudhury-sean-rogan-a7835036.htmlEl-Qudah, Abdul Hamid.2015. Kaum Luth Masa Kini. Jakarta: Yayasan Islah Bina Umat MUI. 2014. Fatwa MUI no. 57 thn. 2014 tentang lesbian, gay, sodomi dan pencabulanMurray RP, Rosenthal SK, Pfaller MA. 2016. Medical Microbiology 8th edition. Philadelphia: ElsevierNational Gay and Lesbian Task Force. 1984. Anti-Gay/Lesbian Victimization. New YorkNurhayati, Siti. 2016. Dampak Yang Timbul Akibat LGBT Dan Strategi Menghadapinya. Retrieved from http://www.dakwatuna.com/2016/02/13/79000/dampak-yang-timbul-akibat-lgbt-dan-strategi-menghadapinya/#ixzz4oQZe7wsP Rakhmahappin, Y., & Prabowo, A. 2014. Kecemasan Sosial Kaum Homoseksual Gay dan Lesbian.Rueda, E. 1982. The Homosexual Network. Old Greenwich, Conn.: The Devin Adair CompanyTuasikal, Muhammad Abduh. 2009. Perlakuan Islam Terhadap Perilaku Sodomi. Retrieved from https://rumaysho.com/578-perlakuan-islam-terhadap-pelaku-homoseksual-dan-lesbian.htmlTuasikal, Muhammad Abduh. 2015. Hikmah penciptaan yang berpasang-pasangan. Retrieved from https://rumaysho.com/10486-hikmah-penciptaan-yang-berpasang-pasangan.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

thirty two − 27 =