Desaklah Ahlul Kitab ke Jalan yang Paling Sempit

Suatu ketika, kami menjumpai sebuah redaksi hadits yang membuat kami kaget dan ‘syok’ saat membacanya. Berikut kami nukilkan kalimat haditsnya:

 

Dari Abu Hurayrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda “Janganlah kalian mendahului orang-orang Yahudi dan Nasrani memberi salam. Apabila kalian berpapasan dengan salah seorang di antara mereka di jalan, maka desaklah dia ke jalan yang paling sempit.” – HR. Muslim

Dan dalam keterangan disebutkan bahwa nilai sanadnya shahih.

 

Kami sempat berfikir, bagaimana mungkin ajaran yang ‘mengklaim’ dirinya sebagai rahmatan lil alamin memerintahkan penganutnya untuk melakukan diskriminasi terhadap umat manusia lain, lebih-lebih hanya karena iman yang berbeda? Bukankah dalam al Qur’an disampaikan ‘laa ikraha fid diin’?

 

Perihal perkara salam, kami merasa lebih nyaman karena arti dari perkataan salam itu sendiri. Salam adalah doa yang khusus. Ia mengandung permohonan keselamatan dan keberkahan dari Allah bagi seseorang yang ditujukan salam kepadanya. Dalam konteks ini, salam menjadi kurang relevan atau bahkan tidak relevan untuk disampaikan pada umat yang lain. Hal ini disebabkan masing-masing memiliki iman keselamatan yang berbeda, lebih jauh lagi perihal siapa yang diimani sebagai pemberi keselamatan. Dengan tidak mendahului salam dengan redaksional yang khusus tersebut, justru hal ini dapat dimaknai sebagai bentuk menghargai keyakinan umat lain. Yang mana konteks ini menjadi berbeda ketika redaksi salamnya memakai redaksi umum sepeti ‘selamat pagi’, ‘salam sejahtera’, dsb.

 

Namun, bagaimana dengan amanat yang kedua: “desaklah dia ke jalan yang paling sempit”. Membaca redaksional seperti itu bukankah ‘tidak salah’ ketika yang terkesan adalah hal ini jelas-jelas sebuah bentuk deskriminasi?

 

Dari hal ini kemudian kami menemukan penjelasan jernih dan jelas yang disampaikan oleh al Habib Ali al Jifri dalam satu kesempatan di serial al Insaniyah qabla at Tadayyun episode ke-19, yang dapat teman-teman simak di insanyah.tv . Beginilah sari dari penjelasan beliau :

 

Dalam memahami suatu hadits (dan  juga teks-teks hukum agama lainnya), bahkan yang bersanad shahih pun, kita tidak dibernarkan untuk mengeluarkannya dari konteks saat pernyataan itu disampaikan. Meskipun, ada juga hadits yang ‘context independent’. Hadits yang sedang kita bahas ini adalah contoh yang bukan ‘context independent’. Ada konteks yang mutlak untuk diketahui sebelum kita mengambil sebuah kesimpulan dari redaksi yang ada. Beginilah konteksnya,

 

Hadits ini disampaikan oleh Rasulullah dalam kapasitas beliau sebagai seorang kepala pemerintahan di Madinah. Sebelumnya, telah kita ketahui bahwa ketika pertama kali beliau tiba, Rasulullah segera membuat sebuah kontrak bangsa dalam mengawali ‘negara’ Madinah. Kontrak yang kemudian kita kenal sebagai piagam madinah, yang di dalamnya diatur bagaimana muamalah dan interkasi antar penduduk Madinah yang saat itu multikultural.

 

Akan tetapi fakta sejarah yang terjadi adalah sangat disayangkan. Sebagian dari masyarakat Madinah yang terikat oleh perjanjian melakukan pengkhianatan. Kali ini pengkhianatan dilakukan oleh Bani Quraizha, salah satu suku Yahudi yang ada di Madinah. Mereka melakukan konspirasi dan bersiasat dengan orang-orang pagan Quraisy. Pada kondisi ini, menjadi hal yang wajar bagi seorang pemimpin menangani konspirasasi yang mereka buat sekaligus menujukkan eksistensi pemerintahan yang berdaulat. Tanpa demikian, ada keselamatan orang banyak, yakni masyarakat Madinah, yang dipertaruhkan. Sehingga kemudian dilakukanlah ekspedisi mendatangi perkampungan Bani Quraizhah itu. Dan adalah wajar bagi pasukan ekspedisi untuk menunjukkan keberanian dengan cara menguasai jalan dan tidak memulai salam saat menemui mereka. Apalagi dalam salam ada jaminan keselamatan, hal yang sangat tidak relevan denagn kondisi ini.

 

Begitulah hadits tersebut seyogyanya difahami. Ada kondisi dan indikasi yang sangat spesifik sehingga hadits tersebut tepat untuk dipraktikkan. Dan sudah sepatutnya begitu pula cara kita memahami teks-teks agama yang lain. Bayangkan jika kita hanya memahami dari redaksional teks tanpa tahu menahu asbabul wurudnya, lebih-lebih dengan kemampuan kita yang seadanya dan sangat terbatas, dengan congkak kita menyimpulkan sendiri hukum-hukum tertentu melalui kitab-kitab terjemah tanpa mau bertanya pada para ulama dan ahlu dzikir. Sungguh kita berlindung dari Allah dari yang demikian.

 

Maka dari pengalaman ini, kami mengambil sebuah ibrah akan pentingnya belajar dan memahami Islam dari sumber-sumber yang terpercaya dan guru-guru yang amanah. Sebab hanya dari merekalah kita dapat memperoleh pemahaman beragama yang diupayakan dan dijaga semaksimal mungkin untuk mendekati pemahaman dan cara keberagamaan Rasulullah dan umat Islam mula-mula. Dari sinilah, tampak sekali bahwa mempelajari agama dari sumber yang bersanad adalah penting sekali untuk kita perhatikan bersama. Patutlah kemudian Imam Syafii pernah menyampaikan sebuah kutipan fenomenal, “Tiada ilmu tanpa sanad.” Wallahu a’lam.

Artikel ini disarikan dari penjelasan al Habib Ali al Jifri dalam episode ke-19 serial al Insaniyah qabla at Tadayyun (Kemanusiaan sebelum Keberagamaan), diakses di https://tv/

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4

Tinggalkan Balasan