[Cerpen] Hijrah Cinta Part I

cerpen kemus part 1

Pagi ini kacau sekali.
Semalaman begadang mengerjakan tugas tutorial ternyata membuatku tak menghiraukan teriakan alarm shubuh. Sepertinya jam alarm yang kubeli saat jaman ospek tahun lalu akan pensiun dini. Nyata-nyatanya kehadirannya selama setahun ini tak ada dampaknya bagiku, hiks. Benar sekali jika ada yang mengatakan, gaya atmosfer kasur lebih besar kekuatannya daripada suara apapun.
Tadi cerita apa? Oh iya kulanjutkan cerita kekacauan pagi ini.
Masalah baru muncul saat kubuka layar handphone dan kutemukan diriku tiba-tiba menjadi artis. Banyak chat masuk dan menimbulkan notifikasi yang bising sekali. Oh tidak, aku hampir meloncat saat mendapati tulisan, Jarkom! Diharapkan kepada anggota tutor 17 untuk segera merapat. Dokter sudah menuju ruangan…….sebelum selesai kubaca pesan singkat itu, aku melaju ke kampus dengan kecepatan tinggi.
Aku datang tepat waktu. Sangat tepat waktu bahkan jarak antara kedatanganku dan dosen hanya berjarak satu detik saja. Syukurlah,fiuh.Bahan presentasi sudah kupersiapkan semalaman,aku membuka tas sambil mencari-cari laptop. Aku baru saja ingat bahwa aku tak membawa laptop karena tadi terburu-buru. Rasanya mau kabur dan menangis di pojokan kelas,sungguh.
Namun tiba-tiba kudengar suara seseorang, ‘’Maaf dokter, sepertinya Ratna belum bisa maju ke depan, saya bersedia menggantikannya untuk presentasi’’ .Mimpi apa aku semalam, batinku.. Ku tak percaya dengan penglihatanku sendiri. Kenapa Galih begitu baik padaku? Hei, aku tak bermimpi kan?
Ku memberanikan diri untuk mendekatinya setelah tutorial berakhir.
“ Galih, terimakasih sudah menolongku tadi. Apa kamu mau kutraktir makan di kantin sebagai bentuk terimakasih ku?” tawarku ramah.
“Oh oke, dengan senang hati, Ratna. Ayo kita ke kantin, sepertinya peristaltik ususku juga meningkat hehe”
Sesampai di kantin, kami memesan dua mangkok mie ayam dan es teh. Haha, ternyata selera makan kita sama, ku tersenyum kecil menyadari fakta itu.
“Hei, kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Ratna? Kamu ga lagi halusinasi kan, Rat? “
“Haha tidak Galih, aku cuma ga nyangka ternyata selera makan kita sama. Kukira tadi kamu mau pesen menu lain. Oh iya, mau kasih info aja,nih. Mie ayam di dekat kantor pos enak banget loh Lih. Sayur sawinya seger. Tekstur mienya lembut. Kamu harus coba.” kataku lancar macam sales handal.
“Kalau gitu ayo makan mie disana malam ini denganku Ratna. Kurasa aku harus lebih sering bersamamu agar aku lebih sering merasakan bahagia. Kamu mau kan?”
Oh tidak, aku kalah telak. Aku rasa aku sudah jatuh hati padanya sejak pandangan pertama.
—————————————————————————————————————————-
“Sinta, aku mau kasih tau kabar super duper penting, kamu harus tahu” kataku dengan senyum merekah.
“Kenapa Rat? Kamu mau kasih tahu aku kalau kamu mau nikah? Iyaa? Eh iya kah Raaat?” kata Sinta sambil menggoyang-goyangkan pundakku dengan mata membulat.
“Ah, apaan sih Sin, kamu itu salah besar. Ada lagi sesuatu yang lebih penting dari itu.” kataku dengan nada misterius.
“TUH KAN BENERAAAN, kamu ga bisa bohong sama aku Rat, kamu beneran mau nikah? Ya Allah terimakasih, ternyata ada pria yang mau sama sahabatku ini” kali ini Sinta bahkan hampir sujud syukur kalau saja aku tidak mencegahnya.
“Sinta, dengarkan aku baik -baik, aku mau kasih tahu ke kamu kalau aku……pacaran sama Galih!” teriakku histeris tepat di depan wajah Sinta.
Sedetik kemudian, Sinta terdiam tak berkomentar. Agaknya dia meragukan ucapanku barusan.
“Kuulangi lagi ya Sin, aku pacaran sama Galih. Iya, dia yang jadi asdos, dia yang wajahnya melelehkan semua wanita, Sin. Aku gak bohong, bahkan kita udah pernah jalan sekali ke pantai.Dia laki-laki paling romantis yang pernah aku temui. Kamu percaya aku kan Sin?” ucapku dengan mata berbinar.
Tiba-tiba secara cepat Sinta memelukku, lalu memandangku tepat di bola mataku
“Iya Rat, aku percaya dengan ceritamu.Selama kita bersahabat, aku belum pernah melihat kamu sebahagia ini . Kamu bahagia bersama Galih?” dia balik bertanya padaku.
“Jenis pertanyaan macam apa itu, Sinta? Ya jelas aku bahagia! Wanita mana yang tidak mengimpikan laki-laki seperti dia, Sin?” kataku heran.
“Jika kamu sekarang merasakan bahagia, maka itulah kebahagiaan yang semu, Ratna sayang. Kenapa kukatakan semu? Karena setiap keburukan itu indah saat dijalani , tapi dosanya akan tetap kekal. Itulah kebahagiaan yang semu.” kata Sinta lugas.
“Oh jadi kamu mau melarangku untuk bisa bahagia dengan Galih, Sin? Kamu iri sama aku,ya? Kamu mau bilang kalau yang aku lakukan ini buruk?” jawabku tak terima.
“Bukan Rat, bagaimana aku bisa tak senang melihat sahabatku bahagia? Aku sayang padamu, Ratna. Mencintai dalam agama kita ada caranya sendiri, dan saat kita menjalaninya, maka kebahagiaan itu akan kekal dan lebih diridhoi. Bukankah keberkahan dan keridhoan Allah adalah tujuan hidup kita?” kata Sinta lembut.
“Kamu bisa begitu ke aku Sin, tapi bagaimana dengan teman-teman yang sudah berjilbab dan dikenal aktivis dakwah namun tetap berpacaran? Bukankah mereka sudah lebih paham daripada aku yang bahkan belum berjilbab? “ jawabku tak terima. Enak sekali dia melarangku untuk berpacaran.
“Itulah sebabnya aku tak ingin hal itu terjadi padamu, Ratna. Jangan lihat contoh itu, mungkin saja mereka belum benar-benar paham hakikat cinta. Baginda Rasul sudah berpesan indah, bahwa tak ada solusi paling mulia bagi sepasang manusia yang saling mencintai selain dengan ikatan pernikahan.” Sinta menatap mataku lekat.
Aku keluar dari kamar Sinta dengan muka masam. Dia berhasil mencampur aduk suasana hatiku. Sahabatku satu itu memang cerewet, dia tak akan sungkan untuk mengingatkanku jika ada sesuatu yang kurang pas di matanya. Termasuk soal pacaran. Apa katanya tadi? Menikah? Solusi macam apa itu? Sungguh tidak applicable buatku dan Galih yang bahkan masih kuliah. Aku tak habis pikir.
————————————————————————————————————————
“Hai, Raaaaat! Masih ngambek sama aku nih ceritanya?” tiba-tiba sebuah lengan melingkari leherku, gampang banget ditebak, Sinta!
“Iya” jawabku jutek sambil makan kentang goreng kantin.
“Ntar kalau ngambek terus, cantiknya luntur loh. Senyum yuk, biar inner beauty nya terpancar” goda Sinta.
“Iya iya, mana aku tahan lama-lama marah sama kamu. Tapi kamu kemarin kasih petuah aneh banget Sin,asli! Menikah katamu? Hahahaha” kataku sambil mencomot kentang part 2.
“Kemarin aku belum selesai cerita, kamu sih udah masam duluan wajahnya. Jadi , di daIam Islam sudah mengatur semuanyaaaaa,Ratna. Kalau belum sanggup menikah, maka berpuasalah,karena itu akan menjadi tameng bagi hawa nafsu” papar Sinta dengan jelas.
Suasana hening. Aku meresapi kata demi kata Sinta.
“Itulah indahnya agama kita, Ratna. Allah ingin kita berpuasa, menundukkan pandangan, menutup aurot, menghindari untuk berdua-duaan dengan lawan jenis, itu semua kembali pada kebaikan kita juga. Allah ingin kita menjaga kehormatan perasaan sampai waktunya tiba,yakni sampai kedua insan yang saling mencinta disatukan dalam ikatan pernikahan. Saat itulah pacaran akan terasa lebih menyenangkan dan tentunya, menuai pahala” ujar Sinta sambil tersenyum manis ke arahku.
Aku speechless.
—————————————————————————————————————————–
Malam ini spesial sekali, aku sudah lama menantikannya. Kesibukan masing-masing membuat kami jarang menghabiskan waktu berdua. Yah, inilah waktu yang tepat untukku berbicara padanya. Tekadku sudah bulat.
“Sayang, kamu dari tadi kok melamun terus sih?Ada yang kamu pikirkan ya?” tanya Galih heran.
“Oh enggak, aku gak memikirkan apapun kok. Aku cuma mau mengatakan sesuatu sama kamu” kataku dengan pelan.
“Kamu sakit, Ratna? Gak biasanya kamu jadi diem gitu. Kamu mau bilang apa?” Galih mencoba mengusap dahiku , tapi kutepis halus.
“Galih, kapan kamu mau menikahiku? “ tanyaku tegas.
Sesaat Galih kehilangan kata-kata mendengarkan ucapan itu keluar dari mulutku.
“Apa, menikah Rat? Kita ini masih mahasiswa, kenapa kita tidak menjalaninya dulu pelan-pelan baru memikirkan hal itu? Come on, kamu ga biasanya seperti ini Ratna” jawabnya cepat.
“Oke, kalau begitu, kita putus aja. Aku tak mau menjalani hubungan yang tidak jelas. Kumohon kamu hargai keputusanku ini, Galih. Selamat tinggal” ku bergegas berdiri.
“Tidak Ratna, kamu tidak bisa memutuskan sesuatu dengan sepihak seperti ini”, Galih meraih lenganku kasar.
“Lepaskan tanganku, Galih!” aku berlari meninggalkannya dan tidak lagi menoleh ke belakang.
Oh Allah, kuatkan aku!

3 thoughts on “[Cerpen] Hijrah Cinta Part I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

98 − = eighty eight