Berbakti kepada Orang Tua Setelah Mereka Wafat [1]

Berbakti kepada orang tua adalah amalan yang tidak berbatas waktu dan tempat. Lalu, bagaimanakah cara berbakti pada orang tua ketika mereka telah meninggal dunia atau tiada? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Rasulullah pada 1400 abad yang lalu.

 

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata, “Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud no. 5142 dan Ibnu Majah no. 3664. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

 

Pada hadits ini, kita dapat menggaris bawahi beberapa hal yang dapat kita laukukan sebagai wujud bakti kita kepada orang tua yang telah wafat, diantaranya adalah:

  1. Mendo’akan kedua orang tua dan meminta ampun untuk kedua orang tua, diantaranya melalui doa yang Allah ajarkan dalam al Quran: “Wahai, Rabb-ku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil” (al Isra: 24)
  2. Memenuhi janji dan atau tanggungan mereka
  3. Menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya. Hal ini juga diisyaratkan lewat sabda Rasulullah yang lain, “Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.” (HR. Muslim no. 2552)

 

Selain ketiga hal tersebut, pada hadits lain juga disebutkan bahwa bersedekah atas nama orang tua yang telah tiada adalah salah satu amalan yang dapat bernilai bakti kepada orang tua.

 

“Sesungguhnya ibu dari Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia. Sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sisinya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756)

 

Namun Saudaraku, selama beliau masih hidup, itulah kesempatan kita terbaik untuk berbakti pada orang tua. Karena berbakti pada keduanya adalah jalan termudah untuk masuk surga. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk mengamalkannya.

 

Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Langkah Menuju Persatuan

Di antara keistimewaan ajaran Islam adalah seruan kepada umat agar mempertahankan persatuan di antara umat Islam dan menghindari perpecahan. Allah ﷻ sudah mengingatkan pentingnya bersatu dalam firman-Nya;

“Dan berpegang eratlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah”

Maksud dari kata tali Allah” adalah Al-Qur’an. Terdapat beberapa hadits yg menerangkan tentang berpegang erat dengan tali Allah antara lain Abu Sa’id Al-Khudri berkata bahwa  Rasulullah ﷺ bersabda “Kitabullah adalah tali Allah yang memanjang dari langit hingga bumi.”

Allah mewajibkan kita agar berpegang teguh pada Kitab-Nya serta sunnah Rasul-Nya dan menjadikan keduanya sebagai rujukan dalam hidup ini terutama ketika terjadi perselisihan di antara kita. Allah juga memerintahkan kita untuk selalu berpedoman kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai keyakinan yang diamalkan. Inilah jalan menuju persatuan umat Islam untuk kebaikan dunia akhirat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam hal ini berkata  ‘Para pengikut sunnah Rasul adalah kelompok manusia terbesar yang bersatu dan saling mengasihi. Sebaliknya golongan mutakalim dan filsafat adalah kelompok manusia terbesar dalam pertikaian dan perselisihan.’” Beliau tambahkan pula, ‘Sesungguhnya dalam golongan muktazilah banyak terjadi pertikaian dan perselisihan. Satu sama lain saling mengkafirkan bahkan ada seorang murid yang menganggap kafir gurunya karena berselisih paham. Hal ini tak mungkin dan tak akan pernah terjadi pada umat yang mengikuti perilaku Rasulullah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Jika terjadi perselisihan pada umat Islam dan mengakibatkan pertikaian bahkan permusuhan maka ketahuilah bahwa hawa nafsu  telah berperan di sini dan bukan lagi kebenaran. Para imam mujtahid Islam telah memberi contoh pada kita walaupun mereka berbeda pendapat dan berselisih paham dalam masalah kaifiah pelaksanaan ibadah tetapi mereka tetap bersatu dan saling kasih dalam Ukhuwah Islamiyah. Ditambahkan pula oleh beliau, ‘Perpecahan yang terjadi pada umat Islam disebabkan banyaknya pengikut umat ini yang melakukan bid’ah dalam agama mereka. Sementara persatuan yang terjadi di tengah umat ini karena mereka berpegang teguh pada ajaran Islam murni dan otentik yg disampaikan oleh para Salafus Shalih dari umat ini. Untuk itu para pengikut sunnah Rasulullah  pasti bersatu dan ahli bid’ah pasti dalam perpecahan.”

Sesungguhnya, Islam mengajarkan segala kebaikan yang dibutuhkan umat manusia. Sedangkan persatuan umat Islam merupakan salah satu prinsip terbesar agama ini. Maka sudah pasti terdapat cara mengobati penyakit perpecahan umat dan mengembalikan dalam keadaan bersatu

Berikut di antara langkah menuju persatuan umat Islam yang didambakan:

Pertama. Memutuskan Perkara Dengan Al Kitab dan As Sunnah.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa:59).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata,“Allah memerintahkan untuk mengembalikan segala perkara yang diperselisihkan manusia -yang berupa ushuluddin dan furu kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu kepada kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Karena sesungguhnya, di dalam keduanya terdapat penyelesaian untuk seluruh perkara yang diperselisihkan. Mungkin dengan jelas di dalam keduanya, atau dengan keumumannya, atau isyarat, atau peringatan, atau pemahaman, atau keumuman makna, yang serupa dengannya dapat dikiaskan padanya. Karena sesungguhnya kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya merupakan fondasi bangunan agama. Keimanan tidak akan lurus, kecuali dengan keduanya. Maka, mengembalikan (perkara yang diperselisihkan) kepada keduanya merupakan syarat keimanan. (Taisir Karimir Rahman).

Barangsiapa bersungguh-sungguh mengikuti petunjuk Allah, niscaya akan terhindar dari kesesatan. Allah berfirman,

 “Barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS Thaha:123).

Kedua. Menetapi jalan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan meninggalkan seluruh bid’ah ; mengikuti sunnah Rasullah, mengikuti sunnah dan pemahaman sahabat terhadap agama ini baik dalam perkara aqidah, ibadah, akhlaq, politik, ekonomi, dan seluruh sisi kehidupan beragama lainnya. Kemudian, menolak seluruh bid’ah. Karena bid’ah, sesungguhnya merupakan salah satu penyebab perpecahan terbesar.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kamu untuk bertakwa kepada Allah; mendengar dan taat (kepada penguasa kaum muslimin), walaupun seorang budak Habsyi. Karena sesungguhnya, barangsiapa hidup setelahku, dia akan melihat perselishan yang banyak. Maka wajib bagi  kamu berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan lurus. Peganglah dan gigitlah dengan gigi geraham. Jauhilah semua perkara baru (dalam agama). Karena semua perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud no: 4607; Tirmidzi 2676; Ad Darimi; Ahmad; dan lainnya dari Al Irbadh bin Sariyah).

 

Ketiga. Ikhlas dan memurnikan mutaba’ah.

Ketika Nabi Yusuf mengikhlaskan untuk Rabbnya, Allah memalingkan darinya pendorong-pendorong keburukan dan kekejian.

Allah Ta’ala berfirman,

 

“Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang dijadikan ikhlas.” (QS Yusuf : 24).

Maka ikhlas merupakan jalan kebebasan, Islam sebagai kendaraan keselamatan, dan iman adalah penutup keamanan. [Al Ilmu Fadhluhu Wa Syarafuhu, tansiq: Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi.]

Keempat. Menuntut ilmu syar’i dan mendalami agama dari ahlinya.

Untuk mengikuti al jama’ah, mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, tidaklah dapat dijalankan kecuali dengan bimbingan para ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Karena para ulama itu sebagai al jama’ah. Maka seseorang yang ingin selalu menetapi kebenaran dan persatuan, harus selalu mendalami agama dengan bimbingan para ulama Ahlus Sunnah yang lurus aqidahnya, terpercaya amanahnya dan agamanya.

Bergaul dengan ahli ilmu, meneladani akhlak, mengambil ilmu mereka dengan manhaj yang lurus merupakan langkah untuk menjauhi perpecahan dan menjaga persatuan. Dan para ulama itu akan selalu ada sepanjang zaman, sampai dikehendaki oleh Allah. Mereka itu adalah thaifah al manshurah (kelompok yang ditolong oleh Allah).

 

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS. An Nahl:43)

 

Sumber : https://muslim.or.id/6884-bersatu-dan-jangan-berpecah-belah.html (diakses pada Sabtu, 21 Juli 2018 pukul 22.27)

 

 

 

 

Pentingnya Bersatu

Bersatu sangat penting karena umat Islam harus menyadari bahwa dalam Islam memelihara ukhuwah islamiyah adalah kewajiban setiap Muslim. Karena itu, lalai atau bahkan merusak jalinan ukhuwah islamiyah adalah dilarang dan bahkan dianggap mendapatkan dosa, sebagaimana meninggalkan bentuk kewajiban-kewajiban yang lain.

Bersatu dalam ikatan rasa persaudaraan di antara orang-orang beriman digambarkan oleh Rasulullah ﷺ , “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mengasihi, saling menyayangi, saling menyantuni adalah bagai satu tubuh. Bila salah satu bagian tubuh menderita sakit, maka terasa sakitnya di seluruh tubuh.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selanjutnya, tentang larangan merusak ukhuwah dan persatuan di antara sesama Muslim dinyatakan oleh Rasulullah, “Mencela seorang Muslim adalah perbuatan fasik, dan membunuhnya adalah perbuatan kufur.” (HR Bukhari dan Muslim).

Allah ta’ala telah memperingatkan tentang pentingnya bersatu dalam Al-Quran:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara.” (QS Ali Imran:103)

 

Ibnu Jarir Ath Thabari berkata tentang tafsir ayat diatas bahwa:

Allah Ta’ala menghendaki dengan ayat ini, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada agama Allah yang telah Dia perintahkan, dan (berpeganglah kamu semuanya) kepada janji-Nya yang Dia (Allah) telah mengadakan perjanjian atas  kamu di dalam kitabNya,” yang berupa persatuan dan kesepakatan di atas kalimat yang haq dan berserah diri terhadap perintah Allah. [Jami’ul Bayan 4/30.]

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Dia (Allah) memerintahkan mereka (umat Islam) untuk berjama’ah dan melarang perpecahan. Dan telah datang banyak hadits, yang (berisi) larangan perpecahan dan perintah persatuan. Mereka dijamin terjaga dari kesalahan manakala mereka bersepakat, sebagaimana tersebut banyak hadits tentang hal itu juga. Dikhawatirkan terjadi perpecahan dan perselisihan atas mereka. Namun hal itu telah terjadi pada umat ini, sehingga mereka berpecah menjadi 73 firqah. Diantaranya  terdapat satu firqah najiyah (yang selamat) menuju surga dan selamat dari siksa neraka. Mereka ialah orang-orang yang berada di atas apa-apa yang ada pada diri Nabi  dan para sahabat beliau.” [Tafsir Al Qur’anil ‘Azhim, surat Ali Imran:103]

Al Qurthubi berkata tentang tafsir ayat diatas bahwa “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan.”” [Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159.]

Al Qurthubi juga mengatakan, “”Maka Allah Ta’ala mewajibkan kita berpegang kepada kitabNya dan Sunnah NabiNya, serta -ketika berselisih- kembali kepada keduanya. Dan memerintahkan kita bersatu di atas landasan Al Kitab dan As Sunnah, baik dalam keyakinan dan perbuatan. Hal itu merupakan sebab persatuan kalimat dan tersusunnya perpecahan (menjadi persatuan), yang dengannya mashlahat-mashlahat dunia dan agama menjadi sempurna, dan selamat dari perselisihan. Dan Allah memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan yang telah terjadi pada kedua ahli kitab.” (Al-Jami Li Ahkamil Qur’an 4/164)

Dari penjelasan para ulama di atas, dapat diambil beberapa perkara penting berkaitan dengan masalah persatuan:

Jika umat ini benar-benar mengikuti agamanya, maka mereka akan hidup bersaudara sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan sabda beliau”

“Muslim adalah saudara muslim yang lain, dia tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (dalam kesusahan), dan merendahkannya. Takwa itu di sini, -beliau menunjuk dadanya tiga kali- cukuplah keburukan bagi seseorang, jika dia merendahkan saudaranya seorang muslim. Setiap orang muslim terhadap muslim yang lain haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya”. (HR Muslim no. 2564; dan lainnya dari Abu Hurairah).

Juga dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al Asy’ari, dari Nabi, beliau bersabda,

Seorang mukmin terhadap orang mukmin yang lain seperti satu bangunan, sebagian mereka menguatkan sebagian yang lain, dan beliau menjalin antara jari-jarinya.”

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan mengembalikan kemuliaan mereka serta mempererat tali persaudaraan diantara kaum muslimin. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa dan Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Alhamdulillah Rabbil alamiin.

Sumber: https://muslim.or.id/6884-bersatu-dan-jangan-berpecah-belah.html (diakses pada 22 Juli 2018 pukul 22.14 wita)

Penyatu Keputusan

Suatu waktu di hari yang cerah, tepatnya pukul 14.00 diadakan rapat penentuan tema Dies Natalis di aula kampus. Aula ini memang ber-AC, tapi rasanya suasana disini tidak kalah dengan terik matahari diluar. Panas.

Mengapa panas? Bagaimana tidak, semua panitia telah terbagi menjadi beberapa kubu. Rapat yang seharusnya menyatukan pemikiran malah menjadi ajang mementingkan ego dan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Ada yang mau bertemakan budaya Indonesia, ada yang mau temanya tentang profesi, sampai ada yang menyampaikan tema super hero karena katanya lagi tren banget saat ini.

Semua menjadi semakin semrawut karena sepertinya sang ketua pelaksana pun juga tidak mau kalah dengan idenya. Sedangkan aku? Ah aku mau rapat ini cepat berakhir. Cukup lama rapat ini berlangsung hingga tidak terasa adzan Ashar berkumandang. Kata mufakat belum juga didapat.

Semua yang ada di Aula terdiam.

Ketua Pelaksana yang juga menjadi pemimpin rapat hari ini, mengatakan rapat ditunda sampai selesai shalat Ashar. Aku hanya bisa berucap syukur, Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keluar dari aula ‘pengap’ ini. Kami pun berjalan menuju masjid kampus yang tidak terlalu jauh dari gedung aula tempat kami rapat.

Seusai sholat, ada sedikit ceramah dari ustadz yang menjadi Imam sholat Ashar tadi. Entah kenapa, isinya agak sedikit menyinggung.  Iya, menyinggung.  Khususnya para peserta rapat tadi. Ustadz tersebut memaparkan isi salah satu surah Ali Imran ayat 103 yang artinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. QS. Ali Imran: 103

Aku termenung. Rasanya ayat Al-Qur’an itu salah satu teguran Allah untukku, kuharap teman-temanku yang lain juga menyadarinya, menyadari bahwa Allah sedang menyinggung kami. Sepulang dari masjid, rapat pun dilanjutkan. Namun, suasananya terasa berbeda. Tidak terasa lagi aura ‘panas’ seperti sebelumnya. Kami-para panitia lebih mau mendengarkan pendapat yang lain, tidak melulu menyela secara sembrono ketika yang lain tengah bersuara.

Pemimpin rapat pun sudah mengerti bagaimana cara mendapatkan keputusan terbaik. Dia tidak lagi ikut memaksakan kehendaknya dan dia mengarahkan rapat dengan sangat baik. Musyawarah lebih dikedepankan dengan pertimbangan yang matang, bukan hanya menguntungkan satu pihak melainkan dengan menyelaraskan kebaikan untuk khalayak. Akhirnya didapatkanlah keputusan tema Dies Natalis yang disetujui oleh semua peserta rapat.

Pada hakikatnya ketika sebuah perkumpulan hendak memutuskan suatu perkara, maka dengan musyawarahlah jalan terbaiknya. Musyawarah ada untuk menyatukan, bukan untuk mencerai berai.

Dan semua keputusan, kepada Allah-lah harus dikembalikan.

Begitupula dengan umat Islam, jika umat saling bercerai berai maka runtuhlah rasa persatuan dan kesatuan yang merupakan ciri kemunduran keimanan pada seseorang. Bandingkan jika umat Islam bersatu, mampu meredam ego pribadi, dan mementingkan kepentingan umat Islam, maka bukan tidak mungkin jika Islam kembali memasuki era kejayaannya, menghapuskan kemungkaran dari muka bumi. Bersatunya umat Islam merupakan cita-cita seluruh muslim yang dapat dimulai dari hal kecil seperti dalam kisah di atas. Membiasakan diri mengedepankan kebaikan demi khalayak meskipun meredam kehendak pribadi, tidak salah bukan?

Islam itu Indah!

            Islam itu Indah….

Ya benar sekali, Islam itu adalah agama yang sangat indah, menjunjung keadilan, kedamaian, dan ketenteraman. Islam itu adalah agama Rahmatan Lil’alamin yang berarti rahmat seluruh alam, juga merupakan agama yang diakui oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai agama yang paling sempurna sampai hari kiamat kelak.

Sudah tau sendiri kan kalau Islam itu adalah agama yang damai, tidak saling menyakiti antar sesama umat muslim maupun umat beragama lain. Penyebaran agamanya pun tidak melalui kekerasan ataupun paksaan. Dalam perjalanannya, Nabi Muhammad ﷺ menyebarkan agama Islam selama berpuluh-puluh tahun, ada yang secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan pada masyarakat luas. Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah sekalipun memaksakan orang-orang yang telah ia sampaikan ajaran tentang Islam untuk bersegera mungkin masuk Islam. Namun, beliau berserah diri pada Allah ﷻ agar membukakan pintu hati mereka agar senantiasa diberikan hidayah dalam memilih agama yang benar.

Pada zaman sekarang, dimana kejahatan sudah merajalela, miris ketika kita melihat saudara kita sesama muslim harus berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan keimanan yang ia yakini sepenuh hati. Mereka bersatu atas nama Allah ﷻ, membela diri mereka dan terus mempertahankan apa yang mereka anut. Persatuan umat sangat dibutuhkan, saling bahu-membahu dan menguatkan keyakinan karena tanpa itu mungkin saja Islam telah habis terkikis zaman.

Lalu bagaimana dengan kita muslim di Indonesia-negara dengan mayoritas muslim terbanyak di dunia? Tidakkah seharusnya kita malu pada muslim di negara yang tengah berperang? Mereka bersatu melawan kedzaliman musuh-musuh Islam yang siap kapan saja menghancurkan Islam. Kita bagaimana? Bukankah seharusnya kita bersatu agar menegakkan Islam kembali menuju puncak kejayaannya seperti berabad-abad lalu?

Sebagai muslim yang mengaku muslim zaman now, seharusnya kita bisa lebih cerdas dalam menanggapi segala tipu muslihat yang disebarkan oleh musuh Islam, berikut beberapa langkahnya:

Pertama, seorang muslim yang cerdas harus bisa menyaring berita-berita yang mengatasnamakan Islam. Pilah dan pilih mana berita yang benar, selain itu kita juga harus mengecek kebenaran berita itu pada situs-situs yang terpercaya sebelum kita menyebarluaskannya. Ingat, kita sekarang berada di zaman milenial dimana informasi sekecil apapun dapat dengan mudah menyebar hanya dengan menekan layar handphone. Jangan sampai kita menjadi pelaku penyebar HOAKS.

Kedua, jangan terhasut dengan omongan-omongan orang untuk mencelakakan umat agama lain. Ingat Islam itu damai, tidak ada satu pun ayat Allah yang menyatakan bahwa muslim itu boleh mencelakakan orang-orang yang tidak bersalah. Pada zaman Rasulullah saja, beliau tidak pernah membalas perilaku seorang pengemis non-muslim yang setiap harinya mencaci maki beliau bahkan sampai melemparkan kotoran pada beliau. Rasulullah malah menjenguk pengemis itu ketika sedang sakit, tidak ada perasaan dendam sedikitpun padanya.

Ketiga, mempercayai bahwa ajaran Islam adalah satu-satunya. Tidak ada ajaran lain yang menyamai Islam. Tolak dengan tegas jika ada orang yang mengajarkan ajaran Islam tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena semua pengajaran tentang berkehidupan tertuang dalam dua sumber tersebut, seperti yang tertuang dalam QS. An-Nisa : 59

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Keempat, menuntut ilmu syar’i dan mendalami agama dari ahlinya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya yang dapat dijalankan dengan bimbingan para ulama yang lurus aqidahnya, terpercaya amanahnya, dan agamanya. Bergaul dengan ahli ilmu, meneladani akhlak, mengambil ilmu mereka dengan manhaj yang lurus merupakan langkah untuk menjaga persatuan umat dan menjauhi perpecahan.1

Dari sekarang kita harus menjadi muslim yang cerdas dan tidak terhasut oleh musuh-musuh Islam yang ingin memecah belah persatuan umat. Kita sebagai muslim zaman now seharusnya tidak hanya melek teknologi tetapi juga peduli dengan Islam dan bisa menjadi salah satu bagian dari umat yang mengembalikan keberjayaan Islam di masa depan, mewujudkan ungkapan bahwa Islam itu memang agama yang indah dan damai. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Semoga bermanfaat, Wallahu A’lam Bishshowab

 

Sumber:

  1. Al-Atsari, Muslim. Bersatulah dan jangan berpecah belah. Muslim.or.id. 2011, 21 Sept. Available from: https://muslim.or.id/6884-bersatu-dan-jangan-berpecah-belah.html