Akankah menjadi Ramadhan Terakhirku?

Fa, bangun. Rafa…. cepetan bangun…. Reyhan mengguncang tubuh Rafa dengan keras. Laki-laki berpenampilan rapi dengan jas putih dan tertera label nama Christoffer Reyhano.

Rafa yang tengah tertidur pulas mulai terusik dengan suara Rey yang semakin mengeras memanggil namanya, Gue ngantuk, Rey. Sana deh lo! ujarnya sambil membentak Reyhan, melanjutkan tidurnya.

Fa, bangun sekarang atau loe bakal kena masalah sama dr. Roman. Ingat Fa, dr. Roman. Kata Reyhan mengakhiri perjuangannya untuk membangunkan sahabatnya itu. Mendengar kata dr. Roman, tiba-tiba saja mata Rafa terbelalak dan langsung bangun dari tidurnya, merapikan jas putihnya yang sudah kumal karena posisi tidurnya yang sembarangan.

dr. Roman kesini? tanya Rafa mengkonfirmasi pernyataan Rey, yang hanya dijawab dengan anggukan kepala Rey yang terlihat sudah pasrah. Dr. Roman tiba di ruangan jaga dokter muda, tepat saat Rey dan Rafa bersusun rapi membentuk sebuah barisan dengan dokter muda yang lain.

Selamat pagi, Koas! sapa dr. Roman, yang disambut dengan suara kecil yang seakan tidak bisa keluar dari mulut mereka, Selamat Pagi, Dok!

Pagi itu atau lebih tepatnya pukul 05.00 tepat saat adzan subuh berkumandang, dr. Roman bertugas memberikan pengarahan kepada Koas yang baru memasuki stase Penyakit Dalam, dengan gaya khas dr. Roman yang tegas dan tidak bisa disela sedikitpun. Di rumah sakit ini, dr. Roman adalah dokter yang paling terkenal dengan ketegasannya, sehingga tidak ada satu koas (sebutan untuk dokter muda) pun yang bisa membantahnya. Rafa yang masih diselimuti rasa kantuk sehabis jaga semalam suntuk tidak sengaja menguap tepat saat dr. Roman membelakanginya. Reyhan yang melihat kelakuan sahabatnya itu lantas menyikutnya dengan keras, Fa… bisiknya. Rafa tidak sadar dengan panggilan Reyhan, namun sebuah suara mengagetkannya.

Muhammad Rafaizan Al-Fatih…. panggil dr. Roman dengan tegas. Reyhan kembali menyikutnya, namun lagi-lagi Rafa mengindahkan sahabatnya itu.

Muhammad Rafaizan Al-Fatih…. panggil dr. Roman sekali lagi, dan kali ini lebih keras. Rafa mulai tersadar bahwa yang memanggil namanya bukanlah Reyhan, melainkan dr. Roman. Sontak saja ia menjawab dengan lugas, Siap, Dok.

dr. Roman langsung berbalik badan menghadap Rafa yang terkenal dengan kepintarannya. Oh, kamu Rafaizan Al-Fatih. Harus dipanggil dua kali baru menjawab, ya? tanya dr. Roman sambil memandangi wajah Rafa yang masih terlihat mengantuk. Dr. Roman berdecak heran melihat kelakuan Rafa yang hanya menggeleng pelan mendengar pertanyaan darinya. Dr. Roman menghela napas keras, dan mengalihkan perhatiannya dari Rafa yang masih terdiam terpaku di barisan teman-temannya. Semua koas mendengarkan dengan seksama pengarahan yang disampaikan oleh dokter senior itu.

Terimakasih banyak, Dok! ucap para Koas, mengiringi berakhirnya pengarahan oleh dr. Roman. Semuanya tersenyum lega setelah dokter senior itu menghilang dibalik pintu.

Fa, loe parah ya sampai tidak menjawab panggilan dr. Roman. Kata Rey akhirnya. Ngantuk… jawabnya lugas, sambil berjalan perlahan ke arah kursi tempatnya beristirahat, melanjutkan tidurnya. Reyhan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu, apalagi saat ia mengajak Rafa untuk shalat subuh di mushola rumah sakit, Rafa mengindahkannya.

Rafa, laki-laki dengan perawakan tinggi, berkulit putih, memiliki wajah yang bisa dibilang Good Looking oleh para teman-temannya di kampus, dan tentu saja memiliki otak yang sangat mempuni untuk menjadi seorang dokter. Namun, dibalik penampilannya yang sangat good looking dan dikenal memiliki keluarga yang taat beribadah, ia memiliki sifat yang bertolak belakang dengan penampilan luarnya. Rafa sering meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu menjalankan shalat. Tidak banyak yang tau tentang hal itu, kecuali Reyhan sahabatnya dari SMA. Reyhan, laki-laki yang berasal dari keluarga yang memiliki dua keyakinan berbeda, ayahnya adalah muslim, sedangkan ibunya adalah seorang non-muslim. Namun, sejak mengenal Rafa, ia mantap memutuskan untuk menjadi mualaf seperti keyakinan yang dianut oleh ayahnya. Reyhan pun terkenal sebagai sosok yang sholeh dan selalu melaksanakan shalat tepat waktu, walaupun dengan risiko ia harus dimarahi oleh dokter senior. Karena prinsip hidupnya, semua rezeki dari Allah dan ia yakin dengan melaksanakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah, ia yakin Allah akan meluruskan semua perjalanan hidupnya. Reyhan sebenarnya tau, Rafa adalah laki-laki yang taat beribadah. Tetapi, entah kenapa, setelah beberapa lama Reyhan menjadi mualaf, sikap Rafa mulai berubah sedikit demi sedikit menjadi malas untuk beribadah dan sangat egois.

Sekembalinya Reyhan dari mushola, ia lihat Rafa sudah berpakaian rapi sambil merapikan pakaian kotornya ke dalam tas besar berwarna hitam yang terletak disampingnya.

Wah… Rafa sudah tidak sabar ingin shalat tarawih di rumah kayanya?goda Reyhan, saat berada di depan sahabatnya itu. Kebetulan hari itu bukan jadwal Rafa dan Reyhan untuk jaga malam, jadi mereka bisa pulang lebih awal. Rafa yang mendengar perkataan Rey langsung menjawab, Gue nggak sabar mau tidur pulas di rumah. Ujarnya serius.

Rey menghela napas panjang, Gue kira loe senang bisa ketemu sama bulan Ramadhan lagi. Harusnya loe bersyukur masih dipanjangkan umur sampai sekarang. Jangan sampai loe menyia-nyiakan datangnya bulan Ramadhan, perbanyak shalat sunah dan jangan pernah meninggalkan shalat fardhu sekalipun, Fa.  Nasihat Rey yang lagi-lagi hanya ditanggapi dengan anggukan kecil. Reyhan menyerah untuk menasihati Rafa kali ini, ia pun pergi ke lemari pakaian, ikut merapikan pakaian kotornya. Sudah beberapa hari, Rey selalu menasihati Rafa untuk memperbanyak ibadah, apalagi menjaga shalat tepat waktu sebelum bulan Ramadhan tiba, tetapi nasihat itu hanya bertahan sebentar di otak Rafa sebelum terbang menghilang dari otaknya. Rafa dan Rey berpamitan dengan teman-temannya yang lain yang bertugas jaga hari itu, saat keduanya sudah selesai merapikan pakaian dan mengerjakan semua laporan yang harus diselesaikan hari itu.

Setelah tiba di rumah, Rafa langsung masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama, suara adzan Ashar berkumandang. Bunda memanggil anak satu-satunya itu dengan lembut, Fa, ayo shalat. Sudah adzan… Rafa mendengar suara Bunda, namun rasa malasnya mengalahkan  keinginannya untuk shalat, Nanti Bun, Rafa nyusul. Jawabnya singkat. Bunda kembali ke tempat sholat dimana ayah berada, setelah mendengar jawaban dari Rafa.  Ayah segera memulai shalat Ashar berjamaah dengan Bunda.

Sore berganti malam yang ditandai dengan kumandang suara Adzan yang menyeru dari mushola-mushola perumahan. Rafa masih tertidur pulas dibalik selimut tebalnya. Bunda kembali lagi mengajak Rafa untuk shalat berjamaah, tetapi tidak ada suara yang menjawab ajakannya. Bunda kembali ke tempat shalat dengan wajah murung, Ayah hanya tersenyum menguatkan Bunda, Nanti ayah bicara dengan Rafa. Kata ayah meyakinkan. Ayah menunggu Rafa terbangun dari tidurnya di ruang keluarga. Namun, sampai tengah malam Rafa tidak kunjung keluar dari kamarnya. Bunda yang kasihan melihat ayah yang sudah terkantuk-kantuk berkata, Sahur nanti aja Ayah bicara sama Rafa, sekarang ayah istirahat saja dulu. Ayah menuruti nasihat Bunda.

Waktu sahur tiba, Rafa menggeliatkan tubuhnya setelah puas tidur semalaman. Kakinya melangkah keluar kamar, dan terkejut melihat bunda sudah berada disana. Bunda… sapa Rafa. Bunda langsung menarik tangan anaknya itu ke ruang keluarga, mendudukannya disana.

Fa… ayah memulai pembicaraan. Ayah dan bunda tau kamu itu kelelahan setelah jaga 1 minggu di rumah sakit, walaupun begitu kamu tidak boleh meninggalkan shalat. Apalagi sekarang sudah masuk bulan Ramadhan, kamu harus lebih rajin beribadahnya, Fa.

Rafa tau, Yah. Tapi, biarpun Rafa tidak shalat, Rafa masih tetap bisa jadi dokter, kan? Masih ada ayah dan bunda untuk mendoakan Rafa saat shalat. katanya santai.

“Astaghfirullahalazim. Bunda beristighfar mendengar perkataan Rafa.

Bagaimana kalau ayah dan bunda sudah tidak ada? Shalat itu tidak bergantung ada atau tidaknya orang tua, tetapi shalat itu adalah kewajiban setiap umat Islam. Kamu harus bersyukur masih diberikan umur yang panjang sampai bisa menikmati indahnya Ramadhan lagi, Fa. Kata ayah mengakhiri. Rafa hanya bisa terdiam mendengar perkataan ayah. Sahur di keluarganya kala itu terasa dingin, ayah masih bersikap dingin bahkan setelah shalat Subuh berjamaah selesai.

Fa… Rafa… panggil sebuah suara yang membuyarkan lamunannya. Ia masih kepikiran dengan perkataan ayah saat sahur tadi. Entah mengapa, perkataan ayah membuatnya sedikit tersadar. Iya, La. Kenapa? tanyanya kepada Mala yang sejak tadi menunggunya. Reyhan sudah sejak 30 menit yang lalu tidak kembali dari mushola, Fa. Padahal kami harus memeriksa pasien untuk laporan pagi. Rafa menyadari sahabatnya itu sudah lama pergi dari ruangan jaga dokter, biasanya 15 menit Reyhan sudah kembali ke ruangan. Rafa bergegas pergi ke mushola, tak lupa dititipkannya laporan pagi yang sedang ia tulis kepada Mala. Nitip sebentar.

Bangunan berwarna hijau di ujung lorong rumah sakit, itulah tujuan Rafa untuk mencari keberadaan Rey. Pintu kayunya terbuka, batin Rafa. Assalamualaikum Rafa mulai menapakan kaki ke dalam mushola, tak lupa dilepaskannya alas kaki di depan pintu. Rafa mencari sekeliling dimana Reyhan berada. Matanya tertuju pada seorang pria yang tengah sujud dalam sholatnya. Melihat hal itu, Rafa pun menunggu sampai sholatnya selesai. Detik berganti menit, namun posisi Rey tetap tidak berubah dari posisi sujudnya. Kaki Rafa mulai melangkah mendekat ke arah sahabat karibnya itu. Rey… Rey… digoyangkannya tubuh Reyhan dengan kuat berharap bahwa Rey sedang tertidur dalam sholatnya.

Rey, jangan becanda. Tangan Rafa mulai membalikkan tubuh Rey perlahan setelah tidak mendapat jawaban berkali-kali. Rafa mengucap istighfar ketika melihat tubuh Reyhan yang sudah terbujur kaku dibalik posisi sujudnya. Laki-laki itu lemas melihat sahabat karibnya. Seorang karyawan rumah sakit yang kebetulan ingin melaksanakan shalat menghampiri Rafa, bertanya, Kenapa, Dok? Rafa terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan karyawan itu, dan hanya bisa melihat ke arah Rey yang terbaring disampingnya.

Berita meninggalnya Reyhan menyebar dengan cepat keseluruh Rumah Sakit. Semua petugas Rumah Sakit tidak menyangka Reyhan akan dipanggil secepat itu, karena selain rajin beribadah, ia juga terkenal dengan keramahannya kepada pasien dan petugas yang ada disana. Reyhan baru 1 tahun menjalani masa koas, dan menjadi dokter adalah cita-citanya sedari SMA. Orang yang paling terkejut dengan peristiwa ini adalah Rafa, dalam ingatannya masih terngiang saat-saat Rey mengingatkan dirinya untuk Shalat Subuh, dan betapa bersyukurnya Rey karena bisa memasuki bulan Ramadhan lagi tahun ini. Rafa tidak menyangka jika kemarin adalah saat-saat terakhirnya bisa bersama dengan sahabat terbaiknya itu. Rafa sangat bahagia karena bisa menjadi salah satu teman Rey, dan ia kagum karena Rey tidak pernah malu untuk menasihatinya dikala dirinya tidak mau melaksanakan ibadah shalat. Kenangan akan Rey masih teringat di benak Rafa, bagaimana dia mengingatkannya shalat, dan selalu membuat perumpamaan yang sama saat Rafa tetap ngotot tidak mau shalat, Lebih baik mendirikan shalat sendiri Fa, daripada nanti Kita yang dishalatkan sama orang lain. Kata Rey setengah bercanda.

Sejak saat itu, Rafa menyadari bahwa umur seseorang tidak pernah tau kapan akan berakhir, seperti kata Ayah dan Rey, bahwa kita harus bersyukur karena bisa dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan semua ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Kini, tak ada lagi sahabat yang akan mengingatkannya untuk selalu bersyukur dengan semua waktu yang telah Allah berikan kepada kita, dan Rafa juga sadar, sebagai seorang muslim kita tidak boleh meninggalkan kewajiban untuk melaksanakan shalat, walau dalam keadaan apapun, karena Allah SWT telah mengatur sedemikian rupa sehingga tidak akan menyulitkan hambanya.

Allah SWT bisa mencabut nyawa hambanya kapan saja dan dimana saja, bersyukurlah karena bisa menikmati bulan Ramadhan ini dalam keadaan sehat walafiat, siapa tau jika ini adalah Ramadhan terakhir yang bisa kita nikmati keberkahannya.

Ramadhan, akankah kusambut lagi dikau tahun depan? Atau akankah ini menjadi Ramadhan terakhirku? kata Rafa di akhir doa shalat Idul Fitri, dan berharap semoga bisa dipertemukan dengan Ramadhan selanjutnya.

 

 

**

Yah.. Puasa Lagi..

Yah..Yah Puasa Lagiuasa Lagi..

Assalamu’alaikum ikhwah fillah ,tak terasa Ramadhan sudah tinggal beebrapa hari saja,

Apa yang kamu pikirkan setelah mendengar kata “Ramadhan” ?

Loh apaan tuh.. perutnya kok udah bunyi duluan denger kata Ramadhan -_-….

Apalagi kira-kira, iklan sirup kan pastinya… apaan nih kalian Tadi perut bunyi sekarang ngeces… (excessive ammount of fluid got out from mouth)

Belum lagi muncul pertanyaan yang sering kita dengar, malam ini dibangunin sahur sama siapa ~

Mau buka bareng dimana ~

Dengan siapa ~ oh yolanda … ehh

Dan segala ocehan orang yang menurunkan semangat kita untuk menyambut Ramadhan.Tetapi, apakah Ramadhan itu hanya sebatas puasa ? NO

Apakah Ramadhan selayaknya kita sambut dengan sedih hati ? NO

Apakah Ramadhan kali ini penulis masih sendiri ? YES *nulis sambil tremor*

Itulah ikhwah mengapa pahala puasa begitu besar karena perjuangan menahan hawa nafsu kita.

Lantas apakah Ramadhan kita terdahulu sama saja dengan Ramadhan besok ini ? Sudah yakinkah bahwa amal kita sudah cukup untuk membawa kita menuju surga-Nya? Lalu bagaimana cara terbaik kita mempersiapkan Ramadhan kali ini ?

Tenang !
Berikut Tips-Tips Oke buat Mempersiapkan Ramadhan
1. Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Foto 1

2. Bayar Hutang Puasa
Foto 2

Bukan cuma hutang sama teman kita yang harus dibayar,Hutang sama Allah juga harus dibayar terutama kamu .. iya kamu.. ukhti

3. Membaca Al-Qur’an dan Mengeluarkan Zakat

 
Foto 3

persiapkan diri kita untuk lebaran dengan membaca Al-qur’an,karena bulan sya’ban disebut juga syahr Al-Qurra .
Nah, bagaimana untuk saudara kita yang makan sehari-hari saja susah ? kita bantu mereka agar mereka juga bisa merasakan indahnya Ramadhan.

4. Mempersiapkan perangkat puasa

Perangkat Puasa ? apaan tuh ?

Ohh.. itu kan mahar yang lagi ngehits di sinetron sinetron..

OKE, ABAIKAN

Perangkat Puasa tu apasih ? yaitu adalah segala macam yang kita persiapkan untuk puasa Ramadhan nanti

Apa Aja ? Misalnya saja kurma yang merupakan Sunnah untuk mengawali buka puasa, dan tentu saja bagi kamu yang ngekost karena jauh dari orang tua dan so pasti dekat-dekat buka puasa pasti semua restoran pada penuh. Jangan berkecil hati mblo, tipsnya adalah kalian bisa memesan catering atau masak sendiri. Catering harus dibooking jauh-jauh hari dan bahan memasak juga harus di list tiap harinya agar sahur dan berbukamu tepat waktu. Tapi perlu diingat, Ramadhan bukan ajang foya-foya dan khalwat dengan lawan jenis.

Dan setelah ini kalau masih ada yang merengek minta dibangunin sahur sama gebetan ,atau buka bareng pacar, atau sahur bareng pacar
PLEASE ~~~
Dibuka lagi ya Al-Isra ayat 32 nya 
So,bagaimana tipsnya ? semoga bermanfaat yaaa
dan
Semoga Allah memudahkan kita semua
Wassalamu’alaikum 

Bahagia itu (seharusnya) Sederhana

Pasti semua udah pernah dengar kalimat ini,
“Bahagia itu sederhana.”

Iya, kalimat itu sering banget ditemui di mana mana. Kadang disertai dengan kalimat dan konteks kejadian yang berbeda beda. Misalnya,

“Alhamdulillah bisa makan bakso bareng temen temen setelah sekian lama ga ketemu. Bahagia itu sederhana.”
“Busway dateng diwaktu yang tepat. Bahagia itu sederhana.”
“Hujannya deras tepat setelah nyampe rumah. Bahagia itu sederhana.”

Yaa.. mungkin ada banyak contoh lainnya. Ga pentinglah soal contoh contoh di atas, yang mau dibahas di sini adalah konteks bahagia itu sederhana.

Ikhwah,
Pernahkah sesekali kita perhatikan tingkah anak kecil yang ada disekitar kita, entah itu adik, sepupu, ponakan, atau malah anak kita *eh
Mereka, anak anak kecil itu, gampang sekali tertawa. Denger bunyi pintu lemari yang berdecit (err.. bunyinya ngiiit ngiit gitu maksudnya :v ), mereka tertawa.
Denger suara bersin, mereka tertawa.
Liat balon di lambung lambungkan, mereka tertawa.
Liat kucing lewat persis di depannya, mereka juga tertawa.
Dan banyak hal sedehana lainnya yang bikin mereka tertawa.
Awalnya, mungkin kita mikir ini wajar aja. Secara mereka masih kecil, masih bocah, ya wajarlah mereka ngetawain hal hal remeh yang menurut kita ga lucu atau biasa aja.
Sampai pada akirnya mungkn kita perlu berpikir, jangan jangan kita yang sudah mulai mempe-ribet kebahagiaan kita.
Kenapa gitu?
Ya memang sih indikator bahagia itu ga cuma dari tertawa. Tapi tertawa lepas itu salah satu indikasi kebahagiaan. Ga mungkin ada orang yang hatinya sedang sediiiih banget tapi bisa tertawa lepas terbahak bahak. Kalo ada yang bisa tertawa, pasti feel-nya beda. Atau ada causa lain yang bikin seseorang tertawa tanpa ada alasan yang jelas.
Jadi sederhananya kita bisa menarik kesimpulan, kalo bahagia itu seharusnya sederhana.

Dari kita lahir, kita sudah mulai bisa merasa bahagia dari hal hal kecil, kaya anak anak kecil di atas tadi misalnya. Tapi semakin tua,kita mulai memasang “target” yang begitu tinggi untuk bisa merasakan kebahagiaan.

Baru bahagia kalo Hp-nya canggih, mahal, dan keluaran terbaru.
Baru bahagia kalo kendaraannya bermerek.
Baru bahagia kalo bajunya bagus atau branded.
Baru bahagia kalo nilainya sempurna.
Baru bahagia kalo rumahnya megah.
Dan lain lain.

Salah ga punya keinginan kaya gitu? Ya engga..
Yang salah itu kalau kita mengikatkan kebahagiaan kita pada hal hal itu.
Atau bahasa lainnya, mengikatkan kebahagiaan kita pada hal hal duniawi.
Ga ada larangan kok mengejar dunia. Tapi, letakkanlah dunia di genggaman kita, bukan di hati.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa neraka“.
(QS. Al Baqarah: 201)

Coba deh, sesekali, sambil kita nunggu kopaja atau angkot atau busway pagi pagi, waktu mau berangkat beraktivitas, kita liat ke sekeliling kita. Rasain udara pagi, hawanya. Ya walaupun untuk kota kota besar pagi pun udah agak agak gerah. Tapi coba sedikit merenung, sebentar aja.
Syukuri keadaan.
Ah… ada begitu banyak orang orang di luar sana yang mendambakan berada di posisi kita. Ada yang “terkurung” di rumah sakit karena penyakitnya. Terkurung di LP karena kesalahannya.
Sedang kita?
Mungkin ada begitu banyak dosa dosa kita, tapi Allah masih menutupinya.
Mungkin ada banyak bibit penyakit dalam tubuh kita, tapi Allah masih memberi kesehatan.
Berbahagialah karena kita masih bisa bergerak bebas.
Masih bisa merasakan terik matahari.
Masih bisa kehujanan disaat kita sedang berusaha mengejar mimpi mimpi kita.
Masih bisa sibuk dan mengeluhkan letih untuk pekerjaan kita atau tugas tugas kuliah kita. Sedang di luar sana mungkin ada yang ingin bekerja tapi lamarannya selalu ditolak. Yang mau kuliah tapi kekurangan biaya.
Masih bisa ngerasain semilir angin.
Masih bisa berpayah payah dalam jalan dakwah.
Dan banyak hal hal sederhana lainnya yang mungkin tidak kita perhatikan, yang lupa kita syukuri.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Qs. An Nahl: 18)

Berbahagialah dengan sederhana.
Karena mungkin suatu saat nanti kita akan merindukan hal hal sederhana itu.
Ketika kita terlalu sibuk berpacu dengan target target kita, ambisi kita, menginginkan kesempurnaan, sampai kita lupa mensyukuri hal hal kecil tadi.
Padahal kesempurnaan hidup itu ada pada ketidaksempurnaan itu sendiri.

Berbahagialah dengan sederhana.
Karena bahagia itu selalu sederhana.
Sesederhana rasa syukur karena Allah masih mengizinkan kita untuk dapat berbagi.
Sesederhana rasa syukur karena Allah masih mengizinkan kita untuk dapat memberi.
Sesederhana senyuman orang orang di sekitarmu yang timbul karena kehadiranmu.
Bahagia itu sederhana.
Sesederhana bersyukur.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”
(Qs. Ibrahim: 7)

Kalau mau nunggu semua terlihat sempurna baru mau bahagia, hati hati.. nanti letih sendiri.
Mulailah berbahagia dengan kesederhanaan disekeliling kita, ikhwah.
Karena bahagia itu, memang sudah seharusnya sederhana… :))