Persatuan Umat Islam

Bismillahirrahmanirrahim

Islam memerintahkan kita untuk bersatu dan melarang kita untuk berpecah belah sesama umat islam. Allah melarang kita berpecah belah dan berselisih seperti orang-orang sebelum kita yang akibatnya mereka celaka dan binasa. Perbedaan masalah prinsip agama/akidah terlarang bagi umat islam, perbedaan yang bersifat substansional yang memiliki dasar agama atau mengikuti imam mahdzab ini ranahnya untuk saling menghormati. Ketika sebagian manusia mengedepankan perbedaan substansional tanpa ingin belajar maka akan mengakibatkan saling bermusuhan dan menciptakan keretakan dalam umat.

Allah ta’ala berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara.” (QS. Ali Imran:103)

Dalam menafsirkan ayat ini, perkataan Al-Qurhubi rahimahullah menjadi jelas bagi kita, bahwa langkah menuju persatuan yaitu dengan berpegang kepada kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya, baik dalam keyakinan maupun perbuatan. Dan jika terjadi perselisihan, maka dikembalikan kepada keduanya.

Allah ta’ala juga berfirman, “dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.(QS. Al An’am:153)

Menjelaskan firman Allah: “dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain); Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata,”Yaitu jalan-jalan yang menyelisihi jalan ini.” (Firman Allah: karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya), yaitu akan menyesatkan dan mencerai-beraikan kamu dari-Nya. Maka jika kamu telah sesat dari jalan yang lurus, maka di sana tidak ada lagi, kecuali jalan-jalan yang akan menghantarkan menuju neraka jahim.” (Taisir Karimir Rahman).

Dari firman Allah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menjaga persatuan umat Islam ialah dengan berpegang teguh dalam agama Islam sampai mati, dan berlepas diri dari selainnya dan peganglah pedoman yang utama yaitu Al-Quran dan As Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat.

Dengan melihat kenyataan sekarang bahwa perpecahan umat Islam sedikit demi sedikit nampak di permukaan, kita yang merupakan bagian kecil dari umat ini calon generasi penerus bisa sedikit demi sedikit bergerak dengan hal berikut ini :

  1. Memutuskan sesuatu dengan sumber utama yaitu Al-Quran dan As Sunnah dan melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan:

 

Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisa : 59).

 

  1. Menuntul ilmu agama dari ahlinya :

Dalam menuntut ilmu apapun kita harus belajar dan berguru kepada orang yang ahli dalam ilmu tersebut, termasuk juga ketika kita ingin menuntut ilmu agama agar tidak tersesat dan salah menafsirkan ayat atau hadist kita harus berguru kepada orang yang ahli dan keilmuannya terjaga sampai kepada Rasulullah ﷺ

 

Allah berfirman :

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,(QS. An-Nahl:43)

 

Bagi yang masih belum mengerti mengenai suatu urusan maka belajarlah dan bertanyalah kepada orang yang tepat dan tidak membuat atau mengadakan suatu perkara baru dalam agama.

Dari Aisyah R.A, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,“Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya, maka perkara itu tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Persatuan umat Islam adalah cita-cita bersama yang ingin kita wujudkan. Dengan persatuan umat islam maka umat ini akan kokoh dan akan mempermudah bagi umat ini untuk mendapatkan ridho Allah.

Juga dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al Asy’ari, dari Nabi, beliau bersabda,

Seorang mukmin terhadap orang mukmin yang lain seperti satu bangunan, sebagian mereka menguatkan sebagian yang lain, dan beliau menjalin antara jari-jarinya.

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin di Indonesia dan semoga Indahnya Islam dapat tersebar ke bumi nusantara ini. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa dan Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Yah.. Puasa Lagi..

Yah..Yah Puasa Lagiuasa Lagi..

Assalamu’alaikum ikhwah fillah ,tak terasa Ramadhan sudah tinggal beebrapa hari saja,

Apa yang kamu pikirkan setelah mendengar kata “Ramadhan” ?

Loh apaan tuh.. perutnya kok udah bunyi duluan denger kata Ramadhan -_-….

Apalagi kira-kira, iklan sirup kan pastinya… apaan nih kalian Tadi perut bunyi sekarang ngeces… (excessive ammount of fluid got out from mouth)

Belum lagi muncul pertanyaan yang sering kita dengar, malam ini dibangunin sahur sama siapa ~

Mau buka bareng dimana ~

Dengan siapa ~ oh yolanda … ehh

Dan segala ocehan orang yang menurunkan semangat kita untuk menyambut Ramadhan.Tetapi, apakah Ramadhan itu hanya sebatas puasa ? NO

Apakah Ramadhan selayaknya kita sambut dengan sedih hati ? NO

Apakah Ramadhan kali ini penulis masih sendiri ? YES *nulis sambil tremor*

Itulah ikhwah mengapa pahala puasa begitu besar karena perjuangan menahan hawa nafsu kita.

Lantas apakah Ramadhan kita terdahulu sama saja dengan Ramadhan besok ini ? Sudah yakinkah bahwa amal kita sudah cukup untuk membawa kita menuju surga-Nya? Lalu bagaimana cara terbaik kita mempersiapkan Ramadhan kali ini ?

Tenang !
Berikut Tips-Tips Oke buat Mempersiapkan Ramadhan
1. Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Foto 1

2. Bayar Hutang Puasa
Foto 2

Bukan cuma hutang sama teman kita yang harus dibayar,Hutang sama Allah juga harus dibayar terutama kamu .. iya kamu.. ukhti

3. Membaca Al-Qur’an dan Mengeluarkan Zakat

 
Foto 3

persiapkan diri kita untuk lebaran dengan membaca Al-qur’an,karena bulan sya’ban disebut juga syahr Al-Qurra .
Nah, bagaimana untuk saudara kita yang makan sehari-hari saja susah ? kita bantu mereka agar mereka juga bisa merasakan indahnya Ramadhan.

4. Mempersiapkan perangkat puasa

Perangkat Puasa ? apaan tuh ?

Ohh.. itu kan mahar yang lagi ngehits di sinetron sinetron..

OKE, ABAIKAN

Perangkat Puasa tu apasih ? yaitu adalah segala macam yang kita persiapkan untuk puasa Ramadhan nanti

Apa Aja ? Misalnya saja kurma yang merupakan Sunnah untuk mengawali buka puasa, dan tentu saja bagi kamu yang ngekost karena jauh dari orang tua dan so pasti dekat-dekat buka puasa pasti semua restoran pada penuh. Jangan berkecil hati mblo, tipsnya adalah kalian bisa memesan catering atau masak sendiri. Catering harus dibooking jauh-jauh hari dan bahan memasak juga harus di list tiap harinya agar sahur dan berbukamu tepat waktu. Tapi perlu diingat, Ramadhan bukan ajang foya-foya dan khalwat dengan lawan jenis.

Dan setelah ini kalau masih ada yang merengek minta dibangunin sahur sama gebetan ,atau buka bareng pacar, atau sahur bareng pacar
PLEASE ~~~
Dibuka lagi ya Al-Isra ayat 32 nya 
So,bagaimana tipsnya ? semoga bermanfaat yaaa
dan
Semoga Allah memudahkan kita semua
Wassalamu’alaikum 

Bahagia itu (seharusnya) Sederhana

Pasti semua udah pernah dengar kalimat ini,
“Bahagia itu sederhana.”

Iya, kalimat itu sering banget ditemui di mana mana. Kadang disertai dengan kalimat dan konteks kejadian yang berbeda beda. Misalnya,

“Alhamdulillah bisa makan bakso bareng temen temen setelah sekian lama ga ketemu. Bahagia itu sederhana.”
“Busway dateng diwaktu yang tepat. Bahagia itu sederhana.”
“Hujannya deras tepat setelah nyampe rumah. Bahagia itu sederhana.”

Yaa.. mungkin ada banyak contoh lainnya. Ga pentinglah soal contoh contoh di atas, yang mau dibahas di sini adalah konteks bahagia itu sederhana.

Ikhwah,
Pernahkah sesekali kita perhatikan tingkah anak kecil yang ada disekitar kita, entah itu adik, sepupu, ponakan, atau malah anak kita *eh
Mereka, anak anak kecil itu, gampang sekali tertawa. Denger bunyi pintu lemari yang berdecit (err.. bunyinya ngiiit ngiit gitu maksudnya :v ), mereka tertawa.
Denger suara bersin, mereka tertawa.
Liat balon di lambung lambungkan, mereka tertawa.
Liat kucing lewat persis di depannya, mereka juga tertawa.
Dan banyak hal sedehana lainnya yang bikin mereka tertawa.
Awalnya, mungkin kita mikir ini wajar aja. Secara mereka masih kecil, masih bocah, ya wajarlah mereka ngetawain hal hal remeh yang menurut kita ga lucu atau biasa aja.
Sampai pada akirnya mungkn kita perlu berpikir, jangan jangan kita yang sudah mulai mempe-ribet kebahagiaan kita.
Kenapa gitu?
Ya memang sih indikator bahagia itu ga cuma dari tertawa. Tapi tertawa lepas itu salah satu indikasi kebahagiaan. Ga mungkin ada orang yang hatinya sedang sediiiih banget tapi bisa tertawa lepas terbahak bahak. Kalo ada yang bisa tertawa, pasti feel-nya beda. Atau ada causa lain yang bikin seseorang tertawa tanpa ada alasan yang jelas.
Jadi sederhananya kita bisa menarik kesimpulan, kalo bahagia itu seharusnya sederhana.

Dari kita lahir, kita sudah mulai bisa merasa bahagia dari hal hal kecil, kaya anak anak kecil di atas tadi misalnya. Tapi semakin tua,kita mulai memasang “target” yang begitu tinggi untuk bisa merasakan kebahagiaan.

Baru bahagia kalo Hp-nya canggih, mahal, dan keluaran terbaru.
Baru bahagia kalo kendaraannya bermerek.
Baru bahagia kalo bajunya bagus atau branded.
Baru bahagia kalo nilainya sempurna.
Baru bahagia kalo rumahnya megah.
Dan lain lain.

Salah ga punya keinginan kaya gitu? Ya engga..
Yang salah itu kalau kita mengikatkan kebahagiaan kita pada hal hal itu.
Atau bahasa lainnya, mengikatkan kebahagiaan kita pada hal hal duniawi.
Ga ada larangan kok mengejar dunia. Tapi, letakkanlah dunia di genggaman kita, bukan di hati.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa neraka“.
(QS. Al Baqarah: 201)

Coba deh, sesekali, sambil kita nunggu kopaja atau angkot atau busway pagi pagi, waktu mau berangkat beraktivitas, kita liat ke sekeliling kita. Rasain udara pagi, hawanya. Ya walaupun untuk kota kota besar pagi pun udah agak agak gerah. Tapi coba sedikit merenung, sebentar aja.
Syukuri keadaan.
Ah… ada begitu banyak orang orang di luar sana yang mendambakan berada di posisi kita. Ada yang “terkurung” di rumah sakit karena penyakitnya. Terkurung di LP karena kesalahannya.
Sedang kita?
Mungkin ada begitu banyak dosa dosa kita, tapi Allah masih menutupinya.
Mungkin ada banyak bibit penyakit dalam tubuh kita, tapi Allah masih memberi kesehatan.
Berbahagialah karena kita masih bisa bergerak bebas.
Masih bisa merasakan terik matahari.
Masih bisa kehujanan disaat kita sedang berusaha mengejar mimpi mimpi kita.
Masih bisa sibuk dan mengeluhkan letih untuk pekerjaan kita atau tugas tugas kuliah kita. Sedang di luar sana mungkin ada yang ingin bekerja tapi lamarannya selalu ditolak. Yang mau kuliah tapi kekurangan biaya.
Masih bisa ngerasain semilir angin.
Masih bisa berpayah payah dalam jalan dakwah.
Dan banyak hal hal sederhana lainnya yang mungkin tidak kita perhatikan, yang lupa kita syukuri.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Qs. An Nahl: 18)

Berbahagialah dengan sederhana.
Karena mungkin suatu saat nanti kita akan merindukan hal hal sederhana itu.
Ketika kita terlalu sibuk berpacu dengan target target kita, ambisi kita, menginginkan kesempurnaan, sampai kita lupa mensyukuri hal hal kecil tadi.
Padahal kesempurnaan hidup itu ada pada ketidaksempurnaan itu sendiri.

Berbahagialah dengan sederhana.
Karena bahagia itu selalu sederhana.
Sesederhana rasa syukur karena Allah masih mengizinkan kita untuk dapat berbagi.
Sesederhana rasa syukur karena Allah masih mengizinkan kita untuk dapat memberi.
Sesederhana senyuman orang orang di sekitarmu yang timbul karena kehadiranmu.
Bahagia itu sederhana.
Sesederhana bersyukur.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”
(Qs. Ibrahim: 7)

Kalau mau nunggu semua terlihat sempurna baru mau bahagia, hati hati.. nanti letih sendiri.
Mulailah berbahagia dengan kesederhanaan disekeliling kita, ikhwah.
Karena bahagia itu, memang sudah seharusnya sederhana… :))