Rembulan di Bulan Ramadhan

Oleh: Dyahati Wahyurini

“Helloo Darling” nada dering telpon genggam Za berbunyi, tanda ada telpon dari pujaan hati, Sam. Dengan senyum merekah di bibirnya, Za dengan sigap mengangkat telponnya.

“Hallo Sam, kemana saja? Seharian tidak ada kabar?”

“Za, kita putus ya, ini sudah mau bulan Ramadhan. Kita bisa pisah baik baik kan?”

Za hanya terdiam, otak dan hatinya masih berusaha mengartikan kata kata Sam.

“Kenapa? Ada cewek lain?Ya udah kita putus”

 “Astaghfirullah Za….”

Suara Sam terhenti karena Za mematikan teleponnya. Emosinya tak bisa menutupi kesedihan di wajahnya. Kekecewaan jelas tergambar dari matanya yang mulai berkaca-kaca. Senyum lebar dibibirnya sirna seketika.

“Za, ayo bangun! Sudah mau imsyak nih, nanti kamu tidak sempat sahur,” panggil Ibu dengan nada semakin meninggi.

“Iya Bu, Za segera ke meja makan.”

Za lansung bergegas bangkit dari tempat tidur. Hari ini puasa hari pertama, mereka berlima duduk bersama di meja makan dan mulai menyantap makanan sahur buatan ibu yang selalu enak dan akan tetap enak.  Kali ini meja makan dengan taplak bunga bunga itu penuh dengan makanan dan anggota keluarga yang lengkap. Di sisi kanan ada Zahara biasa dipanggil Za mahasiswi yang sudah menyelesaikan skripsi dan menunggu wisuda namun  terkendala dengan pandemi COVID-19. Tepat di samping Za, ada Dirga, adik bungsu, mahasiswa semester 3, dan di sisi kiri ada Bulan, anak pertama yang mandiri, seorang eterpreneur online. Ibu duduk di sebelahnya, dan Ayah duduk di tengah menghadap kami semua.

Bulan Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda bagi Za. Bagaimana tidak? Za sudah bukan mahasiswi lagi tapi juga belum  berpenghasilan. Sehari-hari ia hanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuka media sosial, membantu Ibu memasak, bermain games atau sekedar rebahan di kasur. Awalnya, banyak rencana yang ingin Za lakukan, mulai dari pergi liburan ke luar kota, makan di luar rumah, karaoke, buka bersama dan lain-lain. Za anak yang aktif berorganisasi, jumlah temannya terlampau banyak hingga tidak ada yang benar benar dekat dengannya. Setiap tahun, lebih lebih dari separuh bulan Ramadhan Za buka bersama di luar. Adanya pandemi Covid-19,  social distancing dan “di rumah aja”,memporakporandakan semua agenda Za hampir setiap hari Za menghabiskan waktunya di rumah. Za juga merasakan kesepian karena Sam sudah tidak menemani sahur, buka atau bahkan sekedar menanyakan kabar. Semakin hari, kegiatan Za semakin monoton dan kegabutan mulai terasa baik secara jiwa maupun raga.

Hari hari terus berlalu, Za selalu melihat kegiatan semua orang yang ada di rumah, dan kegiatan orang lain di media sosial. Za pun mulai membanding-bandingkan kehidupan, “Kenapa ya mereka bisa seperti ini, sedangkan aku tidak ada hasil apa apa? Hmm, kayak tidak berguna,” gumam Za lirih. Tak berapa lama Za memutuskan keluar dari kamar dan melihat anggota keluarga yang lain. 

“Dek, kamu hari ini ada kerjaan apa?” tanya Za antusias.

“Aduh Kak, ya kuliah laah, jadwal kuliah aku kan dari jam 7.30-16.00.”

“Oooh gitu, kirain libur,” jawab Za lirih.

Za lalu pergi ke ruang kerja kak Bulan, dan mulai melihat sekeliling, berharap ada yang bisa ia kerjakan.

“Kak, lagi apa? Main yuk!”

“Duh Za, kakak masih ada kerjaan nih, mau bantu?”

“Oh, ntar aja lah” jawab Za singkat.

Za pergi dengan wajah datar dan beralih ke ruang tamu, dan melihat ayah dan ibu sedang membuka laptop.

“Yah, lagi sibuk?”

“Iyaa nih, lagi mau kasih kuliah online

“Kalau ibu? Bu, masak buat buka puasa yok!” ajak Za penuh harap.

“Ibu sudah masak. Kamu mau masak apa? Nanti gagal lagi kayak kemarin, haha,” jawab ibu seraya meledek Za

“Kamu kayak gak ada kerjaan sih Za? Bersihin mobil atau bantu ibu ngoreksi aja!” tanya Ayah.

“Hmm, aku ke kamar lagi aja”

Za kembal lagi ke kamarnya, “Rencana liburan, bukber, reunian gagal semua. Hp juga udah tidak bunyi lagi, tidak ada yang mencari. Pekerjaan? belum ada. Penghasilan? Apalagi. Masak? Gagal terus. ah  aku ni bisa apa sih? Gak bermanfaat banget hari hari ku, ah bete, aaaah aku bosan! aku bosan! Bosan!” keluh Za di dalam kamar sedikit berteriak.  

Sore itu, senja tampak begitu indah diiringi dengan rintik rintik hujan yang mulai reda dan guratan warna warni di langit bebas. Pada akhirnya, keindahan senja akan berganti dengan gelapnya malam dan dinginnya angin menggetarkan jiwa. Waktu buka tiba, semua keluarga berbuka bersama di meja makan.

“Za, kenapa sih kok lesu, kayak tidak ada semangat? Kamu sakit?” tanya Ibu

“Gak,” jawab Za singkat

“Jadi kenapa?” tanya Ibu lagi, berusaha mencari tahu.

“Gak ada yang sayang dan peduli sama aku,” jawab Za lantang.

Za pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanan penutup malam itu. Dadanya terasa sesak dengan semua keluh kesahnya, nafasnya berat dengan semua kesepian yang melanda, nuraninya seakan tertutup dengan semua kilau dunia. Tangisnya pecah, air matanya tak lagi dapat terbendung, air mata mengalir mewakili perasaan yang tak terungkap dengan kata. Tiba tiba kak Bulan mengetuk pintu, dan masuk kamar.  

“Kamu kenapa sih? Tadi marah, sekarang nangis,”

 “Gak tau kak, aku pingin marah aja.”

“Sama siapa?”

“Aku mau marah aja kak, tapi gak tau sama siapa kak. Aku kesel kak, aku bosen,” jawab Za sambil menyeka air matanya. 

“Aku cuman kesel sama semua keadaan, kayak aku gak ada gunanya gitu kak, hari hari cuman berlalu gitu aja, gak ada yang mau ngehargai keberadaan aku di rumah,” lanjut Za sambil terus menangis

“Siapa yang bilang? Gak ada yang seperti itu Za, semua sayang sama kamu, kamu kan udah bantu banyak di ruma, kamu berguna kok, mungkin itu dari pikiran kamu aja,” kata Bulan berusaha menenangkan

“Aku bosan kak di rumah terus, aku merasa tidak dihargai, tidak ada yang bisa aku kerjakan,” jawab Za lirih sambil terus menangis.

“Kamu kurang bersyukur Za, coba deh di pikir,  Ramadhan kali ini, kita selalu sahur dan buka  bareng sekeluarga, udah lama kan tidak seperti ini? Kakak kerja dari rumah, kakak yang paling sering di rumah. Kakak merasa rumah ini sangat berbeda semenjak kita disuruh di rumah aja. Dapur selalu ramai dengan senda gurau saat masak, meja makan selalu penuh dengan cerita ringan sehari hari, ruang keluarga penuh dengan tawa canda. Kakak lebih mudah bicara tentang rencana pernikahan kakak, kakak bisa ketemu keluarga lebih sering. Yaa, semua itu tergantung pikiran kamu Za, kita gak bisa lama-lama sama keluarga kan? Jadi mumpung sekarang di rumah aja, yaa kita nikmatin aja, tidak ada yang tidak bisa kok Za, yang ada mau atau tidak mau, kalau mau yok bismillah, insyaAllah dibantu sama Allah. Kamu  mau penghasilan? Ya kamu jangan duduk saja. Mau bisa masak? Ya kamu harus latihan Za, tidak ada yang instan Za, semua butuh proses, nikmatin aja prosesnya. Tuh buktinya skripsi kamu selesai?

“Iyaa sih kak, tapi percuma skripsi selesai juga aku belum di wisuda,” jawab Za lirih.

“Aduh, diganti dong pemikirannya, alhamdulillah skripsi sudah selesai jadi sudah tidak repot lagi?”

“iya sih kakk.”

“Coba deh, sini lihat bulan Purnama di luar!  Terang kan?” tanya Bulan sembari menatap langit.

“Bagus kan? Tapi apa akan selalu bersinar seperti itu?”

Za menggeleng sembari menghapus air matanya.

“Pasti ada saatnya bulan itu tertutup awan, terus berubah bentuk, hilang dalam kelamnya malam, iya kan? Sama kayak kita Za, tidak selamanya kita itu selalu dalam keadaan yang sama, senang, sedih, suka, duka itu wajar, itu pasti ada, hanya bagaimana cara kita memandangnya saja, dan berusaha melewatinya, iya kan?”

“Tapi bulan kan benda mati kak, tidak sama dengan kita,” bantah Za

“Kita bisa belajar dari mana saja Za, termasuk dari benda mati. Sudahlah, nanti coba deh kamu renungkan, kakak kembali ke kamar ya, jangan nangis lagi” kata Bulan sambil menepuk pundak Za.

“iya kak”

“Eee, satu lagi, jangan samapi kamu menyesal karena belum lama menghabiskan waktu dengan Ibu sama Ayah ya Za, seperti aku sekarang. Kakak baru sadar, belum banyak berbakti ketika kakak udah mau nikah, ah jadi sedih, udah aah, daaa” kata Bulan sembari melambaikan tangan pada Za.

“Kakak benar, aku yang berpikir terlalu dangkal hingga tidak bisa melihat semua nikmat yang jelas ada di depan mataku. Mungkin selama ini yang membuatku kesepian, bosan, dan marah adalah diriku, karena ternyata yang tidak pernah menghargai aku adalah diriku sendiri,” perlahan air mata Za mulai reda berganti dengan senyum tipis di bibirnya. Kata-kata Bulan menerangi pikiran Za dan membuka lebar kedua matanya seterang rembulan di malam itu.  Mulai malam itu, Za bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya, dimulai dari syukur.

Bahkan dalam Al-Quran sudah dijelaskan berkali-kali seperti salah satu ayat di dalam Qs. Ar Rahman yang diulang sebanyak 31.

“Fabiayyi’aalaa’I Rabbikumaa Tukadzdzibaan”

“Maka nnikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Yaa, maka nikmat Tuhan-Mu yang mnakah yang kamu dustakan? karena pasti akan ada celah yang dapat kita syukuri dari suatu keadaan atau lebih tepatnya, tidak akan ada celah untuk kita tidak bersyukur.

-Selesai-

Apa Kabar Ramadanmu?

oleh: Salsabila Nur Rahmah Ali

“Hai, apa kabar Ramadanmu? Semoga baik-baik saja yaa”, entah sudah kali ke-berapa pertanyaan kawan karibku terulang, dengan kalimat yang sama sekali tak berbeda. Hmm baik-baik saja, bagaimana? Bagaimana bisa menjadikan Ramadan baik-baik saja pada situasi seperti ini? Aku merengut.

            Hari-hari telah berlalu. Bila saja semua jari tangan dan kaki digabungkan untuk menghitungnya, niscaya tetap saja tak akan cukup. Kebosanan melanda hingga mencapai tahap kronis. Terlebih, keresahan dan kerisauan turut muncul tak dapat dihentikan.

Ya, sudah dua bulan lamanya keadaan ini berlangsung. Keadaan yang menjadikan sistem WFH (Work from Home) ini harus diberlakukan. Masih terngiang dengan jelas bagaimana seruan gembiraku tatkala pengumuman WFH untuk kali pertamanya disiarkan, ‘Alhamdulillah Ummii, aku masih bisa di rumah nihh sampai 2 minggu kedepan!’. Alih-alih merasa khawatir dan resah, euforia gembira saat itu benar-benar terasa. Membayangkan bisa sejenak lebih lama beristirahat di rumah, terbebas dari perjuangan menjadi anak rantau, benar-benar membuat senyumanku saat itu tak hentinya terkembang.  Kuliah dari rumah benar-benar menjadi kali pertamanya dalam sejarah. Terbayang bagaimana bisa menyimak materi kuliah ditemani satu toples cemilan, tutor online dengan ‘selonjoran’, dan wahai! Kapan lagi kami dapat melakukan praktikum sembari ‘rebahan’. Ya, minggu awal WFH ini mewujud dengan lancar dan penuh keriangan.

Sampai pada akhirnya, keriangan itu lambat laun pudar, tergantikan kebosanan. Rasa kesal tatkala pembelajaran skills lab yang mengharuskan kami praktik dengan guling sebagai probandus dan headset sebagai stetoskop, rasa kesal karena aplikasi pembelajaran yang dipilih terlalu besar bagi sinyal mahasiswa daerah perkampungan, dan rasa rindu pada teman yang tak tertahankan, menjadikan suasana tak lagi menyenangkan, namun dipenuhi dengan sejuta keluhan.

Lantas, kini lihatlah! Tanpa perlu memperhatikan kami yang sedang bersama siapa, tanpa peduli kami sedang merisaukan apa, Ramadan bertamu sebagaimana biasanya.

@@@

            “Lisa, Lisa! Kok belum muncul-muncul juga? Segera sini Nak!” teriakan umiku dari arah dapur membuatku tersadar. Menengok jam, aku terkaget. Satu jam telah berlalu! Betapa telalu lama aku berbincang dengan kawan karibku, bahkan hingga melupakan garapan tutor yang hari ini harus terselesaikan.

Segera, aku beranjak menuju dapur. “Lisa, konsumsi makanan untuk 11 orang ya, tambah 2 karena ada kunjungan dari kantor!” Aku mengangguk dan lekas membantu menyelesaikan permintaan tanpa sepatah kata yang aku ujarkan. Ini menjadi kegiatan rutinan keluarga kami tiap bulan Ramadan, membagikan makanan buka pada pekerja usaha keluarga kami. Tahun-tahun sebelumnya, aku hanya membantu pada akhir bulan puasa ketika diliburkan. Akan tetapi, karena posisiku di rumah, kini aku tak alpa membantu tiap hari meski selalu saja terbayang tugas kuliahku yang menunggu untuk diselesaikan.

“Duh Lisa, konsentrasi! Dilihat yang benar-benar!” teriakan Umiku terdengar lebih lantang dari biasanya bagi aku yang sedang terbengong dengan pikiran melayang. “Eh iya, Umi”, gelagapan aku menyadari keteledoranku. Persoalan membuka toples lada saja aku tidak fokus, menyebabkan toples garam tersenggol hingga sebagian jatuh bertebaran. Aku segera membereskan.

Aku duduk sebentar. Belum terlaksana niatku untuk istirahat sejenak, “Lisa, setelah ini adiknya diajari ngaji ya! Bacaan qurannya sering salah, belum bisa membedakan ikhfa’ haqiqi dan idzhar halqi. Bisa jadi rusak itu bacaan Alquran”, gantian abiku yang memberi tugas tambahan. “Iya Bii,” lekas aku menuju musola rumahku, mengajari adikku cepat. “Kak, habis ini ajari aku hafalan yak. Seperti biasa, Kakak bacain aku satu baris, nanti aku ulangi”, adikku menahanku yang ingin segera pergi. Aku kembali duduk, menghela nafas, sembari mengingat bahwa target ngajiku hari ini saja juga masih jauh dari terpenuhi.

@@@

“Hei, apa kabar Ramadanmu? semoga baik-baik saja yaa”, entah sudah kali ke-berapa pertanyaan kawan karibku terulang dengan kalimat yang sama sekali tak berbeda. Hmm baik-baik saja, bagaimana? Bagaimana bisa menjadikan Ramadan baik-baik saja pada situasi seperti ini? Aku merengut.

Aku benar-benar resah. Ramadan kali ini mewujud menjadi Ramadan paling merana dalam hidupku, sepertinya. Lirih aku berbisik. ‘Betapa aku bosan di rumah, betapa aku merindukan kajian-kajian di sekitar kampusku, betapa aku merindukan berlomba tilawah dengan teman-temanku.’ Aku begitu membandingkan Ramadan yang terjadi pada tahun ini, pada rumah sederhana ini. Lancang, mulutku mengeluh. ‘Buat apa sih umiku susah-susah memberi buka puasa kepada para pekerja, kenapa tidak dalam bentuk uang saja? Kenapa tidak meminta pembantu buat masak saja? Harusnya kan ini menjadi waktu meraup pahala dengan mendengarkan kajian. Kenapa malah menghabiskan dua jam di dapur? Dan juga, kenapa pula adikku tidak dipanggilkan saja guru ngaji, menjadikan waktuku untuk mengejar target khataman berkurang.’ Ya Rabb, mengapa Ramadan kali ini benar-benar terasa asing bagiku?

Allah, sebenarnya sudah benarkah apa yang kulakukan? Bagaimana dengan seabrek kegiatan yang kulakukan dengan keluhan, apakah ia akan memperberat timbangan? Ataukah hanya menjadi sebuah kesia-siaan? Ah,  ketakutanku mulai membayang.

@@@

“Hai, apa kabar Ramadanmu? Semoga …”, hey! aku langung membekap erat mulut kawan karibku. Bagaimana bisa ia menanyakan hal serupa dan berharap hal yang sama, lagi dan lagi? Sedang ia saja telah mendengar seluruh rangkaian keluh kesahku.

“Sayang,,” kawan karibku menarik nafas panjang, mengambil posisi terbaiknya, sebagaimana biasanya ketika ia bersiap menasihatiku. “Aku memahami kondisimu, sangat bisa membayangkan berada dalam posisimu. Berbahagialah Sayang, kamu sudah berjalan sejauh ini. Kamu sudah berhasil melampui seluruh fase kehidupan sebelum ini. Hanya satu langkah dalam penyelesaian masalahmu. Bertahanlah! Bertahanlah sembari ubah sudut pandangmu, Sayang. Segalanya akan berjalan dengan baik-baik saja, percayalah!” Aku menghela nafas pelan, bersiap mendengar lebih lanjut sembari mencari celah untuk dapat mengkritiknya.

“Cobalah untuk melihat dengan kaca mata yang berbeda, Sayang. Kamu tau, betapa matematika Allah tidak selalu dapat kita tebak rumusnya. Betapa perhitungan Allah kadang berbeda dengan perhitungan sederhana kita. Sayang, tak hanya solat dan tilawah saja yang bisa menjadi cara kita meraup pahala. Tak hanya solat dan tilawah yang bisa menjadi tolak ukur seberapa kebaikan yang telah kita lakukan. Aduhai! Bahkan kamu seperti tak paham saja pelajaran agama di masa sekolah dasar. Segala aktivitas dan kesibukan yang diniatkan ibadah, akan bernilai sama dengan ibadah. Pun sebaliknya, sebanyak apapun ibadah kamu, seberagam apapun ibadah yang telah kamu lakukan, apabila pada akhirnya hanya untuk kamu sombongkan, akan menjadi tidak bernilai harganya.” Kawan karibku benar juga. Betapa selama ini, aku terbius untuk mengejar target khataman dengan mengabaikan banyak ladang pahala lainnya.

“Sayang, kamu lancang sekali jika mengatakan tak perlu ada usaha umimu untuk memasak dan memberikan buka puasa bagi para pekerja! Camkan baik-baik, menyiapkan buka orang yang berpuasa adalah bernilai mendapat pahala puasa tanpa mengurangi pahala orang berpuasa yang diberikan buka tersebut. Perihal alasanmu bahwa waktu menyiapkan berbuka adalah lebih baik diganti untuk mendengarkan kajian ataupun tilawah mandiri, coba kamu tanyakan pada ibumu. Sudah berapa juz yang diperolehnya dalam Ramadan ini. Terkadang kita yang terlalu jumawa, merasa lebih lama mengaji dibanding orang tua. Sedang kamu saja yang tidak tahu. Bahwasanya, sebelum membangunkan dirimu, disela pekerjaannya, dan pada akhir hari tatkala semua anggota keluarga terlelap, ibumu tak lupa untuk mengaji dan memanjatkan doa atasmu.” Kawan karibku sedikit menaikkan intonasi suaranya, pipinya memerah, merasa iba atas celoteh kekanakanku.

“Sayang, terus bersyukurlah. Bersyukurlah atas segala anugerah yang telah Allah berikan. Bersyukur atas kesibukan kuliah, bersyukur atas tanggungan amanah, dan bersyukur atas pekerjaan rumah yang berlimpah. Work from home ini nyatanya benar-benar menjadi ladang pahala bagi orang yang memahaminya. Bagaimana segala aktivitas produktifmu, waktu bermanfaatmu, dapat benar-benar dirasakan oleh orang terdekatmu, keluargamu. Sosok-sosok terdepan dibalik kehebatan dan segala kisah perjuangan dalam hidupmu.” Ya, aku mulai sepakat dengan kawan karibku. Aku percaya, hanya sedikit mengubah sudut pandang saja, Ramadan ini akan menjadi lebih indah.

            “Lantas sekarang, apa kabar Ramadanmu? semoga baik-baik saja yaa”. Tidak lagi merasa pelu jenuh dengan pertanyaan tidak kreatifnya, kali ini aku mengangguk mantap. Ya, aku akan mengusahakan ayng terbaik. Ramadan ini akan baik-baik saja dan luar biasa.

Kawan karibku tersenyum lebar, mengetahui pemahaman baruku. Ialah yang tak pernah alpa dalam mengingatkan atas jalur kebaikan. Ialah ia, titik bersih dalam hatiku.

-Tamat –

Akankah Rindu Ini Berbalas?

oleh: Muhammad Ihsan Nabil Fadhlurrahman

Mata yang kini lelah itu terus menatap layar yang terpampang di depannya. Tertuliskan berbagai tugas yang harus dikerjakan entah suka maupun tidak. Begitulah, ketika kuliah online dicanangkan, matanya yang dahulu punya banyak kesempatan istirahat hanya menjadi alat penerima sinar biru laptop “kentang”-nya yang sudah jenuh dipakai untuk mengetik berbagai tugas dan laporan tutorial.

Di belakang benda itu terdapat sebuah buku, yang dahulu tiada bosan dibaca olehnya meski sudah selesai berulang kali. Kumpulan kertas penuh tulisan yang dahulu menjadi peneman di kala sepi dan penghibur di kala sedih. Menikmati kedalaman makna yang dimilikinya, yang tak sebanding walau ada seribu lagu seperti “Peradaban”-nya Feast. Menjalani waktu ngabuburit dengan bercengkerama berdua, menikmati senja dengan indahnya lantunan suara sendiri.

Terbayang olehnya masa-masa studi di pondok. Penuh canda bermakna, tawa dalam ukhuwah, dan tangis yang hanya lillah. Saat dimana tidak ada dinding penghalang antara sehatnya jasmani dan kenikmatan rohani, membentuk pribadi tawadhu yang penuh syukur kepada Yang Mahakuasa.

Tergambar di angannya memori saat pertama kali Ramadan menyapa fisik mungilnya di pondok, menyuntikkan semangat berbeda dalam hidup bersamanya. Berlomba-lomba dalam kebaikan, itulah isi injeksi yang diberikan olehnya selama di pondok. Menikmati waktu siang dengan kebiasaan murojaah, berusaha sembunyi dari teman lain, menjaga kerahasiaan jumlah hafalan yang dimiliki.

Pada saat itu, kegiatan keseharian santri adalah kekuasaan OSIS, yang dipimpin oleh santri, berisi santri, dan menciptakan peraturan untuk santri. Mulai dari jadwal imam tarawih hingga harits lail—petugas jaga malam dan pembangun sahur—adalah buah dari pekerjaan organisasi santri ini. Menjadi sebuah kehormatan apabila seorang santri menjadi anggotanya, merasa diri setingkat lebih tinggi dari teman sekelasnya.

“Rahman, kamu jadi imam tarawih di malam ke-7 ya!” sapa kak Amrul, pengurus OSIS bagian ibadah. “Afwan kak, hafalan juz 7 ana belum lancar… mendingan ganti yang lain deh…” balas sosok mungil itu menolak. Kebiasaan di pondok itu hampir sama dengan beberapa masjid di daerah itu, sholat tarawih dengan bacaan 1 juz per hari. “Udah deh, coba aja dulu. Entar juga ketagihan… oke sip,” jawabnya lantas meninggalkan santri baru itu dalam keadaan bengong.

Saat itu hafalannya sudah mencapai 15 juz, cukup cepat di antara teman seangkatannya namun masih jauh dari kesempurnaan menurut pandangannya. Di tengah lamunannya, tepukan pelan terasa di belakang, “MasyaAllah akhi… tidak boleh melamun seperti itu!” sapa ramah seorang pemuda dengan postur jangkung. Rahman, yang tertarik dari dunia khayalnya, menjawab “Afwan kak, ana tadi diminta jadi imam di malam ke-7… jadi ana lagi berpikir cara murojaahnya kak.” Tersenyum,, pemuda yang diberi nama Nur oleh kedua orangtuanya itu membalas, “Kayak gak biasa aja murojaah dadakan. Coba aja, entar juga ketagihan… duluan ya Man!”

Setelah mengatakan hal itu, langkah pemuda itu berlanjut, menuju tempat ternyaman miliknya untuk murojaah. Gerakan kaki yang menggambarkan kedewasaan dalam berpikir; tegas, ringan, dan cepat. Begitulah sosoknya, seorang mantan pegawai sebuah merek otomotif dengan gaji mencapai 10 juta Rupiah yang merasakan kekosongan dalam jiwa walaupun secara dunia ia sudah mapan.

Tangan kanan mudir—pemimpin—pondok, begitulah julukan yang diberikan santri ke sosok itu. Selalu menjadi teman berdiskusi utama dari kalangan santri hingga membaca kitab bersama. Keistimewaan ini menciptakan kekaguman di antara penuntut ilmu. Semangat Ramadan tidak terlihat pudar dalam dirinya, berusaha meningkatkan amal ibadah hari demi hari, menghidupkan malam dengan tadarus, lantas melanjutkan salat sunnah sebelum sahur.

Terasa suntikan semangat memenuhi dirinya, Rahman memantapkan hati dan kaki menuju tempat favorit dimana hatinya terbiasa menyejukkan diri di dalamnya, memantapkan hafalan kitab primadona muslim seluruh dunia. Kalau orang berkata bahwa berkumpul dengan orang saleh dapat mengenyahkan penyakit futur, remaja itu merasakan dampaknya lebih dari rumor yang beredar.

Ondeh… kalaulah semua orang mengetahui dahsyatnya bertemu manusia berhati mulia

Tak akan lagi terdengar tangisan di tengah gulita

Hebatnya dampak itu tak tampak oleh mata

Namun hati penerima cahaya tak akan lupa dengan rasa

Telapak kakinya yang masih dalam masa perkembangan berkali-kali menjejak ke lantai, membunyikan kerinduan akan tujuan hidup yang sebenarnya. Lisannya tak berhenti bergerak mengulang memori yang telah dicapainya, membiasakannya agar menjadi refleks dalam kehidupan sehari-hari. Senyuman selalu tersungging dalam dirinya, memberikan kebahagiaan ke lingkungan sekitar.

“Man, bisa tukeran jadwal gak?” tanya seorang teman yang muncul secara tiba-tiba, memutus untaian kenikmatannya dan memaksanya menoleh untuk mengetahui siapa penanya tersebut. “Malam ke berapa?” balas Rahman setelah melihat lawan bicaranya. Ainul, begitulah ia disapa, seorang santri yang memiliki jiwa kepemimpinan dan merupakan ketua angkatan penuh warna dalam sejarah pondok itu.

“Gantian ya Man, ana diminta ngimamin pas malam ke-11. Ente kan malam ke-7 tuh… hafalan juz 7 ana lebih kuat dibandingkan juz 11… tolong ya Man…” wajahnya yang memelas menggugurkan niatan santri itu untuk menolak mentah-mentah permintaan ketua angkatannya. Dengan terpaksa, anggukan kepala tergerak perlahan menyetujui permintaannya. “Syukron san, insyaAllah hafalan ente kuat kok!” balasnya sembari menggerakkan tungkainya menjauh dari Rahman yang membatu memikirkan strategi baru lagi.

Tubuhnya perlahan bergerak merendah dan memberikan sedikit kenyamanan bagi pantatnya. Rasa bingung kembali hadir dan memenuhi benak remaja yang masih labil. Semua itu terjadi hingga lewat sebuah pemandangan di sudut matanya. Dari sana ia melihat sesosok pria kecil yang berusaha memasukkan hafalan dengan susah payah. Terkadang air mata terlihat jatuh mengikuti gaya gravitasi, menandakan sulitnya proses yang dialami untuk mencapai kuatnya hafalan.

Pras namanya, teman yang menjaga sifat rendah hati walau memiliki segudang bakat. Usaha yang dilakukannya dalam menjaga konsistensi amal selalu menjadi panutan teman sebayanya. Berusaha agar tak terjatuh ke dalam lubang kemalasan ketika banyak orang justru menjerumuskan diri ke dalamnya. Selalu memancarkan cahaya di setiap senyumanya.

Betapa ajaibnya kalian hai orang berakhlak emas

Menciptakan ketenangan hanya dengan menatap wajah

Lantas mengobarkan api di tengah lesunya diri

Menghempaskan segala gundah yang kian menguasai hati

Dan dengan itulah kabut yang bertebaran mulai mengabur, memberikan kejelasan baginya dalam melangkah. Remaja tanggung yang tadinya kebingungan itu kini dapat melanjutkan langkahnya, membiarkan segala galau pergi meninggalkan diri dan mencegahnya datang kembali lagi. Ramadan telah menyapanya, dan kini ia harus menjadikan setiap hari yang dijalani memiliki makna.

Begitulah jiwa mereka yang hidup di antara Alquran, selalu tercerahkan dengan kebahagiaan hakiki, tersenyum walau beban berat menghampiri, menangis dalam mengharap ridho ilahi. Menyenangkan, itulah satu kata untuk hari-hari yang terjalani di masa itu.

Dan inilah ia kini, seorang mahasiswa kedokteran, yang menjadi budak berbagai tugas, membutakan langkahnya dari menggapai kitab tercinta, meninggalkan jiwanya dalam keadaan kosong tanpa mengetahui penyebab kehampaan itu. Terkadang ia jatuh ke dalam tangisan tak beralasan, bingung dimana letak akar sedihnya diri, lantas kembali menjatuhkan air bening untuk meringankan beban di hati.

Dan seperti inilah kondisinya sekarang, seorang mahasiswa sok aktivis, berusaha mengikuti berbagai organisasi, yang lantas mendorong jiwa belum matangnya menuju jurang kesibukan, memaksakan pilihan antar dua tugas duniawi, melupakan tugas terpenting yang menjadi bekal pulang menuju kampung yang sesungguhnya.

Entahlah, ia kini hanya seekor burung yang terjebak dalam perangkap pemburu yang lapar, menunggu untuk dipanggang Bersama dengan rempah penikmat rasa. Menunggu akan datangnya penolong, membebaskannya dari derita tak berujung, membawanya kembali menuju jalan yang terang, lantas membimbingnya agar sesat tak terulang.

Dan kesucian yang dahulu diagungkan

Kini hanya tinggal kenangan yang dirindukan

Beratnya beban yang telah disetujui

Sekarang menjadi domino yang akan menimpa diri

Kecuali jasad itu dapat menghindar

Dan menjadikannya senjata penyerang buruknya tabiat

Perjalanan Mengetuk Pintu Ramadan

oleh: Aughi Nurul Aqiila

Sore; langit tidak tampak akan kelabu, namun jalanan sepi. Orang-orang termakan seruan negara untuk mengunci diri di rumahnya masing-masing. Hanya segelintir yang terpaksa berada di luar karena kalau di rumah, mungkin buka puasanya hanya bisa sampai maghrib nanti.

Saya terduduk, melamun menatap ambang pintu yang tiba-tiba diketuk. Rupaya tetangga–imam masjid kampung kami–datang memakai masker. Di tangannya ada semangkuk kolak kesukaan saya. Katanya, “Buat buka puasa nanti.” Saya tersenyum dan berterima kasih. Dia berbalik menuju rumahnya yang hanya berjarak 2 rumah dari sini. Sejenak, saya terdiam di balik pintu. Hening membawa saya memutar kembali Ramadhan tahun lalu ketika kami masih bisa tarawih berjamaah di masjid. Saya ingat betul bacaannya yang syahdu, membuat saya betah berlama-lama berdiri. Andai saja tahun ini…., ah! Mendadak saya kesal. Angin sore melambai-lambai membangunkan emosi yang saya tahan beberapa minggu belakangan ini.

“Ramadhan pasti ada di tempat lain,” ujar saya yakin dalam hati. Saya menyambar kunci motor di meja, lalu bergegas pergi.

Tidak disangka, jalanan seperti tak berpenghuni. Biasanya dengan mudah saya dapat menemukan penjaja kudapan buka puasa yang ramai oleh kerumunan pembeli. Mudah juga menemukan orang-orang yang berbagi takjil kepada para pengemudi. Suasana yang berbeda ini rasanya membuat jeda yang lebih panjang antara ashar dan maghrib.

Masjid Raya

Saya mengemudikan motor menuju masjid raya yang lumayan besar di pinggir jalan utama. Pada jam-jam ini biasanya ada jadwal pengajian. Ibu sering mengajak saya ikut. Walaupun awalnya terpaksa, namun akhirnya hati luluh juga. Mungkin benar, setan-setan di bulan Ramadan dibelenggu. Hati saya yang seperti batu bisa juga mendadak sendu ketika nasihat ustad menyambar-nyambar telinga. Sayangnya, hari itu sepertinya tidak ada pengajian. Saya hanya menemukan sepasang sandal di depan masjid.

Pintu masjid tertutup. Saya mencoba membukanya namun terkunci. Kulihat samping kanan kiri, mencari pintu lain yang bisa dibuka. Namun hasilnya nihil. Padahal dalam hatiku ada harap yang besar untuk dapat kembali melaksanakan tarawih di sini. Kemudian saya memutuskan duduk di depan pintu.

Tiba-tiba saya mendengar suara aneh. Seperti gesekan kayu yang sudah lapuk. Bunyi itu makin keras dan rasanya ada di dekat sini. Saya terperanjat. Berulangkali mengucap istighfar. Saya tidak berani menoleh ke arah sumber suara. Hampir saya terlonjak ketika seseorang berdiri di hadapan.

“Ada apa, Mas?” tanya seorang berpeci.

Saya mendongak. Syukurlah, ternyata manusia. Saya masih diam menenangkan rasa deg-degan yang tadi menyerang. Dia kemudian terkekeh. “Maaf, pintu masjid memang susah dibuka. Ditambah lagi sekarang jarang dibuka, jadi bunyinya seperti itu,” jelasnya menenangkan saya.

“Apa nanti malam ada tarawih berjamaah di sini?” tanya saya berharap.

“Tidak ada.”

“Kalau besok?”

“Tidak ada juga”

“Bagaimana dengan lusa?”

“Pulanglah, Nak. Tarawih berjamaah di rumah saja”

“Kalau saya I’tikaf di sini boleh?”

“Lebih baik kamu pulang. Di rumah lebih aman”

 Lelaki itu meninggalkan saya. Menutup kembali pintu masjid. Saya menunduk. Mungkin Ramadan ada di masjid lain. Saya bergegas menuju motor sebelum gelap menggerogoti langit.

Masjid kedua

Masjid ini bukan masjid raya. Letaknya di dekat rumah nenek. Masjid ini tidak besar dan sebagian besar jamaahnya adalah orang kampung nenek. Dalam pikiran saya, orang-orang kampung akan lebih mungkin untuk mematuhi aturan pemerintah untuk tidak sholat berjamaah di masjid. Saya bisa menduga bahwa akan ada anak-anak yang melingkar berlatih mengaji, ibu-ibu yang menyiapkan makanan buka puasa, dan kakek-kakek yang berdizikir di pojokan.  Jadi, saya dengan percaya diri melangkah masuk ke pelataran masjid yang sebenarnya pintunya pun masih kelihatan tertutup.

Alih-alih menemukan orang, saya justru disambut kucing yang mengeong di pelataran masjid. Saya masih berprasangka positif sampai di depan pintu masjid, ternyata terkunci. Dari kaca jendelanya pun tak tampak orang-orang yang ada dalam dugaan saya tadi. Hening. Bahkan suara lantunan ayat suci yang dikumandangkan dari speaker pun tidak terdengar. Saya menuju halaman belakang, berharap akan bertemu orang.

Nyatanya tidak.

Saya kesal bukan main. Ingin rasanya berteriak dan memaki keadaan. Saya menghela napas berulang kali. Mencoba menenangkan diri, pasti di rumah nenek pintunya akan selalu terbuka untuk saya.

Rumah Nenek

Setiap Ramadan, selalu ada jadwal buka puasa bersama di rumah nenek. Entah setiap minggu atau dua minggu sekali. Tradisi ini kami lakukan untuk mempererat tali silaturahim antar keluarga. Saya bisa mengingat sepupu-sepupu yang masih kecil akan saling berebut mainan, berteriak, membuat gaduh seisi ruangan. Para lelaki biasanya mengobrol sambil menonton TV. Sementara para wanita pasti sedang di dapur atau meja makan menyiapkan hidangan. Nyaman sekali rasanya berada di tengah kehangatan keluarga besar. Momen itu yang selalu saya tunggu di saat Ramadan tiba. Namun sekarang, jadwal berbuka puasa bersama tidak muncul di grup whatsapp keluarga.  Mereka justru saling mengingatkan untuk tetap berada di rumah.

Sebernarnya, Ibu melarang keras untuk pergi ke rumah nenek. Saya tahu nenek sakit-sakitan beberapa tahun terakhir ini. Ibu khawatir kondisi nenek terlalu lemah untuk bertahan dari virus menyebalkan itu, maka anak-anaknya pun menjaga mati-matian nenek dari dunia luar. Bahkan Bibi–yang tinggal serumah dengan nenek–pernah secara terang-terangan memberitahu saya untuk tidak berkunjung sampai kondisi ini pulih.

Saya tidak peduli! Saya rindu Ramadan di rumah nenek. Saya hanya ingin semuanya berjalan seperti biasanya.

Dengan energi dan emosi yang meluap, saya mengetuk pintu rumah nenek. Satu kali, dua kali,…. sepuluh kali. Tidak ada jawaban. Nenek memang suka memasak di dapur belakang, jadi mungkin tidak dengar. Bibi juga mungkin sedang keluar. Jadi, saya memutuskan untuk duduk di teras.

Beberapa menit kemudian Bibi datang. Di tangannya ada dua plastik sepertinya berisi makanan untuk buka puasa. Saya mendadak kegirangan dan langsung ingin menyalaminya. Namun, Bibi mundur beberapa langkah. Wajahnya menunjukkan raut tidak suka. Masker yang tadinya hanya tergantung di telinga, dia rapatkan menutup mulut dan hidung. Saya bisa merasakan hawa tidak mengenakkan.

“Ada apa?” tanya Bibi penuh selidik.

“Mau buka puasa bersama nenek, Bi. Kangen.”

Bibi terdiam. “Lain waktu saja. Nenek sedari kemarin batuk-batuk.” kata Bibi menohok saya. Saya tertolak lagi.

“Nih, buat buka puasa di rumah” Bibi menyerahkan sebungkus plastik. Mata saya rasanya memanas. Saya tidak kuat lagi. Dengan suara bergetar, saya menolak. Saya pamit pulang dengan kekecewaan yang menggebu.

Benar, pintu masjid saja tertutup untuk saya. Saya tidak menemukan Ramadan di masjid. Pintu rumah nenek sekalipun dikunci rapat-rapat. Ramadan juga tidak ada di rumah nenek. Ramadan tidak pula ada di sepanjang jalan pulang. Dalam hati, saya bingung harus mencari Ramadan dimana lagi.

***

Saya melewati waktu maghrib dengan kesendirian di atas motor. Sedikit mengganjal perut dengan roti dan air minum yang dibeli di warung dekat sini. Saya masih merenung melihat jalan yang lengang. Di telinga saya berulang kali diputar suara-suara khas Ramadan. Speaker masjid yang dikeraskan atau obrolan tetangga tentang anaknya yang baru mulai belajar berpuasa. Saya merasa memasuki Ramadan dengan pintu-pintu amalan yang tertutup, lalu saya harus melakukan apa?

Adzan isya berkumandang.

Saya memutuskan untuk pulang. Membawa pulang setumpuk kekecewaan. Mungkin akan saya hadiahkan pada Ibu, Bapak, atau adik. Mungkin juga kami saling memberi hadiah kekecewaan yang sama.

Sesampainya di rumah, saya melihat Bapak, Ibu, dan adik sedang tarawih berjamaah. Saya tahu mereka bertiga selalu tarawih berjamaah di rumah. Sementara saya lebih memilih sholat sendiri karena merasa jamaah seharusnya dilakukan di masjid. Bapak dan Ibu tidak marah. Mereka bilang bahwa saya memang butuh waktu untuk mengerti. Saya hanya duduk di kursi dekat mereka dan memperhatikan bagaimana mereka melaksanakan sholat berjamaah.

Mendadak ada yang menghangat dalam dada.

Bapak mengucap salam yang terakhir. Pertanda tarawih telah selesai. Dalam balutan mukena, Ibu lantas memeluk saya. “Kemana saja kamu?”

Saya baru ingat bahwa saya tidak membawa ponsel selama bepergian tadi. Saya hanya terdiam.

“Ibu masak makanan kesukaan kamu. Tuh masih ada di meja makan. Sudah buka puasa kan?” tanya ibu lembut.

“Sudah bu,” jawab saya lirih. Ibu masih memeluk saya. Saya bisa mencium aroma khawatir dari Ibu. Mendadak, saya merasa bersalah. Ibu yang tak pernah mempunyai jeda untuk dirinya sendiri karena sibuk memperhatikan kami.

“Bu,” panggilan saya membuat Ibu melepas pelukannya. “Apa di Ramadan kali ini semua pintu kebaikan telah tertutup untuk saya?”

“Pintu kebaikan seperti apa yang kamu maksud?”

“Pintu sholat berjamaah dan I’tikaf di masjid. Hmm, bahkan pintu silaturahim di rumah nenek pun juga tertutup untuk saya,” ujar saya sedih.

Ibu menatap Bapak dalam. Kemudian tersenyum. Katanya, “Kamu lupa ada pintu kebaikan yang justru terbuka lebar sekali untukmu?”

Saya terkejut. “Apa itu?”

“Pintu kebaikan sabar dan ridha,” tegas Ibu.

Hening mengisi keseluruhan ruang udara dalam rumah. Bapak dan adik menatap saya dengan seksama. Saya masih mencerna kata-kata Ibu yang banyak benarnya.

“Ibu tahu kondisi ini sulit buatmu dan buat kita semua. Namun, Ramadan tetapkah Ramadan. Keistimewaan dan keberkahannya masih tetap sama. Kamu hanya perlu fokus terhadap apa yang bisa kamu amalkan, jangan mencari hal lain yang kamu sudah tahu tidak akan bisa didapatkan.”

Saya seperti disambar petir di siang bolong. Saya memang belum berusaha untuk menjadi sabar dan menerima keadaan. Apalagi memahami bahwa sebenarnya masih banyak hal yang bisa saya amalkan daripada sekadar berandai tentang apa yang seharusnya terjadi.

“Besok, kamu coba membuka pintu kebaikan yang lebih besar lagi nggak?” tanya Bapak memecah keheningan.

“Apa itu, Pak?”

“Besok kamu jadi imam tarawih berjamaah di rumah, ya!” ujar Bapak semangat. Sontak, adik saya meloncat kegirangan. Ibu dan Bapak tertawa. Beberapa detik kemudian, saya ikut tertawa.

Ridha dan sabar memang sulit. Kita lakukan pelan-pelan ya. Saya membisikkan pada Ramadan yang malam itu akhirnya saya temukan di rumah, “Semoga selalu berkah.”

Guruku bernama Ramadhan

oleh: Mukti Mukhtar

14.41. Angka itu tertera pada layar smartphoneku ketika aku membuka mata.  “Sudah hampir waktu Ashar sepertinya” pikirku.

Aku mencoba mengubah posisiku yang tadinya berbaring untuk duduk di pinggiran tempat tidur. Dengan wajah yang masih lusuh, aku memandang keluar jendela kamarku. Tak lama, mataku kembali tertuju pada layar smartphone. Di bawah angka tadi, tertulis “Kamis, 23 April 2020”.

“Jadi sebentar lagi dia akan datang. Seingatku mungkin besok atau lusa dia akan sampai. Apakah tak apa ia datang ditengah kondisi wabah ini?”Tanyaku dalam hati.

 “Allahu Akbar…Allahu Akbar…” Suara adzan dari gawaiku menggema memutus lamunanku. Dengan langkah yang masih sedikit sempoyongan aku beranjak untuk mengambil air wudhu lalu menunaikan kewajibanku.

Tidak seperti dulu, saat ini hampir semua aktifitas harus dilakukan dari rumah. Bahkan shalat berjamaah yang merupakan kewajiban laki-laki muslim sepertiku, juga harus dilakukan di rumah bersama dengan Ayah dan Ibu, beserta satu orang adik perempuanku. Penyakit yang mewabah kehampir seluruh belahan bumi menjadi sebab dari semua perubahan yang terjadi akhir-akhir ini.

Kondisi ini membuatku khawatir dengan kedatangan guruku. Aku takut, guruku tidak bisa membawa pelajaran bagi kami sebagaimana biasanya. Aku takut, pelajaran yang dapat kuambil dari guruku tahun ini berkurang.

 “Kalau saja aku tahu tahun ini akan begini, aku akan mencoba memanfaatkan perjumpaanku tahun lalu dengan guruku lebih serius, terlapas dari pendidikan koas yang kujalani saat itu.” ketusku dalam hati.

Aku masih ingat betul perjumpaanku tahun lalu. Bisa dikatakan perjumpaanku dengan guruku tahun lalu merupakan pengalaman yang baru, karena kebanyakan perjumpaanku harus kuhabiskan di Rumah Sakit akibat kesibukanku sebagai koas kala itu. Walhasil, memang banyak pelajaran baru yang dapat ku petik, tapi aku merasa kalau seharusnya masih banyak yang bisa ku terima waktu itu.

Tiba-tiba lamunanku terputus oleh suara Utami, adikku yang masih duduk dikelas 5 SD.

“Ayah, nanti malam kita mulai shalat tarawihkan?” tanya Utami kepada ayahku yang duduk dihadapannya.

“Insyaa Allah, nak. Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kita tarawihnya dirumah saja” Jawab ayahku sambil melipat sajadah yang telah ia gunakan lalu beranjak menuju kamar.

“Oh, begitu, yah. Tapi kalau kita shalatnya dirumah saja nanti yang ceramah dan imam tarawihnya siapa, yah?” tanya adikku lagi.

“Tarawih tidak harus ada ceramahnya, nak. Kalau soal imam, biar nanti kakakmu yang jadi imamnya” jawab Ayahku dengan santai.

Deeggg. Mendengar percakapan itu, aku yang tadinya sedikit merasakan kantuk, seketika hilang. Pikiranku tertuju pada kata-kata ayahku tadi.

Saya yang jadi imam tarawih, yah? Kenapa bukan ayah saja?” tanyaku sambil beranjak menghampiri ayahku di kamar.

“Hafalan ayat-ayatmu lebih banyak dari ayah, nak. Nanti ayah yang imam shalat witirnya” jawabnya sambil berlalu meninggalkanku menuju teras rumah.

Aku termenung mendengar jawaban itu. Aku lalu beranjak ke dalam kamarku, menutup pintu dan kembali duduk di pinggiran kasur sembari memandang keluar jendela. Spot yang memang menjadi favoritku sejak dulu untuk merenung dikamarku.

Jawaban ayahku tadi memang ada benarnya. Hafalanku memang sedikit lebih banyak dari Ayahku. Tapi tetap saja, diminta menjadi imam shalat tarawih merupakan permintaan yang cukup berat bagiku. Apalagi ini harus mengimami ayah dan ibuku sendiri. Perasaan untuk takut berbuat salah, takut lupa dan macam-macam ketakutan lainnya mulai berkecamuk dalam pikiranku.

Astagfirullah….” Lirihku mengakhiri lamunan. Aku tersadar.

“Kenapa aku sangat merisaukan perihal ibadah dihadapan orang tuaku, sementara untuk menunaikan shalat sendiri saja aku tak pernah sekhawatir ini. Apakah selama ini aku lebih takut kepada orang tuaku dibandingkan Allah?” pikirku dalam hati.

Astagfirullah…astagfirullah” aku hanya bisa terus beristighfar. Kuakui, aku sedikit tertampar dengan pikiranku tadi.

Aku lalu beranjak ke meja belajar yang berada di samping tempat tidurku, kuambilnya mushafyang tersimpan diatas meja. Aku kembali ke tempat tidur, ku buka lembaran-lembaran mushaf itu satu demi satu, ku perhatikan ayat demi ayat sambil mencoba sedikit mengingatnya di kepalaku. Aku mulai mengulang-ulang kembali hafalanku. Memang benar hafalanku sedikit lebih banyak dibanding ayahku, tapi bukan berarti aku memiliki banyak hafalan. Belum lagi ditambah ayat-ayat yang dulunya sempat terhafalkan, namun mulai hilang akibat aku malas murojaah.

Aku mulai kecewa. Ku hitung ayat-ayat yang masih segar dalam ingatanku.

“Jumlahnya tidak akan cukup untuk tarawih sebulan penuh.” batinku. Aku mulai menyesal, mengapa dulu aku masih sering lalai dalam menambah dan mengulang-ulang hafalanku. Boro-boro untuk mengerti ayat-Nya, hafal tanpa tahu artinya saja sudah cukup buatku kala itu.

Ku tutup Al-Qur’an yang aku pegang, sembari kembali menengok kejauhan melalui jendela kaca. Posisi rumahku yang berada di dataran tinggi membuatku leluasa untuk memandang langit tanpa takut terganggu dengan bangunan-bangunan yang cukup padat di sekitar rumahku. Ku pandangi matahari yang kala itu sudah mulai siap untuk meninggalkan langit. Sambil kembali sedikit meringis dalam hati.

“Ya Allah, apa yang sudah kuperbuat selama ini dengan waktuku”.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, saat pemerintah akhirnya mengumumkan melalui media TV Nasional bahwa malam ini kita sudah diperbolehkan untuk melaksanakan tarawih. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, akupun menjadi imam untuk tarawih.

Allahu Akbar” ucapku sembari memulai tarawih kami.

Pada tarawih malam ini, aku putuskan untuk membaca satu-dua ayat saja pada rakaat pertama, dan membaca salah satu surah pendek pada rakaat kedua. Begitu seterusnya sampai kami selesai. Hal ini kulakukan karena terbatasnya hafalan ayat yang aku miliki.

Setelah selesai shalat, aku kembali masuk ke dalam kamarku. Ku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Sembari berbaring, ku tatap langit-langit dikamarku.

“Ya Allah…memang penyesalan selalu muncul dikemudian hari. Alangkah nikmatnya apabila dengan keadaan seperti ini, aku adalah seorang hafidz Qur’an. Tentu tak perlu lagi mencicil ayat-ayat yang akan ku bacakan dalam shalatku” ucapku lirih.

“ting-tong” ringtone handphoneku terdengar dari seberang kasurku. Kuraihnya gawai itu lalu ku buka pesan yang masuk.

Pesan itu dari Kiki, salah seorang temanku yang sekedar menanyakan kabar. Berhubung akibat pandemi ini sudah sebulan lebih kami tidak bertemu.

Aku membalas pesannya lalu menutup handphoneku. Tapi, salah satu teks pesannya masih menempel di pikiranku.

“Tapi berbagai pelajaran diberikan oleh pandemi ini. Bagi yang mau belajar, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Tapi bagi yang suka mendumel cuman dapat sia-sia saja” katanya saat kami sedikit membahas tentang dampak wabah ini.

“Eh, iya ! Benar juga yang Kiki katakan.” Ucapku spontan, ketika terus memikirkan kata-kata kiki di DM Instagram tadi. Lamunanku pecah. Aku menyadari sesuatu yang sangat penting.

Sejak sore tadi, aku terus meresahkan apakah guruku tahun ini datang dengan pelajaran yang banyak. Aku takut, kalau pelajarannya tahun ini akan terganggu karena adanya pandemi.

Nyatanya aku salah. Aku memandang pandemi ini dari sudut yang keliru. Justru, pandemi ini membuat pelajaran yang diberikan guruku menjadi semakin banyak. Buktinya adalah hari ini. Aku sudah diberikan pelajaran yang sangat berharga tentang waktu.

Pelajaran tentang bagaimana memaksimalkan waktu yang sudah Allah percayakan untuk hal-hal yang positif. Pelajaran tentang bagaimana Maha Kuasa-Nya Allah, yang dengan ciptaan-Nya mampu merubah keadaan menjadi benar-benar berbeda dari biasanya. Semua pelajaran ini, seperti kata temanku tadi hanya bisa didapatkan “…bagi orang yang mau belajar…”.

Aku bangkit dari tempat tidurku. Ku ambil mushaf, yang ada diatas meja belajar. Ku buka lagi lembarannya satu-persatu. Tapi kali ini niatnya beda. Aku tak mau lagi menyia-nyiakan waktu yang ada.

“Aku pasti bisa, aku harus menjadi lebih baik. Aku tidak mau ketinggalan pelajaran sedikitpun tahun ini” kataku membulatkan tekad dalam hati. Aku tak mau lagi membuang peluang untuk bertemu dengan guruku. Akupun makin semangat untuk menanti tiga puluh hari kedepan yang akan kujalani dengan guruku.

Guruku sudah tiba. Tarawih malam hari ini adalah penanda bahwa ia telah sampai. Guruku bernama Ramadhan.