International Hijab Solidarity Day (IHSD)

Sungguh bahagia rasanya melihat semakin banyak muslimah yang mengenakan hijab. Mereka terlihat menyejukkan, meneduhkan, dan aura kebaikan terpancar dari busana baik yang melindungi pesonanya. Sungguh indah bukan? Berhijab memang perintah Allah, bukti cinta Allah pada hamba-Nya untuk menjaga dan melindungi kita. Lalu adakah alasan yang cukup logis untuk melarang dan tidak melaksanakan perintah-Nya? Tidaklah pantas rasanya. Allah Sang Maha Cinta selalu menginginkan yang terbaik bagi hamba-Nya. Dengan melaksanakan perintah-Nya, kita berusaha menyempurnakan cinta-Nya. Berhijab adalah salah satu buktinya.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 4 September 2015, dunia telah memperingati Hari Solidaritas Hijab atau yang lebih kecenya dikenal dengan International Hijab Solidarity Day (IHSD). Hmm ngomong-ngomong udah tau belum gimana ceritanya bisa ada IHSD ini? Biar lebih jelasnya yuuk kita bahas 😉

Sebelumnya mungkin ada yang bertanya, kok hari peringatan hijab rasanya banyak ya, kemarin udah ada hari hijab sedunia, terus gerakan menutup aurat, terus sekarang ada hari solidaritas hijab, itu apa bedanya sih? Hhe oke kita coba jawab ya…jadi IHSD ini lebih ditekankan maknanya pada kata Solidarity -solidaritas- rasa senasib dan setia kawan. Hari dimana kita disadarkan bahwa di luar sana, di belahan bumi yang lain, ternyata banyak wanita muslimah yang mendapatkan perlakuan semena-mena karena hijabnya. Kasian ya :”( disaat mereka ingin taat untuk menyempurnakan cinta-Nya, malah dilarang dengan aturan-aturan miris seperti itu.

Lalu, apa yang terjadi pada tanggal 4 September?
Di London, 4 September 2004 diselenggarakan konferensi London. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya keputusan pemerintah London yang melarang mahasiswa untuk memakai simbol-simbol keagamaan, sehingga banyak warga muslim yang memprotes keputusan ini. Keputusan ini tentu saja menyulitkan muslimah untuk menutup aurat secara sempurna. Karena itu diadakanlah konferensi yang dihadiri oleh Syeikh Yusuf Al Qardawi, Prof Tariq R. dan juga 300 delegasi dari 102 organisasi Inggris International, yang menghasilkan beberapa keputusan :
1. Menetapkan dukungan terhadap penggunaan jilbab
2. Penetapan tanggal 4 september sebagai hari solidaritas jilbab internasional (IHSD)
3. Rencana aksi untuk tetap membela hak muslimah untuk mempertahankan busana takwa mereka.

International Hijab Solidarity Day (IHSD) awalnya diprakarsai para pemeluk Islam di 4 negara, yakni; Perancis, Jerman, Tunisia dan Turki. Karena di negara-negara tersebut para muslimah berhijab seringkali mendapat diskriminasi dan kesulitan. Banyak gadis muda berhijab diberhentikan dari sekolahnya. Sementara wanita Turki Muslim tidak diberikan perawatan medis dan akan dikeluarkan dari parlemen jika memakai hijab. Lalu di Tunisia wanita Muslim yang berhijab dibawa ke penjara dan disiksa. Ini adalah beberapa contoh penganiayaan yang diderita oleh wanita hanya karena mereka mengikuti ajaran agama sebagai ekspresi iman mereka. Selain itu pada 4 september 2002, Perancis resmi melarang penggunaan hijab bagi warganya.

Di Jerman, Marwa Al-Sharbini, 32 tahun, meninggal dunia karena ditusuk oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia pada Rabu 1 September 2009 di ruang sidang gedung pengadilan kota Dresden, Jerman. Saat itu, Marwa akan memberikan kesaksian dalam kasus penghinaan yang dialaminya hanya karena ia mengenakan Hijab. Belum sempat memberikan kesaksiannya, ada seorang pemuda Jerman menyerang Marwa dan menusuk ibu satu orang anak itu sebanyak 18 kali. Suami Marwa berusaha melindungi isterinya yang sedang hamil tiga bulan itu, tapi ia juga mengalami luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit. Tragis sekali bukan? Meski pemerintah Jerman berusaha menutup-tutupi kematian Marwa Al-Sharbini, cerita tentang Marwa mulai menyebar dan mengguncang komunitas Muslim di berbagai negara. Untuk mengenang Marwa, diusulkan untuk menggelar Hari Hijab Internasional yang langsung mendapat dukungan dari Muslim di berbagai negara.

Itulah beberapa sejarah dari Hari Solidaritas Hijab Internasional. Kita sebagai muslim di negara yang mayoritas umat islam terbesar di dunia sudah seharusnya menunjukkan solidaritas untuk keluarga seiman kita. “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perjuangan cinta ini harus terus kita lanjutkan. Saling menyemangati, menguatkan, dan terus mengingatkan. Ironis, ketika di luar sana banyak muslimah yang rela mati demi hijabnya, di sini saudari-saudari kita masih kukuh dengan sejuta alasan mengapa mereka masih belum juga mampu berhijab. Ketika di belahan bumi yang lain para muslimah merasa sedih karena sulit mengenakan hijab dalam aktivitas sehari-harinya, di sini saudari kita banyak yang merasa risih karena terus diingatkan akan kewajibannya untuk berhijab. Miris ya rasanyaa sedih sekali.

Yuk ah, shalihat…kenakan hijabmu. Ini bukan tentang kesiapan hati, tetapi tentang kewajiban diri. Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Ayo kita samasama berjuang, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini, terus ajak keluarga dan sahabat dalam kebaikan. Buktikan cinta kita dengan berhijab, teduhkan dunia hingga ke surga nantinya.
Salam solidaritas untuk muslimah hijab se-dunia!

@DEPkemuslimahan
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (FULDFK) Indonesia

Suport by DEP-IT Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (FULDFK) Indonesia

ADAB MAKAN DAN MINUM SEORANG MUSLIM DITINJAU DARI SEGI KESEHATAN (1)

Oleh Fitria Dewi Larasati dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Makan dan minum adalah kebutuhan setiap makhluk hidup. Tanpa makan dan minum manusia tak akan mampu membentuk peradaban kehidupan. Sebagai muslim apapun kegiatannya, apapun makanannya, apapun minumannya pasti dianjurkan memulainya minimal dengan mengucapkan basmalah dan diakhiri dengan hamdalah. Inilah yang diajarkan Islam kepada penganutnya. Belum lagi adab makan dan minum lainnya yang bila kita hubungkan dengan kesehatan ternyata memberikan efek positif lagi diberkahi. Misalnya saja Islam melarang umatnya untuk makan dan minum sambil berdiri ataupun larangan bernafas dan meniup air minum. Kenapa demikian? Lalu, bagimana dengan adab-adab lainnya? Mari kita bahas.


Islam mengatur adab dalam berbagai hal, salah satunya saat makan dan minum. Berikut ini adalah beberapa adab makan yang sesuai dengan tuntunan Islam yang sejalan dalam memelihara kesehatan.

1. Membaca basmallah saat memulai dan mengakhirinya dengan hamdalah

Di antara sunnah Nabi adalah mengucapkan bismillah sebelum makan dan minum dan mengakhirinya dengan memuji Allah.

Menyebut nama Allah sebelum makan akan mencegah setan dari ikut berpartisipasi menikmati makanan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya syaitan turut menikmati makanan yang tidak disebut nama Allah padanya. Syaitan datang bersama anak gadis tersebut dengan maksud supaya bisa turut menikmati makanan yang ada karena gadis tersebut belum menyebut nama Allah sebelum makan. Oleh karena itu aku memegang tangan anak tersebut. Syaitan pun lantas datang bersama anak Badui tersebut supaya bisa turut menikmati makanan. Oleh karena itu, ku pegang tangan Arab Badui itu. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya sesungguhnya tangan syaitan itu berada di tanganku bersama tangan anak gadis tersebut.” (HR Muslim no. 2017).

Apabila kita baru teringat kalau belum mengucapkan bismillah sesudah kita memulai makan, maka hendaknya kita mengucapkan bacaan yang Nabi ajarkan sebagaimana dalam hadits berikut ini, dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu kalian hendak makan, maka hendaklah menyebut nama Allah. Jika dia lupa untuk menyebut nama Allah di awal makan, maka hendaklah mengucapkan bismillahi awalahu wa akhirahu.” (HR Abu Dawud no. 3767 dan dishahihkan oleh al-Albani).

Apabila kita selesai makan dan minum lalu kita memuji nama Allah maka ternyata amal yang nampaknya sepele ini menjadi sebab kita mendapatkan ridha Allah. Dari Anas bin Malik, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ridha terhadap seorang hamba yang menikmati makanan lalu memuji Allah sesudahnya atau meneguk minuman lalu memuji Allah sesudahnya.” (HR Muslim no. 2734).

2. Makan dan minum menggunakan tangan kanan dan tidak menggunakan tangan kiri

Dari Jabir bin Aabdillah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “janganlah kalian makan dengan tangan kiri karena syaitan itu juga makan dengan tangan kiri.” (HR Muslim no. 2019) dari Umar radhiyallahu ‘anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian hendak makan maka hendaknya makan dengan menggunakan tangan kanan, dan apabila hendak minum maka hendaknya minum juga dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan itu makan dengan tangan kiri dan juga minum dengan menggunakan tangan kirinya.” (HR Muslim no. 2020).

Imam Ibnul Jauzi mengatakan, meskipun demikian jika memang terdapat alasan yang bisa dibenarkan yang menyebabkan seseorang tidak bisa menikmati makanan dengan tangan kanannya karena suatu penyakit atau sebab lain, maka diperbolehkan makan dengan menggunakan tangan kiri. Dalilnya firman Allah, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. al-Baqarah: 286).

Apa rahasia di balik sunnah ini?

Lakukanlah percobaan sederhana ini; siapkan dua mangkuk nasi, yang satu diaduk memakai tangan dan yang satunya diaduk memakai sendok. Lalu diamkan selama beberapa jam. Lihat hasilnya.

Ternyata, nasi yang diaduk memakai tangan, sudah basi terlebih dulu. Sedangkan nasi yang diaduk pakai sendok, tahan tidak basi hingga lebih 24 jam. Hal ini, karena di sela-sela jari tangan terdapat enzim pengurai, yang memudahkan alat pencerna dalam lambung manusia.

Bagaimanapun, salah satu penelitian yang dilakukan oleh Dr Charles Gerba dari University of Arizona , mengatakan bahwa kita tidak mungkin menghalangi kuman dan bakteri masuk ke dalam lingkungan kita. Namun kita bisa memerangi kuman dengan cara mencuci tangan setiap sebelum dan selesai beraktivitas. Cairan pembersih masih dianjurkan karena fungsinya adalah menghancurkan membran sel bakteri sehingga aktivitasnya nyaris terhenti. Lagipula, tubuh sudah memiliki sistem kekebalan sendiri yang bisa dioptimalkan dengan berbagai cara.

Banyak orang beralasan makan menggunakan sendok sebagai alasan lebih higienis dibandingkan makan dengan tangan. Padahal belum tentu benar. Menurut penelitian, sendok dan tangan memungkinkan terjadinya kontaminasi dengan bakteri. Sendok bisa lebih bersih dari tangan jika sendok memang dikondisikan pada suatu tempat yang higienis. Paling tidak, kelembapan udara di ruangan selama sendok itu didiamkan tidaklah tinggi sebab uap air adalah medium bakteri berpindah tempat. Namun apakah sendok sendok di rumah kita mendapat penjagaan ketat seperti itu?

Bagaimana dengan tangan ? Tangan sering terkontaminasi dengan bakteri akibat aktifitas tubuh kita. Sehingga jika kondisi tangan sebelum dicuci, jelas persentasi bakteri dalam tangan akan lebih besar dibandingkan pada sendok yang baru saja dicuci. Maka kita perlu mencuci tangan kita. Ini tidak membunuh bakteri namun menghapus bakteri. Kondisinya sama seperti kita menghapus minyak pada tangan kita dengan sabun.

Pada kondisi yang sama sama telah dicuci baik sendok maupun tangan, tangan memiliki kebersihan yang lebih terjamin. Karena tangan mengandung enzim RNAase yang disekresikan oleh tangan kita. Enzim ini berfungsi untuk kekebalan tubuh kita dan proteksi terhadap bakteri. Enzim ini selalu disekresikan. Ketika tangan kamu kotor, enzim ini sedang mengikat bakteri sehingga aktifitas bakteri itu tidak dapat maksimal. Namun jika sangat kotor maka persentase bakteri akan jauh lebih besar sehingga bakteri akan menaklukan pengaruh dari RNAase. Saat tangan kamu dicuci, bakteri terkikis sehingga persentase enzim menjadi lebih banyak. Saat kamu makan, enzim ini terus mengikat bakteri dan masuk ke dalam tubuh kamu. Enzim tersebut membunuh bakteri selama proses pencernaan.

Bagaimana dengan sendok? ketika sendok dicuci, tidak semua bakteri terkikis. Termasuk masih menempelnya bakteri yang membahayakan tubuh sebab bakteri tidak sepenuhnya merugikan. Ketika makan dengan sendok, bakteri yang membahayakan tersebut akan masuk ke dalam tubuh tanpa adanya perlawanan dari enzim RNAase.

Lalu bagaimana dengan pemakaian cairan pembersih? Tidak apa apa, sebab sistem kerjanya adalah merusak lapisan membran terluar pada bakteri sehingga bakteri akan lebih non aktif.

Maha Besar Allah dengan segala ilmuNya. Makan dengan menggunakan tangan adalah sunnah. Karena memang memakai tangan itu lebih safety dibandingkan memakai sendok. Bahkan nabi mengemut kelima jarinya satu persatu setelah makan.

3. Memakan makanan yang berada di dekat kita

Umar bin Abi Salamah meriwayatkan, “Suatu hari aku makan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku mengambil daging yang berada di pinggir nampan, lantas Nabi bersabda, “Makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR. Muslim, no. 2022)

4. Anjuran makan dari pinggir piring

Makan dari arah pinggir atau tepi dan memakan apa yang ada disekitarnya (yang terdekat) merupakan bimbingan Rasulullah SAW, karena pada bimbingan beliau terkandung barakah dam merupakan penampilan adab yang baik.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada ‘Umar bin Abi Salamah: “Wahai anak! Sebutlah nama Allah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang ada disekitarmu (didekatmu).” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda, “Jika kalian makan, maka janganlah makan dari bagian tengah piring, akan tetapi hendaknya makan dari pinggir piring. Karena keberkahan makanan itu turun dibagian tengah makanan.” (HR Abu Dawud no. 3772, Ahmad, 2435, Ibnu Majah, 3277 dan Tirmidzi, 1805. Imam Tirmidzi mengatakan, “Hadits ini hasan shahih.”)

5. Cuci tangan sebelum makan dan sesudah makan

Tentang cuci tangan, ajaran Islam juga mewajibkan membasuh tangan saat berwudhu, yang dilakukan minimal 5 kali dalam sehari sebelum shalat. Selain itu, ada pula hadist yang menjelaskan mengenai perilaku mencuci tangan ini: Idzastaiqodzo ahadukum min naumihi falyaghsil yadahuPotongan hadist ini berarti, “Apabila salah satu darimu bangun tidur maka hendaknya dia mencuci tangannya”. (HR. Muslim).

Hadist ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan diri terutama tangan. Baru bangun tidur saja dianjurkan mencuci tangan, apalagi jika sehabis melakukan kegiatan yang memungkinkan tangan kita tercemar berbagai kuman penyakit seperti: sehabis BAB, bekerja di sawah, di kebun, di pasar, di rumah dan lain lain.

Tangan kita perlu dicuci dengan benar yaitu menggunakan air bersih yang mengalir dan sabun, terutama sebelum makan atau memegang makanan, membuat atau menyiapkan makanan, menyuapi bayi dan lain lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktek cuci tangan pakai sabun (CTPS) dapat mencegah infeksi kulit dan mata, serta menurunkan hampir separuh kasus diare dan sekitar seperempat kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas).

Masih banyak lagi contoh-contoh ajaran Islam yang tertera di Alqur’an dan Hadits yang sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan. Surat Al Baqarah Ayat 222 misalnya, menjelaskan mengenai orang-orang yang mau bertaubat dan yang menjaga kebersihan sangat dimuliakan oleh Allah, karena Allah akan mencintainya. Dan orang orang yang memelihara kebersihan ini dijanjikan surga oleh Allah, seperti diterangkan dalam salah satu hadits riwayat Thabraani, “Sesungguhnya Allah membangun Islam di atas kebersihan. Dan tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang memelihara kebersihan”.

Mengenai cuci tangan sesudah makan, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang tidur dalam keadaan tangannya masih bau daging kambing dan belum dicuci, lalu terjadi sesuatu, maka janganlah dia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Ahmad, no. 7515, Abu Dawud, 3852 dan lain-lain, hadits ini dishahihkan oleh al-Albani).

6. Tidak duduk sambil bersandar

Abu Juhaifah mengatakan, bahwa dia berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah berkata kepada seseorang yang berada di dekat beliau, “Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR Bukhari).

Duduk sambil bersandar dalam hadits tersebut adalah segala bentuk duduk yang bisa disebut duduk sambil bersandar, dan tidak terbatas dengan duduk tertentu. Makan sambil bersandar dimakruhkan dikarenakan hal tersebut merupakan duduknya orang yang hendak makan dengan lahap.

7. Tidak tengkurap

Termasuk gaya makan yang terlarang adalah makan sambil tengkurap. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dua jenis makanan: yaitu duduk dalam jamuan makan yang menyuguhkan minum-minuman keras dan makan sambil tengkurap.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majjah. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani.

Cara duduk pertama yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, beliau mengatakan, “Aku melihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memakan kurma sambil duduk dengan meletakkan pantat di atas lantai dan menegakkan dua betis kaki.” (HR Muslim)

Dan cara duduk kedua, diriwayatkan dari Abdullah bin Busrin, “Aku memberi hadiah daging kambing kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau memakannya sambil duduk berlutut. Ada seorang Arab Badui mengatakan, “Mengapa engkau duduk dengan gaya seperti itu? Lalu Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikanku seorang hamba yang mulia dan tidak menjadikanku orang yang sombong dan suka menentang.” (HR Ibnu Majah, sanad hadits ini dinilai hasan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, 9/452).

8. Segera makan ketika makanan sudah siap

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika makan malam sudah disajikan dan Iqamah shalat dikumandangkan, maka dahulukanlah makan malam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hikmah dari larangan dalam hadits di atas adalah supaya kita tidak melaksanakan shalat dalam keadaan sangat ingin makan, sehingga hal tersebut mengganggu shalat kita dan menghilangkan kekhusyukannya. Tetapi, jika makanan sudah disajikan namun kita tidak dalam kondisi terlalu lapar, maka hendaknya kita lebih mengutamakan shalat dari pada makan.

9. Makan dengan tiga jari

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sesudah selesai makan.

Dari Ka’ab bin Malik dari bapaknya beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.” (HR Muslim no. 2032 dan lainnya)

Berkenaan dengan hadits ini Ibnu Utsaimin mengatakan, “Dianjurkan untuk makan dengan tiga jari, yaitu jari tengah, jari telunjuk, dan jempol, karena hal tersebut menunjukkan tidak rakus dan ketawadhu’an. Akan tetapi hal ini berlaku untuk makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari. Adapun makanan yang tidak bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari, maka diperbolehkan untuk menggunakan lebih dari tiga jari, misalnya nasi. Namun, makanan yang bisa dimakan dengan menggunakan tiga jari maka hendaknya kita hanya menggunakan tiga jari saja, karena hal itu merupakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarah Riyadhus shalihin Juz VII hal 243)

Dengan menggunakan tiga jari (jempol, telunjuk, dan jari tengah), makanan yang masuk ke mulut lebih seimbang jumlahnya dengan jumlah enzim, sehingga enzim amilase dan lisozim yang diproduksi kelenjar saliva mencerna makanan dengan maksimal . sehingga makanan menjadi lembut dan mudah dicerna.

10. Menjilati jari dan sisa makanan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu di antara kalian makan, maka janganlah dia bersihkan tangannya sehingga dia jilati atau dia minta orang lain untuk menjilatinya.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031).

Dengan menjilati atau menghisap jari maka dapat merangsang proses keluarnya air liur dan enzyme (sejenis alat percerna makanan) lebih banyak, sehingga pencernaan lebih sempurna.

11. Mengambil makanan yang jatuh

Termasuk dalam tuntunan cara makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam adalah mengambil bila makanan tersebut terjatuh dari tangan. Ini bukan berarti bahwa Islam tidak menjaga kebersihan dan kesehatan. Oleh karenanya ketika mengambil makanan yang jatuh tersebut harus dibersihkan bila terdapat kotoran padanya. Dalam hal ini seseorang tidak boleh beranggapan bahwa mengambil makanan yang jatuh termasuk merusak adab Islam.

Mari cermati apa yang diajarkan dan dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam kepada umatnya “Apabila terjatuh makanan salah seorang dari kalian, maka ambillah lalu bersihkan kotoran yang ada padanya kemudian makanlah dan jangan membiarkannya bagi setan.” (HR. Muslim no. 2033).

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam menyebutkan salah satu adab makan dan minum yaitu apabila ada makanan yang terjatuh, dianjurkan bagi kita untuk mengambilnya bila tidak terdapat kotoran padanya, dan bila padanya ada kotoran maka hendaklah kita member-sihkannya bila memungkinkan.

Bila tidak memungkinkan apa yang harus diperbuat? Al-Imam An-Nawawi mengatakan “Di dalam hadits-hadits ini terdapat beberapa sunnah (di antaranya) disunnahkan mengambil dan memakan makanan yang jatuh setelah dibersihkan dari kotoran, yang demikian ini bila makanan itu tidak terjatuh pada tempat najis. Bila terjatuh pada tempat yang najis, maka makanan tersebut akan menjadi najis dan harus dibasuh jika memungkinkan. Bila tidak memungkinkan maka dia memberikannya untuk binatang dan jangan dia membiarkan untuk setan.” (Syarah Shahih Muslim, 7/204)

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam ini mengingatkan kepada kita jangan sampai kita membiarkan kesempatan bagi setan untuk menyantap makanan yang pada akhirnya mendapatkan kekuatan untuk mengganggu Bani Adam.

Telah dinukilkan oleh pengarang kitab Ar-Raudhah An-Nadiyyah, dari salah seorang ulama bahwa dia berkata “Salah seorang sahabat kami berziarah (mengunjungi) kami, lalu kami keluarkan makanan baginya. Di saat mereka makan, banyak makanan yang berjatuhan dari tangannya dan berserakan di tanah. Dia berusaha dengan penuh kesungguhan untuk mengambilnya dan kemudian memakannya, lalu aku menjauh darinya dan hal ini menjadikan yang hadir terheran-heran. Pada suatu hari ada seseorang kesurupan, lalu setan tersebut berbicara melalui lisannya dan di antara percakapannya adalah “Sesungguhnya aku akan melewati orang yang sedang makan dan makanan itu sangat mengundang selera. Orang tersebut tidak mau memberiku sedikitpun, aku berusaha menyambarnya dari tangannya lalu dia mencabutnya balik dari tanganku.” (At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah, 3/81)

12. Tidak mengambil makanan lebih dari satu

Larangan ini berlaku pada saat makan bersama tidak pada saat sendirian, dari Syu’bah dari Jabalah beliau bercerita: “Kami berada di Madinah bersama beberapa penduduk Irak, ketika itu kami mengalami musim paceklik. Ibnu Zubair memberikan bantuan kepada kami berupa kurma. Pada saat itu, Ibnu Umar melewati kami sambil mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengambil makanan lebih dari satu kecuali sesudah minta izin kepada saudaranya.” (HR Bukhari no. 2455 dan Muslim no 2045) Ibnul Jauzi mengatakan, “Hadits ini berlaku pada saat makan bersama-sama. Pada saat makan bersama biasanya orang hanya mengambil satu kurma saja. Maka jika ada orang yang mengambil lebih dari satu, maka berarti dia lebih banyak daripada yang lain. Sehingga harus minta izin terlebih dahulu dari orang lain.” (Kaysful Musykil, 2/565)

(Bersambung)

 

DAFTAR PUSTAKA

Rahmadi, Agus (2014). Mukjizat Islam : Makan Sehat Ala Rasulullah. http://baitulmaqdis.com/mukjizat-islam/makan-sehat-ala-rasulullah/- diakses Mei 2015

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat (2015). Sanitasi Dalam Sudut Pandang Islam. http://stbm-indonesia.org/dkconten.php?id=6847-diakses pada Mei 2015

Abdurrahman, Abu Usamah (2011).  Makan Ala Islam Bagian 3. http://asysyariah.com/makan-ala-islam-bagian-3/- diakses Mei 2015

Munandar, Aris (2008). Adab Makan Seorang Muslim. www.muslim.or.id- diakses Mei 2015

MASALAH UMAT JUGA MASALAH KU (3)

Oleh Silmi Kaffah dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Minggu kemarin telah dibahas mengenai masalah eksternal seperti penjajahan dan ghazwatul fikri. Kali ini akan dilanjutkan dengan masalah eksternal lainnya. Namun sebelumnya mari coba cermati kalimat dibawah ini.

“Kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik” (Ali Bin Abi Thalib).

Bukan hal yang tidak mungkin bahwa kebaikan itu dapat dikalahkan oleh kejahatan. Pun bukan hal yang tidak mungkin dimana suatu saat kebaikan akan dianggap masalah dan kejahatan dianggap kebaikan. Oleh karenanya perlu kekompakan terhadap sesama muslim dan sadar akan pentingnya berjama’ah. Umat Islam yang tidak kuat dari dalam akan dengan mudah goyah. Tumpukan masalah pun akan semakin tinggi. Begitu pun dengan masalah dari luar yang semakin mudah merusak umat Islam.

Masalah dari luar yang masih terngiang di telinga adalah ancaman kekerasan. Ancaman kekerasan ini sebenarnya telah dimulai semenjak Islam itu hadir atau saat kebenaran hakiki itu turun dari langit ke bumi melalui nabi sang pembenar untuk menyampaikan wahyu dari Tuhan. Tiap nabi menemukan rintangan dan ancaman dari kaumnya. Mulai dari dipinggirkan dari kaumnya sendiri, dikucilkan, kekerasan dan bahkan pembunuhan. Nabi Muhammad misalnya harus rela berhijrah ke Madinah Yastrib karena desakan dan ancaman pembunuhan dari kaum kafir Quraisy dan banyak lagi kisah nabi lainnya. Muslim rohingya di Burma dan Bangladesh misalnya. Mereka dipinggirkan karena tidak diterima dan dianggap pendatang bahkan dibunuh. Pendiskriminasian agama Islam jelas terlihat. Seakan-akan Islam adalah perusak dan penghancur sebuah negara.

Baru-baru ini juga muncul isu atas kemunculan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Sebuah pergerakan yang menginginkan terbentukanya negara Islam di Irak dan Syiria. ISIS dikenal karena memiliki interpretasi atau tafsir yang keras pada Islam, kekerasan brutal seperti bom bunuh diri, dan menjarah bank. Kejelasan tentang keberadaan ISIS juga masih banyak dipertanyakan dan membingungkan. Ada beberapa pengamat yang berpendapat ISIS adalah buatan Amerika dan propoganda untuk menjelekan Islam.

Akan menjadi sebuah ancaman apabila ini memang benar sebuah propoganda untuk menjelekkan Islam yang sebenarnya adalah agama perdamaian dan kasih sayang. Karena saat masyarakat dunia melihat sebuah kekerasan dan teror sebagai bagian dari Islam, maka kemungkinan buruknya adalah setiap muslim dianggap membahayakan dan patut diawasi. Bahkan mungkin muslim di negara yang minoritas bisa disingkirkan dan tidak mendapat hak hidup sebagaimana warga negara lainnya. Kemungkinan lainnya adalah saat ada muslim yang taat dan tidak melakukan teror atau berbuat kerusakan pada negara Islam tertentu juga akan dianggap aneh dan menjadi ancaman bagi muslim lainnya. Padahal mereka hanya menjalankan syariat, sunnah dan berusaha menjadi muslim secara kaffah. Kondisi ini juga diperburuk oleh pemahaman agama yang cenderung menurun pada kebanyakan umat Islam.

Di Indonesia sendiri pengaruh akan ISIS ini terlihat dengan jelas. Muncul ajakan dalam bentuk tulisan ataupun media tertentu dari beberapa oknum untuk ikut berjuang di Irak dan Syiria. Bahkan yang lebih ekstremnya adalah pada akhir Maret kemaren, telah diblokir 19 situs Islam yang dilakukan oleh Kemenkominfo atas permintaan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terosime). Pihak BNPT beranggapan bahwa situs-situs tersebut bersifat radikal (keras), membahyakan masyarakat, mengajak masuk ISIS, menjelekan pemerintah dan mudah membid’ahkan atau mengkafirkan umat Islam lain. Ditakutkan situs-situs ini nantinya dapat merusak perdamaian dan mengundang ancaman kekerasan di Indonesia.

Padahal selama ini, beberapa situs yang memuat berita tentang perkembangan Islam terbaru, dinilai sangat bermanfaat dan bahkan menjadi sumber utama berita Islam yang seringnya tidak ditampilkan di berita dan media massa nasional. Minimnya berita-berita Islam yang ditampilkan di berita harian televisi dan media massa nasional membuat masyarakat merasa beruntung akan hadirnya situs-situs ini. Bukan hanya berita-berita terupdate yang diberikan, tetapi situs-situs tersebut juga menyediakan ilmu-ilmu fiqh, tauhid dan akhlak, sehingga masyarakat merasa dengan keberadaan situs-situs tersebut membantu memenuhi kebutuhan rohani. Pemblokiran situs Islam ini oleh karenanya tentu menuai kritik dari sejumlah kalangan masyarakat. Namun akhirnya pada 8 April 2015 melalui PSIBN (Penanggulangan Situs Internet Bermuatan Negatif) 12 situs kembali dibuka.

***

Masalah selanjutnya adalah konspirasi. Sebuah rahasia dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh. Belakangan ini terjadi beberapa kudeta yang dilancarkan kepada pemerintah sebuah negara yang sah. Misalnya saja kudeta yang terjadi di Mesir, Libya dan Yaman.

Semua ini bermula karena terjadinya Arab Spring di negara-negara Islam seperti di Tunisia, Yaman, Bahrain, Suria dan Mesir. Sebuah pergerakan unjuk rasa atau revolusi meminta penguduran diri pemimpin negara karena sifatnya yang otoriter, terjadinya kemiskinan yang ekstrem, korupsi yang merajalela, pelanggaran HAM, tidak pro rakyat dan banyak faktor lainnya. Tujuan dari Arab Spring ini adalah untuk menormalisasikan keterpurukan negara dan memilih pemimpin yang adil dan bijak.

Saat terjadi Arab Spring dan pemimpin-pemimpin adil serta bijak terpilih. Mulailah bermunculan kudeta dari negara-negara tersebut. Kudeta ini tidak memiliki alasan yang jelas. Bahkan pemimpin-pemimpin negara yang berprestasi dan pemerintahan yang baik dipaksa untuk turun. Belakangan diketahui bahwa kelompok pengkudeta ini punya iktikad buruk dan melakukan konspirasi. Keikutsertaan zionis yahudi juga menjadi bagian dari analisis beberapa pengamat.

Kudeta di Yaman dilakukan oleh syiah houthi. Mereka menginginkan Yaman menjadi sebuah negara syiah. Hal yang mengejutkan ternyata kudeta tersebut didukung oleh syiah di Iran. Bahkan pengkudetaan di Yaman ini sebagai awal pergerakan syiah sebelum menguasai dan menghancurkan Ka’bah di Mekah. Inilah syiah laknatullah.

Masih banyak lagi kemungkinan konspirasi yang dilakukan oleh beberapa oknum dan musuh-musuh Islam. Semakin banyak konspirasi buruk yang direncanakan maka semakin banyak kerusakan yang akan terjadi. Konspirasi yang tidak terlihat ini seakan menjadi momok yang menakutkan bagi umat Islam sendiri.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al Baqarah Ayat 120).

Lalu apa yang harus kita lakukan selaku muslim? Ada beberapa solusi yang dapat kita lakukan selaku umat Islam yang peduli dengan maslah-masalah ini. Pertama; tingkatkan kualitas keislaman dengan terus melakukan tarbiyah dan istiqamah menjalankan perintah agama. Meningkatkan kualitas keislaman dapat dilakukan dengan membaca Al-Quran, kitab-kitab ilmu, berteman dengan orang saleh, mengikuti kajian ilmu secara rutin atau memanfaatkan internet untuk membaca ilmu agama dan juga video-video kajian Islam.

Imam Nawawi dalam salah satu karya populernya, Syarh Matn Al-Arba`in Al-Nawawiyyah, mengetengahkan sebuah hadits dengan judul Al-Istiqamah. Hadits ini jatuh pada urutan kedua puluh satu. Bunyinya, “Dari Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdullah Al-Tsaqafiy radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku telah berkata : ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu.’ Bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : ‘Katakanlah : Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu.” (HR. Muslim).

Solusi yang kedua adalah dengan meningkatkan rasa solidaritas sesama muslim. Rasulullah saw. bersabda:” Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain” (HR. Muslim).

Ketiga yaitu dengan ikut terjun dan andil dalam membantu menyelesaikan masalah umat. Misalnya seperti memberikan sumbangan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan dan ikut serta dalam melakukan gerakan penyadaran kepada umat Islam. Hal yang paling mudah adalah di lingkungan keluarga terlebih dahulu dan teman dekat. Sampaikanlah walau hanya satu ayat.

Keempat dengan mengikuti perkembangan berita Islam terkini baik nasional dan internasional. Seorang muslim haruslah dapat memanfaatkan dengan baik perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukan malah terseret oleh arus globalisasi dan menjadi budak keburukan dari IPTEK.

Solusi terakhir adalah dengan berdoa kepada Allah. Setelah berusaha sesuai dengan kemampuan masing-masing diri, maka berdoalah. Ianya dapat merubah takdir. Doa jualah yang menjadi senjata terkuat seorang muslim. Menembus batas yang tidak mungkin ditembus oleh usaha manusia. Merubah ketidakmungkinan menjadi mungkin.

Maha Suci Allah yang kepadaNya lah semua yang ada di langit dan di bumi bergantung. Tiada daya dan kekuatan tanpa kehendak dan kuasaNya.

Dari uraian tentang permasalahan-permasalahan ini. Maka sebagai seorang muslim haruslah sadar bahwa masalah umat bukan saja masalah muslim tertentu saja, melainkan masalah semua muslim. Dalam menyikapi masalah ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan seperti meningkatkan kualitas Islam dan istiqamah, meningkatkan solidaritas sesama muslim, ikut terjun dan andil dalam membantu menyelesaikan masalah umat, mengikuti perkembangan berita Islam terkini dan berdoa.

***

 

 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

 

Ensiklopedia Bebas. 2015. Konflik Israel dan Palestina. http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Israel_dan_Palestina – diakses pada April.

Hilal, Fauzan. 2015. Masuk Daftar Pemblokiran, Kemenkominfo Panggil Pengelola Situs Islam. http://news.metrotvnews.com/read/2015/04/07/382227/masuk-daftar-pemblokiran-kemenkominfo-panggil-pengelola-situs-islam -diakses pada April.

Novia, Dyah Ratna Meta. 2015. Situs Islam Kembali Dibuka, MUI : Kominfo bekerja asal-asalan.http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islamnusantara/15/04/10/nmkm50-12-situs-islam-kembali-dibuka-mui-kominfo-bekerja-asalasalan- diakses pada April.

Yasmar, Ulyadi. 2015. Qadhaya Al Ummah. Kajian Islam Kampus Bersama di

Masjid Ar Rahman Azkia, Padang, 5 April.

Somad, Abdul. 2014. 37 Masalah Populer. Pekanbaru : Tafaqquh Media.

Tim Penyusun Materi Responsi Agama Islam Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Ar Rahman. 2009. Buku Panduan Responsi Agama Islam. Padang : Tim Dakwah Jurnalistik (TDJ) UKMI Ar Rahman Universitas Baiturrahmah.

MASALAH UMAT JUGA MASALAH KU (2)

Oleh Silmi Kaffah dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Masih dengan bahasan masalah pada umat Islam. Ternyata masalah umat ini terbilang cukup banyak. Jika kemarin sudah dibahas tentang masalah internal. Saat ini juga terdapat masalah yang tak kalah penting bermunculan pada umat Islam yaitu masalah eksternal atau masalah yang berasal dari luar tubuh umat Islam. Seperti masalah penjajahan, Al ghazwatul fikri, acaman kekerasan dan konspirasi.

Tanpa disadari oleh umat Islam ternyata ada beberapa muslim di negara tertentu yang dijajah. Bukan hal yang sembarangan. Ini seperti mengambil sebuah bagian yang bukan haknya. Sebut saja Palestina. Palestina adalah tempat yang Allah pilih sebagai kiblat pertama umat Islam dan dari sini pula manusia-manusia pilihan Al Anbiya dilahirkan. Palestina dijajah oleh Zionis. Sebuah gerakan nasional orang-orang yahudi dan budaya yahudi yang mendukung terciptanya sebuah tanah air Yahudi di wilayah yang mereka sebut sebagai Tanah Israel. Zionis Yahudi mengakui bahwa palestina adalah tanah air “negara” mereka.

Mari kita sedikit mengulas tentang sejarah Palestina ini. Sejak abad ke-16 Palestina masuk ke dalam wilayah kerajaan Sultan Ottoman. Setelah perang dunia I (1920-1948) dan runtuhnya kesultanan Ottoman, Liga Bangsa-Bangsa mempercayakan Britania Raya (Inggris) sebagai mandataris Palestina. Sehingga saat itu wilayah Palestina bisa dikatakan juga bagian dari negara Britania Raya. Muslim adalah mayoritas penduduknya, dan Yahudi sekitar sepertiganya.

Tepatnya pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan untuk membagi wilayah mandat Britania atas Palestina. Tetapi hal ini ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah lainnya dan juga banyak negeri-negeri Muslim. Kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Sedangkan kota Yerusalem yang dianggap suci, tidak hanya oleh orang Yahudi tetapi juga orang Kristen, akan dijadikan kota internasional. Pada 14 Mei 1948, Yahudi secara sepihak memproklamirkan kemerdekaannya. Berawal dari sinilah muncul konflik dan peperangan antar Palestina dan Israel (zionis Yahudi) hingga beberapa tahun belakangan ini.

Badan statistik Palestina menyatakan pada tahun 2013 bahwa selama menjajah Palestina sejak 1948, Israel telah menguasai  lebih dari 85% wilayah Palestina. Sebanyak 774 wilayah Palestina telah dikuasai Israel dan 531 diantaranya telah dihancurkan. Selama penjajahan  juga Israel telah melakukan 70 kali pembantaian tanpa pandang bulu yang menyebabkan 15 ribu warga Palestina syahid. Mahasuci Allah yang tidak tidur dan keras balasanNya.

Sampai saat ini masih terdengar oleh kita bahwa Israel masih saja ingin menguasai keseluruhan daerah Palestina. Berbagai tindakan mereka lakukan untuk mengusir masyarakat Palestina. Walau sudah dilakukan perundingan damai dan juga musyawarah melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dunia. Ini juga masih menjadi prioritas kita sebagai muslim untuk membantu sesama muslim lainnya.

 ***

Masalah serius kedua yang dialami umat Islam saat ini adalah ghazwul fikri (perang pemikiran). Adanya perang pemikiran dan gerakan pemurtadan dari musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Strategi yang dipakai dalam memerangi kaum muslimin kian hari semakin dahsyat dan semakin terorganisir dengan rapi.

Paham-paham dan ajakan-ajakan untuk ikut pada aliran sesat sangat membahayakan umat Islam saat ini. Contohnya paham islam ortodoks, syiah, pengkristenisasian dan ajakan atas paham sesat lainnya. Syiah misalnya telah keluar dari ajaran Al Quran dan sunnah, menganggap Al Quran saat ini tidak orisinil lagi dan membuat kitab baru, mudah mengkafirkan sahabat-sahabat nabi yang bahkan dijamin surga oleh Allah, memutarbalikkan hukum-hukum Allah (hukum pernikahan, dll), ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama dan mudah membunuh mayoritas muslim suni (ahlus sunnah wal jama’ah) karena mereka menganggapnya sebagai jihad dan sebuah perbuatan mulia.

Usaha dari mereka yang tidak menginginkan Islam dan kaum muslimin tegak dan memimpin di bumi ini diguncang dengan menggunakan bermacam-macam strategi dan taktik yang kini banyak menampakkan hasilnya dan sulit dicegah dampak perluasannya. Penjajahan pemikirin ghazwul fikri adalah metode paling canggih yang mereka gunakan. Terbukti penjajahan pemikiran ini jauh berbahaya ketimbang penjajahan atau serangan militer kompensasional. Jika pada peperangan penjajahan militer, senjata yang dipakai musuh dapat terlihat dengan mata, akan tetapi penjajahan dalam perang pemikiran akan kesulitan menentukan yang mana kawan dan yang mana lawan.

Pada umumnya ghazwul fikri yang paling khas adalah munculnya pribadi-pribadi dari kaum muslimin yang berperang dalam penyambung lidah dan menara dari misi dan ide pemikiran destruktif dari kaum kufar. Mereka ini adalah kaum muslimin yang telah tershibghoh atau terwarnai oleh pendidikan barat orientalis. Generasi yang dengan lantang dan tidak tahu malu. Bahkan dengan penuh kebanggaan menyuarakan dan membela ide-ide dan kepentingan barat.

Perang pemikiran ini diwujudkan dengan segala cara yang ada, memang barat memiliki sarana serta fasilitas pendukungnya. Lewat berbagai cara dan metode yang dimilikinya oknum barat berusaha menguasa seluruh akses informasi yang ada. Hasil dari penguasaan jaringan informasi ini secara keseluruhan berhasil menguasai perkembangan informasi dalam kontrol barat. Melalui berbagai media mereka menyerang umat Islam dengan perancuan dan pengaburan visi dan ajaran Islam. Adapun beberapa ghazwul fikri itu meliputi perusakan akhlak, perusakan pola pikir umat, sekularisasi pendidikan dan pemurtadan. Metoda yang mereka lakukan yaitu dengan cara tasywih (metode pencemaran atau pengaburan), tadhil (penyesatan), taghrib (pembaratan) dan ‘ashirah (modernisme).

Tasywih dilakukan dengan cara menggambarkan Islam dalam bentuk yang samar dengan Islam itu sendiri. Contoh: adanya tabligh akbar yang di sana berpadu dengan pentas musik dan di dukung oleh artis kondang. Hal ini seolah olah menjadi legitimasi bahwa begitulah acara yang islami, padahal hal ini sangat melanggar syariat Islam, karena telah bercampur antara hak dan batil.

“ Janganlah kamu campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kamu sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya. “(Qs Al -Baqarah : 42 ).

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaithan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendakinya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. Fathir (35) : 8).

Contoh lainnya adalah para mujahid Islam yang membela Islam diberitakan melalui media visual, media massa dan sebagainya dengan sebutan teroris, fundamental yang mendiskreditkan Islam, seolah olah Islam identik dengan kekejaman dan kekerasan.

Tadhil yaitu pola yang memiliki tujuan dan sasaran untuk menyimpangkan gerakan umat Islam. Contoh: upaya menggiring umat untuk mencintai hal-hal mistik dan syirik, seperti film Syeh Siti Jenar dan juga film Mahadewa. Dalam film Syeh Siti Jenar digambarkan sebagai seorang wali Allah yang dikemas dalam fantasi mistik secara tidak sadar membawa umat untuk mempercayai hal-hal yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam Al Qur’an, assunnah maupun sirah sahabat. Dalam film Mahadewa digambarkan sosok Tuhan digambarkan sebagai Yogin (petapa), sehingga seolah-olah seperti manusia. Belum lagi pada film ini Tuhan mempunyai istri dan memiliki anak. Dan banyak film lainnya yang berbau syirik. Oleh karenanya kehati-hatian sangat diperlukan dalam memiliah tontonan, terlebih lagi ditotnton oleh anak-anak yang masih belum mampu membedakan yang hak dan batil.

“Dan pasti akan kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan kusuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan kusuruh mereka mengubah ciptaan Allah, (lalu mereka benar-benar mengubahnya). Barang siapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh dia menderita kerugian yang nyata” (QS. An Nisa Ayat 119).

Taghrib (pembaratan) yaitu pola yang mengadopsi seluruh kekayaan (akhlak, pemikiran, mode, dll) ke dalam diri umat Islam. Mulai dari berdatangannya penyanyi dan artis dari barat dengan segala kerusakan moral dan mode yang dibawa hingga pada jenis pakaian yang dikenakannya.

Ashirah (modernisme) yaitu pola yang memakai slogan bahwa ide gaya hidup yang mengacu pada sejarah masa lalu adalah kuno dan terbelakang, dan sementara barat identik dengan modernitas. Contoh: meninggalkan masa lalu, termasuk shirah nabawiyah yang membuat hidup buram dan terbelakang dan diganti dengan gaya hidup yang menjanjikan kecemerlangan yaitu gaya hidup barat yang modern.

Keempat metode ini berlangsung bersamaan dan saling memberikan hasil, sehingga semakin menimbulkan generasi Islam yang kosong dari pengetahuan Islamiah, tidak mengenal Allah, Rasulullah, Dien dan justru ikut serta dalam melecehkan Islam. Fenomena ghazwul fikri merupakan bagian tak terpisahkan dari marker barat untuk menghancurkan Islam yang dilakukan secara silmultan dan terus menerus.

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.
(QS: Ash-Shaff Ayat: 8).

(Bersambung)

***

MASALAH UMAT JUGA MASALAH KU (1)

Oleh Silmi Kaffah dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Jika berbicara mengenai masalah pastilah yang dibicarakan tentang hal-hal yang tidak diinginkan. Manusia mana yang mau dirinya mendapatkan masalah. Ya kan? Tapi ada masanya dimana seseorang tidak dapat terhindar dari sebuah masalah. Baik itu sebagai ujian, cobaan, bencana ataupun azab. Umat Islam sendiri misalnya. Mulai dari nabi Adam As yang mendapat masalah karena bisikan dan rayuan setan hingga masa nabi Muhammad SAW yang juga diterpa oleh beratnya masalah dari kaum kafir quraisy. Bahkan hingga saat ini. Saat dimana fitnah bermunculan, syariat disepelekan, Al Quran ditinggalkan dan Islam mulai dilupakan. Ini lah masalah umat Islam. Apakah kita terus terdiam dari tidur berkepanjangan? Apa yang dapat kita perbuat terhadap masalah-masalah ini? Karena masalah umat bukanlah masalah muslim tertentu saja, melainkan juga menjadi masalah bagi muslim yang lain.

Masalah  adalah suatu hal yang tidak diinginkan keberadaannya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan. Jika masalah tersebut dibiarkan saja dapat menimbulkan masalah baru atau ketidaknyamanan dalam lingkup diri, masyarakat dan juga negara. Qadhaya Al Ummah adalah masalah-masalah yang muncul pada umat. Umat yang dimaksud adalah umat Islam secara keseluruhan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia memang sering mendapatkan dan menemukan sebuah masalah. Bahkan manusia itu sendiri adalah sebuah masalah. Allah mengisahkan dalam Al Qur’an:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al Baqarah ayat 30).

“Dan Kami berfirman:”Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.  Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman:”Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah ayat 36-37)

Masalah dapat dibagi menjadi dua yaitu masalah internal dan masalah eksternal. Masalah yang muncul dari dalam tubuh umat Islam itu sendiri dikenal dengan masalah internal. Mulai dari pribadi seorang muslim sendiri hingga bermasyarakat dan bernegara. Pribadi muslim yang tidak memiliki ilmu agama sama sekali atau kurang mengerti atau tahu akan ilmu agama namun belum mau menjalankan ajaran agama dengan benar. Ada juga yang dikenal dengan muslim KTP dan muslim beriman. Pembedanya adalah iman, karena iman bukan hanya sekedar percaya akan keberadaan Allah sebagai Tuhan yang esa, tapi juga diikuti dengan lisan dan perbuatan (amal dan akhlaq).

Menjadi muslim saat lahir merupakan sebuah kebaikan dan karunia dari Tuhan. Namun jika muslim sekedar muslim, maka untuk apa manusia diciptakan? Hakikatnya manusia terus tumbuh dan berkembang, begitu juga jiwa dan pikiran yang selalu sejalan dengan bertambahnya umur. Muslim  yang tidak dididik dengan ilmu agama yang benar dan tidak terus meningkatkan kualitas iman serta takwa akan berujung pada sebuah masalah atau mungkin menjadi “senjata makan tuan”, karena dalam Islam tiap manusia yang lahir di dunia ini akan dimintakan pertanggungjawaban oleh Tuhan baik kepada orang tuanya dan juga anak yang sudah baligh atas segala hal yang telah dilakukan.

“(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui( QS. Luqman Ayat 16)

Terbentuknya pribadi muslim yang ideal tidak akan ada tanpa adanya peran keluarga. Dari keluarga inilah input dasar kehidupan diberikan oleh kedua orang tua untuk menghasilkan output yang baik. Semakin berkualitas dan banyak input positif yang diberikan maka semakin berkualitas output yang dihasilkan dan terbentuklah generasi Islam yang membanggakan.

Salah satu keluarga pilihan yang terbaik di muka bumi ini dan diabadikan dalam Al Quran adalah keluarga Luqman. Allah mengisahkan untuk dijadikan pelajaran bagi setiap keluarga di dunia. Dikisahkan bagaimana seorang ayah yang bernama Luqman ini mengajarkan anaknya tentang hikmah dari tiap kejadian dan kunci-kunci ketauhidan sebagai pegangan masa depan dan pembuka pintu amal-amal kebaikan.

Seorang ayah yang sangat tahu bahwa tidak ada artinya hidup jika tidak beriman kepada Allah dan juga menjadi guru terbaik bagi anaknya. Berbeda sekali dengan kebanyakan keluarga muslim saat ini. Bisa dihitung berapa banyak ayah dan anaknya yang terlihat pergi bersama ke masjid dalam rangka berubudiyah kepadaNya. Bisa dihitung berapa banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk menggunakan pakaian sesuai syariat Islam. Bahkan beberapa orang tua bangga bila anaknya sudah memiliki pasangan “pacar” di saat sekolahnya atau bangga dengan pakaian terbuka anaknya. Berapa banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi “orang”. Ya, tentunya memprioritaskan anaknya menjadi seseorang yang dihargai di masyarakat dan berpenghasilan banyak tanpa memberikan pendidikan ilmu dunia dan agama yang matang. Inilah kenyataan umat Islam saat ini. Kemana Luqman-Luqman yang didambakan itu pergi ?

Mari kita bayangkan bagaimana jika pribadi atau sebuah keluarga tidak menerapkan nilai-nilai ketauhidan dan keislaman dalam kesehariannya. Dari beberapa kemungkinan yang muncul, tanda-tanda yang bisa dilihat adalah dari pakaian dan perbuatan. Pakaian yang digunakan tidak mencerminkan muslim sesungguhnya, tidak menutup aurat atau menutup aurat tapi tidak sesuai syariat Islam. Aturan berpakaian yang juga diatur dalam Al Quran dan hadis tidak begitu diperdulikan. Model-model terkinilah yang menjadi acuan tolak ukur berpakaian.

Aktivitas harian yang dilakukan tanpa mengacu pada aturan-aturan Islam. Sebagai contoh adalah menganggap remeh panggilan adzan dan mudah melupakan kewajiban ibadah rutin. Ini dibuktikan dengan banyaknya masjid namun sedikitnya jamaah. Khususnya saat waktu subuh tiba. Banyaknya kejahatan di tingkat masyarakat dan kejahatan pada tingkat negara yang dilakukan oleh muslim. Belum lagi budaya hedonisme, sekulerisme dan liberalisme yang sudah banyak terlihat. Semua ini menggambarkan begitu lemahnya nilai-nilai ketauhidan dan Islam pada pribadi muslim saat ini. Jika dari diri muslim sendiri belum yakin dengan agama rahmatllil’alamin ini dan tidak mau ber-Islam secara kaffah maka rintik-rintik masalah akan berubah menjadi badai masalah yang memporak-porandakan.

“Dan musibah apa saja yang menimpa Kamu, maka semua itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (Surat Asy-Syura ayat 30).

Masalah lain yang terjadi di dalam umat Islam sendiri adalah masalah perbedaan pendapat (Ikhtilaf = perbedaan dengan adanya dalil) dan Madzhab. Seringkali terdengar ada sebagian golongan yang mempermasalahkan ikhtilaf ini, misalnya permasalahan furu’ (permasalahan cabang) secara berlebih-lebihan. Misalnya shalat wajib dengan berqunut, jika tidak shalatnya tidak sah atau enggan shalat di belakang imam yang berqunut. Padahal ini tidak begitu dipermasalahkan oleh para ulama, bahkan Imam Ahmad tidak menyalahkan Imam Syafi’i dan pengikutnya karena berqunut, begitu juga sebaliknya.

Mempermasalahkan janggut dan isbal (celana di bawah mata kaki) secara berlebihan atau menyalahkan dan mencap bid’ah kelompok tertentu karena ada suatu perbedaan dalam beramal atau menganggap kelompok tertentu benar dan yang lain salah tanpa didukung alasan dan ilmu yang jelas juga bukan hal yang bijak dalam beragama. Kondisi ini menciptakan seakan-akan muslim saling bermusuhan dan berpecah belah.

Padahal ikhtilaf dalam memahami nash (teks) bukanlah perkara baru, ini sudah terjadi ketika Rasulullah SAW masih hidup, kemudian berlanjut hingga zaman sahabat setelah ditinggalkan Rasulullah SAW, hingga sampai sekarang ini. Maka yang perlu dilakukan bukan menghilangkan ikhtilaf, seperti rendah hatinya Imam Malik yang tidak mau memaksakan mazhab Maliki, tetapi memahami ikhtilaf sebagai dinamika dan kekayaan khazanah keilmuan Islam, selama ikhtilaf itu dalam masalah furu’, bukan masalah ushul (Prinsip atau dasar), sebagaimana yang dicontohkan para Shalafusshaleh di atas.

Mari kita cermati pesan dari Asy-Syahid Hasan Al Banna, “Mari beramal pada perkara yang kita sepakati, dan mari berlapang dada menyikapi perkara yang kita ikhtilaf di dalamnya”.

(Bersambung)

***