Sampaikan Salamku untuk Ramadhan Tahun Depan

RAMADHAN 1437 H

Manusia yang bertanggung jawab tidak akan pernah ingkar pada janjinya. Ia akan memberikan yang terbaik bagi orang yang disayanginya. Mungkin, begitu pula sikap yang harus kita tunjukkan pada Allah. Bukankah setiap manusia berhutang tauhid hanya pada Allah? Ketidaktenangan adalah perasaan yang akan hinggap dalam setiap jiwa yang berhutang. Maka, sudah semestinya bagi setiap Muslim untuk mencapai ketenangan jiwanya, maka ia harus memberikan yang terbaik di hadapan Allah, mencintaiNya dengan sebaik-baik pembuktian

 

Baris terkahir penulisan bukuku sudah selesai. Minggu depan insyaAllah masuk tahap editing. Malam ini, lorong di RS PKU Muhammadiyah sudah sangat sepi, hanya ada perawat shift malam yang masih berjaga dan mondar-mandir. Aku masih menunggu ibu yang tidak kian datang membawa kantung darah untuk Ayah.

“Mbak nia. Bisa bantu aku nenangin bapak?”, kata Ardi adik lelakiku.

“Bapak kenapa dek?”tanyaku panik

Ayahku adalah seorang penderita gagal ginjal. Beliau sudah cuci darah selama 9 bulan. Tapi sayang, aku terlalu lalai dan sibuk mengurusi kehidupanku sebagai mahasiswi kedokteran yang (mengaku) seorang aktivis. Aku gagal merawat ayah, beliau harus dirawat di Rumah sakit selama 4 bulan karena edema pulmo dan anemia berat. Dan sekarang, penyakitnya sudah merambat ke jantung dan otak. Hasil rontgen terakhir yang kubaca terlihat sekali jantungnya sudah membesar. Sesak nafasnya pun semakin tak terkendalikan. Beliaupun jadi sering marah-marah. Bicara nya ngelantur kemana-mana. Aku seperti tidak kenal dengan Ayahku yang sekarang. Malam itu aku kaget ketika masuk kamar, karena Ayah melepas infusnya secara paksa dan darah mulai bercucuran.

“Astaghfirullahaladzim. Dek Ardi panggil suster!!”

“Pergiii!! Kamu bukan anak bapak!!! teriak bapak membuat seisi ruang gusar.

Sungguh sejujurnya aku sudah tak kuat menahan air mata atas kalimat yang bapak lontarkan tadi. Tak lama kemudian, ibu datang membawa kantung darah untuk tranfusi dan sayur untuk makan sahur.

“Ibu, tadi bapak nekat melepas infusnya.”, ceritaku pada ibu sambil melahap makanan sahurku

“Iya, tadi dek Ardi sudah cerita”, jawab ibu sambil menyiapkan minum untukku

“Maafin nia ya buu”, sejenak aku berhenti melahap santap sahurku

“Tadi suster bilang, untuk mengantisipasi itu. Mungkin kedepannya satu tangan bapak akan diikat”, kata ibu sambil meneteskan air mata

“Astaghfirullah, tapi bapak kan nggak gila”, jawabku dengan wajah tidak terima

Ibu pun hanya menangis dan memelukku erat. Waktu sahur hingga shubuh aku pakai untuk tilawah dan ziyadah di dekat telinga Ayah. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00.     “Bapak, nia kuliah dulu ya”, bisiku ke telinga bapak

“Nia, Bapak minta maaf ya kemarin”

“Alhamdulillah, iya paak. Bapak cepet sembuh yaa”, jawabku sambil menangis

“Kamu naik bst ya? Ada ongkosnya?”Tanya bapak dengan wajah berseri

“Iya pak, ada insyaAllah”

“Maafin bapak juga yaa, belum bisa belikan kamu sepeda motor. Jadi kamu harus capek seperti ini”, kata bapak sambil menatapku

“Bapak, nggak usah dipikirin. Nanti biar Allah yang kasih langsung motornya ke Nia. Bapak nggak usah mikir itu. Yang penting bapak sehat. Nia buat lomba sama adek-adek. Pokoknya yang Ramadhan tahun ini hafalannya nambah paling banyak dapat hadiah langsung dari Allah. Jadi aku minta motornya langsung sama Allah Pak. Doain aja aku yang menang yaa”

“Kamu memang kakak yang baik, Nak. Terus seperti ini ya. . .”, jawab Ayah sambil memelukku.

——————————————————————————————————————

Pagi itu aku berangkat ke kampus pagi sekali. Jam 06.30 aku sudah sampai di masjid Rahmi FK UNS. Di bulan Ramadhan ini, SKI FK UNS punya program “Ramadhan Bersemi”, salah satu kegitannya adalah tilawah pagi 1 juz. Dan kebetulan bidangku Nisaa yang bertugas piket. Setelah itu aku pergi ke kelas untuk persiapan kuliah. Pukul 08.15, dosen tak kunjung datang. Tanda-tanda akan ada kuliah pengganti. Beberapa dari kami ada yang mengisi waktu untuk mengejar target ramadhan dengan tilawah. Senang sekali melihatnya, rasanya kelas menggema dengan suara Qur’an. 1 jam berlalu, ternyata benar, dosen yang akan memberi kuliah ada miss komunikasi, jadi kelasku terpaksa harus mengatur ulang jadwal pengganti.

“Yaaah, udah perjalanan ke kampus 30 menit, dosennya nggak dateng lagi:, gerutu teman sebelahku

“Kamu mau balik nggak di?”, Tanya salah satu kawan kepadaku berniat memberi tumpangan ke gerbang depan

“Aku sendiri aja nggak papa fid, aku mau ke histologi dulu untuk persiapan mengampu pratikum besok”.

 

(Tiba-tiba hp ku bergetar)

“Halo asssalamualaikum”

“Waalaikumusalam, ada apa bu?”, jawabku

“Bapak masuk ICU dek.”, kata ibu dengan isak tangisnya

“Innalilahi . . .Nia langsung kesana bu”

“Jangan nak, disini sudah ada yang jaga. Kamu selsaikan dulu tahfidzmu baru nanti pulang. Jangan lupa doakan ibu bapak ya. Jangan lupa juga beli buka, jangan irit-irit”, jawab ibuku menenangkan

“Iya bu. Ibu juga ya”, timpalku sambil menutup telepon.

 

Aku pun berangkat tahfidz dan tak terasa sudah menunjukkan pukul 17.15

“Ustadzah, nia pulang duluan yaa. Takut nggak dapat bst”, sambil mencium tangan ustadzah

“Loh, buka disini dulu aja nduk.”, kata ustadzah sambil menahan tanganku

“Waduh ndak usah repot ust, saya buka di jalan saja”,elakku lembut

“Eh ora-ora. Ini tak bawakan saja minum dan makannya”,sambil membawakan sebungkus plastik berisi es teh dan nasi bungkus.

“Matur suwun ustadzah”, jawabku smabil menerima pemberian ustadzah

 

Aku pun pergi berjalan meninggalkan markas manarul menuju ke halte di gerbang depan kampus. Adzan magrib sudah berkumandang, tapi bst tidak ada yang lewat. Kalau 10 menit lagi belum lewat, aku harus cari masjid terdekat dulu. Dan Alhamdulillah, tak lama kemudian, ada angkot lewat.

“Mau kemana mbak?”, Tanya abang angkot padaku

“Ke RS PKU Pak”, jawabku gelisah

“Waah, wis ora ono bst mbak. Numpak angkot wae”,bujuk pak angkot

Aku pun naik ke angkot itu, walaupun resikonya aku harus oper lagi.

“Kok pulangnya malem-malem mbak?  Kalau pulang jam segini, sudah ndak ada bst”, kata bapak angkot sambil menasihatiku bahwa tidak baik perempuan pulang malam

“Iya pak, tadi ada urusan sebentar”, jawabku dengan sungkan

“Saya sudah nggak narik lagi malam ini mbak. Saya antar saja lamgsung  ke depan PKU”, kata pak angkot dengan nada ramah

“Alhamdulillah, makasih banyak Pak”, jawabku. Allahuakbar . . .rasanya seperti ditolong langsung sama Allah

 

Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung sholat magrib dan menemui ibu di ruang ICU.

“Minta maaf sama bapak nduk”, tegur ibu padaku

Tubuhku rasanya terpaku melihat keadaan ayah yang semakin memburuk, bahkan sekarang untuk bernafas beliau harus dibantu ventilator.

“Bapak . . .Assalamualaikum”, bisik ku ke telinga Ayah

“Ini nia pak”,kataku yang sudah tak sanggup lagi membendung tangis

“Bapak minta maaf ya Nak. Maafkan bapakmu ini yang mungkin akan melanggar janji menemanimu hingga sumpah dokter nanti. Maafin juga bapakmu ini yang belum bisa belikan motor”

“Astaghfirullah. Jangan bicara gitu Pak, bapak pasti sembuh. Bismillah bapak pasti sembuh”, kataku sambil menenangkan Ayah

“Nak, bacakan bapak hafalanmu yang tadi kamu setorkan. Bapak mau dengar”, pinta Ayahh padaku

“Iya paak. . .”

Seusai aku membacakan quran. Bapak pun memelukku dan berkata dengan terengah-engah

,           “Kejar lailatul qodar ya Nak, doakan bapak ibu mu ini. Sampaikan salam bapak untuk ramadhan tahun depan”

Allah SWT sudah terlampau rindu dengan hambanya yang satu ini. Ayah meninggal malam itu. Sungguh ramadahan tahun itu, adalah ramadhan yang tak kan pernah kulupakan hingga sekarang.

 

Keesokan harinya, ada sepasang suami istri. Seorang dokter spesialis di RS Moewardi.. Mereka datang untuk mengucapkan belasungkawa dan memberikan sebuah hania yang Allah titipkan. Sebuah sepeda motor yang selalu kusebut di doa-doaku, hari ini diijabah oleh Allah tepat 1 hari setelah kepulangan Ayah. Adik-adikku pun langsung memeluk dan berkata, “Aku tau siapa yang menang di lomba kemarin mbak. Aku tau siapa yang dapet hania dari Allah”

 

Aku pun berbisik dalam hati, “Ya Allah terimakasih atas hania indah di bulan suci ini, aku

akan selalu ingat nasihat Ayah bahwa Allah sesuai prasangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan. Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik dari poada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. Semoga aku bisa menyampaikan salam Ayah untuk Ramadhan tahun depan dan semoga aku bisa memberikan amal terbaik di sisa Ramadhan yang harus berakhir tanpa Ayah.

 

RAMADHAN 1438 H

Bahkan yang terlihat kuatpun harus ada yang menguatkan. Bahkan yang terlihat bersemangatpun harus tetap disemangati. Bahkan yang dianggap paham pun harus tetap dipahmkan karena itulah Allah menjadikan Nabi Harun penguat Nabi Musa. Saudaramu, amanahmu. Minimal jaga dia dalam doa-doa di ujung sajadahmu.

 

Alhamdulillah Ayah, aku sampai di Ramadhan 1438 H. Salam ayah sudah kusampaikan. Semoga Ramadhan kali ini, bisa menjadi Ramdhan terbaik Nia, bisik ku dalam hati. Sejujurnya ini adalah ramadhan tersulit karena harus dilewati bersamaan dengan berbagai macam ujian blok, osce dan kawan kawannya. Alhamdulillah ada sahabat dan adik-adikku yang selalu membuatku terpacu untuk melakukan kebaikan.

“Mbak, di hari ke 4 Ramdhan ini aku udah khatam loo. Masak mbak yang hafidzah kalah sama aku”

“MasyaAllah, aku pun jadi semakin terpacu untuk berfastabiqul khoiroot. Ramadhan terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi belum tentu aku dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.”

 

(HP ku bergetar)

“Assalamu’alaikum. Benar dengan mbak nia?”, sapa seorang perempuan dengan nada lembut

“Waalaikumusalam. Iya dengan siapa ya?”, jawabku

“Saya Ekalia mbak. Saya dapat kontak njenengan dari ustadzah mu’minah.”

“Oiya, ada apa mbak?”

“Begini mbak nia, untuk ramadhan tahun ini taman bermain Maya Ananta di RS. Moewardi akan ada TPA setiap senin-jumat. Dan kebetulan kita kekurangan pengajar. Ustadzah mu’minah yang merekomendasikan antum mbak”

“Maya Ananta?”, tanyaku dengan nada sedikit ragu

“Iya, itu taman bermain untuk anak-anak kanker mbak”

“MasyaAllah . . . .insyaAllah saya usahakan. Tapi saya hanya bisa hari senin dan kamis saja. Bagaimana mbak?”, balasku dengan tertegun akan adanya agenda TPA yang mulia itu

“Ogitu ya mbakk, oke ndak apa”

 

Sore ini, aku langsung bisa berkunjung ke Maya Ananta untuk belajar quran bersama anak-anak penderita kanker. Ada satu anak khusus yang harus aku sendiri yang mendatangi ke kamarnya, karena ia baru saja selesai di kemoterapi. Jadi belum beoleh kemana-mana. Tapi karena semangatnya kuat, maka aku yang akan mendatanginya.

“Assalamualaikum”, sapaku kepada penghuni kamar

“Waalaikumusalam. Kakak pasti Kak Nia ya”, jawab seorang anak dengan rambut botak yang terlihat puscat sekali

“Iyaa, kok kamu tau? Namamu siapa?”, timpalku padanya

“Aku suka baca buku kakak tentang perjuangan kakak mengahafal quran dan merawat Ayah. Namaku Afsya”, jawab ia dengan senyum cerah seakan bukan penderita kanker

“MasyaAllah kamu baca bukunya?”, tanyaku dengan wajah kagum

“Aku boleh minta tanda tangan nggak kak?”, sambil menyodorkan buku kepadaku

“Boleh. . . .Asalkan kita tilawah dulu yaa”

 

Seusai tilawah, Afsya pun meneteskan air mata. Dan ia memberiku pesan yang masih terngiang hingga sekarang. “Sedih sekali kak rasanya harus berbaring di kasur ini. Aku ingin sekali bisa bermanfaat untuk banyak orang, aku ingin sekali bisa kuat baca ber juz-juz setiap harinya. Aku heran, kenapa orang yang diberi nikmat sehat masih saja menduakan ramadhan dengan hal duniawi lain. Kak, temani aku mengkhataman quran ku ya”

“InsyaAllah Afsya. Kita luruskan niat kita untuk-Nya ya”, jawabku sambil menangis mengingat segala nikmat yang kadang aku lupa untuk mensyukurinya

“ Oiya aku juga lagi nulis buku kak, nanti kalau Allah lebih dulu memanggilku sebelum buku ini selsai. Tolong lanjutkan ya. Aku percaya kakak penulis hebat.”, kata Afsya sambil memberikan rancangan bukunya padaku dengan judul Sampaikan Salamku untuk Ramdhan Tahun Depan

Aku sanagt kaget membaca judul rancangan buku itu. Karena itu adalah kalimat terkahir yang Ayah ucapkan sebelum meninggal. Qadarullah. Afsya pun meninggal tepat setelah ia khatamkan  bacaan qurannya. Di hari ke 20 Ramadhan. Aku baru saja ingin berpamitan untuk i’tikaf dan tidak mengajarnya di penghujung ramdhan. Tapi Allah berkehendak lain, ia lebih dahulu berpamit untuk selamanya. Semoga Allah menerima segala amalnya. Dan semoga aku juga berkesempatan untuk menyampaikan salamnya untuk ramadhan tahun depan.

 

Tulisan ini adalah kisah nyata dan didedikasikan untuk 2 orang yang telah mengingatkan saya bahwa teman terbaik tak akan berubah. Teman sejati yang ada disamping kita tetaplah kematian. Tak kan disangka apakah salam untuk ramadhan selanjutnya tersampaikan. Semoga dengan mengingat kematian, tak ada lagi amal yang dirasa cukup untuk Ramadhan yang akan berakhir ini. Dan Semoga tahun depan kita masih bisa menyambut dan mengakhiri ramadhan dengan sebaik baiknya kemenangan.

 

29 Ramadhan 1438

 

Diah Kurniawati

Jikalah Ini Ramadhan Terakhirku, Maka Aku Ingin Mengarunginya Bersamamu

Sore yang indah, ufuk barat mulai memancarkan pesona, membuai kedamaian, dan memanja senja dengan keelokan mentarinya. Peluhku mulai menguap, mungkin beranjak menuju sang surya bersama kawanan angin yang berterbang ria. Namun tak begitu lama, pemandangan itu sirna ditelan masa. Pergi menjauh bagai kekasih yang tak setia. Ia pergi tanpa pesan, dan hanya menyisakan kegelapan. Inikah fatamorgana? Memikat jiwa-jiwa pencinta dunia, padahal ia hanya sementara. Sungguh dunia ini hanyalah fana yang berdusta, terasa lama, tapi ternyata bagaikan suatu pagi atau sore saja dibanding akhirat sang keabadian masa.

Hasan. begitulah orang-orang memanggilku. Hasan Al-Fatih, nama yang sangat baik dan mengisyaratkan harapan kebaikan dari pemiliknya. Dulu ayahku adalah orang yang pandai membaca al-Quran, rajin mengikuti pengajian, bahkan yang diadakan mesjid-mesjid kampung sebelah pun ia datangi. ia begitu berwibawa dan bersahaja, berakhlak mulia dengan kesantunan tiada tara. Tak heran ia memberiku nama yang megah ini. Ayah terkagum pada sosok penakluk Konstantinopel yang perjuangannya membawa ia pada derajat sebaik-baik pemimpin sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

Aku adalah anak satu-satunya, sepeninggal ayah tiga belas tahun lalu, ibu memilih untuk tidak menikah lagi, lalu fokus membesarkanku. Sepertinya, ibu adalah bidadari tanpa sayap yang Alloh karuniakan terkhusus untukku, ia adalah madrasah pertama dalam kehidupanku. Ia berani mengambil peran ganda, sebagai ibu yang penuh kasih sayang, lalu menopang tugas ayah mencari nafkah.

Usianya beranjak senja, sinar matahari yang sedari dulu menaunginya saat bekerja mengeringkan ikan asin di lapangan pinggir pantai, kini tega mengurai ikatan-ikatan peptida protein lensa bola mata ibunda. Katarak telah merenggut jendela dunianya. Aku pilu, sedih dan sendu, menyaksikan kesulitan ibuku menghadapi hari-hari tanpa semburat sinar pembeda merah dan biru.

Sejak ibu terserang penyakit ini, akulah yang menggantikan tugasnya mencari sepeser uang. Taruhannya terasa berat bagiku, karena aku harus menggadaikan masa depanku. Selain tidak ada uang, aku juga tidak ada waktu untuk melanjutkan sekolah di jenjang SMA karena tersibukkan mencari penghasilan.

Aku hanya lulusan SMP, pekerjaanku sesuai dengan jerih payah pendidikan yang sempat aku kenyam. Sepeda ontel warisan ayah, kugunakan untuk mencari rupiah kehidupan. Berkeliling setiap hari, dari pagi hingga sore menghampiri mengitari kampung demi kampung di kecamatan kami. Berteriak lantang melengking menawarkan ikan-ikan laut hasil tangkapan para nelayan.

Hingga saat ini, ibu tidak mengizinkanku berperang dengan ombak di lautan, ia tak mau jika aku menjadi nelayan. Ia trauma berat pada kisah ayahku yang akhir hayatnya harus dipeluk samudra biru. Perahu tua yang ia tunggangi, tiba-tiba kalah dengan gejolak ombak yang berpesta di lautan. Berhari-hari jasad beliau sulit ditemukan, tim SAR sudah dikerahkan, tapi barulah pada hari ketiga sosok ayahku menepi di Pantai Pangandaran.

Aku memang tidak lagi belajar di sekolah formal, tapi ibu tak pernah alfa mengingatkanku untuk mampir ke pengajian-pengajian mesjid sebagaimana ayahku dulu. Ia tahu bahwa ilmu agama adalah yang utama. Namun ada satu hal yang belum ibuku tahu, yaitu bahwa anaknya mulai dewasa. Ia masih memperlakukanku layaknya anak SD yang manja menahun. Ibu sangat menyayangiku, tapi itu bukanlah hal aneh, karena memang hanya akulah satu-satunya teman hidup ibu di rumah gubuk kami.

Usiaku sudah menginjak dua puluh tahun, beberapa temanku melanjutkan sekolah bahkan sampai kuliah, tapi mayoritas mulai belajar mencari rezeki bersama ayah-ayah mereka di laut sebagai nelayan. Teman-teman perempuanku banyak yang sudah bersuami, mereka keluar dari Kantor Administrasi Sekolah lalu bertandang ke Kantor Urusan Agama. Sebagian mereka bahkan sudah memiliki momongan, ada yang baru satu, ada juga yang sudah punya tiga. Bagaimana denganku? Aku masih lajang, masih mencari petunjuk dari Alloh tentang dimana tulang rusukku sedang ia tempatkan.

Dia yang sedang duduk di dalam mesjid itu, ya, dia yang sedang dikelilingi anak-anak kecil santri TPA itu, adalah putri semata wayang dari salah satu keluarga terpandang. Ia berakhlak baik, dan kepalanya dipenuhi segudang wawasan. Teramat rupawan dan berhasil membuat hatiku tertawan. Juluran jilbabnya yang panjang, resmi membuat sel-sel saraf pusatku berkolaborasi mendukung hati ini untuk tak berpindah ke lain hati.

Langit dan bumi adalah satu paket yang membuat alam ini indah terpatri, namun jarak jauh keduanya, membuat mereka bagaikan dua insan yang tak pernah bisa saling mendampingi. Begitulah kiranya antara aku dengan Nurmala. Tapi Kawan, kalian harus ingat namaku; Hasan Al-Fatih. Pemilik nama itu haruslah gagah berani, termasuk demi mencari perhiasan terindah yang bisa Alloh anugerahkan pada hamba-hambanya di muka bumi. Perhiasan itu adalah, wanita sholehah.

Limpahan harta milik ayah Nurmala hanyalah setitik dari setetes nikmat yang Alloh titipkan pada dunia. Pengetahuan yang tertaut di kepala gadis itu tidaklah seberapa dibanding keluasan ilmu Alloh yang maha mengetahui segalanya. Kehormatan yang mereka dapatkan bahkan tak sampai sebutir debu dibanding kemuliaan Sang Maha Agung. Inilah kalimat-kalimat senjata penyemangatku. Tak ada yang tak mungkin, karena hanya Dialah penguasa segalanya, dan Ia, sesuai prasangka hambaNya.

Semangatku mulai mencuat, meluap-luap, bermunculan satu persatu, lalu beradu bergemuruh di dalam qalbu. Kupacu tenagaku hingga butiran peluh mengalah pada lelah lalu gugur dari waktu ke waktu. Siang hari, aku menjajakkan ikan keliling kampung, lalu malam setelah isya hingga jam sebelas malam, aku berkutat dengan montir-montir muda lulusan SMK yang berprofesi di Bengkel Putra Bahari. Dini hari jam tiga pagi, aku sudah berada di Pasar Pananjung menjual beragam sayuran segar. Aku bekerja membanting tulang, menyita hampir sebagian besar waktu tidur malamku demi menjemput benda mengkilap di toko emas Permata Biru pinggir jalan itu. Setidaknya, jika aku bertamu pada ayah Nurmala kelak, aku sudah menyiapkan sedikit bekal agar tak dilempar seenak hati atau dibuang tak diacuhkan.

Hari ini, tepat tanggal satu ramadhan, umat muslim bersuka cita bahagia, mengharapkan limpahan pahala di bulan penuh kemuliaan. Ramadhan syahrul mubarok, ramadhan syahrul Quran, ramadhan syahrul maghfirah. Termasuk aku, aku bahagia sekaligus takut. Bahagia menyadari keberkahannya, menikmati hari-hari dimana nafas menjadi tasbih, bahkan tidur menjadi ibadah. Tapi aku justru takut kalau-kalau tidak mampu memaksimalkan ibadah di bulan suci ini.

Sepulang tarawih malam pertama ini, dari sebuah sudut ruang aku mendengar suara tangis yang teramat pilu. Kubuka daun pintu, dan mataku tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk memeluk kedua lututnya sambil menangis tersedu-sedu. Ibu, kenapa menangis? tanyaku spontan, lalu kuseka kedua aliran air matanya. Ibu sedih Nak, kenapa dulu tak pernah terpikirkan untuk menghapal Al-Quran. Sekarang, bahkan untuk membaca pun, mata ibu sudah tak sanggup lagi. Ibu sedih sudah tiga tahun tidak membaca mushaf Al-Quran, hanya tahu sedikit hapalan surat-surat pendek yang dulu Kyai Haji ajarkan.” Ia semakin tersedu, meratap semakin dalam, dan aku pun terbisu, tertekan hentakan sendu yang menusuk qalbu.

Aku galau, kupeluk sang bidadariku, dan tetes air matanya dengan lembut berlabuh di pundakku. Bukan tak ada jalan keluar, tapi biaya lah yang memaksa ibuku untuk tetap bersabar. Operasi katarak telah banyak digencarkan,, tapi mau tak mau, tetap harus ada uang yang tak sedikit untuk hal itu.

Aku beranjak ke kamarku, lalu merenung menatap diri penuh dosa di depan cermin kusam yang merenta. Teringat sosok ibuku, kasih sayangnya, pengorbanannya, dan semua tentang kemuliaan jasanya. Kubandingkan dengan apa yang sudah kuberikan padanya hingga detik ini, ternyata nyaris nihil, aku sama sekali belum mampu membuatnya bahagia. Dan kini, aku justru tersibukkan dengan angan-anganku untuk menggandeng Nurmala.

Malam semakin sunyi, rembulan tertutup awan, bahkan bentuk nya pun hampir tak kelihatan. Aku berjalan meyusuri jalan setapak yang dikawal rumput-rumput liar kanan-kirinya. Langkahku diteduhi raksasa-raksasa pohon kelapa yang sedang menari dibuai angin darat, mungkin sebenarnya mereka sedang bertanya padaku Mau kemana Kau pergi Nak?

Kehadiranku di bibir samudra tidak disambut meriah oleh ombak-ombak yang biasanya ceria, mungkin mereka lelah setelah seharian berlomba menyentuh daratan. Aku melanjutkan perjalanan hingga berhenti untuk duduk di sebuah batu besar pinggir pantai. Beberapa ratus meter di sebelah baratku, nampak beberapa perahu kecil mulai bersiap menuju lautan luas, dilengkapi dengan jaring penangkap ikan yang akan memenjarakan satwa-satwa penghuni limpahan air asin ini. Para nelayan itu mungkin akan melaksanakan sahur pertama di tengah laut biru, disaksikan beribu bintang dan intipan ikan-ikan.

Seketika aku teringat ayahku. Ayah sangat menyayangi ibu, ia adalah sosok yang takkan membiarkan anak istrinya mengurai air mata hanya karena suatu iming-iming dunia. Ia akan bekerja keras demi memberi apa yang ibu dan aku mau. Teringat lebaran Idul Fitri lima belas tahun lalu, aku dan ibu memakai baju baru, tapi ayah hanya mengenakan baju koko yang biasa ia pakai untuk jumatan. Ternyata, uang ayah tidak cukup untuk membeli baju kami bertiga, namun ayah berlapang dada asalkan anak istrinya bahagia.

Malam ini, aku mengambil suatu keputusan. Aku tak peduli lagi pada tujuan awal yang membuatku membanting tulang siang dan malam. Aku ingin membuat ibu sehat kembali, aku ingin ia bisa melihat kembali. Bahkan jika uang yang susah payah kucari untuk melamar Nurmala harus aku gunakan pun, aku tak peduli.

Uang yang sudah aku kumpulkan selama ini masih jauh dari syarat ideal biaya operasi. Aku bekerja lebih keras lagi, menjual ikan sebanyak dua kali lipat dari pada biasanya, dan mendagangkan sayur lebih banyak dari sebelumnya. Aku bangun lebih awal, bermunajat di setiap momen sepertiga malam terakhirnya, lalu bergegas menuju Pasar Pananjung menjajakkan beragam sayuran, sahur disana ditemani lalu-lalang para pembeli dagangan. Setiap pulang tarawih aku bergegas bekerja menuju bengkel dan baru bisa tidur jam dua belas malam.

Hari ke sepuluh bulan ramadhan ini, uangku masih kurang seperenamnya. Aku bekerja semakin keras, bahkan mengurangi porsi jatah makan sahur dan berbukaku demi sedikit tambahan biaya operasi itu. Adalah pak Teguh, pemilik Bengkel Putra Bahari, yang berbaik hati meminjamkan uangnya guna menutupi kekurangan biaya untuk membuka pintu ruang operasi ibu.

Tanggal empat belas ramadhan, tepatnya pukul sembilan malam, aku mulai duduk gelisah di lorong ruang tunggu, berdoa harap-harap cemas menanti keberhasilan operasi ibu. Operasi dinyatakan selesai, tapi masih harus ditutupi perban. Malam berikutnya, kami kembali lagi ke Rumah Sakit untuk membuka perban ibu. Aku tidak ingin kehilangan momen indah ini. Aku berdiri tepat di depan bidadariku, tak peduli pada dokter yang memintaku sedikit mundur agar lebih memudahkannya mencopot perban itu.

Iya membuka kelopak mata dengan sangat hati-hati, berproses untuk mendapat lapang pandang seluas dulu saat masih jelas memandang. Terlihat semburat sinar lampu menelisik masuk pada celah matanya, membuat ibuku berkedip-kedip ragu-ragu. Beberapa detik kemudian setelah matanya membuka sempurna, ia berkata Hasan, anakku.

Aku bahagia bukan kepalang. Kupeluk ibu erat-erat, dan tanpa sadar air mataku jatuh menetes di bajunya. Betapa tidak, sejak tiga tahun lalu, inilah hari penting disaat ibuku bisa melihat kembali.

Sama sekali tidak ada penyesalan dalam diriku. Uang yang kukumpulkan untuk meminang Nurmala itu, ternyata lebih membuatku bahagia bisa melihat ibu tersenyum lebar menyaksikan dunianya yang kembali baru. Ibu bahkan tak tahu, dan aku tak ingin ia tahu tentang niat awal tujuan uang itu.

Aku tak peduli, aku hanya takut jika ramadhan ini adalah ramadhan terakhirku. Betapa jahatnya aku jika harus membiarkan ibu bersedih sepanjang waktu, sedangkan aku menikmati untaian kalimat-kalimat suci Al-Quran yang setiap hurufnya dilipatgandakan sekian kali pahala kebaikan. Aku ingin menikmati indahnya ramadhan ini bersama bidadariku, bersama-sama mencari rahmat dan maghfirahNya dalam naungan bulan yang Ia muliakan.

Satu sisi, aku merasa rugi, mengapa tidak aku kumpulkan uang itu sejak dulu, akibatnya aku harus bersusah payah bekerja keras mencari uang di awal bulan ramadhan yang selayaknya menjadi ladang panen pahala ibadah. Tapi tak apa, aku lebih takut lagi jika ini adalah ramadhan terakhirku dan kelak tak dapat bertemu lagi di tahun depan. Aku takut nyawa ini terburu-buru Alloh ambil sebelum aku sempat membahagiakan ibu. Jika pun tahun depan tak bisa kusapa lagi bulan seindah ini, aku ingin ibu tetap menikmatinya dengan khusyuk, serta menikmati huruf-huruf Al-Quran yang terrangkai indah berdasarkan wahyu.

Lima belas hari terakhir kedepan, aku tak ingin lagi bercengkrama dengan pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktu. Aktivitasku di bengkel dan di pasar kuhentikan sementara. Fokusku saat ini tidak banyak, hanya ingin membeli baju baru untuk ibu, dan berbekal agar bisa terhindar dari kesibukan dunia di sepuluh malam terakhir nanti. Jikalah tahun depan tak bisa kuraih lagi ramadhan, maka aku berharap malam lailatul qodar tahun ini bisa aku dapatkan, demi tabungan ibadah seribu bulan. Semoga Alloh memanjangkan umurku. Aamiin

Adapun untuk Nurmala, aku tetap berharap ia menjadi Nurmalaku. Aku siap berjuang kembali, bekerja keras lagi sembari memantaskan diri. Aku tahu kami bagaikan langit dan bumi, tapi ingatlah, bahwa langit dan bumi senantiasa saling melengkapi. Semoga, ia menjadi bidadari kedua setelah ibuku. Aamiin.

 

 

Aku Benci Ramadhan

Ah Ramadhan lagi…

Puasa lagi…

Lapar lagi…

Aku tidak mengerti kenapa mereka selalu berbahagia di bulan ini.

Jujur, aku membenci bulan ini.

Aku merasa tidak berdaya.

Satu bulan terasa seperti setahun.

Aku tidak suka.

 

Kenapa mereka masih bisa bersemangat sholat?

Kenapa mulut mereka masih bisa membaca berlembar-lembar Al-Qur’an?

Apakah mereka tidak merasa lelah seperti ku?

Apakah mereka tidak merasa haus?

Tidakkah jua merasa lapar?

Ah, andai aku dapat memberi tahu mereka betapa nikmatnya bila bulan ini dihabiskan hanya dengan uring-uringan saja.

 

Meskipun begitu, aku masih bisa senang.

Ternyata, pikiran ku sampai pada sebagian diantara mereka.

Dari kejauhan aku melihat orang yang berpuasa, tapi meninggalkan sholat wajib hingga akhir waktu.

Ada juga yang tertidur sehingga tertinggal waktu sholat.

Aku juga melihat seseorang yang menghabiskan waktu menunggu berbuka puasanya dengan membicarakan keburukan yang lain.

Lalu sebagian yang lain tengah asik berkelahi, saling melemparkan bahasa ku,

Aku tersenyum.

Aku bahagia.

 

Ternyata, aku masih mereka ingat saat ini

Dibalik jeruji ini pun aku masih bisa berkuasa.

Kapan kah mereka tersadar?

Meskipun aku tak menginginkan mereka sadar,

Bahwa sesungguhnya mereka telah menjadi teman ku.


-Terpenjara, 10 Ramadhan 1439 H

 

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu,  sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

“Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu ditutup dan setan-setan dibelenggu”. (Muttafaq ‘alayh, Bukhari, no. 1899. Muslim, no. 1079)

 

Walaupun dibelenggu, jika seorang manusia telah tersesat, maka tidak akan ada bedanya kecuali orang-orang yang diberi petunjuk.

Semoga kita bisa memanfaatkan waktu yang amat singkat ini dengan sebaik-baiknya dan terhindar dari hal yang menjerumuskan dalam dosa.

Wallahualam

 

Berkaryalah untuk Dunia, Beramallah untuk Akhirat

Assalamu’alaykum wa rohmatullahi wa barokatuh

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda

اِذَاجَاءَرَمَضَانُفُتِحَتْاَبْوَابُالْجَنَّةِوَغُلِّقَتْاَبْوَابُالنَّارِوَصُفِّدَتِالشَّيَاطِيْنُ.

Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan (HR. Bukharidan Muslim).

Pada bulan ini setiap detiknya merupakan modal yang sangat besar, sebab pahala kebaikan dilipatgandakan, karenanya jangan disia-siakan.

Demikian pula yang disampaikan sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

إنيلأمقتأنأرىالرجلفارغالافيعملدنياولاآخرة

Sungguh aku marah kepada orang yang nganggur. Tidak melakukan amal dunia maupun amal akhirat. (HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, 8539).

Ada dua persiapan yang paling penting disiapkan yaitu persiapan mental dan persiapan fisik sehingga Ramadhan kita lebih produktif dibandingkan dengan sebelumnya.

Persiapan mental

  1. Persiapan utama menyambut Ramadhan adalah persiapan mental. Dimulai dengan hati yang gembira dan lapang dada akan bertemu dengan bulan yang mulia.
  2. Luruskan niat. Karena setiap amal tergantung niatnya, alangkah baiknya kita niatkan seluruh aktivitas muamalah kita sebagai ibadah. Misal mandi sebagai ibadah, membersihkan kamar dan lain sebagainya.
  3. Menyusun agenda. Kalau selama ini kita dapat menyusun agenda kegiatan duniawi dari pagi sampai malam dengan begitu teliti, alangkah baiknya kalau kita juga dapat menyusun rutinitas ibadah dengan lengkap.
  4. Membaca buku atau kitab tentang fiqh yang menyangkut puasa, shalat Tarawih, i’tikaf dan sebagainya. Hal ini penting untuk diperhatikan supaya kita mengetahui batas-batas syara’ dalam melakukan ibadah
  5. Membersihkan hati dan saling memaafkan sesama. Sebelum masuknya Ramadhan, dianjurkan untuk memperbaiki hubungan dengan manusia (hablumminannas) dan hubungan dengan Allah (hablumminallah) yaitu bertaubat.
  6. Persiapan dana, jangan lupa keluarkan infaq dan shadaqah sebanyak-banyaknya dengan membantu fakir miskin, memberikan makan orang berbuka puasa dan sebagainya.

PersiapanFisik

Persiapan fisik untuk menjalankan ibadah puasa itu penting. Kalau fisik lemah tentunya amal ibadah akan terganggu. Padahal kita sudah mempersiapkan target yang banyak untuk Ramadhan yang akan datang, seperti memperbanyak membaca al-Qur’an, shalat sunnat tarawih, rawatib, dhuha dan sebagainya.

  1. Makan dan minum secukupnya, hindari balas dendam ketika malam harinya.
  2. Biasakan sahur
  3. Minum suplemen jika perlu
  4. Atur pola tidur, baik itu tidur siang ataumalam

 

Sumber

http://aceh.tribunnews.com/2017/05/27/menuju-ramadhan-produktif?page=2.

 

Si Manis Nan Mungil Kurma, Hidangan Sunnah ala Rasulullah

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh ikhwah fillah.

Alhamdulillah, ketemu lagi indahnya Ramadhan di tahun ini. Mari kita memanfaatkan kesempatan emas ini untuk berlomba-lomba memaknai dan menggapai berkah sebanyak-banyaknya. Lantas apa yang terbersit di benak antum wa antunna tatkala mendengar kata Ramadhan? Puasa. Yaps, benar sekali. Menunaikan ibadah puasa merupakan nikmat tersendiri di hati para hamba-Nya dalam menjiwai Ramadhan yang identik dengan buah kurma. Lalu, apa istimewanya si imut hitam manis ini? Yuk kita kupas lebih mendalam.

 

  1. Kurma : Menu Berbuka Puasa dan Sahur Ala Rasullullah

َنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Dari Anas bin Malik ra berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).

Berdasarkan hadist di atas dapat diambil beberapa pelajaran berharga, yaitu :

  • Anjuran untuk segera berbuka puasa.
  • Anjuran untuk berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka boleh memakan tamr (kurma kering), atau jika tidak ada pula maka minumlah air.

Apa sih keunggulan kurma hingga menjadi menu berbuka puasa yang dianjurkan Rasullullah? Nah, pada saat berpuasa, lambung berada dalam kondisi kosong sehingga sukar bagi makanan untuk langsung dicerna ke seluruh organ tubuh dan menjadi sumber energi, kecuali kurma. Hal ini dikarenakan buah kurma mengandung karbohidrat yang cocok dengan kondisi liver (hati) pasca berpuasa, terutama kurma matang yang masih segar sebelum lambung siap menerima makanan lainnya.

Bahan makanan yang mengandung gula (glukosa dan fruktosa) mudah untuk dicerna oleh tubuh dan terserap oleh darah, lambung, maupun usus. Proses yang terjadi hanya memerlukan waktu 5 hingga 10 menit untuk diserap oleh usus dalam kondisi kosong. Hal ini menjadikan konsumsi kurma yang kaya serat dapat mengembalikan kekuatan tubuh secara cepat. Sedangkan menyantap makanan tanpa unsur gula membutuhkan waktu penyerapan lebih lama, yaitu sekitar 3 hingga 4 jam.

Selain untuk berbuka, konsumsi kurma juga dianjurkan di waktu sahur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

’Sebaik-baik sahurnya orang mukmin adalah kurma tamr.’ (HR. Abu Daud 2345, Ibnu Hibban 3475 dan dishahihkan al-Albani dan Syuaib al-Arnauth)

Dalam hal ini, kurma tamr yang mengandung karbohidrat tinggi sangat dianjurkan saat sahur agar tubuh memiliki cadangan energi yang cukup untuk berpuasa.

 

  1. Kandungan dan Khasiat Kurma

Bagaimana ikhwah mengenai pembahasan keterkaitan kurma dengan puasa? Lanjut yah. Kurma memiliki nama ilmiah Phoenix dactylifera dan merupakan tanaman buah tertua yang ditanam di daerah kering. Baru tau kan? Nah, sekarang kita akan menyelami khasiat lain dari kurma. Kurma mengandung banyak nutrisi yang berguna bagi tubuh. Mengonsumsi buah kurma dapat mengembalikan energi secara instan melalui kadar gula yang tinggi (berupa fruktosa, glukosa, dan sukrosa) dan mengganti kehilangan elektrolit selama puasa.

Zat besi yang tinggi pada buah kurma dapat membantu pembentukan hemoglobin yang berguna untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh lebih besar. Kondisi ini akan membantu dalam mempercepat metabolisme sel. Peningkatan metabolisme ini akan meningkatkan produksi energi yang bermanfaat untuk mempertahankan sel agar tidak rusak dan membangun kembali sel yang telah rusak.

Buah kurma mengandung potasium atau kalium sebesar 696 mg yang bermanfaat untuk mengendalikan detak jantung, fungsi otak, dan mengurangi rasa lelah pasca beraktivitas. Selain itu, kurma juga mempunyai berbagai kandungan zat-zat protein, lemak, serat, vitamin A, B1, B2, B12, C, kalsium, klorin, tembaga, magnesium, sulfur, fosfor, dan beberapa enzim yang berperan dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Bahkan, sebuah penelitian tentang toksisitas liver membuktikan bahwa kurma berfungsi menormalkan enzim-enzim liver (aspartate transaminase, alanine transaminase, alkaline phosphatase, lactate dehydrogenase), menurunkan peroksidasi lemak, dan meningkatkan atioksidan enzim maupun non-enzim.

 

  1. Jenis-jenis Kurma

Apabila dilihat dari varietasnya, ternyata buah kurma memiliki lebih dari 450 jenis. Beberapa jenis kurma tersebut meliputi ajwa,  khalasah, anbara, safawi, barhi saghai, khudri dan lain-lain. Namun, kurma ajwa atau biasa disebut dengan kurma nabi adalah jenis yang paling utama. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kurma Ajwah itu berasal dari surga, ia adalah obat dari racun”. Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa yang dimaksud kurma Ajwah dalam hadist tersebut adalah kurma Ajwah Al-Madinah, yakni berasal dari Madinah khususnya daerah Al Awali. Kurma Ajwah dikenal sebagai kurma Hijaz terbaik dari seluruh jenisnya. Bentuknya amat bagus, padat, agak keras, kuat, lezat, harum, dan empuk.

Anjuran untuk mengkonsumsi buah kurma Ajwah ini terdapat dalam hadist Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang diriwayatkan dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah bersabda,

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada pagi hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir”

Selain dari jenisnya, kurma juga dibedakan berdasarkan tingkat kematangannya. Terdapat 4 fase kematangan kurma dengan karakteristik sebagai berikut,

  1. Kimri, merupakan kurma berumur 5 hingga 17 minggu, berwarna hijau dengan ukuran yang masih kecil, dan memiliki kadar air yang sangat tinggi. Kimri belum layak untuk dikonsumsi karena masih mentah.
  2. Khalaal, yakni kurma berumur 19-25 minggu, berwarna kekuningan, kulit kencang, dengan ukuran sudah optimal, dan kadar air sekitar 50%. Khalaal sudah mulai dapat dikonsumsi namun belum sempurna rasanya.
  3. Ruthab atau kurma basah, yakni kurma berumur 26-28 minggu, berwarna merah kecoklatan, kulit relatif masih kencang, rasanya manis, dan memiliki kadar air 30-40%.
  4. Tamr atau kurma kering, merupakan kurma fase akhir, berwarna kecoklatan atau lebih gelap, rasanya sangat manis, namun kadar air mulai menurun sehingga kulit berubah menjadi keriput.

Berdasarkan 4 fase kematangan tersebut, kurma dengan tingkat kematangan Ruthab dan Tamr lah yang lebih direkomendasikan untuk dikonsumsi.

 

Cara Rasulullah mengkonsumsi buah kurma tersebut bervariasi, baik dimakan langsung, dikombinasi dengan buah semangka, atau dengan meminum air rendaman kurma.

Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau makan semangka dengan kurma muda seraya bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَأْكُلُ الْبِطِّيخَ بِالرُّطَبِ فَيَقُولُ: نَكْسِرُ حَرَّ هَذَا بِبَرْدِ هَذَا، وَبَرْدَ هَذَا بِحَرِّ هَذَا

Kami memecah panasnya ini (kurma muda) dengan dinginnya ini (semangka) dan dinginnya ini (semangka) dengan panasnya ini (kurma muda).” (Sunan Abu Dawud; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

 

Kemudian, Rasulullah juga menyukai air hasil rendaman buah kurma ataupun kismis sebagaimana hadist berikut,

َعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ

Dari Ibnu Abbas Radhiyalahu ‘anhu, ia berkata,”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dibuatkan rendaman kismis dalam satu bejana, kemudian beliau minum rendaman tersebut pada hari itu, juga esok harinya dan keesokannya harinya. Pada sore hari ketiga beliau memberi minuman tersebut kepada yang lain, jika masih ada yang tersisa , beliaupun menuangnya.”

Subhanallah, ternyata infused water yang kita kenal saat ini pun sudah lebih dahulu diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memang memiliki manfaat yang baik bagi tubuh.

 

  1. Kurma untuk Tahnik

Tahnik, yaitu memberi makan kurma yang telah dikunyah lalu dimasukkan ke dalam mulut bayi, termasuk di antara hal yang disunnahkan dilakukan oleh orang tua ketika mendapati buah hati saat lahir.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan pengertian tahnik, “Tahnik ialah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan/ memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulut. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bayi terlatih dengan makanan, juga untuk menguatkannya. Yang patut dilakukan ketika mentahnik hendaklah mulut (bayi tersebut) dibuka sehingga (sesuatu yang telah dikunyah) masuk ke dalam perutnya. Yang lebih utama, mentahnik dilakukan dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr), maka dengan kurma basah (ruthab). Kalau tidak ada kurma, bisa diganti dengan sesuatu yang manis. Tentunya madu lebih utama dari yang lainnya”

 

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Burdah dari Abu Musa, dia berkata ;

“Aku pernah dikaruniai anak laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebuah kurma (tamr).

Di antara hikmah dilakukannya tahnik supaya yang paling pertama masuk di perut bayi adalah sesuatu yang manis, ditambahkan saat itu ada do’a untuk mengharapkan keberkahan. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhohullah menjelaskan, “Adapun hikmah dari tahnik menggunakan kurma maka para ulama terdahulu berpendapat bahwa ini adalah sunnah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar yang paling pertama masuk ke perut bayi adalah sesuatu yang manis. Oleh karena itu, dianjurkan mentahnik dengan sesuatu yang manis jika tidak mendapatkan kurma.” Fatwa  Al  Islam         Su’al wal Jawab No.102906

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Tahnik dilakukan dengan kurma dan hukumnya adalah sunnah (anjuran). Namun andai ada yang mentahnik dengan selain kurma, maka sudah dianggap pula sebagai tahnik. Akan tetapi, tahnik dengan kurma lebih utama.” Syarh Muslim, Imam Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turost-Beirut, cetakan kedua, tahun 1392 H, 14: 124.

Hikmah mengapa tahnik harus dengan yang manis sebenarnya telah terungkap dalam ilmu kedokteran. Berikut penelitian penelitian dokter spesialis, dr. Muhammad Ali Al Baar. Ringkasan perkataan beliau sebagai berikut:

Sesungguhnya kandungan zat gula “glukosa” dalam darah bayi yang baru lahir adalah sangat kecil. Jika bayi yang lahir beratnya lebih kecil maka semakin kecil pula kandungan zat gula dalam darahnya. Oleh karena itu, bayi prematur (lahir sebelum dewasa), beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kandungan zat gulanya sangat kecil sekali, di mana pada sebagian kasus malah kurang dari 20 mg/ 100 mL darah. Adapun anak yang lahir dengan berat badan di atas 2,5 kg, maka kadar gula dalam darahnya biasanya di atas 30 mg/100 mL. Kadar semacam ini berarti (20 atau 30 mg/100 mL darah) merupakan keadaan bahaya dalam ukuran kadar gula dalam darah. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya berbagai penyakit antara lain; bayi menolak untuk menyusui, otot-otot melemas, berhenti secara terus-menerus aktivitas pernafasan dan kulit bayi menjadi kebiruan, kontaraksi atau kejang-kejang.

Apakah bayi yang sudah ditahnik dengan kurma sudah tidak tergolong sebagai ASI eksklusif? Hal ini terkadang menjadi pertanyaan kalangan medis karena berdasarkan teori, makanan pertama dan terbaik baik bayi adalah kolostrum yaitu ASI pertama kali yang keluar ketika menyusui pertama dan masih keluar beberapa hari setelah melahirkan. Kolostrum mengandung gizi tinggi dan imunitas umum tubuh.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘makanan’ adalah yang selain susu yang ia menetek darinya, selain kurma yang ia ditahnik dengannya, dan selain madu yang ia disuapi untuk pengobatan dan yang selainnya. Yang dimaksud adalah bahwa tidak dihasilkan kekenyangan baginya selain dari susu (ASI) saja.” (Fathul Baari 1/352, Syamilah)

Tahnik bukanlah memberi makan, melainkan hanya mengoles sedikit saja kurma yang dikunyah. Maka, bayi yang ditahnik tanpa memakan sesuatu selain ASI tetap tergolong sebagai bayi dengan ASI eksklusif.

 

Masyaa Allah, demikianlah banyak keberkahan yang bisa kita petik dari buah kurma. Yuk ikhwah, konsumsi kurma, si manis nan mungil kaya khasiat, hidangan Sunnah ala Rasulullah…

 

Kajian Edisi Ramadhan

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi

Dewan Eksekutif Pusat FULDFK Indonesia

Penulis: Ziana Alawiyah, Lydia Yuniarsih, Arizal

Editor: Mohd. Sarli, Najla Asysyifa

 

Referensi

Al-Bukhari (5467 Fathul Bari) Muslim (2145 Nawawi), Ahmad (4/399), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (9/305) dan Asy-Syu’ab karya beliau (8621, 8622)

Astrini, Sarah Retno., Wahyuni, Ida., dan Widjasena, Baju. (2015). Perbedaan Pemberian Kurma (Phoenix dactylifera) terhadap Kelelahan Kerja pada Pekerja Bagian Finishing di PT. PP (Persero) Tbk. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 3(1), 454-461.

Badwilan, Ahmad Salim. 2008. The Miracle of Dates: Rahasia sehat alami dengan kurma. Jakarta: PT Mizan Publika.

Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Darul ma’rifah-Beirut, tahun 1379 H, 9: 558.

Fatwa  Al  Islam         Su’al wal Jawab No.102906

Giyatmo. (2013). Efektivitas Pemberian Jus Kurma Dalam Meningkatkan Trombosit Pada Pasien Demam Berdarah Dengue di RSU Bunda Purwokerto. Jurnal Keperawatan Sudirman, 8(1), 32-37.

Hadits mutawatir, HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 3

HR. Al-Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4.

https://almanhaj.or.id/2227-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-menganjurkan-berbuka-puasa-dengan-kurma.html 

https://almanhaj.or.id/2229-makan-tujuh-butir-kurma-ajwah-dapat-menangkal-racun-dan-sihir.html

https://almanhaj.or.id/3045-petunjuk-nabi-tentang-minum.html

https://muslimafiyah.com/bayi-sudah-ditahnik-dengan-kurma-berarti-sudah-tidak-asi-eksklusif-lagi.html\

Ramadhas M., Palanisamy K., Sudhagar M., et al. Ameliorating effect of Phoenix dactylifera on lambda cyhalothrin induced biochemical, hematological and hepatopathological alterations in male wistar rats. Biomedicine & Aging Pathology. India: Elsevier Masson SAS. 2014;7-14.

Syarh Muslim, Imam Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turost-Beirut, cetakan kedua, tahun 1392 H, 14: 124.