PERSATUAN UMAT

oleh DEW 4

Bismillahirrahmanirrahim

            Umat Islam mengetahui bahwa bersatu itu adalah ajaran yang bersumber dari al Qur’an dan hadits nabi. Oleh karena itu, sekalipun terasa berat, harus dijalankan. Al Qur’an memberikan pesan bahwa, tidak boleh di antara kaum muslimin bercerai berai. Bahwa di antara mereka adalah bersaudara. Selain itu, dinyatakan pula di dalam hadits nabi bahwa, di antara kaum muslimin adalah bagaikan satu bangunan, maka bagian-bagiannya seharusnya saling memperkukuh.

            Persatuan dalam Islam merupakan hal penting yang diinginkan oleh umat. Sehingga kita wajib berjuang untuk menyerukan, menjalankan dan merealisasikanya. Persatuan sebagai sesuatu yang seharusnya dicintai, maka seharusnya juga diperjuangkan. Berjuang selalu harus diikuti dengan pengorbanan. Tidak pernah ada sebuah perjuangan tanpa pengorbanan. Tatkala persatuan sudah dianggap sebagai sesuatu yang dicintai, maka untuk mewujudkannya, harus dilakukan dengan perjuangan dan pengorbanan. Atas dasar pandangan bahwa, persatuan adalah bagian penting ajaran Islam yang harus dicintai itu, maka harus diperjuangkan hingga benar-benar terwujud.

            Merajut persatuan umat islam di Indonesia tidak mudah. Beberapa kasus dan fenomena politik akhir-akhir ini selalu membawa jargon-jargon agama. Satu sisi, kita melihat semakin meningkatnya semangat bersyariat umat muslim, akan tetapi di sisi lainnya, kita saksikan terjadi penurunan nilai-nilai spiritualitas agama dalam diri umat muslim itu sendiri. Alih-alih menjadi agen penebar rahmat—agama dan syariatnya justru malah sering dijadikan sebagai alat politik, yang bisa merobek persatuan bangsa.

            Lalu, jika ada sebuah pertanyaan “Mungkinkah umat Islam bersatu?” Itulah mengapa, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dengan tegas mengatakan, kesatuan umat Islam adalah realita dan pasti akan terwujud, bukan sebuah khayalan untuk menjawab keraguan orang tentang kemungkinan bersatunya umat Islam di bawah seorang Imaam (khalifah).

            Tulisan singkat ini bukan maksud untuk menjawab wacana sosial-keagamaan tersebut, akan tetapi ditujukan untuk mencari fondasi dan landasan pikir yang tergali dari nilai-nilai Qurani, yang dapat dipergunakan guna merajut ulang persatuan umat islam. Q.S. Āli Imrān (3): 103 merupakan salah satu ayat yang menghimbau umat islam pada persatuan, dan melarang bercerai berai.

            “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

            Lalu, juga dijelaskan dalam Q.S. Al-Anfal [8]: 73

            “Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.”

            Terdapat anjuran As-Sunnah untuk menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Nabi Muhammad SAW juga dalam sabdanya banyak menyebutkan masalah persatuan ini, yang juga berisi anjuran untuk menjaga persatuan dan menghindari perpecahan, di antaranya adalah :

Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah

            Dari Abu Hurairah, dari Nabi bersabda: “Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jama’ah (jama’atul muslimin) lalu meninggal dunia dalam kondisi seperti itu maka dia meninggal dalam kondisi Jahiliyyah.”

H.R. Muslim dari Abu Hurairah

            Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah ridha kepadamu dalam tiga perkara dan benci kepadamu dalam tiga perkara: Dia ridha kepadamu jika kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, kamu berpegang teguh kepada tali Allah seraya berjama’ah dan kamu tidak berpecah belah. Dia benci jika kamu suka dengan “katanya dan katanya”, terlalu banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.”

H.R. Abu Dawud dan Nasa’i dari Ali bin Abi Thalib

            Dari Ali, dari Nabi bersabda, “Darah kaum muslimin itu setara, orang yang paling dekat menjaga kehormatannya dan yang paling jauh melindungi keamanannya. Mereka adalah satu kekuatan dalam menghadapi orang lain.”

            Namun, kesatuan itu tidak akan datang begitu saja. Untuk mewujudkannya perlu kerja keras dan perjuangan yang berkesinambungan. Terdapat 5 hal dalam menjaga persatuan dan kesatuan

1. Menyamakan visi keimanan, yakni hanya menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan thoghut

            Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah yang mestinya merasa terhormat bisa melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak Allah. Jika manusia berbuat demikian, maka setiap orang Islam akan berebut untuk beramal shaleh seperti yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Ketika memahami bahwa Rasul mengajarkan bahwa umat Islam itu bagaikan sebuah bangunan yang satu bagian saling menguatkan bagian yang lain, maka umat Islam akan selalu berusaha untuk saling membantu, saling menolong, saling menopang, saling menunjang dan saling mengokohkan.

2. Hindari perselisihan dan perbedaan pendapat yang mengarah ke perpecahan

            Memang ada orang yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat itu adalah rahmat. Namun pandangan yang demikian itu tidak benar, karena bertentangan dengan QS 11: 118-119. Ayat tersebut mengungkap, bahwa manusia itu senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat. Artinya mereka yang selalu bersilisih itu tidak mendapatkan rahmat Allah. Untuk itu menghindari perselisihan pendapat hendaknya lebih diutamakan.

            Dalam rangka mencegah terjadinya perselisihan pendapat, sekaligus untuk menjaga persatuan umat islam, Rasul mengajak umatnya untuk menghindari perdebatan sekalipun berada dalam posisi yang benar. Allah berjanji untuk membangunkan rumah di sorga bagi orang yang menghindari perdebatan sekalipun pada posisi yang benar.

3. Jika terjadi perbedaan pendapat di antara orang-orang beriman, maka Allah menuntun umat Islam untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasul-Nya

            Hal ini maksudnya mengembalikannya kepada pedoman kita, yaitu Al Quran dan As Sunnah. Nabi Muhammad SAW berpesan bahwa kita tidak akan tersesat selama-lamanya bila kita berpegang teguh kepada keduanya. Yang menjadi masalah adalah banyak di antara umat ini yang tidak mengenal Al Quran dan As Sunnah.

            Sekalipun mereka telah puluhan tahun memeluk agama Islam, namun mereka tidak terbiasa mempelajari tuntunan Islam. Sehingga yang mereka amalkan dalam kehidupan sehari-hari jauh dari Al Quran dan As Sunnah sebagai sumber ajaran Islam. Mengingatkan orang-orang seperti ini berpotensi untuk mengundang perslisihan. Sehingga jauh hari Allah mengingatkan, kalau terjadi perselisihan di kalangan umat Islam, maka jalan keluarnya adalah kedua belah pihak harus kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

4. Menyadari bahwa menjaga persatuan dan kesatuan itu hukumnya wajib

            Kesadaran ini akan menjadi kekuatan pengendali dari tiap individu muslim untuk tidak berbuat sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik apalagi berpotensi menimbulkan perpecahan. Muncul rasa bersalah jika pendapatnya memancing perdebatan yang tidak sehat. Merasa berdosa jika amalnya menimbulkan pro dan kontra yang susah dipertemukan. Merasa risau jika pendapat, ucapan dan amalnya menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Dengan sadar dia akan meninggalkan amal-amal sunnah yang berpotensi menimbulkan perpecahan demi menjaga persatuan dan kesatuan umat.

5. Menghormati perbedaan yang muncul

            Jangan sampai muncul anggapan bahwa orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita adalah musuh yang harus diwaspadai. Sikap seperti ini akan memicu terjadinya konflik, karena menunjukkan bahwa mereka telah kehilangan rasa persaudaraannya. Abu Bakar Ashshidiq dan Umar bin Khaththab pernah beberapa kali berbeda pendapat. Namun keimanan mereka yang kuat menyebabkan mereka selalu mengedepankan jiwa persaudaraan mereka. Tidak pernah terjadi putusnya silaturrahmi di antara mereka. Bahkan yang muncul adalah semangat berkompetisi untuk memperbanyak amal shaleh.

Sumber :

Tafsir Surah Ali Imran Ayat 103: Perintah Menjalin Persatuan Umat Islam Indonesia. https://islami.co/tafsir-surah-ali-imran-ayat-103-perintah-menjalin-persatuan-umat-islam-indonesia/ cited 14 Maret 2020

Persatuan Umat dalam Perspektif Al-Quran dan As-Sunnah, Oleh Yakhsyallah Mansur https://minanews.net/persatuan-umat-dalam-perspektif-al-quran-dan-as-sunnah-oleh-yakhsyallah-mansur/ cited 14 Maret 2020

Betapa Berat Mewujudkan Persatuan Umat https://uin-malang.ac.id/r/141001/betapa-berat-mewujudkan-persatuan-umat.html cited 14 Maret 2020 cited 14 Maret 2020

Pentingnya Menjaga Persatuan dan Kesatuan Umat Islam https://griyaalquran.id/pentingnya-menjaga-persatuan-dan-kesatuan-umat-islam/ cited 14 Maret 2020

Cinta dalam Ujian

oleh: Adillah


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hidup ini penuh akan lika-liku kehidupan, yang terjal akan perjalanannya, mendaki untuk mencapai titik puncak impian kehidupan, jatuh bangun melewati rintangan yang penuh akan pahit manis kehidupan. Ya begitulah hidup, tak selamanya apa yang kita inginkan akan selalu tercapai dan tak selamanya apa yang kita harapkan akan menjadi sebuah kenyataan, hanya
Allah lah yang tahu mana yang terbaik untuk kita semua. Godaan terbesar umat manusia itu hawa nafsu, dan seperti halnya ketika ingin mencapai sesuatu, kita mestinya sangat bersemangat, dan ketika jiwa raga tak mampu tuk memumpuni maka hanya akan ada satu kata yang mewakili yaitu “mengeluh” dan berkata “Ujian apalagi ini ya Allah”.

Tak bisa dipungkiri bahwa manusia senangnya mengeluh dan berkata lelah, tapi perlu kita sadari bahwa itu adalah ujian terindah dari Allah. Kadang kita tak sadar bahwa dari tiap ujian yang datang menghadang, itu suatu pertanda akan kehadiran Allah untuk kita, namun seringkali kita hanya memandang sebelah mata. Misalnya ketika mendapat nilai rendah saat ujian malah membuat kita semakin terpuruk, galau, jatuh, sakit hati, kecewa. Banyak masalah internal yang datang kita hanya bisa menangis meronta kesakitan dalam diri, beranggapan bahwa
“Allah tidak adil sama saya”, mendapat banyak kegagalan dalam hidup malah membuat kita semakin pesimis dan malas untuk mencoba lagi. Sahabat tak sadarkah kita bahwa itu semua adalah hal yang kurang tepat untuk kita lakukan sebagai hambanya Allah SWT, pada kenyataannya itu adalah anggapan kita saja sebagai manusia biasa yang hanya berpikir bahwa ujian itu adalah tanda Allah tidak sayang kepada kita. Sungguh sangat disayangkan jikalau kita selalu berpikiran begitu bukan?
Ujian itu adalah bentuk cintanya Allah kepada kita, hal tersebut dibenarkan didalam sebuah
hadits :

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-jami’ no. 285)
Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al- Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).
Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat derajatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan bisa bersabar.

Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya.”
Dalam riwayat lain,

الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل يبتلى المرء على قدر دينِهم
“…kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya, mereka diuji sesuai dengan kualitas agama mereka.”
Jika ia orang yang sangat tegar dalam beragama, semakin berat ujiannya. Oleh karena itu Allah memberikan ujian kepada para Nabi dengan ujian yang berat-berat. Di antara mereka ada yang dibunuh, ada yang disakiti masyarakatnya, ada yang sakit dengan penyakit yang parah dan lama seperti Nabi Ayyub, dan Nabi kita shallallahu’alai wa sallam sering
disakiti di Makkah dan di Madinah, namun beliau tetap sabar menghadapi hal itu. Intinya, gangguan semacam ini terjadi terhadap orang yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan kadar iman dan taqwanya.
Jadi, kita yang sebagai umat manusia biasa ini sudah sepantasnyalah untuk selalu berbaik sangka kepada Allah, setiap masalah yang datang maka sebaiknya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena ujian itu adalah bentuk cinta-Nya Allah kepada hamba- hambanya, supaya kita semakin sering mengadu kepada-Nya, memohon ampunan dan petunjuk-Nya. Semoga kita menjadi sebaik-baiknya hamba. Aamiin.

Allahuma aamiin.
Barakallah fikum.
Sumber : http://www.binbaz.org.sa/noor/8751

Mengikuti Strategi Dakwah Rasulullah untuk Indonesia

Oleh:

Achmad Nabil Hafidh Maftuhin
FKUPN Jakarta


Dakwah merupakan salah satu sarana untuk masuk kedalam surga Allah dimana dakwah itu sendiri merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menyampaikan kebenaran terhadap setiap sesama kaum muslimin. Namun akhir ini, banyak sekali pendakwah bahkan hingga ustadz yang berdakwah tidak dengan mencontoh Rasulullah SAW. Dakwah mereka justru banyak sekali yang berisi caci makian, kebencian bahkan sampai mengkafir-kafirkan kepada sesama Muslim sekalipun.
Dakwah rasulullah hijrah sampai kepada Madinah dimana di Madinah beragam macam agama dan kultur budaya setempat. Kalimat yang pertama kali diucapkan oleh Rasulullah Saw, ketika sampai di Madinah adalah ajakan untuk melakukan hal-hal yang menjaga kondusifitas dan keamanan masyarakat setempat. Sebagaimana dalam sebuah hadis riwayat dari Abdullah bin Salam, bahwa Rasulullah Saw mengatakan, “Wahai segenap manusia, berbagilah makanan, tebarkanlah ucapan salam, pererat tali silaturahim, dan lakukanlah salat malam saat orang- orang tertidur pulas, niscaya akan masuk Surga dengan damai (HR. Al-Hakim)”. Rasulullah Saw mengajarkan bagaimana cara menghormati penduduk Madinah yang agamanya beragam. Untuk itulah, dalam ceramahnya Rasulullah Saw selalu menggunakan kalimat يأيها الناس (wahai para manusia). Bukan wahai para penduduk Madinah, atau wahai kaum Muslimin dan lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah Saw, yaitu Islam adalah pesan damai untuk kita semua dan seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).
Rasulullah Saw juga melarang umatnya untuk membunuh, namun yang terjadi justru malah saling memfitnah dan saling membunuh atas nama jihad. Begitu juga Rasulullah Saw melarang untuk mengambil hak orang lain, tetapi justru yang terjadi malah menghalalkan dengan segala cara untuk merampas apa yang bukan haknya. Jangan sampai hanya gara-gara perbedaan madzhab dan pandangan politik, persatuan, perdamaian dan persaudaraan yang terjaga bertahun-tahun rusak begitu saja. Sebagaimana di Suriah, hanya gara-gara perbedaan pandangan politik. Negeri yang dulunya indah, tentram dan damai menjadi hancur gara-gara konflik politik berbalut agama, sehingga menimbulkan konflik bersaudara.

Untuk itulah mari sebaiknya kita sebagai sesama umat muslim di Indonesia menjunjung tinggi nilai nilai persaudaraan dan menjauhkan diri dari kebencian atas segala perbedaan baik itu pendapat, budaya, ataupun lainnya karena sesungguhnya setiap manusia memiliki pola berpikir mereka masing-masing dan kita tidak mungkin menyamakan persepsi atau pola pikir jutaan manusia menjadi satu, sehingga alangkah baiknya bagi kita untuk menghormati satu sama lain.

Sumber Artikel :
Alif.id (2019, 29 Oktober). Strategi Dakwah Rasulullah. Diakses pada 29 Oktober 2019,
dari https://alif.id/read/nur-hasan/strategi-dakwah-rasulullah-saw-b213262p/

BIRRUL WALIDAIN


Oleh: DEW 4

Bismillahirrahmanirrahim…

Birrul walidain adalah berbakti kepada orang tua. Birrul walidain adalah hal yang diperintahkan dalam agama. Al-Walidain maksudnya adalah kedua orang tua kandung. Al-Birr maknanya kebaikan, berdasarkan hadits rasulullah SAW.: “Al-Birr adalah baiknya akhlak”. Al-Birr merupakan hak kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al-‘Uquuq (durhaka), yaitu "kejelekan dan menyia-nyiakan hak“. Al-Birr adalah mentaati kedua orang tua di dalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al-‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya.”
Dalam Islam, kedudukan perintah berbakti kepada orang tua berada setelah perintah tauhid dan lebih utama dari jihad fi sabililah. Sebagaimana telah kami sampaikan, berbakti kepada orang tua dalam agama kita yang mulia ini, memiliki kedudukan yang tinggi. Sehingga berbakti kepada orang tua bukanlah sekedar balas jasa, bukan pula sekedar kepantasan dan kesopanan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S Al-An’am: 151.
Katakanlah (Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apapun, berbuat baiklah kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena takut miskin, kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti. – (Q.S Al-An’am: 151)
Pada saat anak-anak, orang tua di rumah maupun guru di sekolah sekalipun selalu mengajarkan tentang doa untuk orang tua. Doa untuk orang tua tidak terbatas waktu dan keadaan. Siapa pun bisa mendoakan orang tua baik saat orang tua masih hidup ataupun sudah meninggal karena doa untuk orang tua adalah amal jariah yang pahalanya tidak akan pernah putus sebagaimana Rasululllah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, yaitu:
“Jika seseorang telah meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh.” (HR. Muslim).
Anak yang shalih dan shalihah adalah investasi dunia dan akhirat. Kita semua pasti menginginkan surga Allah yang nilainya tidak terhingga. Allah SWT menjelaskan dalam QS. Al-Isra: 23-24, yaitu:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orangtua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya mencapai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (23) Dan rendahkanlah dirimu di hadapan keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.” (24) – (Q.S Al-Isra: 23-24).
Sangatlah menyedihkan apabila dengan perkataan “ah” kepada orang tua saja adalah dosa besar oleh seorang anak apalagi jika membentak melebihi itu. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memohon ampun kepada Allah SWT dan dapat masuk ke dalam pintu surga. Surga memiliki beberapa pintu, dan salah satu pintunya adalah birrul walidain. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, yaitu:
“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.914).
Selain itu, birrul walidain adalah salah satu cara ber-tawassul kepada Allah. Tawassul artinya mengambil perantara untuk menuju kepada ridha Allah dan pertolongan Allah. Salah satu cara bertawassul yang disyariatkan adalah tawassul dengan amalan shalih. Dan diantara amalan shalih yang paling ampuh untuk bertawassul adalah birrul walidain. Sebagaimana hadits dalam Shahihain mengenai kisah yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengenai tiga orang yang terjebak di dalam gua yang tertutup batu besar, kemudian mereka bertawassul kepada Allah dengan amalan-amalan mereka, salah satunya berkata:
“Ya Allah sesungguhnya saya memiliki orang tua yang sudah tua renta, dan saya juga memiliki istri dan anak perempuan yang aku beri mereka makan dari mengembala ternak. Ketika selesai menggembala, aku perahkan susu untuk mereka. Aku selalu dahulukan orang tuaku sebelum keluargaku. Lalu suatu hari ketika panen aku harus pergi jauh, dan aku tidak pulang kecuali sudah sangat sore, dan aku dapati orang tuaku sudah tidur. Lalu aku perahkan untuk mereka susu sebagaimana biasanya, lalu aku bawakan bejana berisi susu itu kepada mereka. Aku berdiri di sisi mereka, tapi aku enggan untuk membangunkan mereka. Dan aku pun enggan memberi susu pada anak perempuanku sebelum orang tuaku. Padahal anakku sudah meronta-ronta di kakiku karena kelaparan. Dan demikianlah terus keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau tahu aku melakukan hal itu demi mengharap wajahMu, maka bukalah celah bagi kami yang kami bisa melihat langit dari situ. Maka Allah pun membukakan sedikit celah yang membuat mereka bisa melihat langit darinya“(HR. Bukhari-Muslim).
Oleh karena itu, wajib bagi kita sebagai anak untuk menjadi kebahagiaan orang tua dunia akhirat. Kita juga bisa menjadi penyejuk hati orang tua kita sendiri. Berkata-kata yang lembut, selalu menyayangi orang tua, dan selalu berbakti kepada orang tua. Itulah maksud dari birrul walidain. Dengan seperti itu, kita akan membuka pintu surga untuk kita dan orang tua kita karena itulah harapan ayah dan ibu kita Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Furqan: 7, yaitu:
“Dan orang orang yang senantiasa berdoa: Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami penyejuk pandangan kami dari istri-istri dan anak-anak kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin orang orang yang bertaqwa” (QS. Al Furqan: 72)

Sumber :
Perintah Untuk Birrul Wallidain
https://muslim.or.id/47127-perintah-untuk-birrul-walidain.html
cited 17 Agustus 2020
Birrul Walidain
https://id.wikipedia.org/wiki/Birrul_Walidain#Definisi
cited 17 Agustus 2020
Kumpulan Ayat-Ayat Alquran Tentang Birrul Walidain (Berbakti pada Kedua Orangtua)
https://mutiaraislam.net/ayat-alquran-berbakti-pada-orangtua/
cited 17 Agustus 2020
Doa untuk Orang Tua yang menjadi Amal Jariah yang Tidak Pernah Putus
https://qazwa.id/blog/doa-untuk-orang-tua/
cited 17 Agustus 2020
Menjadi Penyejuk Pandangan Bagi Orang Tua
https://muslim.or.id/22215-menjadi-penyejuk-pandangan-bagi-orang-tua.html
cited 17 Agustus 2020

GENERASI QUR’ANI PEMBANGUN PERADABAN


Oleh: DEW 3

    Islam merupakan agama yang membawa kasih sayang untuk alam semesta. Islam  jugalah yang telah membawa manusia dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang melalui segala ilmu dan aturan yang diajarkannya. Islam bukanlah teologi semata. Segala aspek kehidupan telah diatur dengan rapih baik masalah peribadatan, ekonomi, memperlakukan manusia, memperlakukan alam, dan sebagainya. Semuanya telah tertulis dalam sebuah kitab suci ummat islam, yakni Al-Qur’an Al Kariim. Segala tindak tanduk manusia hendaknya memperhatikan dan menelaah terlebih dahulu dari Al-Qur’an sehingga tidak terjadi kekacauan karena kecacatan aturan tanpa landasan yang benar.

    Sebagaimana para khalifah dan para sahabat Rasulullah SAW. yang memiliki segudang prestasi bermanfaat untuk kemaslahatan dan kejayaan ummat Islam. Kita sebagai pemuda muslim yang menjadi ujung tombak kemajuan peradaban islam haruslah memiliki keinginan untuk mewujudkan kembali kejayaan islam di masa lalu. Pemuda memah sering diremehkan karena sering dianggap berpikir kurang matang dan terlalu terbawa keinginan yang menggebu-gebu dalam melakukan tindakannya. Hal tersebut harusnya bukan menjadi penghalang untuk berpikir lebih ke depan memikirkan bagaimana nasib ummat kedepannya, tapi jadikan hal tersebut untuk menghasilkan hal positif. Bagaimana caranya?  Oleh karena itu kita sebagai pemuda harus mencari dinding yang tepat untuk mengkoridorinya.

    Pernahkah kalian berpikir tentang moral di kalangan pemuda yang merosot? Mengapa minat menuntut ilmu dan menambah keterampilan tambahan di kalangan pemuda sudah hamppir hilang? Atau mengapa kecintaan dan keberanian menujukan bahwa dirinya seorang muslim telah hilang? Apakah hal tersebut harus dibiarkan begitu saja? Tentu tidak. Dimulai dari detik ini perlu ditanamkan di benak setiap diri kita, bahwa pemuda muslim memegang tanggung jawab terhadap nasib peradaban islam masa depan. Setelah mengetahui bahwa hal tersebut merupakan sebuah tanggung jawab, langkah selanjutnya adalah ikut melakukan tindakan perubahan dengan berlandaskan Al-Qur’an. 

    Perubahan apa yang dapat kita mulai? Mulailah dengan memiliki 10 sifat muslim, dengan beberapa cara sebagai berikut. Pertama, kita harus menguatkan ruhaniyyah kita dengan sering tilawah, menelaah, dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an di kehidupan sehari-hari, shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah, dll. yang sesuai dengan Al-Qur;an dan hadits.  Hal-hal tersebut merupakan ciri dari aqidah yang lurus dan ibadah yang benar. Kedua, memiliki sopan santun dengan menerapkan akhlak yang kokoh dan mampu melawan hawa nafsu. Akhlak yang kokoh ini merupakan perwujudan dari akhlak yang tidak mudah goyah tercemari segala macam perilaku tidak terpuji. Kedua, menjadi pemuda muslim tidak hanya baik dalam ruhaniyyah dan moral saja, tetapi perlu menguasi ilmu pengetahuan. Hal ini dapat menerapkan sifat muslim memiliki pengetahuan luas dibidang apapun, mampu mengatur segala urusannya dengan baik (self management), mampu mengatur waktunya agar tidak tebuang sia-sia, dan menjadi pribadi yang mandiri tidak selalu bergantung kepada orang tua maupun orang lain. 

Ketiga, dalam menuntut ilmu, belajar akhlak, dan beribadah tentulah harus dibersamai dengan memiliki jiwa dan raga yang kuat. Pemuda muslim hendaknya senantiasa menjaga kesehatan tubuhnya. Menjaga kesehatan tubuh dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, gemar berolahraga, dan senantiasa selalu berhusnudzon agar kesehatan mental tetap terjaga. Keempat, ikutilah kegiatan di masyarakat dan menjadi agen perubahan dengan memberikan pendapat agar suatu kegiatan dapat sesuai dengan syari’at islam, atau dengan menerapkan syari’at islam di setiap perlaku kita sehingga menjadi teladan bagi teman-teman. Semua hal tersebut tidak lain hanya bertujuan agar segala yang kita miliki dan segala yang kita lakukan selalu bermanfaat bagi kemajuan ummat islam ke depannya. 

Oleh karena itu, mari kita kembalikan peradaban islam yang gemilang dengan memulai dari diri kita sendiri. Peradabam ummat islam di masa depan adalah tangguang jawab kita. Akan memabawa kejayaan kah? Atau mengalami kemunduran? Mari kita sama-sama saling merangkul dan mengingatkan agar peradaban ini kembali dihidupkan.