Cahaya Kalbu dan Sinar Akal Penyingkap Hakikat

Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi sedang berkembang begitu pesat. Segala jenis rahasia alam mulai tersingkap. Alam dibaca dengan begitu giat. Beragam teori dan formula baru dirumuskan dengan sungguh akurat. Berbagai macam inovasi dihasilkan demi kemudahan hidup dan berbagai tujuan maslahat.

Sebut saja sebagai contoh, pencapaian pengetahuan yang memungkinkan seorang tenaga medis melakukan terminasi kandungan; perkembangan sel punca yang memungkinkan seorang peneliti menemukan terapi bagi beragam masalah badani; sederet prosedur ilmiah yang memungkinkan seorang dokter mempertemukan benih dari dua insan yang berbeda. Bukankah itu semua fantastis?

 

Tapi Saudaraku, ada hal besar yang perlu kita sadari. Bahwa tanpa ‘sesuatu’, semua itu tak lebih berharga dari sekerlip cahaya lentera kecil di tengah dalamnya gelap yang sangat gulita. Lentera yang hanya memberikan cahaya bagi terbentuknya bayangan-bayangan ilusi yang menakutkan dan mencekam. Bayangan-bayangan bak singa dan hewan buas di ujung-ujung jembatan sempit kehidupan. Sedang di samping-samping-nya terlihat bayang-bayang semu bak batu nisan dan perkuburan juga gelombang hitam dan ombak tinggi yang siap menerjang. Sementara di bawah jembatan sempit itu adalah jurang kegelapan yang dalamnya tak terjangkau pandangan. Tanpa ‘sesuatu’ itu, semua pencapaian hebat peradaban umat manusia hanyalah pembentuk ‘pengetahuan’ semu yang tidak lain justru menjauhkan manusia dari berbagai kebaikan. Lebih-lebih bila egoisme dan keangkuhan diri oleh sebab mempunyai lentera kecil itu telah menyatu dalam hati. Apa lagi yang perlu ditunggu, selain kebinasaan?

 

‘Sesuatu’ itu adalah cahaya iman dan tauhid. Cahaya kalbu yang tidak hanya memberi terang terbatas lalu membentuk bayang-bayang semu lagi palsu. Tetapi ia menerangi semua hal, menyingkap hakikat dan menyibak rasa ragu. Ia menunjukkan bahwa hewan-hewan buas tadi hanyalah kawanan hewan jinak, nisan dan perkuburan yang sepi adalah majelis ilmu yang khusyuk dan syahdu, ombak dan gelombang hitam adalah masa depan yang penuh dengan pengharapan, dan jurang tanpa dasar adalah lembah-lembah bukit penuh pepohonan hijau yang sejuk dipandang. Lalu, jembatan itu tidaklah sempit, ia sungguh lapang disertai panduan-panduan jelas menuju ujungnya yang penuh kebahagiaan.

 

Begitulah ibarat antara ilmu pengetahuan dan iman tauhid yang dipermisalkan oleh Sang Keajaiban Zaman, Badiuzzaman, Said Nursi, dalam kitabnya Kulliyat Rasail an Nur.

 

Lalu, dari mana cahaya kalbu itu diperoleh?

 

Sudah jelas sekali jawabannya, yakni dari risalah-risalah yang Sang Pemberi Cahaya diamanatkan kepada para utusan-Nya, yang pesannya diwariskan dan dihidup-hidupkan oleh orang-orang yang mau berfikir setelah kepergian pembawa risalah yang terakhir, Sang Penutup Para Utusan, Muhammad al Mushtafa. Sedang sumber cahaya kalbu itu adalah ilmu-ilmu agama dan syari’at-Nya, yang memberikan panduan bagi segala aspek kehidupan; yang telah dijamin oleh Sang Pemegang seluruh alam dan seisinya bahwa mengikutinya berarti satu langkah memasuki keselamatan; menghayati pesannya berarti menghindarkan diri dari kebinasaan; dan melakukan rinciannya berarti menjadi rahmat bagi sekalian alam.

 

Dengan cahaya kalbu itu, semua pencapaian kecerdasan manusia tidak lagi berharga murah seperti lentera kecil tadi, tetapi ia akan menjadi sinar akal yang melengkapi cahaya kalbu dalam menyingkap hakikat dan memenuhi amanat terbesar manusia, yakni menjadi wakil Allah di muka bumi.

 

Dengan cahaya kalbu itu, terminasi dini yang kita singgung tadi hanyalah sebentuk wasilah meraih maslahat, penggunaan alkohol menjadi sepenuhnya manfaat dengan menangkal mudharat, pengembangan sel punca dilakukan dengan seminimal mungkin mafsadat, dan segenap kreasi pencapaian pengetahuan dan invensi adalah sebagian dari nikmat dan rahmat.

 

“Cahaya kalbu adalah ilmu-ilmu agama, sementara sinar akal adalah ilmu-ilmu alam modern. Dengan perpaduan antara keduanya, hakikat akan tersingkap. Adapun jika keduanya dipisahkan, maka tipu daya, keraguan, dan fanatisme yang tercela akan bermunculan” – Badiuzzaman Said Nursi

 

  • Artikel ini terinspirasi dari risalah-risalah Badiuzzaman Said Nursi dalam Kulliyat Risalah an Nur, terutama yang tercantum dalam buku Iman Kunci Kesempurnaan bahasan Kebaikan dan Manfaat Iman, diterbitkan oleh Risalah Nur Press.

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
21

Leave a Reply