BILA INI RAMADHAN TERAKHIRMU

Bismillahirrohmanirrohim.

Waktumu adalah usiamu. Manusia kerap kali tertipu oleh bergulirnya waktu. Nikmat kesempatan yang tak datang untuk kedua kalinya. Detik berlalu setiap tahun hanya terbuang sia-sia. Tak sadarkah bahwa bagian hidupmu hilang setiap harinya? Atau dikau terlalu terlena pada gemerlapnya dunia? Padahal nikmat itu begitu yang singkat dan sementara? Allah SWT telah bersumpah atas masa dalam firmannya yang berbunyi:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr : 1-3)

Kecintaan Allah SWT pada hamba-Nya tak putus pada sebatas umur, namun juga bulan suci yang penuh rahmat. Satu di antara dua belas bulan dijadikan Allah SWT sebagai kesempatan bagi hamba-Nya untuk menimba ampunan dan rahmat secara gratis tanpa syarat. Tamu agung itu kita kenal dengan Bulan Ramadhan. Bulan ketika amalan dan ibadah dilipat gandakan. Bulan keberkahan yang dinantikan oleh sebaran umat muslim di seluruh belahan dunia. Tak heran apabila orang-orang beriman selalu berharap dapat bersua dengan bulan penyandang gelar mulia.

Lalu, bagaimana dengan kita? Sudahkah bersiap menyambut kedatangannya? Apakah Ramadhan yang telah berlalu, kita jalani untuk mengambil hikmah kebermanfaatan sebanyak-banyaknya? Adakah rasa debar-debaran ketika Bulan Ramadhan hendak menghampiri? Rasa takut jikalau usia tak mencukupi hingga waktu yang telah ditetapkan untuk pertemuan nanti. Sebagaimana Rasullullah SAW dan para sahabat senantiasa menanti dan mempersiapkan diri. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Selama satu bulan penuh pintu surga terbuka lebar, pintu neraka tertutup rapat, dan dibelenggunya para syaitan. Momentum indahnya Bulan Ramadhan turut dilengkapi oleh peristiwa Nazulul Qu’an, yaitu manakala Al-Qur’an diturunkan pada 17 Ramadhan. Selain itu, Allah juga memberikan bonus malam Lailatul Qadr atau malam seribu bulan. Bagi umat-Nya yang beribadah dengan mengharap ridho dari Allah SWT, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan mendapat kebaikan lebih besar daripada 1000 bulan.

Atas berpuasa menahan rasa lapar dan dahaga, terhadap kaum fakir miskin menjadi peka. Antar sesama ikatan persaudaraan semakin terjaga. Ibadah siang malam menjadi semakin terbiasa. Lantunan syahdu ayat-ayat Al-Qur’an terdengar membahana. Ucapan dzikir tanpa jemu mengharap ridho-Nya. Rumah Allah menjadi tempat persinggahan yang nyata. Subhanallah.

Lantas, sudahkah dikau mengambil faedah pada bulan yang istimewa? Mengazamkan niat untuk bertaubat nasuha. Atau sekedar rutinitas tahunan sebagai ajang hijrah sementara? Bila Ramadhan telah berakhir, tak rindukah dikau untuk istiqomah menjalankan perintah Sang Ilahi? Masa ketika dirimu merasa terpanggil untuk taat dalam keseharian dan sejenak melupakan hiruk pikuk duniawi. Tak inginkah dikau meniti kehidupan dengan tetap mempertahankan kedekatanmu pada Sang Robbul Izzati?

Lihatlah di sekelilingmu, mereka yang tahun lalu masih bersamamu dalam menyambut dan mengisi Bulan Ramadhan. Kini tak semua orang yang sama masih di sisimu. Satu per satu telah dijemput kematian Bahkan ada yang baru saja masih berdiri dengan sehat di sampingmu. Namun, Allah telah menetapkan takdir yang lain. Jadi, bagaimana dengan dirimu? Sudah siapkah ketika masa tiada lagi kesempatan untuk memohon ampunan?

Bila ini Ramadhan terakhir, masih sanggupkah dikau menahan air mata untuk tetap tidak memperdulikan sisa usiamu yang semakin berkurang? Setelah sekian lama dikau diberikan waktu oleh Allah untuk mempersiapkan diri pada kematian yang datang. Kalimat renungan dan peringatan hanya lewat terngiang-ngiang.

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.”
Andai dikau tahu ini adalah Ramadhan terakhir, tentu dikau akan meraung berdoa menengadahkan tangan. Tiada jemu bertadarus, mendirikan sholat dengan khusyu’ serta tawadhu’ serta senantiasa memohon ampunan. Andai dikau tahu puasa ini adalah saat terakhir, pasti dikau sibuk berlomba-lomba dalam kebaikan, membuang segala keegoisan dan keacuhan. Tidak tertarik pada lelapnya tidur, melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan. Andai dikau tahu ini adalah jatah terakhirmu untuk bernapas pada Bulan Ramadhan, tentu hatimu akan selalu terjaga untuk mencintai-Nya dalam kesabaran. Bersimpuh untuk selalu mengingat nama-Nya, menyingkap dunia yang tak henti menyibukkan.

Bila ini Ramadhan terakhir, sudah sejauh mana perolehanmu dalam meraih keutamaan Ramadhan? Sudah siapkah dikau untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan? Sadarkah dikau bahwa pernak-pernik dunia sering membuat kita terlena akan penghujung usia? Lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja. Tenang bermaksiat seakan tahu kapan ajal menjemput, sehingga siap untuk kembali ke jalan-Nya. Salah!!!

Usia adalah misteri. Optimalkanlah Ramadhanmu untuk memperbaiki dan membersihkan diri dari segala dosa agar dirimu tidak menjadi orang-orang yang merugi. Hadirkanlah perasaan bila ini kesempatan terakhir menemui Ramadhan. Seakan-akan berpuasa dan ibadah lainnya adalah wujud perpisahan.

“Celakalah! Celakalah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosanya masih belum diampuni oleh Allah!” (HR. Ath-Thabarani)

Wahai saudaraku, marilah kita isi Bulan Ramdhan yang penuh rahmat ini dengan tekad dan semangat untuk beribadah sebaik-baiknya, seperti memperbanyak doa dan memohon ampunan, menanamkan niat baik sebanyak mungkin, menunaikan sholat di awal waktu, melakukan sholat sunnah, rajin bersedekah, sering bermuhasabah, semangat meraih Lailatul Qadr’, rajin bertadarus, dan ibadah lainnya. Hadirkan mindset bila ini Ramadhan terakhir agar kita tidak kehilangan momentum emas untuk bertaubat nasuha.

Lantas, mungkinkah ini Ramadhan terakhirmu? Yuk raih kemuliaan Ramadhan seolah akan terjadi perpisahan. Supaya kita senantiasa terhindar dari kemaksiatan. Semoga Allah meridhoi kita dan mengakhiri usia kita dalam keadaan beriman. Aamiin.

Lydia Yuniarsih
KKIA DEP FULDFK 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

83 + = ninety two