Ada yang Berbeda Kali Ini

oleh: Nur Haura Zhafirah Lubis, S. Ked

Ramadhan 1441 Hijriah. Ada yang berbeda kali ini. Menunggu sidang isbat untuk pengumuman hari pertama Ramadhan, dari televisi tampak para alim ulama dan tokoh masyarakat dan aparat pemerintah menggunakan penutup yang menutupi mulut dan hidungnya. Setiap orang saat ini menggunakan masker. Ramadhan kali ini kita sambut di tengah pandemi penyakit yang disebabkan oleh virus.

Hasil keputusan sidang isbat menyepakati 1 Ramadhan bertepatan esok hari, hari Jumat. Malam ini kita menunaikan sholat tarawih, sholat yang keutamaannya sangat banyak dan hanya ditunaikan di bulan Ramadhan. Ada yang berbeda kali ini. Tarawih kita tunaikan di rumah masing-masing, tidak seperti biasanya, berjama’ah di masjid. Kami menunaikan sholat isya dilanjutkan sholat tarawih dan sholat witir berjama’ah diimami oleh Ayah.

Bangun pukul tiga lewat lima belas pagi, menyiapkan santapan sahur pertama. Ada yang berbeda kali ini. Tidak ada anak-anak yang membangunkan sahur dengan cara membunyikan tiang listrik di depan rumah.

Buka puasa pertama. Ada yang berbeda kali ini. Biasanya mengajak keponakan dan Ayah untuk ngabuburit dan mencari makanan untuk berbuka, kali ini memasak makanan sendiri di rumah. Tak banyak orang yang berjualan. Ada, tapi tidak banyak.

Ramadhan kali ini mungkin berbeda. Namun, semangat kita dalam menyambut bulan yang agung ini tak boleh sirna. Dua hari sebelum memasuki Ramadhan, jurnal Ramadhan dijilid spiral plastik di tempat fotokopi. Sangat menyenangkan mempunyai jurnal Ramadhan.

Halaman ketujuh jurnal Ramadhan. Bertuliskan ‘My Ideal Ramadhan’. Ramadhan yang extraordinary itu ketika setiap detik di bulan Ramadhan dihabiskan untuk mengerjakan kebaikan agar mendapat rahmat dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berlimpah.

Ramadhan yang extraordinary itu ketika diri ini selalu bermuhasabah, merefleksikan diri tentang bekal apa yang sudah dipersiaplan untuk ke kampung halaman kelak. Ramadhan yang extraordinary itu ketika selesai bulan Ramadhan, maka target-target ibadah selama Ramadhan dikerjakan juga di luar Ramadhan.

Semoga My Ideal Ramadhan ini terwujud. Aamiin.

Ada yang berbeda kali ini. Biasanya semangat menuntut ilmu menghadiri kajian ilmu di masjid-masjid menggunakan motor, kali ini kajian ilmu pun secara daring. Pandemi ini membuat kami untuk lebih kreatif lagi dalam mengeksplor metode dakwah. Kajian ilmu berbagai cara, seperti zoom, youtube, WhatsApp, Line, live instagram, dan berbagai macam kajian via daring. Semoga tidak melunturkan semangat kita dalam menuntut ilmu dan semoga Allah berkahi kita di dalam taman-taman surgaNya.

Mungkin ada rasa takut, cemas, khawatir di tengah pandemi ini. Namun, datangnya bulan Ramadhan ini menumbuhkan rasa berharap yang tinggi kepadaNya. Untuk terus semangat beribadah dan memohon ridhoNya agar pandemi ini segera usai. Indahnya Ramadhan kali ini ditunjukkan dengan semakin banyak orang yang peduli, saling mengasihi, dan memperbaiki diri terhadap sesama.

Kecewa Penuntun Kesadaran

oleh: Dian Mustkarini

Malam dingin tanpa bintang  menghampiri kamar Khansa. Angin merasuki pikirannya sangat dalam. Ia bertanya-tanya dan hampir menggertak. “hmmm.. Ramadhan ini sangat berbeda dengan sebelumnya, sepi tanpa ada kebersamaan”. Seluruh masyarakat tidak mampu keluar rumah begitu saja akibat wabah di negeri tempat tinggalnya. Kebiasaan tarawih, buka puasa, dan tilawah bersama telah sirna saat ini. Renungan itu mengingatkan betapa Bahagianya Ibadah Ramadhan tahun lalu. Saat itu, Sam dan lainnya mengadakan  buka puasa bersama. Tiba di restoran mereka bercengkrama dan bermain tebak-tebakan sambil menunggu azan Maghrib. Tilawah dengan teman satu kos, datang kajian ilmu bersama selalu dilakukan tiap hari. “Aku tidak tahu harus apa sekarang. Apa yang bisa kulakukan di rumah? tanpa mereka?”, Khansa tersenyum miris.

            Bersama keluarganya, Khansa merasa sahur ini  berbeda dari tahun-tahun yang lalu. Setelah sahur, Khansa bergegas ke kamar dan Sholat Subuh. Ia bosan, hampa, kehabisan akal mau melakukan apa selama puasa. Hanya menonton, main game, membersihkan rumah, dan belajar sesekali. Diraihnya bantal, guling, dan selimut hingga dia tertidur lagi dengan pulas.  Kring…kring.  “Aduh siapa ini, kok telepon pagi-pagi sih”, gumam Khansa. Matanya terbelalak mengetahui bahwa Sam yang menelpon. Dia mengajak buka bersama online dengan yang lain. Khansa langsung mengiyakan, karena mereka sudah dianggap saudara olehnya. Enam orang berwatak beda membuat setiap pertemuan mereka lebih berkesan, asyik, unik, bahkan konyol. Mereka saling mengajak menuntut ilmu agama dan memperbaiki akhlak masing-masing, apalagi si Sam, yang sangat mengutamakan agamanya. Tentunya, mereka juga punya rombongan lain yang tidak kalah pentingnya. Grup olahraga Sam, grup hangout Rendra, grup kajian si Arin dan Hani, serta grup Fika yang salah satunya ialah Khansa. Fika dan delapan orang lain sudah sangat solid, kompak, saling terbuka, berbagi suka duka bahkan saling ejek, saling bantu dengan Khansa. Kecerahan matahari pagi itu seolah mendukung kegembiraan Khansa karena mereka akhirnya saling menyapa setelah hampir dua bulan tak bersua. Sorenya, Ani temannya Fika menelpon Khansa, mengabarkan bahwa akan ada buka bersama online pada hari sabtu. “Waduh, Sam kan tadi ngajak hari sabtu juga. Aduh, Aku kan mau dua-duanya. Gimana ini. Hmm”, pikir Khansa. Setelah hampir dua jam, dia memutuskan ikut keduanya, namun lebih lama dengan Fika.  

Hari sabtu tiba. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah yang berseri karena senyum manisnya. Beberapa kali notifikasi chat masuk di ponsel Khansa. “Maaf aku nggak bisa sepertinyaL. Ada agenda mendadak hari ini, maaf yaa”, sahut Aris. Khansa muram seketika, namun tetap menghibur diri, “nggak apa, nanti sebentar aja di mereka, terus langsung ke Fika”. “Allahu Akbar Allahu Akbar”, azan Maghrib berkumandang. Khansa bergegas membatalkan puasanya lalu mengangkat video call dari Arin. “Selamat berbuka guys, es buah dan bubur sum sum nih, enak kan?”, Khansa menyoroti takjilnya dengan penuh semangat. “Wah enak tuh, mau dong. Coba kirim kesini hehe”, canda Aris. “Eh, tunggu. Ris, kok jadi ikut sih kamu? Pasti kangen ya sama kami sampai nggak bisa nolak, benar kan hehe. By the way, Sam mana ya? Kok belum ada?”, sahut Hani dengan sorotan pisang gorengnya. Khansa langsung tersenyum dalam karena Aris tetap menyempatkan datang sebentar ke video call mereka, sebelum izin left setelah 15 menit. Mereka saling melepas tawa dan bercerita walau terpisah jarak dan ruang. Kemudian Khansa berpindah ke video call dari Fika. Berbagi sorotan makanan telah membuat suasana seolah bertemu secara langsung. Setidaknya rindu dan harapan Khansa kini telah terobati.

“Teman, maaf ya nggak jadi ikut. Rita dan rombongan hubungin aku pas siang dan mohon banget aku ikut untuk foto album, terus aku lupa gabung sama kalian. Maaf banget”, tulis Sam di chat grupnya. “Saam saam, harusnya aku paham dari awal, kami hanya pilihan terakhirmu yang sering diabaikan. Kamu mungkin nggak berniat itu, tapi semua perilakumu membuat sadar bahwa kami nggak pernah seperti saudara bagimu”, ucap Khansa lirih sambil menahan air mata dengan sinisnya. Kekecewaan Khansa yang  memuncak dibanding sebelumnya membuat chat Sam tidak dibalas. Hani menelpon Khansa sambil menggertak dengan rasa yang sama, “hobi banget Ikut aliran kemana aja apalagi kalau mereka duluan yang ngajak. Minta maafnya pas sekali diiyain langsung diread aja, nggak ada penyesalan mungkin. Masih aja nggak berubah”. Kekecewaan itu mengingatkannya pada luka lama yang pernah Sam buat. Khansa sangat mengenalnya dengan baik. Saat bekerjasama sebagai partner dalam satu wadah, Sam seringkali tanpa sengaja tidak menghargai Khansa sebagai teman, melainkan sekadar “yang membantunya” takubahnya mirip sekadar bawahan. Tak pernah Sam berniat menyakiti, namun fakta berkata sebaliknya. Apalagi saat dihubungi oleh mereka berlima, biasanya dua sampai tiga patah kata yang menjadi balasan Sam, seolah tak ada hasrat. Untuk waktu lama, kekecewaan Khansa terpendam menggoreskan luka pahit tiap dirasa. Untuk sosok Sam, si polos nan sopan kepada semua orang, bagaimana bisa Khansa gamblang memarahinya.

“Sayang, Ini mama ada roti bakar untuk snack malam, belum tidur kan?”. “Ma, Khansa sudah ngantuk, besok aja ya”, ucap Khansa sambil membuka pintu kamarnya. “Eh kok murung? nangis ya?, sini cerita sama mama.” Ditaruhnya roti di meja sementara kepala Khansa terbaring nyaman di pangkuan Mamanya. “Aku tuh kecewa banget Ma. Kawan aku itu nggak datang padahal sudah janji mau ikut. Justru ikut rombongan kawannya yang lain, sampai lupa sama kami. Ada yang lain, kami diabaikan”. “Eh, nggak boleh ngomong begitu. Sayang, coba dipikir. Memangnya dia nggak boleh buka puasa sama yang lain?  Kalau dia sudah jadi temanmu, nggak boleh berteman sama yang lain,begitu?”, tutur Mama. Khansa bergumam, “Ya boleh sih, tapi kan dia sering Ma bersikap begitu sama kami. Wajar kan kalau aku jadi mikir macam-macam”. “hmm.. sabar dulu, ingat nggak? Ini Bulan Ramadhan yang penuh berkah. Coba mama cek, gimana ibadahmu? Sudah sering bolong kah?”, tanya mama. “hmm, Khansa jarang bolong sekarang sholat dan tilawahnya, asli nggak bohong. Eh Ma, Bulan Ramadhan itu katanya pintu neraka dikunci, jadi setan dibelenggu. Tapi mengapa masih ada yang berbuat zalim dan menyakiti orang lain?”. Mama menjawab sambil mengunyah roti, “Terus  mengapa anak mama si imut ini juga masih murung, kecewa bahkan su’udzon begitu?”. Khansa terdiam memikirkan perkataan mama. “Iya yah”, batin Khansa. “Begini, Setan memang sudah janji mau menggoda manusia sampai akhir. Tapi, kadang kita menjadikannya kambing hitam dan lupa diri, siapa kita sebenarnya. Coba ingat, mengapa manusia dijadikan khalifah di bumi oleh Allah?. Mengapa tidak malaikat saja yang selalu taat yang menjadi khalifah? Hakikatnya, manusia itu punya hati, pikiran dan hawa nafsu. Nafsu yang membawa manusia ke akhlak dan perilaku yang diinginkannya. Nafsu yang benar dari pemimpin mampu menjadikan rakyatnya lebih baik. Wajar kan kalau manusia jadi khalifah, apalagi manusia sebaik-baik makhluk ciptaan Allah. Tapi ingat, kita ini ciptaan, seorang hamba yang wajib menyembah Tuhannya. Coba dipikir lagi, Ramadhan yang penuh kesempatan beramal ini, kamu habiskan untuk apa?. Kalau lagi nonton tv dan main game, fokus banget kan kesitu? kadang malah nggak dengar mama panggil. Kemarin juga karena buka bersama online, kamu nggak ikut sholat berjamaah sama papa. Tilawah kamu lebih sebentar nggak dibanding videocall sama mereka?. Pas videocall karena sangat gembira, fokusnya paling full, eh pas ibadahnya fokus nggak mengingat Allah?”. Tanpa sadar, Air mata membasahi pipi Khansa yang merasa tertusuk atas ucapan mamanya. “hmm iya sih, tapi ma, kan menjalin silaturahmi juga berpahala?”, ucap Khansa lirih. “Suatu amal itu bergantung dengan niatnya sayang, misalnya murni hanya mau bersilaturahmi, tidak  semestinya sampai ibadah wajib dan sunnah jadi nomor dua kan?. Bagaimana jika dalam niat itu, hawa nafsumu tanpa sengaja ikut menguasai. Nafus dan senangnya melewati batas, sampai akhirnya hanya lelah yang tersisa pas kamu sholat dan tilawah. Kamu tahu nggak? Saat kamu dikecewakan orang lain, tandanya kamu diingatkan bahwa mereka juga manusia, punya nafsu yang sama atau lebih dari kamu. Mereka punya hak untuk memilih siapa teman terpenting baginya. Bukankah itu nafsu yang salah saat memaksakan semuanya padahal takdir Allah sudah di depan mata? apalagi karena itu kamu jadi lupa mensyukuri nikmat lainnya dari Allah, mulai kesehatan, keluarga lengkap, teman baik, dan masih banyak lagi. Coba kalau Sam itu orang jahat, mungkin dia sudah dimarahin sampai kamu lupa ada bagian khilaf dan salah darimu. Bukan tidak mungkin  kalau temanmu yang lain nantinya bisa ngecewain kamu bahkan lebih dalam. Kalau dibilang bahagia saat hangout atau kumpul, mungkin iya. Tapi itu hanya fatamorgana tanpa ketenangan, yang didapat dari godaan nafsu tak terkontrol. Alangkah baiknya jika nafsu itu dipakai untuk mendekatkan diri kita kepada Allah. Jadi nanti semangat kamu nomor satu hanya tertuju pada Allah, yakin deh, kamu nggak akan pernah kecewa. Gimana? Mau berubah mulai besok?. Tapi ingat, mama nggak bilang putuskan mereka dari teman baikmu ya. Sudah jangan nangis, nanti mama ikut nangis loh”, ucap Mama sambil mengelus kepala Khansa dan menciumnya. Khansa memeluk mamanya sambil terharu. Sambil mencoba menerima, ia sadar dirinya lah yang terlalu larut dalam lautan nafsu yang melampaui batas. Ia berniat bahwa mulai besok dia akan lebih mengutamakan ibadah dibanding teman-teman baiknya. Ia akan berusaha sekuat tenaga mengontrol nafsu, apalagi saat puasa. Puasa yang seharusnya menahan hawa nafsu seluruhnya, agar tidak hanya lapar dan haus yang didapat. Ketika manusia beribadah dengan hati ikhlas, khusyuk dan kerendahan hati dalam focus satu-satunya menghadap Allah semata, saat itulah tercapainya kebahagiaan mutlak dalam ibadah hamba-Nya, terkhusus di bulan Ramadhan yang pahalanya dilipatgandakan. Alias, bukan kebahagiaan semu yang didapat dari membaranya nafsu ke jalan yang salah. Yakinlah, kebahagaiaan duniawi lainnya akan turut mengikuti.  Bukan tentang bersama siapa, dimana, dan seringnya dia ibadah, melainkan berlabuh kemana hati, pikiran dan jiwa raganya. ~Kontrollah nafsu atau ia menguasaimu~

RAMADHAN HARI PERTAMAKU

oleh: Zuraida Ahadiyah Bulqies

“Hai, senang bertemu denganmu!”

Sontak perlahan aku menyodorkan tangan sambil gemetaran. Sejak saat itu aku mulai mengenalnya, gadis lemah lembut nan cantik. Matanya bening seakan kilau mutiara south sea pearl. Panggilannya  Zidya.

Zidya teman pertama yang kukenal di Junrejo. Sejak sepekan di Junrejo, aku tak pernah keluar rumah dan bermain dengan siapapun kecuali dengannya, teman baruku.

Sedianya Zidya gadis yang cukup aneh bagiku. Seragam sekolah yang ia gunakan menguning, kusam dan kurang rapi.

Kadang tebersit empati padanya, tiap kali melihat penampilannya yang sangat dekil. Rambutnya terurai dan nampak kusam.

“Kamu mau aku belikan seragam baru, Zid?” aku menawarkannya karena kasihan melihat penampilannya.

“Tidak usah. Begini saja sudah cukup bagiku. Alhamdulillah” Zidya memasang wajah tegar.

Zidya dan aku berkawan baik. Ia bercerita banyak tentang guru, satpam,  pegawai dan semua hal tentang sekolah baruku. Ia bercerita seolah guru TK mendongengkan fabel kepada muridnya. Sangat jelas, detail dan menarik perhatian.

“Kamu pernah membaca buku apa?” gadis itu bertanya.

”Ehmmm … buku sains, matematika, dan buku pelajaran lainnya, Zid,” jawabku sambil menggaruk kepala karena malas membaca kecuali pelajaran sekolah.

“Wah, bagus. Membaca harus digemari dan aku akan mengajakmu ke perpustakaan setiap hari agar kamu terbiasa membaca buku sekaligus kita bisa membaca Alquran dan murojaah.” Kata Zidya.

Zidya senang sekali membaca buku. Ia mengajakku ke perpustakaan di waktu istirahat dan jam kosong. Perpustakaan sudah menjadi tempat tongkronganku dan Zidya.

“Ayo ke perpus, ada buku novel baru. Sekaligus kita membaca Alquran dan murojaah.” Ujar Zidya.

Padahal aku termasuk orang yang anti membaca buku. Bahkan selama hidupku, bisa dihitung jari berapa kali aku mengkhatamkan buku.

Notabene siswa-siswi di sekolah baruku juga sama. Mereka tidak banyak yang gemar ke perpustakaan. Perpustakaan hanya akan menjadi tempat tongkrongan sambil rebahan karena lantainya dilapisi karpet.

Entah apa yang membuat Zidya tertarik membaca buku, dan berhasil menyihirku untuk gemar membaca. Setiap kali sekolah menginformasikan terbitan buku baru yang dimiliki sekolah di mading, aku enggan menolak ajakan Zidya. Rasanya kebiasaanku membaca menjadi makanan pokok dalam sehari.

“Baca buku novel terbaru, baca Alquran dan murojaah asyik juga ya, Zid,” cakapku dengan percaya diri.

“Ya, karena kamu ikhlas. Segala yang dilakukan dengan ikhlas akan menyenangkan diaplikasikan,”balasnya ramah.

Banyak waktu yang kita luangkan di perpustakaan. Hampir satu buku baru yang terkini khatam setiap hari dengan membacanya cepat. Buku yang kubaca adalah novel kontemporer yang new release dan best seller. Meskipun demikian, membaca Alquran tak kutinggalkan. Aku merehat sejenak otakku dengan membaca Alquran dan novel bergantian.

“Wah, lumayan juga uang jajanku tersisa sepuluh ribu rupiah karena sedang puasa bulan ramadhan.” Tak jarang kami menyisihkannya ke kotak amal El-zawa, pusat kajian zakat dan waqof di sekolah kami. Kotak amal di sekolah baruku terkenal akan kehampaannya. Takmir masjid jarang meliriknya karena saking seringnya tak terisi. Semenjak aku dan Zidya rutin mengisinya, kotak itu mulai penuh sehingga pernah suatu saat kami melihat takmir masjid keheranan dan kebingungan mencari kunci kotak amal untuk mengamankannya karena telah penuh. Saking lamanya.

Zidya mengingatkan dan mengajakku bershodaqoh. Alangkah tentramnya bersama Zidya, aku merasa lebih baik dan damai berteman dengannya.

Sekali waktu pulang sekolah, ia menyodorkan jari telunjuknya kepada anak kecil yang sedang memainkan gitar sambil kocar-kacir bernyanyi. Lampu merah merupakan tanda mulainya anak itu bernyanyi. Sedangkan lampu hijau menjadi tanda selesainya bocah itu menembang. Zidya menasihatiku,” Lihatlah pengamen cilik itu, untuk makan pun mereka harus berusaha keras. Jangan lupa bersyukur.”

Rumahku dan Zidya berdekatan, hanya terpisah 5 bangunan sehingga sangat sering kita bertemu di taman dekat rumah untuk membaca buku, membaca Alquran dan murojaah bersama.

“Ayo berangkat, ayo berangkat.” Setiap berangkat sekolah, Zidya rutin menjemputku 30 menit sebelum bel sekolah berbunyi. Zidya bagaikan alarm sekolahku. Di sekolah lama, aku terkenal siswi yang sering telat.

“Tumben sekali kamu rajin berangkat pagi. Cepat habiskan sereal yang telah ibu seduh dengan susu coklat kesukaanmu.” Ibu mengusap hangat kerudungku. Aku berlari kecil merapikan kancing lengan seragam. Ibu berusaha menangkapku dan memijat pundakku yang sedang menali sepatu di halaman depan.

“Tidak, bu. Temanku telah menunggu. Akan kuhabiskan seusai sekolah nanti.”

“Tidak akan renyah lagi, Nak. Ibu siapkan kotak bekal agar kamu memakannya di sekolah ya.”

“Assalamu’alaikum, Bu.”

“Eh, tapi … Wa’alaikumussalam.”

Akhir-akhir ini ibu sering memuji perubahan tingkah laku dan prestasi akademikku. Padahal aku merasa biasa saja dalam belajar. Bedanya, hanya semakin banyak buku yang kubaca dan kedisiplinanku ke sekolah semakin tertata.

Teman memang berpengaruh terhadap kehidupan. Berteman dengan Zidya membuatku berubah ke arah yang semakin baik. Ketika aku kesulitan menyelesaikan tugas sekolah, Zidya selalu ada untuk membantuku. Saat ulangan, Zidya mengingatkanku untuk re-call materi yang telah dipelajari. Kehadirannya kadang tidak disangka-sangka. Tiba-tiba mengetuk pintu kamar dan masuk menjelma peri yang berhumanitas.

Di perpustakaan, aku dan Zidya sering bercengkrama seolah-olah saudara kandung sendiri. Zidya mengajariku akan keikhlasan, prestasi akademik, kiat belajar, tips melawan bosan membaca dan menghafal Alquran dan banyak hal yang kupelajari darinya.

“Buku berjudul Buto Biru ini sangat berarti bagiku.” Zidya menunjukkannya padaku sambil ia peluk mesra.

“Bolehkah aku membacanya, Zid?” pintaku penuh pengharapan.

“Tidak perlu, cukup kamu membaca Alquran dan membaca novel kontemporer dan murojaah seperti kebiasaanmu,” katanya sambil menepuk pundakku.

Tidak lama kemudian, aku bergegas keluar menuju kelas karena bel berbunyi menandakan jam pelajaran kedelapan telah dimulai.

“Ayo Zid, ke kelas,” ajakku sambil menggandeng tangannya kemudian berlari menuju kelas. Namun, tiba-tiba Zidya menghilang. Tanganku yang semula bergandengan tangan dengannya menjadi kosong, tidak ada jejak sedikitpun darinya.

Di lorong-lorong menuju kelas, saru antara gelap yang pekat. Hening hampa ini membuatku merinding. Sesuatu menyentuhku dari belakang. Suara tawa dengan lantang terdengar membuat kupingku tak tahan.

“Hai, gadis kecil. Huahuaaaahuaaaahah. Kemarilah. Aku sangat lapar.” Suara ini menggema sepanjang koridor sekolah.

Aku menoleh ke belakang dan melihat raksasa yang amat besar dan menyeramkan.

“Tolong jangan mendekat, pergilah dari sini! Jangan coba-coba mendekat wahai makhluk aneh” teriakku keras.

“Ini adalah tempat yang sudah kulalui.” Ucapku dalam hati melihat lorong itu tiada putus-putusnya rasanya aku berada tetap di tempat awal dan terus memutari tempat yang sama.

Sedangkan raksasa terus saja menyeru.”Kemarilah wahai gadis. Aku sangat lapar. Aku akan memakanmu untuk makan siangku huahaahahahah ”

Raksasa bertubuh biru besar itu memegang jarum tajam yang besar sekali dengan bekas darah yang melekat dan mengarahkannya pada tubuhku yang terus berlari menghindarinya. Betapa menakutkannya saat itu. Setiap inci permukaan kulitku seperti berada di atas awang, tak menapak meski semili saja. Hening hampa ini membunuhku.

“Tolong, tolong, tolong. Pergi dari sini, tolong pergi, Raksasa.” Aku menjerit sekuat tenaga.

“Kamu bermimpi? Jangan tidur di perpustakaan. “Ayo, pulang.” Seseorang mengguncang tubuhku.

“Siapa kamu?” Aku keheranan.

Tak ada yang meyahut. Semua bak jalur hitam berputar melewati pintu ajaib Doraemon. Sembari terus berasumsi,aku berusaha tenang. Hal pertama yang kuingat saat itu adalah silaunya sengatan sinar mentari bersamaan dengan guncangan dari pundak belakangku. Aku berbalik. Semua terasa asing yang familier.

Nampak cahaya biru di meja belakangku.

Pandanganku semakin jelas. Aku terkejut mengetahui diriku berada di perpustakaan bersama sebuah kitab Alquran yang kupegang. Aku mencelos dan mengusap wajah frustasi. Sekali lagi kutepuk wajahku kuat-kuat.

Aku bersegera meninggalkan perpustakaan.

“Siang-siang saat bulan ramadhan ini menjadikanku terlelap nyenyak di perpustakaan sekolah dengan berbagai mimpi yang aneh.” Ini adalah puasa hari pertamaku di bulan Ramadhan, membaca Alquran dan murojaah hingga tertidur di perpustakaan sekolahku.

Sebuah Refleksi dalam Sunyi


oleh: Icha Farihah D. F

Aku terbangun dari tidur yang tak sengaja ku niatkan bersama
tumpukan buku disampingku yang biasa digunakan sebagai referensi tugas dan ujian daring. Dengan langkah gontai, aku beranjak dari kasur dan mengamati jam dinding merah muda yang berdetak di tengah sunyi. Pukul 02.00 WIB dini hari. Waktu yang tepat untuk memandang langit dari atap. Hari ini, 15 Ramadhan, bulan sedang menampakkan kesempurnaan
bentuknya. Aku menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai atap sembari membawa buku catatan dan pulpen. Nampaknya menarik untuk
menumpahkan semua pikiran dan emosi dalam tulisan sembari ditemani
cahaya bulan.
Kalau orang kebanyakan memilih senja sebagai simbol romantisme
dan kekinian. Menurutku, waktu menjelang fajar lebih sesuai. Aku selau
menyukai waktu-waktu ini, waktu ketika hampir seluruh manusia terlelap dan
hanya menyisakan ketenangan, waktu ketika para manusia tangguh
menunjukkan kegigihan untuk mencari rezeki meski tubuh kadang tak bisa
berkompromi, dan waktu terindah ketika seseorang bersujud di sepertiga
malam dengan suara lirih kepada Tuhan Yang Selalu Terjaga. Sungguh
sebuah waktu yang Tuhan sendiri menjelaskan keutamaannya di dalam
alquran.
Banyak yang berkata bahwa ramadan kali ini berbeda karena pandemi
yang terjadi. Tak ada tarawih dan itikaf di masjid, iftar bersama teman dan
keluarga besar, dan kegiatan-kegiatan yang seharusnya menjadi ajang
merekatkan ukhuwah islamiyah. Sebuah kesedihan yang besar bagi umat
muslim ketika semua masjid di seluruh dunia ditutup dan semua orang hanya
boleh beribadah di rumah masing-masing. Beberapa menyatakan keadaan
pandemi ini merupakan azab karena menjauhkan kita dari ibadah. Padahal
kalau kita berpikir ulang, mungkin inilah waktu yang tepat untuk
mengembalikan semangat dan niat ibadah dari hati masing-masing, yaitu
ketika ibadah yang kita lakukan benar-benar penuh privasi dengan Allah
ta’ala, tanpa perlu pengawasan dan pandangan manusia.
Dari seberang terdengar suara seseorang membangunkan masyarakat
untuk makan sahur. Suara yang cukup keras dan tegas untuk membuat
mereka yang sedang terlelap dalam balutan selimut bangun. Aku menutup
kedua telinga dengan tanganku ketika volume suara pada toa mulai meninggi
dan akhirnya saat suara itu mulai menghilang, aku menghela napas dan

mengulum senyum. Indonesia mungkin pengecualian dalam pelarangan
beribadah di masjid, batinku. Di tengah pandemi yang mengerikan ini,
beberapa warga masih bersantai dan menjalankan aktivitas seperti biasa,
entah karena tidak takut, kurang informasi, atau terdesak untuk memutar
roda ekonomi. Belum lagi mereka yang memainkan teori konspirasi untuk
memecah belah pendapat umum. Aku menghela napas untuk kedua kali.
Sungguh ironi. Aku ingat terakhir kali ketika memikirkan semua permasalahan
itu membuat kepalaku pusing dan jatuh pada kecemasan yang tak wajar.
Akhirnya, aku memilih menerapkan apa yang disampaikan Stephen R. Covey
dalam bukunya, fokus terhadap sesuatu yang bisa kamu lakukan dan
pengaruhi (circle of influence), daripada fokus kepada sesuatu yang hanya
bisa kamu pikirkan tanpa ada yang bisa kamu ubah (circle of concern).
Berhenti menghabiskan energi untuk sesuatu yang tak dapat disudahi
dengan tangan sendiri.
Aku tahu pandemi ini menyebalkan, mengecewakan, dan membuat
putus asa. Semua orang mungkin sudah menghujat dan mengutuk si virus
karena ulahnya menjangkiti bumi. Tak ada yang salah dengan berkeluh
kesah sesekali, apalagi jika ada teman yang bercerita masalah karena
pandemi ini, sesepele rindu nongkrong di warung kopi hingga kehilangan
pekerjaan karena para pemilik modal yang tak mampu memberi gaji.
Mendengarkan adalah kunci, tanpa perlu banyak menasihati karena bisa jadi
mereka memang berada di tahap yang sulit dan tak patut mendapatkan toxic
positivity dari seseorang yang tak merasakan hal tersebut. Jadi, yang dapat
dilakukan adalah mmberikan empati tanpa perlu menghakimi.
Tak bisa dibohongi bahwa berada dalam “kurungan” pandemi memang
membosankan. Di saat-saat seperti ini barulah aku menyesali tentang
apresiasi, bahkan di tengah kesibukan bekerja dan belajar yang biasanya aku
maki karena lelah dan terlalu duniawi, aku lupa mengucap puji syukur.
Ternyata kesibukan pun merupakan sebuah bentuk nikmat yang baru terasa
ketika mendapat keluangan waktu yang sangat luang ini. Sebentar, aku
berpikir ulang. Jadi, waktu luang yang sangat luang ini pun perlu diapresiasi?
Alhamdulilah, ucapku tanpa suara. Semua memang butuh keseimbangan
dan saling melengkapi. Kita tidak tahu nikmatnya sehat jika tidak merasakan
sakit, begitu pula tentang kesibukan dan waktu luang.
Jika melihat jauh ke belakang, perjalananku untuk berada di titik ini
cukup panjang dan melelahkan. Jatuh bangun dan berliku. Berambisi dengan
penuh target-target hidup yang ingin dicapai, mulai dari pendidikan, karir,

keluarga, cinta, dan hal-hal lain yang kasat mata dan penuh gemerlap dunia.
Sekarang semua itu terasa bergetar dengan penuh kebimbangan. Hidup di
tengah pandemi yang tak pasti ini ternyata hanya mengharap satu hal dasar
sebagai makhluk hidup: menjadi seorang penyintas. Bertahan hidup adalah
hal yang sama-sama diperjuangkan manusia saat ini. Sungguh manusia
memang sangat rapuh dan tak berdaya.
Mungkin pandemi ini dirancang untuk mengembalikan hakikat
manusia. Apalagi kehadirannya membersamai bulan suci ramadan. Momen
seperti ini merupakan waktu yang sangat cocok untuk muhasabah diri. Masih
ingatkan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Salam mendapatkan wahyu pertama
di Gua Hira setelah menjalani tahanuts (menyendiri, red) beberapa hari di
sana? Artinya, kita memerlukan karantina dalam ramadan ini untuk
mengembalikan hati yang mungkin sudah hampir menghitam dan mulai
membatu. Momen yang perlu diapresiasi dengan memanfaatkan setiap
kesempatan dalam kesendirian ini sebaik mungkin karena tak ada yang tahu
tentang masa depan kecuali Sang Pemilik Waktu itu sendiri yaitu Allah ta’ala.
Aku tersadar dari renungan yang ku lakukan sebagai bentuk
prokrastinasi untuk menulis setelah seekor nyamuk berhasil mendapatkan
darah dari lenganku. Aku meraih pena dan mulai mengalirkan pikiran ke
dalam kata dengan cahaya bulan sebagai lampu penerang.
Wahai, Ramadan…
Terima kasih telah sudi menghampiri kami lagi.
Maaf karena tak mampu mengisi serambi-serambi masjid kali ini.
Berharap kekhusyuan kami bersamamu tetap sama meski dalam sunyi.
Berucap puji pada setiap pelajaran kehidupan yang diberikan oleh Sang Ilahi.
Menguatkan iman dalam kesendirian dan ketidakpastian masa depan.
Meyakini bahwa esok hari hanya milik Allah dan yang pasti adalah sekarang.
Sehingga kami hanya perlu mengejar kebajikan pada tiap kesempatan.
Memastikan bahwa setiap waktu dalam ramadan digunakan dalam ketaatan.
Agar Allah ridhoi ramadan di tengah pandemi sebagai cara mencapai takwa.
Sebagaimana yang telah diajarkan dalam alquran.

Bahwa keimanan akan menghadapi ujian dan cobaan
Bahwa segala kesulitan ini akan terlewati selama Allah menghendaki

JATAH TAKJIL DARI ALLAH

oleh: Alfian Nurfaizi

Matahari mulai turun, memancarkan mahkota emasnya menyusuri lautan langit biru. Begitulah suasana sore itu, tampak indah ketaatan makhluk yang memenuhi takdirnya untuk kembali setelah menemani dua pertiga siang. Kisah ini merupakan awal pertemuanku dengan sahabat selama menjadi mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran. Bulan ini adalah ramadhan pertamaku disini, setelah berbulan-bulan menjalani suka duka masa orientasi. Ramadhan ini terasa berbeda dari sebelumnya, ini pertama kalinya aku datang ke Masjid untuk mendengarkan ceramah secara sukarela. Masih teringat jelas di pikiranku pengalaman masa itu, perasaan hampa setelah tujuh belas tahun disibukkan urusan dunia. Begitulah sejatinya sifat manusia, selalu merasa kurang dan tak pernah puas atas segala pencapaian. Seperti sabda Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan Baihaqi dan Ibnu Hibban, “Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai beraikan urusannya,  lalu Allah akan jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang telah ditakdirkan saja. Sedangkan, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan ringankan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan, dan rezeki duniawi mendatanginya padahal ia tak minta”.

Suasana masjid fakultas cukup ramai dengan berbagai tipe mahasiswa yang menjalani aktivitas, ada yang tilawah menyelesaikan target harian, berkemas diri seusai kajian, hingga bersantai rebahan menunggu lantunan adzan. Waktu itu aku dan beberapa teman mahasiswa baru sempat merasa takut dan cemas ketika seorang kakak tingkat mendatangi kami, “Semoga tidak ada kesalahan yang kami lakukan hari ini” ucapku dalam hati. Segala puji bagi Allah, ternyata kakak tingkat tersebut memiliki maksud baik untuk mengajak kami berbagi takjil kepada masyarakat di sekitar kampus. Kami pun bersedia menerimanya, meskipun dengan sedikit berharap mendapat jatah untuk meringankan jatah kos bulanan.

Jam telah menunjukkan pukul empat, langit yang cerah perlahan mulai meredup. Beberapa kresek besar berisi nasi kotak telah menunggu kami bagikan. Kami pun berangkat berjalan bersama menyusuri jalan sekitar kampus, bergegas menjemput pahala atas amalan berbagi makanan berbuka. Pos pertama sampai, kami mulai membagikan takjil kepada orang-orang membutuhkan yang berada di sekitar. Perasaan bahagia kami rasakan ketika melihat wajah berseri penerima takjil, tak sedikit diantara mereka mendoakan keberkahan untuk kami. Sungguh sebuah rasa syukur yang tak dapat diungkapkan dalam kata-kata, suasana haru bercampur senang seakan menyatu menemani kami sepanjang perjalanan.

Satu jam telah berlalu, pos terakhir sudah berada di depan. Persediaan takjil kian menipis seiring tenaga kami yang semakin terkuras menjelang berbuka. “Eh, kita ambil jatah takjil dulu yuk sebelum kehabisan, sudah mau maghrib nih.” ucap temanku secara spontan. Memang saat itu setiap dari kami diperbolehkan untuk mengambil jatah takjil, sebagai bentuk balas jasa atas sedikit tenaga dan waktu yang kami luangkan. “Tapi jangan dulu deh, lihat di depan orangnya masih banyak. Kasihan nanti ada yang tidak kebagian, lagipula mereka lebih berhak dari kita yang sebenarnya masih berkecukupan, mending kita nunggu jatah takjil di Masjid fakultas aja.” Pendapat bijak dari temanku yang lain. Setelah berbagai pertimbangan, kami pun setuju dengan pendapat kedua. Tidak ada ruginya, sama-sama mendapat takjil hanya saja dari tempat dan waktu yang berbeda. Takjil pun habis dibagikan di pos terakhir, beberapa relawan telah mengambil jatahnya, beberapa relawan lain termasuk aku merelakan jatah untuk dibagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Suara adzan telah berkumandang, kami bergegas menuju masjid fakultas. Suasana masjid saat itu lebih ramai dari biasanya, banyak mahasiswa luar fakultas yang datang. Sempat terbisik dalam hati, “Apakah nanti kami kebagian dengan jumlah jamaah sebanyak ini?”. Perasaan was-was itupun segera ku lupakan tatkala melihat hidangan, bergegas kami meneguk segelas air dan memakan tiga butir kurma untuk membatalkan puasa. Tak sempat mengambil gorengan, lantunan iqomah memanggil kami untuk segera memenuhi shaf terdepan, mengejar pahala terbaik sholat berjamaah di bulan ramadhan.

Setelah imam mengucap salam, mahasiswa bergegas pergi berhamburan ke belakang mengambil jatah takjil. “Tenang, pasti kebagian kok. Serahkan segala urusan kepada Allah, maka Allah pasti memberikan yang terbaik.” kata temanku yang ikut membagikan takjil keliling. Seusai berdzikir dan sholat sunnah, kami pun menuju belakang untuk mengambil nasi. Sialnya ternyata kami kehabisan, rasa marah bercampur kecewa memenuhi sesak dada ini, kenapa kejadian tidak adil ini harus terjadi kepada kami ketika sudah melakukan cukup banyak kebaikan hari ini.

Akhirnya temanku mengajak untuk segera membeli makanan, “Perasaan menyesal tidak akan menyelesaikan masalah, mengikhlaskan akan membuat hati kita lebih baik, dan meningkatkan derajat kita di hadapan Allah. Yuk mending segera cari makan sebelum masuk waktu isya!”. Perkataan tadi sedikit menenangkan kami, perut yang kosong dan bunyi sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Kami bergegas berangkat ke jalan sekitar kampus untuk berburu makanan. Suasana jalan penuh ramai, semua orang sibuk menyelesaikan santap bukanya. “Hmm, harus menunggu sampai kapan ini sepinya? Masa penuh semua sih, sial banget hari ini.”, pikirku waktu itu. Setelah mencari tempat, kami pun tiba pada salah warung untuk segera duduk dan memesan makanan berbuka.

Warung itu satu-satunya tempat yang masih menyisakan tempat duduk, waktu berbuka hampir pasti membuat seluruh tempat penuh. Alhamdulillah sungguh beruntung kami bisa mendapatkan tempat tersebut, sedikit pelipur lara atas cobaan berlapis yang baru saja kami alami. Tak lama merasa senang, beberapa pengunjung disamping sedikit mengganggu kami dengan bertanya seputar kuliah dan menceritakan panjang lebar pengalamannya. Karena perut yang sangat lapar ditambah mood yang sedang buruk, kami menjawab seadanya tanpa sempat memandang wajahnya. “Apaan sih orang ini, mengganggu saja. Tidak tahu ya kalau orang sedang lapar?” menurut pemikiranku. Tak lama berselang hidangan kami pun datang, tanpa berfikir panjang kami pun bergegas menyantapnya dengan lahap. Melihat kami yang sangat rakus waktu itu membuat orang tersebut tertawa, kami berusaha tetap sabar meskipun kesal dengan kejadian itu. Sungguh diluar dugaan, ternyata orang tersebut sangat baik, beliau menawarkan lauk tambahan berupa pepes udang yang dibelinya yang akhirnya kami terima. Selain itu beliau juga menawarkan membelikkan jus, namun karena kami merasa itu terlalu memberatkan akhirnya kami menolak dengan alasan sudah memesan. “Astagfirullah, sungguh menyesal hati ini mengumpatnya tadi. Tidak ada yang tahu apa yang telah Allah rencanakan untuk hamba-Nya.” ucapku dalam hati dengan sedikit rasa haru.

Kamipun mengobrol dengan asyik setelah makan, sekedar berbagi rasa dan pengalaman sebagai mahasiswa tahun pertama di tanah perantauan. Tanpa kami sadari, beberapa orang disamping kami telah pergi tanpa sempat kami berpamit diri, rasanya agak sungkan ketika tak sengaja mengabaikan setelah diberi lauk makanan. Perlahan kami mulai tersadar, tanpa kejadian kurang beruntung yang dialami hari ini, kami tak akan dapat dipersatukan melalui indahnya ukhuwah persahabatan antar saudara seiman. Kami pun berjanji bersama, tidak akan mengulangi kesalahan lagi mulai hari ini, berjanji akan selalu berbuat baik, dan berjanji akan akan selalu husnudzon terhadap segala sesuatu yang telah Allah tetapkan. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Tak lama kemudian adzan isya berkumandang, kami segera menemui ibu penjual untuk membayar makanan. Subhanallah, pelajaran berharga bagi kami belum selesai di kejadian itu. Sungguh kebesaran dan kenikmatan Allah selalu hadir melalui jalan yang tanpa pernah disangka hamba-Nya, kami semakin terisak sedu ketika mengetahui bahwa makanan telah dibayar oleh orang baik disamping kami yang bahkan belum kami ketahui namanya. Tak terbendung lagi air mata bahagia kala itu, suatu rentetan pelajaran berharga yang akan kami ingat untuk selamanya. Jatah takjil dari Allah telah memberikan solusi atas apa yang dicari selama ini, rasa bahagia tatkala berbagi, indahnya beribadah berjamaah, nikmatnya rezeki, jalinan tali ukhuwah, hingga rasa syukur atas segala ketetapan Allah dengan sepenuh hati. Suara iqomah mulai terdengar, bergegas kami menghapus air mata dan segera pergi untuk memenuhi panggilan-Nya. Pelajaran hari itu pun akhirnya menjadi awal perjalanan kami untuk terus bersama berbagi dalam berbagi kebaikan

Surabaya,

Ramadhan 1438 H