Puasa Ramadhan

 

Definisi Puasa Ramadhan

Puasa menurut bahasa adalah menahan diri. Sedangkan menurut syari’at, puasa adalah menahan diri dari makanan, minuman, hubungan suami-istri, dan semua perkara yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari dengan niat ibadah.

Allah telah mewajibkan puasa kepada umat Muhammad sebagaimana Dia mewajibkannya kepada umat-umat terdahulu. Sesuai dengan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa” [Q.S. Al-Baqarah : 183].

Puasa pada bulan Ramadhan adalah wajib berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’. Allah berfirman

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembela (antara yang haq dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan itu, maka hendalah ia berpasa pada bulan itu.” [Q.S. al-Baqarah : 185].

Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda, “Tali Islam dan kaidah Agama itu ada tiga, dan Islam dibangun di atas ketiganya. Barangsiapa meninggalkan salah satu dari ketiganya, maka ia kafir dan darahnya halal. (ketiga tali Islam itu, dan kaidah agama) itu adalah kesaksian bahwa tidak Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan.” [H.R. Abu Ya’la, dalam Musnadnya, 4/236 dengan sanad hasan].

Dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, dia mengisahkan

أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصِّيَامِ فَقَالَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الزَّكَاةِ فَقَالَ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَالَ وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لَا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا وَلَا أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ

Ada seorang Arab badui yang rambutnya berdiri datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang sholat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Beliau menjawab, “Sholat lima waktu kecuali jika kamu ingin menambah sholat yang lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku puasa yang diwajibkan Allah kepadaku”. Beliau menjawab, ”Puasa di bulan Ramadhan, kecuali apabila kamu mau melakukan puasa lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku zakat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitahukan kepadanya syari’at-syari’at Islam. Lalu lelaki itu berkata, “Demi Tuhan yang memuliakanmu. Aku tidak akan menambah dan mengurangi apa yang Allah wajibkan kepadaku barang sedikit pun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia pasti beruntung jika dia jujur.” atau “Dia pasti masuk surga jika dia jujur.” [HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam]

Keutamaan dan Manfaat Puasa Ramadhan

Keutamaan puasa disebutkan dan ditegaskan didalam hadist-hadist berikut. Rasulullah bersabda :

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

“puasa adalah perisai dari Neraka, sebagaimana perisai salah seorang diantara kalian untuk perang” [H.R. Ahmad, no. 15844]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbudat bodoh. Apabila ada orang lain yang memerangi atau mencacinya, hendaklah dia katakan, ‘Aku sedang puasa’ (dua kali). Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ta’ala daripada bau minyak kasturi. Dia rela meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” [HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam]

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari Neraka disebabkan (puasa) hari itu sejauh (perjalanan) tujuh puluh tahun” [H.R. al-Bukhori, no. 2840; Muslim, no. 1153].

“sesungguhnya orang yang berpuasa itu mempunyai doa yang tidak ditolak pada saat ia berbuka” [H.R. Ibnu Majah, no. 1753 dan al-Hakim, dan ia menshahihkannya].

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“sesungguhnya di dalam Syurga itu terdapat sebuah pintu yang disebut sebagai ar-Rayyan, orang-orang yang berpuasa masuk (ke dalam Syurga) pada hari Kiamat melalui pintu itu dan tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk melalui pintu tersebut. Ditanyakan, ‘Di manakah orang-orang yang berpuasa?’ kemudian mereka berdiri dan masuk melaluinya tanpa seorang pun selain mereka. Jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, pintu tersebut ditutup sehingga tidak ada seorangpun selain mereka yang bisa masuk melaluinya” [H.R. al-Bukhori, no. 1896; Muslim, no. 1152].

Bulan Ramadhan mempunyai keutamaan yang besar dan keistimewan yang bermacam-macam yang tidak dimiliki bulan-bulan yang lain. Hadist-hadist berikut menetapkan hal itu dan menguatkannya :

“shalat lima waktu dan jum’at ke jum’at berikutnya, serta Ramadhan ke Ramdhan selanjutnya adalah penghapus dosa-dosa diantara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” [HR. Muslim, no. 16].

“Barangsiap yang berpuasa pada bulan Ramdhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosa nya yang telah lalu akan diampuni.” [H.R. Bukhori, no. 38; Muslim, no. 760].

“Aku melihat salah seorang dari umatku terngah-engah kehausan, setiap kali ia tiba di kolam air, maka ia tercegah darinya (tidak dapat mencapainya), kemudian (masa) puasa Ramadhan datang padanya, sehingga memberina air minum dan melepaskan dahaganya.” [H.R. ath-Thabrani].

“Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan pembesar-pembesar jin dibelenggu, pintu-pintu Neraka ditutup dan tidak ada satupun pintunya yang dibuka, sementara pintu-pintu Syurga dibuka dan tidak ada satupun pintunya yang ditutup, lalu seorang penyeru berseru, ‘Hai pencari kebaikan datanglah dan hai pencari keburukan behentilah.’ Allah mempunyai orang-orang yang terbebas dari Neraka dan itu terjadi pada setiap malam.” [H.R. al-Tirmidzi, no. 682 dan dia mengatakan bahwa hadist ini gharib.  Diriwayatkan pula oleh al-Hakim 1/582 dan dia menshahihkannya sesuai dengan syarat al-Bukhori dan Muslim].

Manfaat Puasa bagi Kesehatan

Adapun beberapa manfaat puasa bagi kesehatan telah disepakati oleh para medis dari kalangan Muslim dan non muslim, manfaat ini beragam mencakup, berbagai sistem anatomi tubuh dari pencernaan, peredaran darah, pernapasan dan lainnya. Manfaat puasa efektif melindungi kesehatan tubuh, hinga orang-orang non muslim saja mengkhususkan beberapa hari untuk mereka puasai. Bahkan sebagian mereka ikut berpuasa bersama kaum muslimin karena tinjauan kesehatan. Diantara manfaat puasa yang tercantum dalam buku-buku kedokteran dan ilmiah adalah sebagai berikut :

Puasa mampu mengobati gangguan usus kronis, obesitas, tekanan darah tinggi, radang ginjal dan penyakit kulit. Hal ini dikarenakan tidak makan dan tidak minum selama beberapa waktu dapat mengurangi kadar air dalam tubuh. Otomatis hal ini berpengaruh pada keberadaan airdalam kulit, sehingga menambah daya perlawanannya pada penyakit dan mempercepat penyembuhan.

Mengatasi gangguan pencernaan

Mengurangi kadar gula darah

Mengurangi berat badan

Baik untuk penyembuhan bebrapa penyakit jantung

Baik untuk penyembuhan radang ginjal dan persendian/rematik.

Pertama, mengatur menu makanan dan makan dengan teratur, berarti mengorganisasi kerja suatu alat yang fundamental dalam tubuh, yakni alat pencernaan.  Menjadwal lambung dan usus untuk bekerja dan istrahat dalam waktu-waktu tertentu adalah suatu proses yang sehat lagi penting untuk menguatkan ketahanan lambung dan usus. Tidak makan dan tidak minum selama beberapa waktu saat menjalankan puasa memberikan kesempatan kepada organ lambung dan usus untuk membuang sisa-sisa makanan yang kebanyakan tidak baik untuk tubuh. Mikroba-mikroba yang kita dapati dalam alat pencernaan akan menjadikan sisa-sisa makanan ini sebagai sarang utama pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Maka ketika residu makanan ini hanya ada sedikit dalam sistem pencernaan, mikroba-mikroba tersebut tidak memiliki kesempatan hidup, dengan demikian, racun dan bahaya sarang ini pun berkurang.

Kedua, puasa dapat mengurangi kadar minyak yang dihasilkan kelenjar-kelenjar minyak dan dapat mengurangi aktivitas kelenjar-kelenjar ini, sehingga kondisi kulit yang berminyak dapat berkurang. Dari situ, radang kulit berminyak dan radang pada lipatan-lipatan kulit pada orang yang memiliki kulit seperti juga akan membaik, penyebaran jerawat juga akan melambat, bisul yang biasa muncul pada kulit berminyak akan hilang. Mengurangi mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung zat-zat tertentu, seperti protein yang terdapat pada keju, daging, telur dan ikan yang semua ini potensial menimbulkan penyakit sensitif. Juga dapat mengurangi gatal-gatal dan menyembuhkan eksim. Puasa juga dapat mengurangi kondisi garam pada makanan dan minuman hingga dapat meminimalisir bertumpukny cairan dan iar pada jaringan-jaringan dalam tubuh. Dengan demikian akan mengurangi resiko munculnya radang kulit kronis, sebab pada bagian tubuh yang bengkak dan mengandung cairanlah mikroba-mikroba mendapati peluang besar untuk berkembang biak dan menciptakan penyakit baru.

Ketiga, puasa efektif mengurangi gangguan psikologis dan syaraf yang berdampak menimbulkan beberapa jenis gangguan penyakit kulit. Puasa, meninggalkan dosa-dosa kecil maupun dosa besar dan menuju pada Allah dapat mengurangi beban urusan yang membelit hati, sehingga mampu melahirkan ketenangan jiwa. Keadaan ini jelas membantu dalam mengatasi penyakit-penyakit kulit yang sangat dipengaruhi oleh kondisi syaraf, seperti vitilogo (suatu penyakit kulit dimana warnah kuling berkurang yang akan menimbulkan bercak-bercak putih pada kulit). Puasa juga menetralkan tabiat, mencerdaskan pikiran menajamkan mata hati dan menyinari jiwa untuk menerima limpahan karunia kesucian dan penerangan Rabbani.

Keutamaan Perbuatan Baik selama Ramadhan

Karena keutamaan Ramadhan, setiap kebaikan dan bermacam-macam perbuatan baik pun diutamakan. Diantara perbuatan-perbuatan baik tersebut antara lain sebagai berikut :

Shadaqoh : keutamaan Shadaqoh pada bulan Ramadhan ialah diantara dalil-dalil berikut ;

~”sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramdhan” [H.R. al-Tirmidzi, no. 663. Hadist ini adalah hadist dhaif].

~”Barangsiapa yang memberi makanan untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun” [H.R. Ahmad, no. 21168; dan at-Tirmidzi, no. 807. Hadist ini adalah hadist shahih].

~”Barangsiapa yang memberi makanan atau minuman untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa dari hartanya yang halal, maka malaikat akan memanjatkan shalawat baginya selama beberapa saat pada bulan Ramdhan dan malaikat Jibril akan memanjatkan shalawat baginya pada malam Qadar (Lailatul Qadar).” [H.R. at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 2/261 dan Abu asy-Syaikh].

~”Rasulullah adalah orang yang paling dermawan diantara manusia dalam melakukan kebaikan dan beliau lebih dermawan lagi melakukan kebaikan tersebut pada bulan Ramadhan dimana malaikat Jibril mendatanginya.” [H.R. al-Bukhori, no. 6].

 

Shalat Sunnah pada Malam Ramadhan ; Berdasarkan dalil-dalil berikut, Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa yang melakukan qiyamul lail pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap ganjaran Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [H.R. al-Bukhori, no. 37; Muslim, no. 760].

 

“Rasulullah senantiasa menghidupkan malam-malam Ramadhan, dan jika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau membangunkan keluarganya dan semua anak-anak serta orang dewasa yang mampu melakukan shalat.” [H.R. Muslim, no. 1174].

 

Membaca al-Qur’an al-Karim : karena Rasulullah memperbanyak membaca al-Qur’an al-Karim pada bulan Ramadhan dan malaikat Jibril membacakan al-Qur’an kepada beliau pada bulan Ramadhan [H.R. al-Bukhori].

Rasulullah membaca al-Qur’an didalam shalat lebih lama pada bulan Ramadhan daripada bacaannya pada bulan-bulan yang lain. Pada suatu malam, Hudzifah melaksanakan shalat bersama Rasulullah , dan beliau membaca surat al-Baqarah, kemudian Ali Imran dan an-Nisa. Setiap kali membacakan ayat memberikan peringatan tentang sesuatu yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdo’a. tidaklah beliau melaksanakan shalat melainkan dua rakat sampai Bilal datang dan mengumandangkan adzan untuk shalat. [H.R. Muslim, no.772].

Rasulullah juga bersabda : “puasa dan al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seoang hamba pada hari Kiamat. Puasa berkata ‘Wahai Rabb, aku menahannya dari makan dan minum pada siang hari. Dan al-Qur’an berkata, ‘Wahai Rabb, aku menahannya dari tidur pada malam hari, maka izinkan kami memberikan syafa’at kepadanya.” [H.R. Ahmad, no. 6589 dan an-Nasa’i].

 

I’tikaf : yaitu menetap di Masjid untuk melakukan ibadah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah selalu melakukan I’tikaf selama sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah memanggilnya sebagaimana disebutkan dalam hadist shahih [Muslim, no. 1171]. Rasulullah juga bersabda :

“Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertaqwa,dan Allah akan menjamin bagi orang yang menjadikan masjid sebagai rumahnya dengan memberinya kasih sayang, rahmat dan keberhasilan melewati titian menuju keridhaan Allah sampai ke Syurga.” [H.R. at-Thabrani dalam al-Kabir, 6/254; dan al-Bazzar, 6/506].

 

Umrah : yaitu melakukan ziarah ke Baitullah Masjidil Haram untuk melaksanakan Thawaf dan Sa’I pada bulan Ramadhan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah,

“Umrah pada bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku.” [H.R. Al-Bukhori, no. 1863; Muslim, no. 1256].

“Umrah satu sampai dengan umrah yang berikutnya adalah penghapus dosa-dosa yang dilakukan diantara keduanya.” [H.R. al-Bukhori, no. 1773; Muslim,no. 1349].

 

Rukun-Rukun Puasa

Rukun-rukun puasa adalah sebagai berikut :

Niat, yaitu kemantapan hati untuk berpuasa sebagai (wujud) ketaatan atas perintah Allah, atau mendekatkan diri kepada-Nya, berdasarkan sabda Rasulullah,

“sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu bergantung pada niatnya” [H.R. al-Bukhori]

 

Jika puasa yang akan dilaksanakannya adalah puasa Wajib, maka niatnya wajib dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Ini berdasarkan Sabda Rasulullah,

“barangsiapa yang tidak meniatkan puasa sejak malam harinya, maka tidak ada puasa baginya.” [H.R. at-Tarmidzi, no. 730 dengan lafadz yang berbeda].

 

Hadist ini ada dalam riwayat an-Nasa’i, no. 2334. Jika puasa itu adalah puasa sunnah, maka puasanya sah, walaupun niatnya dilakukan setelah terbitnya fajar dan matahari telah meninggi dengan syarat ia belum makan apapun. Ini berdasarkan pernyatan Aisya,

“pada suatu hari Rasulullah masuk ke dalam rumahku, kemudian bertanya, apakah kalian mempunyai makanan? Kami menjawab, ‘Tidak.’ Lalu Rasulullah bersabda, ‘(jika demikian), maka aku berpuasa’.” [H.R. Muslim, no. 1154].

 

Imsak, yaitu menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan berhubungan seksual.

Waktu, yang dimaksudkan dengan waktu disini adalah siang hari, yaitu sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Jika seseorang berpuasa pada malam hari dan berbuka pada siang hari, maka puasanya sama sekali tidak sah, sebagaimana Allah berfirman,

“kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.”[Q.S. al-Baqarah : 187].

 

Sunah-Sunah Puasa

Perkara-perkaa yang disunahkan dalam puasa adalah :

Menyegerakan berbuka puasa (ta’jil), yaitu segera berbuka puasa ketika waktu berbuka telah tiba pada saat matahari benar-benar telah terbenam, sebagaimana sabda Rasulullah,

“manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” [H.R. al-Bukhori, no. 1957; Muslim, no. 1098]

Anas bin Malik juga berkata,

“sesungguhny  Nabi tidak mengerjakan shalat Magrib sampai berbuka puasa (terlebih dahulu) walaupun hanya seteguk air.” [H.R. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath, 8/335].

Berbuka puasa dengan kurma matang, atau kurma kering, atau air. Yang terbaik diantara ketiganya adalah yang pertama, yaitu kurma matang, sedangkan yang kurang baik adalah yang terakhir, yaitu air. Seorang Muslim disunahkan berbuka puasa dengan sesuatu yang ganjil : tiga, lima, atau tujuh, sebagaiman Anas bin Malik berkata,

“Rasulullah berbuka puasa dengan beberapa kurma ruthab (yang setengan matang)sebelum mengerjakan shalat Maghrib. Jika ruthab tidak ada, beliau berbuka puasa dengan kurma matan. Jika (kurma matang) tidak ada, beliau meneguk beberapa tegukan air.” [H.R. at-Tirmidzi, no. 696].

Berdoa ketika berbuka puasa, karena Rasulullah berdoa ketika berbuka puasa, sebagai berikut,

“Ya Allah untukMu kami berpuasa dan dengan rikiMu kami berbuka, (maka terimalah (puasa) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)” [H.R. ath-Thabrani, 12/156; Abu Dawud, no. 33-58].

 

Ibnu Umar juga berdo’a ketika berbuka puasa, yaitu dengan do’a berikut :

“Ya Allah, aku meminta kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu, semoga Engkau mengampuni dosa-dosaku.” [H.R. Ibnu Majah, riwayat shahih].

 

Sahur, yaitu makan dan minum pada saat sahur diakhir malam dengan niat puasa, sebagaimana sabda Rasulullah,

“sesungguhnya pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahli kitab adalah makan sahur.” [H.R. Muslim, no. 1096]. Dan sabda Rasulullah,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

 

”makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.” [H.R. al-Bukhori, no. 1923; Muslim, no. 1095].

 

Mengakhirkan sahur sampai akhir bagian malam hari, berdasarkan sabda Rasulullah,

“Umtku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.” [H.R. Ahmad, no. 20805, hadist shahih].

Waktu ahur dimulai sejak pertengahan malam yang akhir dan berakhir beberapa saat sebelum fajar tiba. Ketentuan ini berdasarkan pernyataan Zai bin Tsabit,

سَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إلَى الصَّلاةِ قَالَ أَنَسٌ قُلْت لِزَيْدٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami melaksanakan sahur bersama Rasulullah kemudian beliau berdiri untuk shalat. Aku bertanya, ‘Berapa jarak waktu antara adzan dengan sahur?’ Rasulullah menjawab, “sekitar (membaca) 50 ayat. [H.R. al-Bukhori, no. 1921; Muslim, no. 1097].

 

CATATAN :

Orang yang merasa ragu-ragu mengenai terbitnya fajar, ia boleh makan dan minum sampai ia merasa yakin bahwa fajar telah terbit, kemudian ia berhenti dari makan dan minum, sebagaimana firman Allah menyebutkan,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

 

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. [Q.S. al-Baqarah : 187].

Seorang berkata kepada Ibnu Abbas, “Aku sedang sahur tetapi tiba-tiba aku merasa ragu-ragu sehinga aku berhenti sahur.” Ibnu Abbas berkata kepadanya, “Makanlah selama kamu merasa ragu-ragu sampai kamu tidak merasa ragu-ragu (yakin).” [H.R. Ibnu Abu Syaibah 2/288].

Al-Hafidz meriwayatkannya dalam “Al-Fath.” Makan dan minum sampai benar-benar nyata terbit fajar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Imam Malik berpendapat bahwa orang yang makan dan minum dalam keadaan ragu mengenai terbitnya fajar, maka ia harus mengganti puasanya, dan ini hanya sekedar upaya untuk berhati-hati.

 

Perkara-Perkara yang Makruh dalam Puasa

Bagi orang yang sedang berpuasa, makruh hukumnya melakukan perkara-perkara yang dapat merusak puasanya, meskipun jika dilakukan secara wajar, tetapi perkara-perkara tersebut tidak membatalkan puasa. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Berlebih-lebihan dalam berkumur dan membersihkan hidung dengan menghirup dan mengeluarkan air ketika berwudhu, berdasarkan sabda Rasulullah

“dan bertindaklah maksimal dalam menghirup air dengan hidung kecuali engkau sedang berpuasa.” [H.R. Abu Dawud, no. 2366; at-Tirmidzi, no. 788; an-Nasa’I, no. 87; Ibnu Majah, 1/78, ia menshahihkannya].

Rasulullah tidak menyukai terlalu dalam menghirup air karena takut akan masuknya air tersebut ke dalam rongga (hidung)nya yang akan merusak puasanya.

Ciuman, karena mencium kadang-kadang membangkitkan syahwat yang dapat merambat sampai merusak puasanya dengar keluarnya air madzi atau dengan hubungan suami istri yang harus dibayar dengan kaffarah.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata,

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ وَهُوَ صَائِمٌ ثُمَّ ضَحِكَتْ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu pernah mencium sebagian istrinya dalam keadaan beliau sedang berpuasa.” Kemudian ‘Aisyah tertawa” [HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam]

 

Suami terus menerus melihat istri dengan syahwat.

Menghayalkan hubungan suami istri.

Menyentuh wanita dengan tangan atau menempel tubuhnya dengan tubuh.

Mengunyah daun sirih karena dikhawatirkan beberapa baginya masuk ke dalam tenggorokan.

Mencicipi makanan.

Berkumur-kumur bukan wudhu atau keperluan yang mengharuskannya.

Bercelak pada permulaan siang, tetapi jika bercelak pada akhir siang, maka hal itu diperbolehkan.

Berbekam atau mengeluarkan darah karena dikhawatirkan akan melemahkan tubuh yang menyebabkan harus membatalkan puasanya, karena hal yang demikian terdapat perkara yang dapat membatalkan puasa.

 

Perkara-Perkara yang Membatalkan Puasa

Perkara-perkara yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut ;

Masuknya cairan ke dalam tubuh melalui hidung seperti memasukkan obat lewat hidung, atau mata dan telinga, seperti meteskan cairan/obat ke keduanya, atau melalui dubur dan kemaluan wanita, seperti suntikan.

Sesuatu yang masuk ke dalam tubuh karena berlebih lebihan dalam berkumur dan menghirup air dengan hidung ketika berwudhu dan lainnya.

Keluarnya air mani karena melihat wanita secara terus-menerus, selalu memikirkannya, mencium, atau berhubungan suami istri.

Muntah dengan sengaja, sebagaimana sabda Rasulullah,

“barang siapa yang muntah dengan sengaja, maka ia harus mengganti puasanya.” [H.R. a-Tarmidzi, no. 720].

Sedangkan orang yang muntah tanpa disengaja karena tak mampu menahannya, misalnya,maka hal itu tidak membatalkan puasa.

Makan dan minum atau bersenggama dalam keadaan terpaksa untuk itu.

Orang yang makan dan minum karena menduga masih malam, tetapi kemudian nyatalah baginya bahwa fajar telah terbit.

Orang yang makan dan minum karena menduga bahwa hari telah malam, tetapi kemudian nyata baginya bahwa hari masih siang.

Orang yang makan dan minum karena lupa, tetapi kemudian ia tidak berhenti darinya karena menduga bahwa berhenti makan dan minum itu tidak wajib selama ia telah makan dan minum hinga meneruskan berbuka sampai malam.

Masuknya sesuatu yang bukan makanan atau minuman ke dalam tubuh melalui mulut, misalnya menelan permata atau benang, sebagaimana diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Puasa itu karena sesuatu yang masuk, dan bukan karena sesuatu yang keluar.” Yang dimaksudkan oleh Ibnu Abbas adalah bahwa puasa itu batal dengan masuknya sesuatu ke dalam tubuh dan bukan karena keluarnya sesuatu darinya, seperti darah dan muntah.

Menolak berniat puasa meskipun tidak makan dan minum jika penolakan tersebut ditafsirkan sebagai berbuka puasa, tetapi jika sebaliknya, maka puasa itu tidak batal.

Murtad (keluar) dari Islam, walaupun ia kembali masuk ke dalam Islam, berdasarkan firman Allah

“jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Q.S. Az-Zumar : 65].

 

Perkara-Perkara yang Diperbolehkan Bagi Orang yang Berpuasa

Orang yang berpuasa diperbolehkan melakukan perkara-perkara sebagai berikut :

Menggunakan siwak pada siang hari. Tetapi, menurut Imam Ahmad, menggunakan siwak makruh hukumnya bagi orang yang sedang berpuasa setelah matahari condong ke arah barat.

Mendinginkan badan dengan air karena panas yang sangat menyengat, baik dengan menyiramkan air ke seluruh badan atau dengan berendam di dalam air.

Makan dan minum dan hubungan suami istri pada malam hari, hingga terlihat dengan jelas terbitnya fajar.

Bepergian untuk suatu kebutuhan yang diperbolehkan meskipun perjalanan tersebut bisa jadi akan mengakibatkan dirinya berbuka puasa.

Berobat dengan jenis obat apapun yang halal selama tidak ada yang masuk ke dalam tubuh, misalnya denan menggunakan jarum jika hal itu bukan infus.

Mengunyahkan makanan unuk anak kecil jika yang bersangkutan tidak menemukan orang yang dapat mengunyahkan makanannya dengan syarat tidak ada sesuatu apapun yang masuk ke dalam tubuhnya.

Menggunakana minyak wangi dan wewangian, hal ini karena tidak ada riwayat yang melarangnya dari pembuat syari’at.

 

Perkara-Perkara yang Dimaafkan

Perkara-perkara yang dimaafkan apabila dilakukan oleh orang yang berpuasa adalah sebgai berikut :

Menelan ludah walaupun banyak. Maksudnya adalah ludahnya sendiri, bukan ludah orang lain.

Terpaksa muntah dan mengeluarkan cairan dari perut (dengan syarat) jika tidak aa yang masuk lagi ke dalam perutnya setelah (keluar) sampai pada ujung lidahnya.

Menelan lalat (serangga) karena terpaksa dan tanpa disengaja.

Debu jalanan, dan asap dari pabrik-pabrik, asap kayu bakar dan seluruh bentuk asap yang lain yang tidak dapat dihindari.

Bangun pagi dalam keadaan junud, meskipun ia menghabiskan seluruh siangnya dalam keadaan junud.

Mimpi basah, tidak ada akibat apapun bagi orang yang berpuasa jika ia mengalami mimpi basah, hal itu tidak meyebabkan puasanya batal. Rasulullah bersabda,

“hukum tidak dapat diberlakukan atas tiga orang, yaitu : orang gila sampai ia sadar, orang tidur sampai ia bangun, dan anak kecil sampai ia bermimpi (baligh).” [H.R. Ahmad, no. 1330 dan Abu Dawud, no. 4399].

Makan dan minum tanpa disengaja atau lupa. Tetapi Imam Malik berpendapat bahwa orang yang makan dan minum karena lupa, ia harus mengqadha’ nya puasanya jika puasa itu adalah puasa wajib, sebagai kehati-hatian darinya. Sedangkan puasa sunnah, tidak kewajiban mengqadha’nya. Hali ini berdasarkan sabda Rasulullah;

إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

“orang yang lupa sedangkan ia berpuasa, kemudian ia makan atau minum, maka ia harus menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberinya makan dan minum.” [H.R. al-Bukhori, no. 1933; Muslim, no. 1155].

Sabda Rasulullah yang lain,

“ barang siapa yang berbuka puasa pada bulan Ramadhan karena lupa, ia tidak wajib mengqadha’nya dan tidak wajib pula membayar kafarat (denda).” [H.R. ad-Daraquthni 2/178. Hadits shahih].

Sampaikan Salamku untuk Ramadhan Tahun Depan

RAMADHAN 1437 H

Manusia yang bertanggung jawab tidak akan pernah ingkar pada janjinya. Ia akan memberikan yang terbaik bagi orang yang disayanginya. Mungkin, begitu pula sikap yang harus kita tunjukkan pada Allah. Bukankah setiap manusia berhutang tauhid hanya pada Allah? Ketidaktenangan adalah perasaan yang akan hinggap dalam setiap jiwa yang berhutang. Maka, sudah semestinya bagi setiap Muslim untuk mencapai ketenangan jiwanya, maka ia harus memberikan yang terbaik di hadapan Allah, mencintaiNya dengan sebaik-baik pembuktian

 

Baris terkahir penulisan bukuku sudah selesai. Minggu depan insyaAllah masuk tahap editing. Malam ini, lorong di RS PKU Muhammadiyah sudah sangat sepi, hanya ada perawat shift malam yang masih berjaga dan mondar-mandir. Aku masih menunggu ibu yang tidak kian datang membawa kantung darah untuk Ayah.

“Mbak nia. Bisa bantu aku nenangin bapak?”, kata Ardi adik lelakiku.

“Bapak kenapa dek?”tanyaku panik

Ayahku adalah seorang penderita gagal ginjal. Beliau sudah cuci darah selama 9 bulan. Tapi sayang, aku terlalu lalai dan sibuk mengurusi kehidupanku sebagai mahasiswi kedokteran yang (mengaku) seorang aktivis. Aku gagal merawat ayah, beliau harus dirawat di Rumah sakit selama 4 bulan karena edema pulmo dan anemia berat. Dan sekarang, penyakitnya sudah merambat ke jantung dan otak. Hasil rontgen terakhir yang kubaca terlihat sekali jantungnya sudah membesar. Sesak nafasnya pun semakin tak terkendalikan. Beliaupun jadi sering marah-marah. Bicara nya ngelantur kemana-mana. Aku seperti tidak kenal dengan Ayahku yang sekarang. Malam itu aku kaget ketika masuk kamar, karena Ayah melepas infusnya secara paksa dan darah mulai bercucuran.

“Astaghfirullahaladzim. Dek Ardi panggil suster!!”

“Pergiii!! Kamu bukan anak bapak!!! teriak bapak membuat seisi ruang gusar.

Sungguh sejujurnya aku sudah tak kuat menahan air mata atas kalimat yang bapak lontarkan tadi. Tak lama kemudian, ibu datang membawa kantung darah untuk tranfusi dan sayur untuk makan sahur.

“Ibu, tadi bapak nekat melepas infusnya.”, ceritaku pada ibu sambil melahap makanan sahurku

“Iya, tadi dek Ardi sudah cerita”, jawab ibu sambil menyiapkan minum untukku

“Maafin nia ya buu”, sejenak aku berhenti melahap santap sahurku

“Tadi suster bilang, untuk mengantisipasi itu. Mungkin kedepannya satu tangan bapak akan diikat”, kata ibu sambil meneteskan air mata

“Astaghfirullah, tapi bapak kan nggak gila”, jawabku dengan wajah tidak terima

Ibu pun hanya menangis dan memelukku erat. Waktu sahur hingga shubuh aku pakai untuk tilawah dan ziyadah di dekat telinga Ayah. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00.     “Bapak, nia kuliah dulu ya”, bisiku ke telinga bapak

“Nia, Bapak minta maaf ya kemarin”

“Alhamdulillah, iya paak. Bapak cepet sembuh yaa”, jawabku sambil menangis

“Kamu naik bst ya? Ada ongkosnya?”Tanya bapak dengan wajah berseri

“Iya pak, ada insyaAllah”

“Maafin bapak juga yaa, belum bisa belikan kamu sepeda motor. Jadi kamu harus capek seperti ini”, kata bapak sambil menatapku

“Bapak, nggak usah dipikirin. Nanti biar Allah yang kasih langsung motornya ke Nia. Bapak nggak usah mikir itu. Yang penting bapak sehat. Nia buat lomba sama adek-adek. Pokoknya yang Ramadhan tahun ini hafalannya nambah paling banyak dapat hadiah langsung dari Allah. Jadi aku minta motornya langsung sama Allah Pak. Doain aja aku yang menang yaa”

“Kamu memang kakak yang baik, Nak. Terus seperti ini ya. . .”, jawab Ayah sambil memelukku.

——————————————————————————————————————

Pagi itu aku berangkat ke kampus pagi sekali. Jam 06.30 aku sudah sampai di masjid Rahmi FK UNS. Di bulan Ramadhan ini, SKI FK UNS punya program “Ramadhan Bersemi”, salah satu kegitannya adalah tilawah pagi 1 juz. Dan kebetulan bidangku Nisaa yang bertugas piket. Setelah itu aku pergi ke kelas untuk persiapan kuliah. Pukul 08.15, dosen tak kunjung datang. Tanda-tanda akan ada kuliah pengganti. Beberapa dari kami ada yang mengisi waktu untuk mengejar target ramadhan dengan tilawah. Senang sekali melihatnya, rasanya kelas menggema dengan suara Qur’an. 1 jam berlalu, ternyata benar, dosen yang akan memberi kuliah ada miss komunikasi, jadi kelasku terpaksa harus mengatur ulang jadwal pengganti.

“Yaaah, udah perjalanan ke kampus 30 menit, dosennya nggak dateng lagi:, gerutu teman sebelahku

“Kamu mau balik nggak di?”, Tanya salah satu kawan kepadaku berniat memberi tumpangan ke gerbang depan

“Aku sendiri aja nggak papa fid, aku mau ke histologi dulu untuk persiapan mengampu pratikum besok”.

 

(Tiba-tiba hp ku bergetar)

“Halo asssalamualaikum”

“Waalaikumusalam, ada apa bu?”, jawabku

“Bapak masuk ICU dek.”, kata ibu dengan isak tangisnya

“Innalilahi . . .Nia langsung kesana bu”

“Jangan nak, disini sudah ada yang jaga. Kamu selsaikan dulu tahfidzmu baru nanti pulang. Jangan lupa doakan ibu bapak ya. Jangan lupa juga beli buka, jangan irit-irit”, jawab ibuku menenangkan

“Iya bu. Ibu juga ya”, timpalku sambil menutup telepon.

 

Aku pun berangkat tahfidz dan tak terasa sudah menunjukkan pukul 17.15

“Ustadzah, nia pulang duluan yaa. Takut nggak dapat bst”, sambil mencium tangan ustadzah

“Loh, buka disini dulu aja nduk.”, kata ustadzah sambil menahan tanganku

“Waduh ndak usah repot ust, saya buka di jalan saja”,elakku lembut

“Eh ora-ora. Ini tak bawakan saja minum dan makannya”,sambil membawakan sebungkus plastik berisi es teh dan nasi bungkus.

“Matur suwun ustadzah”, jawabku smabil menerima pemberian ustadzah

 

Aku pun pergi berjalan meninggalkan markas manarul menuju ke halte di gerbang depan kampus. Adzan magrib sudah berkumandang, tapi bst tidak ada yang lewat. Kalau 10 menit lagi belum lewat, aku harus cari masjid terdekat dulu. Dan Alhamdulillah, tak lama kemudian, ada angkot lewat.

“Mau kemana mbak?”, Tanya abang angkot padaku

“Ke RS PKU Pak”, jawabku gelisah

“Waah, wis ora ono bst mbak. Numpak angkot wae”,bujuk pak angkot

Aku pun naik ke angkot itu, walaupun resikonya aku harus oper lagi.

“Kok pulangnya malem-malem mbak?  Kalau pulang jam segini, sudah ndak ada bst”, kata bapak angkot sambil menasihatiku bahwa tidak baik perempuan pulang malam

“Iya pak, tadi ada urusan sebentar”, jawabku dengan sungkan

“Saya sudah nggak narik lagi malam ini mbak. Saya antar saja lamgsung  ke depan PKU”, kata pak angkot dengan nada ramah

“Alhamdulillah, makasih banyak Pak”, jawabku. Allahuakbar . . .rasanya seperti ditolong langsung sama Allah

 

Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung sholat magrib dan menemui ibu di ruang ICU.

“Minta maaf sama bapak nduk”, tegur ibu padaku

Tubuhku rasanya terpaku melihat keadaan ayah yang semakin memburuk, bahkan sekarang untuk bernafas beliau harus dibantu ventilator.

“Bapak . . .Assalamualaikum”, bisik ku ke telinga Ayah

“Ini nia pak”,kataku yang sudah tak sanggup lagi membendung tangis

“Bapak minta maaf ya Nak. Maafkan bapakmu ini yang mungkin akan melanggar janji menemanimu hingga sumpah dokter nanti. Maafin juga bapakmu ini yang belum bisa belikan motor”

“Astaghfirullah. Jangan bicara gitu Pak, bapak pasti sembuh. Bismillah bapak pasti sembuh”, kataku sambil menenangkan Ayah

“Nak, bacakan bapak hafalanmu yang tadi kamu setorkan. Bapak mau dengar”, pinta Ayahh padaku

“Iya paak. . .”

Seusai aku membacakan quran. Bapak pun memelukku dan berkata dengan terengah-engah

,           “Kejar lailatul qodar ya Nak, doakan bapak ibu mu ini. Sampaikan salam bapak untuk ramadhan tahun depan”

Allah SWT sudah terlampau rindu dengan hambanya yang satu ini. Ayah meninggal malam itu. Sungguh ramadahan tahun itu, adalah ramadhan yang tak kan pernah kulupakan hingga sekarang.

 

Keesokan harinya, ada sepasang suami istri. Seorang dokter spesialis di RS Moewardi.. Mereka datang untuk mengucapkan belasungkawa dan memberikan sebuah hania yang Allah titipkan. Sebuah sepeda motor yang selalu kusebut di doa-doaku, hari ini diijabah oleh Allah tepat 1 hari setelah kepulangan Ayah. Adik-adikku pun langsung memeluk dan berkata, “Aku tau siapa yang menang di lomba kemarin mbak. Aku tau siapa yang dapet hania dari Allah”

 

Aku pun berbisik dalam hati, “Ya Allah terimakasih atas hania indah di bulan suci ini, aku

akan selalu ingat nasihat Ayah bahwa Allah sesuai prasangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan. Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik dari poada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. Semoga aku bisa menyampaikan salam Ayah untuk Ramadhan tahun depan dan semoga aku bisa memberikan amal terbaik di sisa Ramadhan yang harus berakhir tanpa Ayah.

 

RAMADHAN 1438 H

Bahkan yang terlihat kuatpun harus ada yang menguatkan. Bahkan yang terlihat bersemangatpun harus tetap disemangati. Bahkan yang dianggap paham pun harus tetap dipahmkan karena itulah Allah menjadikan Nabi Harun penguat Nabi Musa. Saudaramu, amanahmu. Minimal jaga dia dalam doa-doa di ujung sajadahmu.

 

Alhamdulillah Ayah, aku sampai di Ramadhan 1438 H. Salam ayah sudah kusampaikan. Semoga Ramadhan kali ini, bisa menjadi Ramdhan terbaik Nia, bisik ku dalam hati. Sejujurnya ini adalah ramadhan tersulit karena harus dilewati bersamaan dengan berbagai macam ujian blok, osce dan kawan kawannya. Alhamdulillah ada sahabat dan adik-adikku yang selalu membuatku terpacu untuk melakukan kebaikan.

“Mbak, di hari ke 4 Ramdhan ini aku udah khatam loo. Masak mbak yang hafidzah kalah sama aku”

“MasyaAllah, aku pun jadi semakin terpacu untuk berfastabiqul khoiroot. Ramadhan terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi belum tentu aku dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.”

 

(HP ku bergetar)

“Assalamu’alaikum. Benar dengan mbak nia?”, sapa seorang perempuan dengan nada lembut

“Waalaikumusalam. Iya dengan siapa ya?”, jawabku

“Saya Ekalia mbak. Saya dapat kontak njenengan dari ustadzah mu’minah.”

“Oiya, ada apa mbak?”

“Begini mbak nia, untuk ramadhan tahun ini taman bermain Maya Ananta di RS. Moewardi akan ada TPA setiap senin-jumat. Dan kebetulan kita kekurangan pengajar. Ustadzah mu’minah yang merekomendasikan antum mbak”

“Maya Ananta?”, tanyaku dengan nada sedikit ragu

“Iya, itu taman bermain untuk anak-anak kanker mbak”

“MasyaAllah . . . .insyaAllah saya usahakan. Tapi saya hanya bisa hari senin dan kamis saja. Bagaimana mbak?”, balasku dengan tertegun akan adanya agenda TPA yang mulia itu

“Ogitu ya mbakk, oke ndak apa”

 

Sore ini, aku langsung bisa berkunjung ke Maya Ananta untuk belajar quran bersama anak-anak penderita kanker. Ada satu anak khusus yang harus aku sendiri yang mendatangi ke kamarnya, karena ia baru saja selesai di kemoterapi. Jadi belum beoleh kemana-mana. Tapi karena semangatnya kuat, maka aku yang akan mendatanginya.

“Assalamualaikum”, sapaku kepada penghuni kamar

“Waalaikumusalam. Kakak pasti Kak Nia ya”, jawab seorang anak dengan rambut botak yang terlihat puscat sekali

“Iyaa, kok kamu tau? Namamu siapa?”, timpalku padanya

“Aku suka baca buku kakak tentang perjuangan kakak mengahafal quran dan merawat Ayah. Namaku Afsya”, jawab ia dengan senyum cerah seakan bukan penderita kanker

“MasyaAllah kamu baca bukunya?”, tanyaku dengan wajah kagum

“Aku boleh minta tanda tangan nggak kak?”, sambil menyodorkan buku kepadaku

“Boleh. . . .Asalkan kita tilawah dulu yaa”

 

Seusai tilawah, Afsya pun meneteskan air mata. Dan ia memberiku pesan yang masih terngiang hingga sekarang. “Sedih sekali kak rasanya harus berbaring di kasur ini. Aku ingin sekali bisa bermanfaat untuk banyak orang, aku ingin sekali bisa kuat baca ber juz-juz setiap harinya. Aku heran, kenapa orang yang diberi nikmat sehat masih saja menduakan ramadhan dengan hal duniawi lain. Kak, temani aku mengkhataman quran ku ya”

“InsyaAllah Afsya. Kita luruskan niat kita untuk-Nya ya”, jawabku sambil menangis mengingat segala nikmat yang kadang aku lupa untuk mensyukurinya

“ Oiya aku juga lagi nulis buku kak, nanti kalau Allah lebih dulu memanggilku sebelum buku ini selsai. Tolong lanjutkan ya. Aku percaya kakak penulis hebat.”, kata Afsya sambil memberikan rancangan bukunya padaku dengan judul Sampaikan Salamku untuk Ramdhan Tahun Depan

Aku sanagt kaget membaca judul rancangan buku itu. Karena itu adalah kalimat terkahir yang Ayah ucapkan sebelum meninggal. Qadarullah. Afsya pun meninggal tepat setelah ia khatamkan  bacaan qurannya. Di hari ke 20 Ramadhan. Aku baru saja ingin berpamitan untuk i’tikaf dan tidak mengajarnya di penghujung ramdhan. Tapi Allah berkehendak lain, ia lebih dahulu berpamit untuk selamanya. Semoga Allah menerima segala amalnya. Dan semoga aku juga berkesempatan untuk menyampaikan salamnya untuk ramadhan tahun depan.

 

Tulisan ini adalah kisah nyata dan didedikasikan untuk 2 orang yang telah mengingatkan saya bahwa teman terbaik tak akan berubah. Teman sejati yang ada disamping kita tetaplah kematian. Tak kan disangka apakah salam untuk ramadhan selanjutnya tersampaikan. Semoga dengan mengingat kematian, tak ada lagi amal yang dirasa cukup untuk Ramadhan yang akan berakhir ini. Dan Semoga tahun depan kita masih bisa menyambut dan mengakhiri ramadhan dengan sebaik baiknya kemenangan.

 

29 Ramadhan 1438

 

Diah Kurniawati

Jikalah Ini Ramadhan Terakhirku, Maka Aku Ingin Mengarunginya Bersamamu

Sore yang indah, ufuk barat mulai memancarkan pesona, membuai kedamaian, dan memanja senja dengan keelokan mentarinya. Peluhku mulai menguap, mungkin beranjak menuju sang surya bersama kawanan angin yang berterbang ria. Namun tak begitu lama, pemandangan itu sirna ditelan masa. Pergi menjauh bagai kekasih yang tak setia. Ia pergi tanpa pesan, dan hanya menyisakan kegelapan. Inikah fatamorgana? Memikat jiwa-jiwa pencinta dunia, padahal ia hanya sementara. Sungguh dunia ini hanyalah fana yang berdusta, terasa lama, tapi ternyata bagaikan suatu pagi atau sore saja dibanding akhirat sang keabadian masa.

Hasan. begitulah orang-orang memanggilku. Hasan Al-Fatih, nama yang sangat baik dan mengisyaratkan harapan kebaikan dari pemiliknya. Dulu ayahku adalah orang yang pandai membaca al-Quran, rajin mengikuti pengajian, bahkan yang diadakan mesjid-mesjid kampung sebelah pun ia datangi. ia begitu berwibawa dan bersahaja, berakhlak mulia dengan kesantunan tiada tara. Tak heran ia memberiku nama yang megah ini. Ayah terkagum pada sosok penakluk Konstantinopel yang perjuangannya membawa ia pada derajat sebaik-baik pemimpin sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

Aku adalah anak satu-satunya, sepeninggal ayah tiga belas tahun lalu, ibu memilih untuk tidak menikah lagi, lalu fokus membesarkanku. Sepertinya, ibu adalah bidadari tanpa sayap yang Alloh karuniakan terkhusus untukku, ia adalah madrasah pertama dalam kehidupanku. Ia berani mengambil peran ganda, sebagai ibu yang penuh kasih sayang, lalu menopang tugas ayah mencari nafkah.

Usianya beranjak senja, sinar matahari yang sedari dulu menaunginya saat bekerja mengeringkan ikan asin di lapangan pinggir pantai, kini tega mengurai ikatan-ikatan peptida protein lensa bola mata ibunda. Katarak telah merenggut jendela dunianya. Aku pilu, sedih dan sendu, menyaksikan kesulitan ibuku menghadapi hari-hari tanpa semburat sinar pembeda merah dan biru.

Sejak ibu terserang penyakit ini, akulah yang menggantikan tugasnya mencari sepeser uang. Taruhannya terasa berat bagiku, karena aku harus menggadaikan masa depanku. Selain tidak ada uang, aku juga tidak ada waktu untuk melanjutkan sekolah di jenjang SMA karena tersibukkan mencari penghasilan.

Aku hanya lulusan SMP, pekerjaanku sesuai dengan jerih payah pendidikan yang sempat aku kenyam. Sepeda ontel warisan ayah, kugunakan untuk mencari rupiah kehidupan. Berkeliling setiap hari, dari pagi hingga sore menghampiri mengitari kampung demi kampung di kecamatan kami. Berteriak lantang melengking menawarkan ikan-ikan laut hasil tangkapan para nelayan.

Hingga saat ini, ibu tidak mengizinkanku berperang dengan ombak di lautan, ia tak mau jika aku menjadi nelayan. Ia trauma berat pada kisah ayahku yang akhir hayatnya harus dipeluk samudra biru. Perahu tua yang ia tunggangi, tiba-tiba kalah dengan gejolak ombak yang berpesta di lautan. Berhari-hari jasad beliau sulit ditemukan, tim SAR sudah dikerahkan, tapi barulah pada hari ketiga sosok ayahku menepi di Pantai Pangandaran.

Aku memang tidak lagi belajar di sekolah formal, tapi ibu tak pernah alfa mengingatkanku untuk mampir ke pengajian-pengajian mesjid sebagaimana ayahku dulu. Ia tahu bahwa ilmu agama adalah yang utama. Namun ada satu hal yang belum ibuku tahu, yaitu bahwa anaknya mulai dewasa. Ia masih memperlakukanku layaknya anak SD yang manja menahun. Ibu sangat menyayangiku, tapi itu bukanlah hal aneh, karena memang hanya akulah satu-satunya teman hidup ibu di rumah gubuk kami.

Usiaku sudah menginjak dua puluh tahun, beberapa temanku melanjutkan sekolah bahkan sampai kuliah, tapi mayoritas mulai belajar mencari rezeki bersama ayah-ayah mereka di laut sebagai nelayan. Teman-teman perempuanku banyak yang sudah bersuami, mereka keluar dari Kantor Administrasi Sekolah lalu bertandang ke Kantor Urusan Agama. Sebagian mereka bahkan sudah memiliki momongan, ada yang baru satu, ada juga yang sudah punya tiga. Bagaimana denganku? Aku masih lajang, masih mencari petunjuk dari Alloh tentang dimana tulang rusukku sedang ia tempatkan.

Dia yang sedang duduk di dalam mesjid itu, ya, dia yang sedang dikelilingi anak-anak kecil santri TPA itu, adalah putri semata wayang dari salah satu keluarga terpandang. Ia berakhlak baik, dan kepalanya dipenuhi segudang wawasan. Teramat rupawan dan berhasil membuat hatiku tertawan. Juluran jilbabnya yang panjang, resmi membuat sel-sel saraf pusatku berkolaborasi mendukung hati ini untuk tak berpindah ke lain hati.

Langit dan bumi adalah satu paket yang membuat alam ini indah terpatri, namun jarak jauh keduanya, membuat mereka bagaikan dua insan yang tak pernah bisa saling mendampingi. Begitulah kiranya antara aku dengan Nurmala. Tapi Kawan, kalian harus ingat namaku; Hasan Al-Fatih. Pemilik nama itu haruslah gagah berani, termasuk demi mencari perhiasan terindah yang bisa Alloh anugerahkan pada hamba-hambanya di muka bumi. Perhiasan itu adalah, wanita sholehah.

Limpahan harta milik ayah Nurmala hanyalah setitik dari setetes nikmat yang Alloh titipkan pada dunia. Pengetahuan yang tertaut di kepala gadis itu tidaklah seberapa dibanding keluasan ilmu Alloh yang maha mengetahui segalanya. Kehormatan yang mereka dapatkan bahkan tak sampai sebutir debu dibanding kemuliaan Sang Maha Agung. Inilah kalimat-kalimat senjata penyemangatku. Tak ada yang tak mungkin, karena hanya Dialah penguasa segalanya, dan Ia, sesuai prasangka hambaNya.

Semangatku mulai mencuat, meluap-luap, bermunculan satu persatu, lalu beradu bergemuruh di dalam qalbu. Kupacu tenagaku hingga butiran peluh mengalah pada lelah lalu gugur dari waktu ke waktu. Siang hari, aku menjajakkan ikan keliling kampung, lalu malam setelah isya hingga jam sebelas malam, aku berkutat dengan montir-montir muda lulusan SMK yang berprofesi di Bengkel Putra Bahari. Dini hari jam tiga pagi, aku sudah berada di Pasar Pananjung menjual beragam sayuran segar. Aku bekerja membanting tulang, menyita hampir sebagian besar waktu tidur malamku demi menjemput benda mengkilap di toko emas Permata Biru pinggir jalan itu. Setidaknya, jika aku bertamu pada ayah Nurmala kelak, aku sudah menyiapkan sedikit bekal agar tak dilempar seenak hati atau dibuang tak diacuhkan.

Hari ini, tepat tanggal satu ramadhan, umat muslim bersuka cita bahagia, mengharapkan limpahan pahala di bulan penuh kemuliaan. Ramadhan syahrul mubarok, ramadhan syahrul Quran, ramadhan syahrul maghfirah. Termasuk aku, aku bahagia sekaligus takut. Bahagia menyadari keberkahannya, menikmati hari-hari dimana nafas menjadi tasbih, bahkan tidur menjadi ibadah. Tapi aku justru takut kalau-kalau tidak mampu memaksimalkan ibadah di bulan suci ini.

Sepulang tarawih malam pertama ini, dari sebuah sudut ruang aku mendengar suara tangis yang teramat pilu. Kubuka daun pintu, dan mataku tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk memeluk kedua lututnya sambil menangis tersedu-sedu. Ibu, kenapa menangis? tanyaku spontan, lalu kuseka kedua aliran air matanya. Ibu sedih Nak, kenapa dulu tak pernah terpikirkan untuk menghapal Al-Quran. Sekarang, bahkan untuk membaca pun, mata ibu sudah tak sanggup lagi. Ibu sedih sudah tiga tahun tidak membaca mushaf Al-Quran, hanya tahu sedikit hapalan surat-surat pendek yang dulu Kyai Haji ajarkan.” Ia semakin tersedu, meratap semakin dalam, dan aku pun terbisu, tertekan hentakan sendu yang menusuk qalbu.

Aku galau, kupeluk sang bidadariku, dan tetes air matanya dengan lembut berlabuh di pundakku. Bukan tak ada jalan keluar, tapi biaya lah yang memaksa ibuku untuk tetap bersabar. Operasi katarak telah banyak digencarkan,, tapi mau tak mau, tetap harus ada uang yang tak sedikit untuk hal itu.

Aku beranjak ke kamarku, lalu merenung menatap diri penuh dosa di depan cermin kusam yang merenta. Teringat sosok ibuku, kasih sayangnya, pengorbanannya, dan semua tentang kemuliaan jasanya. Kubandingkan dengan apa yang sudah kuberikan padanya hingga detik ini, ternyata nyaris nihil, aku sama sekali belum mampu membuatnya bahagia. Dan kini, aku justru tersibukkan dengan angan-anganku untuk menggandeng Nurmala.

Malam semakin sunyi, rembulan tertutup awan, bahkan bentuk nya pun hampir tak kelihatan. Aku berjalan meyusuri jalan setapak yang dikawal rumput-rumput liar kanan-kirinya. Langkahku diteduhi raksasa-raksasa pohon kelapa yang sedang menari dibuai angin darat, mungkin sebenarnya mereka sedang bertanya padaku Mau kemana Kau pergi Nak?

Kehadiranku di bibir samudra tidak disambut meriah oleh ombak-ombak yang biasanya ceria, mungkin mereka lelah setelah seharian berlomba menyentuh daratan. Aku melanjutkan perjalanan hingga berhenti untuk duduk di sebuah batu besar pinggir pantai. Beberapa ratus meter di sebelah baratku, nampak beberapa perahu kecil mulai bersiap menuju lautan luas, dilengkapi dengan jaring penangkap ikan yang akan memenjarakan satwa-satwa penghuni limpahan air asin ini. Para nelayan itu mungkin akan melaksanakan sahur pertama di tengah laut biru, disaksikan beribu bintang dan intipan ikan-ikan.

Seketika aku teringat ayahku. Ayah sangat menyayangi ibu, ia adalah sosok yang takkan membiarkan anak istrinya mengurai air mata hanya karena suatu iming-iming dunia. Ia akan bekerja keras demi memberi apa yang ibu dan aku mau. Teringat lebaran Idul Fitri lima belas tahun lalu, aku dan ibu memakai baju baru, tapi ayah hanya mengenakan baju koko yang biasa ia pakai untuk jumatan. Ternyata, uang ayah tidak cukup untuk membeli baju kami bertiga, namun ayah berlapang dada asalkan anak istrinya bahagia.

Malam ini, aku mengambil suatu keputusan. Aku tak peduli lagi pada tujuan awal yang membuatku membanting tulang siang dan malam. Aku ingin membuat ibu sehat kembali, aku ingin ia bisa melihat kembali. Bahkan jika uang yang susah payah kucari untuk melamar Nurmala harus aku gunakan pun, aku tak peduli.

Uang yang sudah aku kumpulkan selama ini masih jauh dari syarat ideal biaya operasi. Aku bekerja lebih keras lagi, menjual ikan sebanyak dua kali lipat dari pada biasanya, dan mendagangkan sayur lebih banyak dari sebelumnya. Aku bangun lebih awal, bermunajat di setiap momen sepertiga malam terakhirnya, lalu bergegas menuju Pasar Pananjung menjajakkan beragam sayuran, sahur disana ditemani lalu-lalang para pembeli dagangan. Setiap pulang tarawih aku bergegas bekerja menuju bengkel dan baru bisa tidur jam dua belas malam.

Hari ke sepuluh bulan ramadhan ini, uangku masih kurang seperenamnya. Aku bekerja semakin keras, bahkan mengurangi porsi jatah makan sahur dan berbukaku demi sedikit tambahan biaya operasi itu. Adalah pak Teguh, pemilik Bengkel Putra Bahari, yang berbaik hati meminjamkan uangnya guna menutupi kekurangan biaya untuk membuka pintu ruang operasi ibu.

Tanggal empat belas ramadhan, tepatnya pukul sembilan malam, aku mulai duduk gelisah di lorong ruang tunggu, berdoa harap-harap cemas menanti keberhasilan operasi ibu. Operasi dinyatakan selesai, tapi masih harus ditutupi perban. Malam berikutnya, kami kembali lagi ke Rumah Sakit untuk membuka perban ibu. Aku tidak ingin kehilangan momen indah ini. Aku berdiri tepat di depan bidadariku, tak peduli pada dokter yang memintaku sedikit mundur agar lebih memudahkannya mencopot perban itu.

Iya membuka kelopak mata dengan sangat hati-hati, berproses untuk mendapat lapang pandang seluas dulu saat masih jelas memandang. Terlihat semburat sinar lampu menelisik masuk pada celah matanya, membuat ibuku berkedip-kedip ragu-ragu. Beberapa detik kemudian setelah matanya membuka sempurna, ia berkata Hasan, anakku.

Aku bahagia bukan kepalang. Kupeluk ibu erat-erat, dan tanpa sadar air mataku jatuh menetes di bajunya. Betapa tidak, sejak tiga tahun lalu, inilah hari penting disaat ibuku bisa melihat kembali.

Sama sekali tidak ada penyesalan dalam diriku. Uang yang kukumpulkan untuk meminang Nurmala itu, ternyata lebih membuatku bahagia bisa melihat ibu tersenyum lebar menyaksikan dunianya yang kembali baru. Ibu bahkan tak tahu, dan aku tak ingin ia tahu tentang niat awal tujuan uang itu.

Aku tak peduli, aku hanya takut jika ramadhan ini adalah ramadhan terakhirku. Betapa jahatnya aku jika harus membiarkan ibu bersedih sepanjang waktu, sedangkan aku menikmati untaian kalimat-kalimat suci Al-Quran yang setiap hurufnya dilipatgandakan sekian kali pahala kebaikan. Aku ingin menikmati indahnya ramadhan ini bersama bidadariku, bersama-sama mencari rahmat dan maghfirahNya dalam naungan bulan yang Ia muliakan.

Satu sisi, aku merasa rugi, mengapa tidak aku kumpulkan uang itu sejak dulu, akibatnya aku harus bersusah payah bekerja keras mencari uang di awal bulan ramadhan yang selayaknya menjadi ladang panen pahala ibadah. Tapi tak apa, aku lebih takut lagi jika ini adalah ramadhan terakhirku dan kelak tak dapat bertemu lagi di tahun depan. Aku takut nyawa ini terburu-buru Alloh ambil sebelum aku sempat membahagiakan ibu. Jika pun tahun depan tak bisa kusapa lagi bulan seindah ini, aku ingin ibu tetap menikmatinya dengan khusyuk, serta menikmati huruf-huruf Al-Quran yang terrangkai indah berdasarkan wahyu.

Lima belas hari terakhir kedepan, aku tak ingin lagi bercengkrama dengan pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktu. Aktivitasku di bengkel dan di pasar kuhentikan sementara. Fokusku saat ini tidak banyak, hanya ingin membeli baju baru untuk ibu, dan berbekal agar bisa terhindar dari kesibukan dunia di sepuluh malam terakhir nanti. Jikalah tahun depan tak bisa kuraih lagi ramadhan, maka aku berharap malam lailatul qodar tahun ini bisa aku dapatkan, demi tabungan ibadah seribu bulan. Semoga Alloh memanjangkan umurku. Aamiin

Adapun untuk Nurmala, aku tetap berharap ia menjadi Nurmalaku. Aku siap berjuang kembali, bekerja keras lagi sembari memantaskan diri. Aku tahu kami bagaikan langit dan bumi, tapi ingatlah, bahwa langit dan bumi senantiasa saling melengkapi. Semoga, ia menjadi bidadari kedua setelah ibuku. Aamiin.

 

 

Aku Benci Ramadhan

Ah Ramadhan lagi…

Puasa lagi…

Lapar lagi…

Aku tidak mengerti kenapa mereka selalu berbahagia di bulan ini.

Jujur, aku membenci bulan ini.

Aku merasa tidak berdaya.

Satu bulan terasa seperti setahun.

Aku tidak suka.

 

Kenapa mereka masih bisa bersemangat sholat?

Kenapa mulut mereka masih bisa membaca berlembar-lembar Al-Qur’an?

Apakah mereka tidak merasa lelah seperti ku?

Apakah mereka tidak merasa haus?

Tidakkah jua merasa lapar?

Ah, andai aku dapat memberi tahu mereka betapa nikmatnya bila bulan ini dihabiskan hanya dengan uring-uringan saja.

 

Meskipun begitu, aku masih bisa senang.

Ternyata, pikiran ku sampai pada sebagian diantara mereka.

Dari kejauhan aku melihat orang yang berpuasa, tapi meninggalkan sholat wajib hingga akhir waktu.

Ada juga yang tertidur sehingga tertinggal waktu sholat.

Aku juga melihat seseorang yang menghabiskan waktu menunggu berbuka puasanya dengan membicarakan keburukan yang lain.

Lalu sebagian yang lain tengah asik berkelahi, saling melemparkan bahasa ku,

Aku tersenyum.

Aku bahagia.

 

Ternyata, aku masih mereka ingat saat ini

Dibalik jeruji ini pun aku masih bisa berkuasa.

Kapan kah mereka tersadar?

Meskipun aku tak menginginkan mereka sadar,

Bahwa sesungguhnya mereka telah menjadi teman ku.


-Terpenjara, 10 Ramadhan 1439 H

 

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu,  sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

“Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu ditutup dan setan-setan dibelenggu”. (Muttafaq ‘alayh, Bukhari, no. 1899. Muslim, no. 1079)

 

Walaupun dibelenggu, jika seorang manusia telah tersesat, maka tidak akan ada bedanya kecuali orang-orang yang diberi petunjuk.

Semoga kita bisa memanfaatkan waktu yang amat singkat ini dengan sebaik-baiknya dan terhindar dari hal yang menjerumuskan dalam dosa.

Wallahualam

 

Berkaryalah untuk Dunia, Beramallah untuk Akhirat

Assalamu’alaykum wa rohmatullahi wa barokatuh

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda

اِذَاجَاءَرَمَضَانُفُتِحَتْاَبْوَابُالْجَنَّةِوَغُلِّقَتْاَبْوَابُالنَّارِوَصُفِّدَتِالشَّيَاطِيْنُ.

Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan (HR. Bukharidan Muslim).

Pada bulan ini setiap detiknya merupakan modal yang sangat besar, sebab pahala kebaikan dilipatgandakan, karenanya jangan disia-siakan.

Demikian pula yang disampaikan sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

إنيلأمقتأنأرىالرجلفارغالافيعملدنياولاآخرة

Sungguh aku marah kepada orang yang nganggur. Tidak melakukan amal dunia maupun amal akhirat. (HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, 8539).

Ada dua persiapan yang paling penting disiapkan yaitu persiapan mental dan persiapan fisik sehingga Ramadhan kita lebih produktif dibandingkan dengan sebelumnya.

Persiapan mental

  1. Persiapan utama menyambut Ramadhan adalah persiapan mental. Dimulai dengan hati yang gembira dan lapang dada akan bertemu dengan bulan yang mulia.
  2. Luruskan niat. Karena setiap amal tergantung niatnya, alangkah baiknya kita niatkan seluruh aktivitas muamalah kita sebagai ibadah. Misal mandi sebagai ibadah, membersihkan kamar dan lain sebagainya.
  3. Menyusun agenda. Kalau selama ini kita dapat menyusun agenda kegiatan duniawi dari pagi sampai malam dengan begitu teliti, alangkah baiknya kalau kita juga dapat menyusun rutinitas ibadah dengan lengkap.
  4. Membaca buku atau kitab tentang fiqh yang menyangkut puasa, shalat Tarawih, i’tikaf dan sebagainya. Hal ini penting untuk diperhatikan supaya kita mengetahui batas-batas syara’ dalam melakukan ibadah
  5. Membersihkan hati dan saling memaafkan sesama. Sebelum masuknya Ramadhan, dianjurkan untuk memperbaiki hubungan dengan manusia (hablumminannas) dan hubungan dengan Allah (hablumminallah) yaitu bertaubat.
  6. Persiapan dana, jangan lupa keluarkan infaq dan shadaqah sebanyak-banyaknya dengan membantu fakir miskin, memberikan makan orang berbuka puasa dan sebagainya.

PersiapanFisik

Persiapan fisik untuk menjalankan ibadah puasa itu penting. Kalau fisik lemah tentunya amal ibadah akan terganggu. Padahal kita sudah mempersiapkan target yang banyak untuk Ramadhan yang akan datang, seperti memperbanyak membaca al-Qur’an, shalat sunnat tarawih, rawatib, dhuha dan sebagainya.

  1. Makan dan minum secukupnya, hindari balas dendam ketika malam harinya.
  2. Biasakan sahur
  3. Minum suplemen jika perlu
  4. Atur pola tidur, baik itu tidur siang ataumalam

 

Sumber

http://aceh.tribunnews.com/2017/05/27/menuju-ramadhan-produktif?page=2.