Sejarah FULDFK dan PROKAMI

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia yang biasa dikenal dengan FULDFK merupakan sebuah forum yang menghimpun seluruh lembaga dakwah fakultas kedokteran (LDFK) se-Indonesia yang memiliki visi dan misi yang sama, yaitu memperjuangkan Islam dengan basis kompetensi kesehatan. Sebelum FULDFK diresmikan pada tahun 2005 forum ukhuwah ini sudah lama terbentuk. Kala itu, pergerakan forum ini sebatas perkumpulan informal antar LDFK yang terdapat di pulau Jawa. Pergerakan informal ini memiliki sebuah cita-cita luhur yakni menjadi lembaga yang formal dan dapat menghimpun seluruh LDFK se-Indonesia untuk bergabung di dalamnya.

Beberapa tahun sebelum FULDFK diresmikan, sudah terdapat lembaga Profesi Kesehatan Muslim Indonesia (PROKAMI) sebagai lembaga profesional kesehatan muslim dan juga berfokus dalam mendidik dan membina mahasiswa kesehatan dalam jalan dakwah yang berbasis kompetensi kesehatan. PROKAMI adalah satu-satunya lembaga di Indonesia saat itu yang memiliki hubungan dengan FIMA (Federation Islamic Medical Association), sebelum kemudian PROKAMI bergandengan dengan Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) dan Forum Kedokteran Islam Indonesia (FOKI) yang konsorsiumnya disebut dengan Indonesia Islamic Medical Association (IIMA) yang kemudian IIMA inilah yang menjadi anggota resmi dari FIMA.

Saat FULDFK diputuskan melalui Fornas menuju Munas agar bertransformasi dari forum silaturahmi/paguyuban menjadi sebuah organisasi resmi, ternyata pada momentum yang sama PROKAMI yang telah bekerjasama dengan FIMA memerlukan organ student chapter, karena ada program rutin FIMA mengadakan student camp, yaitu pertemuan dan pelatihan seluruh mahasiswa kedokteran Islam di seluruh dunia terutama mengenai Kedokteran Islam dan perkembangannya di seluruh dunia. Upaya transformasi menjadi organisasi ini diketahui pengurus pusat PROKAMI saat itu, dan oleh karenanya mengundang salah satu yang diamanahkan sebagai Dewan Pendiri FULDFK dan yang menyukseskan transformasi dari Fornas ke Munas, yaitu Pukovisa Prawiroharjo, untuk melakukan presentasi mengenai rencana transformasi organisasi yang ingin dibentuk. Setelah mendapat penjelasan dan Pengurus Pusat PROKAMI yang saat itu dinahkodai dr. Jamal Muhammad, Sp.THT yakin bahwa FULDFK memiliki visi misi dan nafas yang sama dengan PROKAMI, maka Pengurus Pusat PROKAMI menyepakati untuk memberi akses FULDFK yang akan dibentuk ini untuk difasilitasi ikut dalam Student Camp FIMA, sebagai representasi student chapter dari PROKAMI. Maka sejak kepengurusan pertama FULDFK terbentuk, FULDFK sudah menikmati akses ikut dalam Student Camp FIMA tersebut, mengirim delegasinya pada forum tersebut dan menjalin silaturahmi dan kerjasama dengan student chapter (organisasi mahasiswa kedokteran) negara lainnya.

Bentuk kerjasama tersebut adalah saling membantu dan koordinasi, bukan subordinasi satu dengan yang lain. Namun sebagai bentuk penghormatan dan akhlak yang baik sewajarnya bagi sesama mukmin, PROKAMI jelas adalah organisasi eksternal pertama yang mengakui FULDFK. Tak hanya mengakui, PROKAMI juga aktif memfasilitasi langsung FULDFK untuk ikut dalam FIMA Student Camp sejak kepengurusan FULDFK yang pertama hingga kini.
Pada perjalanan sejarahnya, Alhamdulillah FULDFK berhasil terus aktif dan melakukan regenerasi tahunan dengan relatif baik. Namun kebetulan PROKAMI sempat beberapa tahun kepengurusannya kurang aktif meskipun tetap berkoordinasi dengan baik kepada FIMA dan membentuk IIMA bersama MUKISI dan FOKI. Kegiatan-kegiatan FIMA termasuk jika kegiatan itu dilaksanakan di Indonesia, tetap berjalan baik. Sehingga FULDFK selalu dapat menikmati sebagai delegasi Indonesia mengikuti kegiatan FIMA Student Camp hingga saat ini tanpa terputus.

Namun memang diakui saat –saat itu relatif sangat minim komunikasi aktif antara PROKAMI dan FULDFK. Beberapa tahun belakangan, kepengurusan PROKAMI kembali diaktifkan dan kini dinahkodai dr. Achmad Zaki Jusuf, Sp.OT. Kepengurusan PROKAMI yang aktif ini kemudian menjalin komunikasi yang lebih intensif dengan kepengurusan FULDFK sekarang, yang karena sempat ada “kevakuman sejarah” sekian kepengurusan, maka ada kesenjangan pehamaman dari pengurus yang ada saat ini bagaimana sejarah relasi antara FULDFK dengan PROKAMI.

Selama ini PROKAMI selalu komitmen membantu FULDFK mengikuti kegiatan FIMA Student Camp dan merealisasikan kerjasama yang telah terjalin lama antar dua organisasi ini, dan hal ini harus diapresiasi baik. Sejauh ini kedua pihak juga saling menghormati domain dakwah dan kerja satu dengan yang lainnya. Semoga hubungan kerjasama ini tetap baik dan berjalan dengan harmonis. FULDFK juga dapat tetap mendapatkan fasilitasi mengikuti FIMA Student Camp sebagai representasi student chapter-nya IIMA. Ke depan juga diharapkan alumnus pengurus FULDFK dapat memilih PROKAMI sebagai keberlanjutan wahana aktivitas dakwahnya di profesi kesehatan/kedokteran.

Menutup Ramadhan dengan Indah

Mengatur pernak-pernik Ramadhan, agar ibadah tidak tercecer

 

Bertemu bulan suci Ramadhan adalah nikmat luar biasa dari Allah ﷻ. Sungguh sangat tidak pantas jika kedatangan nikmat agung ini tidak benar-benar kita fokuskan untuk meningkatkan ibadah dan amal sholeh kepada Allah ﷻ.

Dari sisi tekad, boleh jadi sudah ada keinginan untuk mengamalkan beragam amal ibadah, namun kondisi lingkungan seringkali menjadikan sebagian orang terseret pada deviasi (pengimpangan) tanpa sadar.

Jika Rasulullah ﷺ pada 10 malam terakhir Ramadhan kian menguatkan ibadah, tidak dengan kondisi sebagian besar masyarakat saat ini, terlebih kaum wanita. Sebagian sibuk menyiapkan penampilan terbaik dengan beragam rupa busana, perangkat rumah hingga kendaraan.

Hal demikian sama sekali tidak kita dapati pada sosok Nabi Muhammad ﷺ dan tentu saja istri-istri beliau. Aisyah mengatakan, “apabila Rasulullah ﷺ memasuki 10 terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” HR. Bukhari.

Hadits diatas tentu saja merupakan sebuah landasan kuat bahwa semakin Ramadhan menuju akhirnya, upaya diri untuk meningkatkan ibadah kepada Allah ﷻ kian dikuatkan. Dengan kata lain, tidak begitu diperlukan perkara-perkara yang tidak dicontohkan oleh Nabi, sekalipun hal itu sangat lumrah di masyarakat, seperti sibuk memikirkan makanan, pakaian, kendaraan, ataupun kediaman. Sekalipun itu tidak haram jika dilakukan, namun kita kehilangan momentum menutup ramadhan dengan indah.

 

Bagaimana dengan lebaran?

 

            “Apa iya, lebaran kita tanpa ada apa-apanya hanya karena alas an ibadah?

Sebagian wanita mungkin ada yang berpikir semacam itu. Tentu saja tidak perlu dibenturkan ibadah dengan lebaran, baik itu perihal penampilan maupun pernak-pernik lebaran, seperti aneka makanan. Semua mesti dipersiapkan karena saat lebaran biasanya sanak saudara datang bersilaturrahim, tetapi jangan itu yang menjadi headline hidup sehingga ibadah terbengkalai dan semangat ruhiyah berpisah dengan Ramadhan. Apalagi jika terbatas pada kebutuhan pribadi, penampilan misalnya. Maka cukuplah kita mengacu pada tuntunan Islam itu sendiri.

Pertama, pakaian yang digunakan dijamin kebersihannya. Jikapun harus lebih baik dari memomentum biasanya, maka siapkan tanpa harus mengganggu ibadah di akhir Ramadhan. Sebab ada juga anjuran Nabi perihal ini, “Sesungguhnya kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Maka perbaikilah keadaan kendaraan dan pakaian kalian agar kalian tampak mempesona di tengah-tengah manusia, karena sesungguhnya Allah tidak menyenangi kesembronoan.” HR. Abu Dawud.

Kedua, jauhi pakaian yang sama dari umat lain. Abdullah bin Amr bin Al Ash meriwayatkan, “Rasululah pernah melihat dua lembar pakaianku tercelup dengan warna kuning, maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ini termasuk dari pakaian orang kafir, maka janganlah engkau memakainya.” HR. Muslim.

 

Dengan demikian, terang bagi kita bahwa Islam benar-benar mengatur segala hal secara proporsional. Terhadap hal yang dapat meningkatkan kedudukan umat Islam di sisi Allah, Rasulullah ﷺ memberikan keteladanan yang jelas. Bahkan dalam soal penampilan, Islam lebih mementingkan pada sisi yang dapat menjaga dan meningkatkan keharmonisan rumah tangga, bukan pada perkara yang justru tidak jelas, menghabiskan waktu dan biaya. Dan, betapa ironisnya jika itu terjadi justru di akhir Ramadhan. Allahu a’lam

 

Referensi:

  1. Majalah Hidayatullah edisi Juni 2018
  2. https://rumaysho.com/519-perpisahan-dengan-bulan-ramadhan.html
  3. https://rumaysho.com/2747-selamat-jalan-ramadhan.htmlv

Pengaruh Puasa Ramadhan terhadap Diabetes Melitus

Definisi dan patomekanisme diabetes melitus

Diabetes Melitus (DM) atau yang biasa dikenal dengan kencing manis merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme karbohidrat akibat pankreas tidak dapat memproduksi insulin atau dapat memproduksi insulin namun tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif dan juga produksi insulin yang kurang. Insulin merupakan hormon yang mengatur keseimbangan glukosa darah dalam tubuh. Menurut data PERKENI 2015, jumlah penduduk Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 240 juta. Menurut data RISKESDAS 2007, prevalensi nasional DM di Indonesia untuk usia di atas 15 tahun sebesar 5,7%.

Penyakit DM ditandai dengan adanya hiperglikemia dan glikosuria yang disebabkan menurunnya produksi hormon insulin oleh pankreas (Utami, 2003 dalam Nuryati, 2009). Kadar glukosa darah adalah jumlah kandungan glukosa dalam plasma darah. Glukosa darah puasa (GDP) merupakan satu diantara cara untuk mengidentifikasi DM. Pada keadaan ini, gula tidak siap untuk ditransfer ke dalam sel, sehingga terjadi hiperglikemia dan hasilnya glukosa tetap berada di dalam pembuluh darah (Fathmi, 2012). Ketidakseimbangan produksi insulin di dalam tubuh pada DM mengakibatkan aliran glukosa darah tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga anabolisme sel menurun. Selanjutnya terjadi kerusakan antibodi dan penurunan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan gangguan neuropati sensori perifer, yakni penderita jarang atau bahkan tidak merasa sakit saat cedera. Hal ini mengakibatkan terjadinya luka hingga nekrosis (Nurarif & Kusuma, 2016). Prevalensi DM meningkat pada usia dewasa tua (lebih dari 40 tahun) disebabkan oleh perubahan terkait regulasi tubuh, kebiasaan hidup, dan lingkungan yang dapat memicu DM (Marinda, Suwandi, & Karyus, 2016).

Pada DM tipe 2 terjadi resistensi insulin pada lansia akibat (Marinda et al., 2016) :

  1. Perubahan komposisi tubuh, berupa jumlah jaringan lemak bertambah dan jumlah massa otot berkurang yang mempengaruhi penurunan jumlah dan sensitivitas insulin.
  2. Penurunan aktivitas fisik yang menyebabkan penurunan jumlah reseptor insulin.
  3. Perubahan pola makan karena jumlah gigi yang berkurang, sehingga persentase asupan karbohidrat meningkat.
  4. Perubahan pada neuro-hormonal, terutama insulin-like growth factor-1 (IGF-1) dan dehydroepandrosteron(DHEAS) yang berkurang hingga 50% pada lansia, sehingga sensitivitas reseptor insulin dan aksi insulin menurun.

Neuropati perifer menyebabkan sensasi nyeri pada kaki menurun bahkan hilang, sehingga dapat terjadi trauma tanpa terasa dan atrofi otot kaki yang berakibat perubahan titik tumpu dan ulsestrasi pada kaki, sedangkan sumbatan pembuluh darah menyebabkan penderita merasa sakit pada tungkai setelah berjalan pada jarak tertentu. Adanya angiopati mengakibatkan penurunan asupan nutrisi, oksigen, dan antibiotik yang mengakibatkan luka sukar sembuh (Sukarmin, 2016).

Penyakit DM dapat berdampak pada multi organ, seperti mata, saraf, ginjal, jantung, kulit, otak, dan eksremitas dengan komplikasi yang sering dialami, yaitu ulkus diabetik. Kejadian ulkus kaki diabetik sebesar 15% dan penderita luka kaki diabetik memiliki risiko kematian dini sebesar 25% (Astrada, 2014; Santy, n.d.). Diperkirakan pada tahun 2045, penderita DM yang mengalami gangguan pada mata, jantung, ginjal, saraf, dan kaki mencapai 700 juta orang. Sekitar 10% hingga 15% kejadian DM akan berkembang menjadi diabetic foot ulcer (DFU) dengan prevalensi sebesar 25% dari DM kurang terkontrol atau tidak terdiagnosis (IDF, 2017, 2017; Kumar & Clark, 2012).

DFU merupakan komplikasi DM yang paling serius dan mahal. Lambatnya penanganan DFU mengakibatkan keparahan luka yang berdampak pada infeksi, ganggren, amputasi, bahkan kematian, sehingga DFU menjadi tantangan kesehatan global terkait beban ekonomi dan sosial (IDF, 2017; Yazdanpanah, Nasiri, & Adarvish, 2015). Frekuensi DFU pada penderita DM sebesar 17,4% dan amputasi sebesar 16,2% yang meningkat 15 kali lebih tinggi daripada tanpa DM. Lebih dari 85% amputasi berawal dari ulkus, terutama DFU dengan kasus 1 amputasi setiap 20 detik pada suatu tempat di dunia. Risiko kematian penderita DM meningkat lebih dari 45% (Acker, 2015; Dòria et al., 2016; IDF, 2017; Yazdanpanah et al., 2015).

 

Apa itu puasa Ramadhan?

Puasa berasal dari bahasa Arab yaitu “Shaumu” yang berarti menahan dari segala sesuatu, seperti menahan tidur, menahan berbicara, menahan makan-minum, dan sebagainya. Menurut istilah dalam agama Islam, puasa berarti menahan diri daripada hal-hal yang membatalkannya, selama satu hari lamanya mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat. Di dalam agama Islam, berdasarkan hukumnya puasa terbagi menjadi empat macam, yaitu: puasa wajib (Ramadhan, kifarat, nazar), puasa sunnah (senin-kamis, ayyaumul bidh, arafah), puasa makruh, dan puasa haram (hari raya idul Fithri, hari raya Haji, dan tiga hari sesudah hari raya Haji) (Rasjid, 1976).

Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari lima komponen dalam rukun Islam. Perintah untuk melaksanakan puasa Ramadhan turun pertama kali pada tahun kedua Hijrah, yaitu tahun kedua sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Perintah puasa ini turun dengan hukum wajib (fardhu ‘ain) atas tiap-tiap muslim yang telah baligh dan berakal (mukallaf) (Rasjid, 1976).

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya:

Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

Puasa Ramadhan dilaksanakan mulai pada tanggal 1 Ramadhan, selama satu bulan penuh (29 atau 30 hari) (Rasid, 1976).

Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kamu sewaktu melihatnya (bulan Ramadhan) dan berbukalah kamu sewaktu melihatnya (bulan Syawal), maka jika ada yang menghalangi sehingga bulan tidak terlihat, hendaklah kamu sempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh hari (H.R. Bukhori).

 

Manfaat puasa Ramadhan bagi penderita DM

Manfaat puasa Ramadhan bagi kesehatan dapat disimpulkan dari sebuah penelitian metaanalisis oleh Patterson dkk. (2016) “Intermittent Fasting and Human Metabolic Health”. Intermittent fasting merupakan konsep diet puasa berselang dengan batasan waktu selama 16 jam. Puasa ini hanya membatasi makan dan tidak membatasi minum. Sedangkan puasa Ramadhan adalah kewajiban umat Islam untuk menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga matahari terbenam, dilaksanakan setiap hari selama 1 bulan Hijriah. Puasa Ramadhan ini dapat dikategorikan sebagai prolonged intermittent fasting yang durasinya bervariasi sekitar 11-20 jam bergantung pada letak geografis dan iklim suatu negara. Berdasarkan 35 penelitian sebelumnya didapatkan hasil yang sama bahwa puasa Ramadhan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh manusia. Adapun pengaruh terbesar yang terjadi berupa penurunan berat badan selama bulan puasa Ramadhan pada semua kelompok umur dan jenis kelamin. Pada 30 penelitian lainnya didapatkan terjadinya penurunan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) dan glukosa darah puasa pada semua kelompok dibandingkan dengan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Selain itu juga terjadi peningkatan kadar HDL (High Density Lipoprotein) pada wanita dan penurunan kadar kolesterol (Patterson dkk., 2016).

Pada penelitian Patterson dkk. juga didapatkan beberapa hipotesis mengenai pengaruh puasa terhadap mekanisme regulasi metabolik tubuh manusia. Pengaruh regulasi metabolik tersebut meliputi: Irama sirkadian, mikroorganisme lambung, dan perilaku gaya hidup yang dapat dimodifikasi. Berpuasa dapat mengembangkan irama sirkadian manusia dengan mengatur jam makan, sehingga dapat menurunkan risiko kegemukan, penyakit jantung, dan kanker. Kondisi lambung manusia pada saat berpuasa tentu akan berbeda dengan keadaan saat tidak berpuasa, di mana pada pengosongan lambung dan aliran darah lebih besar pada siang hari daripada di malam hari, serta respon metabolik terhadap beban glukosa lebih lambat di malam hari daripada di pagi hari. Aktivitas berpuasa ternyata juga dapat mempengaruhi perilaku atau gaya hidup manusia, mulai dari perilaku makan, beraktivitas, dan tidur. Pada saat berpuasa terjadi perubahan perilaku makan, dimana hanya diperbolehkan saat berbuka hingga sahur. Perubahan ini mengakibatkan berkurangnya konsumsi energi, sehingga orang yang berpuasa dapat mengalami penurunan berat badan. Pembatasan waktu makan tersebut juga berdampak pada aktivitas manusia, dimana terdapat peningkatan aktivitas dan pengeluaran energi. Dan terakhir pengaruhnya terhadap pola tidur, pola tidur ini berkaitan dengan irama sirkadian. Durasi dan kualitas tidur yang baik dapat terjadi apabila pengaturan makan (tidak terlalu larut malam) selama berpuasa dilakukan dengan baik (Patterson dkk., 2016).

Pada penderita DM tipe 2, puasa Ramadhan dapat berpengaruh terhadap penurunan berat badan dan penurunan kadar glukosa darah sewaktu. Mereka yang berpuasa selama 30 hari ternyata memiliki kadar gula sewaktu yang terkontrol dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan bukan merupakan kontraindikasi pada penderita DM tipe 2 (Yosephine dkk., 2002).

 

Tips puasa sehat bagi penderita DM

Bagi penderita diabetes melitus, kegiatan puasa Ramadhan akan mempengaruhi kendali glukosa darah akibat perubahan pola dan jadwal makan serta aktivitas fisik. Pasien diabetes sering tetap ingin berpuasa meskipun secara medis tidak memungkinkan. Peranan dokter, sekali lagi, bukan sebagai pemberi fatwa apakah seseorang pasien boleh berpuasa atau tidak. Dokter hanya berperan memberikan pandangan dan panduan mengenai dampak puasa terhadap kondisi medis pasien dan bagaimana mengurangi risiko komplikasi (Firmansyah, 2016). Pertimbangan medis terkait resiko serta tatalaksana DM secara menyeluruh harus dikomunikasikan oleh dokter kepada pasien DM dan atau keluarganya melalui kegiatan edukasi.

Berpuasa dalam jangka waktu yang lama akan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi akut seperti hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetikum, dan dehidrasi atau thrombosis. Risiko tersebut terbagi menjadi risiko sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah. Risiko komplikasi tersebut terutama muncul pada pasien diabetes melitus dengan resiko sedang sampai sangat tinggi (PERKENI, 2015).

 

Tabel 1. Kategori Risiko Terkait Puasa Ramadhan pada Pasien DM Tipe 2 (Al-Arouj et al, 2010)

Risiko sangat tinggi pada pasien:

·         Hipoglikemi berat dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadhan.

·         Riwayat hipoglikemi yang berulang.

·         Hipoglikemi yang tidak disadari (unawareness hypoglycemia).

·         Kendali glikemi buruk yang berlanjut.

·         DM tipe 1.

·         Kondisi sakit akut.

·         Koma hiperglikemi hiperosmoler dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadhan.

·         Menjalankan pekerjaan fisik yang berat.

·         Hamil.

·         Dialisis kronik.

Risiko tinggi pada pasien dengan:

·         Hiperglikemi sedang (rerata glukosa darah 150–300 mg/dL atau HbA1c 7,5–9%).

·         Insufisiensi ginjal.

·         Komplikasi makrovaskuler yang lanjut.

·         Hidup “sendiri” dan mendapat terapi insulin atau sulfonilurea.

·         Adanya penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko.

·         Usia lanjut dengan penyakit tertentu.

·         Pengobatan yang dapat mengganggu proses berpikir

Risiko sedang pada pasien dengan:

·         Diabetes terkendali dengan glinid (short-acting insulin secretagogue).

Risiko rendah pada pasien dengan:

·         Diabetes “sehat” dengan glikemi yang terkendali melalui;

ü  terapi gaya hidup,

ü  metformin,

ü  acarbose,

ü  thiazolidinedione,

ü  penghambat ensim DPP-4

 

Selain pengenalan risiko tersebut, penting bagi pasien untuk mengetahui kelompok pasien diabetes melitus yang boleh dan tidak boleh (tidak dianjurkan) berpuasa. Berikut akan dijelaskan dalam tabel 2.

Tabel 2. Kelompok Pasien DM yang Boleh dan Tidak Boleh (Tidak Dianjurkan) Berpuasa (Subekti, 2006)

Kelompok I
Pasien DM yang kadar glukosa darahnya terkontrol dengan perencanaan makanan dan olah raga saja. Dapat berpuasa tanpa masalah dengan tetap

memperhatikan pengaturan makan dan aktivitas fisik.

Kelompok II

Pasien DM yang selain melaksanakan perencanaan makan dan olah raga juga memerlukan obat hipoglikemik oral (OHO) untuk mengontrol kadar glukosa darahnya.

IIa Membutuhkan dosis tunggal dan kecil, misalnya glibenklamid 1 x 1 tablet sehari, pagi

 

Boleh berpuasa dengan menggeser obat pagi ke sore saat berbuka puasa.

 

IIb Membutuhkan OHO dengan dosis lebih tinggi dan terbagi, misalnya glibenklamid pagi 2 tablet dan sore 1 tablet.

Jika minum obat 3 kali sehari.

 

Dapat berpuasa dengan menggeser obat pagi ke saat berbuka dan obat sore ke saat makan sahur dengan dosis setengahnya.

erpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

erpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

Berpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

Berpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

Berpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan sahur dengan dosis setengahnya.

 

Kelompok 3

Pasien DM yang selain perencanaan makan dan olahraga juga membutuhkan / tergantung insulin atau kombinasi dengan OHO.

IIIa Membutuhkan insulin satu kali sehari.

Misalnya NPH 20U 1 x sehari.

 

Dapat berpuasa dengan motiviasi yang kuat dan harus dengan pengawasan yang ekstra ketat. Suntikan insulin digeser ke saat berbuka.

 

IIIb Membutuhkan insulin dua kali sehari atau lebih sehari.

Misalnya RI 3 x 12 U sehari.

 

Tidak dianjurkan berpuasa karena dianggap kadar glukosa darah tidak stabil.

 

IIIc Membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin satu kali sehari.

 

Boleh berpuasa dengan pengaturan OHO seperti kelompok II dan suntik insulin saat berbuka.

 

IIId Membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin dua kali sehari atau lebih.

kali sehari atau lebih.

 

Tidak dianjurkan berpuasa karena dianggap kadar glukosa darah tidak stabil.

glukosa darah tidak stabil.

 

 

 

Berdasarkan penjelasan tersebut, penting untuk pasien memperhatikan ibadah puasa yang dikerjakan apakah dapat mengganggu kesehatan pasien. Jika pasien tetap berkeinginan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan, maka ada beberapa tips yang harus diperhatikan: (PERKENI, 2015)

  1. Satu-dua bulan sebelum menjalankan ibadah puasa, pasien diminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh meliputi kadar glukosa darah, tekanan darah, dan kadar lemak darah, sekaligus menentukan resiko yang akan terjadi bila pasien tetap ingin berpuasa.
  2. Pasien diminta untuk memantau kadar glukosa darah secara teratur, terutama pertengahan hari dan menjelang berbuka puasa.
  3. Jangan menjalankan ibadah puasa bila merasa tidak sehat.
  4. Harus dilakukan penyesuaian dosis serta jadwal pemberian obat hipoglikemik oral dan atau insulin oleh dokter selama pasien menjalankan ibadah puasa.
  5. Mengatur porsi makanan sesuai dengan kebutuhan energi sebagai berikut:

Energi basal laki-laki = 30 kkal * BB

Energi basal perempuan = 25 kkal * BB

Pembagian porsi makanan berupa:

Karbohidrat  : 45-65 % total energi per hari

Protein : 10-20 % total energi

Lemak : 20-25% total energi

  1. Hindari melewatkan waktu makan atau mengkonsumsi karbohidrat atau minuman manis secara berlebihan untuk menghindari terjadinya hiperglikemia post prandial yang tidak terkontrol. Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi karbohidrat kompleks saat sahur dan karbohidrat simple saat berbuka puasa, serta menjaga asupan buah, sayuran dan cairan yang cukup. Usahakan untuk makan sahur menjelang waktu imsak (saat puasa akan dimulai).
  2. Hindari aktifitas fisik yang berlebihan terutama beberapa saat menjelang waktu berbuka puasa.
  3. Puasa harus segera dibatalkan bila kadar glukosa darah kurang dari 60 mg/dL (3.3 mmol/L). Pertimbangkan untuk membatalkan puasa bila kadar glukosa darah kurang dari 80 mg/dL (4.4 mmol/L) atau glukosa darah meningkat sampai lebih dari 300 mg/dL untuk menghindari terjadi ketoasidosis diabetikum.
  4. Selalu berhubungan dengan dokter selama menjalankan ibadah puasa.

Semoga tipsnya bermanfaat J

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Rouj M, et al. 2010. Recommendations for Management of Diabetes During Ramadhan. Diabetes Care (33):1895 -1902.

Acker, K. Van. (2015). Diabetic Foot Disease: When The Alarm to Action is Missing. IDF. Retrieved from https://www.idf.org/e-library/diabetes-voice/issues/46-july-2015.html?layout=article&aid=296

Astrada, A. (2014). Faktor-Faktor yang Memengaruhi Terjadinya Luka Kaki Diabetik pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Balai Pengobatan san Spesialis Perawatan Luka, Stoma, dan Inkontinensia “Kitamura” Pontianak pada Tahun 2014. Pontianak.

Dòria, M., Rosado, V., Pacheco, L. R., Hernández, M., Betriu, À., Valls, J., … Mauricio, D. (2016). Prevalence of Diabetic Foot Disease in Patients with Diabetes Mellitus under Renal Replacement Therapy in Lleida, Spain. BioMed Research International. https://doi.org/10.1155/2016/7217586

Fathmi, Ain. 2012. “Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Glukosa darah pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar”. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta. Skripsi S1.

Firmansyah M.A. 2016. Tata Laksana Diabetes Melitus saat Puasa Ramadhan. Contiuning Medical Education-204 (40)5.

IDF. (2017). IDF Launches Clinical Practice Recommendations on the Diabetic Foot. Retrieved November 23, 2017, from https://www.idf.org/news/48:idf-launches-clinical-practice-recommendations-on-the-diabetic-foot.html

IDF. (2017). IDF New IDF figures show continued increase in diabetes across the globe, reiterating the need for urgent action. Retrieved November 23, 2017, from https://www.idf.org/news/94:new-idf-figures-show-continued-increase-in-diabetes-across-the-globe,-reiterating-the-need-for-urgent-action.html

Kumar, P., & Clark, M. (2012). Kumar & Clark’s Clinical Medicine (Eight). London: Elsevier Health Science.

Marinda, F. D., Suwandi, J. F., & Karyus, A. (2016). Tatalaksana Farmakologi Diabetes Melitus Tipe 2 pada Wanita Lansia dengan Kadar Gula Tidak Terkontrol Pharmacologic Management of Diabetes Melitus Type 2 in Elderly Woman with Uncontrolled Blood Glucose. J Medula Unila, 5(2), 26–32.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan Penerapan Diagnosa Nanda, NIC, NOC dalam Penerapan Berbagai Kasus. (N. H. Rahil, Ed.) (Revisi Jil). Yogyakarta: Mediaction Publishing.

Nuryati, Siti. 2009. “Gaya Hidup dan Status Gizi Serta Hubungannya Dengan Hipertensi dan Diabetes Melitus Pada Pria Dan Wanita Dewasa di Dki Jakarta”. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Tesis S2.

Patterson, RE, dkk. 2016. Intermittent Fasting and Human Metabolic Health. J Acad Nutr Diet. California. 115(8): 1203-12

PERKENI. 2015. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2015. Jakarta: Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI).

Rasid, Sulaiman. 1976. Fikih Islam. Jakarta: Attahiriyah

Santy, W. H. (n.d.). Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) for The Management of Diabetic Foot Wound.

Subekti I. 2006. Berpuasa bagi pasien diabetes. Dalam: Syam AF, Setiati S, Subekti I. Tips Berpuasa Ramadhan pada Berbagai Penyakit Kronis. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 27-37.

Sukarmin. (2016). Hubungan Latihan Mobilisasi Kaki dengan Tingkat Penyembuhan Luka Ulkus Diabetik pada Pasien Diabetes Mellitus di Puskesmas Welahan 2 Kabupaten Jepara. Jurusan Keperawatan STIKES Muhammadiyah Kudus, 303–309.

Yazdanpanah, L., Nasiri, M., & Adarvish, S. (2015). Literature Review on The Management of Diabetic Foot Ulcer. World Journal of Diabetes, 6(1), 37. https://doi.org/10.4239/wjd.v6.i1.37

Yosephine, dkk. 2002. Pengaruh Puasa selama Ramadhan terhadap Status Klinik Penderita Diabetes Miletus Tipe 2. Jurnal Kedokteran Trisakti. Jakarta. 21(2): 47-

Embara Sebelas Purnama [1]

Setelah sebelas purnama yang akan datang,

kitakan berjumpa kembali, insyaaAllah!

Allahumma ballighna Ramadhan,

Ramadhan, wa Ramadhan.

 

“Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)“ – Maula bin al Fadhl

 

Ramadhan telah usai, namun bukan berarti kita dibenarkan untuk meninggalkan versi terbaik kita dalam 12 bulan siklus tahun yang telah Allah tetapkan. Hidupkan nilai dan pesan Ramadhan di bulan-bulan lain dan hidupkan sunnah-sunnah khusus pada suatu bulan hijriah tertentu. Lakukan pengembaraanmu dengan lebih baik, sampai pelabuhan hati kembali terobservasi, sampai oase gurun kehidupupan kembali terlihat dari kejauhan, Ramadhan yang akan datang. Atau setidaknya, hingga Allah memanggil kita kembali menuju keharibaann-Nya, sedang Ia ridha dengan kita, dan kita ridha dengan-Nya. Aamiin

 

Bersama perjalanan sang waktu, ada ibrah yang sungguh berharga bagi orang-orang yang mau merenung akannya. Ibrah yang terletak bukan pada “kapan sebuah hitungan waktu diakhiri dan dimulakan kembali”, namun pada “dengan apa dahulu waktu-waktu yang telah berlalu itu diisi” dan “bagaimana waktu-waktu yang akan datang nanti dihiasi” – Extraordinary Ramadan

 

Berikut ini ceklist produktivitas khusus yang dapat Sahabat adaptasi dan gunakan sebagai panduan dalam memaksimalkan bulan hijriah tertentu. Semoga bermanfaat!

 

Syawwal

  • Maksimalkan sunnah-sunnah seputar malam dan shalat Idul Fitri
  • Menyambung silaturahim dengan berkunjung ke rumah kerabat dan kolega. Atau setidaknya dengan menhubungi mereka via telepon dan media sosial.
  • Segera menunaikan hutang puasa wajib bulan Ramadhan
  • Tidak melewatkan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal

 

Dzu al Qa’dah 

Berumrah. Sahabat Anas bin Malik mengatakan: ”Bahwa Rasulullah melakukan umrah 4 kali, semuanya di bulan Dzulqa’dah, kecuali umrah yang mengiringi haji beliau.” – Muttafaq ‘alayh

 

Dzu al Hijjah

  • Memperbanyak dzikir (tahlil, takbir dan tahmid) dan puasa pada 10 hari pertama
  • Melakukan ibadah haji
  • Berpuasa pada hari Tarwiyah dan Arafah (9 dan 10 Dzu al Hijjah)
  • Menyimak kisah khutbah Arafah Haji Wada’ Rasulullah yang fenomenal
  • Maksimalkan sunnah-sunnah seputar malam dan shalat Idul Adha
  • Memaksimalkan amalan hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzu al Hijjah) dengan berdzikir, berdoa -terutama doa sapu jagad-, bersyukur, dan makan dan minum untuk ridha Allah
  • Siapkan diri dengan menabung jauh-jauh hari
  • Melakukan evaluasi akhir tahun. Hisablah dirimu sebelum dihisab

 

Muharram

  • Mensyukuri ni’mat usia hingga bertemu tahun yang baru ini.
  • Melakukan perencanaan untuk satu tahun mendatang.
  • Menghidupkanlah semangat berhijrah!
  • Berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) dan hari sebelumnya atau sesudahnya (9 / 11 Muharram)
  • Mencari tahu dan mempelajari ada apa apa dan bagaimana sebenarnya kisah tragedi Karbala dan syahidnya cucu Rasulullah, Hussain bin Ali r.a.

 

Rabi’ul Awwal

Ini salah bulan kelahiran dan wafatnya Rasulullah. Jadikan ia sebagai momentum untuk mempelajari dan membaca kembali kisah kehidupan Rasulullah dengan penuh kerinduan. Bershalawatlah atas beliau.

 

Rajab 

  • Berumrah
  • Melakukan pemanasan menjelang Ramadhan
  • Berdoa agar disampaikan pada bulan Ramadhan mendatang
  • Ada peristiwa besar Isra’ Mi’raj di bulan ini, Cobalah untuk mempelajari kisah Isra’ dan Mi’raj, hikmahnya, Tafsir surah al Isra’ ayat 1 dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Masjid al Aqsa

 

Sya’ban

  • Memperbanyak puasa sunnah
  • Menuntaskan penggantian puasa wajib Ramadhan tahun lalu
  • Mulai memperbanyak tilawah
  • Pemanasan menjelang Ramadhan
  • Berdoa agar disampaikan pada bulan Ramadhan mendatang

 

Wallahu a’lam

[1] Artikel ini diambil dari Buku Extraordinary Ramadhan yang dapat diunduh di extraordinaryramadan.blogspot.com Bagian Menuai, dalam topik “Embara 11 Purnama”.

Mempertahankan Semangat Ramadhan [1]

 

Kini, Ramadhan telah usai, pertanyaan besarnya adalah apa yang harus dilakukan?

 

“Kembali lagi melakukan puasa setelah puasa Ramadhan, itu tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena jika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelah itu. ‘Balasan dari  kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ “ – Lathaiful Ma’arif, 388

 

Idul Fitri bukan hanya hari kemenangan, tetapi ia juga hari perpisahan, perpisahan dengan Ramadhan. Tidak ada jaminan apakah kita akan merasakan nikmatnya Ramadhan kembali di tahun depan. Dengan berat hati dan menahan air mata kita berkata, “Sampai jumpa tahun depan, Insyaa Allah”.

 

Sekarang Ramadhan telah usai. Pertanyaan besarnya adalah apa yang harus dilakukan? Apakah kita akan meninggalkan segala hal baik yang kita dapatkan di bulan Ramadhan, seakan mengakui bahwa bulan Ramadhan adalah hujan musiman yang datang dan berlalu begitu saja dan kita adalah muslim musiman yang berganti identitas diri saat musimnya berubah?

 

Mari kita hidupkan semangat Ramadhan hingga 11 bulan mendatang, agar setidaknya kita tidak menyesal saat mengetahui bahwa Ramadhan ini adalah yang terakhir bagi kita.

 

Bekarya, Bekerja, Beribada Lillah

Sadarilah, Sahabat, bahwa perintah beribadah tidak untuk dilakukan di bulan Ramadhan saja, tetapi di sepanjang hidup kita. Setiap waktu adalah peluang untuk meraih ridha-Nya. Curahkan setiap ibadah yang kita lakukan hanya untuk Allah semata. Pastikan bahwa setiap waktu yang telah berlalu tidak terbuang sia-sia.

 

Menjaga Koneksi dengan Ilahi

Teruslah mengingat Allah dan menjaga koneksi dengan-Nya. Lakukan amalan-amalan wajib dan sunnah dengan istiqamah. Ingatlah selalu akan rahmat-Nya yang luar biasa dan syukuri itu semua.

 

Muhasabah Diri

Lanjutkan upaya evaluasi diri. Luangkan satu waktu me time untuk bermuhasabah. Lakukan penghitungan atas dirimu sendiri sebelum dihitung di Hari Perhitungan nanti.

 

Istiqamahkan Mengaji dan Mengkaji

Teruskan dan kembangkanlah budaya belajar Islam pada saat Bulan Ramadhan. Buatlah target bacaan al Quran, hadits, ayat hafalan, khazanah Islam, dll tiap hari. Ikuti kajian dan mejelis ilmu untuk menguatkan ilmu dan semangatmu

 

Mengasah Peduli

Jangan putus hubungan dirimu dengan umat. Teruslah memberi kontribusi: seminimal mungkin dengan berupaya menjadi seseorang yang profesional pada setiap hal dan bidang yang kita tekuni. Persembahkanlah suatu warisan terbaikmu bagi umat ini.

Jadilah selalu diri kita di saat Ramadhan. Hidupkan semangat Ramadhan hingga Ramadhan mendatang. Atau setidaknya hingga nafas sampai di ujung tenggorokan. Sebab boleh jadi,   detik, menit, jam, hari, bulan, atau tahun ini adalah yang terakhir.

 

[1] Artikel ini diambil dari Buku Extraordinary Ramadhan yang dapat diunduh di extraordinaryramadan.blogspot.com Bagian Menuai, dalam topik “Warisan Ramadhan”.