Pintu Surga Paling Tengah

Benda itu masih diam. Sesekali si empunya memandangi benda itu dengan hati penuh harap. Sudah beberapa hari handphone biasa yang hanya bisa digunakan untuk SMS dan telepon itu tak berbunyi sama sekali. Dalam beberapa kesempatan, si bapak ini hanya bisa memandanginya. Dan sesekali dengan berkaca-kaca. Sebelum berangkat bekerja, sepulang dari bekerja, ia sempatkan untuk menengok handphonenya. Dan yang dia dapati tetap sama, dengan mata berkaca-kaca.

Bapak ini memang tak begitu pandai mengoperasikan handphonenya. Di usianya yang lebih dari 50 tahun ini, ia baru saja memiliki handphone. Karena di saat itu, semua putra-putrinya tak ada di rumah. Bahkan yang dia tahu hanyalah fungsi dari tombol berwarna hijau untuk menerima telepon dan tombol berwarna merah untuk mematikan telepon.

Rindu. Ya, mungkin itu yang sedang ia rasakan. Yang ia hajatkan untuk anaknya. Ia rindu dengan suara anaknya. Ia ingin tahu bagaimana keadaan anaknya, apakah ia baik-baik saja. Dan hanya handphone itu yang bisa mengobati rindunya. Sesekali ia membolak-balik handphonenya, bilakah ada yang rusak dengannya. Atau yang lebih ia takuti, apa yang terjadi dengan anaknya. Dan apa daya, yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu.

“Nak, tolong perbaiki hape ini.” Pinta bapak itu kepada pemuda di toko handphone ketika pagi-pagi ia membawanya ke sana.

“Iya, pak. Silakan duduk dulu.” Jawab pemuda itu dengan wajah sumringah.

“Bapak,” kata pemuda itu beberapa saat kemudian, “handphone bapak ini tidak rusak, masih berfungsi dengan baik.”

Sang bapak yang mendengar penuturan pemuda itu hanya terdiam. Sesaat kemudian dengan bulir bening menetes dari matanya ia berkata lirih. “Tetapi kenapa tidak ada telepon dari anak saya?”

__________

Kisah ini menginsyafkan kita bahwa orang tua adalah pemegang peran penting kesuksesan kita. Sedang ketika sukses itu telah kita dapat, giliran kitalah pemegang secarik kebahagiaan mereka. Bukan harta yang ia minta, bahkan ia lebih ridha harta itu jadi milik buah hatinya. Yang ia harap hanya waktu kita untuknya, kasih sayang kita untuknya. Bahkan untuk tahu kabar, yang ia harapkan bahwa kita baik-baik saja, bahwa kita masih rasakan nikmat sehat dari-Nya. Ia selalu tiupkan nafas cinta, hingga nafas cinta itu menjelma jadi indahnya masa depan kita.

Betapa beruntung kita memiliki orang tua yang sangat menyayangi anak-anaknya. Betapa beruntung kita memiliki orang tua yang di setiap peluhnya bahkan ia relakan untuk kita. Betapa beruntungnya kita memiliki orang tua yang dengan segala kurang dan lebihnya kita, ia selalu kedepankan kesabarannya. Dan betapa dzalimnya kita, kesibukan mengalihkan perhatian kita padanya.

______

Di lintas sejarah yang lain, terkisahlah seorang ibu yang merasakan betapa indahnya kasih sayang anaknya. Betapa kuatnya ikatan antara mereka, betapa berkah karunia Tuhannya. Di masa tuanya, dalam keadaan lumpuh lagi buta ia hanya ditemani seorang anak laki-lakinya. Pemuda yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Pemuda ini adalah pemuda langit. Ia tak terkenal di bumi, tapi terkenal di langit.

Kemudian kita tahu pemuda ini adalah Uwais Al-Qarni. Kemudian kita tahu bahwa pemuda inilah yang tanpa pernah melihatnya, Rasulullah bersabda tentang dirinya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia diberi kesembuhan. Tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in.”

Kala itu, Uwais Al-Qarni sangat ingin bertemu sang Nabi. Dan imanlah yang mendorongnya untuk bertemu dengan sang Nabi. Tapi, bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan ibunya dalam keadaan seperti itu?

“Pergilah wahai Uwais, anakku!” kata Ummu Uwais dengan haru ketika pada akhirnya Uwais mengutarakan keinginannya untuk bertemu Rasulullah,

“Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Uwais yang kala itu sangat gembira dengan ijin yang diberikan ibunya, segera berkemas untuk berangkat. Tak lupa ia menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, dan berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Sampai di rumah Rasulullah, hanya istri Nabi– Aisyah, yang dapat ia temui. Sebab Rasulullah kala itu sedang berada di medan perang. Keinginan untuk bertemu Rasulullah masih terpatri di hati Uwais Al-Qarni. Ia tak tahu kapan Rasulullah pulang. Sedang kata-kata ibunya masih terus terngiang, “Engkau harus lekas pulang.” Dan bakti kepada ibunyalah yang kemudian membersamai langkahnya pulang dan segera menemui ibunya.

Peperangan telah usai, Rasulullah pulang ke rumahnya. Beliau bertanya pada Aisyah perihal orang yang mencarinya selama ia pergi. Kemudian Rasulullah mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni, anak yang taat kepada ibunya adalah penghuni langit. “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia,” Rasulullah melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, “Perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”

“Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia,” kata Rasulullah lagi seraya menatap Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, “Mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit.”

Terkisah bahwa ketika wafatnya, demikian banyak orang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazahnya. Inilah, Uwais Al-Qarni. Di dunia tak banyak orang mengenalnya, namun sejatinya ialah penghuni langit.

_____

Dari kisah Uwais Al-Qarni, kita dapat belajar bahwa memuliakan orang tua adalah suatu hal yang harus kita upayakan. Sebab ketika kita memuliakan keduanya, Allah pun akan memuliakan kita. Allah akan mencintai kita serta mengistimewakan kita dengan cara-Nya. Demikianlah, orang tua selalu bisa menjadi sebab seorang anak jadi penghuni surga.

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Engkau bisa sia-siakan pintu itu atau engkau bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Atau bahkan sebaliknya, menjadi penyebab murkanya Allah. Semoga kita terhindar dari hal ini.

Dari Abdullah bin ‘Amr beliau berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah pada ridha orang tua dan murka Allah pada murka orang tua.” (HR. Al-Baihaqi)

Tersebab kita ingin meraih cinta Allah, kita pun harus mencintai orang tua. Maka ketika cinta itu sudah jadi pilihan, akan kita lakukan apa yang membuatnya suka. Dan akan kita jauhi apa yang tak ia perbolehkan. Dan cinta itu akan tumbuh jadi cintanya Allah. Insyaa Allah.

Maka sudah jadi tugas kita lah untuk mengupayakan yang terbaik kepada kedua orang tua kita. Semisal dengan cara menjaga hati keduanya agar tak menimbulkan murkanya. Menjaga hatinya agar tetap tenang walau misal kita jauh darinya. Bahkan ketika kita harus jauh dari mereka, yang mereka inginkan hanyalah mengetahui kabar putra-putrinya. Memastikan bahwa buah hatinya selalu dalam kondisi baik-baik saja. Oleh karena itu, jangan biarkan khawatir terus menyergapi mereka. Teruslah berkabar agar tenang hatinya dan doa terus terlantun dari bibirnya, untuk kesuksesan kita meraih cita.

Di mana pun kita berada, merekalah tempat ternyaman untuk kembali. Untuk menceritakan segala cerita, maupun untuk mengembalikan lagi asa. Hingga kita terus kuat memperjuangkan apa yang kita pilih. Bahkan ketika di tanah rantau untuk mengumpulkan ilmu, atau bahkan memperjuangkan cita-cita.

Maka kelak akan ada saatnya kita harus kembali berada di samping mereka. Memberikan apa yang bisa kita beri dan mempersembahkan apa yang bisa kita persembahkan. Semua yang terbaik untuk mereka.

 

Karena kita yakin, pintu surga paling tengah adalah orang tua kita.

Janganlah sia-siakan mereka.

Raihlah dan jagalah.

Orang tua, ialah kata yang paling menggetarkan hati setiap anak.

 

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi: dakwatuna.com

32 Cara Menghormati Orang Tua

Berbakti kepada kedua orang tua adalah salah satu amal shalih yang disebut berkali-kali di dalam al-Qur’an, bahkan amal ini sering disandingkan dengan perintah untuk menyembah Allah dan larangan mempersekutukan-Nya.

 

Allah SWT berfirman:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak.” (An Nisa: 36).

 

Rasulullah juga mengisyaratkan betapa mulianya amalan ini dengan mengutamakan bakti kepada orang tua atas jihad fi sabilillah.

 

Ibnu Mas’ud berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘mendirikan sholat pada waktunya,’ Aku bertanya kembali, ‘Kemudian apa?’ Jawab Beliau, ‘berbakti kepada orang tua,’ lanjut Beliau. Aku bertanya lagi, ‘Kemudian?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.’” (HR. Al Bukhori no. 5970) [2]

 

Lalu, bagaimanakah kita dapat mengekspresikan amalan ini dalam kehidupan sehari-hari? Simak 32 cara menghormati orang tua berikut ini. Semoga dapat menjadi inspirasi dan motivasi agar kita dapat mengamalkannya di sepanjang waktu. InsyaaAllah

 

  1. Berinteraksilah dengan sebaik-baik etika dan sopan santun. Jangan mengatakan pada beliau berdua ungkapan kesal meskipun hanya semisal Berbicaralah dengan kata-kata yang baik lagi lembut kepada mereka.
  2. Patuhilah orang tua selalu, kecuali bila mereka memerintahkan sesuatu yang berdosa, sebab kepatuhan kepada Allah tetaplah yang harus diutamakan.
  3. Bersikaplah baik kepada orang tua. Jangan cemberut atau menatap dengan amarah.
  4. Jagalah nama baik, kehormatan, dan kepemilikan mereka. Jangan mengambil sesuatu apapun tanpa izin beliau berdua.
  5. Lakukan hal-hal yang membuat orang tua terbantu meskipun tanpa beliau minta, seperti membantu mencuci piring, membelikan kebutuhan sehari-hari, dll.
  6. Mintalah saran dari orang tua dalam berbagai urusan dan mintalah maaf bila karena satu atau dua hal lain kau kurang menyetujui saran atau pendapat yang mereka sampaikan.
  7. Balas dan jawab sesegera mungkin dengan senyuman di wajah saat mereka memanggil.
  8. Hormati keluarga dan teman-teman orang tua, baik saat mereka masih hidup dan setelah mereka telah wafat.
  9. Jangan berdebat dengan beliau. Bila orang tua melakukan sesuatu hal yang kurang tepat, sampaikanlah hal yang benar dengan cara yang baik dan santun
  10. Jangan bersikap keras kepala dan mengangkat suara pada orang tua. Dengarkan ucapan mereka dan berperilakulah dengan baik dan santun. Jangan mengganggu saudaramu untuk menghormati mereka (karena hal itu sering kali akan mengganggu mereka juga).
  11. Berikanlah penghormatan yang pantas, seperti berdiri saat beliau memasuki ruangan, mencium tangan atau dahi mereka.
  12. Bantu pekerjaan ibu di rumah dan tawarkan bantuan saat melihat ayah sedang bekerja.
  13. Jangan nekat pergi jika mereka tidak memberikan izin meskipun itu untuk sesuatu yang penting. Tetapi jika kau memang tetap harus pergi, minta maaf dan jelaskan kepada mereka dengan baik sebelum berangkat.
  14. Jangan masuk ke kamar mereka tanpa izin, terutama saat tidur dan beristirahat.
  15. Jika merokok, janganlah kau lakukan di hadapan beliau berdua
  16. Jangan mengambil makanan atau minuman sebelum mereka.
  17. Jangan berbohong kepada beliau berdua.
  18. Jangan lebih mengutamakan istri atau anak atas orang tua, sebaliknya, cobalah untuk menyenangkan mereka sebelum orang lain karena “keridhaan Allah dalam keridhaan orang tua dan kemarahan Allah ada dalam kemarahan orang tua.”
  19. Jangan duduk di tempat yang lebih tinggi.
  20. Jangan sombong dengan apa yang dimiliki oleh orang tua.
  21. Jangan pelit membelanjakan sesuatu hal untuk beliau berdua.
  22. Sesering mungkin, kunjungilah beliau berdua dan berliah mereka hadiah. Berterima kasihlah karena beliau berdua telah membersarkanmu.
  23. Orang yang paling layak mendapat kehormatan darimu adalah ibumu, lalu ayahmu.
  24. Jangan sampai kau tidak bersyukur kepada mereka dan berhati-hatilah dengan kemarahan mereka karena itu akan membawa ketidakbahagiaan dalam kehidupan ini dan akhirat. Anak-anakmu berpeluang besar untuk memperlakukanmu seperti bagaimana kau memperlakukan orang tuamu.
  25. Jika menginginkan sesuatu dari orang tua, berbaiklah kepada mereka dan berterima kasihlah kepada mereka karena telah memberikannya kepadamu. Jika mereka menolak,, maka maafkan mereka. Jangan terus-menerus menanyakan hal-hal kepada mereka karena itu bisa mengganggu mereka.
  26. Ketika kau mampu mencari nafkah, maka bekerjalah dan bantu orang tuamu.
  27. Orang tua dan pasangamu kelak memiliki hak padamu, sehingga penuhilah hak-hak mereka dan cobalah untuk mendamaikan mereka ketika mereka tidak sependapat.
  28. Jika orang tuamu berdebat dengan pasanganmu, maka bersikaplah dengan bijak dan cobalah untuk memahamkan pada pasanganmu bahwa kau akan berada di sisinya jika dia benar dan [pada saat yang sama] kau juga diperintahkan untuk membuat ridha orang tua.
  29. Jika kau tidak setuju dengan orang tuamu sehubungan dengan pernikahan atau jalan lain dalam hidup, maka carilah penilaian melalui hukum Islam karena itu adalah bantuan terbaik untukmu.
  30. Doa orang tuamu adalah mustajab, baik maupun buruk. Jadi waspadalah terhadap permohonan mereka terhadapmu.
  31. Bersikap baiklah kepada orang lain untuk menghindari dicemoohnya orang tua kita karena misal kita mencemooh orang tua mereka.
  32. Kunjungilah mereka saat hidup bahkan setelah wafat, yakni mengunjungi makam mereka. Berikanlah sedekah atas nama mereka dan mohonkan ampunan atas mereka. “Ya Tuhanku ampunilah orang tua saya”, “Ya Tuhanku, kasihanilah mereka berdua karena mereka membawa saya ketika saya masih kecil ”, dll.

 

Pembuka dari artikel ini disesuaikan dari artikel Sudahkah Kita Berbakti Pada Orang Tua?, diakses di https://muslim.or.id/382-bakti-pada-orang-tua.html

Berbakti kepada Orang Tua Setelah Mereka Wafat [1]

Berbakti kepada orang tua adalah amalan yang tidak berbatas waktu dan tempat. Lalu, bagaimanakah cara berbakti pada orang tua ketika mereka telah meninggal dunia atau tiada? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Rasulullah pada 1400 abad yang lalu.

 

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata, “Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud no. 5142 dan Ibnu Majah no. 3664. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

 

Pada hadits ini, kita dapat menggaris bawahi beberapa hal yang dapat kita laukukan sebagai wujud bakti kita kepada orang tua yang telah wafat, diantaranya adalah:

  1. Mendo’akan kedua orang tua dan meminta ampun untuk kedua orang tua, diantaranya melalui doa yang Allah ajarkan dalam al Quran: “Wahai, Rabb-ku, sayangilah mereka berdua seperti mereka menyayangiku waktu aku kecil” (al Isra: 24)
  2. Memenuhi janji dan atau tanggungan mereka
  3. Menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya. Hal ini juga diisyaratkan lewat sabda Rasulullah yang lain, “Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.” (HR. Muslim no. 2552)

 

Selain ketiga hal tersebut, pada hadits lain juga disebutkan bahwa bersedekah atas nama orang tua yang telah tiada adalah salah satu amalan yang dapat bernilai bakti kepada orang tua.

 

“Sesungguhnya ibu dari Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia. Sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sisinya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756)

 

Namun Saudaraku, selama beliau masih hidup, itulah kesempatan kita terbaik untuk berbakti pada orang tua. Karena berbakti pada keduanya adalah jalan termudah untuk masuk surga. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk mengamalkannya.

 

Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Samudera Cinta: Birrul Walidain

“Di antara samudera cinta yang paling luas dan dalam di dunia, adalah kasih sayang seorang ibunda”, ungkapan ini begitu tulus disampaikan seorang tokoh ternama di India.

Kasih dan sayang ibunda tak pernah gugur di tengah jalan. Tak pernah fluktuatif; kadang naik atau kadang turun. Kasih sayangnya selalu ada, bertambah, seperti ketika menanam bulir padi; semakin lama semakin bersemilah bulir-bulir cinta yang lain. Begitulah ibunda, beliau adalah guru pertama bagi setiap manusia besar, pemimpin pertama yang menunjukkan anaknya mana yang harus dikerjakan, mana yang wajib ditinggalkan. Karena kasih sayang terdalam di dunia ini milik Ibunda, Ummi, Ibu, Mama, apapun namanya.

Kalian setuju kan ketika aku menulis “Kebahagiaan Ibunda adalah kebahagiaan terbesar kita juga”? Setuju?

Ada dua kebahagiaan terbesar bagi Abu Hurairah dalam hidupnya. Pertama; ketika ia masuk Islam dan bertemu Rasulullah, ia gembira bukan kepalang. Kedua; Ketika Ibundanya memeluk Islam, beliau ingin meloncat gembira riang. Kalian tahu kawan? Abu Hurairah yang terkenal ini punya kebiasaan indah menggendong ibundanya ke mana saja ibunya ingin pergi, meski Ibunya buta dan masih enggan memeluk Islam. Tak pernah sedikitpun kata kotor terloncat dari lisannya, sebelum apalagi sesudah masuk Islam. Hanya satu hal yang pernah ia kecewakan dari Ibunya: ketika Ibunya mengejek Rasulullah di hadapannya. Namun tetap saja Abu Hurairah menjawab ejekan itu tanpa meninggikan suaranya. Dengan perkataan yang santun tentunya.

Datanglah sahabat penghafal hadits ini ke Baginda Nabi, menuturkan harapannya dan minta didoakan agar Ibunya masuk Islam. Akhirnya Beliau pulang dari pertemuannya dengan Rasulullah. Langkahnya masih lemas dan harap-harap cemas. Sesekali menebak apa yang akan terjadi setelah ia sampaikan hal ini pada baginda. Ketika beliau sampai di pintu rumah dan mengetuk pintu, Sang Ibunda malah melarang dia masuk ke rumah. Tambah lemaslah ia. Beliau kira keadaan makin buruk.

Ternyata justru inilah awal dari happy endingnya…

Tiba-tiba di dalam rumah terdengar gemericik air yang tak biasanya ia dengar. Setelah beberapa saat, terbukalah pintu. Di hadapan Abu Hurairah berdiri Ibundanya yang telah berpakaian menutup aurat, wajahnya terbasuh air bening,

Asyhadu An Laa Ilaha Illallah, Wa asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah”, dengan kalimat itu Sang Ibunda menyambut kedatangan anaknya di depan Pintu Rumah. Luar biasa. Keesokan harinya Abu Hurairah menyampaikan di Majelis Nabi “Ya Rasul, ini adalah hal terindah setelah keislamanku!”, dengan wajah sumringah, berseri-seri.

______

Aku pikir sebenarnya tak usahlah didefinisikan lagi bagaimana cara berbakti kepada orangtua, karena aku yakin hati nurani kalian akan menjawab dengan sejuta cara untuk menggapai keridhaan mereka berdua. Dari Keduanya terbentanglah ladang dan kebun-kebun pahala yang siap petik; memijat Ibu, membuatkan kopi untuk Ayah, membanggakan mereka berdua di panggung pada akhir tahun pelajaran ketika kalian dipanggil dan mendapat ranking satu, atau yang ampuh; berkata pada mereka berdua dengan Qaulan Layyina, perkataan yang lembut, dan Khuluqan karima, akhlak yang mulia, maka jadilah kita qurrata a’yun bagi ayah dan ibu kita, penyejuk mata dan hati yang membanggakan. Jika kalian sudah paham, tinggal laksanakan.

______

Pernah ada seorang ulama yang masyhur di zamannya. Namanya Ibnu Aun. Suatu hari ketika ia berdialog dengan Ibundanya, ternyata ada beberapa kalimat yang beliau sampaikan dengan nada lebih tinggi dari Ibunya. Apa yang terjadi setelah itu? Ketika beliau sadar, langsunglah meminta maaf pada sang ibunda. Saking menyesalnya ulama besar ini, ia bertobat dari kesalahan itu dengan membebaskan dua orang budak.   Dahsyatnya orang shalih ini.

Muhammad Ibnu Sirin juga tak ketinggalan. Beliau terkenal sebagai Ahli Ilmu yang mempunyai suara menggema bagai orator ulung, memotivasi kaum muslimin dalam Ibadah dan amal shalih. Namun apa yang terjadi ketika Beliau bertemu Ibunya? Sebagian kawan beliau berkata “Seakan-akan beliau selalu kehabisan suara ketika berhadapan dengan Ibunya”. Hal itu karena Muhammad Ibnu Sirin selalu hati-hati dan benar-benar diatur nada bicaranya ketika menghadap Sang Ibunda. Hebat bukan main!

Abdullah bin Umar RA, sahabat besar yang meriwayatkan 5000-an hadits ini bahkan pernah menceraikan Istrinya. Wah wah, jangan su’uzhan dulu. Hal itu dikarenakan ayahnya, Umar bin Khattab melihat akhlaq istrinya yang kurang baik, sehingga menyuruh anaknya menceraikannya. Itulah bentuk Birrul Walidain seorang anak pada ayahnya yang sekaligus Khalifah kedua Kaum Muslimin ini.

_____

Kawan, kadang kebun dan ladang amal yang terbentang dari Ayah dan Ibu kita ini jarang sekali kita petik. Kita hidup dengan mereka berdua, setiap hari kita berjumpa dengan ayah dan Ibu kita. Namun jika perjumpaan itu tak menambah secuilpun pahala bagi kita, atau malah menambah kebusukan amal kita karena berlaku buruk kepada orangtua kita, hal itu benar-benar tanda kerugian sebesar-besarnya.

Suatu hari dalam sebuah majelis Halaqah Rasulullah, beliau naik ke atas mimbarnya yang ada 3 anak tangga. Tapi ada sesuatu yang tidak biasanya beliau lakukan sebelumnya. Apa itu? Mengucapkan Aamiin setiap kali beliau naik dari anak tangga yang satu ke anak yang di atasnya. Setelah itu sahabat yang memang penasaran (ingin mencari tahu sebab-sebab perbuatan nabi) serta merta bertanya, “Wahai nabi, mengapa ketika engkau naik dari anak tangga menuju anak tangga selanjutnya selalu membaca Aamiin sehingga kami mendengarmu mengucapkannya sebanyak 3 kali?”

Maka nabi pun menjawab, “Ketika aku naik ke tangga pertama, Jibril berbisik padaku tentang sebuah kalimat: celaka bagi manusia yang datang padanya Bulan Ramadhan, namun dosanya tetap tak berkurang. Aku mengucap “Aamiin”. Lalu Aku naik ke tangga ke dua, Jibril membisikkan lagi padaku: celaka bagi orang yang menemui orang tuanya dan hidup bersamanya, namun hal itu tak membuatnya masuk surga. Aku mengucap “Aamiin”. Lalu Aku naik ke tangga ke tiga. Jibril membisikkan lagi: Celaka bagi orang yang disebut nama Muhammad, ia malah tak bershalawat untuknya. Aku mengucap “Aamiin”.

______

Ridha orang tua benar-benar indah; mendatangkan pahala dan kemudahan urusan. Sebaliknya, kemurkaan orang tua kita adalah kerugian; menutup keberkahan dan mendekatkan kita ke rentetan kesusahan. Belajarlah untuk menggapai Keridhaan orang tua walaupun dari hal yang kecil dan sepele.

Termasuk memilih mana yang lebih penting. Apa yang akan kalian lakukan kalau datang Ibumu memanggilmu dari kejauhan, sementara kalian lebih memilih mengerjakan Shalat Sunnah? Shalat Sunnah itu indah, tapi jika yang sunnah dikerjakan sedangkan yang wajib ditinggalkan, bagaimana jadinya? Tengoklah sebentar riwayat kisah ini.

Mungkin sebagian kawan sudah mendengar tentang Juraij. Nah, beliau ini adalah pemuda idaman yang menghiasi hidupnya dengan berbagai amal shalih di tengah-tengah Bani Israel pada zaman dulu. Dia sengaja membuat sebuah rumah ibadah untuk dirinya, agar lebih fokus untuk meningkatkan kualitas juga kuantitas ibadahnya.

Namun suatu hari, Ibunya datang ke rumah ibadah Juraij. Memanggilnya karena membutuhkan bantuan anaknya. Juraij mendengarnya. Saat itu dia di posisi berdiri mau shalat sunnah. Bimbang sejenak, Juraij bingung mau mendahulukan panggilan ibunya atau ibadah shalat sunnah yang ingin dia kerjakan. Akhirnya, dipilihlah opsi kedua. Shalat Sunnah dulu. Menurut riwayat, kejadian ini berulang sampai beberapa kali. Ketika Ibu Juraij memanggil anaknya, Juraij-nya malah memilih shalat sunnah, begitu seterusnya. Kesal juga sang Ibunda, karena panggilannya tak pernah diindahkan Juraij, beliau berucap, “Semoga ia tak punya anak kecuali dengan fitnah terlebih dahulu”.

Singkat cerita, seorang wanita pelacur jatuh cinta pada Juraij dan menginginkan berzina dengannya. Jelas Juraij dengan tegas menolak. Namun si wanita jengkel karena tertolak, maka dia membuat sebuah makar untuk merusak nama Juraij di hadapan Masyarakat. Wanita ini akhirnya berzina dengan seorang pengembala kambing, ketika dia hamil Ia memfitnah Juraij di hadapan masyarakat bahwa anak yang dia kandung adalah anak dari Juraij. Hampirlah dibakar rumah ibadah Juraij plus namanya tercemar ke penjuru Israil. Juraij sadar bahwa hal ini terjadi karena sikap acuh tak acuhnya pada Ibunya, serta merta ia datang dan meminta maaf dari Ibunya, lalu meminta petunjuk Allah dan meminta jalan keluar dari masalah yang pelik ini. Karena kalian tau, tentu pada saat itu belum ada tes DNA atau penelitian sains yang bisa menolak kesaksian wanita pezina itu.

Di akhir kisah, ketika anak tersebut lahir, Juraij di hadapan khalayak ramai menanyakan kepada bayi itu siapakah ayahnya yang asli. Dan kejadian luar biasa terjadi, sang bayi menjawab, “Ayahku Fulan bin Fulan, Penggembala Kambing di sana”. (Selama sejarah manusia berlangsung, baru ada 4 bayi yang bisa bicara, yaitu Nabi Isa AS., anak bayi di Kisah Ashabul Ukhdud, anak dalam kisah ketika Ibunya melihat Jenderal dan Budak yang diseret, lalu Bayi dalam kisah juraij ini. Baca lebih lengkap di Kumpulan Kisah dari Imam Ghazali). Kemudian selesailah kisah ini dengan happy ending. Namanya kembali baik, dan Ia takkan mengulangi kesalahan itu kesekian kalinya. Takkan pernah.

______

Selanjutnya, mungkin kisah dari Muhammad Ibnu Sirin ini bisa menutup tulisan ini dengan bijak. Suatu hari dalam kehidupannya, Ibnu Sirin pergi melaksanakan haji. Dengan penuh ketulusan ia berangkat dan sampai di sana. Di hadapan Ka’bah yang mengagumkan, terlintas sebuah pertanyaan di benak Ibnu Sirin, apakah semua orang yang thawaf dan haji saat ini diterima amal-amalnya?

Lalu beliau berdoa di hadapan Baitullah, “Ya Allah, alangkah indahnya jika aku bisa melihat orang yang tidak dimabrurkan dan yang dimabrurkan hajinya….”. Hingga suatu malam dalam hajinya, beliau bermimpi melihat semua orang berhaji, namun ada suara mengatakan di antara ribuan pelaksana haji itu, ada satu orang, satu orang yang doanya tidak dikabulkan, namanya Fulan bin Fulan dari suatu daerah.

Keesokannya, dicarilah oleh Ibnu Sirin orang yang namanya disebutkan dalam mimpinya. Setelah mencari ia dihadapkan dengan seorang yang khusyu’ shalat, kemudian berdoa sambil menangis menghadap Baitullah. Ibnu Sirin nampak heran, orang ini nampaknya orang shalih yang benar-benar baik amalnya. Untuk memastikannya Ibnu Sirin datang menghampirinya.

“Benarkah namamu Fulan bin Fulan dari daerah ini?”

“Ya, benar. Kenapa?”

“Aku bermimpi, ketika semua orang berhaji, ada seseorang yang doanya selalu tertolak, dan orang itu adalah …. Maaf, Anda”

Mengalirlah airmata orang itu, ia menangis sejadi-jadinya. Menunduk malu di hadapan Ibnu Sirin. Kemudian orang ini menceritakan kisah hidupnya. Dahulu dia adalah orang yang suka mabuk-mabukan. Sampai bulan Ramadhan akan datang pun ia tak pernah absen dari mabuk. Ketika sampai di rumah tengah malam. Ibunya membukakan pintu untuknya.

Sang Ibu dengan belas kasihnya mengusap wajah anak yang dia sayang walaupun dia sendiri kelelahan. Kemudian Ibunya membersihkan tubuhnya dari keringat, penuh kasih sayang. Seraya berkata “Nak, Ramadhan sebentar lagi, kenapa kamu masih saja bermabuk-mabukan? Ayolah ikuti ibu, kita ibadah bersama, kita puasa bersama. Ibu sudah rindu kita bisa beribadah bersama lagi nak….”

Kalian tahu apa yang dia lakukan? Seketika itu pula dia marah dan mendorong ibunya dengan keras. Tidak sampai di situ. Saat itu mereka berada di dapur dan tungku sedang menyala berkobar, sang ibu pun terdorong ke arah tungku dan kalian tahu apa yang terjadi? Na’udzubillah, Ibu yang menyayanginya terbakar karenanya dan wafat.

Sejak saat itulah sang anak bertaubat, bertaubat, dan bertaubat sehingga tiada hari tanpa bertaubat dengan penuh ketundukan, sembari bercucuran air mata. Namun sayang taubatnya belum diterima.

Kawan, aku punya 3 hal untukmu dan aku harap kita melaksanakannya. Jaga perkataan kita di hadapan Ayah dan Ibu kita, jaga perbuatan kita ketika hidup bersama Ayah dan Ibu kita, dan bersabarlah untuk terus berbakti pada mereka walaupun mereka kadang memarahimu. Karena sesungguhnya marah mereka adalah cinta, dan kalian harus tahu itu.

Jikalau di suatu hari nanti Ibu dan Ayah kita pergi meninggalkan kita menuju Alam Akhirat. Doakanlah mereka, istighfarlah untuk mereka, jalani hubungan baik dengan kawan dan kerabatnya, berilah mahkota untuk Ibu dan Ayahmu di akhirat kelak yang kalian ukir dengan bacaan dan hafalan Qur’anmu di dunia. Ajaklah mereka menuju Surga tertinggi bertemu Nabi dan Syuhada dengan amal shalihmu dan doa-doamu sepanjang sepertiga malam.

 

Referensi: dakwatuna.com

Birrul Walidayn

Banyak cara untuk bisa berbakti pada orang tua salah satunya keutamaan Birrul Walidain atau berbakti kepada kedua orang tua dalam agama kita merupakan salah satu kebaikan bahwa suatu kewajiban yang sangat krusial bahkan Birrul Walidain termasuk ke dalam 3 hal yang selalu Allah sandingan dalam AL Quran yaitu Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat, taatilah Allah dan Rasulnya dan yang ketiga adalah bersyukur kepada Allah dan kepada orang tua. Melihat hal tersebut tentunya Birrul Walidain benar-benar suatu hal yang sangat penting dan merupakan suatu ibadah yang paling agung di dalam Islam setelah mentauhidkan Allah.

Kewajiban berbakti kepada orang tua ini bahkan bisa dibilang mutlak dan hukumnya fardhu’ain. Sehingga siapa pun orang tua, apa pun pekerjaannya, apa pun jabatannya, bagaimana kehidupan pribadinya semua tak bisa menghalangi kita untuk tidak berbakti kita kepada orang tua.

Sebagaimana firman Allah subhaanahu wa ta’ala

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَ ا لَّ تَعْبُدُوا إِ ا لَّ إِيااهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِ ا ما يَبْلُغَ ا ن عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَ دُهُمَا أَوْ كِلََهُمَا فَلََ تَقُلْ لَهُمَا أُ فٍّ وَلََّ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًَّ كَرِيمًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepadaNya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya”

(Q.S.Al-Isra’ [17]: 23)

Memberi salam dan doa merupakan adab yang paling baik kepada orang tua kita. Membahagiakan kedua orang tua adalah salah satu cara untuk mendapatkan ridho-Nya. Menghormati kedua orang tua begitu banyak caranya diantaranya dengan menaati apa yang beliau perintahkan yang sejalan dengan ajaran agama kita. Apabila beliau memerintahkan untuk belajar, sekolah atau mengaji kita tidak boleh menolaknya. Apabila hendak pergi kita harus ingat untuk bersalaman,

Dalam sebuah firman Allah Q.S. Al-Lukman ayat 14 di sebutkan :

“dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu

Keutamaan Berbakti pada Orangtua

Tidak hanya menjadi perintah bagi muslim untuk menaati dan berbuat baik pada orangtuanya melainkan berbakti pada orangtua memiliki beberapa keutamaan. Diantara keutamaan berbakti kepada orang tua tersebut diantaranya

  1. Perbuatan yang dicintai Allah SWT

“Diriwayatkan bahwa Abi Abdurahaman Abdullah ibn Mas’ud bertanya kepada Rasulullah SAW, Amal apa yang paling dicintai oleh Allah SWT ? rasul menjawab : sholat tepat pada waktunya, kemudian aku menanyakan lagi, amal apa lagi ? Rasul menjawab  birrul walidain (atau berbakti pada orang tua), kemudian aku menanyakan lagi, amal apa lagi ? Rasul menjawab : jihad di jalan Allah, ( HR. Muttafaqun alaih ).

  1. Ridha Allah bergantung pada Ridha orangtua

Rasulullah SAW, bersabda :

”Ridho Allah terdapat dalam ridhonya kedua orang tua ( ibu bapak), dan murka Allah terdapat dalam murkanya kedua orang tua”. ( HR At-Tirmizi )

  1. Dimudahkannya segala perkara

Perlu diketahui bahwa mungkin jika seseorang memiliki kesulitan dalam hidupnya adalah karena ia durhaka pada kedua orangtuanya dan apabila seseorang mendapatkan kebaikan dan kemudahan dalam perkaranya adalah mungkin karena perbuatan baik dan baktinya kepada orangtua. Oleh sebab itu seorang muslim hendaknya senantiasa berbakti pada orangtua dan berusaha merawat mereka dengan sebaik mungkin sehingga Allah SWT berkenan menghilangkan segala kesulitan hidup yang dialami oleh orang tersebut. (baca cara mendidik anak dalam islam dan pendidikan anak dalam islam)

  1. Diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya

Sebagaiamna kita ketahui bahwa silaturhami dapat memperluas rizki dan memanjangkan umur seseorang dan silaturahmi yang paling utama adalah silaturahmi dengan orangtua dan senantiasa berbuat baik kepada mereka.

  1. Memperoleh imbalan surga dan dijauhkan dari malapetaka

Seorang anak yang berbuat kejahatan atau durhaka pada orangtuanya maka surga haram baginya dan sebaliknya mereka yang berbakti pada kedua orangtuanya, Allah menjanjikan surga bagi mereka. Tidak hanya itu, dosa-dosa yang dilakukan seseorang di dunia mungkin akan mendapat balasannya di akhirat namun dosa yang dilakukan seorang anak kepada kedua orangtuanya di dunia,hukumannya tidak hanya ia dapatan diakhirat saja melainkan disegerakan hukumannya di dunia (baca dosa yang tak terampuni oleh Allah SWT).

Lalu jika kedua orang tua kita pergi menghadap Allah SWT apakah kita masih bisa berbakti kepada beliau ? Pada suatu hari ada salah satu sahabat Rasulullah yang bertanya “ Ya Rasulullah apakah kita masih bisa berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal ? ’’ Rasul menjawab ada tiga hal yang harus dijalankan kepada seorang anak agar bisa berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal

1.)  Assolatu alahima yang artinya mendoakan keduanya

2.) Walistighfaru lahuma yang artinya memohonkan maafkan keduanya

3.) Waingfadu adihima yang artinya melaksanakan janji-janjinya

Untuk itu marilah kita berbakti kepada kedua orang tua kita dan sayangilah mereka.

 

 

Referensi :

Buku berjudul “Birrul Walidain : Berbakti kepada Kedua Orang Tua” penulis Ustadz Yazid bin Abdul

Qodir Jawas