Belajar Kedokteran atau Belajar Islam, Pilih yang Mana Ya?

“Ah, senang sekali! Statusku sekarang resmi sebagai mahasiswa kedokteran. Apa kewajiban ku sekarang ya? Tentunya belajar ilmu-ilmu kedokteran! Belajar agama? Duh, kan aku sibuk, nanti saja lah kalau sudah jadi dokter. …

Yang penting sekarang aku pandai ilmu anatomi, fisiologi, dan ilmu-ilmu klinis saja, biar kelak jadi dokter yang sukses, pasiennya banyak, biar orang tuaku bangga dengan kecerdasanku.”- (Fulan – Maba FK 2018)

 

Menuntut ilmu agama, wajibkah bagi mahasiswa muslim kesehatan?

Kejanggalan yang seringkali kita temukan di kalangan masyarakat saat ini, orangtua yang bangga atas prestasi akademik sang putra-putri namun sedikit sekali yang mengutamakan urusan pemahaman ilmu agama. Sebenarnya seberapa penting menuntut ilmu agama itu?

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, shahih)

Seorang muslim –apapun profesinya- mesti paham akan ilmu agamanya sendiri yang dibutuhkan sebagai petunjuk dalam berkehidupan setiap harinya. Ilmu pengetahuan lah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah dan mendorong manusia kepada amal perbuatannya.

Sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan, karena ilmu pengetahuan lah yang mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil dalam keyakinan umat manusia; antara yang benar dan yang salah di dalam perkataan mereka; antara perbuatan-perbuatan yang disunnahkan dan yang bid’ah dalam ibadah; antara yang benar dan yang tidak benar di dalam melakukan muamalah; antara tindakan yang halal dan tindakan yang haram; antara yang terpuji dan yang hina di dalam akhlak manusia; antara ukuran yang diterima dan ukuran yang ditolak; antara perbuatan dan perkataan yang bisa diterima dan yang tidak dapat diterima.

 

 

Karena percuma, jika punya banyak gelar dunia, tapi buta agama…

Ada yang punya rentetan gelar begitu banyak, punya jabatan yang tinggi, namun sayangnya ibadahnya tidak beres. Ilmu agamanya masih sangat minim. Ditambah lagi tak punya keinginan untuk menambah ilmu akhirat, beda dengan ilmu dunianya yang terus ia kejar.

Pahamilah …

Ilmu yang mendapatkan pujian dan memiliki banyak keutamaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah ilmu syar’i atau ilmu agama.

Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaaha: 114)

Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

“Firman Allah Ta’ala (yang artinya), ’Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’ mengandung dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali ilmu. Adapun yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i (ilmu agama). Yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang muslim yang terbebani syari’at mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan.” (Fath Al-Bari, 1: 141)

Adapun tambahan ilmu yang dimaksud ada tiga pendapat ulama dalam hal ini.

  1. Tambahkanlah ilmu tentang Al-Qur’an.
  2. Tambahkanlah kepahaman.
  3. Tambahkanlah hafalan.

Terdapat dalil-dalil yang menunjukkan celaan bagi orang yang hanya pandai dalam ilmu duniawi, namun lalai terhadap urusan akhirat (ilmu syar’i). Inilah kondisi mayoritas kaum muslimin saat ini ketika ilmu syar’i sudah benar-benar terlupakan dari perhatian mereka. Allah Ta’ala berfirman,

Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang

(kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Ruum: 7)

Maksudnya, sebagian besar manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali ilmu tentang dunia, dan segala yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut, namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan manfaat bagi akhirat mereka.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

”Demi Allah, salah seorang dari mereka telah mencapai keilmuan yang tinggi dalam hal dunia, di mana ia mampu memberitahukan kepadamu mengenai berat sebuah dirham (uang perak) hanya dengan membalik uang tersebut pada ujung kukunya, sedangkan dirinya sendiri tidak becus dalam melaksanakan shalat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 84. Abu Ishaq Al-Huwaini menyatakan bahwa As-Suyuthi dalam Ad-Daar Al-Mantsur menisbatkan perkataan ini pada Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Abi Hatim)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata, “Sungguh mengherankan ada yang begitu brilian dalam ilmu atom, listrik, bahkan mereka ialah ahli dalam bidang tranportasi darat, laut dan udara, kebrilianannya begitu mencolok. Mereka terlihat sangat pandai dalam ilmu keduniaan tadi. Mereka pandang dengan takdir Allah yang lain tak secerdas mereka. Akhirnya mereka menganggap diri mereka hebat dan pintar, hingga memandang yang lain sebelah mata. Namun sangat disayangkan, mereka malah ‘buta’ dalam hal agama. Mereka malah jadi orang yang benar-benar lalai dari akhirat. Mereka tak memandang bahwa hidup di dunia pasti ada akhirnya. Mereka benar-benar berada dalam kepandiran. Mereka lupa pada Allah, maka pantas saja mereka dilupakan oleh diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Allah membenci hambaNya yang pandai ilmu dunia namun bodoh akan ilmu agama.

 

Lalu, bagaimana tips belajar agama yang baik?

Dalam menuntut ilmu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, baik itu dalam menuntut ilmu dunia maupun agama. Dalam sya’irnya Imam Syafi’i berkata ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya, yakni kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, berkecukupan, bersahabat (belajar) dengan ustadz, dan membutuhkan waktu yang lama”.

Adapun hal-hal lain yang disampaikan oleh Syaikh Shalih Al Munajjid di antaranya adalah :

  1. Meluruskan niat.

Dalam melakukan segala sesuatu, hal yang paling pertama dilakukan adalah berniat. Dalam menuntut ilmu, niat harus kita tancapkan dalam-dalam untuk mendapatkan keridhoan Allah dan bukan untuk urusan dunia semata agar jangan sampai ketika kita mendapatkan suatu rintangan di tengah perjalanan dalam menuntut ilmu agama, kita malah mundur dan meninggalkan aktivitas belajar ilmu agama

  1. Menjadwalkan waktu khusus untuk belajar ilmu agama

Dalam keseharian kita sebagai seorang mahasiswa kedokteran, sudah pasti banyak jadwal kuliah dan tugas-tugas yang menguras waktu dan energi. Namun, sadarkah kita bahwa dalam keseharian tersebut kita bahkan masih bisa nonton, update social media, membalas story ig, dan lain sebagainya. Di sini, kemampuan membagi waktu kita diuji, bagaimana dalam waktu 24 jam dalam sehari dapat kita manfaatkan untuk kebutuhan kuliah dan ibadah. Semisal waktu ba’da subuh digunakan untuk muroja’ah dan membaca qur’an, pagi sampai sore kuliah, sore istirahat, ba’da maghrib-isya mengaji ilmu, dan malam belajar atau mengerjakan tugas kuliah.

  1. Tidak bisa berkosentrasi belajar ilmu agama bukan berarti meninggalkannya

Ada sebuah kaidah ulama yang berbunyi “Apa-apa yang tidak bisa didapatkan seluruhnya, tidak boleh ditinggalkan seluruhnya”. Dalam hal ini, jika kita tidak dapat mempelajari seluruh ilmu agama dengan maksimal, maka kita tetap tidak boleh meninggalkan aktivitas mengaji tersebut sama sekali. Kita dapat melakukannya sesuai kemampuan kita, asal kita masih berusaha menuntut ilmu agama.

  1. Memanfaatkan teknologi modern

Dalam perkembangan jaman yang sedemikian rupa, sudah tidak diayal lagi bagaimana internet dan gadget memberi kemudahan kepada kita dalam mengakses berbagai macam informasi. Kita dapat memanfaatkan gadget kita untuk searching situs-situs kajian, streaming kajian online, download buku-buku islami, dan sebagainya. Jika kita dapat memaksimalkan gadget kita, insyaAllah akan banyak kemanfaatan yg dapat diperoleh.

 

Namun, belajar agama bukan berarti lupa belajar kedokteran.

Mungkin pernah terbersit di pikiran kita, “Mengapa sih aku perlu jadi dokter? Mengapa aku jadi perawat? Mengapa aku jadi tenaga kesehatan? Jika belajar ilmu agama itu wajib, pun dakwah itu dibebankan kepada setiap pundak manusia, mengapa tidak sekalian menjadi ustadz/ah saja?”

Dear ikhwahfillah, that was such a wrong mindset…

Menuntut ilmu agama, hukumnya adalah fardhu ‘ain, sedangkan menuntut ilmu sains adalah fardhu kifayah yang mana pengetahuan ilmu sains itu juga sangat dibutuhkan unuk mendatangkan kemaslahatan bagi umat islam itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan belajar ilmu kedokteran? Adapun sebagai seorang muslim yang menimba ilmu di dunia kedokteran, kita sudah selayaknya patut bersyukur berada dalam lingkaran ilmu ini karena imam Syafi’i pernah berkata “Aku tidak mengetahui ada ilmu setelah halal dan haram (ilmu fiqih) yang lebih mencerdaskan daripada ilmu kedokteran“, dalam sebuah sya’ir lainnya beliau juga pernah berkata “Mereka (kaum muslimin) telah menyia-nyiakan sepertiga ilmu (ilmu kedokteran) dan menyerahkannya pada Yahudi dan Nasrani”. Dari berbagai macam hadist yang membahas ilmu kedokteran, ulama Abdurrahman As Sa’di menyimpulkan bahwa ilmu kedokteran ini merupakan ilmu yang bermanfaat secara syar’i dan akal sehingga tidak dipungkiri lagi kebermanfaatan ilmu ini. Oleh karena itu, kita sudah selayaknya memaksimalkan proses belajar kita dalam kuliah kedokteran untuk memaksimalkan kebermanfaatan dan peran kita di dunia kesehatan Islam dan tetap mencari ilmu agama dengan baik sebagai bekal di akhirat nanti.

Alasan lain mengapa anda perlu menjadi dokter/ tenaga kesehatan? Karena anda lah kunci dakwah di masyarakat.

 

Pun sahabat, berdakwah itu bukan hanya di atas mimbar, melainkan di mana-mana, di setiap sendi-sendi kehidupan kita. Apapun profesinya, maka berdakwahlah. Terutama menjadi dokter, ibaratkan sosok penting yang selalu dicari di masyarakat. Sosok yang dianggap berilmu sedikit lebih daripada yang lainnya (padahal tidak selalu demikian). Sosok yang pendapatnya seringkali didengar. Dalam kesempatan inilah, dokter/tenaga kesehatan dapat melancarkan aksi dakwahnya, mengajak pasien kepada kesembuhan berselimutkan kebaikan, diikhtiarkan dengan pengobatan yang diridhoi oleh Allah dan jauh dari larangan-Nya.

Mengapa harus jadi dokter? Karena perjuangan para cendekiawan muslim kedokteran pada masa kejayaan Islam harus kita lanjutkan, layaknya Ibnu Sina tokoh kedokteran yang paling masyhur, Ar Razi sang penemu vaksin, Az Zahrawi seorang bapak bedah, Ibnu Rusyd sang bapak histologi, dan beribu tokoh-tokoh Islam lainnya yang memegang tinggi tonggak ilmu kedokteran. Dengan dipegangnya kedokteran oleh muslim, maka banyak hal yang terpatahkan dari style kedokteran ala Barat. Di mana motivasi utama kedokteran Barat kala itu ialah mencari sesuap nasi dan sebongkah berlian, begitu duniawi dan sangat jauh dari urusan akhirat. Sedangkan ketika dokter muslim membantu pengobatan pasien, judul besarnya adalah amal jariyah, mendedikasikan seluruh hidup demi kepentingan umat dan khalayak.

 

Melalui profesi ini, dokter/nakes juga dapat berdakwah kepada pasien, memberikan pemahaman akan pentingnya berobat pada ahli medis, kemudian mencegah pasien berobat dari hal-hal yang syirik dan haram. Konteks syirik di sini ialah pengobatan yang melibatkan bantuan makhluk gaib, hingga berupa jampi-jampi, mantra, jimat, hal apapun yang menggantungkan harapan kepada selain Allah. Sangat menyedihkan, kebiasaan berikut masih banyak kita temukan pada masyarakat zaman sekarang, sekalipun sudah memasuki era milenial. Harapannya, dokter/nakes menjadi salah satu figur yang dapat meluruskan bahwa sakit itu datangnya dari Allah, dan sembuhnya pun juga dari Allah. Maka hanya kepada Allah lah kita meminta pertolongan, bukan selain-Nya. Meminta pertolongan kepada jimat atupun dukun sama saja dengan menyekutukan Allah.

“Dan setiap kalian adalah pemimpin”, dokter/nakes sebagai pemangku kebijakan juga berperan besar untuk menjunjung tinggi syari’at Islam dalam dunia kesehatan. Berbagai kebijakan seperti larangan merokok, larangan abortus, atau peraturan dalam muamalah di rumah sakit, jika dalam suatu urusan dipimpin oleh seorang tenaga kesehatan muslim, maka sudah selayaknya jika segala hal dikembalikan sesuai dengan hukum Allah. Contohnya saja, tidak semua tindakan yang memperbolehkan dokter bersentuhan dengan pasien lawan jenis (hanya yang dharurah). Atau dalam hal memperlihatkan aurat, jika memang ada dokter dengan gender yang sama dengan pasien, maka seharusnya diutamakan. Hal ini dapat menjadi sistem yang mengakar di masyarakat, jika memang diterapkan oleh pemimpin kesehatan yang telah menyelami Islam secara kaffah.

Bayangkan saja, jika dunia kesehatan dipimpin oleh seseorang yang tidak beragama Islam, atau tidak mempelajari Islam dengan baik, maka dokter/nakes tersebut besar kemungkinan akan bermudah-mudahan dalam melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Mudah dalam membohongi pasien, mudah dalam menggugurkan kandungan, mudah melaksanakan operasi plastik tanpa indikasi medis, mudah dalam menanam rambut pasien, dan berbagai tindakan lainnya yang jauh dari ridho Allah.

Menjadi seorang dokter muslim juga mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati dalam sebuah tindakan medis. Karena perbuatan tergesa-gesa dalam Islam adalah akhlak yang tercela. Sikap tergesa-gesa akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Oleh karena itu, Dzûn Nûn Tsaubân bin Ibrahim pernah berkata, “Empat hal yang memiliki buah, yaitu: tergesa-gesa, kagum pada diri sendiri, keras kepala dan tamak (rakus); Buah dari tergesa-gesa adalah penyesalan; Buah dari kagum pada diri sendiri adalah dibenci oleh orang lain; Buah dari keras kepala adalah kebingungan; Buah dari dari ketamakan adalah kemiskinan.” Prinsip menjauhi sifat ketergesa-gesaan ini dapat menghindarkan seorang dokter muslim dari malpraktik.

 

“Waah, setelah membaca kajian ini, aku berubah pikiran deh. Ternyata mengkaji ilmu agama itu jauh lebih utama daripada belajar ilmu kedokteran. Tapi, ilmu kedokteran pun perlu untuk dipelajari, karena hukumnya fardhu kifayah, bahkan bisa menjadi wasilah untuk berdakwah. Yasudah, aku belajar dua-duanya berbarengan saja ^^ Jangan ada yang lolos” (Fulan- Maba FK 2018)

 

Sumber :

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
10

Tinggalkan Balasan