Bahagia itu (seharusnya) Sederhana

Pasti semua udah pernah dengar kalimat ini,
“Bahagia itu sederhana.”

Iya, kalimat itu sering banget ditemui di mana mana. Kadang disertai dengan kalimat dan konteks kejadian yang berbeda beda. Misalnya,

“Alhamdulillah bisa makan bakso bareng temen temen setelah sekian lama ga ketemu. Bahagia itu sederhana.”
“Busway dateng diwaktu yang tepat. Bahagia itu sederhana.”
“Hujannya deras tepat setelah nyampe rumah. Bahagia itu sederhana.”

Yaa.. mungkin ada banyak contoh lainnya. Ga pentinglah soal contoh contoh di atas, yang mau dibahas di sini adalah konteks bahagia itu sederhana.

Ikhwah,
Pernahkah sesekali kita perhatikan tingkah anak kecil yang ada disekitar kita, entah itu adik, sepupu, ponakan, atau malah anak kita *eh
Mereka, anak anak kecil itu, gampang sekali tertawa. Denger bunyi pintu lemari yang berdecit (err.. bunyinya ngiiit ngiit gitu maksudnya :v ), mereka tertawa.
Denger suara bersin, mereka tertawa.
Liat balon di lambung lambungkan, mereka tertawa.
Liat kucing lewat persis di depannya, mereka juga tertawa.
Dan banyak hal sedehana lainnya yang bikin mereka tertawa.
Awalnya, mungkin kita mikir ini wajar aja. Secara mereka masih kecil, masih bocah, ya wajarlah mereka ngetawain hal hal remeh yang menurut kita ga lucu atau biasa aja.
Sampai pada akirnya mungkn kita perlu berpikir, jangan jangan kita yang sudah mulai mempe-ribet kebahagiaan kita.
Kenapa gitu?
Ya memang sih indikator bahagia itu ga cuma dari tertawa. Tapi tertawa lepas itu salah satu indikasi kebahagiaan. Ga mungkin ada orang yang hatinya sedang sediiiih banget tapi bisa tertawa lepas terbahak bahak. Kalo ada yang bisa tertawa, pasti feel-nya beda. Atau ada causa lain yang bikin seseorang tertawa tanpa ada alasan yang jelas.
Jadi sederhananya kita bisa menarik kesimpulan, kalo bahagia itu seharusnya sederhana.

Dari kita lahir, kita sudah mulai bisa merasa bahagia dari hal hal kecil, kaya anak anak kecil di atas tadi misalnya. Tapi semakin tua,kita mulai memasang “target” yang begitu tinggi untuk bisa merasakan kebahagiaan.

Baru bahagia kalo Hp-nya canggih, mahal, dan keluaran terbaru.
Baru bahagia kalo kendaraannya bermerek.
Baru bahagia kalo bajunya bagus atau branded.
Baru bahagia kalo nilainya sempurna.
Baru bahagia kalo rumahnya megah.
Dan lain lain.

Salah ga punya keinginan kaya gitu? Ya engga..
Yang salah itu kalau kita mengikatkan kebahagiaan kita pada hal hal itu.
Atau bahasa lainnya, mengikatkan kebahagiaan kita pada hal hal duniawi.
Ga ada larangan kok mengejar dunia. Tapi, letakkanlah dunia di genggaman kita, bukan di hati.

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, juga kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa neraka“.
(QS. Al Baqarah: 201)

Coba deh, sesekali, sambil kita nunggu kopaja atau angkot atau busway pagi pagi, waktu mau berangkat beraktivitas, kita liat ke sekeliling kita. Rasain udara pagi, hawanya. Ya walaupun untuk kota kota besar pagi pun udah agak agak gerah. Tapi coba sedikit merenung, sebentar aja.
Syukuri keadaan.
Ah… ada begitu banyak orang orang di luar sana yang mendambakan berada di posisi kita. Ada yang “terkurung” di rumah sakit karena penyakitnya. Terkurung di LP karena kesalahannya.
Sedang kita?
Mungkin ada begitu banyak dosa dosa kita, tapi Allah masih menutupinya.
Mungkin ada banyak bibit penyakit dalam tubuh kita, tapi Allah masih memberi kesehatan.
Berbahagialah karena kita masih bisa bergerak bebas.
Masih bisa merasakan terik matahari.
Masih bisa kehujanan disaat kita sedang berusaha mengejar mimpi mimpi kita.
Masih bisa sibuk dan mengeluhkan letih untuk pekerjaan kita atau tugas tugas kuliah kita. Sedang di luar sana mungkin ada yang ingin bekerja tapi lamarannya selalu ditolak. Yang mau kuliah tapi kekurangan biaya.
Masih bisa ngerasain semilir angin.
Masih bisa berpayah payah dalam jalan dakwah.
Dan banyak hal hal sederhana lainnya yang mungkin tidak kita perhatikan, yang lupa kita syukuri.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Qs. An Nahl: 18)

Berbahagialah dengan sederhana.
Karena mungkin suatu saat nanti kita akan merindukan hal hal sederhana itu.
Ketika kita terlalu sibuk berpacu dengan target target kita, ambisi kita, menginginkan kesempurnaan, sampai kita lupa mensyukuri hal hal kecil tadi.
Padahal kesempurnaan hidup itu ada pada ketidaksempurnaan itu sendiri.

Berbahagialah dengan sederhana.
Karena bahagia itu selalu sederhana.
Sesederhana rasa syukur karena Allah masih mengizinkan kita untuk dapat berbagi.
Sesederhana rasa syukur karena Allah masih mengizinkan kita untuk dapat memberi.
Sesederhana senyuman orang orang di sekitarmu yang timbul karena kehadiranmu.
Bahagia itu sederhana.
Sesederhana bersyukur.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”
(Qs. Ibrahim: 7)

Kalau mau nunggu semua terlihat sempurna baru mau bahagia, hati hati.. nanti letih sendiri.
Mulailah berbahagia dengan kesederhanaan disekeliling kita, ikhwah.
Karena bahagia itu, memang sudah seharusnya sederhana… :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

two + 1 =