MASALAH UMAT JUGA MASALAH KU (3)

Oleh Silmi Kaffah dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Minggu kemarin telah dibahas mengenai masalah eksternal seperti penjajahan dan ghazwatul fikri. Kali ini akan dilanjutkan dengan masalah eksternal lainnya. Namun sebelumnya mari coba cermati kalimat dibawah ini.

“Kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik” (Ali Bin Abi Thalib).

Bukan hal yang tidak mungkin bahwa kebaikan itu dapat dikalahkan oleh kejahatan. Pun bukan hal yang tidak mungkin dimana suatu saat kebaikan akan dianggap masalah dan kejahatan dianggap kebaikan. Oleh karenanya perlu kekompakan terhadap sesama muslim dan sadar akan pentingnya berjama’ah. Umat Islam yang tidak kuat dari dalam akan dengan mudah goyah. Tumpukan masalah pun akan semakin tinggi. Begitu pun dengan masalah dari luar yang semakin mudah merusak umat Islam.

Masalah dari luar yang masih terngiang di telinga adalah ancaman kekerasan. Ancaman kekerasan ini sebenarnya telah dimulai semenjak Islam itu hadir atau saat kebenaran hakiki itu turun dari langit ke bumi melalui nabi sang pembenar untuk menyampaikan wahyu dari Tuhan. Tiap nabi menemukan rintangan dan ancaman dari kaumnya. Mulai dari dipinggirkan dari kaumnya sendiri, dikucilkan, kekerasan dan bahkan pembunuhan. Nabi Muhammad misalnya harus rela berhijrah ke Madinah Yastrib karena desakan dan ancaman pembunuhan dari kaum kafir Quraisy dan banyak lagi kisah nabi lainnya. Muslim rohingya di Burma dan Bangladesh misalnya. Mereka dipinggirkan karena tidak diterima dan dianggap pendatang bahkan dibunuh. Pendiskriminasian agama Islam jelas terlihat. Seakan-akan Islam adalah perusak dan penghancur sebuah negara.

Baru-baru ini juga muncul isu atas kemunculan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Sebuah pergerakan yang menginginkan terbentukanya negara Islam di Irak dan Syiria. ISIS dikenal karena memiliki interpretasi atau tafsir yang keras pada Islam, kekerasan brutal seperti bom bunuh diri, dan menjarah bank. Kejelasan tentang keberadaan ISIS juga masih banyak dipertanyakan dan membingungkan. Ada beberapa pengamat yang berpendapat ISIS adalah buatan Amerika dan propoganda untuk menjelekan Islam.

Akan menjadi sebuah ancaman apabila ini memang benar sebuah propoganda untuk menjelekkan Islam yang sebenarnya adalah agama perdamaian dan kasih sayang. Karena saat masyarakat dunia melihat sebuah kekerasan dan teror sebagai bagian dari Islam, maka kemungkinan buruknya adalah setiap muslim dianggap membahayakan dan patut diawasi. Bahkan mungkin muslim di negara yang minoritas bisa disingkirkan dan tidak mendapat hak hidup sebagaimana warga negara lainnya. Kemungkinan lainnya adalah saat ada muslim yang taat dan tidak melakukan teror atau berbuat kerusakan pada negara Islam tertentu juga akan dianggap aneh dan menjadi ancaman bagi muslim lainnya. Padahal mereka hanya menjalankan syariat, sunnah dan berusaha menjadi muslim secara kaffah. Kondisi ini juga diperburuk oleh pemahaman agama yang cenderung menurun pada kebanyakan umat Islam.

Di Indonesia sendiri pengaruh akan ISIS ini terlihat dengan jelas. Muncul ajakan dalam bentuk tulisan ataupun media tertentu dari beberapa oknum untuk ikut berjuang di Irak dan Syiria. Bahkan yang lebih ekstremnya adalah pada akhir Maret kemaren, telah diblokir 19 situs Islam yang dilakukan oleh Kemenkominfo atas permintaan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terosime). Pihak BNPT beranggapan bahwa situs-situs tersebut bersifat radikal (keras), membahyakan masyarakat, mengajak masuk ISIS, menjelekan pemerintah dan mudah membid’ahkan atau mengkafirkan umat Islam lain. Ditakutkan situs-situs ini nantinya dapat merusak perdamaian dan mengundang ancaman kekerasan di Indonesia.

Padahal selama ini, beberapa situs yang memuat berita tentang perkembangan Islam terbaru, dinilai sangat bermanfaat dan bahkan menjadi sumber utama berita Islam yang seringnya tidak ditampilkan di berita dan media massa nasional. Minimnya berita-berita Islam yang ditampilkan di berita harian televisi dan media massa nasional membuat masyarakat merasa beruntung akan hadirnya situs-situs ini. Bukan hanya berita-berita terupdate yang diberikan, tetapi situs-situs tersebut juga menyediakan ilmu-ilmu fiqh, tauhid dan akhlak, sehingga masyarakat merasa dengan keberadaan situs-situs tersebut membantu memenuhi kebutuhan rohani. Pemblokiran situs Islam ini oleh karenanya tentu menuai kritik dari sejumlah kalangan masyarakat. Namun akhirnya pada 8 April 2015 melalui PSIBN (Penanggulangan Situs Internet Bermuatan Negatif) 12 situs kembali dibuka.

***

Masalah selanjutnya adalah konspirasi. Sebuah rahasia dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh. Belakangan ini terjadi beberapa kudeta yang dilancarkan kepada pemerintah sebuah negara yang sah. Misalnya saja kudeta yang terjadi di Mesir, Libya dan Yaman.

Semua ini bermula karena terjadinya Arab Spring di negara-negara Islam seperti di Tunisia, Yaman, Bahrain, Suria dan Mesir. Sebuah pergerakan unjuk rasa atau revolusi meminta penguduran diri pemimpin negara karena sifatnya yang otoriter, terjadinya kemiskinan yang ekstrem, korupsi yang merajalela, pelanggaran HAM, tidak pro rakyat dan banyak faktor lainnya. Tujuan dari Arab Spring ini adalah untuk menormalisasikan keterpurukan negara dan memilih pemimpin yang adil dan bijak.

Saat terjadi Arab Spring dan pemimpin-pemimpin adil serta bijak terpilih. Mulailah bermunculan kudeta dari negara-negara tersebut. Kudeta ini tidak memiliki alasan yang jelas. Bahkan pemimpin-pemimpin negara yang berprestasi dan pemerintahan yang baik dipaksa untuk turun. Belakangan diketahui bahwa kelompok pengkudeta ini punya iktikad buruk dan melakukan konspirasi. Keikutsertaan zionis yahudi juga menjadi bagian dari analisis beberapa pengamat.

Kudeta di Yaman dilakukan oleh syiah houthi. Mereka menginginkan Yaman menjadi sebuah negara syiah. Hal yang mengejutkan ternyata kudeta tersebut didukung oleh syiah di Iran. Bahkan pengkudetaan di Yaman ini sebagai awal pergerakan syiah sebelum menguasai dan menghancurkan Ka’bah di Mekah. Inilah syiah laknatullah.

Masih banyak lagi kemungkinan konspirasi yang dilakukan oleh beberapa oknum dan musuh-musuh Islam. Semakin banyak konspirasi buruk yang direncanakan maka semakin banyak kerusakan yang akan terjadi. Konspirasi yang tidak terlihat ini seakan menjadi momok yang menakutkan bagi umat Islam sendiri.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al Baqarah Ayat 120).

Lalu apa yang harus kita lakukan selaku muslim? Ada beberapa solusi yang dapat kita lakukan selaku umat Islam yang peduli dengan maslah-masalah ini. Pertama; tingkatkan kualitas keislaman dengan terus melakukan tarbiyah dan istiqamah menjalankan perintah agama. Meningkatkan kualitas keislaman dapat dilakukan dengan membaca Al-Quran, kitab-kitab ilmu, berteman dengan orang saleh, mengikuti kajian ilmu secara rutin atau memanfaatkan internet untuk membaca ilmu agama dan juga video-video kajian Islam.

Imam Nawawi dalam salah satu karya populernya, Syarh Matn Al-Arba`in Al-Nawawiyyah, mengetengahkan sebuah hadits dengan judul Al-Istiqamah. Hadits ini jatuh pada urutan kedua puluh satu. Bunyinya, “Dari Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdullah Al-Tsaqafiy radhiyallahu anhu, ia berkata : “Aku telah berkata : ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu.’ Bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : ‘Katakanlah : Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu.” (HR. Muslim).

Solusi yang kedua adalah dengan meningkatkan rasa solidaritas sesama muslim. Rasulullah saw. bersabda:” Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain” (HR. Muslim).

Ketiga yaitu dengan ikut terjun dan andil dalam membantu menyelesaikan masalah umat. Misalnya seperti memberikan sumbangan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan dan ikut serta dalam melakukan gerakan penyadaran kepada umat Islam. Hal yang paling mudah adalah di lingkungan keluarga terlebih dahulu dan teman dekat. Sampaikanlah walau hanya satu ayat.

Keempat dengan mengikuti perkembangan berita Islam terkini baik nasional dan internasional. Seorang muslim haruslah dapat memanfaatkan dengan baik perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukan malah terseret oleh arus globalisasi dan menjadi budak keburukan dari IPTEK.

Solusi terakhir adalah dengan berdoa kepada Allah. Setelah berusaha sesuai dengan kemampuan masing-masing diri, maka berdoalah. Ianya dapat merubah takdir. Doa jualah yang menjadi senjata terkuat seorang muslim. Menembus batas yang tidak mungkin ditembus oleh usaha manusia. Merubah ketidakmungkinan menjadi mungkin.

Maha Suci Allah yang kepadaNya lah semua yang ada di langit dan di bumi bergantung. Tiada daya dan kekuatan tanpa kehendak dan kuasaNya.

Dari uraian tentang permasalahan-permasalahan ini. Maka sebagai seorang muslim haruslah sadar bahwa masalah umat bukan saja masalah muslim tertentu saja, melainkan masalah semua muslim. Dalam menyikapi masalah ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan seperti meningkatkan kualitas Islam dan istiqamah, meningkatkan solidaritas sesama muslim, ikut terjun dan andil dalam membantu menyelesaikan masalah umat, mengikuti perkembangan berita Islam terkini dan berdoa.

***

 

 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

 

Ensiklopedia Bebas. 2015. Konflik Israel dan Palestina. http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Israel_dan_Palestina – diakses pada April.

Hilal, Fauzan. 2015. Masuk Daftar Pemblokiran, Kemenkominfo Panggil Pengelola Situs Islam. http://news.metrotvnews.com/read/2015/04/07/382227/masuk-daftar-pemblokiran-kemenkominfo-panggil-pengelola-situs-islam -diakses pada April.

Novia, Dyah Ratna Meta. 2015. Situs Islam Kembali Dibuka, MUI : Kominfo bekerja asal-asalan.http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islamnusantara/15/04/10/nmkm50-12-situs-islam-kembali-dibuka-mui-kominfo-bekerja-asalasalan- diakses pada April.

Yasmar, Ulyadi. 2015. Qadhaya Al Ummah. Kajian Islam Kampus Bersama di

Masjid Ar Rahman Azkia, Padang, 5 April.

Somad, Abdul. 2014. 37 Masalah Populer. Pekanbaru : Tafaqquh Media.

Tim Penyusun Materi Responsi Agama Islam Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (UKMI) Ar Rahman. 2009. Buku Panduan Responsi Agama Islam. Padang : Tim Dakwah Jurnalistik (TDJ) UKMI Ar Rahman Universitas Baiturrahmah.

MASALAH UMAT JUGA MASALAH KU (2)

Oleh Silmi Kaffah dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Masih dengan bahasan masalah pada umat Islam. Ternyata masalah umat ini terbilang cukup banyak. Jika kemarin sudah dibahas tentang masalah internal. Saat ini juga terdapat masalah yang tak kalah penting bermunculan pada umat Islam yaitu masalah eksternal atau masalah yang berasal dari luar tubuh umat Islam. Seperti masalah penjajahan, Al ghazwatul fikri, acaman kekerasan dan konspirasi.

Tanpa disadari oleh umat Islam ternyata ada beberapa muslim di negara tertentu yang dijajah. Bukan hal yang sembarangan. Ini seperti mengambil sebuah bagian yang bukan haknya. Sebut saja Palestina. Palestina adalah tempat yang Allah pilih sebagai kiblat pertama umat Islam dan dari sini pula manusia-manusia pilihan Al Anbiya dilahirkan. Palestina dijajah oleh Zionis. Sebuah gerakan nasional orang-orang yahudi dan budaya yahudi yang mendukung terciptanya sebuah tanah air Yahudi di wilayah yang mereka sebut sebagai Tanah Israel. Zionis Yahudi mengakui bahwa palestina adalah tanah air “negara” mereka.

Mari kita sedikit mengulas tentang sejarah Palestina ini. Sejak abad ke-16 Palestina masuk ke dalam wilayah kerajaan Sultan Ottoman. Setelah perang dunia I (1920-1948) dan runtuhnya kesultanan Ottoman, Liga Bangsa-Bangsa mempercayakan Britania Raya (Inggris) sebagai mandataris Palestina. Sehingga saat itu wilayah Palestina bisa dikatakan juga bagian dari negara Britania Raya. Muslim adalah mayoritas penduduknya, dan Yahudi sekitar sepertiganya.

Tepatnya pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan untuk membagi wilayah mandat Britania atas Palestina. Tetapi hal ini ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah lainnya dan juga banyak negeri-negeri Muslim. Kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Sedangkan kota Yerusalem yang dianggap suci, tidak hanya oleh orang Yahudi tetapi juga orang Kristen, akan dijadikan kota internasional. Pada 14 Mei 1948, Yahudi secara sepihak memproklamirkan kemerdekaannya. Berawal dari sinilah muncul konflik dan peperangan antar Palestina dan Israel (zionis Yahudi) hingga beberapa tahun belakangan ini.

Badan statistik Palestina menyatakan pada tahun 2013 bahwa selama menjajah Palestina sejak 1948, Israel telah menguasai  lebih dari 85% wilayah Palestina. Sebanyak 774 wilayah Palestina telah dikuasai Israel dan 531 diantaranya telah dihancurkan. Selama penjajahan  juga Israel telah melakukan 70 kali pembantaian tanpa pandang bulu yang menyebabkan 15 ribu warga Palestina syahid. Mahasuci Allah yang tidak tidur dan keras balasanNya.

Sampai saat ini masih terdengar oleh kita bahwa Israel masih saja ingin menguasai keseluruhan daerah Palestina. Berbagai tindakan mereka lakukan untuk mengusir masyarakat Palestina. Walau sudah dilakukan perundingan damai dan juga musyawarah melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa dunia. Ini juga masih menjadi prioritas kita sebagai muslim untuk membantu sesama muslim lainnya.

 ***

Masalah serius kedua yang dialami umat Islam saat ini adalah ghazwul fikri (perang pemikiran). Adanya perang pemikiran dan gerakan pemurtadan dari musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Strategi yang dipakai dalam memerangi kaum muslimin kian hari semakin dahsyat dan semakin terorganisir dengan rapi.

Paham-paham dan ajakan-ajakan untuk ikut pada aliran sesat sangat membahayakan umat Islam saat ini. Contohnya paham islam ortodoks, syiah, pengkristenisasian dan ajakan atas paham sesat lainnya. Syiah misalnya telah keluar dari ajaran Al Quran dan sunnah, menganggap Al Quran saat ini tidak orisinil lagi dan membuat kitab baru, mudah mengkafirkan sahabat-sahabat nabi yang bahkan dijamin surga oleh Allah, memutarbalikkan hukum-hukum Allah (hukum pernikahan, dll), ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama dan mudah membunuh mayoritas muslim suni (ahlus sunnah wal jama’ah) karena mereka menganggapnya sebagai jihad dan sebuah perbuatan mulia.

Usaha dari mereka yang tidak menginginkan Islam dan kaum muslimin tegak dan memimpin di bumi ini diguncang dengan menggunakan bermacam-macam strategi dan taktik yang kini banyak menampakkan hasilnya dan sulit dicegah dampak perluasannya. Penjajahan pemikirin ghazwul fikri adalah metode paling canggih yang mereka gunakan. Terbukti penjajahan pemikiran ini jauh berbahaya ketimbang penjajahan atau serangan militer kompensasional. Jika pada peperangan penjajahan militer, senjata yang dipakai musuh dapat terlihat dengan mata, akan tetapi penjajahan dalam perang pemikiran akan kesulitan menentukan yang mana kawan dan yang mana lawan.

Pada umumnya ghazwul fikri yang paling khas adalah munculnya pribadi-pribadi dari kaum muslimin yang berperang dalam penyambung lidah dan menara dari misi dan ide pemikiran destruktif dari kaum kufar. Mereka ini adalah kaum muslimin yang telah tershibghoh atau terwarnai oleh pendidikan barat orientalis. Generasi yang dengan lantang dan tidak tahu malu. Bahkan dengan penuh kebanggaan menyuarakan dan membela ide-ide dan kepentingan barat.

Perang pemikiran ini diwujudkan dengan segala cara yang ada, memang barat memiliki sarana serta fasilitas pendukungnya. Lewat berbagai cara dan metode yang dimilikinya oknum barat berusaha menguasa seluruh akses informasi yang ada. Hasil dari penguasaan jaringan informasi ini secara keseluruhan berhasil menguasai perkembangan informasi dalam kontrol barat. Melalui berbagai media mereka menyerang umat Islam dengan perancuan dan pengaburan visi dan ajaran Islam. Adapun beberapa ghazwul fikri itu meliputi perusakan akhlak, perusakan pola pikir umat, sekularisasi pendidikan dan pemurtadan. Metoda yang mereka lakukan yaitu dengan cara tasywih (metode pencemaran atau pengaburan), tadhil (penyesatan), taghrib (pembaratan) dan ‘ashirah (modernisme).

Tasywih dilakukan dengan cara menggambarkan Islam dalam bentuk yang samar dengan Islam itu sendiri. Contoh: adanya tabligh akbar yang di sana berpadu dengan pentas musik dan di dukung oleh artis kondang. Hal ini seolah olah menjadi legitimasi bahwa begitulah acara yang islami, padahal hal ini sangat melanggar syariat Islam, karena telah bercampur antara hak dan batil.

“ Janganlah kamu campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kamu sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya. “(Qs Al -Baqarah : 42 ).

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaithan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaithan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendakinya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. Fathir (35) : 8).

Contoh lainnya adalah para mujahid Islam yang membela Islam diberitakan melalui media visual, media massa dan sebagainya dengan sebutan teroris, fundamental yang mendiskreditkan Islam, seolah olah Islam identik dengan kekejaman dan kekerasan.

Tadhil yaitu pola yang memiliki tujuan dan sasaran untuk menyimpangkan gerakan umat Islam. Contoh: upaya menggiring umat untuk mencintai hal-hal mistik dan syirik, seperti film Syeh Siti Jenar dan juga film Mahadewa. Dalam film Syeh Siti Jenar digambarkan sebagai seorang wali Allah yang dikemas dalam fantasi mistik secara tidak sadar membawa umat untuk mempercayai hal-hal yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam Al Qur’an, assunnah maupun sirah sahabat. Dalam film Mahadewa digambarkan sosok Tuhan digambarkan sebagai Yogin (petapa), sehingga seolah-olah seperti manusia. Belum lagi pada film ini Tuhan mempunyai istri dan memiliki anak. Dan banyak film lainnya yang berbau syirik. Oleh karenanya kehati-hatian sangat diperlukan dalam memiliah tontonan, terlebih lagi ditotnton oleh anak-anak yang masih belum mampu membedakan yang hak dan batil.

“Dan pasti akan kusesatkan mereka, dan akan kubangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan kusuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan kusuruh mereka mengubah ciptaan Allah, (lalu mereka benar-benar mengubahnya). Barang siapa menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sungguh dia menderita kerugian yang nyata” (QS. An Nisa Ayat 119).

Taghrib (pembaratan) yaitu pola yang mengadopsi seluruh kekayaan (akhlak, pemikiran, mode, dll) ke dalam diri umat Islam. Mulai dari berdatangannya penyanyi dan artis dari barat dengan segala kerusakan moral dan mode yang dibawa hingga pada jenis pakaian yang dikenakannya.

Ashirah (modernisme) yaitu pola yang memakai slogan bahwa ide gaya hidup yang mengacu pada sejarah masa lalu adalah kuno dan terbelakang, dan sementara barat identik dengan modernitas. Contoh: meninggalkan masa lalu, termasuk shirah nabawiyah yang membuat hidup buram dan terbelakang dan diganti dengan gaya hidup yang menjanjikan kecemerlangan yaitu gaya hidup barat yang modern.

Keempat metode ini berlangsung bersamaan dan saling memberikan hasil, sehingga semakin menimbulkan generasi Islam yang kosong dari pengetahuan Islamiah, tidak mengenal Allah, Rasulullah, Dien dan justru ikut serta dalam melecehkan Islam. Fenomena ghazwul fikri merupakan bagian tak terpisahkan dari marker barat untuk menghancurkan Islam yang dilakukan secara silmultan dan terus menerus.

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.
(QS: Ash-Shaff Ayat: 8).

(Bersambung)

***

MASALAH UMAT JUGA MASALAH KU (1)

Oleh Silmi Kaffah dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Jika berbicara mengenai masalah pastilah yang dibicarakan tentang hal-hal yang tidak diinginkan. Manusia mana yang mau dirinya mendapatkan masalah. Ya kan? Tapi ada masanya dimana seseorang tidak dapat terhindar dari sebuah masalah. Baik itu sebagai ujian, cobaan, bencana ataupun azab. Umat Islam sendiri misalnya. Mulai dari nabi Adam As yang mendapat masalah karena bisikan dan rayuan setan hingga masa nabi Muhammad SAW yang juga diterpa oleh beratnya masalah dari kaum kafir quraisy. Bahkan hingga saat ini. Saat dimana fitnah bermunculan, syariat disepelekan, Al Quran ditinggalkan dan Islam mulai dilupakan. Ini lah masalah umat Islam. Apakah kita terus terdiam dari tidur berkepanjangan? Apa yang dapat kita perbuat terhadap masalah-masalah ini? Karena masalah umat bukanlah masalah muslim tertentu saja, melainkan juga menjadi masalah bagi muslim yang lain.

Masalah  adalah suatu hal yang tidak diinginkan keberadaannya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan. Jika masalah tersebut dibiarkan saja dapat menimbulkan masalah baru atau ketidaknyamanan dalam lingkup diri, masyarakat dan juga negara. Qadhaya Al Ummah adalah masalah-masalah yang muncul pada umat. Umat yang dimaksud adalah umat Islam secara keseluruhan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia memang sering mendapatkan dan menemukan sebuah masalah. Bahkan manusia itu sendiri adalah sebuah masalah. Allah mengisahkan dalam Al Qur’an:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al Baqarah ayat 30).

“Dan Kami berfirman:”Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.  Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman:”Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabb-nya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah ayat 36-37)

Masalah dapat dibagi menjadi dua yaitu masalah internal dan masalah eksternal. Masalah yang muncul dari dalam tubuh umat Islam itu sendiri dikenal dengan masalah internal. Mulai dari pribadi seorang muslim sendiri hingga bermasyarakat dan bernegara. Pribadi muslim yang tidak memiliki ilmu agama sama sekali atau kurang mengerti atau tahu akan ilmu agama namun belum mau menjalankan ajaran agama dengan benar. Ada juga yang dikenal dengan muslim KTP dan muslim beriman. Pembedanya adalah iman, karena iman bukan hanya sekedar percaya akan keberadaan Allah sebagai Tuhan yang esa, tapi juga diikuti dengan lisan dan perbuatan (amal dan akhlaq).

Menjadi muslim saat lahir merupakan sebuah kebaikan dan karunia dari Tuhan. Namun jika muslim sekedar muslim, maka untuk apa manusia diciptakan? Hakikatnya manusia terus tumbuh dan berkembang, begitu juga jiwa dan pikiran yang selalu sejalan dengan bertambahnya umur. Muslim  yang tidak dididik dengan ilmu agama yang benar dan tidak terus meningkatkan kualitas iman serta takwa akan berujung pada sebuah masalah atau mungkin menjadi “senjata makan tuan”, karena dalam Islam tiap manusia yang lahir di dunia ini akan dimintakan pertanggungjawaban oleh Tuhan baik kepada orang tuanya dan juga anak yang sudah baligh atas segala hal yang telah dilakukan.

“(Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui( QS. Luqman Ayat 16)

Terbentuknya pribadi muslim yang ideal tidak akan ada tanpa adanya peran keluarga. Dari keluarga inilah input dasar kehidupan diberikan oleh kedua orang tua untuk menghasilkan output yang baik. Semakin berkualitas dan banyak input positif yang diberikan maka semakin berkualitas output yang dihasilkan dan terbentuklah generasi Islam yang membanggakan.

Salah satu keluarga pilihan yang terbaik di muka bumi ini dan diabadikan dalam Al Quran adalah keluarga Luqman. Allah mengisahkan untuk dijadikan pelajaran bagi setiap keluarga di dunia. Dikisahkan bagaimana seorang ayah yang bernama Luqman ini mengajarkan anaknya tentang hikmah dari tiap kejadian dan kunci-kunci ketauhidan sebagai pegangan masa depan dan pembuka pintu amal-amal kebaikan.

Seorang ayah yang sangat tahu bahwa tidak ada artinya hidup jika tidak beriman kepada Allah dan juga menjadi guru terbaik bagi anaknya. Berbeda sekali dengan kebanyakan keluarga muslim saat ini. Bisa dihitung berapa banyak ayah dan anaknya yang terlihat pergi bersama ke masjid dalam rangka berubudiyah kepadaNya. Bisa dihitung berapa banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk menggunakan pakaian sesuai syariat Islam. Bahkan beberapa orang tua bangga bila anaknya sudah memiliki pasangan “pacar” di saat sekolahnya atau bangga dengan pakaian terbuka anaknya. Berapa banyak orang tua yang menginginkan anaknya menjadi “orang”. Ya, tentunya memprioritaskan anaknya menjadi seseorang yang dihargai di masyarakat dan berpenghasilan banyak tanpa memberikan pendidikan ilmu dunia dan agama yang matang. Inilah kenyataan umat Islam saat ini. Kemana Luqman-Luqman yang didambakan itu pergi ?

Mari kita bayangkan bagaimana jika pribadi atau sebuah keluarga tidak menerapkan nilai-nilai ketauhidan dan keislaman dalam kesehariannya. Dari beberapa kemungkinan yang muncul, tanda-tanda yang bisa dilihat adalah dari pakaian dan perbuatan. Pakaian yang digunakan tidak mencerminkan muslim sesungguhnya, tidak menutup aurat atau menutup aurat tapi tidak sesuai syariat Islam. Aturan berpakaian yang juga diatur dalam Al Quran dan hadis tidak begitu diperdulikan. Model-model terkinilah yang menjadi acuan tolak ukur berpakaian.

Aktivitas harian yang dilakukan tanpa mengacu pada aturan-aturan Islam. Sebagai contoh adalah menganggap remeh panggilan adzan dan mudah melupakan kewajiban ibadah rutin. Ini dibuktikan dengan banyaknya masjid namun sedikitnya jamaah. Khususnya saat waktu subuh tiba. Banyaknya kejahatan di tingkat masyarakat dan kejahatan pada tingkat negara yang dilakukan oleh muslim. Belum lagi budaya hedonisme, sekulerisme dan liberalisme yang sudah banyak terlihat. Semua ini menggambarkan begitu lemahnya nilai-nilai ketauhidan dan Islam pada pribadi muslim saat ini. Jika dari diri muslim sendiri belum yakin dengan agama rahmatllil’alamin ini dan tidak mau ber-Islam secara kaffah maka rintik-rintik masalah akan berubah menjadi badai masalah yang memporak-porandakan.

“Dan musibah apa saja yang menimpa Kamu, maka semua itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (Surat Asy-Syura ayat 30).

Masalah lain yang terjadi di dalam umat Islam sendiri adalah masalah perbedaan pendapat (Ikhtilaf = perbedaan dengan adanya dalil) dan Madzhab. Seringkali terdengar ada sebagian golongan yang mempermasalahkan ikhtilaf ini, misalnya permasalahan furu’ (permasalahan cabang) secara berlebih-lebihan. Misalnya shalat wajib dengan berqunut, jika tidak shalatnya tidak sah atau enggan shalat di belakang imam yang berqunut. Padahal ini tidak begitu dipermasalahkan oleh para ulama, bahkan Imam Ahmad tidak menyalahkan Imam Syafi’i dan pengikutnya karena berqunut, begitu juga sebaliknya.

Mempermasalahkan janggut dan isbal (celana di bawah mata kaki) secara berlebihan atau menyalahkan dan mencap bid’ah kelompok tertentu karena ada suatu perbedaan dalam beramal atau menganggap kelompok tertentu benar dan yang lain salah tanpa didukung alasan dan ilmu yang jelas juga bukan hal yang bijak dalam beragama. Kondisi ini menciptakan seakan-akan muslim saling bermusuhan dan berpecah belah.

Padahal ikhtilaf dalam memahami nash (teks) bukanlah perkara baru, ini sudah terjadi ketika Rasulullah SAW masih hidup, kemudian berlanjut hingga zaman sahabat setelah ditinggalkan Rasulullah SAW, hingga sampai sekarang ini. Maka yang perlu dilakukan bukan menghilangkan ikhtilaf, seperti rendah hatinya Imam Malik yang tidak mau memaksakan mazhab Maliki, tetapi memahami ikhtilaf sebagai dinamika dan kekayaan khazanah keilmuan Islam, selama ikhtilaf itu dalam masalah furu’, bukan masalah ushul (Prinsip atau dasar), sebagaimana yang dicontohkan para Shalafusshaleh di atas.

Mari kita cermati pesan dari Asy-Syahid Hasan Al Banna, “Mari beramal pada perkara yang kita sepakati, dan mari berlapang dada menyikapi perkara yang kita ikhtilaf di dalamnya”.

(Bersambung)

***

TIDUR SIANG (QAILULAH) DALAM ANJURAN DAN PENINGKATAN KUALITAS HIDUP

Oleh Weny Noralita dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Tidur adalah aktivitas rutin bagi setiap manusia. Setelah beraktivitas penuh di siang harinya, biasanya kita memanfaatkan waktu malam untuk kembali mengumpulkan energi dan digunakan esok harinya. Tanpa adanya tidur sebagai media istirahat, banyak hal yang dapat terganggu seperti mudah terkena penyakit, produktivitas harian yang menurun dan efek buruk lainnya. Namun terkadang, ada beberapa dari kita yang dapat beristirahat di waktu malamnya tetapi tetap tidak maksimal dalam melakukan rutinitas hariannya atau harus menggunakan waktu malamnya untuk melanjutkan pekerjaan yang belum terselesaikan di waktu siang, sehingga pemenuhan energi tubuh kurang tercapai. Oleh karenanya dalam Islam dikenal adanya qailulah atau tidur siang dan Rasulullah menganjurkan umatnya untuk melakukannya. Bahkan qailulah disebut juga sebagai power nap. Mengapa tidur siang dianjurkan oleh Rasulullah dan bagaimana pengaruhnya bagi kesehatan?


Tidur menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah keadaan berhentinya badan dan kesadaran. Namun ternyata tidur tidak hanya hilangnya keterjagaan tapi juga merupakan suatu proses. Tingkat aktivitas otak keseluruhan tidak berkurang saat kita tidur. Selama tahap-tahap tertentu tidur, penyerapan oksigen oleh otak bahkan meningkat melebihi tingkat normal sewaktu terjaga. Dalam tidur, terdapat satu bagian otak yang berperan penting sebagai pusat pengatur tidur yaitu batang otak (Sherwood, 2011).

Terdapat dua jenis tidur, ditandai oleh pola elektroensefalogafi* (EEG) yang berbeda dan perilaku yang berlainan yaitu tidur gelombang lambat dan tidur paradoksal (tidur dengan gerak mata cepat atau rapid eye movement (REM)). Tidur gelombang lambat terjadi dalam empat tahap, yang masing-masing memperlihatkan gelombang EEG yang semakin pelan dengan amplitudo lebih besar (karenanya dinamai tidur “gelombang lambat”). Pada permulaan tidur, terjadi perpindahan dari tidur ringan (“tidur ayam”) stadium 1 menjadi stadium 4 (tidur gelombang lambat) dalam wakktu 30-45 menit. Pada akhir masing-masing siklus tidur gelombang lambat terdapat episode tidur paradoksal selama 10-15 menit. Secara paradoks, pola EEG selama periode ini mendadak berubah seperti dalam keadaan terjaga, meskipun masih dalam keadaan tertidur lelap. Setelah episode paradoks tersebut, stadium-stadium tidur gelombang kembali berulang (Sherwood, 2011).

Pola EEG

Gambar 1. Pola EEG selama berbagai jenis tidur

Siklus tidur

Gambar 2. Siklus Tidur

Sepanjang malam, seseorang secara siklus bergantian mengalami kedua jenis tidur tersebut. Dalam siklus tidur normal, terjadi perubahan dari tidur gelombang lambat menjadi tidur paradoksal (REM). Secara rerata tidur paradoksal menempati 20% dari waktu tidur total pada masa remaja dan sebagian besar masa dewasa. Bayi menghabiskan waktu jauh lebih banyak pada tidur paradoksal. Sebaliknya, pada usia lanjut tidur paradoksal dan tidur gelombang lambat stadium 4 berkurang (Sherwood, 2011). Lalu bagaimana dengan tidur siang?

Tidur sejenak pada siang hari memiliki manfaat yang besar bagi tubuh. Tidur bermanfaat untuk memulihkan dan mengistirahatkan otak dan tubuh. Relaksasi otak pada siang hari memungkinkan terjadinya konsolidasi informasi yang diperoleh sebelumnya. Saat beraktivitas di siang hari, tubuh dipengaruhi oleh hormon kortisol. Seseorang dapat mengalami stres apabila produksi hormon kortisol telah mencapai jumlah maksimum (Yusof et al., 2014). Selain itu pada siang hari, tubuh dapat mengalami kantuk sehingga hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya penurunan efektifitas kinerja seseorang (Hayashi et al., 1999). Sehingga istirahat sangat diperlukan oleh tubuh meskipun hanya dalam waktu yang sebentar.

Bukti paling langsung yang menunjang anggapan bahwa tidur memulihkan proses-proses biokimia atau fisiologis adalah peran potensial adenosin** sebagai faktor tidur saraf. Adenosin merupakan tulang punggung adenosin trifosfat (ATP / energi), “mata uang” energi tubuh, yang terbentuk selama keadaan terjaga oleh neuron dan sel glia yang aktif secara metabolik. Karena itu, konsentrasi adenosin ekstrasel otak terus meningkat bila terjaga lebih lama. Adenosin, yang  bekerja sebagai neuromodulator***, telah dibuktikan melalui eksperimen dapat menghambat pusat keterjagaan. Efek ini dapat menimbulkan tidur gelombang lambat. Aktivitas pemulihan ini dipercayai berlangsung selama tidur gelombang lambat. Bila disuntikan adenosin akan menginduksi terjadinya tidur normal, sementara pemberian kafein dapat menghambat reseptor adenosin di otak, membangunkan orang yang mengantuk dengan menghilangkan pengaruh inhibitorik pada pusat keterjagaan. Kadar adenosin berkurang selama tidur, karena otak menggunakan adenosin ini sebagai bahan mentah untuk memulihkan simpanan energi. Jadi, kebutuhan tidur bagi tubuh dapat disebabkan oleh kebutuhan periodik otak untuk mengganti simpanan energi yang berkurang. Karena adenosin mencerminkan tingkat aktivitas sel otak maka konsentrasi bahan kimia ini di otak dapat berfungsi sebagai ukuran seberapa banyak energi yang telah terpakai (Sherwood, 2011).

Sara C. Mednick, PhD dalam bukunya “Take a nap! Change Your Life” mengatakan bahwa tidur siang selama 20 menit akan memberikan manfaat yang luar biasa.  Tidur siang selama 20 menit meningkatkan daya konstentrasi dan keterampilan motorik seperti mengetik dan bermain piano. Apa yang terjadi jika tidur siang selama lebih dari 20 menit? Penelitian menunjukkan tidur siang lebih lama membantu meningkatkan ingatan dan meningkatkan kreativitas. Tidur siang selama kurang lebih 30 sampai 60 menit (tidur gelombang lambat) baik untuk kemampuan dalam mengambil keputusan, seperti menghafal kosakata atau mengingat arah. Tidur siang selama 60 sampai 90 menit (tidur REM) memainkan peran kunci dalam membuat koneksi baru di dalam otak dan memecahkan masalah dengan kreatif. Lamanya waktu tidur siang dan jenis tidur dapat menentukan manfaat yang terjadi pada otak. Penelitian lain (Allen, 2003) menunjukkan bahwa  tidur siang dengan durasi 60 sampai 90 menit dapat mengembalikan hilangnya presepsi pembelajaran setelah beraktifitas dan apabila telah memasuki fase tidur REM (Rapid Eye Movement) maka akan dapat meningkatkan kinerja seseorang sama seperti setelah bangun dari tidur pada malam hari.

Teori lain yang menonojol adalah bahwa tidur, terutama tidur paradoksal (fase REM), diperlukan bagi otak untuk “berganti persneling”, untuk melaksanakan penyesuaian-penyesuaian kimiawi dan struktural jangka panjang yang diperlukan untuk belajar dan mengingat, terutama konsolidasi ingatan prosedural. Teori ini dapat menjelaskan mengapa bayi memerlukan banyak tidur. Otak mereka yang sangat lentur secara cepat mengalami modifikasi-modifikasi sinaps besar-besaran sebagai respons terhadap rangsangan lingkungan. Sebaliknya, orang dewasa, yang perubahan pada sarafnya lebih terbatas, tidur lebih sedikit (Sherwood, 2011).

Hasil penelitian yang dilakukan pada 23.681 orang dan menghabiskan waktu lebih dari 6 tahun menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan tidur siang secara teratur 3 kali dalam seminggu selama kurang lebih 30 menit menurunkan resiko kematian akibat penyakit jantung sekitar 37% dan mereka yang memiliki kebiasaan tidur siang secara tidak teratur memiliki risiko kematian 12% lebih rendah daripada orang yang tidak memiliki kebiasaan tidur siang (Naska et al., 2007).

Di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada dan Jepang telah menjadikan qailulah atau sering disebut dengan  “power nap”  sebagai kebiasaan dan budaya yang dianjurkan bagi para pekerja dan siswa untuk meningkatkan produktivitas kerja. Misalnya, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang efek positif dari tidur siang, Amerika Serikat telah mendirikan National Sleep Disorder Association (Yusof et al., 2014).

Sebagian orang sering menganggap tidur sejenak pada siang hari sebagai hal yang sepele dan di Indonesia budaya tidur siang masih dianggap sebagai kebiasaan bagi mereka yang malas. Padahal tidur siang memiliki manfaat yang besar bagi tubuh dan Rasulullah SAW bersama para sahabat pun melakukan tidur siang. Beberapa abad sebelum penelitian-penelitian membuktikan bahwa tidur siang bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan otak, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umat Islam untuk memiliki kebiasaan tidur siang karena hal tersebut dapat membantu seseorang terbangun di malam hari untuk melaksanakan sholat tahajud. Lantas jika negara non Muslim saja telah menerapkan salah satu anjuran Rasulullah SAW, lalu bagaimana dengan kita?

Di dalam Islam tidur sejenak pada siang hari dikenal dengan “Qailulah”. Definisi qailulah dalam kamus Lisanul Arab berarti “tidur pada pertengahan siang”. Namun tidak hanya tidur, qailulah juga dapat didefinisikan sebagai istirahat pada pertengahan siang walaupun tidak tidur.

Di dalam Surat Ar-Rum ayat 23 Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”.

Pada ayat tersebut, Allah SWT menunjukkan tanda kekuasaan dan kasih sayang-Nya. Diantaranya tanda-tanda-Nya adalah siklus tidur yang Allah SWT ciptakan pada malam dan siang hari sehingga manusia dapat beristirahat dan sedikit bergerak sehingga hilang rasa lelah. Allah SWT juga menjadikan manusia dari bertebaran atau mencari nafkah pada waktu yang lain untuk mencari karunia Allah SWT sebagai sumber kehidupan. Semua merupakan tanda kekuasaan Allah SWT bagi kaum yang mendengar (Sayyid Quthb, 2004).

Rasulullah SAW bersabda “Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1637:  shahihul isnad).

‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu: Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang). Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad).

Qailulah dapat dilakukan sebelum ataupun sesudah waktu zuhur tetapi lebih baik jika dilakukan setelah waktu dzuhur sebagaimana kebiasaan Rasulullah dan para sahabat dahulu. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang ( qailulah).” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: shahihul isnad).

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu berkata,“Kami (dahulunya) tidaklah melakukan qailulah dan makan kecuali setelah shalat jumat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.( Muttafaq alaihi, lafadz Muslim).

Maha Suci Allah yang telah menerangkan dalam Al-Quran tentang pentingnya tidur pada malam dan siang hari serta menegaskan bahwa tidur merupakan tanda kebesaran Allah dan keajaiban yang harus dipelajari, diajarkan, dan diamalkan bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, sudah saatnya kita membudayakan salah satu sunnah Rasullullah SAW ini dengan niat mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sehingga tidak hanya pahala dan keridhoan dari Allah SWT yang kita peroleh namun tubuh dan otak kita juga akan mendapatkan manfaat kesehatan yang sangat besar. InsyaAllah.

*elektroensefalografi : perekaman aktivitas listrik otak.

**adenosin : suatu nukleotida (molekul yang terdiri atas fosfat, pentosa dan basa purin atau pirimidin) adenin D-Ribose.

***neuromodulator : zat yang dirilis oleh neuron (sel saraf) pada sinaps untuk menyampaikan informasi kepada sel saraf yang berdekatan atau jauh, dengan tujuan untuk menguatkan, memperpanjang, menghambat atau membatasi efek neurotransmitter atau impuls saraf.

Daftar Pustaka :

Allen RP.2003. Take afternoon naps to improve perceptual learning. Sleep medicine, 4, 589-590.

Hayashi M, Ito S, Hori T.1999. The effects of a 20-min nap at noon on sleepiness, performance and EEG activity. International Journal of Psychophysiology, 32, 173-180.

Mandzur, Ibnu. 1993. Lisanul Arab. Beirut : Dar Shadir.

Naska A, Oikonomou E., Trichopoulou A, Psaltopoulou T. Trichopoulou D. 2007. Siesta in healthy adults and coronary mortality in the general population. Archives of internal medicine, 167, 296-301.

Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.

Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.

Yusof FM, Muhamad SN, Rosman, AS, Ahmad SN, Razak NF, Hashim NI, Awang A. 2014. Sleep Phenomena from the Perspectives of Islam and Science. Jurnal Teknologi, 67.

TAHAJUD SEBAGAI PENAWAR STRES

Oleh Silmi Kaffah dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Hidup manusia ditandai oleh usaha-usaha pemenuhan kebutuhan, baik fisik, mental-emosional, material, maupun spiritual. Bila kebutuhan dapat di penuhi dengan baik berarti tercapai keseimbangan dan kepuasan. Tetapi pada kenyataannya sering kali usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut mendapat banyak rintangan dan hambatan. Tekanan-tekanan dan kesulitan-kesulitan dalam hidup sering membawa manusia dalam keadaan stres. Penyelesaian masalah yang tidak tepat, semakin memperburuk keadaan. Oleh karenanya sebagai seorang individu yang beragama langkah spiritual merupakan salah satu cara positif yang dapat digunakan dalam mengatasinya.


Stres dan Akibatnya            

Stres merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan seseorang. Stres dapat dialami oleh siapa saja baik yang masih muda maupun yang sudah tua dan ini merupakan sesuatu yang wajar (Atkinson, 2000).

Sejak kelahiran ataupun sejak pembuahan, setiap makhluk sudah berada dalam situasi yang menggambarkan adanya 2 pihak yang saling bertentangan, yaitu kondisi pada makhluk itu sendiri dan lingkungan. Akibatnya dibutuhkan upaya untuk menyesuaikan diri untuk memenuhi tuntutan lingkungan. Respon organisme untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan itu disebut sebagai stres (Wiramihardja, 2005).

Lazarus & Folkman (dalam Morgan, 1986) mendefinisikan stres sebagai suatu kondisi internal seseorang yang dirasakan membahayakan, tidak terkontrol ataupun kejadian di luar batas kemampuan individu yang disebabkan oleh fisik atau lingkungan dan situasi sosial.

Stres merupakan reaksi fisiologis dan psikologis manusia terhadap situasi yang menekan (Lahey, 2003). Stress menurut Selye (dalam Hardjana, 1994) adalah tanggapan yang menyeluruh dari tubuh terhadap setiap tuntutan yang datang atasnya. Tanggapan ini tidak hanya terbatas pada satu bagian tubuh, tetapi menyangkut seluruh bagian tubuh, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bila terkena stres, segala segi dari diri terkena. Stres tidak hanya menyangkut segi lahir, tetapi batin. Secara umum, wanita cenderung lebih sering mengalami stres (Sarafino, 2006). Stres juga didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subyek (Cooper, 1994).

Situasi stres akan menghasilkan reaksi emosional tertentu pada individu. Reaksi tersebut dapat meliputi reaksi positif (jika stres dapat ditangani) dan reaksi negatif seperti kecemasan, kemarahan dan depresi. Reaksi negatif timbul jika stres yang dialami individu tidak dapat ditangani (Atkinson, 2000). Reaksi-reaksi emosi yang mungkin muncul saat menghadapi situasi stres adalah kecemasan, kemarahan, agregasi, apati, depresi dan gangguan kognitif.

Kecemasan merupakan salah satu respon yang muncul ketika individu dihadapkan pada situasi stres. Kecemasan dalam bahasa sehari-harinya dapat didefinisikan sebagai emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan khawatir, perasaan tidak nyaman, tegang dan takut. Reaksi-reaksi ini umumnya dialami individu ketika mengalami stres tetapi dengan intensitas yang berbeda-beda. Pada keadaan tertentu, kecemasan dapat menjadi berat dan akhirnya membuat orang tersebut menarik diri dari lingkungan (Gunarsa, 2002).

Reaksi umum lain yang timbul ketika individu dihadapkan pada situasi stres adalah kemarahan yang mungkin akan mengarah pada perilaku agresi (Atkinson, 2000). Perasaan marah yang dirasakan individu dapat membangkitkan perilaku agresi, seperti menendang, memukul. Hal ini sejalan dengan hipotesa frustrasi-agresi (Dollard dalam Morgan, 1986) bahwa frustrasi yang timbul akibat kegagalan individu dalam mencapai tujuannya, dapat menyebabkan agresi. Orang dewasa umumnya mengekspresikan agresi mereka secara verbal daripada secara fisik, mereka lebih mungkin untuk melontarkan hinaan daripada pukulan (Atkinson, 2000).

Apati merupakan bentuk respon umum lainnya yang muncul ketika berhadapan dengan situasi stres. Atkinson (2000) mengatakan bahwa apati adalah keadaan tanpa gairah, sikap acuh dan menarik diri. Ketidakmampuan individu dalam mencapai tujuan menyebabkan individu bertindak apatis. Jika keadaan ini terus berkelanjutan dan individu tidak berhasil untuk mengatasinya maka apati dapat berkembang menjadi depresi (Atkinson, 2000).

Individu sering menunjukkan gangguan kognitif ketika berhadapan dengan situasi stres. Gangguan kognitif dapat berupa kesulitan dalam berkonsentrasi dan mengorganisasikan pikiran secara logis sehingga performansi tidak dapat optimal. Gangguan kognitif yang terjadi selama periode stres ini sering menyebabkan seseorang mengikuti pola perilaku yang kaku karena mereka tidak dapat mempertimbangkan pola-pola alternatif (Atkinson, 2000).

Salah satu faktor yang terpenting dalam penjelasan gejala stres adalah penggunaan strategi penanggulangan adaptif (coping mechanism) respon individu terhadap stres. Penanggulangan adaptif yang positif dan efektif dapat menghilangkan atau meredakan stres (Folkman S., Lazarus,1988).

Shalat Tahajud dam Stres

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Jelaslah bahwa seseorang pasti pernah mendapatkan stres. Kemampuan seseorang dalam beradaptasi dan mengontrolnya akan membentuk stres tersebut menjadi stres fisiologis atau patologis. Khususnya mahasiswa yang penuh dengan tugas akademik, aktivitas keorganisasian, jauh dari orang tua (perantauan) dan rutinitas lainnya. Kondisi ini mendorong mahasiswa untuk mencari cara agar keluar dari faktor-faktor stressor tersebut. Tindakan yang dilakukan mulai dari cara spritual sampai dengan merokok, mengonsumsi alkohol, mengunjungi klub-klub malam, mencari tempat pelarian dan tidak dipungkiri ada yang memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya.

Sebagai seseorang yang percaya akan keberadaan Allah. Ternyata Islam telah memberikan solusi akan kondisi stres yang dialami seseorang yaitu dengan melakukan shalat tahajud. Tahajud berasal dari kata tahajjada yang berpadanan kata istaiqazha, yang berarti terjaga, sengaja bangun, atau sengaja tidak tidur.

Shalat tahajud adalah shalat sunat pada malam hari setelah tidur. Bilangan rakaatnya paling sedikit dua rakaat dan banyaknya tak terbatas. Waktunya mulai dari setelah mengerjakan salat isya’ sampai terbit fajar (Nawawi, 2006).

Hubungan antara shalat tahajjud dan kesehatan, salah satu penjelasannya adalah berkenaan dengan hormon kortisol. Hormon kortisol, disebut juga sebagai hormon stres, adalah hormon yang sangat penting yang dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah (Guyton, 2007). Kortisol berperan kunci dalam adaptasi terhadap stres. Segala jenis stres merupakan rangsangan utama bagi peningkatan sekresi kortisol (Sherwood, 2011).

Hipotalamus menerima masukan mengenai stressor fisik dan emosi dari hampir semua daerah di otak dan dari banyak reseptor di seluruh tubuh. Sebagai respon, hipotalamus akan mengaktifkan saraf simpatis, dan sekresi CRH (Corticotropin Releasing Hormon)–ACTH (Adrenocorticotropic Hormone)-kortisol serta vasopressin sebagai respon stres (Sherwood, 2001).

Kadar hormon kortisol mulai meningkat pada 2-3 jam setelah dimulainya tidur dan terus meningkat hingga subuh dan waktu bangun di pagi hari. Shalat tahajjud dapat menurunkan jumlah hormon kortisol yang meningkat, pada saat tidur, menjadi seimbang kembali. Sehingga dapat mengurangi tingkat stres seseorang dan menstabilkan sistem imun dalam tubuh. (Sholeh, 2003)  Seseorang memiliki imun yang kuat sehingga tubuhnya mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Sebuah penelitian membuktikan bahwa ketenangan jiwa dapat meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung, meningkatkan usia harapan (Mc Leland, 1998: 44). Sedangkan stres menyebabkan rentan terhadap infeksi, dapat mempercepat perkembangan sel kanker, dan meningkatkan metastasis.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hari (2011) dalam karya tulis ilmiahnya. Ia melakukan penelitian terhadap 20 orang  mahasiswa. Didapatkan bahwa shalat tahajud yang dilakukan secara benar memiliki peranan dalam menghadapi stres berupa ketenangan yang memberikan manfaat lain pada mahasiswa seperti meningkatkan konsentrasi dan lain halnya. Kemudian dari hasil penelitian juga dapat dilihat bahwa 12 orang (60%) dari 20 orang partisipan yang melakukan shalat tahajud tidak mengalami stres.

Stressor bagi mahasiswa bisa bersumber dari kehidupan akademiknya, terutama tuntutan dari eksternal dan tuntutan dari harapannya sendiri. Tuntutan eksternal bisa berasal dari tugas-tugas kuliah, beban pelajaran, tuntutan orang tua untuk berhasil di kuliahnya dan penyesuaian sosial di lingkungan kampusnya. Tuntutan akademik juga termasuk kompentisi perkuliahan dan meningkatnya kompleksitas materi perkuliahan yang semakin lama semakin sulit ( Heiman, & Kariv, 2005).

Salah satu faktor yang ikut menentukan bagaimana stress bisa dikendalikan dan diatasi secara efektif adalah strategi coping yang digunakan individu (Ashel, & Delany, 2001). Coping adalah cara sadar individu untuk mengelola situasi yang menekan atau intensitas kejadian yang di tanggapi sebagai situasi yang menekan (Lazarus, & Folkman, 1984). Jika individu berhasil secara efektif mengendalikan situasi yang dinilai menekan, maka dampak negatif dari stres bisa di kurangi secara maksimal.

Tindakan coping bisa dilakukan dengan shalat. Shalat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul) yang termasuk dalam kajian ilmu psikologi transpersonal, karena shalat adalah perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui Tuhan semesta alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat peshalat untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness) dan pengalaman puncak (peak experience). Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat 5 unsur di dalamnya. Yaitu, meditasi atau do’a yang teratur, relaksasi melalui gerakkan-gerakkan shalat, hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat, group therapy dalam shalat berjama’ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal ada peshalat dan Allah, hydro terapy dalam mandi junub atau wudhu sebelum shalat (Wibisono, 2002). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terhadap 20 orang partisipan yang menjalankan rutinitas sebagai mahasiswa, kemudian rata-rata dari partisipan menjadikan aktivitas shalat tahajud menjadi pilihan dalam mengendalikan tekanan-tekanan yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya.

Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa ada beberapa hal yang yang berperan dari pelaksanaan shalat tahajud yang terdiri dari pemahaman peshalat sendiri terhadap aktivitas yang dikerjakan kemudian faktor-faktor yang secara tidak sengaja mempengaruhi shalat tahajud diantaranya niat dan motifasi, suasana, waktu pelaksanaan, kebiasaan serta keteraturan dalam menjalankannya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peran shalat tahajud dalam mengatasi stress. Dilihat dari teori faktor motivasi dan niat yang ikhlas menjadi salah satu faktor kualitas dari shalat tahajud sehingga menimbulkan efek yang baik terhadap kondisi tubuh. Penyelenggaraan shalat tahajud secara ikhlas mampu menurunkan respon sekresi kortisol dan meningkatkan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik. Dengan dasar temuan ini, konsep ikhlas menjadi penting dalam kesadaran religius, tetapi amat sukar menemukan parameternya (Sholeh, 2006). Teori ini dapat mendukung hasil dari penelitian yang mendapatkan bahwa niat ikhlas menjadi salah satu faktor utama untuk mencapai kadar ketenangan yang maksimal.

Kemudian dari pada itu, kerutinitasan dan dengan cara yang tepat jelas memberikan manfaat yang nyata baik untuk kondisi fisik maupun psikologis. Efek dari keteraturan ini menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan hormon di dalam tubuh sehingga tercapai sebuah keseimbangan. Hasil sebuah penelitian menjelaskan shalat tahajud yang dijalankan dengan memenuhi syarat dapat menumbuhkan respon emosional positif, coping yang efektif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan irama sirkardian, sebuah irama kehidupan yang memiliki siklus 24 jam untuk beradaptasi dengan lingkungan. Dengan terkendalinya sekresi kortisol yang sering berlangsung secara berlebihan, subyek akan terhindar dari stres dan akan memperbaiki sistem imun tubuh (Sholeh, 2006). Pendapat ini sesuai dengan hasil penelitian yang ditemukan bahwa partisipan yang melaksanakan shalat tahajud secara rutin dan teratur merasakan kondisi tubuh yang lebih segar.

Kondisi yang tenang dan terbebas dari segala jenis polusi dapat menghindarkan diri dari potensi stres, stress yang terkendali mampu mempengaruhi daya ingat karena stress dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam aktivitas kognitif (Cohen dkk dalam Srarafino, 1994). Pendapat ini mendukung dalam penelitian ini, dimana rata-rata partisipan merasakan ketenangan dan merasakan kemampuan berkonsentrasi menjadi lebih baik.

Dari penelitian ini juga didapati bahwa shalat tahajud merupakan salah satu cara bermeditasi yang menimbulkan rasa nyaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Lawrence Leshan, dalam bukunya “Bagaimana Bermeditasi” menyebutkan, bahwa kita bermeditasi untuk menemukan, merebut kembali kepada sesuatu dari diri kita yang secara samar-samar dan tanpa sadar pernah menjadi milik kita dan hilang tanpa mengetahui apakah itu atau dimana atau kapan kita kehilangan benda tersebut. Salat tahajjud memiliki kandungan aspek meditasi dan relaksasi yang cukup besar, dan kandungan yang dapat digunakan sebagai coping mechanism pereda stres (Sholeh,2007). Pada pagi hari di kala udara bersih akan memberi manfaat kesehatan yang nyata (Assegaf, 2008).

Menurut hasil penelitian Alvan Goldstein, ditemukan adanya zat endorfin dalam otak manusia yaitu zat yang memberikan efek yang menenangkan yang disebut endogegoneus morphin. Untuk mengembalikan produksi endorfin di dalam otak bisa dilakukan dengan meditasi, shalat yang benar atau melakukan dzikir-dzikir yang memang banyak memberikan dampak ketenangan.

Ikhlas Dalam Bertahajud

Syaikhu (1997) dalam Sholeh (2007) mengemukakan bahwa telaah medis menunjukkan terdapat dua kelompok para pengamal shalat tahajud yang memiliki dampak kesehatan yang berbeda setelah melakukan shalat tahajud, masing-masing adalah kelompok individu yang sehat dan kelompok individu yang sakit.

Sholeh (dalam Ramadhani, 2007) menjelaskan bahwa shalat Tahajud yang dijalankan dengan tepat, kontinu, khusyuk, dan ikhlas mampu menumbuhkan persepsi, motivasi positif dan memperbaiki suatu mekanisme tubuh dalam mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima.

Arlson (1994) dalam Sholeh (2007) menyatakan, secara fisiologis, sebenarnya pola kehidupan manusia mempunyai irama sirkardian *diurnal. Dan, jika siklus ini ditambah dengan melakukan salat tahajjud di malam hari, ia akan berubah menjadi **nokturnal. Hal ini akan menyebabkan perubahan perilaku dari sistem saraf pusat yang bertujuan beradaptasi dengan irama sirkardian. Penyelenggaraan shalat tahajjud secara terpaksa akan mengakibatkan kegagalan proses adaptasi terhadap perubahan irama sirkardian tersebut (Sholeh, 2007). Oleh sebab itu diperlukan sebuah keikhlasan dalam melakukan ibadah ini, dimana seseorang tersebut melakukannya atas keinginan sendiri tanpa ada rasa keterpaksaan dan merasa adanya beban dalam melakukan hal tersebut. Apabila melakukan shalat tahajjud dengan rasa adanya tekanan maka akan menimbulkan gangguan irama sikardian dan beban yang lain dari masalah yang ada. Bahkan Reichlin (1992) dalam Sholeh (2007) menyatakan bahwa gangguan irama sikardian akan mendatangkan stress.

Begitulah istimewanya shalat tahajud ini, sehingga membuat Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk senantiasa selalu melakukan shalat malam. Beliau memberi contoh melakukan shalat malam setiap hari hingga kedua kakinya bengkak dikarenakan banyaknya beliau berdiri dalam shalat, meskipun beliau adalah orang yang sudah diampuni dosanya oleh Allah dan dijamin menjadi penghuni surga-Nya.

Dari ‘Aisyah –Radhiallahu ‘Anha berkata “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam sampai pecah-pecah (bengkak) kedua kakinya, lalu akupun berkata kepada Beliau: “Mengapa Anda lakukan ini wahai Rasulullah, padahal telah diampuni dosa anda yang lalu dan yang akan datang?” Beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ. فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang, maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah, maka lepaslah satu tali ikatan. Lalu jika dia berwudhu, maka lepaslah tali ikatan yang lainnya. Dan jika dia mendirikan sholat (malam), maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat & tenang jiwanya. Namun bila dia tak melakukan hal itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek & menjadi malas beraktifitas”. (HR. Imam Al-Bukhari no. 1142, & Muslim no. 776)

“Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang shaleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala penyakit dari tubuh” (HR, Tirmidzi).

Melihat Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu menjaga shalat tahajudnya dan penelitian-penelitian terkait yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa shalat sunnah ini memiliki banyak manfaat yaitu memberikan ketentraman pada jiwa manusia, sebagai penawar stres dan efek positif lainnya. Selain itu shalat tahajud dapat meningkatkan derajat manusia di sisi Allah.

Allah Subhana Wa Ta’ala Berfirman :

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ , آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ , كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ  وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat (51): 15-18)

Cintailah malam karena ia kelak akan memberimu syafaat.

Paksalah dirimu untuk bergabung dalam golongan orang-orang yang bertahajud.

Menyepilah untuk bermunajat kepada Rabbmu dengan merendah dan mengharap.

 

*Diurnal : Terjadi pada siang hari

**Nocturnal : Timbul di waktu malam

 

Daftar Pustaka :

Assegaf, M. 2008. Smart Healing, Kiat Hidup Sehat Menurut Nabi Ed.3. Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar. 69-74.

Atkinson, Rita L. 1991. Motivasi dan Emosi. In Agus Dharma S.H., M. Ed, PhD., (edisi 8_. Pengantar Psikologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga, 73-90.

Guyton, A.C & J. E. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Terjemahan : Irawati Setiawan. Jakarta : EGC.

Haryanto. 2003. Psikologi shalat. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Hardjana,A.M.1994. Stres tanpa Distres. Jakarta: Kanisius.

Lahey,B.B.,2004. Stres and Health psychology: an introduction ed. New York: Mac-Graw Hill. 500-508.

Markam, S dkk. 2011. Kamus Kedokteran. Jakarta : Badan Penerbit FKUI

Putra, Hari K. 2011.  Peranan Shalat Tahajud Dalam Menghadapi Stres Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31210 – Diakses Maret 2015.

Ramadhani,2008. Super Health Gaya Hidup Sehat Rasulullah.Yogyakarta: Pro-U Media.120-132.

Sarafino, E.P. 2006. Stress, Ilness and Coping. In: Flahive R. ed. Health Psychology Biopsychosocial Interaction 5th ed. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc.66-71.

Sherwood,L. 2001. Mekanisme Stres. In : Santoso B.I. ed. Fisiologi Manusia dari Sel ke System Edisi ke-2. Jakarta: EGC,654-661

Sholeh.2007. Terapi Shalat Tahajjud. Bandung: Hikmah.

Sholeh, Moh. 2001. Tahajud: Manfaat Praktis Ditinjau dari Ilmu Kedokteran. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Sholeh, Moh. 2009. Terapi Shalat Tahajud: Menyembuhkan Berbagai Penyakit. Jakarta: Mizan

Sisyanto, Rudi. 2010. Panduan Qiyamul Lail. Pekanbaru