Amalan-Amalan yang Dianjurkan di Hari Jum’at

Di samping shalat Jum’at dan seluruh rangkaian ibadah yang menyertainya, ada beberapa amalan yang disyariatkan untuk dikerjakan padahari Jum’at, diantaranya :
1. Memperbanyak shalawat atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hal ini berlandaskan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوْاعَلَيَّ مِنَ الصَّ ةَالِ فِيْهِ فَإِنَّ صَ تَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ

“Sesungguhnya diantara hari-hari kalian yang paling mulia adalah hari Jum’at. Karena itu, perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu karena shalawat kalian akan ditampakkan kepadaku.” (HR. Abu Dawud dalam as-Sunan no. 1528 dari Aus bin Aus radhiyallahu ‘anhu. An-Nawawi rahimahullah dalam Riyadhus Shalihin menyatakannya sahih)

2. Membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at dan siang harinya
Landasannya adalah atsar Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَلَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, akan bersinar baginya cahaya antara dirinya dan Baitul Haram.” (Riwayatal-Baihaqi dalam asy-Syu’ab dan dinyatakan sahih oleh al-‘Allamah al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Atsar tersebut juga datang dengan lafadz yang lain, “Barang siapa membaca suratal-Kahfi pada hari Jum’at maka akan bersinar baginya cahaya antara dua Jum’at.” (Riwayat an-Nasai dalam Alyaum Wallailah, dan asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih at-Targhib no. 735)

Adapun hadits yang menyebutkan, “Barang siapa membaca (surat) Yasin pada suatu malam, ia berada di pagi hari dalam keadaan telah diampuni. Barang siapa membaca (surat) ad-Dukhan pada malam Jum’at, ia berada di pagi hari dalam keadaan telah diampuni,” adalah hadits palsu. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi rahimahullah dalam al-Maudhu’at. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Ad-Daruquthni berkata, ‘Muhammad bin Zakaria (perawi hadits ini) memalsukan hadits’.” (Lihat kitab Ahaditsul Jumu’ah hlm. 131)

3. Disunnahkan membaca surat as-Sajdah dan ad-Dahr (al-Insan) pada shalat subuh di hari Jum’at.
Hal ini berlandaskan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca pada shalat subuh di hari Jum’at آلم تنزيل (surat as-Sajdah) dan هل أتى على الإنسان (surat ad-Dahr). (Shahih al-Bukhari no. 891)

Disebutkan bahwa hikmah disyariatkannya membaca dua surat ini karena keduanya mengandung isyarat tentang penciptaan Adam yang terjadi pada hari Jum’at dan adanya isyarat tentang kondisi hari kiamat yang akan terjadi pada hari Jum’at. (lihat Fathul Bari 2/379)

Larangan-Larangan Pada Hari Jum’at

1. Dilarang mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat malam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي

“Janganlah kalian mengkhususkan malamJum’at untuk shalat malam di antara malam-malam yang ada.”

2. Larangan mengkhususkan puasa pada siang harinya
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِ أنْ يَكُوْنَ فِي صَوْمٍ يَصُوْمُهُ أحَدُكُمْ

“Janganlah kalian mengkhususkan hari Jum’at dengan puasa di antara hari-hari yang ada kecuali (bertepatan) dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang dari kalian.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Demikian pula hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah salah seorang kalian puasa di hari Jum’at kecuali (bersama) sehari sebelumnya atau setelahnya.” (Muttafaqun‘alaih)

Adapun hikmah dilarangnya puasa pada hari Jum’at karena pada hari itu disyariatkan memperbanyak ibadah, yaitu zikir, doa, tilawah al-Qur’an, dan shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, seseorang dianjurkan tidak berpuasa agar bisa menopang terlaksananya amalan-amalan tersebut dengan semangat dan tanpa kebosanan.

Hal ini sama dengan jamaah haji yang wukuf di Padang Arafah yang disunnahkan tidak berpuasa karena hikmah tersebut. Ada pula ulama yang menyebutkan hikmah yang lain, yaitu karena hari Jum’at adalah hari raya, dan pada hari raya tidak boleh berpuasa.
Demikian pula di antara

hikmahnya adalah untuk menyelisihi orang-orang Yahudi karena mereka mengkhususkan hari raya mereka untuk puasa. Wallahu a’lam. (Diringkas dari kitab Ahaditsul Jumu’ah hlm. 47-48)

 

Sumber : http://asysyariah.com/kajian-utama-amalan-amalan-yang-dianjurkan-di-hari-jumat/

Gambar : http://gaulfresh.com/wp-content/uploads/2015/04/Amalan-Dihari-Jumat.jpg

Pemegang Tender Nasional FULDFK 2016

Alhamdulillah,

Berdasarkan Hasil Musyawarah Nasional XI di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Tenderisasi Nasional FULDFK  tahun 2016 dalam keputusan Musyawarah Nasional di amanahkan kepada :

  • Rapat Kerja Nasional – BPPM Ibnu Sina FK Universitas Sriwijaya
  • Moslem Managerial and Leadership Camp Nasional – HMMK FK Universitas Soedirman
  • Antibiotic XII & Bakti Sosial Nasional – HMMK (LDF Karim)  FK Universitas Malahayati
  • I-Med Magz – DSS FK Universitas Muhamadiah Jakarta
  • IMSF VIII – FKMI Ibnu Sina FK Universitas Tanjung Pura
  • Musyawarah Nasional – FOSMI FK Universitas Riau

Semoga Amanah dapat dilaksanakan dengan sebaik mungkin ,,

KHANSA Magz; Majalah Dept. Kemuslimahan DEP FULDFK 2015

Assalamu’alaikum ikhwah fillah,

Alhamdulillah, Departement Kemuslimahan Dewan Eksekutif Pusat Forum Ukhwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia telah menyelesaikan program kerja Majalah Kemuslimahan dengan nama Khansa Magazine.

Daftar Isi :

Hal. 1 Kisah Lahirnya Khansa
Hal. 2 Timeline Agenda Khusus
Hal. 3 Kisah Inspiratif #1; Aisyah binti Abu Bakar
Hal. 4 Kisah Inspiratif #2 : dr. Dyah Prameswati, Sp.OG.MHSM
Hal. 5-9 Fiqh Wanita

  • Kewajiban Muslimah Terhadap Dirinya
  • Hakikat Mempercantik Diri
  • Hukum Mencukur Alis

Hal. 10-14 Motivasi

  • Pentingnya Peran Seorang Ibu Membangun Peradaban Islam
  • Bidadari Penghafal Qur’an
  • Muslimah Sejuta Karya

Hal. 15 Kreatif : Gantungan Jilbab

Ayo download Majalah Lengkapnya :

Majalah Kemuslimahan

 

MURATTAL AL QUR’AN SEBAGAI SOLUSI ATASI DEPRESI

Oleh Hanan Anwar Rusidi dan Silmi Kaffah

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

 

Gangguan depresi adalah salah satu jenis gangguan jiwa yang paling sering terjadi pada manusia. Menurut World Health Organization (WHO) dalam penelitiannya tahun 2000, penderita gangguan depresi berada pada urutan ke empat penyakit di dunia. Pada tahun 2020, diperkirakan jumlah penderita gangguan depresi akan semakin meningkat dan akan menempati urutan kedua penyakit di dunia. Seakan sulit untuk dicegah dan disembuhkan, menjelaskan bahwa kemajuan tekhnologi abad dua puluh belum dapat membantu memecahkan masalah ini seutuhnya. Perlu solusi lain untuk mencegah ketidaktenangan hati dan ketidaktentraman jiwa tersebut. Salah satunya adalah dengan murratal Al-qur’an.


Gangguan depresif merupakan gangguan medik serius menyangkut kerja otak, bukan sekedar perasaan murung atau sedih dalam beberapa hari. Gangguan ini menetap selama beberapa waktu dan mengganggu fungsi keseharian seseorang. Gangguan depresif masuk dalam kategori gangguan mood, merupakan periode terganggunya aktivitas sehari-hari, yang ditandai dengan suasana perasaan murung dan gejala lainnya, termasuk perubahan pola tidur dan makan, perubahan berat badan, gangguan konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah, perasaan putus asa dan tak berdaya serta pikiran untuk bunuh diri. Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir di semua aspek kehidupannya. [1]

Menurut Freud, kehilangan obyek cinta, seperti orang yang dicintai, pekerjaan tempatnya berdedikasi, hubungan relasi, harta, sakit terminal, sakit kronis dan krisis dalam keluarga merupakan pemicu episode gangguan depresif. Seringkali kombinasi faktor biologik (genetik), psikologik dan lingkungan merupakan campuran yang membuat gangguan depresif muncul.

Setiap individu tentunya pernah mengalami suatu kondisi depresi dan memiliki solusi yang berbeda-beda untuk mengatasi kondisi tersebut. Sayangnya, tidak sedikit yang lebih memilih mengambil solusi yang membawa kepada kubangan dosa dan kemaksiatan. Minuman keras, narkoba, dan perzinahan marak terjadi dimana-mana. Contoh perbuatan-perbuatan dosa tersebut sudah dianggap sesuatu yang wajar dan dianggap membawa kesenangan dan ketentraman dalam hidup mereka. Tetapi faktanya, perbuatan-perbuatan tersebut yang akan menyeret manusia pada kondisi psikis yang lebih buruk. Solusi dalam mengatasi  gangguan depresi sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit untuk dicari, namun kebanyakan orang hanya tidak menyadari bahwa solusi tersebut telah ada.

Salah seorang ulama salaf berkata: “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini”, maka ada yang bertanya: “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?”, Ulama ini menjawab: “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya”

Ibnu Qayyim membagi penyakit hati menjadi dua, yang pertama adalah penyakit hati yang tidak dirasakan oleh pemilik hati seperti penyakit jahl (kebodohan) dan syubhat atau syukuk (keraguan). Selain itu ada penyakit hati yang langsung dirasakan seperti kecemasan, kesedihan, kesusahan dan kemarahan. [2] Jika dilihat dari pendapat Ibnu Qayyim tersebut, maka gangguan depresi termasuk ke dalam penyakit hati yang langsung dirasakan.

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman bahwa obat yang paling agung adalah Al-Qur’an.

murratal

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)

Dari ayat tersebut, kata ‘min’ tersebut berfungsi sebagai libayanil jinsi atau menjelaskan jenis, bukan sekadar lit-tab’idh (menunjukkan makna sebagian). Hal ini menunjukkan bahwa semua bagian dari Al-Qur’an memiliki manfaat sebagai obat atau penawar pada penyakit jasmani dan rohani.[3]

Al-Qur’an sebagai solusi depresi dapat dilakukan dengan menggunakan metode murattal Al-Qur’an. Murattal adalah membaca Al-Quran dengan memfokuskan pada dua hal yaitu kebenaran bacaan dan irama. Saat ini banyak manusia justru jauh dari Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya diletakkan sebagai pajangan, ditempatkan di almari yang paling tinggi, tetap terjaga tanpa ada tangan yang menyentuhnya, dan tanpa ada suara merdu yang melantunkannya. Banyak orang menutup mata dan tidak mengerti akan keberadaan Al-Qur’an yang merupakan solusi dalam menata dan membersihkan hati dari berbagai penyakit hati. Padahal, hanya dengan mengingat Allah lah (berzikir) hati menjadi tenang dan bersih. Sesuai dengan firman Allah :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

Suatu hari Rasulullah SAW meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al Qur’an: “Bacakanlah kepadaku Al-Quran”. Kemudian Abdullah bin Mas’ud berkata: “Saya membacakan Al-Qur’an atasmu sementara Al-Qur’an turun kepadamu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Aku sangat senang mendengar ayat Al-Qur’an dari selainku”. Maka Ibnu Mas’ud membaca surat An-Nisa, maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pun menangis dan berkata kepadanya: Cukuplah sampai disitu.(HR Bukhari).

Hadist tersebut menunjukkan bahwa mendengarkan Al Qur’an dari orang lain pada waktu tertentu merupakan sunnah. Di dalam Al-Quran terdapat perintah untuk kita dalam mendengarkan Al-Qur’an dengan tenang. Menurut Salim, mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dapat menimbulkan efek positif pada tingkat kecemasan, stress ataupun depresi.[4] Dalam penelitian lain, pada dua kelompok anak autis yang sebelumnya memiliki nilai kognitif yang sama, setelah dilakukan terapi dengan menggunakan musik klasik dan mendengarkan murattal Al-Qur’an menunjukkan bahwa kelompok yang diperdengarkan murattal Al-Qur’an mempunyai skor perkembangan kognitif yang lebih baik dibandingkan pada kelompok musik klasik. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki pengaruh yang nyata pada tubuh manusia.[5]

Ayat-ayat Al Qur’an yang diperdengarkan kepada seseorang akan membawa efek ketenangan pada tubuh.[6] Mendengar murattal Al Qur’an akan memunculkan suatu medan gelombang yang akan memengaruhi gelombang otak manusia. Dengan menggunakan alat Electroencephalograph (EEG), terlihat reaksi otak berupa perubahan gelombang otak dari frekuensi beta menjadi frekuensi alfa yang membuat kondisi tubuh dalam keadaan relaksasi. Selain itu pada tahap selanjutnya akan terjadi peningkatan frekuensi gelombang delta yang akan membuat tingkat relaksasi lebih dalam dan penurunan depresi yang lebih signifikan. Gelombang delta merupakan gelombang utama yang berperan pada tidur manusia tingkat III dan IV. Semua reaksi pada otak yang dipengaruhi oleh medan gelombang tersebut akan meningkatkan berbagai neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin yang pada akhirnya akan memberikan efek pada tubuh sehingga akan muncul ketentraman dan perasaan tenang pada hati.[7]

Begitu banyak manfaat dari mendengar murattal Al-Qur’an yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Melalui Al Qur’an pula, kita dapat mendekatkan diri pada Allah, mempertebal iman dan memunculkan ketaqwaan. Demikian pula jalan keluar dan penyelesaian terbaik dari semua masalah yang di hadapi seorang manusia adalah dengan bertakwa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. ath-Thalaaq:2-3).

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” (QS. ath-Thalaaq:4).

Berbagai fakta dari hasil penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai suatu penawar dalam mengatasi berbagai masalah hati manusia seperti gangguan depresi. Alangkah baiknya kita melakukan suatu koreksi diri, sudah dekatkah kita dengan Al-Qur’an yang merupakan suatu petunjuk nyata dengan berbagai manfaatnya?

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2010. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Binarupa Aksara, Tangerang, Indonesi
  2. Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. 2011. Al Ighatsatul Lahfan. Al Qowam, Surakarta.
  3. Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. 2013. Al Jawabul Kafi, Solusi Qur’ani dalam Mengatasi Masalah Hati. Al Qowam, Surakarta.
  4. Salim SA. 2012. Ensiklopedi Pengobatan Islam. Pustaka Arafah, Surakarta.
  5. Wahyuni NA, Purwaningsih W. Perbedaan Efektifitas Terapi Musik Klasik dan Terapi Musik Murattal terhadap Perkembangan Kognitif Anak Autis di SLB Autis di Kota Surakarta. Gaster:1-10.
  6. Mueller PS, Plevak DJ, Rummans TA. 2001. Religious Involvement, Spirituality, and Medicine: Implications for Clinical Practice. Mayo Foundation for Medical Education and Research. 76: 1-11.
  7. Shaw G.L. 2000. Keeping Mozart in Mind. Academy Press, San Diego: California.

Hakikat Bid’ah menurut Muallim Syafii Hadzami

Hingga kini perkara bid’ah masih saja diperselisihkan. Baik dalam teori maupun praktiknya. Sebagian orang menganggap bid’ah sebagai sesuatu yang salah dan harus diluruskan. Dan sebagian yang lain memposisikan bid’ah sebagai suatu kreatifitas yang dibolehkan selama tidak menerjang rambu-rambu al-Qur’an dan as-sunnah.

Mengenai perkara bid’ah ini Muallim Syafi’i Hadzami ulama Betawi menerangkan dengan cukup panjang dalam bukunya Taudhihul Adillah juz tiga. Muallim Syafi’i memulai tulisannya dengan menukil perkataan As-Syatibi dalam kitabnya al-I’tisham begini kalimatnya:

أصل مادة بدع للاختراع على غير مثال سابق ومنه قوله تعالى بديع السموات والأرض اى مخترعهما من غير مثال سابق وقوله تعالى قل ما كنت بدعا من الرسل اى ما كنت اول من جاء بالرسالة من الله الى العباد بل تقدمنى كثير من الرسل ويقال ابتدع فلان بدعة اذا ابتداْ طريقة لم يسبق اليها. وهذا امر بديع يقال فى الشيئ المستحسن الذى لا مثل له فى الحسن.

Kata bada’a pada mulanya menunjukkan arti mengada-adakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Seperti dalam firman Allah ‘بديع السموات والأرض’ (Allah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi) maksudnya Dialah Allah yang mengadakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya. Begitu pula firman-Nya dalam ayat ‘قل ما كنت بدعا من الرسل’(katakanlah Muhammad “bukanlah aku ini Rasul yang diutus mula-mula/pertama kali) maksudnya bahkan sebelumku (Muhammad) telah banyak Rasul yang diutus Allah swt.Ddalam bahasa Arab kata bid’ah juga sering digunakan seperti kalimat ‘ إبتدع فلان بدعة’ (si fulan telah merintis satu jalan yang belum pernah didahului orang lain). Atau juga dalam kalimat ‘هذا أمر بديع’ (ini adalah perkara yang indah) yaitu perkara yang indah dan belum pernah ada tandingannya.

Demikian Muallim Syafi’i Hadzami memulai keterangan tentang arti bid’ah dari sisi kebahasaan. Karena kata bid’ah itu berasal dari bahasa Arab maka yang menjadi rujukan juga penggunaan kata tersebut dalam keseharian masyarakat Arab. Selanjutnya dijabarkan bahwa kata bid’ah digunakan untuk menunjuk suatu hasil atu karya.  Sedangkan proses pekerjaannya (berkreasi) dikatkan ibda’.

Dengan demikian bid’ah merupakan hasil pekerjaan yang bisa terkena hukum, bukan hukum itu sendiri. Karena pada hakikatnya hukum syar’i itu cuma lima yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Tidak ada bid’ah di dalamnya. Jadi sangat tidak tepat jika dikatakan “yang begini atau begitu hukumnya bid’ah”. Intinya keterangan ini menegaskan bahwa bid’ah bukanlah termasuk hukum syar’i.

Adapun secara istilah Muallim Syafi’i Hadzami memberi pemahaman bid’ah sebagaimana dipergunakan dan difahami kebanyakan orang Indonesia sebagai suatu amalan yang tidak ada dalil syara’nya. Bid’ah biasa dijadikan pembanding dengan sunnah yaitu sesuatu yang ada dalil syar’inya.

Selanjutnya Muallim Syafi’i Hadzami menjelaskan rincian macam bid’ah dengan diawali pendapat Imam Syafi’i katanya

البدعة بدعتان بدعة محمودة و بدعة مذمومة فما وافق السنة فهو محمود وماخالفها فهو مذموم

Bida’ah itu ada dua macam. Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Maka mana-mana yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji, dan mana-mana yang menyalahinya itulah yang tercela

Ini merupakan dalil pertama yang digunakan oleh Muallim Syafi’i Hadzami menunjukkan adanya dua macam bid’ah. Penunjukan dalil ini tidaklah sembarangan, mengingat otoritas Imam Syafi’i sebagai salah satu peletak dasar madzhab syafi’i yang telah diakui secara mufakat hasil ijtihadnya.

Guna menguatkan dan menjelaskan rincian bid’ah ini, Muallim Syafi’i Hadzami mengambil satu pendapat lagi dari Al-Baihaqi sebagaimana tersebut dalam manakibnya:

المحدثات ضربان ما احدث يخالف كتابا اوسنة او اثرا او اجماعا فهذه بدعة الضلالة وما احدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه بدعة غير مذمومة

Segala yang diadakan itu ada dua macam. Sesuatu yang diadakan padahal menyalahi kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijma’ maka inilah bid’ah yang sesat. Sedangkan apa-apa yang baik yang  diadakan yang tidak bertentangan dengan tersebut (kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijma’) maka itulah bid’ah yang tidak tercela.

Sampai di sini semakin jelas bahwa pemahaman tentang bid’ah sebagai sesuatu kreasi baru tidaklah sesederhana pemahaman hitam dan putih. Karena tidak semua yang baru itu dapat dianggap sesat. Mengingat banyak hal-hal baru yang tidak ada di zaman Rasulullah saw juga baik.

Dalam rangka menklasifikasikan bid’ah Muallim Syafi’i Hadzami memperjelas dengan pendapat Al-Hadidi dalam Syarah Nahjul Balaghah menyatakan yang artinya demikian “lafald bid’ah dipakai untuk dua pengertian. Salah satunya yang untuk menunjukkan sesuatu yang melanggar al-Qur’an dan as-sunnah semisal puasa di hari idul adha ataupu pada hari-hari tasyriq. Karena puasa pada hari-hari tersebut dilarang. Pengertian kedua, kata bid’ah digunakan untuk menunjuk sesuatu pekerjaan yang dilakukan tanpa dasar nash, namun syara’ membiakannya. Dan kemudian biasa dilakukan oang-orang Islam setelah wafatnya Rasulullah saw. Adapun hadits yang berbunyi “ كل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار “ setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan masuk neraka dapat diperuntukkan terhadap makna bid’ah yang pertama. Sedangkan perkataan sayyidina Umar as. Sehubungan dengan shalat tarawih berjama’ah yang berbunyi “ إنها لبدعة ونعمت البدعة هي  “ sesungguhnya yang demikian ini bid’ah dan inilah sebaik-baik bid’ah. Dapat diaterapkan pada pemahaman makna bid’ah yang kedua.

Demikianlah pendapat Muallim Syafi’i Hadzami mengenai arti bid’ah sebagaimana diterbitkan dalam bukunya Taudhihul Adillah jilid ke III. Sesungguhnya pengambilan berbagai rujukan ini merupakan bukti betapa luasnya pengetahuan agama Muallim Syafi’i di satu sisi. Dan pada sisi lain menunjukkan ketawadhu’annya sebagai seorang alim yang tidak mau menunjukkan pendapat sendiri selagi masih ada rujukan para ulama.

 

Sumber : http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,11-id,57292-lang,id-c,syariah-t,Hakikat+Bid+ah+menurut+Muallim+Syafii+Hadzami-.phpx