BIDAYATUL HIDAYAH #4 : NIAT MENUNTUT ILMU

اَمَّا بَعْدُ فَاعْلَمْ اَيُّهَا الْحَرِيْصُ الْمُقْبِلُ عَلَى اقْتِبَاسِ الْعِلْمِ الْمُظْهِرُ مِنْ نَفْسِهِ صِدْقَ الرَّغْبَةِ وَ فَرَطَ التَّعَطُّسِ اِلَيْهِ

Adapun setelah basamalah, hamdalah, shalawat dan salam kepada baginda Nabi Muhammad saw, keluarga dan sahabat beliau, maka ketahuilah wahai orang yang sangat tertarik menuntut ilmu, yang menunjukkan dirinya benar-benar ingin dan sangat haus terhadap ilmu,

أَنَّكَ اِنْ كُنْتَ تَقْصِدُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ الْمُنَافَسَةَ وَ الْمُبَاهَاتِ وَ التَّقَدُّمَ عَلَى الْأَقْرَانِ وَ اسْتِمَالَةَ وُجُوْهِ النَّاسِ اِلَيْكَ وَ جَمْعَ حِطَامِ الدُّنْيَا فَاَنْتَ سَاعٍ فِيْ هَدَمِ دِيْنِكَ وَ اِهْلَاكِ نَفْسِكَ وَ بَيْعِ اٰخِرَتِكَ بِدُنْيَاكَ

Sungguh apabila dengan menuntut ilmu engkau bermaksud bersaing, membanggakan diri, mengungguli teman-teman, menarik perhatian manusia dan mengumpulkan harta benda dunia, maka engkau sedang bergerak meruntuhkan agamamu, membinasakan dirimu sendiri dan menjual akhiratmu dengan dibayar dunia,

فَصَفَقَتُكَ خَاسِرَةٌ وَ تِجَارَتُكَ بَائِرَةٌ وَ مُعَلِّمُكَ مُعِيْنٌ لَك عَلٰى عِصْيَانِكَ وَ شَرِيْكٌ لَكَ فِيْ خُسْرَانِكَ وَ هُوَ كَبَائِعِ سَيْفٍ مِنْ قَاطِعِ طَرِيْقٍ كَمَا قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ أَعَانَ عَلٰى مَعْصِيَةٍ وَ لَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ كَانَ شَرِيْكًا لَهُ فِيْهَا

maka transaksimu merugi, perdaganganmu bangkrut, pengajarmu adalah penolong kedurhakaanmu serta partnermu dalam kerugianmu sambil ia seperti orang yang menjual pedang kepada begal sebagaimana Baginda Nabi Muhammad saw bersabda “Siapapun yang menolong kedurhakaan walau dengan sepotong kalimat maka ia adalah partner baginya dalam kedurhakaan itu”

 

Penjelasan singkat :

Setelah membuka dengan basmalah, hamdalah, shalawat, Imam Al-Ghazali qs mengingatkan penuntut ilmu tentang niatnya. Niat sangat menentukan sebagaimana disabdakan Baginda Nabi Muhammad saw,

اِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ اِنَّمَا لِكُلِّ امْرِءٍ مَا نَوَى

“Sungguh amal itu dengan niat dan sungguh setiap manusia akan mendapatkan apa yang diniatkannya”

Pada bagian pertama disinggung contoh niat yang perlu dihindari :

  • Bersaing
  • Berbangga diri
  • Mengungguli yang lain
  • Menarik perhatian orang
  • Mengumpulkan harta benda dunia

Mereka yang menuntut ilmu dengan niat tersebut, akan dipandang sedang :

  • Menghancurkan agama
  • Membinasakan diri sendiri
  • Menjual akhirat dengan dibayar dunia

Dalam hadits diriwayatkan :

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يُكَاثِرَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ يُصَرِّفَ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Siapapun yang menuntut ilmu untuk berdebat dengan orang bodoh atau untuk bersaing dengan para ulama atau untuk menarik perhatian manusia, maka ia akan mendiami tempatnya di neraka” (HR At-Tirmidzi)

Pada hadits lain diungkapkan :

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللهِ تَعَالٰى لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيْبَ بِهِ عَرْضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapapun yang belajar ilmu yang dengannya dicari ridha Allah Ta’ala, (tapi) ia tidak mempelajarinya melainkan karena ingin memperoleh harta benda dunia, maka ia tidak akan menemukan wangi surga pada hari kiamat” (HR Abu Dawud)

 

Kemudian Imam Al-Ghazali melanjutkan :

وَ اِنْ كَانَتْ نِيَّتُكَ وَ قَصْدُكَ بَيْنَكَ وَ بَيْنَ اللهِ تَعَالٰى مِنْ طَلَبِ الْعِلْمِ الْهِدَايَةَ دُوْنَ مُجَرَّدِ الرِوَايَةِ فَاَبْشِرْ فَاِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَبْسُطُ لَكَ اَجْنِحَتَهَا اِذَا مَشَيْتَ وَ حِيْتَانَ الْبَحْرِ تَسْتَغْفِرُ لَكَ اِذَا سَعَيْتَ

Dan bila niat dan maksudmu antara dirimu dan Allah dari menuntut ilmu adalah hidayah bukan sekedar meriwayatkan, maka berbahagialah sebab sungguh malaikat merentangkan sayap-sayapnya bagimu ketika kamu pergi (menuntut ilmu) dan ikan-ikan di lautan memohonkan ampun bagimu ketika kamu pergi (menuntut ilmu).

 

Penjelasan singkat :

Imam Al-Ghazali qs mengambarkan seorang penuntut ilmu benar dan baik niatnya sebagai orang yang berniat mendapatkan hidayah (petunjuk). Mereka yang memiliki niat yang benar ini di antaranya akan mendapatkan anugerah dibantu dan dilindungi para malaikat karena ridha. Orang yang berilmu akan dido’akan ikan di lautan bahkan oleh makhluk di langit dan di bumi agar mendapatkan ampunan. Hal ini diriwayatkan dalam hadits :

اِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ

“Sungguh para malaikat pasti meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap pekerjaannya” (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

يَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَا فِي السَّمٰوَاتِ وَ الْأَرْضِ

Makhluk di langit dan di bumi memohonkan ampun bagi orang yang berilmu (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

 

Sumber : http://www.kmnu.or.id/konten-403-bidayatul-hidayah-4–niat-menuntut-ilmu.html

Akhlak Terhadap Orang Yang Lebih Tua

AKHLAK TERHADAP ORANG YANG LEBIH TUA

Akhlaq yang di perintahkan oleh Islam dalam menghormati seseorang yang lebih tua adalah,

  1. Penghormatan

Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bukanlah dari kami siapa yang tidak menghormati yang tua, dan tidak menyanyangi yang muda” .(Hr. Tirmdizi).

Di dalam hadist ini terdapat  kalimat yang besar maknanya dimana orang tua harus di hormati dan disayangi, karena menghormati orang yang lebih tua adalah hak mereka . Dan penghormatan yang lebih muda terhadap yang lebih tua adalah akhlak yang paling di tekankan dalam hal ini.

  1. Memuliakan

Nabi Shallahu alai wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk dalam penganggungan terhadap Allah adalah memuliakan seorang muslim yang telah tua”. (HR. Abu Dawud, di hasankan oleh Sheikh Al Albani)

Kata “memuliakan” disini maknanya adalah berbicara dengan baik dan sopan kepadanya, juga memperlembut muamalah terhadapnya, dan akhlak akhlak baik lainnya yang patut di berikan kepada yang lebih tua.

  1. Memulai mengucapkan salam kepadanya

Rasulullah bersabda,

يسلم الصغير على الكبير، و الراكب على الماشي. رواه البخاري

“Yang lebih kecil memberikan salam kepada yang lebih tua, dan orang yang memakai kendaraan memberikan salam kepada yang berjalan kaki”. (HR. Bukhari).

Maka jika kamu bertemu seorang yang lebih tua darimu maka janganlah menunggu mereka memberi salam kepadamu, justru yang lebih muda harus segera memberikan salam kepadanya dengan penuh penghormatan, adab yang baik, serta kelembutan.

Juga  seorang yang lebih muda harus bisa melihat kondisi seseorang yang lebih tua darinya, jika orangtua ini mempunyai pendengaran yang baik maka ucapkanlah salam dengan suara yang dapat dia dengar tanpa menganggunya, dan jika orangtua tersebut telah lemah pendengarannya maka seseorang yang lebih muda harus memberikan salam sesuai dengan kondisi orang tua tersebut.

  1. Jika engkau berbicara kepadanya maka panggilah dengan panggilan yang lembut.

Panggilah orang yang lebih tua darimu dengan sebut sebutan yang sopan, seperti Paman, Kakak, Abang atau yang semisalnya, dalam rangka penghormatan terhadap mereka.

Di riwayatkan dari Abi Umamah bin Sahl, dia berkata, “ Kami pernah sholat dzuhur bersama Umar bin Abdul Aziz kemudian kami keluar, kemudian kami masuk lagi kedalam masjid,lalu kami melihat Anas bin Malik sedang sholat asar, maka aku berkata, “ Wahai Paman, Shlolat apa yang kau kerjakan?”, dia berkata, “ Sholat Asar, dan ini adalah sholatnya Rasulullah yang dulu kami sholat bersamanya”. (HR. Bukhari)

Di riwayatkan dari jalan Abdurahman bin Auf, dia berkata, “ Aku pernah berdiri di barisan pada saat perang badr, kemudian aku melihat sebelah ke kanan dan kiriku, aku mendapati ada dua orang anak kecil dari kaum Ansor,  Mereka masih sangat muda, dan aku berharap bisa lebih kuat dari mereka,  lalu satu dari mereka memanggilku, “ Wahai Paman, apakah engkau tahu yang mana Abu Jahl?”, Aku berkata, “iya, aku tahu apa yang kau inginkan darinya?”, anak itu berkata, “Aku di kabarkan bahwa dia menghina Rasulullah, Aku bersumpah dengan Dzat yang jiwa aku ada ditanganNya, jika aku bertemu dengannya maka aku tidak akan melepaskannya samapai ada di salah satu dari kami yang mati dahulu”. (HR. Bukhari)

Dari dua hadist diatas, kita dapatkan bahwa yang lebih muda memanggil orang yang lebih tua darinya dengan sebutan yang baik dan sopan.

  1. Mendahuluinya di segala hal yang baik

Termasuk akhlaq yang baik adalah mendahulukan orangtua dalam berbicara, memberikan tempat kepadanya di dalam majelis, mendahulukan memberi makan kepada orangtua, dan ini termasuk hak hak mereka.

Di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitabnya, bahwasanya  Abdurahman bin Sahl serta Muhiyisoh dan Huwayisoh pergi menemui Nabi Shallahu Alaihi wa sallam, kemudian setelah sampai ke pada Nabi, berbicaralah yang paling muda diantara mereka yaitu Abdurahman bin Sahl, , maka Nabi Muhammad Shallahu Alahi wa Sallam memotong perkataanya seraya berkata, “yang tua dulu yang berbicara”, maksudnya adalah Muhiyisoh dan Huwayisoh.

  1. Merawatnya

Sudah kita ketahui bahwa seseorang yang telah tua, maka akan lemah badannya, akan lemah penglihatannya serta pendengarannya dan lain lain. Oleh sebab itu kita harus selalu benar benar merawat mereka, karena kelak kitapun akan berada di masa yang mereka rasakan sekarang.

Allah berfirman,

للَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِير (الروم:54)

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Ar- Rum 54)

Juga Allah berfirman,

Dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun.  (QS. Al Haj:5)

Dari ayat tadi kita dapatkan bahwa merupakan hak orangtua atas yang lebih muda adalah mengetahui tentang kesehatannya, kemudian merawatnya. Bahkan sebagian orangtua karena badannya yang melemah, serta kemampuan otaknya pun menurun akhirnya menjadikan dia seperti anak  yang masih kecil.

Maka jika seseorang tidak mengetahui tentang masalah kesehatan dan lemahnya seseorang yang telah tua maka dia akan tidak sabar dalam mengurusnya, akan  buruk muamalahnya, dikarena dia tidak merasakan apa yang dialami seorang yang telah menua. Lain halnya jika seseorang merasakan atau membayangkan dirinya seperti orangtua yang lemah, serta mengetahui bahwa merawatnya adalah hak mereka atas kita, maka diapun akan mengurusnya dengan sebaik baiknya.

Dan juga yang menjadi perhatian,adalah seorang anak yang awalnya selalu berbuat baik kepada orangtua serta menjaganya kemudian berubah menjadi buruk muamalahnya, tak sabar menjaga orangtuanya, bahkan sampai mengirim orangtuanya ke panti jompo, bahkan mungkin sampai tidak menjenguknya  walaupun sekali, walaupun di hari hari lebaran.

Jika anak ini di tanya apakah dia ingin diperlakukan seperti itu oleh anaknya pada saat dia tua nanti, tentu jawabannya tidak, tidak ada manusia yang ridho diperlakukan seperti itu.

Rasulullah bersabda,

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ ا خْآلِرِوَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Barang siapa ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah saat kematian mendatanginya ia dalam keadaan beriman kepada Allahl dan hari akhir, hendaknya pula dia mempergauli manusia dengan sikap yang dia senang untuk diperlakukan terhadap dirinya.” (HR. Muslim)

  1. Mendoakannya

Mendokan orang tua, untuk dipanjangkan umurnya dalam ketaatan kepada Allah, juga doakan mereka di beri taufiq dalam beramal sholih, serta senantiasa dalam naungan Allah, juga meminta kepada Allah agar mereka dipakaikan pakain kesehatan, diberikan husnul khotimah, dan dijadikan golongan orang yang berada di dalam hadist Nabi ,

“Sebaik baiknya manusia adalah yang panjang umurnya serta baik amalnya” (HR. Ahmad)

Diceritakan bahwa Sulaiman bin Abdul Malik menemui orang tua yang ada di dalam masjid, kemudian bertanya kepadanya, “Wahai Fulan, sekarang kau sudah tua, apakah kau ingin mati saja?, Orang tua itu menjawab, “Tidak”, Kenapa? Tanya Sulaiman. “Telah pergi masa mudaku dan keburukan di dalamnya, dan datang masa tua dan kebaikannya, aku jika ingin bangun dari tempat dudukku, aku berkata Bismillah, jika aku duduk aku katakan Alhamdulillah, maka aku lebih suka keadaan seperti ini”.

Orang tua ini lebih ingin kehidupannya berlangsung seperti masa tuanya yang di penuhi dzikir dan syukur, dari pada masa muda yang banyak akan syahwat dan buang buang waktu.

  1. Tidak ada yang dapat membalas kebaikannya

Di bab terakhir ini setelah kita berbicara tentang akhlak kepada yang lebih tua secara umum, maka sekarang kita masuk ke bab yang lebih khusus, yaitu tentang orang tua kita sendiri.

Tak ada satupun yang dapat membalas kebaikannya, Rasulullah pernah bersabda, “tidak akan bisa seorang anak membalas budi orangtuanya, kecuali jika ia mendapati orangtua menjadi budak kemudian memerdekannya” .

Juga cerita dari Ibnu Umar bahwasannya ada seseorang tawaf di sekeliling ka’bah sambil menggendong ibunya, maka orang itu berkata, “wahai Ibnu Umar, lihatkah engkau apa yang aku lakukan? Maka apakah aku telah membalas budinya?”.

Ibnu umar menjawab, “ Tidak, walau satu hembusan nafasnya”.

Dan ini adalah beberapa akhlak seorang muslim kepada yang lebih, dan beberapa peringatan akan pentingnya hal ini.

Semoga Allah memberkahi para orangtua kaum muslimin, serta memberikan kepada kita semua taufiq untuk berbuat baik kepada mereka.

Refrensi:

  1. Buku Huquq Kibar Sin, penulis Sheikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al Abbad.

 Diterjemahkan bebas oleh Muhammad Khalid Syar’i.

 

Sumber : http://www.masjidalfattah.com/akhlak-terhadap-orang-yang-lebih-tua/
Gambar : http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2013/10/patuh-pada-orang-tua.jpg

CINTA BUKANLAH DISALURKAN LEWAT PACARAN

Cinta kepada lain jenis merupakan hal yang fitrah bagi manusia. Karena sebab cintalah, keberlangsungan hidup manusia bisa terjaga. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan kenikmatan bagi penghuni surga. Islam sebagai agama yang sempurna juga telah mengatur bagaimana menyalurkan fitrah cinta tersebut dalam syariatnya yang rahmatan lil ‘alamin. Namun, bagaimanakah jika cinta itu disalurkan melalui cara yang tidak syar`i? Fenomena itulah yang melanda hampir sebagian besar anak muda saat ini. Penyaluran cinta ala mereka biasa disebut dengan pacaran. Berikut adalah beberapa tinjauan syari’at Islam mengenai pacaran.

Ajaran Islam Melarang Mendekati Zina

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)
Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang. Asy Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan, ”Apabila perantara kepada sesuatu saja dilarang, tentu saja tujuannya juga haram dilihat dari maksud pembicaraan.”

Dilihat dari perkataan Asy Syaukani ini, maka kita dapat simpulkan bahwa setiap jalan (perantara) menuju zina adalah suatu yang terlarang. Ini berarti memandang, berjabat tangan, berduaan dan bentuk perbuatan lain yang dilakukan dengan lawan jenis karena hal itu sebagai perantara kepada zina adalah suatu hal yang terlarang.

Islam Memerintahkan untuk Menundukkan Pandangan

Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis. AllahTa’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada laki–laki yang beriman : ”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24]: 30 )
Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman, “Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24]: 31)

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat pertama di atas mengatakan, ”Ayat ini merupakan perintah Allah Ta’alakepada hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang haram. Janganlah mereka melihat kecuali pada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat (yaitu pada istri dan mahromnya). Hendaklah mereka juga menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram. Jika memang mereka tiba-tiba melihat sesuatu yang haram itu dengan tidak sengaja, maka hendaklah mereka memalingkan pandangannya dengan segera.”

Ketika menafsirkan ayat kedua di atas, Ibnu Katsir juga mengatakan, ”Firman Allah (yang artinya) ‘katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka’ yaitu hendaklah mereka menundukkannya dari apa yang Allah haramkan dengan melihat kepada orang lain selain suaminya. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak boleh seorang wanita melihat laki-laki lain (selain suami atau mahromnya, pen) baik dengan syahwat dan tanpa syahwat. … Sebagian ulama lainnya berpendapat tentang bolehnya melihat laki-laki lain dengan tanpa syahwat.”

Lalu bagaimana jika kita tidak sengaja memandang lawan jenis?
Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770)

Faedah dari menundukkan pandangan, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat An Nur ayat 30 (yang artinya) “yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka” yaitu dengan menundukkan pandangan akan lebih membersihkan hati dan lebih menjaga agama orang-orang yang beriman. Inilah yang dikatakan oleh Ibnu Katsir –semoga Allah merahmati beliau- ketika menafsirkan ayat ini. –Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menundukkan pandangan sehingga hati dan agama kita selalu terjaga kesuciannya-

Agama Islam Melarang Berduaan dengan Lawan Jenis

Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.” (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi)

Jabat Tangan dengan Lawan Jenis Termasuk yang Dilarang

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Jika kita melihat pada hadits di atas, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau mahrom- diistilahkan dengan berzina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaedah ushul “apabila sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah haram”. (Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Juda’i)

Meninjau Fenomena Pacaran

Setelah pemaparan kami di atas, jika kita meninjau fenomena pacaran saat ini pasti ada perbuatan-perbuatan yang dilarang di atas. Kita dapat melihat bahwa bentuk pacaran bisa mendekati zina. Semula diawali dengan pandangan mata terlebih dahulu. Lalu pandangan itu mengendap di hati. Kemudian timbul hasrat untuk jalan berdua. Lalu berani berdua-duan di tempat yang sepi. Setelah itu bersentuhan dengan pasangan. Lalu dilanjutkan dengan ciuman. Akhirnya, sebagai pembuktian cinta dibuktikan dengan berzina. –Naudzu billahi min dzalik-. Lalu pintu mana lagi paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran?!

Mungkinkah ada pacaran Islami? Sungguh, pacaran yang dilakukan saat ini bahkan yang dilabeli dengan ’pacaran Islami’ tidak mungkin bisa terhindar dari larangan-larangan di atas. Renungkanlah hal ini!

Mustahil Ada Pacaran Islami

Salah seorang dai terkemuka pernah ditanya, ”Ngomong-ngomong, dulu bapak dengan ibu, maksudnya sebelum nikah, apa sempat berpacaran?”
Dengan diplomatis, si dai menjawab,”Pacaran seperti apa dulu? Kami dulu juga berpacaran, tapi berpacaran secara Islami. Lho, gimana caranya? Kami juga sering berjalan-jalan ke tempat rekreasi, tapi tak pernah ngumpet berduaan. Kami juga gak pernah melakukan yang enggak-enggak, ciuman, pelukan, apalagi –wal ‘iyyadzubillah– berzina.

Nuansa berpikir seperti itu, tampaknya bukan hanya milik si dai. Banyak kalangan kaum muslimin yang masih berpandangan, bahwa pacaran itu sah-sah saja, asalkan tetap menjaga diri masing-masing. Ungkapan itu ibarat kalimat, “Mandi boleh, asal jangan basah.” Ungkapan yang hakikatnya tidak berwujud. Karena berpacaran itu sendiri, dalam makna apapun yang dipahami orang-orang sekarang ini, tidaklah dibenarkan dalam Islam. Kecuali kalau sekedar melakukan nadzar (melihat calon istri sebelum dinikahi, dengan didampingi mahramnya), itu dianggap sebagai pacaran. Atau setidaknya, diistilahkan demikian. Namun itu sungguh merupakan perancuan istilah. Istilah pacaran sudah kadong dipahami sebagai hubungan lebih intim antara sepasang kekasih, yang diaplikasikan dengan jalan bareng, jalan-jalan, saling berkirim surat, ber SMS ria, dan berbagai hal lain, yang jelas-jelas disisipi oleh banyak hal-hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, dan banyak hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat. Bila kemudian ada istilah pacaran yang Islami, sama halnya dengan memaksakan adanya istilah, meneggak minuman keras yang Islami. Mungkin, karena minuman keras itu di tenggak di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Kalaupun ada aktivitas tertentu yang halal, kemudian di labeli nama-nama perbuatan haram tersebut, jelas terlalu dipaksakan, dan sama sekali tidak bermanfaat.

Pacaran Terbaik adalah Setelah Nikah

Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam Islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)
Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.”

 

Sumber : http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/cinta-bukanlah-disalurkan-lewat-pacaran
Gambar :  http://1.bp.blogspot.com/-3lcc7SMSbQs/VGDcYprneWI/AAAAAAAAE3U/TuFe19KwYSg/s1600/Pacaran%2BDalam%2BPandangan%2BIslam.png

Kajian Etika Epidemiologi dan Islam Terhadap Petugas Kesehatan Rumah Sakit

Dikutip dari kajian yang di lansir  z-ismah.blogspot.co.id.

Salah satu syarat berdirinya rumah sakit adalah adanya sumber daya manusia yang mengisi organisasi rumah sakit. Sumber daya manusia rumah sakit berdasarkan UU No 44 Tahun 2009 adalah tenaga medis dan penunjang medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga manajemen Rumah Sakit, dan tenaga nonkesehatan. Setiap sumber daya rumah sakit yang tergolong sebuah profesi pasti memiliki sebuah kode etik yang harus dianut oleh anggota profesi.

Permasalahan penolakan bayi dirumah sakit bukan hanya masalah etika oknum rumah sakit saja tetapi juga etika dari petugas pelayanan kesehatan terkait dengan kewajiban profesi kepada masyarakat/kliennya. Kewajiban ini dapat berupa bersikap tulus, ikhlas, jujur, dan menggunakan semua ilmu dan kompetensinya untuk kepentingan klien atau masyarakat. Petugas kesehatan diminta memberikan informasi yang benar dan jujur terhadap apa yang sedang terjadi di Rumah Sakit (truth).

Jika petugas kesehatan mengatakan hal yang jujur dan benar kepada orang tua/keluarga pasien maka dimungkinkan keluarga pasien dapat mempercayai itu dan rumah sakit tidak mendapatkanblacklist terhadap apa yang terjadi (benefit). Tetapi menjadi sebuah kontradiksi bagi petugas kesehatan bahwa petugas kesehatan menyatakan hal yang jujur kepada keluarga pasien terkait informasi yang dibutuhkan tetapi sistem di organisasi yang membentuk sebuah informasi yang keliru/salah dan petugas kesehatan menjadi turun pangkat atau kehilangan pekerjaan(risk).

Petugas kesehatan diwajibkan menjadi pribadi yang profesional tetapi juga dituntut sebagai manusia yang berakhlak mulia. Islam mengajarkan pada manusia untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan profesional (Muslim,2010). Kriteria pribadi yang berakhlak mulia dan profesional adalah

  1. Tawadhu

“…. Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (QS An-Najm:34).

  1. Jujur

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS At-Taubah:119).

  1. Penyayang

 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu….” (QS: Ali Imran:159)

  1. Adil

 “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS:An-Nahl:90)

  1. Kerja sama dan suka bergaul

    “… dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…”(QS Al Maidah:2)

  1. Santun

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. 35. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai Keuntungan yang besar” (QS Fushilat:34-35).

  1. Memperdalam kedokteran bidang agama
  2. Memiliki rasa malu
  3. Mengutamakan kepentingan pasien
  4. Berlaku adil antara profesi, keluarga dan agama

 

Sumber : http://z-ismah.blogspot.co.id/2015/08/kajian-etika-epidemiologi-dan-islam.html

Hikmah Wudhu Bagi Kesehatan

Wudhu merupakan salah satu cara yang diajarkan dalam Islam untuk menjaga kesucian tubuh yang secara khusus dilaksanakan sebelum menjalankan ibadah-ibadah tertentu, seperti shalat, berzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an dan lain-lain. Juga secara umum bisa dilakukan sebelum mengerjakan aktifitas-aktifitas lain, seperti tidur, bekerja, belajar, perjalanan dan lain sebagainya. Pengertian wudhu secara garis besar adalah membersihkan atau menyucikan diri dari segala kotoran dan najis yang dimulai dari membasuh muka (disertai niat) dan diakhiri dengan membasuh kedua kaki.

Adapun perintah untuk berwudhu dijelaskan dalam Al-Qur’an pada surat Al-Maidah ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…”. Juga dijelaskan dalam hadits Rasulullah saw., “Barang siapa yang wudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rakaat tanpa membisikkan sesuatu ke dalam hatinya (khusyu’) selama shalat dua rakaat itu, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai salah satu ajaran Islam, wudhu mengandung banyak hikmah dan manfaat seperti yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan hadits. Dan, di antara manfaat wudhu adalah anggota yang dibasuh dalam wudhu akan bercahaya pada hari kiamat, dapat menghapuskan dosa-dosa dan lain sebagainya. Selain manfaat-manfaat tersebut, para ilmuwan modern telah menyelidiki berbagai manfaat ilmiah wudhu bagi tubuh orang yang melaksanakannya.

Berdasarkan penelitian-penelitian modern, wudhu sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Mokhtar Salem dalam bukunya Prayers; a Sport for the Body and Soul, menjelaskan bahwa wudhu bisa mencegah penyakit kanker kulit. Jenis kanker ini lebih banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Cara paling efektif menghilangkan resiko ini adalah membersihkannya secara rutin. Berwudhu 5 kali dalam sehari merupakan antisipasi yang lebih dari cukup.

Dr. Ahmad Syauqi Ibrahim, anggota Ikatan Dokter Kerajaan Arab Saudi di London serta Penasehat penderita penyakit dalam dan penyakit jantung, mengatakan, “Para Pakar berkesimpulan bahwa mencelupkan anggota tubuh ke dalam air (atau mengalirkan air) akan bisa mengembalikan tubuh yang lemah menjadi kuat, mengurangi kekejangan, menjadikan rileks saraf-saraf otot, serta hilangnya kenaikan detak jantung, nyeri-nyeri otot, kecemasan, dan insomnia (susah tidur)”.

Pada anggota tubuh yang diwajibkan dibasuh dalam wudhu, ternyata terdapat ratusan titik akupunktur yang bersifat reseptor terhadap stimulus berupa basuhan, gosokan, usapan, dan tekanan atau urutan ketika melakukan wudhu. Selain itu, dalam dunia medis dikenal adanya titik-titik aktif biologis atau Biological Active Spots(BASes) yang mirip dengan titik akupunktur China. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Magomedov, seorang Asisten pada Lembaga General Hygiene and Ecology di Daghestan State Medical Academy, didapatkan kesimpulan bahwa wudhu dapat menstimulasi irama tubuh secara alami. Hal ini terjadi karena pada anggota tubuh yang dibasuh ketika wudhu terdapat 61 titik dari 65 titik refleks China yang disebut dengan drastic point yang cukup dipijat atau diusap secara lembut untuk mengaktifkannya.

Stimulus yang diberikan pada titik-titik tersebut melalui sentuhan, usapan, dan guyuran air wudhu akan diantarkan melalui meridian ke sel, jaringan, organ, dan sistem organ yang bersifat terapi. Hal ini terjadi karena adanya sistem regulasi, yaitu sistem saraf dan hormone bekerja untuk mengadakan homeostansis (keseimbangan). Dari berbagai hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa wudhu dapat dikategorikan sebagai hidromassage atau pijat dengan memanfaatkan air sebagai media penyembuhan.

Suber : http://talimulquranalasror.blogspot.co.id/