Apakah DIA menerima?

Sholat ? Udah

Puasa ? Gak pernah bolong senin-kamis nya

Zakat ? Gak pernah kelewat kalo udah nyampek nisabnya

Haji ? InsyaAllah tahun depan, semoga sudah nggandeng istri *eh

 

Selama ini, sebagian dari kita terkadang hanya memikirkan untuk memperbanyak amalan tanpa terbesit pikiran tentang bagaimana nasib amalan-amalan tersebut. Apakah sholat yang telah kita kerjakan selama puluhan tahun ini diterima oleh Allah? Apakah puasa yang kita lakukan sebulan penuh dalam setiap tahun terhitung sebagai pahala di mata Allah? Dan apakah zakat yang kita keluarkan dapat memperberat timbangan amalan kita nanti di yaumul mizan?

“Dan Kami datang kepada amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.”

[QS. Al Furqan: 23]

 

Naudzubillah min dzalik…

 

Jangan sampai, sholat yang kita kerjakan hanya menjadi gerakan semata.

Jangan sampai, puasa yang kita lakukan hanya menjadi penahan lapar dan dahaga.

Jangan sampai, zakat yang kita keluarkan hanya menjadi ritual wajib setiap tiba waktunya.

Dan jangan sampai, haji yang merupakan amalan sholih yang agung hanya menjadi pengisi waktu liburan kita

-____________-

 

Jangan sampai, amalan yang telah kita perbuat tidak menghasilkan apa-apa alias kopong mlompong.

Bagai menanam tapi tidak memanen, JANGAN SAMPAI..

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Diterimanya suatu amalan berkaitan dengan melakukan sesuatu sesuai dengan yang diperintahkan. Setiap orang yang bertakwa pada Allah ketika ia beramal, maka ia akan melakukan sebagaimana yang diperintahkan. Akan tetapi, ia tidak bisa memastikan sendiri bahwa amalan yang ia lakukan diterima di sisi Allah karena ia tidak bisa memastikan bahwa amalan yang ia lakukan sudah sempurna.” [1]

Setiap dari kita memang tidak bisa memastikan apakah amalan yang telah kita lakukan selama ini diterima oleh Allah atau tidak, karena itu memang rahasia-Nya. Tapi bukankah kita selalu mengusahakan menanam biji yang terbaik untuk memanen hasil yang terbaik pula?

Syarat pokok diterimanya amalan seorang hamba ada dua, yaitu ikhlas dan ittiba’ [1,2]

 

Ikhlas

Sebuah kata sederhana namun sulit dilakukan. Terkadang bibir memang mengucap ikhlas, namun apakah hati sepadan dengannya?

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat dan sesungguhnya setiap orang itu mendapatkan balasan sesuai dengan yang diniatkannya.”

[Muttafaqun’alaihi]

            Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Bagaimana tidak mudah berubah, jika hati ini memang rapuh dan gampang terbolak-balikkan.  Syeitan, juga merupakan etiologi utama hati menjadi tidak ikhlas. Lalu bagaimana caranya?

Perbanyaklah do’a,, agar Allah lindungi kita dari godaan syeitan, agar niat kita lurus tak terbelokkan.

Sembunyikanlah amal sholih. Tak perlu kau umbar waktu ‘buka puasa’ mu di ig story, tak perlu kau upload foto menggunakan mukena yang masih menempel agar dunia tahu bahwa kamu telah mengerjakan sholat, tak perlu sekarang kau bilang ‘ikhlas’ tetapi nanti kau umbar ke semua orang bahwa kamu ikhlas.

 

Bukankah membuat tangan kiri tidak melihat ketika tangan kanan memberi itu tidak mudah?

Maka berusahalah….

 

Berusahalah mengerjakan sholat bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban,

Berusahalah melakukan puasa bukan hanya karena pemaksaan lingkungan

Berusahalah mengeluarkan zakat bukan karena ingin pujian

Dan berusahalah berangkat haji bukan karena ingin mendapat gelar sapaan (kalau ini sih jadi bintang iklan obat batuk juga bisa (fyi : iklan ‘batuk, pak haji’ itu loh) hmmm krik…

 

Ittiba’

Amalan yang kita lakukan hendaknya sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Tanpa mengurangi maupun menambahi.

“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[Qs. Ali Imran : 31]

            Agar kita tahu apakah amalan yang kita lakukan sudah sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, maka kita perlu ilmu bukan?

Sebuah kisah berasal dari Abu Burdah yang merupakan paman dari Al Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ

“Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang dimakan dagingnya, bukan kambing kurban).” (HR. Bukhari no. 955)

Dari kisah tersebut, tidakkah kalian lihat bagaimana dampak dari amalan yang kita lakukan jika tanpa dasar? Maka ikhwah, menimba ilmu agama itu perlu, dan masih sangat perlu hingga sampai kapan pun. Janganlah kita merasa puas dengan apa yang kita sudah pelajari sampai saat ini. Luangkan waktu untuk belajar ilmu agama, jangan belajar ilmu agama hanya di saat waktu luang !!!

 

Sudah berusaha ikhlas dan i’tiba rasanya kurang jika tidak ditambah dengan berdo’a. Nabi Ibarahim saja selalau berdoa agar amalan beliau diterima. Mengapa kita tidak??

“Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

[QS. Al-Baqarah: 127]

Berdo’alah, mintalah kepada Allah agar amalan yang telah, sedang, dan akan kita perbuat selama ini diterima oleh-Nya. Aaaamiiin …

 

—Jangan cuma berusaha agar dia mau menerima pinanganmu saja, tapi amalan juga perlu diperjuangkan agar Dia menerimanya—

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

+ forty seven = forty eight