Akhlak Terhadap Orang Yang Lebih Tua

AKHLAK TERHADAP ORANG YANG LEBIH TUA

Akhlaq yang di perintahkan oleh Islam dalam menghormati seseorang yang lebih tua adalah,

  1. Penghormatan

Nabi Muhammad Shallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bukanlah dari kami siapa yang tidak menghormati yang tua, dan tidak menyanyangi yang muda” .(Hr. Tirmdizi).

Di dalam hadist ini terdapat  kalimat yang besar maknanya dimana orang tua harus di hormati dan disayangi, karena menghormati orang yang lebih tua adalah hak mereka . Dan penghormatan yang lebih muda terhadap yang lebih tua adalah akhlak yang paling di tekankan dalam hal ini.

  1. Memuliakan

Nabi Shallahu alai wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk dalam penganggungan terhadap Allah adalah memuliakan seorang muslim yang telah tua”. (HR. Abu Dawud, di hasankan oleh Sheikh Al Albani)

Kata “memuliakan” disini maknanya adalah berbicara dengan baik dan sopan kepadanya, juga memperlembut muamalah terhadapnya, dan akhlak akhlak baik lainnya yang patut di berikan kepada yang lebih tua.

  1. Memulai mengucapkan salam kepadanya

Rasulullah bersabda,

يسلم الصغير على الكبير، و الراكب على الماشي. رواه البخاري

“Yang lebih kecil memberikan salam kepada yang lebih tua, dan orang yang memakai kendaraan memberikan salam kepada yang berjalan kaki”. (HR. Bukhari).

Maka jika kamu bertemu seorang yang lebih tua darimu maka janganlah menunggu mereka memberi salam kepadamu, justru yang lebih muda harus segera memberikan salam kepadanya dengan penuh penghormatan, adab yang baik, serta kelembutan.

Juga  seorang yang lebih muda harus bisa melihat kondisi seseorang yang lebih tua darinya, jika orangtua ini mempunyai pendengaran yang baik maka ucapkanlah salam dengan suara yang dapat dia dengar tanpa menganggunya, dan jika orangtua tersebut telah lemah pendengarannya maka seseorang yang lebih muda harus memberikan salam sesuai dengan kondisi orang tua tersebut.

  1. Jika engkau berbicara kepadanya maka panggilah dengan panggilan yang lembut.

Panggilah orang yang lebih tua darimu dengan sebut sebutan yang sopan, seperti Paman, Kakak, Abang atau yang semisalnya, dalam rangka penghormatan terhadap mereka.

Di riwayatkan dari Abi Umamah bin Sahl, dia berkata, “ Kami pernah sholat dzuhur bersama Umar bin Abdul Aziz kemudian kami keluar, kemudian kami masuk lagi kedalam masjid,lalu kami melihat Anas bin Malik sedang sholat asar, maka aku berkata, “ Wahai Paman, Shlolat apa yang kau kerjakan?”, dia berkata, “ Sholat Asar, dan ini adalah sholatnya Rasulullah yang dulu kami sholat bersamanya”. (HR. Bukhari)

Di riwayatkan dari jalan Abdurahman bin Auf, dia berkata, “ Aku pernah berdiri di barisan pada saat perang badr, kemudian aku melihat sebelah ke kanan dan kiriku, aku mendapati ada dua orang anak kecil dari kaum Ansor,  Mereka masih sangat muda, dan aku berharap bisa lebih kuat dari mereka,  lalu satu dari mereka memanggilku, “ Wahai Paman, apakah engkau tahu yang mana Abu Jahl?”, Aku berkata, “iya, aku tahu apa yang kau inginkan darinya?”, anak itu berkata, “Aku di kabarkan bahwa dia menghina Rasulullah, Aku bersumpah dengan Dzat yang jiwa aku ada ditanganNya, jika aku bertemu dengannya maka aku tidak akan melepaskannya samapai ada di salah satu dari kami yang mati dahulu”. (HR. Bukhari)

Dari dua hadist diatas, kita dapatkan bahwa yang lebih muda memanggil orang yang lebih tua darinya dengan sebutan yang baik dan sopan.

  1. Mendahuluinya di segala hal yang baik

Termasuk akhlaq yang baik adalah mendahulukan orangtua dalam berbicara, memberikan tempat kepadanya di dalam majelis, mendahulukan memberi makan kepada orangtua, dan ini termasuk hak hak mereka.

Di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitabnya, bahwasanya  Abdurahman bin Sahl serta Muhiyisoh dan Huwayisoh pergi menemui Nabi Shallahu Alaihi wa sallam, kemudian setelah sampai ke pada Nabi, berbicaralah yang paling muda diantara mereka yaitu Abdurahman bin Sahl, , maka Nabi Muhammad Shallahu Alahi wa Sallam memotong perkataanya seraya berkata, “yang tua dulu yang berbicara”, maksudnya adalah Muhiyisoh dan Huwayisoh.

  1. Merawatnya

Sudah kita ketahui bahwa seseorang yang telah tua, maka akan lemah badannya, akan lemah penglihatannya serta pendengarannya dan lain lain. Oleh sebab itu kita harus selalu benar benar merawat mereka, karena kelak kitapun akan berada di masa yang mereka rasakan sekarang.

Allah berfirman,

للَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِير (الروم:54)

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Ar- Rum 54)

Juga Allah berfirman,

Dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun.  (QS. Al Haj:5)

Dari ayat tadi kita dapatkan bahwa merupakan hak orangtua atas yang lebih muda adalah mengetahui tentang kesehatannya, kemudian merawatnya. Bahkan sebagian orangtua karena badannya yang melemah, serta kemampuan otaknya pun menurun akhirnya menjadikan dia seperti anak  yang masih kecil.

Maka jika seseorang tidak mengetahui tentang masalah kesehatan dan lemahnya seseorang yang telah tua maka dia akan tidak sabar dalam mengurusnya, akan  buruk muamalahnya, dikarena dia tidak merasakan apa yang dialami seorang yang telah menua. Lain halnya jika seseorang merasakan atau membayangkan dirinya seperti orangtua yang lemah, serta mengetahui bahwa merawatnya adalah hak mereka atas kita, maka diapun akan mengurusnya dengan sebaik baiknya.

Dan juga yang menjadi perhatian,adalah seorang anak yang awalnya selalu berbuat baik kepada orangtua serta menjaganya kemudian berubah menjadi buruk muamalahnya, tak sabar menjaga orangtuanya, bahkan sampai mengirim orangtuanya ke panti jompo, bahkan mungkin sampai tidak menjenguknya  walaupun sekali, walaupun di hari hari lebaran.

Jika anak ini di tanya apakah dia ingin diperlakukan seperti itu oleh anaknya pada saat dia tua nanti, tentu jawabannya tidak, tidak ada manusia yang ridho diperlakukan seperti itu.

Rasulullah bersabda,

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ ا خْآلِرِوَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Barang siapa ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah saat kematian mendatanginya ia dalam keadaan beriman kepada Allahl dan hari akhir, hendaknya pula dia mempergauli manusia dengan sikap yang dia senang untuk diperlakukan terhadap dirinya.” (HR. Muslim)

  1. Mendoakannya

Mendokan orang tua, untuk dipanjangkan umurnya dalam ketaatan kepada Allah, juga doakan mereka di beri taufiq dalam beramal sholih, serta senantiasa dalam naungan Allah, juga meminta kepada Allah agar mereka dipakaikan pakain kesehatan, diberikan husnul khotimah, dan dijadikan golongan orang yang berada di dalam hadist Nabi ,

“Sebaik baiknya manusia adalah yang panjang umurnya serta baik amalnya” (HR. Ahmad)

Diceritakan bahwa Sulaiman bin Abdul Malik menemui orang tua yang ada di dalam masjid, kemudian bertanya kepadanya, “Wahai Fulan, sekarang kau sudah tua, apakah kau ingin mati saja?, Orang tua itu menjawab, “Tidak”, Kenapa? Tanya Sulaiman. “Telah pergi masa mudaku dan keburukan di dalamnya, dan datang masa tua dan kebaikannya, aku jika ingin bangun dari tempat dudukku, aku berkata Bismillah, jika aku duduk aku katakan Alhamdulillah, maka aku lebih suka keadaan seperti ini”.

Orang tua ini lebih ingin kehidupannya berlangsung seperti masa tuanya yang di penuhi dzikir dan syukur, dari pada masa muda yang banyak akan syahwat dan buang buang waktu.

  1. Tidak ada yang dapat membalas kebaikannya

Di bab terakhir ini setelah kita berbicara tentang akhlak kepada yang lebih tua secara umum, maka sekarang kita masuk ke bab yang lebih khusus, yaitu tentang orang tua kita sendiri.

Tak ada satupun yang dapat membalas kebaikannya, Rasulullah pernah bersabda, “tidak akan bisa seorang anak membalas budi orangtuanya, kecuali jika ia mendapati orangtua menjadi budak kemudian memerdekannya” .

Juga cerita dari Ibnu Umar bahwasannya ada seseorang tawaf di sekeliling ka’bah sambil menggendong ibunya, maka orang itu berkata, “wahai Ibnu Umar, lihatkah engkau apa yang aku lakukan? Maka apakah aku telah membalas budinya?”.

Ibnu umar menjawab, “ Tidak, walau satu hembusan nafasnya”.

Dan ini adalah beberapa akhlak seorang muslim kepada yang lebih, dan beberapa peringatan akan pentingnya hal ini.

Semoga Allah memberkahi para orangtua kaum muslimin, serta memberikan kepada kita semua taufiq untuk berbuat baik kepada mereka.

Refrensi:

  1. Buku Huquq Kibar Sin, penulis Sheikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al Abbad.

 Diterjemahkan bebas oleh Muhammad Khalid Syar’i.

 

Sumber : http://www.masjidalfattah.com/akhlak-terhadap-orang-yang-lebih-tua/
Gambar : http://pondokibu.com/wp-content/uploads/2013/10/patuh-pada-orang-tua.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

− two = one