Ada Apa dengan Feminisme ?

PDF Artikel dapat diunduh disini

Memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret, aksi Women’s March Jakarta 2018 berlangsung pada hari Sabtu 3 Maret 2018.

Salah satu pergerakan feminis di Indonesia ini mengadakan long march dan orasi publik. Sebagaimana aksi Women’s March di negara lain, peserta aksi tidak berhenti bersorak dan menyerukan perlawanan terhadap patriarki dengan bantuan spanduk dan poster. Berbagai perwakilan kelompok perempuan turut menyampaikan orasi. Perwakilan tersebut berasal dari Pekerja Rumah Tangga (PRT), perwakilan buruh perempuan, perwakilan perempuan pengidap HIV, dan lain-lain. Mereka berkumpul untuk menyampaikan aspirasinya terkait keseteraan gender.

Feminisme berasal dari kata femina yang berarti masalah perempuan. Banyak ahli membuat definisi mengenai feminisme. Gerakan ini berawal pada abad ke-18 di USA dan Eropa yang berkaitan dengan hak-hak politik perempuan, seperti pemungutan suara, kepemimpinan perempuan, dan lain sebagainya (Weik, 2015). Pendapat lain tentang definisi feminisme mengacu bahwa gerakan ini disebabkan karena wanita mendapat ketidakadilan sosial berkaitan dengan hak dan persamaan (Ratna,2007). Feminisme memiliki pandangan bahwa perempuan bukan hanya sebagai objek biologis, tetapi dapat menjadi agen kontrol sosial. Pandangan ini muncul karena perbedaan biologis perempuan dan laki-laki, sehingga perempuan diperlakukan lebih rendah daripada laki-laki. Terlepas dari histori feminisme yang dianggap sebagai gerakan sosial atau gerakan politik, feminisme secara khusus berfokus pada kepentingan perempuan dan  menentang berbagai bentuk penindasan berdalih gender dalam masyarakat  (Ghorfati dan Medini, 2014).

Penganut paham feminisme disebut dengan feminis. Feminis berusaha menghapus semua hambatan perempuan dalam bidang sosial, politik dan ekonomi sehingga didapatkan derajat bagi perempuan. Mereka menentang anggapan bahwa perempuan secara inheren lebih rendah, tunduk atau kurang cerdas daripada laki-laki (Ghorfati dan Medini, 2014). Gerakan feminisme yang berkembang sejak zaman dahulu menurut Ollenburger dan Moore (1996) dalam buku Sosiologi Wanita terdiri dari paham liberalis, marxisme, radikal, sosialis, dan kultural pascakultural. Berikut penjelasan secara garis besar berbagai aliran feminisme (Ollenburger dan Moore, 1996) :

  1. Feminisme liberalis

Penindasan perempuan disebabkan karena perempuan kurang memiliki kesempatan dan pendidikan secara individual dan kelompok, sehingga masyarakat menekankan hak-hak persamaan wanita dalam hukum dan akses lainnya. Feminis liberalis berusaha meningkatkan pndidikan dan persamaan kesempatan, kebebasan memilih, individualisme, ksadaran diri, dan perempuan diberi pasar tenaga kerja.

  1. Feminisme marxisme

Feminis marxisme berkembang karena prnindasan perempuan terhadap kepemilikan kekayaan, kapitalisme dan penindasan status kelas dalam masyarakat. Perempuan digunakan sebagai tenaga kerja murah, bodoh dengan upah rendah. Feminis marxisme menentang penindasan ekonomi dan  penindasan patriarkis harus dihapuskan.

  1. Feminisme radikal

Feminis radikal berpendapat bahwa perempuan ditindas oleh sistem patriarkis, sperti rasisme, eksploitasi jasmani, heteroseksisme, dan strata kelas Feminis radikal menekankan kontrol terhadap perempuan melalui kekerasan.

  1. Feminisme sosialis

Feminis sosialis berpendapat bahwa terjadi penindasan patriarkis karena laki-laki dapat mngontrol akses kerja maupun strata kelas perempuan. Dua hal penyebab itu perlu dihapuskan untuk kebebasan perempuan.

  1. Feminisme kultural dan pascakultural

Feminis aliran ini menganjurkan penciptaan keragaman struktur keluarga dengan meninjau kembali keluarga heteroseksual, memperbanyak keluarga single parent, memasukan keluarga lesbian/gay, serta pembatasan hukum produksi dan reproduksi.

Jika kita perhatikan dengan seksama, pandangan feminisme di setiap era sangat tergantung kepada kondisi dan situasi zaman yang dihadapinya. Hal ini mengindikasikan bahwa sejak zaman dahulu kaum perempuan diberbagai masanya merasa mendapatkan ketidakadilan dan dikesampingkan. Pertanyaannya adalah apakah hal ini terjadi di masa yang jika pelaksanaan sistem berbangsa dan bernegara menggunakan syariat Islam sebagai pedomannya ? Lantas,  bagaimana sudut pandang islam dalam menjawab berbagai tuntutan feminisme ? Al-Quran sebagai pedoman Islam adalah kitab yang mampu menjawab tantangan zaman. Seperti yang termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 2 bahwa tidak ada karaguan terhadap syariatnya.

Bukti konkritnya adalah Islam mampu melepaskan perempuan dari perlakuan yang tidak manusiawi karena pengaruh berbagai tradisi manusia, sebagaimana yang disebutkan diatas. Islam memandang perempuan sebagai makhluk yang mulia dan terhormat, memiliki hak dan kewajiban yang disyariatkan Allah. Dalam Islam, haram hukumnya menganiaya dan memperbudak perempuan, dan pelakunya diancam dengan siksaan yang pedih. Menurut pandangan Islam, ide dasar dan utama yang diperjuangkan oleh feminisme berupa keadilan antara laki-laki dan perempuan dalam wujud kesetaraan kedudukan dan hak antara perempuan dengan laki-laki adalah sesuatu yang tidak benar dan menyalahi kodrat kemanusiaan. Berikut tuntutan feminisme dalam perspektif Islam :

FEMINISME ISLAM
Meminta hak-haknya diperhatikan Memuliakan wanita dengan aturan dan perintah yang menjaga marwah dan izzah wanita :

اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.” (HR Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam “ash-shahihah”: 285)

Dr. Abdul Qadir Syaibah berkata, “Begitulah kemudian dalam undang-undang Islam, wanita dihormati, tidak boleh diwariskan, tidak halal ditahan dengan paksa, kaum laki-laki diperintah untuk berbuat baik kepada mereka, para suami dituntut untuk memperlakukan mereka dengan makruf serta sabar dengan akhlak mereka.” (Huqûq al Mar`ah fi al Islâm: 10-11)

 

Meminta dihargai dan dimuliakan “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19)

Rasulullah salallahualaihi wassalam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729). Selain itu, dalam hadis riwayat Bukhari Muslim seorang ibu disebut sebanyak tiga kali, sedangkan ayah hanya sekali menunjukkan penekanan kemuliaan menjadi seorang ibu

Meminta derajatnya setara dengan laki-laki Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mengerjakan amal kebajikan dan perbuatan dosa. Keduanya akan mendapat balasan sesuat perbuatannya. “Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun wanita sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk.

Laki-laki dan perempuan juga memiliki kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu. “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

Meminta agar tidak diganggu Berhijab tidak akan mengungkung otoritas perempuan. Melainkan sebagai bentuk ketaatan muslimah kepada Rabbnya. Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka ” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[QS. Al-Ahzâb/33:
Meminta dihargai saat diruang publik Perintah untuk menutup aurat dan tidak bercampur baur dengan laki-laki tanpa adanya mahrom. Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad, sanad hadits ini shahih).

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. An-Nuur/24:30).

Menuntut keadilan ekonomi Mengapa wanita hanya mendapatkan satu bagian harta waris, sementara laki-laki dua bagian ? Inilah yang dinamakan keadilan. Harta waris yang dimiliki laki-laki akan dipergunakan untuk menafkahi istri dan anaknya, sedangkan harta yang didapatkan oleh wanita akan sepenuhnya miliknya. “Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ayah-ibu dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian dari harta peninggalan ayah-ibu dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (An-Nisa`: 7).

Islam memandang perempuan sebagai pasangan, partner, dan sahabat laki-laki dalam menjalankan tugas mengabdi kepada Allah SWT dan menjadi khalifah di bumi melalui pembagian pekerjaan di antara keduanya. Selain itu Islam tidak memandang peran seseorang sebagai penentu kualitas kehidupan seseorang. Tolok ukur kemuliaan dalah ketakwaan yang diukur secara kualitatif, yaitu sebaik apa bukan sebanyak apa seseorang bertakwa kepada Allah subhanahu wataa’la (Q.S. al-Hujurat:13 dan al-Mulk:2). Wallahu’alam bish shawab.

 

Referensi :

  • Ardita M. 2015. https://muslim.or.id/10677-ganjaran-memelihara-dan-mendidik-anak-perempuan.html
  • Ghorfati, A. dan Medini, R. 2014. Feminism and Its Impact on Woman in the Modern Society. Departmen of English Univercity of Tlemcen (Dissertation).
  • Ollenburger, J.C. dan  Moore.,H.A. 1996. Sosiologi Wanita. Jakarta: Rineke Cipta.
  • Naik, Z.,  Shawi, S., Subh, A.M. 2009. Mereka Bertanya Islam Menjawab. Jakarta : AQWAM Jembatan Ilmu
  • Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra: dari

Strukturalisme hingga Postrukturalisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan