Sudahkah Kita Bersyukur?

 

Al-Quran sebagai kitab suci umat islam tidak hanya berbicara mengenai petunjuk dan pprinsip kehidupan umat manusia, namun berbicara juga juga mengenai proses penciptaan manusia. Kalau Allah berkehendak menciptakan sesuatu, tidak perlu persiapan, riset pendahuluan dan lain lain sebagaimana manusia menciptakan produk. Tapi Allah Yang Maha Kuasa cukup berkata “Kun”, yang berarti “jadilah”, maka jadilah dia.
TAHPAN PENCIPTAAN MANUSIA
1. Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Quran dijelakan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah tiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya
“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-sebaiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah” (QS. As Sajadah (32):7)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal dari) lumpur hitam yang dibentuk” (QS. Al Hijr (15):26)
Di samping itu, Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalam surat Al Hijr ayat 28 dan 29.

2. Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Dijelaskan dalam firman-Nya :
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasiin (36) : 36)

Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak” (QS. An Nisaa’ (4) : 1)

Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
“Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim)

3. Proses Kejadian Manusia Keempat (semua keturunan Adam dan Hawa)
Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis.

Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).

Maka dapat disimpulkan bahwa proses tersebut adalah nuthfah (inti sari tanah yang dijadikan air mani), rahim (tersimpan dalam tempat yang kokoh), alaqah (darah yang beku menggantung di rahim), mudgah (segumpal daging dan dibalut dengan tulang belulang), lalu ditiupkan ruh.

• Berikut adalah hikmah yang bisa kita ambil :

Mengenal Kebesaran dan Kekuasaan Allah
Mengenal kekuasan dan kebesaran Allah pada hakikatnya tidak mungkin dilakukan atau dihayati jika kita tidak pernah melihat ciptaannya atau hasil karya Yang Maha Agung tersebut. Di alam ini ada sangat banyak tanda-tanda kekuasaan Allah mulai dari alam yang sangat mikro dan sangat makro, yang tidak mungkin semua kita dapat jangkau.

Semakin Tunduk Pada Allah
Manusia yang memahami kebesaran dan kekuasaan Allah lewat proses penciptaan manusia, maka dia akan mengenal betapa hebatnya Allah dengan segala hukum-hukumnya. Dengan begitu, ia tidak akan mungkin bisa tunduk kepada selain Allah dan mau untuk melaksanakan fungsi agama, mengimani rukun iman dan menjalankan rukun islam.

Link Video: https://youtu.be/9YM5ieAXgSw

Referensi: Al-Qur’an dan Hadist

Hijrah et cauSadar

Hijrah et cauSadar

Think for a moment..

Berapa banyak shalat yang kita lalaikan? Berapa banyak sunnah yang kita sepelekan?
Berbagai ungkapan lisan tak dijaga, pandangan seenaknya, dan mendengar yang tak ada gunanya..
Atau barangkali karena kita malas Belajar agama? Atau kah sudah merasa tahu segalanya?

Di usia kita yang kurang lebih 20 tahun ini, benar kah kita sudah dewasa dan mencukupkan diri dalam menjadi muslim dan layak mendapatkan surga-Nya?

Dari SD sampai SMA.. kita sudah banyak belajar agama.. namun apakah sudah cukup dan tak perlu lagi diingatkan akan akhirat-Nya? Sudah tahu dan bosan mendengarnya?

Sungguh sedikit amalan baik pada diri ini, sungguh takut apakah terjebak pada riya atau kemunafikan hingga tak tahu diri..
Banyak dosa dan maksiat yang tak terhingga… Maka adakah rasa pada diri ini untuk berubah dan berusaha meminta ampunan pada-Nya?

 

Adakah rasa ingin mengubah diri dan berusaha beribadah dengan baik dan benar..
Adakah rasa ingin mengisi hidup ini dengan hal yang lebih baik lagi dan berusaha menghapus dosa kelam yang melekat bagai noda …

Adakah rasa.. ingin bisa masuk Syurga bersama keluarga tersayang.. Bukankah anak yang sholeh itu dapat menolong orang tua nya di akhirat kelak ?

Maka sudah kah kita berusaha menjalankan kewajibani kita tuk membahagiakan kedua orang tua sesuai tuntunan?

Wahai saudaraku.. Di sini lah titik sadar kita untuk berbenah dan perlu untuk berhijrah.. berusaha menjadi muslim yang lebih baik..

Karena siapa pun kita, berapa pun usia kita, tidak peduli tua atau muda, titik sadar adalah hal yang sangat berharga dan nikmat yang Allah berikan kepada kita untuk lebih dekat pada-Nya..

Allah Ta’ala berfirman,
وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)
(Taslim, 2013)

Ingat lah saudaraku, tujuan kita diciptakan..
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115).
Kita di dunia ini bukan hanya untuk main-main saja.. Kita pun tidak mungkin diciptakan untuk dibiarkan saja tanpa aturan dan larangan.. (Tuasikal, 2016b)

Imam Asy Syafi’i mengatakan,
لاَ يُؤْمَرُ وَلاَ يُنْهَى
“(Apakah mereka diciptakan) tanpa diperintah dan dilarang?”.
(Tuasikal, 2016b)

Sungguh telah datang syariat-Nya yang kita lalai akan melaksanakannya..
Terlebih melaksanakannya, tahu saja tidak, atau bahkan menyepelekannya?

Mungkin sekilas tampak sepele untuk kita senyum di hadapan muslim padahal itu sedekah.. (HR at-Tirmidzi no. 1956) (Taslim, 2010)

Mungkin sekilas tampak berat untuk kita shalat malam padahal itu adalah waktu berdoa yang mustajab.. (HR. Bukhari, no. 1145 dan Muslim, no. 758) (Tuasikal, 2016a)

Mungkin sekilas tampak tidak bermasalah untuk melakukan maksiat kecil, tapi efek domino bisa menghantui dunia apalagi akhirat kita..
Mungkin sekilas tampak tidak penting untuk kita berubah sekarang, tapi apakah kita tahu kapan akan dipanggil oleh-Nya?

Kita sadar akan lemahnya kita terhadap ilmu agama.. bingung apakah pilihan dan tindakan ini baik atau lebih baik ditinggalkan..

Karena sejatinya syariat Islam itu membawa kebaikan bagi pengikutnya, sudah sepatutnya kita sebagai muslim terus mempelajarinya, serta tidak bosan diingatkan tentangnya, karena futur/malas bisa menimpa siapa saja..

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)(Hakim, 2013)

Untuk itu, hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengangkat kebodohan diri kita dengan cara menghadiri majelis ilmu.

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)(Tuasikal, 2016)

Kita sadar selama ini banyak terpengaruh oleh lingkungan yang mungkin belum sadar akan pentingnya hijrah. Terutama dalam pertemanan yang sering kali kita menghabiskan waktu kita bersama mereka.

Sebuah pertemanan yang baik, akan mudah mempengaruhi pandangan, tindakan, dan pilihan temannya. Maka hal kedua kelilingilah diri kita dengan teman yang baik yang sama-sama ingin hijrah dan menghadiri majlis ilmu. Hanya saja, tidak berarti kita membenci teman kita yang belum sadar akan pentingnya hijrah. Kita bisa terus bersama mereka sambil perlahan mengajaknya untuk hijrah bersama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa) (Tuasikal, 2016)

Setelah kita sadar akan pentingnya ilmu agama, teman yang sama-sama ingin hijrah, dan mulai melakukan perubahan pribadi diri, maka kita akan sadar bahwa tidak cukup bersemangat saja, namun harus istiqomah meskipun dirasa sulit dan melelahkan.
Hal ketiga adalah berusaha istiqomah hanya berharap ridha-Nya.

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disampaikan oleh muridnya Ibnul Qayyim dalam Madarij As-Salikin,
أَعْظَمُ الكَرَامَةِ لُزُوْمُ الاِسْتِقَامَةِ
“Karamah yang paling besar adalah bisa terus istiqamah.” (Tuasikal, 2016)

Diantara usaha istiqomah adalah Ikhlas berhijrah, meninggalkan maksiat, bertekad menjadi lebih baik, mencari lingkungan yang baik, terus berusaha menambah ilmu melalui majlis ilmu, dan berdoa memohon pertolongan-Nya.

Terakhir, ingat lah bahwa hijrah itu bukan ajang pamer atau menebar kebencian, menyudutkan, apalagi mencela orang yang belum berhijrah. Tidak patut bagi kita, apalagi kita yang masih cetek ilmunya memarahi dan menghujat orang. Mungkin saja memang ada tindakan dari mereka yang salah, tapi tidak berarti kita bisa memberikan label jelek/tidak pantas pada orang tersebut. Dan bukan kah setiap insan manusia bisa hijrah dan bertaubat juga? Siapa kita berani me-monopoli hidayah Allah?

Ingatkah engkau masa awal dakwah Rasulullah? Apakah mereka mencela, memberontak, atau bahkan menebar kebencian kepada orang kafir? Tentu tidak. Saat itu banyak orang kafir yang tidak tahu indahnya hidayah dan ajaran agama Islam. Maka yang dilakukan Rasulullah bukanlah membalasnya dengan keburukan meski diberikan perlakuan tidak adil. Rasulullah tetap terus berdakwah dan istiqomah serta berdoa berharap mereka mendapat hidayah dari Allah.
Jika Rasulullah saja tidak berbuat yang buruk pada orang yang belum mendapat hidayah atau berbuat salah, maka siapa kita berani melakukan hal tercela?

Maka berhati-hatilah, mungkin saja informasi yang kita dapat saat ini hanyalah prasangka yang tidak benar.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. Apakah di antara kalian ada yang suka menyantap daging bangkai saudaranya sendiri? Sudah barang tentu kalian jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allaah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujurat: 12).

Sudah kah kita bertanya (tabayun) langsung pada orang tersebut? Sudahkah kita menegurnya secara pribadi? Sungguh akan lebih baik bagi kita untuk meninggalkan perbuatan yang tidak menambah keimanan, pahala, atau kebaikan untuk kita di akhirat. Maka lebih baik untuk kita terus belajar dan istiqomah dalam berusaha menjadi muslim yang baik.

Karena jika kita sadar..

Hijrah itu berarti termasuk apa yang kita dengar, berusaha menghindari informasi fitnah atau ungkapan sia-sia. Menjadi mendengar kajian serta Al-Qur’an.

Hijrah itu berarti termasuk apa yang kita lihat, berusaha menghindari pandangan yang tidak pantas dan terlarang. Menjadi melihat buku, kitab ulama, dan majlis ilmu.

Hijrah itu berarti termasuk apa yang kita ucapkan, berusaha menghindari ujar kebencian, gibah, dan dusta. Menjadi mengucap amarma’ruf nahimunkar, berkata baik atau diam.

Dan hijrah itu termasuk melangkah, langkahkan diri kita kepada hal yang bermanfaat. Meninggalkan hal sia-sia dan tak berguna ke hal yang bermanfaat tuk akhirat kelak dan mengharap ridha-Nya.

Allahua’lam..

Semoga bermanfaat. Saya sangat menerima kritik dan saran yang disampaikan secara pribadi.

Barakallahufiikum..

Ditulis di Pagutan, Kota Mataram, NTB, 24 Muharram 1439 H.
Oleh Azhar Rafiq (Univ. Mataram), Kelompok 1 M. Al Fatih, untuk GET DEP IT FULDFK 2017.

Apakah DIA menerima?

Sholat ? Udah

Puasa ? Gak pernah bolong senin-kamis nya

Zakat ? Gak pernah kelewat kalo udah nyampek nisabnya

Haji ? InsyaAllah tahun depan, semoga sudah nggandeng istri *eh

 

Selama ini, sebagian dari kita terkadang hanya memikirkan untuk memperbanyak amalan tanpa terbesit pikiran tentang bagaimana nasib amalan-amalan tersebut. Apakah sholat yang telah kita kerjakan selama puluhan tahun ini diterima oleh Allah? Apakah puasa yang kita lakukan sebulan penuh dalam setiap tahun terhitung sebagai pahala di mata Allah? Dan apakah zakat yang kita keluarkan dapat memperberat timbangan amalan kita nanti di yaumul mizan?

“Dan Kami datang kepada amalan yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.”

[QS. Al Furqan: 23]

 

Naudzubillah min dzalik…

 

Jangan sampai, sholat yang kita kerjakan hanya menjadi gerakan semata.

Jangan sampai, puasa yang kita lakukan hanya menjadi penahan lapar dan dahaga.

Jangan sampai, zakat yang kita keluarkan hanya menjadi ritual wajib setiap tiba waktunya.

Dan jangan sampai, haji yang merupakan amalan sholih yang agung hanya menjadi pengisi waktu liburan kita

-____________-

 

Jangan sampai, amalan yang telah kita perbuat tidak menghasilkan apa-apa alias kopong mlompong.

Bagai menanam tapi tidak memanen, JANGAN SAMPAI..

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Diterimanya suatu amalan berkaitan dengan melakukan sesuatu sesuai dengan yang diperintahkan. Setiap orang yang bertakwa pada Allah ketika ia beramal, maka ia akan melakukan sebagaimana yang diperintahkan. Akan tetapi, ia tidak bisa memastikan sendiri bahwa amalan yang ia lakukan diterima di sisi Allah karena ia tidak bisa memastikan bahwa amalan yang ia lakukan sudah sempurna.” [1]

Setiap dari kita memang tidak bisa memastikan apakah amalan yang telah kita lakukan selama ini diterima oleh Allah atau tidak, karena itu memang rahasia-Nya. Tapi bukankah kita selalu mengusahakan menanam biji yang terbaik untuk memanen hasil yang terbaik pula?

Syarat pokok diterimanya amalan seorang hamba ada dua, yaitu ikhlas dan ittiba’ [1,2]

 

Ikhlas

Sebuah kata sederhana namun sulit dilakukan. Terkadang bibir memang mengucap ikhlas, namun apakah hati sepadan dengannya?

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat dan sesungguhnya setiap orang itu mendapatkan balasan sesuai dengan yang diniatkannya.”

[Muttafaqun’alaihi]

            Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.” Bagaimana tidak mudah berubah, jika hati ini memang rapuh dan gampang terbolak-balikkan.  Syeitan, juga merupakan etiologi utama hati menjadi tidak ikhlas. Lalu bagaimana caranya?

Perbanyaklah do’a,, agar Allah lindungi kita dari godaan syeitan, agar niat kita lurus tak terbelokkan.

Sembunyikanlah amal sholih. Tak perlu kau umbar waktu ‘buka puasa’ mu di ig story, tak perlu kau upload foto menggunakan mukena yang masih menempel agar dunia tahu bahwa kamu telah mengerjakan sholat, tak perlu sekarang kau bilang ‘ikhlas’ tetapi nanti kau umbar ke semua orang bahwa kamu ikhlas.

 

Bukankah membuat tangan kiri tidak melihat ketika tangan kanan memberi itu tidak mudah?

Maka berusahalah….

 

Berusahalah mengerjakan sholat bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban,

Berusahalah melakukan puasa bukan hanya karena pemaksaan lingkungan

Berusahalah mengeluarkan zakat bukan karena ingin pujian

Dan berusahalah berangkat haji bukan karena ingin mendapat gelar sapaan (kalau ini sih jadi bintang iklan obat batuk juga bisa (fyi : iklan ‘batuk, pak haji’ itu loh) hmmm krik…

 

Ittiba’

Amalan yang kita lakukan hendaknya sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Tanpa mengurangi maupun menambahi.

“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[Qs. Ali Imran : 31]

            Agar kita tahu apakah amalan yang kita lakukan sudah sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, maka kita perlu ilmu bukan?

Sebuah kisah berasal dari Abu Burdah yang merupakan paman dari Al Bara’ bin ‘Azib dari jalur ibunya berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَإِنِّى نَسَكْتُ شَاتِى قَبْلَ الصَّلاَةِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ ، وَأَحْبَبْتُ أَنْ تَكُونَ شَاتِى أَوَّلَ مَا يُذْبَحُ فِى بَيْتِى ، فَذَبَحْتُ شَاتِى وَتَغَدَّيْتُ قَبْلَ أَنْ آتِىَ الصَّلاَةَ

“Wahai Rasulullah, aku telah menyembelih kambingku sebelum shalat Idul Adha. Aku tahu bahwa hari itu adalah hari untuk makan dan minum. Aku senang jika kambingku adalah binatang yang pertama kali disembelih di rumahku. Oleh karena itu, aku menyembelihnya dan aku sarapan dengannya sebelum aku shalat Idul Adha.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

شَاتُكَ شَاةُ لَحْمٍ

“Kambingmu hanyalah kambing biasa (yang dimakan dagingnya, bukan kambing kurban).” (HR. Bukhari no. 955)

Dari kisah tersebut, tidakkah kalian lihat bagaimana dampak dari amalan yang kita lakukan jika tanpa dasar? Maka ikhwah, menimba ilmu agama itu perlu, dan masih sangat perlu hingga sampai kapan pun. Janganlah kita merasa puas dengan apa yang kita sudah pelajari sampai saat ini. Luangkan waktu untuk belajar ilmu agama, jangan belajar ilmu agama hanya di saat waktu luang !!!

 

Sudah berusaha ikhlas dan i’tiba rasanya kurang jika tidak ditambah dengan berdo’a. Nabi Ibarahim saja selalau berdoa agar amalan beliau diterima. Mengapa kita tidak??

“Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

[QS. Al-Baqarah: 127]

Berdo’alah, mintalah kepada Allah agar amalan yang telah, sedang, dan akan kita perbuat selama ini diterima oleh-Nya. Aaaamiiin …

 

—Jangan cuma berusaha agar dia mau menerima pinanganmu saja, tapi amalan juga perlu diperjuangkan agar Dia menerimanya—