NERAKA SEDINGIN SURGA

Angin sejuk berhembus halus menepis setiap yang ia lewati. Matahari mulai memunculkan diri dari tempat ia bersembunyi. Cahaya langit mulai muncul dengan aroma embun pagi. Burung-burung camar bersahutan seolah bernyanyi. “Alhamdulillah pagi yang menyegarkan” ucapku.

Seperti hari biasanya, hari ini aku terbangun untuk melakukan aktivitas kuliah. Sudah dijamin hari ini lebih ekstra melelahkan. Bagaimana tidak? bulan ramadhan seperti ini kami mahasiswa FK harus tetap menjalani aktivitas kami seperti biasanya mulai dari pagi hingga sore menjelang berbuka. Ketika fakultas lain dibatasi jam kuliah sampai jam 3 sore, untuk kami itu tak berlaku. Kami harus tetap menjalankan aktivitas kampus sampai jam 5 sore. Tidak adil? Ah kami sudah terbiasa dengan hal ini.

“Kring… Kring…”

Terdengar suara bel sepeda seakan memanggilku, sudah bisa ditebak itu pasti Rini. Ia sahabatku. Kami berdua berasal dari kota yang sama. Kota pati. Kota yang istimewa bagi kami. Segala cerita kami berdua dimulai dari sana hingga Allah pertemukan kami lagi disini. Di kota yang sama istimewanya yakni Yogyakarta. Dari bangku SD sampai bangku kuliah kami selalu bersama. Jurusan pun sama. Seperti suatu hal yang disengaja atau sebuah kebetulan. Tapi bukan keduanya melainkan Allah mungkin mengirimkan Rini dengan suatu alasan yaitu untuk menjagaku, menjaga imanku.

Aku pun keluar menuju pintu gerbang kost an. Rentetan pintu masih tertutup rapi. Wajar karena teman-teman yang lain masuk lebih siang daripada kami. Ku buka pintu gerbang itu dan benar saja dengan senyum lebarnya perempuan itu tengah menungguku.

Assalamu’alaykum, yuk berangkat! Loh mana sepedanya” sahutnya sambil tak melepaskan senyumnya

Wa’alaykumussalam, Iya rin, hari ini kamu berangkat sendiri ya, aku soalnya udah janjian sama temen buat berangkat bareng”

Oh sama temen, ada kerja kelompok dulu kah? yang jelas sama-sama perempuan kan? Hahaha” ucapnya padaku sambil tertawa menyelidik candanya “Ya sudah aku duluan yaa” tambahnya dengan melambaikan tangan dan berlalu pergi.

Aku terpaku tak menjawab pertanyaannya sama sekali. Hatiku seperti tertohok. Ia mempercayaiku sebagai sahabatnya yang tak mungkin berjalan bersama lelaki asing. Ah apakah kali ini aku menghianatinya. Merusak kepercayaannya. Fikiranku terus berkecambuk hingga datangnya suara klakson motor menyeruku.

Yuk berangkat!” kata pria yang sudah tengah berada dihadapanku dengan sepeda motornya. Aku lantas tak berkata apa-apa. Langsung saja aku duduk dibelakangnya. Sudah beberapa hari ini aku memang berangkat bersamanya. Kami bukanlah sepasang kekasih yang menjalin hubungan bernama pacaran. Seperti halnya aku dengan Rini. Aku mulai menjalin persahabatan dengannya. Bukan karena apa-apa. Hanya saja ia seperti Rini yang selalu mengingatkanku kepada Rabb ku. Bahkan ia selalu mengajarkanku tentang apa apa yang belum ku ketahui dan mendorongku tentang apa apa yang belum terbiasa ku kerjakan. Ia selalu mengingatkanku tentang utamanya amalan sunnah dan bagaimana keutamaan seorang penghafal Al-Qur’an. Aku selalu tertarik dengan setiap ucapannya. Ia mampu membawaku dari orang yang cukup malas mengkaji Islam menjadi orang yang paling bersemangat mempelajarinya. Ia mampu membuat bahasan yang terkesan rumit menjadi lebih mudah untuk dicerna. Iya dia sahabatku. Ridho. Seorang yang mulai kukenal di semseter dua. Aku bertemu dengannya karena suatu kepanitiaan. Saat itu ia selalu menyelipkan bahasan tentang Islam dalam setiap pertemuan rapat. Dan itu yang membuatku selalu bertanya tentang apa yang belum ku ketahui hingga akhirnya kami menjadi dekat dan menjalin hubungan ini.

Di kampus, kami mulai memisahkan diri. Bukan karena apa-apa. Hanya saja kami tak mau membuat orang-orang bergosip tentang kami. Karena sekali lagi kami itu tidak pacaran. Kami hanyalah menjalin suatu hubungan bernama persahabatan.

Kami berangkat cukup siang waktu itu. Hingga beberapa orang melihat kami. Dan mengatakan “cieeee”. Aku sendiri dan Ridho hanya menanggapinya dengan senyuman tanpa berkata apa-apa. Cukup rumit ketika kami harus menjelaskan kepada mereka tentang status kami.

Kuliah saat ini berlangsung lancar. Aku duduk disamping Rini. Iya kami selalu bersama, diskusi tentang ilmu kedokteran bersama bahkan diskusi Islam pun kami selalu bersama. Karena kami adalah sahabat. Rini selalu bilang jadikan persahabatan ini adalah persahabatan yang mampu membuat kita sampai di Syurga-Nya. Persahabatan yang ketika temannya jatuh dalam kemaksiatan maka salah satunya harus menjadi penolong memberikan obat penawarnya. Itu janji kami.

Lagi-lagi aku merasa aku telah menghianatinya. Tapi aku tepiskan pemikiran itu dan melanjutkan aktivitas kuliahku. Hingga akhirnya pagi yang menyegarkan menyambutku lagi. Tak seperti biasanya bunyi bel sepeda Rini tak menyahutku padahal hari ini aku sudah bersiap berangkat bersamanya. Apakah ia sakit? Pikirku.

Aku melanjutkan perjalananku dengan menunggang sepeda kesayanganku. Ketika aku masuk kelas aku sedikit heran Rini sudah sampai dikelas dan kursi-kursi disampingnya telah berjejeran tas orang lain tanda bahwa kursi itu telah ada yang menempati. Aku berkecamuk dengan fikiranku. Apa yang telah aku lakukan. Rini marah padaku? Ku putar seluruh fikiranku untuk menemukan jawaban.

Aku semakin terheran ketika aku mulai menyapanya. Jawaban ia singkat bahkan terlalu singkat bagi seorang yang dikatakan sahabat. Aku terus bertanya-tanya dalam fikiranku apa kesalahanku. Rini selalu melakukan sikap seperti itu setiap kalinya aku melakukan kesalahan. Bukan kesalahanku terhadap ia. Tapi kesalahanku kepada Rabb ku. Itu memang sudah ciri khasnya dalam mencoba memperingatiku. Dengan diamnya, dia tahu bahwa ada satu titik waktu dimana aku akan bertanya kepadanya apa yang salah dari diriku.

Hingga titik waktu itu akhirnya muncul. Aku bertanya apa yang salah pada diriku. Tetesan mulai keluar dari mataku. Aku yakin ada sesuatu yang salah hingga sahabatku hari ini begitu mengacuhkanku.

Dia duduk disampingku. Menghela nafas tanda ia mulai untuk bicara.

“Rena, masih ingatkan janji persahabatan kita? Jadikan persahabtan ini berdiri tegak diatas cinta-Nya. Jadikan persahabatan ini sampai Surga-Nya. Jadikan persahabatan ini sebagai obat penawar kala salah satu dari kita jatuh menghiananti cinta Rabb kita”

 

 

Aku hanya mengangguk pelan tanda mengerti.

“Rini sayang sama Rena. Rini melakukan ini bukan berarti benci sama Rena. Bukan. Rini mengatakan ini juga bukan berarti Rini lebih baik dari Rena. Tapi Rini sedih ketika mendengar dari lisan orang lain bahwa Rena berboncengan dengan laki-laki asing. Rini tau kan hukumnya apa?” jelasnya padaku

            Aku mencoba menjelaskan kembali tentang hubungan rumitku ini bersama Ridho “Iya rin, aku tau tapi kami gak pacaran ko. Kami han ya sahabat. Ia selalu menambah ilmu islamku. Ia selalu mengingatkanku. Ia selalu mendorongku untuk menambah amalan sunnahku. Kami hanya sahabat rin. Seperti halnya persahabatanku dengan kamu”

            “Sahabat? Kita pernah membahas ini ren. Bukankah tidak ada persahabatan yang benar benar murni antara laki-laki dan perempuan? Kamu yakin  gak ada rasa sama dia?” tanyanya menohok padaku

“Ingat rena, janji kita untuk menjadi bidadari syurga. Seorang wanita muslimah yang terjaga kesucian dan kehormatannya. Seorang muslimah yang ta’at pada Allah dan cinta pada Rasul-Nya. Wanita seperti itu bukanlah wanita yang menjalin suatu hubungan dengan lelaki non-mahromnya diluar syara membolehkannya. Setan saat bulan Ramadhan itu dikunci rapat. Tapi ingat hawa nafsu kita sebagai manusia juga harus tetap dikontrol. Jangan-jangan hawa nafsu kita lah yang menjadi setan penghias diri. Oke, aku terima kamu bilang kamu tidak pacaran. Kamu hanya sahabatan. Lalu apa bedanya dengan orang orang yang menjalani hubungan pacaran islami. Itu sama aja rena. Kamu dengan mereka” imbuhnya

Rini melanjutkan penjelasannya “Kamu sama saja melakukan hal itu. Kamu sama saja berpendapat bahwa ada khamr islami, babi islami, dan semua diembel embel islami. Untuk meghalalkan apa yang telah Allah tetapkan haram. Kamu bilang ia selalu mengingatkanmu pada Allah? Tapi apakah ia juga mengingatkanmu bahwa hubungan yang kalian jalani juga dilarang oleh Allah?. Bukan statusnya yang Allah katakan haram tapi aktivitas yang kamu lakukan bersamanya. Persahabatan tak Allah larang. Tapi ketika kamu menjalin hubungan itu dengan non-mahrommu maka sama saja kamu telah melanggar batas-batas kamu dengan lelaki asing yang telah Allah atur batas-batasannya.  Dan batas-batas yang telah kamu langgar salah satunya adalah dengan berboncengan dengannya.

Rini menghela nafas kembali kemudian berkata sambil menatapku “Kamu seolah-olah dengannya mengharapkan neraka akan sedingin surga pungkasnya memperingatkan

Aku tertohok dengan kalimat-kalimat yang ia ujarkan kepadaku. Membelah seluruh harapanku pada Ridho. Ya memang semakin aku mengenalnya semakin aku mengaguminya dan semakin mulai tumbuh benih-benih cinta. Ya Allah, ini bulan Ramadhan tapi kenapa aku malah berlomba dalam kemaksiatan bukan dalam kebaikan. Maafkan aku Yaa Rabb. Hati dan fikiranku tergoncang.

Aku terdiam dan berfikir sejenak. Pada akhirnya aku menumpahkan bulir-bulir bening itu dalam pelukan Rini. Sahabatku.

            “jadikan Ramadhan ini adalah Ramadhan perubahan kita menjadi lebih baik lagi. Tak peduli kesalahan yang telah kita lakukan, seberapa buruknya kita dulu. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah memohon ampunan-Nya. Maksimalkan amalan shalih dan meninggalkan apa yang telah Ia larang. Jadikan ramadhan ini menjadi ramadhan terbaik dan ramadhan yang penuh berkah bagi kita semua” bisik Rini menenangkanku

 

 

Manusia Perahu

Mereka pergi berlayar menyelamatkan jiwa dan iman mereka. Apa yang bisa mereka harapkan dari negara asal mereka?! Keinginan untuk memperoleh pengakuan dan kebebasan ditolak oleh negara mereka sendiri. Kekerasan yang berkepanjangan membuat mereka pergi mengungsi, berlayar mencari negeri aman yang mau menerima mereka hingga terombang ambing ditengah lautan dengan sedikit stok makanan. Jangankan  memikirkan masa depan, membanyangkan hari esok pun mereka tidak berani. Dunia menyebut mereka sebagai manusia perahu. Tidak jarang para manusia perahu itu tenggelam ataupun mati karena kelaparan dan kehausan di tengah laut. Banyak pula yang ditahan atau diperlakukan semena-mena di negara-negara transit atau negara-negara penerima mereka. Mereka adalah Rohingya.

Siapa itu rohingya? Dalam beberapa tahun terakhir, kekerasan dan genosida kembali terjadi terhadap etnis Rohingya. Namun, masyarakat dunia masih belum mengambil langkah tegas terhadap kekerasan struktural yang telah berlangsung begitu panjang. Presiden Arakan Rohingya National Organisation (ARNO), Nurul Islam, mengatakan Rohingya telah tinggal sejak dahulu kala. Mereka merupakan orang-orang dengan budaya dan peradaban yang berbeda-beda. Jika ditelusuri, nenek moyang merka berasal dari orang Arab, Moor, Pathan, Moghul, Bengali, dan beberapa orang Indo-Mongoloid. Permukiman Muslim di Arakan telah ada sejak abad ke-7 Masehi yang sekarang disebut Rakhine.

Nama Rakhine sendiri identik dengan warna Arakan non-muslim yang tinggal di Rakhine state. Maka sebagai identitas pembeda dengan warna Rakhine Buddhist, sebutan sebagai “Rohingya” tak terlalu mereka permasalahkan. Rohingya diambil dari kata Rohang, nama kuno dari Arakan, dan yang tinggal didalamnya disebut Rohingya. Ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa istilah Rohingya disematkan oleh seorang peneliti Inggris bernama Francis Hamilton pada Abad ke-18 Masehi pada muslim yang tinggal di Arakan.

Kendati Myanmar telah merdeka sejak tahun 1948, namun warga Rohingya tidak pernah mendapatkan kebebasan. Mereka tidak diakui sebagai warna negara (stateless) dan dihapus dari delapan etnis utama dan dari 135 etnis lainnya. Mereka terus-menerus mengalami kekerasan. Pembantaian dalam skala besar terjadi berturut-turut pada tahun 1942, 1948, 1992-1993, 2012, 2016 hingga 2017. Penderitaan mereka diperburuk karna pemerintah juga turut andil dalam etnis cleansing tersebut. Presiden Myanmar, Thein Sein, (2011-2016) mengatakan, “Rohingya are not our people and we have no duty to protect them”. Bahkan dia menyebut etnis Rohingya di Arakan sebagai: a threat to national security. Orang Rohingya tidak punya teman di dalam negara Myanmar. Bahkan ada slogan popular di Myanmar saat ini yaitu: “Arakan is for rakhines. Arakan and Buddhism are synonymus. There is no Rohingya in Arakan. Drive them out to their country-Bangladesh.

Kejadian yang menimpa orang rohingya merupakan sebuah genosida. Pemerintah dan para ekstrimis bekerja sama untuk menghilangkan Rohingya dari bumi Myanmar. Terasing di negeri sendiri, tak memiliki kewarganegaraan, didiskriminasi, dan menjadi sasaran siklus kekerasan yang tak terduga. Begitulah kurang lebih gambaran kondisi warga muslim Rohingya yang diberikan oleh Gregory B. Poling, analis dari CSIS.

Pada Agustus 2017, militan Rohingya yang tergabung dalam ARSA  menyerang 20 pos polisi di Arakan. Pemerintah membalas dengan menghancurkan pemukiman penduduk Rohingya. Tidak hanya para pemberontak, tapi anak-anak, wanita, orang tua dan yang tak bersalah lainnya juga ikut menjadi korban.

Kita dan Rohingya adalah bersaudara. Persaudaraan yang lebih kuat dibanding persaudaraan karena darah dan persusuan, yaitu persaudaraan karena Iman. Rasulullah SAW bersabda,

Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya (tidak peduli padanya), menghinanya.

(HR. Muslim)

Perbuatan yang membiarkan (netral) atau bahkan mengaminkan kejadian yang menimpa Rohingya menjelaskan betapa lemah iman yang kita miliki. Seorang mukmin seharusnya jika melihat suatu kemunkaran maka ia harus mengubahnya dengan tangannya, lisannya atau setidaknya hati kita sedih dan tergerak ingin menolong mereka. Hingga saat ini, banyak organisasi-organisasi yang memberikan fasilitas bagi kita untuk menolong Rohingya. Kita tinggal memilih apakah ingin menolong atau menghiraukannya.

Kejayaan Islam tidak akan datang hingga mukmin dengan mukmin lainnya saling peduli dan saling mencintai. Rohingya, Palestina dan penderitaan mukmin lainnya cukup menggambarkan bagaimana keadaan Islam sekarang. Sebagian orang bahkan ada yang belum tahu tentang siapa Rohinya, etnis yang sudah bertahun-tahun mengalami diskriminasi. Hal yang kontras terjadi pada zaman kejayaan Islam, zaman Rasulullah SAW dan khilafah. Saat itu jika ada muslimah yang diganggu, maka kaum tersebut akan diusir seperti Bani Qainuqa, negara yang menawan meraka akan diperangi seperti Kota Amurriyah dan Kerajaan Navarre.

Tapi tidak terjadi pada zaman ini. Betapa sedihnya kita melihat muslimah di Rohingya diusir, muslimah di Palestina didzalimi, muslimah di Suriah diperkosa dan disakiti, muslimah di Afganistan di tembaki dan kita tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan mereka. Kita berharap-berharap kepada pemimpin-pemimpin kita cepat menyelamatkan mereka. Kita berharap pemimpin Myanmar bisa mengakui etnis yang sudah lama mendiami negara mereka tersebut.

Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari Radiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullahu Shallahu ‘Alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya orang mukmin bagi mukmin (lainnya) bagaikan bangunan yang satu sama lain saling menguatkan.” (Shahih Al-Bukhari, 481, dan Shahih Muslim, 2585). Dan beliau pun menyilangkan jari-jemarinya,” kata Abu Musa.

“Barangsiapa yang meringankan dari seorang mukmin satu kesusahan dari kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan darinya satu kesusahan dari kesusahan hari kiamat. Dan Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesempitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah sentiasa menolong seseorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya ”

(HR. Muslim).

“Brother, perhaps it is easier for you to dream about the future, but for us, Rohingya people, never dream about the future since we are also not sure whether we still have tomorrow”

(Zaw Min Htut, President BRAJ)

Alur Advokasi FULDFK 2017

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh ikhwah sejawat kami diseluruh Indonesia.

Islam adalah Rahmatan Lil Alamin, dimana setiap aturannya memiliki kebaikan bagi seluruh alam.
Sebagai agen dakwah di kehidupan kampus, terkadang terdapat berbagai hambatan baik mengenai kebijakan dan aturan di lingkungan Fakultas Kedokteran itu sendiri.

Kami Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi menawarkan sebuah proker yang dapat membantu sebuah lembaga dakwah fakultas untuk melakukan advokasi pada permasalahan yang terjadi.

Yuk, di download dan di baca apa itu Advokasi FULDFK dan bagaimana alur jika ingin melakukan advokasi serta hal hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan advokasi FULDFK.

Tafadhal download di ….Buku Panduan Advokasi 2017

JIKA BUKAN SURGA, YA NERAKA…

Allah hanya menyiapkan dua tempat untuk kita, yaitu Surga dan Neraka. Surga, sebuah tempat yang Allah sebutkan luasnya seluas langit dan bumi, sebuah tempat yang tentu indah dan nikmat, serta sebuah tempat yang penuh dengan bidadari. Sedangkan   Neraka? Yaitu sebuah tempat yang sangat mengerikan, dimana membayangkannya saja membuat kita merasa tidak akan kuat berada di dalamnya walaupun hanya sedetik saja. Lalu, jika kita tak sanggup berada di Neraka, maka pilihan kita adalah Surga, bukan?

 

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.”
-[Al-Baqarah 25]-

 

Sebagaimana Allah berfirman dalam surah diatas, surga diperuntukkan bagi orang yang beriman dan berbuat kebajikan. Pertanyaannya, apakah kita termasuk golongan tersebut? Sampai saat ini, kebajikan apa yang telah kita perbuat sehingga mampu mengantarkan ke depan pintu surga? Sebelumnya, Yuk, kita hitung berapa dosa yang sudah kita perbuat hari ini? Ya, hari ini saja. Dimulai dari bangun tidur, apa yang kita lakukan? Cek Hp, eh karena jomblo gak ada yang nge chat, tidur lagi, akhirnya sholat shubuh kesiangan. Habis gitu, sampai kampus ketemu temen-temen niatnya mau ngobrolin materi tutorial, tiba-tiba ada yang nyaut, “Eh, kalian tau nggak sih, Yayuk sama Mamish bulan madu di XXX loh!!”. Jadilah kita ikut dengerin dan bahkan nyaut-nyaut dikit, padahal kenal juga enggak sama mereka. Sampai saat ini, pas baca tulisan ini dan kalian nggak nge like preview nya di home line kami, bisa jadi itu salah satu d*** kalian kepada sesama manusia. Maaf, untuk yang terakhir jangan terlalu dihiraukan, ini semua karena penulis telah di endorse sama pemegang akun line FULDFK. Tapi tetep, jangan lupa like ya^^ haha

 

Dosa dalam pengertian sederhana adalah sesuatu yang dapat menyebabkan Allah Subhanahu wa Ta’ala murka. Sesuatu itu bisa berupa perbuatan fisik maupun batin. Menurut Imam Ghazali, ada tiga karakteristik dosa:

  • Dosa karena meninggalkan pekerjaan yang diwajibkan oleh Allah seperti sholat, zakat, dan puasa.
  • Dosa yang terjadi antara kita dengan Allah karena pelanggaran terhadap apa yang telah ditetapkan-Nya, misalnya melakukan riba, mengkonsumsi narkoba, dan memakan daging babi.
  • Dosa yang terjadi antar sesama manusia. Contohnya menggunjing, melukai perasaan teman, dan mencuri, termasuk mencuri hati namun tidak segera menikahi. eaaa..

Makanya, jangan ada DOSA diantara kita.. eh itu DUSTA.

 

Jika dalam sehari saja satu karung pun tak cukup untuk menampung dosa-dosa kita, maka jika sekarang kita berusia 21 tahun, dan baligh pada umur 13 tahun, maka sudah 8 tahun lamanya kita bertanggung jawab atas apa yang telah kita perbuat. Jika satu tahun adalah 365 hari, maka sudah seberapa besarkah dosa kita selama 2920 hari?? Maka benar saja perkataan Abu Nawas yaitu “Dosa kita seperti bilangan pasir yang menggunung, setiap hari selalu bertambah”.

 

Jika ketika kita berkaca, rasanya kita memang tak pantas masuk surga. Mengingat begitu banyak dosa yang kita lakukan setiap menitnya. Tapi ingat, Allah lah yang memutuskan kemana kita akan dimasukkan, entah surga atau neraka. Kita tidak boleh menganggap kebaikan dan pahala yang kita kumpulkan dapat dengan begitu mudah mengantarkan kita ke dalam surga. Janganlah sombong, karena semua bergantung pada rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, kita juga tidak boleh pesimis karena telah banyak melakukan dosa, asal kita mau bertaubat dan memohon ampun hanya kepada-Nya, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengampuni kita dan Insyaa Allah memberikan rahmat-Nya. Aamiin.

 

Berbicara mengenai taubat, para sufi mengklasifikasikannya menjadi tiga tingkatan :

  1. Taubat yang dilakukan secara umum, yaitu taubat yang dilakukan apabila seseorang telah melakukan perbuatan yang menyimpang dari aturan-aturan agama, dalam maksud lari dari maksiat kepada taat semata-mata karena takut kepada murka dan siksaan-Nya.
  2. Inabah, yaitu kembali dari yang baik menuju ke yang lebih baik demi memohon keridhaan Allah. Taubat pada tingkatan ini akan membawa seseorang untuk meningkatkan mutu ibadah menuju tingkat akhir yaitu kesempurnaan.
  3. Aubah, yaitu pertobatan yang dilakukan oleh para nabi dan rasul. Pada tahap ini, tidak dimaksudkan untuk mengharapkan pahala apalagi takut akan siksa, tetapi semata-mata karena menjalankan perintah-Nya.

 

Maka berlomba-lombalah untuk bertaubat dan jangan lupa istiqomah. Karena bisa jadi seorang ahli ibadah saat ini, meninggal dalam keadaan murtad seperti kisah Abdullah bin Abdurrahim. Dan seorang pecandu narkoba, pemabuk, ataupun pencuri bisa mati dalam keadaan khusnul khotimah. Karena sebenarnya manusia itu terdapat dalam tiga kelompok sebagaimana Nabi Yahya bertanya kepada Iblis, “Wahai Iblis, Katakan padaku mengenai bani Adam !! ” lalu Iblis menjawab, “Mereka ada tiga kelompok, kelompok pertama yaitu kelompok seperti Engkau, kelompok kedua yaitu kelompok dimana mereka di tanganku seperti bola di tangan anak kecil, artinya kita adalah permainan yang mudah dilemparkan oleh iblis, kelompok ini sangat mudah dipengaruhi oleh Iblis, dan kelompok ketiga adalah kelompok yang dimana mereka ini seakaan-akan sanggup kami palingkan, ternyata di akhir mereka memohon ampun kepada Allah.” MasyaAllah..

 

Jadi, jika bukan surga ya neraka?

Maka, pilihlah yang mana…