TRY OUT UKMPPD 2017

Assalamualaikum, ikhwah 🙂

FULDFK punya sesuatu yang baru nih?

Tenang, bukan
“Kulit manggis kini ada ekstraknya” kok

Penasaran??

Siapkan laptop dulu ya ikhwah,

Lalu?

Buka link dibawah ini :
TRY OUT UKMPPD

Bukan berita patah hati karena hamis sama yaya menikah kan?

Yaps, mulai sekarang, ikhwah sekalian bisa mengerjakan soal TO UKMPPD via flash player

Passwordnya “medicalzone” ya ikhwah

Selamatt mencoba 🙂

 

FUTUR

Kali ini kita akan bahas “Futur”.. bukan futur doctor.. apalagi futur husband.. apalagi futur kata yang manis (tutur !!)

Futur secara bahasa adalah “rasa malas” atau laziness. Lebih spesifiknya dalam lisanul arab, futur adalah rasa malas yang muncul setelah kamu lagi rajin-rajinnya.

“Diam setelah intensitas tinggi, yaitu setelah melakukan dengan usaha keras”

Lah ?? kok bisa males setelah rajin ??

Gini nih contohnya.

Pernah nggak kalian ketika masa SMA, hasil nilai ujian kalian mirip kaya harga promo akhir tahun sendal “serba 50an” dan pasti setelah dapet nilai ujian segitu, kalian langsung on fire, off dari socmed, bikin janji sama diri sendiri buat belajar, anti main keluar, daftar les-lesan, ikut komunitas batu akik, konsultasi syariah ke dukun.. pokoknya semua kalian lakukan karena pengen nilai yang bagus dan mumpung lagi semangat-semangatnya buat belajar.

5 hari kemudian, kalian mulai terjebak di lingkaran drakor lagi, mulai bosen belajar, dan orientasi memperbaiki nilai berubah menjadi kepasrahan menerima keadaan dan akhirnya males-malesan belajar lagi

Pernah seperti ini ??

Itulah yang dinamakan Futur. Contoh kasus edisi masa studi, dimana pada awalnya kalian semangat belajar.. eh lama-lama bosen belajar.. pengen main dan pasrah..

Futur ini bisa terjadi pada banyak aspek kehidupan, mulai dari cinta, sosial, keluarga, pekerjaan/pendidikan dan Agama. Sekarang, mana yang lebih berbahaya ?

Apakah Futur dalam cinta ? Oke, mungkin kalau nanti kita udah punya istri, atau suami di tengah-tengah alur pernikahan kita bakal ngerasa bosen sama pasangan kita.. soalnya yang dulunya mirip Agnez Mo sekarang mirip kaya Jaiko adiknya Giant. Tapi ya karena cinta itu menerima apa adanya, biasanya 2-3 hari futur cintanya ilang.

Apakah Futur dalam sosial ? Diantara kita pasti ada yang punya satu temen yang nyebelin banget kaya sales alat rumah tangga dan kadang kita bosen banget main sama mereka, tapi manusia adalah mahluk sosial, 2-3 hari nggak main, kesepian, nanti juga futur sosialnya hilang..

Apakah Futur dalam keluarga ? Libur telah tiba, sesampainya dirumah, malah disuruh kerja romusha. Disuruh ini, disuruh itu.. awalnya semangat pengen ketemu orang tua.. eh lama-lama males pengen balik aja.. tapi yang namanya keluarga pasti benci namun cinta.. mau disuruh romusha atau kerja paksa.. kalau udah kangen.. ya gapapa.. 2-3 hari udah nggak ada yang namanya futur keluarga.

Apakah Futur dalam pekerjaan dan pendidikan ? Siapa sih yang nggak males kerja atau sekolah ? Tapi cukup dengan kata bijak dari Nelson candella.. “elu kalau nggak sekolah pinter atau nggak kerja, bakal susah cari jodoh” sepertinya sudah cukup buat membangkitkan semangat dari kefuturan.

Apakah futur dalam beragama ? Awal bulan sholat 5 waktu dimasjid, rajin ikut kajian, ngaji one day one juz.. Tengah bulan.. Muncul banyak cobaan, dijauhi temen karena dianggap ekstrimis, dinasihati keluarga karena resiko gabung ISIS, dan dipandang aneh karena sering pake gamis.. masuk akhir bulan.. sholatnya 5 waktu di jamak subuh, rajin ikut kajian multi level marketing, ngajinya one day one ayat, cuma baca bismillah aja.. di akhirat.. duar di shotgun sama malaikat..

Mana yang paling berbahaya ?? Tentu futur dalam beragama..

Semua futur jelas berbahaya, futur dalam cinta bisa berujung perceraian, futur dalam pertemanan bisa berujung permusuhan, futur dalam keluarga bisa berujung pertikaian, dan futur dalam pekerjaan/pendidikan bisa berujung kegagalan.. tapi disini kita bakal bahas futur dalam agama.. kenapa ??.. karena ini website fuldfk -_- nggak sih, karena memang futur dalam agama adalah akar permasalahan futur-futur yang lainya.. termasuk futur husband nggak muncul karena kita futur dalam beragama..

Penyakit futur dalam beragama banyak terjadi kepada orang yang belajar agama karena memang ciri-ciri orang yang baru belajar adalah semangat tapi masih labil, di awal-awal memang semangat, tapi penyakit setiap manusia yang belajar adalah rasa bosan dan dari rasa bosan tersebut munculah futur yang mengakibatkan orang pada akhirnya menjadi malas belajar atau berhenti belajar sama sekali.

Kenapa kita futur ?

  1. Hilangnya Alasan

Kita kerja karena biar dapet duit, maka ketika nggak dapet duit, apakah kita masih kerja ?? tentu kita bakalan males dan akhirnya berhenti kerja. Sama kaya belajar agama dan belajar yang lainya. Kita semua pasti punya alasan kenapa melakukan sesuatu dan kalau alasan itu hilang maka kita malas dan bahkan berhenti melakukan sesuatu itu.

Contohnya kamu makan karena kamu laper. Jadi kalau udah nggak laper, kamu pasti berhenti makan. Nah, futur ini terjadi karena kadang kita kehilangan alasan untuk melakukan sesuatu.

  1. Godaan

Besok ada ujian, dan saat itu kamu sedang belajar.. Tiba-tiba dari jarak 2 windu terdengar suara HP berbunyi..CETING !!.. Ternyata ada notifikasi babang gojek kesayanganmu mau nganterin makanan.. Kamu buka deh tu HP.. udah selesai ngurusin gojek, mau lanjutin belajar tiba tiba dari kanan muncul suara setan “eits.. nggak mau cek IG dulu ?? sekalian loh cyin.. mumpung buka hape.. keliatannya si doi update sesuatu baru nih”.. dari kiri muncul suara malaikat “hentikan inayah, besok ujian.. ayo belajar”.. dan akhirnya kamu buka IG.. niatnya mau cek postingan si doi aja.. eh keterusan sampe ngecek akun FBI.. dan akhirnya kamu malas buat belajar..

Futur bisa terjadi ketika banyak gangguan disekitar kamu.. pas mau ngaji misalnya.. tiba-tiba di sms di ajakin main UNO.. atau pas mau puasa sunnah senin-kamis.. tiba-tiba ditawarin promo diskon makanan..

  1. Kurangnya Tekad

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Ustsaim pernah ditanya, kenapa orang menjadi futur, lalu beliau menjawab Dha’ful Himmah atau tekad yang lemah

Sebagai contoh, kita semua tau kalau alasan olahraga itu biar sehat, tapi meskipun udah punya alasan yang kuat untuk olahraga.. terkadang kita tetep aja bisa futur karena kurangnya tekad..

Hal yang akan terjadi ketika kita selesai olahraga adalah timbunan asam laktat yang bikin badan kita pegel-pegel dan juga asem dan rasa pegel-pegel itu kadang bikin kita kapok buat olahraga lagi. kurangnya tekad membuat kita tidak bisa menahan perihnya perjuangan dan menjauhkan kita dari nikmatnya kesuksesan.

Futur terjadi ketika kita kurang tekad walaupun alasan kita sudah jelas dan godaan sudah kandas. Dalam berjuang, belajar, dan melakukan segala sesuatu memang menimbulkan kelelahan yang harus kita tahan untuk mencapai keberhasilan.. bahkan buat ngupil aja kita perlu berusaha memposisikan dan menggerakan ujung jari kita agar mencapai harmoni dan mendapatkan upil terbaik yang ada.. bayangkan kalau kita nggak punya tekad buat ngupil.. hipoxia pasti..

  1. Cara bekerja yang salah

Selama kalian sekolah, kalian pasti akan berhadapan dengan dua jenis guru.. guru yang kayak obat tidur atau nggak enak ngajarnya, dan guru yang kayak gamefantasia alias enak ngajarnya.. diantara dua jenis guru tersebut, guru yang enak ngajarnya biasanya mempunyai jenis metode mengajar yang asik, unik, lucu, berbeda dan nggak ngebosenin.. sedangkan guru yang ga enak ngajarnya pasti bikin bosen dan seakan akan meminta kita untuk bolos di mapelnya.. yang membedakan dua jenis guru ini adalah tata cara mengajarnya.. hanya dari perbedaan tata cara mengajar saja, murid dari guru yang asik bakalan lebih paham materi dibandingkan dari murid dari guru yang ngebosenin.

Begitu juga dengan Futur, ke Futuran terjadi ketika kita bosan terhadap sebuah proses. Terlebih kalau proses yang kita jalani cuma gitu-gitu aja nggak ada asik-asiknya.. karena kita kurang kreatif dalam menciptakan sebuah proses, akhirnya kita bosan dan endingnya menjadi Futur..

Gimana untuk mengatasi Futur ?

Ada 4 hal utama yang menyebabkan futur, dan kita bisa mulai dari 4 hal itu juga untuk mengatasi timbulnya Futur.

  1. Buat tujuan dan alasan yang jelas

Alasan pertama kita futur adalah karena tidak adanya alasan yang jelas atau tujuan yang jelas kenapa kita harus berusaha. Cara mudah untuk menciptakan sebuah tujuan dan alasan yang jelas adalah Lillahi Ta’ala atau hanya demi Allah semata. Karena apabila perjuangan kita diniatkan kepada Allah, maka nggak mungkin kita akan kehilangan alasan, karena Allah selalu ada dan nggak mungkin kita nggak punya tujuan karena Allah selalu disana. Allahlah seharusnya yang menjadi alasan dan tujuan kita melakukan segala sesuatu.

“Sesungguhnya segala amalan itu tidak lain tergantung pada niat; dan sesungguhnya tiap-tiap orang tidak lain (akan memperoleh balasan dari) apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan rasul-Nya..,”

-HR Bukhari-

Daripada bingung mencari alasan dan tujuan, Allah selalu ada untuk menjadi alasan dan tujuan kita. Selain selalu ada, juga menjaga kita dari perbuatan yang buruk.. Nggak mungkin kan kita belajar jadi maling terkenal karena Lillahi ta’ala kan? Maka, selain menjadi tujuan agar kita tidak Futur.. niat kepada Allah juga menjaga kita dari kufur.

  1. Jauhi Godaan

Cara paling aman untuk melawan godaan terhadap Futur adalah dengan menjauhi godaanya, contohnya daripada kita diganggu terus sama temen kita yang selalu ngajakin kita main tiap kita mau belajar agama, mendingan kalian jauhi teman kalian atau kita masukin saja mereka dalam kulkas.

“Jauhilah zina, karena sesungguhnya zina adalah perbuatan yang keji dan buruk”

-Al Isra 32-

Ketika kita tidak bisa menjauhi godaan, maka mau tidak mau kita lawan. Dengan cara intervensi langsung atau tidak langsung. Contoh intervensi langsung adalah apabila kalian punya temen yang suka gangguin waktu kalian sholat, karena udah sahabatan dan nggak mungkin kita jauhi, waktu dia ganggu sholat langsung kita gebukin aja habis itu minta maaf. Hal ini tidak dianjurkan mengingat mungkin temen kita lebih gede badannya dan lebih jago berantem..dan contoh intervensi tidak langsung (disarankan) adalah dengan mendekatkan diri kita kepada Allah agar iman kita ditingkatkan dan tidak mudah tergoda oleh godaan.

  1. Perbulat Tekad

Meski kita sudah memiliki tujuan yang jelas, kreatif, dan menjauhi godaan.. tapi tidak memiliki tekad, kita tetap akan futur. Tekad adalah kunci utama yang menjauhkan kita dari Futur.. Tekad diperbulat dan diperkuat dengan banyak memotivasi diri sendiri, banyak baca referensi yang bisa mengembalikan semangat kita, dan juga dari dukungan lingkungan luar.. berteman dengan orang-orang yang mendukung kita juga salah satu cara untuk menguatkan tekad kita.

  1. Memperbaiki cara belajar

Bosan adalah salah satu penyebab utama dari Futur, dan bosan bisa kita atasi dengan menyesuaikan cara belajar yang tepat dan juga mencoba hal baru. Misalkan biasanya kita belajar agama cuma dengan baca buku di rumah, dan akhirnya kita bosen karena cuma gitu-gitu aja.. kalian bisa coba hal baru dengan misalnya nonton video agama, atau baca buku di tempat lain selain di rumah.. atau kalian ngadain acara camping agama bareng.

  1. Bersabar

Diantara semua itu, solusi bersabar adalah solusi yang paling tepat untuk mengatasi Futur. 

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini”

-Al Kahfi 28 –

Sabar adalah sesuatu hal yang menjadikan puasa kita nggak batal, hidup kita nyaman, dicinta Allah dan terutama anti terhadap Futur.. masalah yang terjadi ketika awal-awal kita belajar agama adalah karena kita pengen langsung jadi dr Zakir Naik, kita pengen instan padahal sebuah kesuksesan besar tidak ada yang instan. Semuanya memerlukan waktu dan yang jelas memerlukan kesabaran.

Futur adalah sebuah hal yang wajar dan biasa terjadi kepada manusia.. yang membedakan orang sukses dan tidak sukses bukanlah apakah dia pernah futur atau tidak melainkan apakah dia bisa bangkit dari futur atau tidak.. para sahabat Nabi pun juga pernah mengalami futur.. namun mereka tidak menyerah pada kefuturan melainkan bangkit kembali dan sekarang menginspirasi kita melalui cerita-ceritanya..

Hanya ada 2 jalan ketika kamu futur, yaitu menjadi Kufur atau bangkit membangun bright future.

Kapan ke Majelis Ilmu lagi?

Pagi siap-siap kuliah, kerjakan tugas yang belum selesai.

Kemudian berangkat kuliah, selesai siang atau sore, belum lagi kalua ada praktikum.

Setelah itu mengerjakan tugas, laporan, kunjungan lapangan.

Belum lagi kalau kamu  anak organisasi, rapat, rapat, dan rapat.

Malam, review mata kuliah sampai ketiduran.

3,5 tahun atau lebih kita akan disibukkan dengan aktivitas Mahasiswa yang suuper sibuk.

Namun ingat kembali, setelah kuliah selesai, wisuda, lulus, sibuk cari kerja, dan mengejar jenjang karir.

Lalu menikah karena sudah berpenghasilan dan merasa “mampu”.

Tunggu dulu, memangnya sudah siap ilmu agama kita untuk mendidik istri kita? (bagi suami) atau menjaga hak suami dan menjadi madrasah pertama anak-anak kita? (bagi istri)

Saat menikah sih berdoa, “Semoga keluarganya sakinah, mawaddah, warahmah”…

Tapi apakah doa itu hanya sebatas doa (harapan) saja tanpa usaha? Apa usaha yang harusnya kita lakukan agar punya ilmu membangun rumah tangga? Boro-boro ilmu dalam rumah tangga, dasar ilmu agama kita apakah sudah diperbaiki?

Astaghfirullah, kita seringkali lalai akan kewajiban kita sebagai muslim dan sibuk mengejar “prestasi” “perhiasan” dunia… Kemudian merasa “terlalu sibuk” untuk Belajar ilmu agama..

 

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”.

(HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

 

Berdasarkan hadits tersebut, ilmu itu wajib dipelajari. Ilmu seperti apa? Yakni ilmu syar’I atau ilmu agama.

 

“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’“.

(QS. Thaaha [20] : 114)

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan pada ayat tersebut ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Ibnu Qoyyim rahimahullah menjelaskan ilmu yang wajib dipelajari seorang muslim yakni :

Pertama, pokok-pokok keimanan.

Kedua, ilmu tentang syariat-syariat Islam.

Ketiga, lima hal yang diharamkan  yang disepakati oleh para Rasul dan syariat sebelumnya.

Keempat, ilmu yang berkaitan dengan interaksi antar perseorangan secara khusus seperti istri, anak, keluarga, dan lain sebagainya.

Satu ilmu saja sungguh perlu kajian khusus, bagaimana keempat hal wajib tersebut bisa kita pelajari dalam waktu singkat? Maka perlu kita biasakan mengikuti kajian agama Islam secara rutin dan Meluangkan waktu untuk Belajar agama sesibuk apapun aktivitas kita.

Selain karena memang kita membutuhkan ilmu tersebut, merupakan tanggung jawab kita yang akan dipertanyakan diakhirat, digunakan untuk apa waktu kita masih hidup? Saya kira akan terlihat siapa yang benar-benar ingin meraih akhirat atau justru lebih cinta dunia di akhirat kelak. Tapi, benarkah kita cinta akhirat dan ingin mendapat ridha Allah semata? Jika iya, pastinya kita sudah sibuk dengan belajar agama saat ini.

Bagaimana dengan Belajar agama di Internet?

Saudaraku, sebaiknya kita mulai kurangi aktivitas “tidak penting” kita di media sosial. Mulailah kita sibukkan diri dengan mengikuti kajian di dunia nyata, karena akan terasa bedanya.

Di Internet, ada banyak sekali fitnah atau Ujian yang bisa menyebabkan kita lalai atau bahkan lupa hakikat belajar agama. Sebut saja fitnah lawan jenis, gambar, hoax, fenomena mendadak ustadz, debat kusir soal agama, ketinggalan shalat berjamaah di masjid bagi ikhwan, dan akhirnya malas untuk datang ke kajian atau majelis ilmu di dunia nyata.

 

Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.”

[HR Muslim, no. 2699; Abu Dawud, no. 3643; Tirmidzi, no. 2646; Ibnu Majah, no. 225; dan lainnya].

 

Dalam majelis ilmu, kita akan mendapatkan ketenangan, bisa menghilangkan stress, dan lelah kehidupan dunia yang semu.

 

“Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.”

(HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795)

 

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)

Serta akan dinaungi rahmat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

 

“Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.”

(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).

 

Dalam majelis ilmu di dunia nyata, kita juga dapat belajar atau mendapat contoh langsung akhlak dan taqwa dari ustadz atai syaikh. Sebagian kita beranggapan ilmu itu hanya materi ilmu saja yang perlu diingat. Padahal yang terpenting adalah contoh langsung akhlak, taqwa, kesabaran, tawaddu’, dan wara’ dari para ustadz atau syaikh. Karena jika hanya sekedar ilmu, semua orang bisa berbicara. Namun untuk menerapkan dan mencontohkannya hanya beberapa orang yang Allah beri taufik yang bisa melakukannya. Sehingga perlu kita ketahui juga, jika menuntut ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlak dan adabnya terlebih dahulu, baru ilmunya.

Kemudian, dalam majelis ilmu, kita bisa bertemu dengan orang-orang shalih yang sama berorientasi pada akhirat. Hal ini bisa memperkuat iman kita, serta memunculkan persaingan sehat mengejar akhirat.

Dan yang utama juga adalah mudahnya mendapat penjelasan, dan dapat dikoreksi kekeliruan pemahaman kita. Karena jika hanya belajar lewat internet saja, hal ini akan meningkatkan risiko error pemahaman dan salah paham yang bisa berakibat pada amalan kita yang sia-sia atau justru salah.

Bagi mereka yang sudah merasakan indahnya majelis ilmu, hal ini akan terasa mudah dan justru menjadi kebutuhan bagi mereka. Karena “rekreasi” mereka adalah majelis ilmu yang mengingatkan tentang Allah dan akhirat, kampung kembali yang kekal. Kepenatan dan kejenuhan duniawi akan sirna dengan mengingat akhirat. Dalam seminggu saja jika tidak hadir, akan terasa ada yang kurang.

Berbeda dengan mereka yang belum merasakan indahnya majelis ilmu, yakni nikmat ilmu dan pemahaman agama yang baik, rekreasi yang mereka pilih diantaranya adalah konser musik.  Padahal, dahulu di zaman keemasan Islam, majelis ilmu jauh lebih ramai bahkan mengalahkan konser musik yang ada saat ini.

“Umar bin Hafs menceritakan bahwa Al-Mu’tashim memperkirakan orang yang hadir di majelis ‘Ashim bin Ali bin ‘Ashim di lapangan pohon kurma yang berada di kawasan masjid jami’ Ar-Rushafah. Mu’tashim mengatakan bahwa ‘Ashim bin Ali duduk di bagian atas atau atap rumah dan manusia menyebar di sekitar lapangan. Orang-orang yang hadir terus bertambah sehingga terkumpul jumlah yang sangat besar. Sampai suatu hari, aku mendengar ‘Ashim berkata, ‘Al-Laits bin Sa’ad menyampaikan hadits kepada kami’. Ia mengulangnya sebanyak 14 kali karena orang-orang tidak bisa mendengarnya. Ia berkata: Harun harus menaiki pohon yang bengkok untuk mendengarnya [mencatat]. Maka berita ini sampai ke Al-Mu’tashim mengenai banyaknya jumlah yang hadir. Maka ia memerintahkan orang agar memperkirakan jumlah mereka. Maka ia memperkirakan -dengan patokan sebagaimana kelompok-kelompok kambing- maka diperkirakan yang menghadiri majelis sekitar 120 ribu.” [Taarikh Bagdad 14/170,  Darul Gharb Al-Islami, Beirut, 1422 H, Syamilah]

“Aku telah menghadiri majelis Sulaiman bin Harb di Baghdad dan mereka [para Imam hadits] memperkirakan jumlah yang hadir sekitar 40 ribu orang. “ [Al-Jarh wat ta’dil 4/108, Dar Ihya’i At-Turats, Beirut, 1271 H, Syamilah]

Bahkan ada yang harus “booking tempat“ untuk bisa menghadiri kajian tersebut karena ramainya yang ingin menghadiri.

“Saya melihat majelis Al-Firyabi yang diperkirakan terdapat 15 ribu tempat tinta. Kami harus menginap di tempat yang akan di dudukinya besoknya untuk dapat menghadiri majelis.” [Al-Kamil fi dhu’afa At-Rijal 6/407, Dar Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1418 H, Syamilah]

Artinya, terjadi perbedaan orientasi hidup muslim saat ini dengan zaman keemasan Islam. Masih inginkah kita mengejar duniawi dan mencari rekreasi yang kurang bermanfaat untuk kehidupan dunia, apalagi bermanfaaat untuk kehidupan akhirat? Atau masih peduli kah kita dengan akhirat kita nanti?

Jika masih peduli, yuk kita datang ke majelis ilmu, ke kajian yang benar-benar berisi ilmu, bukan untuk mencari canda / tawa / hiburan sementara. Tapi hiburan dengan siraman ilmu yang menyejukkan hati dan mengingatkan kita pada akhirat, yakni majelis ilmu yang menjadikan kita tidak “nafsu” untuk mengejar dunia secara berlebihan, hanya untuk dunia saja. Sehingga, prioritas akhirat kita terjaga, menguatkan iman, dan bisa mendapatkan ketenangan hati di tengah kehidupan kita “yang sibuk” ini.

Allahua’lam.

 

Oleh Azhar Rafiq dari SKI Asy-Syifa FK Unram @Mataram, NTB, Senin, 14 Agustus 2017

 

Daftar Pustaka :

Bahraen, R. (2012). Jangan Terlalu Banyak Menuntut Ilmu Agama Di Dunia Maya | MuslimAfiyah. Retrieved August 14, 2017, from https://muslimafiyah.com/jangan-terlalu-banyak-menuntut-ilmu-agama-di-dunia-maya.html

Bahraen, R. (2012). Majelis Ilmu Mengalahkan Konser Musik | MuslimAfiyah. Retrieved August 14, 2017, from https://muslimafiyah.com/majelis-ilmu-mengalahkan-konser-musik.html

Bahraen, R. (2013). 10 Fitnah (Ujian) Agama Di Facebook Dan Dunia Maya | MuslimAfiyah. Retrieved August 14, 2017, from https://muslimafiyah.com/10-fitnah-ujian-agama-di-facebook-dan-dunia-maya.html

Hakim, M. S. (2013). Setiap Muslim Wajib Mempelajari Agama | | Muslim.Or.Id. Retrieved August 14, 2017, from https://muslim.or.id/18810-setiap-muslim-wajib-mempelajari-agama.html

Tuasikal, M. A. (2016). Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu – Rumaysho.Com. Retrieved August 14, 2017, from https://rumaysho.com/12717-ketenangan-jiwa-dalam-majelis-ilmu.html

 

Islamic Medical Magazine 2017 Edisi I

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

FULDFK Indonesia feat. LSKI FK UISU proudly present :
Islamic Medical Magazine 2017 Edisi I

Islamic Medical Magazine (I-Med Magazine) adalah majalah kedokteran Islam yang merupakan sarana bagi mahasiswa kedokteran untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam, mengembangkan dan menguatkan pemikiran islami khususnya dibidang kesehatan, dan memperkuat ukhuwah antar fakultas kedokteran di seluruh Indonesia.

I-Med Magazine merupakan salah satu program dakwah FULDFK yang bergerak dimedia cetak. Semoga dengan tersebarnya I-Med Magazine ini dapat menambah wawasam ikhwah sekalian tentang agama islam, ilmu kedokteran kontemporer, dan kombinasi keduanya. Barakallahu fiik ~~

Yuk download I-Med Magazine di link berikut, ikhwah :
Donwload

Gay – Muslim, is it possible?

Hakikat manusia adalah hidup sebagai makhluk sosial, dimana manusia akan membentuk struktur atau sistem yang mampu melahirkan standar nilai dan norma sebagai pedoman hidup. Norma sosial yang terlahir dalam masyarakat berfungsi untuk menghindarkan pertentangan atau konflik antar individu. Norma sosial juga terkait dengan perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat dan perilaku yang kurang pantas untuk dilakukan, dimana perilaku baik akan dipuji sedangkan perilaku buruk akan dikenai sanksi.

Seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia, banyak terjadi pergeseran norma yang berdampak pada munculnya beberapa penyimpangan. Beberapa pekan ini, umat Islam tengah digemparkan oleh sebuah berita di media terkait pernikahan kontroversial yang baru saja dilangsungkan di West Midlands, United Kingdom pada tanggal 11 Juli 2017. Berita tersebut membahas tentang pernikahan antara Mr. Jahed Choudhury dan Mr. Sean Rogan. Hal yang lebih mencengangkan lagi adalah pernyataan yang dikemukakan oleh kedua pasangan tersebut “We want to show the whole world that you can be gay and Muslim”. Ini adalah suatu pernikahan sesama jenis dan diklaim sebagai pernikahan Muslim Gay yang pertama di Britania Raya, negara dengan kebebasan sipil.

Tentunya pernyataan tersebut merupakan hal yang harus kita sesali jika telah terucap oleh insan yang setiap harinya mengucapkan dua kalimat syahadat, yang sudah mengaku menghambakan diri kepada Allah SWT. Sebagai seorang muslim dan mukmin, tidak akan salah jika hati kalian miris ketika berita ini sampai di telinga kalian. Karena sesungguhnya, you cannot be gay and Muslim.

Gay, yang juga disebut homoseksualitas, masih merupakan hal yang tabu dan sangat sulit diterima oleh masyarakat Indonesia. Budaya timur yang melekat di masyarakat kita menjadikan hal ini sebuah masalah yang besar. Namun berbeda tentunya dengan negara barat, masyarakat disana telah menerima keberadaan kaum homoseksual, bahkan menghalalkan pernikahan sesama jenis.

Cobalah googling dengan keyword Muslim LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender and Queer), atau search dengan hashtag MuslimGay pada kolom pencarian Instagram kalian atau berbagai media sosial lainnya, niscaya kalian akan terkejut dengan realita yang terpampang di sana, berbagai posting dukungan dan ajakan, lengkap dengan warna khas nya yang bercorak pelangi pun bertebaran. Inilah fakta sekaligus fenomena yang sangat menyedihkan, bahwa dukungan Muslim di luar sana terhadap kaum LGBTQ sudah merajalela, bahkan merasuk dalam umat Islam itu sendiri. Mirisnya lagi, sebagian mengatakan bahwa ini adalah salah satu bentuk memerangi Islamophobia di negara Barat.

Pada sudut pandang kuantitatif, masalah sosial dianggap sebagai sebuah perilaku yang dapat mengganggu banyak orang sehingga perilaku tersebut dianggap menyimpang dari perilaku-perilaku kebanyakan masyarakat. Pengalaman negara-negara anggota GCC (Gulf Coorporation Council) atau sering disebut dengan negara yang berada di kawasan Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, dalam memberikan sikapnya terhadap fenomena LGBT merupakan contoh dari analisis masalah sosial dari sudut pandang kuantitatif. Artinya bahwa kesepakatan legitimasi yang dicanangkan oleh negara anggota GCC tentang larangan keras adanya LGBT untuk eksis di negara tersebut telah menjadi kesepakatan bersama bahwa LGBT merupakan masalah sosial yang tak terelakan keberadaannya. LGBTQ adalah penyakit.

LGBTQ adalah suatu penyakit pikiran, juga penyakit perilaku yang bisa menular. Hal yang ditakutkan adalah masyarakat yang belum tahu menahu akan hal ini bisa latah, lalu semakin banyak oknum yang tertarik mengikuti jejak mereka. Di mana pemikiran orang-orang yang belum mempelajari atau memeluk agama Islam akan mengarah kepada persepsi yang salah, yakni Islam menghukumi gay sebagai suatu perbuatan yang diperbolehkan, naudzubillahi min dzalik.

Tidak hanya itu, Abdul Hamid El-Qudah, Seorang Dokter Spesialis Penyakit Kelamin Menular dan AIDS di Asosiasi Kedokteran Islam Dunia (FIMA) menjelaskan dampak-dampak yang ditimbulkan dari LGBT, diantaranya yaitu :

1. Dampak kesehatan

Dampak-dampak kesehatan yang ditimbulkan sekitar 78% pelaku homoseksual yaitu penyakit kelamin menular. Penyakit menular yang nomor satu menyerang kaum LGBTQ ialah Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Seorang pengidap AIDS bahkan lebih mudah terserang penyakit infeksi lainnya seperti kencing nanah anorektal (gonore anorektal), raja singa (sifilis), diare (Cryptosporidium, Shigella, Helicobacter, Entamoeba histolytica), kandidiasis, dan penyakit menular seksual (PMS) lainnya dikarenakan imunitas/kekebalan tubuh mereka yang sangat rendah.

2. Dampak sosial

Penelitian menyatakan “seorang gay mempunyai pasangan antara 20-106 orang per tahunnya. Sedangkan pasangan zina seseorang tidak lebih dari 8 orang seumur hidupnya. 43% dari golongan kaum gay yang berhasil didata dan diteliti menyatakan bahwasanya selama hidupnya mereka melakukan homoseksual dengan lebih dari 500 orang. 28% melakukannya dengan lebih dari 1000 orang. 79% dari mereka mengatakan bahwa pasangan homonya tersebut berasal dari orang yang tidak dikenalinya sama sekali. 70% dari mereka hanya merupakan pasangan kencan satu malam atau beberapa menit saja. Hal itu jelas-jelas melanggar nilai-nilai sosial masyarakat.

3. Dampak Pendidikan

Siswa ataupun siswi yang menganggap dirinya sebagai homo menghadapi permasalahan putus sekolah 5 kali lebih besar daripada siswa normal karena mereka merasakan ketidakamanan, dan 28% dari mereka dipaksa meninggalkan sekolah.

4. Dampak Keamanan

33% pelecehan seksual pada anak-anak di Amerika Serikat

Peringatan Allah akan kaum LGBTQ

Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ) jika dipandang dari sudut pandang Islam merupakan masalah besar yang dampaknya sangat membahayakan bagi umat manusia. Ajaran Islam melarang tegas perilaku menyimpang ini karena tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syu’arâ: 165-166

(165). أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ

“Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,

(166). وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ ۚبَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ

dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.

Dan dalam Al Qur’an pada QS. Al-A’raf: 80-81 yang berarti:

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (amat keji) yang belum pernah terjadi oleh seorang pun dari umat-umat semesta alam. Sesungguhnya kamu menggauli lelaki untuk memenuhi syahwat, bukan isteri. Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan.”

Ingatkah engkau akan kisah kaum Nabi Luth AS? Nabi Luth AS diutus oleh Allah untuk mendakwahi penduduk negeri Sadum, yang kehidupannya sarat dengan maksiat dan kedurhakaan terhadap Allah. Kemaksiatan yang khas dan amat menonjol adalah perbuatan homoseksual, liwath di kalangan lelaki dan sihaq di kalangan wanita. Inilah kaum yang pertama kali melakukan perbuatan yang sangat dihinakan Allah yakni perilaku homoseksual. Namun hati mereka keras, mereka tidak mau menerima ajakan dan nasihat kebaikan dari Nabi Luth AS. Hingga akhirnya Allah timpakan azab yang sangat pedih bagi mereka.

Dalam QS. Al-Hijr (:73-76), Allah Ta’ala mengabarkan tentang azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth AS, yaitu berupa siksaan yang sangat mengerikan. Allah turunkan gempa bumi yang sangat dahsyat disertai angin yang kencang dan hujan batu yang menghancurkan kota Sadum berserta semua penghuninya. Bertebaran mayat-mayat yang dilaknat oleh Allah di kota Sadum, dan hancurlah kota tersebut. Namun, sisa-sisa kehancuran kota tersebut masih ditinggalkan oleh Allah sebagai peringatan bagi kaum pada masa kemudian yang melalui bekas kota Sadum tersebut. Demikianlah kebesaran Allah dan ayat-Nya yang diturunkan untuk menjadi pelajaran bagi hamba-hamba-Nya yang mendatang. Bukankah Allah sudah jelas-jelas melarang kaum homoseksual dari dahulu kala?

Dan perlu diketahui, para ulama mengatakan bahwa perbuatan sodomi lebih besar dosa dan hukumannya dari perbuatan zina. Jika orang yang belum nikah berzina, maka dia akan dihukum dengan 100 kali cambukan, lalu diasingkan dari negerinya selama setahun penuh. Sedangkan orang yang sudah menikah lalu berzina, maka dia dihukum rajam (dilempari batu) hingga mati. Adapun pelaku liwath, maka hukumannya adalah dibunuh dalam keadaan bagaimana-pun.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

“Barangsiapa yang mengetahui ada yang melakukan  perbuatan liwath (sodomi) sebagaimana yang dilakukan oleh Kaum Luth, maka bunuhlah kedua pasangan liwath tersebut. ” [HR Tirmidzi]

Lantas, tidakkah kaum LGBTQ takut akan balasan perbuatan maksiat mereka yang sangat pedih baik di dunia maupun akhirat?

Fitrah manusia untuk hidup berpasangan, laki-laki dengan perempuan

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59)

Sesuai fitrahnya, Allah SWT menciptakan manusia dan makhluk hidup berpasang-pasangan agar manusia mau memikirkan nikmat yang telah Allah berikan padanya, yaitu memikirkan akan ketetapan ini. Hikmahnya adalah dengan berpasangan tersebut keberadaan makhluk tetap ada, karena akan tumbuh dan berkembang, dan melanjutkan keturunan.

Dan bagaimana dapat melanjutkan keturunan jika berhubungan dengan sesama jenis? Pun hal ini tergolong sebagai perbuatan maksiat dan dosa yang sangat besar, sesuatu yang menimbulkan kemurkaan Allah karena telah mendustakan ketetapan-Nya, bahwa laki-laki seharusnya berpasangan dengan perempuan.

Nah, sudah tahu kan mengapa “You can’t be Gay and Muslim”? Perbuatannya saja sangat dilaknat Allah, apalagi jika keduanya memaksa dipersatukan dalam pernikahan, padahal sama sekali tidak sesuai syariat Islam dan tentunya melenceng dari hukum Islam, maka sangat jelas jika pernikahan tersebut hukumnya haram, jauh dari kata sah, layaknya perbuatan dosa yang diselimuti oleh topeng kebaikan.

Tugas kita sebagai umat Islam adalah jangan pernah sekalipun tertarik untuk menjadi penerus kaum Nabi Luth AS, perangi fenomena LGBTQ, janganlah jadi seseorang yang mendukung bahkan membanggakan perbuatan maksiat yang lebih keji dari zina ini, melainkan jika kita berjumpa dengan sosok yang seksualitasnya mengarah kepada penyimpangan, alangkah baiknya kita ajak ia bertaubat, kita nasihati dengan kebaikan agar bisa kembali pada jalan-Nya yang benar, dan hal terpenting yang tak boleh ketinggalan yaitu doa, sebagai senjata terjitu seorang mukmin, doakan mereka agar segera menjemput hidayahnya.

Semoga Indonesia menjadi negeri yang gagah dan mampu mempertahankan nilai-nilai moral sehingga dapat membendung berbagai paham-paham yang merusak dari luar. Negeri yang berpenduduk mayoritas muslim ini sudah semestinya mempraktikkan nilai-nilai Islam yang tinggi untuk terciptanya peradaban yang tinggi dan jauh dari pengaruh negatif seperti paham LGBT ini yang terbukti boroknya sebagai akibat dari paham liberalisasi yang tidak bertanggung jawab di negeri asalnya. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menaungi negeri ini dengan rahmat, kasih sayang, cinta serta ridha-Nya (baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur). Amin…..

Writer: Najla Asysyifa, Laila Syifa Rahmi
Editor: Rif’atul Islamiyah
KKIA DEP FULDFK 2017

REFERENSI

Bell, A. and Weinberg, M. 1978. Homosexualities: a Study of Diversity Among Men and Women. New York: Simon & SchusterCorey, L. And Holmes, K.1980.  Sexual Transmissions of Hepatitis A in Homosexual Men. New England J. Med. hal. 435-438. Dacholfany, ihsan dan Khoirurrijal. 2016. Dampak lgbt dan antisipasinya di masyarakat. NIZHAM, Vol. 05, No. 01. Retrieved from http://repository.ummetro.ac.id/files/dosen/f893aa81c705960fc6121c08f7204b50.pdfDearden, Lizzie. 2017. One of first muslim same-se marriages takes places in UK. Retrieved from http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/muslim-same-sex-marriage-uk-first-walsall-west-midlands-islam-homosexual-jahed-choudhury-sean-rogan-a7835036.htmlEl-Qudah, Abdul Hamid.2015. Kaum Luth Masa Kini. Jakarta: Yayasan Islah Bina Umat MUI. 2014. Fatwa MUI no. 57 thn. 2014 tentang lesbian, gay, sodomi dan pencabulanMurray RP, Rosenthal SK, Pfaller MA. 2016. Medical Microbiology 8th edition. Philadelphia: ElsevierNational Gay and Lesbian Task Force. 1984. Anti-Gay/Lesbian Victimization. New YorkNurhayati, Siti. 2016. Dampak Yang Timbul Akibat LGBT Dan Strategi Menghadapinya. Retrieved from http://www.dakwatuna.com/2016/02/13/79000/dampak-yang-timbul-akibat-lgbt-dan-strategi-menghadapinya/#ixzz4oQZe7wsP Rakhmahappin, Y., & Prabowo, A. 2014. Kecemasan Sosial Kaum Homoseksual Gay dan Lesbian.Rueda, E. 1982. The Homosexual Network. Old Greenwich, Conn.: The Devin Adair CompanyTuasikal, Muhammad Abduh. 2009. Perlakuan Islam Terhadap Perilaku Sodomi. Retrieved from https://rumaysho.com/578-perlakuan-islam-terhadap-pelaku-homoseksual-dan-lesbian.htmlTuasikal, Muhammad Abduh. 2015. Hikmah penciptaan yang berpasang-pasangan. Retrieved from https://rumaysho.com/10486-hikmah-penciptaan-yang-berpasang-pasangan.html