BILA INI RAMADHAN TERAKHIRMU

Bismillahirrohmanirrohim.

Waktumu adalah usiamu. Manusia kerap kali tertipu oleh bergulirnya waktu. Nikmat kesempatan yang tak datang untuk kedua kalinya. Detik berlalu setiap tahun hanya terbuang sia-sia. Tak sadarkah bahwa bagian hidupmu hilang setiap harinya? Atau dikau terlalu terlena pada gemerlapnya dunia? Padahal nikmat itu begitu yang singkat dan sementara? Allah SWT telah bersumpah atas masa dalam firmannya yang berbunyi:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr : 1-3)

Kecintaan Allah SWT pada hamba-Nya tak putus pada sebatas umur, namun juga bulan suci yang penuh rahmat. Satu di antara dua belas bulan dijadikan Allah SWT sebagai kesempatan bagi hamba-Nya untuk menimba ampunan dan rahmat secara gratis tanpa syarat. Tamu agung itu kita kenal dengan Bulan Ramadhan. Bulan ketika amalan dan ibadah dilipat gandakan. Bulan keberkahan yang dinantikan oleh sebaran umat muslim di seluruh belahan dunia. Tak heran apabila orang-orang beriman selalu berharap dapat bersua dengan bulan penyandang gelar mulia.

Lalu, bagaimana dengan kita? Sudahkah bersiap menyambut kedatangannya? Apakah Ramadhan yang telah berlalu, kita jalani untuk mengambil hikmah kebermanfaatan sebanyak-banyaknya? Adakah rasa debar-debaran ketika Bulan Ramadhan hendak menghampiri? Rasa takut jikalau usia tak mencukupi hingga waktu yang telah ditetapkan untuk pertemuan nanti. Sebagaimana Rasullullah SAW dan para sahabat senantiasa menanti dan mempersiapkan diri. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Selama satu bulan penuh pintu surga terbuka lebar, pintu neraka tertutup rapat, dan dibelenggunya para syaitan. Momentum indahnya Bulan Ramadhan turut dilengkapi oleh peristiwa Nazulul Qu’an, yaitu manakala Al-Qur’an diturunkan pada 17 Ramadhan. Selain itu, Allah juga memberikan bonus malam Lailatul Qadr atau malam seribu bulan. Bagi umat-Nya yang beribadah dengan mengharap ridho dari Allah SWT, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu dan mendapat kebaikan lebih besar daripada 1000 bulan.

Atas berpuasa menahan rasa lapar dan dahaga, terhadap kaum fakir miskin menjadi peka. Antar sesama ikatan persaudaraan semakin terjaga. Ibadah siang malam menjadi semakin terbiasa. Lantunan syahdu ayat-ayat Al-Qur’an terdengar membahana. Ucapan dzikir tanpa jemu mengharap ridho-Nya. Rumah Allah menjadi tempat persinggahan yang nyata. Subhanallah.

Lantas, sudahkah dikau mengambil faedah pada bulan yang istimewa? Mengazamkan niat untuk bertaubat nasuha. Atau sekedar rutinitas tahunan sebagai ajang hijrah sementara? Bila Ramadhan telah berakhir, tak rindukah dikau untuk istiqomah menjalankan perintah Sang Ilahi? Masa ketika dirimu merasa terpanggil untuk taat dalam keseharian dan sejenak melupakan hiruk pikuk duniawi. Tak inginkah dikau meniti kehidupan dengan tetap mempertahankan kedekatanmu pada Sang Robbul Izzati?

Lihatlah di sekelilingmu, mereka yang tahun lalu masih bersamamu dalam menyambut dan mengisi Bulan Ramadhan. Kini tak semua orang yang sama masih di sisimu. Satu per satu telah dijemput kematian Bahkan ada yang baru saja masih berdiri dengan sehat di sampingmu. Namun, Allah telah menetapkan takdir yang lain. Jadi, bagaimana dengan dirimu? Sudah siapkah ketika masa tiada lagi kesempatan untuk memohon ampunan?

Bila ini Ramadhan terakhir, masih sanggupkah dikau menahan air mata untuk tetap tidak memperdulikan sisa usiamu yang semakin berkurang? Setelah sekian lama dikau diberikan waktu oleh Allah untuk mempersiapkan diri pada kematian yang datang. Kalimat renungan dan peringatan hanya lewat terngiang-ngiang.

“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.”
Andai dikau tahu ini adalah Ramadhan terakhir, tentu dikau akan meraung berdoa menengadahkan tangan. Tiada jemu bertadarus, mendirikan sholat dengan khusyu’ serta tawadhu’ serta senantiasa memohon ampunan. Andai dikau tahu puasa ini adalah saat terakhir, pasti dikau sibuk berlomba-lomba dalam kebaikan, membuang segala keegoisan dan keacuhan. Tidak tertarik pada lelapnya tidur, melaksanakan ibadah dengan penuh keikhlasan. Andai dikau tahu ini adalah jatah terakhirmu untuk bernapas pada Bulan Ramadhan, tentu hatimu akan selalu terjaga untuk mencintai-Nya dalam kesabaran. Bersimpuh untuk selalu mengingat nama-Nya, menyingkap dunia yang tak henti menyibukkan.

Bila ini Ramadhan terakhir, sudah sejauh mana perolehanmu dalam meraih keutamaan Ramadhan? Sudah siapkah dikau untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan? Sadarkah dikau bahwa pernak-pernik dunia sering membuat kita terlena akan penghujung usia? Lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja dan di mana saja. Tenang bermaksiat seakan tahu kapan ajal menjemput, sehingga siap untuk kembali ke jalan-Nya. Salah!!!

Usia adalah misteri. Optimalkanlah Ramadhanmu untuk memperbaiki dan membersihkan diri dari segala dosa agar dirimu tidak menjadi orang-orang yang merugi. Hadirkanlah perasaan bila ini kesempatan terakhir menemui Ramadhan. Seakan-akan berpuasa dan ibadah lainnya adalah wujud perpisahan.

“Celakalah! Celakalah orang yang bertemu dengan bulan Ramadhan, namun dosanya masih belum diampuni oleh Allah!” (HR. Ath-Thabarani)

Wahai saudaraku, marilah kita isi Bulan Ramdhan yang penuh rahmat ini dengan tekad dan semangat untuk beribadah sebaik-baiknya, seperti memperbanyak doa dan memohon ampunan, menanamkan niat baik sebanyak mungkin, menunaikan sholat di awal waktu, melakukan sholat sunnah, rajin bersedekah, sering bermuhasabah, semangat meraih Lailatul Qadr’, rajin bertadarus, dan ibadah lainnya. Hadirkan mindset bila ini Ramadhan terakhir agar kita tidak kehilangan momentum emas untuk bertaubat nasuha.

Lantas, mungkinkah ini Ramadhan terakhirmu? Yuk raih kemuliaan Ramadhan seolah akan terjadi perpisahan. Supaya kita senantiasa terhindar dari kemaksiatan. Semoga Allah meridhoi kita dan mengakhiri usia kita dalam keadaan beriman. Aamiin.

Lydia Yuniarsih
KKIA DEP FULDFK 2017

Tips Puasa Lansia agar tetap Sehat dan Bugar

kjkj

Kek, Nek, Tetap Sehat dan Bugar ya dengan Tips ini..

Puasa dalam Islam adalah beribadah kepada Allah dengan menahan diri dari makan, minum, dan dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit matahari (adzan Shubuh) hingga terbenam matahari (adzan Maghrib). Utamanya, puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang ke-4, maka hal ini adalah suatu kewajiban yang hakiki bagi setiap muslim seperti dalam firman Allah pada Q.S. Al Baqarah ayat 185.

Islam memberikan rukhsah (keringanan) bagi yang tidak mampu menunaikan puasa Ramadhan di antaranya adalah orang yang sakit, orang yang tidak kuat berpuasa karena sudah lanjut usia (lansia) ataupun sakit yang tak kunjung sembuh, musafir, orang yang haid & nifas, dan orang yang hamil & menyusui. Bagi mereka maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa sebagai bentuk kasih sayang dan kemudahan yang diberikan oleh Allah SWT. Puasa Ramadhan yang telah ditinggalkan kelak harus digantikan baik dengan puasa di lain kesempatan (qadha), dengan membayar fidyah, atau keduanya.

Mari kita lihat kembali, lansia adalah salah satu kategori yang mendapatkan rukhsah. Mengapa demikian? Orang yang sudah lanjut usia memiliki beberapa perubahan fisik dan fungsi tubuh yang membuatnya lebih rentan terhadap penyakit, tak jarang memiliki berbagai macam masalah kesehatan, mulai dari penyakit diabetes, jantung dan lainnya. Kondisi ini membuat lansia terkendala untuk melakukan aktivitas layaknya orang normal, termasuk salah satunya adalah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Walau boleh mengambil rukhsah, puasa Ramadhan hukumnya tetap wajib dijalankan oleh lansia yang tidak punya udzur tertentu, dengan syarat kondisi tubuh sehat dan tidak memiliki penyakit yang jika dengan berpuasa ditakutkan akan memperparah penyakitnya. Namun, saat berpuasa Ramadhan kebanyakan lansia yang sehat pun juga masih khawatir akan terjadinya penurunan kesehatan.  Jangan cemas dulu ya kek nek, bismillah berikut kami hadirkan beberapa tips agar lansia tetap sehat dan bugar dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan.

  1. Penuhi kebutuhan cairan dengan sering dan banyak konsumsi air putih. Dianjurkan untuk banyak mengkonsumsi air putih setelah berbuka puasa hingga waktu sahur minimal 8-10 gelas, karena hal yang paling ditakutkan adalah terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) pada lansia. Lebih baik lagi jika diminum dalam keadaan hangat.

  1. Menyegerakan berbuka puasa dengan kudapan ringan. Tentunya momen ini adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu bagi siapapun yang berpuasa.

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih)

Utamanya lansia, seluruh cairan dan cadangan energi tubuh yang hilang harus segera digantikan. Namun, janganlah langsung menyantap makanan porsi berat, mulailah dari kudapan ringan dan manis agar lambung bisa beradaptasi. Contohnya adalah setelah minum air, makanlah kurma seperlunya. Kurma terbukti dapat membantu memulihkan tenaga setelah seharian berpuasa, sebab kurma mengandung gula, serat, kalium dan magnesium yang baik untuk meningkatkan stamina tubuh.

  1. Hindari konsumsi es. Alangkah baiknya jika meminum atau memakan sesuatu dengan suhu normal, karena yang alami akan lebih mudah diterima tubuh setelah perut kosong dalam waktu yang cukup panjang.

  1. Konsumsi nutrisi yang seimbang, perbanyak makan serat dan rendah kalori, kurangi makanan berlemak. Perbanyaklah mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan demi lancarnya buang air besar, karena lansia dalam keadaan puasa lebih cenderung bermasalah dalam hal pencernaan.

  1. Konsumsi makanan yang mudah dikunyah dan ditelan. Mengapa harus mudah dikunyah dan ditelan, tidak boleh yang keras-keras? Karena umumnya lansia memiliki masalah dengan gigi dan mulut, entah jumlah gigi yang sudah mulai berkurang, atau hal lainnya.

  1. Tetaplah berolahraga ringan walaupun puasa. Tidak perlu olahraga yang berat-berat, cukup berjalan beberapa meter di sekeliling komplek rumah mungkin bisa menjadi salah satu pilihan. Perbanyak ibadah yang menggerakkan anggota badan seperti sholat, utamanya sholat tarawih yang hanya bisa kita jumpai di bulan Ramadhan Mubarak ini, juga sholat-sholat sunnah lainnya seperti Dhuha, Rawatib. Selain pahala kebaikan, kebugaran badan in syaa Allah juga akan didapatkan.

 

  1. Mengakhirkan sahur. Sahur adalah hal yang sangat penting tidak hanya untuk lansia demi kuatnya berpuasa. Sahur disunnahkan agar dilaksanakan di akhir waktu, agar saat berpuasa tidak terlalu panjang dalam merasakan lapar dan haus.

Dari Anas bin Malik RA, dari Zaid bin Tsabit RA berkata :

“Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melaksanakan shalat. Anas berkata, Aku bertanya kepada Zaid: “Berapa jarak antara adzan dan sahur?”. Dia menjawab : ‘seperti lama membaca 50 ayat’” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Hindari segalanya yang terlalu. Terlalu banyak makan, terlalu pedas, terlalu asam, terlalu banyak tidur, terlalu sedikit juga bahkan tidak baik. Karena semua hal yang keterlaluan akan mengakibatkan gangguan pada keseimbangan tubuh. Makanan yang terlalu asam dan pedas akan mengakibatkan peningkatan produksi asam lambung, risiko maag meningkat. Sedangkan makanan berlemak akan meningkatkan risiko terjadinya gangguan pada pembuluh darah, jantung, dan liver. Maka, marilah kita makan, minum, tidur, melakukan segala apapun sesuai dengan porsinya, karena “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S Al Maidah:87)

  1. Tetap konsumsi obat-obatan. Jika lansia memiliki obat yang harus diminum, waktu yang disarankan adalah pada saat sahur, saat berbuka, dan setelah tarawih.

Sungguh luar biasa para lansia yang tetap mengusahakan untuk berpuasa Ramadhan dengan iman dan ikhlas, in syaa Allah banyak sekali keuntungan dan hikmahnya yakni dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni Allah, lebih sehat dan lebih bahagia, dijanjikan akan pintu surga Ar-Rayyan, dan di sisa usia lebih mendekatkan diri lagi pada Allah SWT.

So, untuk cucu-cucu sholih nan sholihah, bisa informasikan ini untuk kakek nenek mu di rumah, atau  bagi opa oma  yang sedang membaca artikel ini, jangan lupa diikhtiarkan tips-tips berikut agar tetap sehat dalam berpuasa dan maksimal beribadah kepada Allah yaa. Semoga Allah mudahkan puasanya dan semoga sehat selalu!

Sumber:

http://en.islamway.net/article/12385/the-elderly-and-fasting

https://muslim.or.id/17562-anjuran-mengakhirkan-makan-sahur.html

https://rumaysho.com/3435-menyegerakan-waktu-buka-puasa.html

EPILOG

Cucu: “Kakek, Ramadhan tahun ini puasa gak?”

Kakek: “In syaa Allah puasa dong cu, kan udah baca artikel FULDFK, udah tahu bagaimana caranya supaya tetap sehat dan bugar, doakan kakek sehat ya.”

Najla Asysyifa

KKIA DEP FULDFK 2017

Tatalaksana Penyakit Menular Ramadhan di Indonesia

Tatalaksana penyakit menular ramadhan di Indonesia

1497882029360

Sebuah penyakit menular Ramadhan yang paling sering terjadi adalah post fasting ghibah syndrome. Penyakit ini biasanya terjadi pasca buka puasa disebuah acara buka bersama.. Yang di picu oleh kehadiran suatu sosok teman yang terinspirasi untuk menjadi admin lambe turing. Proses perjalanan penyakit ini adalah, Adzan buka puasa pada 1-3 menit pertama, dilanjutkan dengan meminum segelas air untuk melemaskan otot otot pita suaranya selama 3-5 menit selanjutnya dan kemudian dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan fundamental yaitu “eh..eh.. kalian tau gak sih..” dimana pertanyaan ini akan berlanjut pada sebuah topik ghibah yang beragam seperti, dosen kiler, temen yang sok iye, pernikahan Raisa, hingga bahkan mengghibah peserta audisi biskuat semangat.

Ini adalah penyakit yang secara epidemiologi sangat marak tersebar di seluruh penjuru dunia, dan insidensi nya paling besar pada wanita karena kaum pria biasanya sok sok an ngaku ga pernah ghibah padahal sama aja.. Penyakit ini biasanya di karenakan oleh banyaknya persepsi yang salah bahwa, berbuka puasa adalah gerbang menuju kebebasan untuk berghibah. Banyak orang berpikir bahwa, waktu setelah waktu berbuka puasa adalah waktu yang diperbolehkan untuk meluapkan segala gosip yang telah di kumpulkan pada waktu puasa. Penyakit ini sangat berbahaya, dikarenakan bisa menghilangkan pahala yang sudah susah-susah di dapatkan saat berpuasa. Menurut sebuah literatur yang sangat terpercaya, yaitu Quran surat Al-Hujurat ayat 12:9

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”
– Al Hujurat 12 –

Ghibah memiliki komplikasi yang mengerikan yaitu, tidak disukai oleh Allah, dikurangi bahkan hilang pahala puasanya dan bahkan di umpamakan seperti telah memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati. Maka dari itu sebagai dokter muslim yang baik, hendaklah kita harus tau bagaimana cara mengatasi penyakit post fasting ghibah syndrome yang ditularkan oleh the next lambe turing admin ini pasca berbuka puasa.

Know the concept of Fasting first
Sebelum kita bisa mengalahkan virus ghibah ini, kita harus mengerti dahulu bahwa konsep puasa tidaklah hanya sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga belajar untuk menahan perbuatan dosa dan hawa nafsu. Ketika berpuasa, kita diperintahkan untuk bisa menahan haus dan lapar mulai dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya fajar. Tapi, tidak dengan hawa nafsu dan dosa. Hawa nafsu dan dosa harus bisa ditahan sepanjang jalan kenangan.
Karena esensi dari puasa adalah belajar untuk sabar dan mengendalikan diri. Tentu kita tidak ingin kita menjadi orang yang disebutkan oleh hadits ini:

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga”
– HR Ath Thobroniy –

Ketika kita sudah memahami esensi dari puasa ini, maka kita akan siap untuk memahamkan orang lain mengenai esensi puasa ini.
Start and build a positive conversation
Didalam PES 2017 dan segenap game sepakbola lainya, ada sebuah quote yang berbunyi seperti ini “Cara terbaik untuk menikah adalah melamar”, eits bukan ya, nikah mulu sih pikirannya, sok iye lu, yang benar adalah ini “Penyerangan adalah cara bertahan yang terbaik”. Beberapa dari kita kadang terjebak dalam lingkaran ghibah, karena sejak dari awal sudah menghibah. Sehingga lebih baik apabila kita memulai dulu percakapan yang baik sebelum ghibah menyerang. Kita serang teman teman kita dengan obrolan yang positif daripada kita bertahan dari obrolan ghibah

Seperti contohnya sebelum teman kalian yang merupakan anggota magang admin lambe turing itu memulai siasat gibahnya, kalian langsung mulai percakapan dulu membahas Palestina, membahas hukum pacaran, membahas kondisi islam dan lain lain. Intinya adalah jangan biarkan ghibah di mulai!
Stop and Change the topic as soon as possible

Ada suatu kondisi dimana kalian sudah tidak berdaya lagi untuk menghindari ghibah. Maka yang bisa kalian lakukan adalah menghentikan perghibahan dan merubah topik pergibahan ke arah topik yang lain, seperti ketika teman kalian mulai menghibahkan temen kalian yang gak datang bukber.. kalian bisa langsung gebrak meja dan bilang kalau tadi ada nyamuk.. atau kalian bisa langsung bertindak premanisme dengan meminta temen kalian untuk bayar biaya makanan dulu. Nah ketika obrolan ghibah berhenti, kalian bisa memulai obrolan baru yang lebih positif. Pokoknya gunakan pengalihan sebaik mungkin.. Asalkan jangan berlebihan kayak pura-pura kesurupan atau kejang-kejang.

Direct intervention
Dengan direct intervention, artinya kita secara langsung memotong pembicaraan dan meminta pembicaraan ghibah untuk berhenti. Ini sebenarnya adalah salah satu solusi yang paling simple dan mudah tapi tidak banyak orang yang melakukanya karena merasa sungkan dan takut dianggap sok suci. Perlu kita ketahui sahabat, bahwa yang terpenting adalah anggapan Allah SWT kepada kita.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”

Dengan menegur secara langsung mungkin kita akan kehilangan teman. Tapi memang pada akhirnya kita akan kehilangan semuanya oleh kematian. Tapi tidak dengan Allah, untuk selamanya kita tidak akan kehilangan Allah selama kita menjadi orang yang beriman. Jadi jangan ragu untuk amal ma’ruf nahi munkar

Pray and Leave
Ketika cara 1-4 sudah tidak bisa, maka cara terbaik adalah mendoakanya agar Allah yang membenarkanya. Dan tinggalkanlah tempat ghibah itu karena orang mukmin haruslah menjaga pendengaranya dari perkataan yang buruk

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna”
– Al Mukminun 3 –

Dibulan yang penuh berkah ini, yuk kita semua menjaga dari perbuatan-perbuatan buruk, yang bisa menghapuskan pahala kita, salah satu nya adalah dari post fasting ghibah syndrome ini.

Semoga Allah selalu merahmati kita untuk menjadi dokter Muslim yang bisa mengobati penyakit fisik dan hati. Aamiin

WAHSYI: PEMBUNUH PAMAN RASULULLAH YANG MASUK ISLAM

WAHSYI

Wahsyi bin Harb adalah seorang bekas budak kulit hitam dari Ethiopia milik Hindun binti Utbah yang telah membunuh paman Nabi Muhammad SAW yang memiliki julukan “Singa Allah” yakni, Hamzah bin Abdul Muthalib dalam perang Uhud dan ia juga berhasil membunuh Musailamah al-Kazzab saat pertempuran Yamamah pada zaman Khalifah Abu Bakar.

*Terbunuhnya Hamzah oleh Wahsyi*

Terbunuhnya Hamzah oleh Wahsyi berawal dari kekalahan kaum kafir Quraisy di perang Badar pada tahun ke 2 H. Perasaan dendam seorang wanita isteri pembesar Quraisy, Abu Sufyan, yaitu Hindun. Banyak saudaranya yang terbunuh di medan Badar. Ia pun berusaha membalas sakit hatinya terhadap saudara-saudaranya yang tewas dalam perang tersebut. Maka ia pun berusaha untuk membunuh Hamzah ra. dengan menyewa seorang pembunuh bayaran, bernama Wahsyi bin Harb, dengan dijanjikan imbalan yang besar yaitu akan dimerdekakan dari perbudakan.

Kemudian Wahsyi merencanakan pembunuhan terhadap Hamzah pada saat terjadi peperangan Uhud. Dalam perang itu Wahsyi mencari celah dan kesempatan yang baik untuk membunuh Hamzah.

Di tengah tengah Perang Uhud, Wahsyi terus mengintai gerak-gerik Hamzah, setelah menebas leher Siba’ bin Abdul Uzza dengan lihai-nya. Maka pada saat itu pula, Wahsyi mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai syahid.

Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan mengambil hatinya.

*Masuk Islamnya Wahsyi Bin Harb*

Kisah wahsyi Diriwayatkan oleh Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Qadhi’iyad didalam kitabnya Assyifa, menukilkan riwayat :

Ketika Sang pembunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu’anhu (pamannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), yaitu Wahsyi seorang budak yang memang sengaja membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu di dalam perang Uhud, di saat perang Uhud itu Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib di tombak dari kejauhan dari belakang tubuhnya hingga wafat dan Wahsyi tidak cukup hanya dengan itu, Wahsyi membelah dada Sayyidina Hamzah, mengeluarkan jantungnya, memotong hidung dan telinga dan bibir dan mencungkil ke dua matanya lantas di bawakan kepada Hindun.

Disaat Fatah Makkah, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Makkah dengan 100 ribu muslimin muslimat, Wahsyi melarikan diri, ia menjauhkan diri sampai kepantai, Istrinya datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

_“Wahai Rasul, suamiku mempunyai dosa yang sangat besar, kalau ia masuk Islam dan bertaubat, apakah suamiku di ampuni?”_

Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata

_“Allah memaafkan semua yang terdahulu jika orang mau bertaubat, masuk Islam Taubat sudah tidak ada lagi dosa”._

 Maka Istrinya pun menemui Suaminya di pantai. Berkata Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam

_“Allah akan mengampuni semua yang Lalu kalau kau mau bertaubat dan masuk Islam”_

Wahsyi berkata pada Istrinya:

_“kamu tahu bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tahu kamu istri saya?”_

 maka berkata Istrinya: _“tidak ku sampaikan”_

_“katakan dulu, mustahil aku diampuni”_

Maka Istrinya balik lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

_“Ya Rasulullah, apakah betul semua dosa akan di ampuni??? suamiku ketakutan”_

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :

_“sudah kusampaikan beberapa waktu yang lalu, Allah memaafkan apa-apa yang terdahulu”_

Maka Istrinya berkata: _“Ya Rasulullah, suamiku adalah Wahsyi yang telah membunuh pamanmu, merobek dadanya, mengeluarkan jantungnya, mencungkil kedua matanya, dan memotong bibir, hidung dan kedua telinganya”_

Berubah wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau terdiam dan tidak menjawab, menunduk, Turunlah ayat :

*_“Katakan Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa, jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, Allah mengampuni semua dosa”_*

Rasul menyampaikannya kepada para Shahabat dan kepada Istrinya dan Istrinya menyampaikan kepada Suaminya datanglah Wahsyi masuk Islam, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata

_“Kau Wahsyi yang telah membunuh pamanku? Hamzah bin Abdul Muthallib”_

_“Betul wahai Rasul, aku telah berbuat ini dan itu”_

_“Kumaafkan kesalahanmu. Namun satu hal, jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini”_

_“Kenapa wahai Rasulullah, bukankah kau sudah memaafkan aku?”_

_“Aku sudah memaafkanmu, tapi kalau aku lihat wajahmu aku terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak di hancurkan olehmu saat itu, aku teringat wajah Hamzah, makanya jangan muncul di hadapanku lagi”_

Wahsyi kemudian terus kecewa di dalam hatinya sampai munculnya Musailamah Al Kaddzab musuhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata

_“Nah ini tombak yang kugunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib akan kugunakan juga untuk membunuh Musailamah Al Kadzab, barangkali sedikit bisa menebus dari pada kesalahan ku yang lalu”,_

*Lalu Wahsyi yang sadar akan kedudukannya, ridha menerima ketentuan itu. Dia memperbaiki dirinya dan meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah.*

Semakin hari hatinya semakin cinta dengan Nabi SAW. Dan semakin hari hatinya juga semakin rasa berdosa terhadap baginda atas perbuatannya dahulu. Lalu timbul niat di hatinya untuk menebus kembali dosa-dosanya itu dengan melakukan sesuatu yang akan menggembirakan baginda. Wahsyi bertekad untuk tidak akan pulang lagi ke Kota Mekah demi untuk merebut cinta kekasih Allah yaitu Muhammad SAW. Wahsyi benar-benar ingin menebus kesalahannya dengan menyebarkan Islam.

Niat Wahsyi itu telah dibuktikannya dengan menjelajah ke seluruh pelosok dunia untuk berdakwah mengajak sebanyak-banyaknya manusia untuk memeluk kepada Islam, hingga akhirnya beliau wafat di luar Jazirah Arab.

NUSAIBAH BINTI KA’AB

[NUSAIBAH BINTI KA’AB: WANITA YANG KEMATIANNYA DISAMBUT PARA MALAIKAT]

Kisah ini mungkin telah sering kita dengar. Namun, sekedar mengingatkan kembali tentang perjuangan wanita mulia ini, semoga dapat mengembalikan ghirah kita untuk juga bisa menteladani beliau, wanita yang ‘berhati baja’.

Nusaibah Binti Ka’ab radhiyallahu anha, namanya tercatat dalam tinta emas penuh kemuliaan.
Bahkan kematiannya mengundang ribuan malaikat untuk menyambutnya.

Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang beristirahat di bilik tempat tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nusaibah menerka, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di kawasan Gunung Uhud. Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya.

“Suamiku tersayang”, Nusaibah berkata, “Aku mendengar pekik suara menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar suara itu. Malah isterinya. Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang.”

Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju ke utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu semakin mengobarkan keberanian Said.

Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru sahaja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nusaibah tertunduk sebentar,
“Inna lillah…..” gumamnya,
“Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan,

“Amar, kaulihat Ibu menangis?.. Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah Syahid. Aku sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

*“Ambillah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terhapus.”*

Mata Amar bersinar-sinar. *“Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku ragu, seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”*

Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri.

“Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”

Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung hingga petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkemahan di medan tempur, mereka menuju ke rumah Nusaibah.

Setibanya di sana, wanita yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan?..” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?..”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?..”

Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan?.. Saad masih kanak-kanak.”

Mendengar itu, Saad yang sedang berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putera seorang ayah yang gagah berani.”

Nusaibah terperanjat. Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?..”

Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng, yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan tentara itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu Akbar!..”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah.

Mendengar berita kematian itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya.
“Hai utusan,” ujarnya, “Kau saksikan sendiri aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diriku yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya.
“Tapi engkau wanita, ya Ibu….”

Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku wanita?.. Apakah wanita tidak ingin pula masuk ke Syurga melalui jihad?..”

Nusaibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan mengendarai kuda yang ada.

Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum.

“Nusaibah yang dimuliakan Allah. Belum masanya wanita mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur.

Dirawatnya mereka yang mengalami luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk dan memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba rambutnya terkena percikan darah. Nusaibah lalu memandang. Ternyata kepala seorang tentara Islam tergolek, tewas terbabat oleh senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini.

Apalagi ketika dilihatnya Rasulullah terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi, menyaksikan hal itu.

Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang tewas itu.
Dinaiki kudanya.
Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.

Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang.

Hingga pada suatu waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang, dan langsung menebas putus lengan kirinya. Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda. Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh Nusaibah teronggok sendirian.

Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.

Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?..”

Nusaibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “Bagaimana dengan Rasulullah?.. Selamatkah baginda?..”

“Baginda Rasulullah tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”

“Engkau masih terluka parah, Nusaibah….”

“Engkau mau menghalangi aku untuk membela Rasulullah?..”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke medan pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikkannya. Namun karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus oleh sabetan pedang musuh.

Gugurlah wanita perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

*Tiba-tiba langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit tampak cerah dan terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.*

Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya,

“Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan?.. Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”

Subhanallah..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..
Allahu Akbar..

Tanpa pejuang sejati seperti dia, mustahil agama Islam bisa sampai dengan damai kepada kita yang hidup di jaman sekarang.

Semoga Allah ‘Azza Wa Jalla menempatkan mereka, dan kita semua di Syurga-Nya disamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aamiin..

Apa yang telah kita perbuat untuk menegakkan Dienullah Islam ?

Kisah penuh inspiratif ini seharusnya dapat menggugah jiwa juang kita, agar tidak cengeng melepas anak -anak yang sedang berjuang. Kalo ingin anak menjadi kuat, maka kita harus menjadi ibu yang kuat terlebih dahulu.

Sumber:

https://tarbiahmoeslim.wordpress.com/2016/10/23/wanita-yang-kematiannya-disa mbut-para-malaikat/