Kisah Wanita Sholehah Buruk Rupa, Meluluhkan Hati Ulil Amri (Penguasa)

Dept. Kemuslimahan FULDFK | “Kisah Wanita Sholehah yang Buruk Rupa, Meluluhkan Hati Sang Ulil Amri (Penguasa) Hingga Jatuh Hati Padanya” Seorang gubernur pada zaman khalifah Al-Mahdi, pada suatu hari mengumpulkan sejumlah tetangganya dan menaburkan uang dinar dihadapan mereka. Semuanya saling berebutan memunguti uang itu dengan suka cita. Kecuali seorang wanita kumal, berkulit hitam dan berwajah jelek. Ia terlihat diam saja tidak bergerak, sambil memandangi para tetangganya yang sebenarnya lebih kaya dari dirinya, tetapi berbuat seolah-olah mereka orang-orang yang kekurangan harta. Dengan keheranan sang gubernur bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut memunguti uang dinar itu seperti tetangga engkau?” Janda bermuka buruk itu menjawab, “sebab yang mereka cari uang dinar sebagai bekal dunia. Sedangkan yang saya butuhkan bukan dinar melainkan bekal akhirat”. “Maksud engkau?” tanya sang gubernur mulai tertarik akan kepribadian perempuan itu.” Maksud saya, uang dunia sudah cukup. Yang masih saya perlukan adalah bekal akhirat, yaitu shalat, puasa dan zikir. Sebab perjalanan dunia amat pendek dibanding dengan pengembaraan diakhirat yang panjang dan kekal.” Dengan jawaban seperti itu, sang gubernur merasa telah disindir tajam. Ia insaf, dirinya selama ini hanya sibuk mengumpulkan harta benda dan melalaikan kewajuban agamanya. Padahal kekayaannya melimpah ruah, tak kan habis dimana keluarganya sampai tujuh keturunan. Sedangkan umurnya sudah diatas setengan abad, dan malaikat izrail sudah mengintainya. Akhirnya sang gubernur jatuh cinta kepada perempuan lusuh yang berparas hanya lebih bagus sedikit dari yang paling buruk itu. Kabar itu tersebar ke segenap pelosok negeri. Orang-orang tak habis pikir, bagaimana seorang gubernur bisa menaruh hati kepada perempuan jelata bertampang jelek itu. Maka pada suatu kesempatan, diundanglah mereka oleh gubernur dalam sebuah pesta mewah. Juga para tetangga, termasuk wanita yang membuat heboh tadi. Kepada mereka diberikan gelas kristal yang bertahtakan permata, berisi cairan anggur segar. Gubernur lantas memerintah agar mereka membanting gelas masing-masing. Semuanya bingung dan tidak ada yang mau menuruti perintah itu. Namun, tiba-tiba terdengar bunyi berdenting, ternyata ada orang yang dianggap gila yang melaksanakan perintah itu. Itulah si perempuan berwajah buruk. Dikakinya pecahan gelas berhamburan sampai semua orang tampak terkejut dan keheranan. Gubernur lalu bertanya, “Mengapa kau banting gelas itu?” Tanpa takut wanita itu menjawab, “ada beberapa sebab. Pertama, dengan memecahkan gelas ini berarti berkurang kekayaan Tuan. Tetapi, menurut saya hal itu lebih baik dari pada wibawa Tuan berkurang lantaran perintah Tuan tidak dipatuhi.” Gubernur terkesima. Para tamunya juga kagum akan jawaban yang masuk akal itu. Sebab lainnya?” tanya gubernur. Wanita itu menjawab ,” kedua, saya hanya menaati perintah Allah. Sebab didalam al-qur’an, Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, Utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan Tuan adalah penguasa, atau ulil amri, maka dengan segala resikonya saya laksanakan perintah Tuan.” Gubernur kian takjub. Demikian pula para tamu undangannya. “Masih ada sebab lain ?” Perempuan itu mengangguk dan berkata, “ketiga, dengan saya memecahkan gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun hal itu lebih baik buat saya. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah gubernurnya, yang berarti saya sudah berbuat durhaka. Tuduhan saya gila, akan saya terima dengan lapang dada daripada saya dituduh durhaka kepada penguasa saya. Itu lebih berat buat saya. “ Maka ketika kemudian gubernur itu melamar dan menikahi perempuan bertampang jelek dan hitam legam itu, semua yang mendengar bahkan bebalik sangat gembira karena gubernur memperoleh jodoh seorang wanita yang tidak saja taat kepada suami, tetapi juga taat kepada gubernurnya, kepada Nabinya, dan kepada Tuhannya.

 

Department Kemuslimahan

Dewan Eksekutif Pusat FULDFK

LSKI TM dan FULDFK Peduli Sinabung

Minggu, 12  Juni 2016 tim bantuan sinabung FK UISU berangkat ke Kab. Karo dengan tujuan menyalurkan bantuan yang digalang oleh LSKI Thibbul Mu’min dan juga dari dana yang disalurkan melalui FULDFK Indonesia.

Alhamdulillah pada pukul 10.00, tim sudah tiba di Desa Sukandebi Kec. Namantaran dan langsung bertemu dengan seorang Da’i didesa tersebut disebuah masjid yang dikelolanya. setelah berbincang sebentar, Tim Peduli Sinabung FK UISU langsung menyerahkan bantuan berupa bahan makanan dan masker serta uang dengan total keseluruhan Rp. 1.708.900 kepada Da’i tersebut dan beberapa dari perwakilan masyarakat setempat.

Nah, ketika kami akan berniat pulang Da’i tersebut langsung menawarkan kami buka bersama sambil keliling desa sekitar dan melihat islam di sini. Tawaran menarik yang langsung kami terima. Seharian di desa sukendebi, banyak yang kami terima di sini.

Desa sukandebi adalah salahsatu desa terdampak erupsi di Kab. Karo dengan radius 5 KM dari gunung sinabung. Sebenarnya Pemerintah sudah menyeru mereka untuk mengungsi tapi karna ekonomi mereka harus kembali ke rumah dan bekerja di ladang. Da’i tersebut adalah tokoh pengajar dari Kalimantan yang lagi magang di desa sukandebi tersebut guna menjaga akidah masyarakat setempat dan mengajarkan islam kepada mereka. ada sekitar 150 KK yang muslim dari sekitar 400 KK didesa tersebut. minoritas bukan. Da’i di sini mengajarkan islam dari rumah ke rumah dan juga di masjid. Anak-anak tidak lepas dari perhatian. Selama kami di desa tersebut, kami diminta mengajar anak-anak. Jadi kami mengajar mereka dari membaca Alquran, bercerita hingga bermain. Seru pokoknya. Kami lebih senang lagi karna sebagian mereka sudah lancar membaca Alquran.

Lain cerita di desa lain di Kec. Naman Taran. Di Desa lainnya, kami mendengar bahwa desa tersebut mayoritas muslim. tapi masyarakat disana lebih jarang menjalankan syariat islam. beberapa rumah masih memelihara anjing dirumahnya dengan tanpa melihat batasan dalam memelihara hewan tersebut. Perjudian masih marak dan sholat jumat terkadang tinggal. ada beberapa mahasiswa dari Medan yang ditugaskan mengajarkan islam didesa tersebut. Mereka ada 18 orang tapi menyebar didesa lainnya, jadi hanya 3 orang yang stay di sini. Mereka diterima dengan baik bahkan sering diajak buka bersama. Non-Muslim pun menerima mereka. Mereka sering mengajar anak tapi terkadang sulit untuk mengumpulkan mereka. Sebagian anak-anak membantu orang tuanya di ladang dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Tapi jika belajar, semangat 4 orang seperti 20 orang. mereka sungguh tertarik dan senang. Kalau ditanya nama, nama mereka keren-keren. Ada Aurel, Marsel, Boy dan lain-lain.

Nah, sore harinya kami membantu Da’i dan istrinya untuk menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Seru banget saat ini. Ikhwan dari kami mendapatkan tugas memetik cabe. saking semangatnya, hampir kami cabutin semua cabe disana. Setelah kami rasa cukup, ternyata cabenya terlalu banyak. Tapi untung tidak masalah. Yang Akhwat bertugas memasak makanan. Bukber di Desa Sukandebi tersebut diadakan oleh sebuah organisasi muslim internasional. Ramai yang datang saat Bukber. Kami para mahasiswa bertugas untuk membagikan Ta’jil dan Nasi. Anak-anak didahulukan biar mereka tenang karna sudah dapat makanannya. Yang bikin kami terharu adalah kebersamaan mereka. Bahkan ibu-ibu disana, ketika kami membagikan makanan mereka, mereka bertanya, “apakah bapak-bapat sudah makan? apakah kamu nak (kami) sudah makan? kapan?”. Kami jawab saja sudah karna memang sudah makan ta’jil. Makanannya memang tidak cukup tapi mereka yang tidak kepagian tidak ada resah sama sekali. Untungnya tadi kami masak cukup banyak sehingga yang lain pun kepagian.

Senang rasanya melihat kebersamaan ini di Bulan Ramadhan apalagi di sebuah desa terpencil dengan minoritas muslim. Semoga akidah mereka tetap terjaga dan para Da’i disana diberikan ketabahan dan istiqomah menjalankan amanah Rasulullah SAW.

DSC_0793 DSC_0790 P_20160612_115714 P_20160612_115230 DSC_0767 DSC_0763 DSC_0762 DSC_0754

Terimakasih kepada masyarakat yang sudah menyalurkan hartanya dan kepada FULDFK Indonesia yang mempercayai kami untuk menyalurkan dana yang mereka terima. Semoga amal dan ibadah kita diridhoi Allah SWT. Amin.

By: LSKI Thibbul Mu’min FK UISU

Batalkah Pacaran Saat Puasa..???

Bulan Ramadhan adalah bulan yang amat suci dan amat sakral. Sudah kita ketahui bersama bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja. Kita punya kewajiban pula untuk meninggalkan maksiat. Namun demikianlah sudah jadi hal yang wajar di tengah-tengah pemuda, terlebih dahulu memadu kasih sebelum menikah. Harus saling mengenal satu dan lainnya sebelum menaruh pilihan untuk menikah. Aktivitas pacaran ini lebih hangat lagi kita temui di bulan Ramadhan, apalagi menjelang waktu berbuka. Sambil menunggu berbuka ‘ngabu burit’, kita akan saksikan di berbagai rumah makan masing-masing dengan pasangannya.

Bahaya Pacaran

Pacaran tidaklah lepas dari zina mata, zina tangan, zina kaki dan zina hati. Dari Abu Hurairah, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)

Sms-an dengan kekasih dan berdua-duan ini adalah bentuk kholwath (campur baur dengan lawan jenis) yang terlarang. Walaupun tidak terjadi pertemuan langsung, tetap sms-an dengan lawan jenis dinilai sebagai bentuk semi kholwath. Hal ini terlarang berdasarkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari no. 5233)

Kenapa sampai aktivitas-aktivitas di atas terlarang padahal tidak sampai melakukan zina atau hubungan intim layaknya suami-istri? Jawabannya, karena Allah dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Sehingga segala hal yang akan mengantarkan pada yang haram pun terlarang. Oleh karenanya, segala hal yang mengantarkan pada zina, jadi terlarang. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32). Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang. Asy Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan, ”Apabila perantara kepada sesuatu saja dilarang, tentu saja tujuannya juga haram dilihat dari maksud pembicaraan.”

Maksiat Saat Puasa

Jika sudah jelas bahwa aktivitas pacaran, berdua-duan, dan jalan-jalan dengan lawan jenis itu terlarang, maka tentu saja hal tersebut dapat merusak puasa. Karena puasa tentu saja harus meninggalkan maksiat. Orang yang bermaksiat saat puasa bisa membuat pahala puasanya yang amat besar hilang atau tidak mendapatkan sama sekali.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah 3: 242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih)

Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seandainya engkau berpuasa maka hendaknya pendengaran, penglihatan dan lisanmu turut berpuasa, yaitu menahan diri dari dusta dan segala perbuatan haram serta janganlah engkau menyakiti tetanggamu. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Latho’if Al Ma’arif, 277).

Mala ‘Ali Al Qori rahimahullah berkata, “Ketika berpuasa begitu keras larangan untuk bermaksiat. Orang yang berpuasa namun melakukan maksiat sama halnya dengan orang yang berhaji lalu bermaksiat, yaitu pahala pokoknya tidak batal, hanya kesempurnaan pahala yang tidak ia peroleh. Orang yang berpuasa namun bermaksiat akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang ia lakukan.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih, 6/308).
Al Baydhowi rahimahullah mengatakan, “Ibadah puasa bukanlah hanya menahan diri dari lapar dan dahaga saja. Bahkan seseorang yang menjalankan puasa hendaklah mengekang berbagai syahwat dan mengajak jiwa pada kebaikan. Jika tidak demikian, sungguh Allah tidak akan melihat amalannya, dalam artian tidak akan menerimanya.” (Fathul Bari, 4/117).

Penjelasan di atas menunjukkan sia-sianya puasa orang yang bermaksiat, termasuk dalam hal ini adalah orang yang berpuasa namun berpacaran. Oleh karenanya, bulan puasa semestinya bisa dijadikan moment untuk memperbaiki diri. Bulan Ramadhan ini seharusnya dimanfaatkan untuk menjadikan diri menjadi lebih baik. Ingatlah sebagaimana kata ulama salaf, “Tanda diterimanya suatu amalan adalah kebaikan membuahkan kebaikan.”

Tempuh Jalan Halal

Saran kami, tempuhlah jalan yang halal. Mengenal pasangan tidak mesti lewat pacaran. Ada jalur halal yang telah digariskan Islam tanpa mesti lewat pacaran, lewat ta’aruf sesaat, lalu putuskan atau tidak untuk menikah dengan lawan jenis tersebut. Jadi  waktu mengenal dan menikah tidaklah lama, juga niatannya adalah untuk serius ingin membina rumah tangga bersama. Perlu Anda tahu bahwa pacaran yang lebih menyenangkan adalah nanti setelah nikah. Solusi untuk saat ini adalah bersabar dan bersabar jika memang belum siap untuk menikah. Setiap orang pasti menemui waktu tersebut.
Moga di bulan penuh barokah ini, kita diberi taufik oleh Allah untuk semakin taat pada-Nya. Wallahu waliyyut taufiq.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

www.remajaislam.com

IMSF 8th (Islamic Medical Science Festival FULDFK ke-8)

Assalamualaikum wr wb

Sudah pernah dengar IMSF sebelumnya?? Event keren FULDFK yang akan menyisakan kesan yang tidak terlupakan tiap tahunnya!!👍👍

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia
feat Forum Kajian Islam Ibnu Sina Medical Association FKUMM
Proudly present:

NATIONAL COMPETITION 2016
IMSF 8th
(Islamic Medical Science Festival FULDFK yang ke-8)
Tahun ini akan hadir kembali dengan tema yang lagi Hitz, seru dan menarik untuk dibahas: “Maternal and Child Health”

Siapkan kemampuan terbaikmu dalam bidang:

⃣ Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) 📑
⃣ Lomba Essay 📝
⃣ Lomba Tahfidz Al-Qur’an 📖
⃣ Lomba Poster 📄
⃣ Lomba Video 📹

Mari berlomba dan bersaing dalam hal kebaikan,
Ayo kita buktikan keahlianmu dalam seni dan ilmu.
Raih prestasinya dan dapatkan pengalaman seru di kota malang.

So tunggu apalagi.. yuk ikhwah tunjukkan aksi dan karya terbaikmu!

📌 Info pendaftaran: fkiisma.weebly.com

📲 Contact Person:
🔹For Akhwat:
082232005725 (Fitri)
085735525429 (Festi)
🔸For Ikhwan:
08124410473 (Furkan)

Lets go!!!
Wassalamualaikum wr wb

Bagaimana Memilih Calon Pasangan?

Pernikahan merupakan semanis-manis, secantik-cantik, dan selembut-lembut suatu perkara, yang memberikan banyak manfaat dan faedah bagi manusia baik di dunia maupun akhirat. Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam menjadikan sebuah pernikahan sebagai penghubung antara beliau dengan kita sebagai umatnya. Beliau Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda,

تَزَوَّجُوا الْوَلُوْدَ الْوَدُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدُ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَ إسْنَادَهُ

“Nikahilah wanita yang penyayang lagi memiliki banyak keturunan, maka sesungguhnya aku akan berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di depan umat lainnya pada hari Kiamat.” (HR. Abu Daud, an-Nasa`i dan Ahmad- Isnadnya shahih)

Bayangkan, lantaran sebab menikah maka kita telah ikut ambil bagian di dalam meningkatkan jumlah kuantitas ummat Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam dan beliau pun gembira dengan hal tersebut serta membanggakan kita. Kita menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan Rasulullah. Coba dibayangkan lagi, Rasulullah kelak akan berbangga dengan ummatnya di hari kiamat dan kita merupakan salah satu sebab kebanggaan Rasulullah itu.

Bagaimana Memilih Calon Pasangan?

Salah satu perkara terpenting di dalam urusan pernikahan yang menentukan kebahagiaan seseorang adalah proses pemilihan calon pasangan. Memilih calon yang sekufu adalah sangat penting bagi setiap pemuda dan pemudi yang akan menggapai bahtera rumah tangga. Nabi Muhammad Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam telah memberikan kita pedoaman dan petunjuk yang jelas tentang bagaimana memilih calon pasangan hidup yang baik, jadi kita mesti memberikan perhatian terkait masalah ini.

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda,

وَعَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : (تُنْكَحُ اَلْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ : لِمَالِهَا , وَلِحَسَبِهَا , وَلِجَمَالِهَا , وَلِدِيْنِهَا , فَاظْفَرْ بِذَاتِ اَلدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ مَعَ بَقِيَّةِ اَلسَّبْعَةِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan agamanya. Pilihlah perempuan yang taat beragama, engkau akan berbahagia.” (HR Muttafaq Alaihi dan Imam Lima).

Apabila seseorang menikah hanya karena terpesona akan kecantikannya maka jadilah kecantikan itu saja tidak lebih dan akan memudar hilang. Apabila seseorang menikah karena hanya memandang keturunannya, mungkin keturunan itu akan hilang dan dia pun akan menjadi hina karena sebab tersebut. Sekiranya seseorang menikah dikarenakan melihat hartanya, mungkin ia akan menjadi hina pula karena miskin yang disebabkannya. Namun, jika menikahi seseorang karena agamanya niscaya ada keberkahan padanya.

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam mengingatkan kita akan satu hal yang penting, degnan sabdanya,

“Hati-hatilah pada rumput hijau yang menggiurkan, tapi di tempat yang kotor”. Para sahabat bertanya, “Apakah rumput hijau di tempat yang kotor itu, duhai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Wanita yang baik di lingkungan yang buruk” (HR Daruquthni, Asykari, dan Ibnu Adil).

Contohnya, seorang wanita yang cantik namun dididik dengan buruk, maka berhati-hatilah dengan sosok wanita tersebut.

Sama halnya dengan laki-laki, bagi seorang wanita, ia pun perlu memilih calon pasangannya yang kelak akan menjadi suaminya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi disebutkan, bahwa Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam bersabda,

إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَاَمَانَتَهُ فَزَوِّجُوْهُ

“Jika datang kepada kalian seorang laki-laki yang baik agamanya dan bertanggungjawab, maka nikahkanlah ia. (HR Tirmidzi).

Duhai saudariku, jika ada seorang laki-laki yang memiliki agama yang baik (sholeh), akhlak yang baik, dan amanah, serta memelihara hakmu dan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apabila ia datang untuk meminang atau melamar kamu untuk dinikahi maka terimalah ia.

Kemudian Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam menyebutkan satu ungkapan yang penting yang perlu mendapatkan perhatian dan penekanan, yaitu

إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ

“Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar”.

Begitulah sedikit kita-kiat bagaimana kita memilih calon pasangan atau jodoh di dalam pernikahan. Sekarang kita telah mengetahui akan perkara ini dan juga keburukan yang akan terjadi disebabkan tidak memperhatikan dalam masalah memilih calon pasangan tersebut, baik bagi lakik-laki maupun perempuan. Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam telah jelas memberikan rambu-rambu terkait bagaimana memilih calon pasangan atau jodoh yang baik. Oleh sebab itu, seseorang perlu berhati-hati di dalam memilih calon pasangan, baik itu pemudanya maupun pemudinya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan jalan bagi siapapun yang ingin menikah dan dipilihkan jodoh yang terbaik dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, guna membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, keluarga yang Islami yang diridhoi oleh Allah Ta’ala, dan dicintai oleh Rasul-Nya. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

 

Sumber diambil dari elhooda.net

(Disarikan dari kajian yang disampaikan oleh Sayyidil Habib Muhammad bin Abdurrahman Assegaf Jeddah, pemilik stasiun TV Al Irtsuna Nabawi dan pendiri program Fattabiouni)