TIDUR SIANG (QAILULAH) DALAM ANJURAN DAN PENINGKATAN KUALITAS HIDUP

Oleh Weny Noralita dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Tidur adalah aktivitas rutin bagi setiap manusia. Setelah beraktivitas penuh di siang harinya, biasanya kita memanfaatkan waktu malam untuk kembali mengumpulkan energi dan digunakan esok harinya. Tanpa adanya tidur sebagai media istirahat, banyak hal yang dapat terganggu seperti mudah terkena penyakit, produktivitas harian yang menurun dan efek buruk lainnya. Namun terkadang, ada beberapa dari kita yang dapat beristirahat di waktu malamnya tetapi tetap tidak maksimal dalam melakukan rutinitas hariannya atau harus menggunakan waktu malamnya untuk melanjutkan pekerjaan yang belum terselesaikan di waktu siang, sehingga pemenuhan energi tubuh kurang tercapai. Oleh karenanya dalam Islam dikenal adanya qailulah atau tidur siang dan Rasulullah menganjurkan umatnya untuk melakukannya. Bahkan qailulah disebut juga sebagai power nap. Mengapa tidur siang dianjurkan oleh Rasulullah dan bagaimana pengaruhnya bagi kesehatan?


Tidur menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah keadaan berhentinya badan dan kesadaran. Namun ternyata tidur tidak hanya hilangnya keterjagaan tapi juga merupakan suatu proses. Tingkat aktivitas otak keseluruhan tidak berkurang saat kita tidur. Selama tahap-tahap tertentu tidur, penyerapan oksigen oleh otak bahkan meningkat melebihi tingkat normal sewaktu terjaga. Dalam tidur, terdapat satu bagian otak yang berperan penting sebagai pusat pengatur tidur yaitu batang otak (Sherwood, 2011).

Terdapat dua jenis tidur, ditandai oleh pola elektroensefalogafi* (EEG) yang berbeda dan perilaku yang berlainan yaitu tidur gelombang lambat dan tidur paradoksal (tidur dengan gerak mata cepat atau rapid eye movement (REM)). Tidur gelombang lambat terjadi dalam empat tahap, yang masing-masing memperlihatkan gelombang EEG yang semakin pelan dengan amplitudo lebih besar (karenanya dinamai tidur “gelombang lambat”). Pada permulaan tidur, terjadi perpindahan dari tidur ringan (“tidur ayam”) stadium 1 menjadi stadium 4 (tidur gelombang lambat) dalam wakktu 30-45 menit. Pada akhir masing-masing siklus tidur gelombang lambat terdapat episode tidur paradoksal selama 10-15 menit. Secara paradoks, pola EEG selama periode ini mendadak berubah seperti dalam keadaan terjaga, meskipun masih dalam keadaan tertidur lelap. Setelah episode paradoks tersebut, stadium-stadium tidur gelombang kembali berulang (Sherwood, 2011).

Pola EEG

Gambar 1. Pola EEG selama berbagai jenis tidur

Siklus tidur

Gambar 2. Siklus Tidur

Sepanjang malam, seseorang secara siklus bergantian mengalami kedua jenis tidur tersebut. Dalam siklus tidur normal, terjadi perubahan dari tidur gelombang lambat menjadi tidur paradoksal (REM). Secara rerata tidur paradoksal menempati 20% dari waktu tidur total pada masa remaja dan sebagian besar masa dewasa. Bayi menghabiskan waktu jauh lebih banyak pada tidur paradoksal. Sebaliknya, pada usia lanjut tidur paradoksal dan tidur gelombang lambat stadium 4 berkurang (Sherwood, 2011). Lalu bagaimana dengan tidur siang?

Tidur sejenak pada siang hari memiliki manfaat yang besar bagi tubuh. Tidur bermanfaat untuk memulihkan dan mengistirahatkan otak dan tubuh. Relaksasi otak pada siang hari memungkinkan terjadinya konsolidasi informasi yang diperoleh sebelumnya. Saat beraktivitas di siang hari, tubuh dipengaruhi oleh hormon kortisol. Seseorang dapat mengalami stres apabila produksi hormon kortisol telah mencapai jumlah maksimum (Yusof et al., 2014). Selain itu pada siang hari, tubuh dapat mengalami kantuk sehingga hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya penurunan efektifitas kinerja seseorang (Hayashi et al., 1999). Sehingga istirahat sangat diperlukan oleh tubuh meskipun hanya dalam waktu yang sebentar.

Bukti paling langsung yang menunjang anggapan bahwa tidur memulihkan proses-proses biokimia atau fisiologis adalah peran potensial adenosin** sebagai faktor tidur saraf. Adenosin merupakan tulang punggung adenosin trifosfat (ATP / energi), “mata uang” energi tubuh, yang terbentuk selama keadaan terjaga oleh neuron dan sel glia yang aktif secara metabolik. Karena itu, konsentrasi adenosin ekstrasel otak terus meningkat bila terjaga lebih lama. Adenosin, yang  bekerja sebagai neuromodulator***, telah dibuktikan melalui eksperimen dapat menghambat pusat keterjagaan. Efek ini dapat menimbulkan tidur gelombang lambat. Aktivitas pemulihan ini dipercayai berlangsung selama tidur gelombang lambat. Bila disuntikan adenosin akan menginduksi terjadinya tidur normal, sementara pemberian kafein dapat menghambat reseptor adenosin di otak, membangunkan orang yang mengantuk dengan menghilangkan pengaruh inhibitorik pada pusat keterjagaan. Kadar adenosin berkurang selama tidur, karena otak menggunakan adenosin ini sebagai bahan mentah untuk memulihkan simpanan energi. Jadi, kebutuhan tidur bagi tubuh dapat disebabkan oleh kebutuhan periodik otak untuk mengganti simpanan energi yang berkurang. Karena adenosin mencerminkan tingkat aktivitas sel otak maka konsentrasi bahan kimia ini di otak dapat berfungsi sebagai ukuran seberapa banyak energi yang telah terpakai (Sherwood, 2011).

Sara C. Mednick, PhD dalam bukunya “Take a nap! Change Your Life” mengatakan bahwa tidur siang selama 20 menit akan memberikan manfaat yang luar biasa.  Tidur siang selama 20 menit meningkatkan daya konstentrasi dan keterampilan motorik seperti mengetik dan bermain piano. Apa yang terjadi jika tidur siang selama lebih dari 20 menit? Penelitian menunjukkan tidur siang lebih lama membantu meningkatkan ingatan dan meningkatkan kreativitas. Tidur siang selama kurang lebih 30 sampai 60 menit (tidur gelombang lambat) baik untuk kemampuan dalam mengambil keputusan, seperti menghafal kosakata atau mengingat arah. Tidur siang selama 60 sampai 90 menit (tidur REM) memainkan peran kunci dalam membuat koneksi baru di dalam otak dan memecahkan masalah dengan kreatif. Lamanya waktu tidur siang dan jenis tidur dapat menentukan manfaat yang terjadi pada otak. Penelitian lain (Allen, 2003) menunjukkan bahwa  tidur siang dengan durasi 60 sampai 90 menit dapat mengembalikan hilangnya presepsi pembelajaran setelah beraktifitas dan apabila telah memasuki fase tidur REM (Rapid Eye Movement) maka akan dapat meningkatkan kinerja seseorang sama seperti setelah bangun dari tidur pada malam hari.

Teori lain yang menonojol adalah bahwa tidur, terutama tidur paradoksal (fase REM), diperlukan bagi otak untuk “berganti persneling”, untuk melaksanakan penyesuaian-penyesuaian kimiawi dan struktural jangka panjang yang diperlukan untuk belajar dan mengingat, terutama konsolidasi ingatan prosedural. Teori ini dapat menjelaskan mengapa bayi memerlukan banyak tidur. Otak mereka yang sangat lentur secara cepat mengalami modifikasi-modifikasi sinaps besar-besaran sebagai respons terhadap rangsangan lingkungan. Sebaliknya, orang dewasa, yang perubahan pada sarafnya lebih terbatas, tidur lebih sedikit (Sherwood, 2011).

Hasil penelitian yang dilakukan pada 23.681 orang dan menghabiskan waktu lebih dari 6 tahun menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan tidur siang secara teratur 3 kali dalam seminggu selama kurang lebih 30 menit menurunkan resiko kematian akibat penyakit jantung sekitar 37% dan mereka yang memiliki kebiasaan tidur siang secara tidak teratur memiliki risiko kematian 12% lebih rendah daripada orang yang tidak memiliki kebiasaan tidur siang (Naska et al., 2007).

Di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada dan Jepang telah menjadikan qailulah atau sering disebut dengan  “power nap”  sebagai kebiasaan dan budaya yang dianjurkan bagi para pekerja dan siswa untuk meningkatkan produktivitas kerja. Misalnya, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang efek positif dari tidur siang, Amerika Serikat telah mendirikan National Sleep Disorder Association (Yusof et al., 2014).

Sebagian orang sering menganggap tidur sejenak pada siang hari sebagai hal yang sepele dan di Indonesia budaya tidur siang masih dianggap sebagai kebiasaan bagi mereka yang malas. Padahal tidur siang memiliki manfaat yang besar bagi tubuh dan Rasulullah SAW bersama para sahabat pun melakukan tidur siang. Beberapa abad sebelum penelitian-penelitian membuktikan bahwa tidur siang bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan otak, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umat Islam untuk memiliki kebiasaan tidur siang karena hal tersebut dapat membantu seseorang terbangun di malam hari untuk melaksanakan sholat tahajud. Lantas jika negara non Muslim saja telah menerapkan salah satu anjuran Rasulullah SAW, lalu bagaimana dengan kita?

Di dalam Islam tidur sejenak pada siang hari dikenal dengan “Qailulah”. Definisi qailulah dalam kamus Lisanul Arab berarti “tidur pada pertengahan siang”. Namun tidak hanya tidur, qailulah juga dapat didefinisikan sebagai istirahat pada pertengahan siang walaupun tidak tidur.

Di dalam Surat Ar-Rum ayat 23 Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”.

Pada ayat tersebut, Allah SWT menunjukkan tanda kekuasaan dan kasih sayang-Nya. Diantaranya tanda-tanda-Nya adalah siklus tidur yang Allah SWT ciptakan pada malam dan siang hari sehingga manusia dapat beristirahat dan sedikit bergerak sehingga hilang rasa lelah. Allah SWT juga menjadikan manusia dari bertebaran atau mencari nafkah pada waktu yang lain untuk mencari karunia Allah SWT sebagai sumber kehidupan. Semua merupakan tanda kekuasaan Allah SWT bagi kaum yang mendengar (Sayyid Quthb, 2004).

Rasulullah SAW bersabda “Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1637:  shahihul isnad).

‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu: Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang). Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad).

Qailulah dapat dilakukan sebelum ataupun sesudah waktu zuhur tetapi lebih baik jika dilakukan setelah waktu dzuhur sebagaimana kebiasaan Rasulullah dan para sahabat dahulu. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang ( qailulah).” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: shahihul isnad).

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu berkata,“Kami (dahulunya) tidaklah melakukan qailulah dan makan kecuali setelah shalat jumat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.( Muttafaq alaihi, lafadz Muslim).

Maha Suci Allah yang telah menerangkan dalam Al-Quran tentang pentingnya tidur pada malam dan siang hari serta menegaskan bahwa tidur merupakan tanda kebesaran Allah dan keajaiban yang harus dipelajari, diajarkan, dan diamalkan bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, sudah saatnya kita membudayakan salah satu sunnah Rasullullah SAW ini dengan niat mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sehingga tidak hanya pahala dan keridhoan dari Allah SWT yang kita peroleh namun tubuh dan otak kita juga akan mendapatkan manfaat kesehatan yang sangat besar. InsyaAllah.

*elektroensefalografi : perekaman aktivitas listrik otak.

**adenosin : suatu nukleotida (molekul yang terdiri atas fosfat, pentosa dan basa purin atau pirimidin) adenin D-Ribose.

***neuromodulator : zat yang dirilis oleh neuron (sel saraf) pada sinaps untuk menyampaikan informasi kepada sel saraf yang berdekatan atau jauh, dengan tujuan untuk menguatkan, memperpanjang, menghambat atau membatasi efek neurotransmitter atau impuls saraf.

Daftar Pustaka :

Allen RP.2003. Take afternoon naps to improve perceptual learning. Sleep medicine, 4, 589-590.

Hayashi M, Ito S, Hori T.1999. The effects of a 20-min nap at noon on sleepiness, performance and EEG activity. International Journal of Psychophysiology, 32, 173-180.

Mandzur, Ibnu. 1993. Lisanul Arab. Beirut : Dar Shadir.

Naska A, Oikonomou E., Trichopoulou A, Psaltopoulou T. Trichopoulou D. 2007. Siesta in healthy adults and coronary mortality in the general population. Archives of internal medicine, 167, 296-301.

Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.

Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.

Yusof FM, Muhamad SN, Rosman, AS, Ahmad SN, Razak NF, Hashim NI, Awang A. 2014. Sleep Phenomena from the Perspectives of Islam and Science. Jurnal Teknologi, 67.

TAHAJUD SEBAGAI PENAWAR STRES

Oleh Silmi Kaffah dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Hidup manusia ditandai oleh usaha-usaha pemenuhan kebutuhan, baik fisik, mental-emosional, material, maupun spiritual. Bila kebutuhan dapat di penuhi dengan baik berarti tercapai keseimbangan dan kepuasan. Tetapi pada kenyataannya sering kali usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut mendapat banyak rintangan dan hambatan. Tekanan-tekanan dan kesulitan-kesulitan dalam hidup sering membawa manusia dalam keadaan stres. Penyelesaian masalah yang tidak tepat, semakin memperburuk keadaan. Oleh karenanya sebagai seorang individu yang beragama langkah spiritual merupakan salah satu cara positif yang dapat digunakan dalam mengatasinya.


Stres dan Akibatnya            

Stres merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan seseorang. Stres dapat dialami oleh siapa saja baik yang masih muda maupun yang sudah tua dan ini merupakan sesuatu yang wajar (Atkinson, 2000).

Sejak kelahiran ataupun sejak pembuahan, setiap makhluk sudah berada dalam situasi yang menggambarkan adanya 2 pihak yang saling bertentangan, yaitu kondisi pada makhluk itu sendiri dan lingkungan. Akibatnya dibutuhkan upaya untuk menyesuaikan diri untuk memenuhi tuntutan lingkungan. Respon organisme untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan itu disebut sebagai stres (Wiramihardja, 2005).

Lazarus & Folkman (dalam Morgan, 1986) mendefinisikan stres sebagai suatu kondisi internal seseorang yang dirasakan membahayakan, tidak terkontrol ataupun kejadian di luar batas kemampuan individu yang disebabkan oleh fisik atau lingkungan dan situasi sosial.

Stres merupakan reaksi fisiologis dan psikologis manusia terhadap situasi yang menekan (Lahey, 2003). Stress menurut Selye (dalam Hardjana, 1994) adalah tanggapan yang menyeluruh dari tubuh terhadap setiap tuntutan yang datang atasnya. Tanggapan ini tidak hanya terbatas pada satu bagian tubuh, tetapi menyangkut seluruh bagian tubuh, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bila terkena stres, segala segi dari diri terkena. Stres tidak hanya menyangkut segi lahir, tetapi batin. Secara umum, wanita cenderung lebih sering mengalami stres (Sarafino, 2006). Stres juga didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subyek (Cooper, 1994).

Situasi stres akan menghasilkan reaksi emosional tertentu pada individu. Reaksi tersebut dapat meliputi reaksi positif (jika stres dapat ditangani) dan reaksi negatif seperti kecemasan, kemarahan dan depresi. Reaksi negatif timbul jika stres yang dialami individu tidak dapat ditangani (Atkinson, 2000). Reaksi-reaksi emosi yang mungkin muncul saat menghadapi situasi stres adalah kecemasan, kemarahan, agregasi, apati, depresi dan gangguan kognitif.

Kecemasan merupakan salah satu respon yang muncul ketika individu dihadapkan pada situasi stres. Kecemasan dalam bahasa sehari-harinya dapat didefinisikan sebagai emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan khawatir, perasaan tidak nyaman, tegang dan takut. Reaksi-reaksi ini umumnya dialami individu ketika mengalami stres tetapi dengan intensitas yang berbeda-beda. Pada keadaan tertentu, kecemasan dapat menjadi berat dan akhirnya membuat orang tersebut menarik diri dari lingkungan (Gunarsa, 2002).

Reaksi umum lain yang timbul ketika individu dihadapkan pada situasi stres adalah kemarahan yang mungkin akan mengarah pada perilaku agresi (Atkinson, 2000). Perasaan marah yang dirasakan individu dapat membangkitkan perilaku agresi, seperti menendang, memukul. Hal ini sejalan dengan hipotesa frustrasi-agresi (Dollard dalam Morgan, 1986) bahwa frustrasi yang timbul akibat kegagalan individu dalam mencapai tujuannya, dapat menyebabkan agresi. Orang dewasa umumnya mengekspresikan agresi mereka secara verbal daripada secara fisik, mereka lebih mungkin untuk melontarkan hinaan daripada pukulan (Atkinson, 2000).

Apati merupakan bentuk respon umum lainnya yang muncul ketika berhadapan dengan situasi stres. Atkinson (2000) mengatakan bahwa apati adalah keadaan tanpa gairah, sikap acuh dan menarik diri. Ketidakmampuan individu dalam mencapai tujuan menyebabkan individu bertindak apatis. Jika keadaan ini terus berkelanjutan dan individu tidak berhasil untuk mengatasinya maka apati dapat berkembang menjadi depresi (Atkinson, 2000).

Individu sering menunjukkan gangguan kognitif ketika berhadapan dengan situasi stres. Gangguan kognitif dapat berupa kesulitan dalam berkonsentrasi dan mengorganisasikan pikiran secara logis sehingga performansi tidak dapat optimal. Gangguan kognitif yang terjadi selama periode stres ini sering menyebabkan seseorang mengikuti pola perilaku yang kaku karena mereka tidak dapat mempertimbangkan pola-pola alternatif (Atkinson, 2000).

Salah satu faktor yang terpenting dalam penjelasan gejala stres adalah penggunaan strategi penanggulangan adaptif (coping mechanism) respon individu terhadap stres. Penanggulangan adaptif yang positif dan efektif dapat menghilangkan atau meredakan stres (Folkman S., Lazarus,1988).

Shalat Tahajud dam Stres

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Jelaslah bahwa seseorang pasti pernah mendapatkan stres. Kemampuan seseorang dalam beradaptasi dan mengontrolnya akan membentuk stres tersebut menjadi stres fisiologis atau patologis. Khususnya mahasiswa yang penuh dengan tugas akademik, aktivitas keorganisasian, jauh dari orang tua (perantauan) dan rutinitas lainnya. Kondisi ini mendorong mahasiswa untuk mencari cara agar keluar dari faktor-faktor stressor tersebut. Tindakan yang dilakukan mulai dari cara spritual sampai dengan merokok, mengonsumsi alkohol, mengunjungi klub-klub malam, mencari tempat pelarian dan tidak dipungkiri ada yang memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya.

Sebagai seseorang yang percaya akan keberadaan Allah. Ternyata Islam telah memberikan solusi akan kondisi stres yang dialami seseorang yaitu dengan melakukan shalat tahajud. Tahajud berasal dari kata tahajjada yang berpadanan kata istaiqazha, yang berarti terjaga, sengaja bangun, atau sengaja tidak tidur.

Shalat tahajud adalah shalat sunat pada malam hari setelah tidur. Bilangan rakaatnya paling sedikit dua rakaat dan banyaknya tak terbatas. Waktunya mulai dari setelah mengerjakan salat isya’ sampai terbit fajar (Nawawi, 2006).

Hubungan antara shalat tahajjud dan kesehatan, salah satu penjelasannya adalah berkenaan dengan hormon kortisol. Hormon kortisol, disebut juga sebagai hormon stres, adalah hormon yang sangat penting yang dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah (Guyton, 2007). Kortisol berperan kunci dalam adaptasi terhadap stres. Segala jenis stres merupakan rangsangan utama bagi peningkatan sekresi kortisol (Sherwood, 2011).

Hipotalamus menerima masukan mengenai stressor fisik dan emosi dari hampir semua daerah di otak dan dari banyak reseptor di seluruh tubuh. Sebagai respon, hipotalamus akan mengaktifkan saraf simpatis, dan sekresi CRH (Corticotropin Releasing Hormon)–ACTH (Adrenocorticotropic Hormone)-kortisol serta vasopressin sebagai respon stres (Sherwood, 2001).

Kadar hormon kortisol mulai meningkat pada 2-3 jam setelah dimulainya tidur dan terus meningkat hingga subuh dan waktu bangun di pagi hari. Shalat tahajjud dapat menurunkan jumlah hormon kortisol yang meningkat, pada saat tidur, menjadi seimbang kembali. Sehingga dapat mengurangi tingkat stres seseorang dan menstabilkan sistem imun dalam tubuh. (Sholeh, 2003)  Seseorang memiliki imun yang kuat sehingga tubuhnya mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Sebuah penelitian membuktikan bahwa ketenangan jiwa dapat meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung, meningkatkan usia harapan (Mc Leland, 1998: 44). Sedangkan stres menyebabkan rentan terhadap infeksi, dapat mempercepat perkembangan sel kanker, dan meningkatkan metastasis.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hari (2011) dalam karya tulis ilmiahnya. Ia melakukan penelitian terhadap 20 orang  mahasiswa. Didapatkan bahwa shalat tahajud yang dilakukan secara benar memiliki peranan dalam menghadapi stres berupa ketenangan yang memberikan manfaat lain pada mahasiswa seperti meningkatkan konsentrasi dan lain halnya. Kemudian dari hasil penelitian juga dapat dilihat bahwa 12 orang (60%) dari 20 orang partisipan yang melakukan shalat tahajud tidak mengalami stres.

Stressor bagi mahasiswa bisa bersumber dari kehidupan akademiknya, terutama tuntutan dari eksternal dan tuntutan dari harapannya sendiri. Tuntutan eksternal bisa berasal dari tugas-tugas kuliah, beban pelajaran, tuntutan orang tua untuk berhasil di kuliahnya dan penyesuaian sosial di lingkungan kampusnya. Tuntutan akademik juga termasuk kompentisi perkuliahan dan meningkatnya kompleksitas materi perkuliahan yang semakin lama semakin sulit ( Heiman, & Kariv, 2005).

Salah satu faktor yang ikut menentukan bagaimana stress bisa dikendalikan dan diatasi secara efektif adalah strategi coping yang digunakan individu (Ashel, & Delany, 2001). Coping adalah cara sadar individu untuk mengelola situasi yang menekan atau intensitas kejadian yang di tanggapi sebagai situasi yang menekan (Lazarus, & Folkman, 1984). Jika individu berhasil secara efektif mengendalikan situasi yang dinilai menekan, maka dampak negatif dari stres bisa di kurangi secara maksimal.

Tindakan coping bisa dilakukan dengan shalat. Shalat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul) yang termasuk dalam kajian ilmu psikologi transpersonal, karena shalat adalah perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui Tuhan semesta alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat peshalat untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness) dan pengalaman puncak (peak experience). Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat 5 unsur di dalamnya. Yaitu, meditasi atau do’a yang teratur, relaksasi melalui gerakkan-gerakkan shalat, hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat, group therapy dalam shalat berjama’ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal ada peshalat dan Allah, hydro terapy dalam mandi junub atau wudhu sebelum shalat (Wibisono, 2002). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terhadap 20 orang partisipan yang menjalankan rutinitas sebagai mahasiswa, kemudian rata-rata dari partisipan menjadikan aktivitas shalat tahajud menjadi pilihan dalam mengendalikan tekanan-tekanan yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya.

Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa ada beberapa hal yang yang berperan dari pelaksanaan shalat tahajud yang terdiri dari pemahaman peshalat sendiri terhadap aktivitas yang dikerjakan kemudian faktor-faktor yang secara tidak sengaja mempengaruhi shalat tahajud diantaranya niat dan motifasi, suasana, waktu pelaksanaan, kebiasaan serta keteraturan dalam menjalankannya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peran shalat tahajud dalam mengatasi stress. Dilihat dari teori faktor motivasi dan niat yang ikhlas menjadi salah satu faktor kualitas dari shalat tahajud sehingga menimbulkan efek yang baik terhadap kondisi tubuh. Penyelenggaraan shalat tahajud secara ikhlas mampu menurunkan respon sekresi kortisol dan meningkatkan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik. Dengan dasar temuan ini, konsep ikhlas menjadi penting dalam kesadaran religius, tetapi amat sukar menemukan parameternya (Sholeh, 2006). Teori ini dapat mendukung hasil dari penelitian yang mendapatkan bahwa niat ikhlas menjadi salah satu faktor utama untuk mencapai kadar ketenangan yang maksimal.

Kemudian dari pada itu, kerutinitasan dan dengan cara yang tepat jelas memberikan manfaat yang nyata baik untuk kondisi fisik maupun psikologis. Efek dari keteraturan ini menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan hormon di dalam tubuh sehingga tercapai sebuah keseimbangan. Hasil sebuah penelitian menjelaskan shalat tahajud yang dijalankan dengan memenuhi syarat dapat menumbuhkan respon emosional positif, coping yang efektif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan irama sirkardian, sebuah irama kehidupan yang memiliki siklus 24 jam untuk beradaptasi dengan lingkungan. Dengan terkendalinya sekresi kortisol yang sering berlangsung secara berlebihan, subyek akan terhindar dari stres dan akan memperbaiki sistem imun tubuh (Sholeh, 2006). Pendapat ini sesuai dengan hasil penelitian yang ditemukan bahwa partisipan yang melaksanakan shalat tahajud secara rutin dan teratur merasakan kondisi tubuh yang lebih segar.

Kondisi yang tenang dan terbebas dari segala jenis polusi dapat menghindarkan diri dari potensi stres, stress yang terkendali mampu mempengaruhi daya ingat karena stress dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam aktivitas kognitif (Cohen dkk dalam Srarafino, 1994). Pendapat ini mendukung dalam penelitian ini, dimana rata-rata partisipan merasakan ketenangan dan merasakan kemampuan berkonsentrasi menjadi lebih baik.

Dari penelitian ini juga didapati bahwa shalat tahajud merupakan salah satu cara bermeditasi yang menimbulkan rasa nyaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Lawrence Leshan, dalam bukunya “Bagaimana Bermeditasi” menyebutkan, bahwa kita bermeditasi untuk menemukan, merebut kembali kepada sesuatu dari diri kita yang secara samar-samar dan tanpa sadar pernah menjadi milik kita dan hilang tanpa mengetahui apakah itu atau dimana atau kapan kita kehilangan benda tersebut. Salat tahajjud memiliki kandungan aspek meditasi dan relaksasi yang cukup besar, dan kandungan yang dapat digunakan sebagai coping mechanism pereda stres (Sholeh,2007). Pada pagi hari di kala udara bersih akan memberi manfaat kesehatan yang nyata (Assegaf, 2008).

Menurut hasil penelitian Alvan Goldstein, ditemukan adanya zat endorfin dalam otak manusia yaitu zat yang memberikan efek yang menenangkan yang disebut endogegoneus morphin. Untuk mengembalikan produksi endorfin di dalam otak bisa dilakukan dengan meditasi, shalat yang benar atau melakukan dzikir-dzikir yang memang banyak memberikan dampak ketenangan.

Ikhlas Dalam Bertahajud

Syaikhu (1997) dalam Sholeh (2007) mengemukakan bahwa telaah medis menunjukkan terdapat dua kelompok para pengamal shalat tahajud yang memiliki dampak kesehatan yang berbeda setelah melakukan shalat tahajud, masing-masing adalah kelompok individu yang sehat dan kelompok individu yang sakit.

Sholeh (dalam Ramadhani, 2007) menjelaskan bahwa shalat Tahajud yang dijalankan dengan tepat, kontinu, khusyuk, dan ikhlas mampu menumbuhkan persepsi, motivasi positif dan memperbaiki suatu mekanisme tubuh dalam mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima.

Arlson (1994) dalam Sholeh (2007) menyatakan, secara fisiologis, sebenarnya pola kehidupan manusia mempunyai irama sirkardian *diurnal. Dan, jika siklus ini ditambah dengan melakukan salat tahajjud di malam hari, ia akan berubah menjadi **nokturnal. Hal ini akan menyebabkan perubahan perilaku dari sistem saraf pusat yang bertujuan beradaptasi dengan irama sirkardian. Penyelenggaraan shalat tahajjud secara terpaksa akan mengakibatkan kegagalan proses adaptasi terhadap perubahan irama sirkardian tersebut (Sholeh, 2007). Oleh sebab itu diperlukan sebuah keikhlasan dalam melakukan ibadah ini, dimana seseorang tersebut melakukannya atas keinginan sendiri tanpa ada rasa keterpaksaan dan merasa adanya beban dalam melakukan hal tersebut. Apabila melakukan shalat tahajjud dengan rasa adanya tekanan maka akan menimbulkan gangguan irama sikardian dan beban yang lain dari masalah yang ada. Bahkan Reichlin (1992) dalam Sholeh (2007) menyatakan bahwa gangguan irama sikardian akan mendatangkan stress.

Begitulah istimewanya shalat tahajud ini, sehingga membuat Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk senantiasa selalu melakukan shalat malam. Beliau memberi contoh melakukan shalat malam setiap hari hingga kedua kakinya bengkak dikarenakan banyaknya beliau berdiri dalam shalat, meskipun beliau adalah orang yang sudah diampuni dosanya oleh Allah dan dijamin menjadi penghuni surga-Nya.

Dari ‘Aisyah –Radhiallahu ‘Anha berkata “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam sampai pecah-pecah (bengkak) kedua kakinya, lalu akupun berkata kepada Beliau: “Mengapa Anda lakukan ini wahai Rasulullah, padahal telah diampuni dosa anda yang lalu dan yang akan datang?” Beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ. فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang, maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah, maka lepaslah satu tali ikatan. Lalu jika dia berwudhu, maka lepaslah tali ikatan yang lainnya. Dan jika dia mendirikan sholat (malam), maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat & tenang jiwanya. Namun bila dia tak melakukan hal itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek & menjadi malas beraktifitas”. (HR. Imam Al-Bukhari no. 1142, & Muslim no. 776)

“Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang shaleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala penyakit dari tubuh” (HR, Tirmidzi).

Melihat Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu menjaga shalat tahajudnya dan penelitian-penelitian terkait yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa shalat sunnah ini memiliki banyak manfaat yaitu memberikan ketentraman pada jiwa manusia, sebagai penawar stres dan efek positif lainnya. Selain itu shalat tahajud dapat meningkatkan derajat manusia di sisi Allah.

Allah Subhana Wa Ta’ala Berfirman :

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ , آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ , كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ  وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat (51): 15-18)

Cintailah malam karena ia kelak akan memberimu syafaat.

Paksalah dirimu untuk bergabung dalam golongan orang-orang yang bertahajud.

Menyepilah untuk bermunajat kepada Rabbmu dengan merendah dan mengharap.

 

*Diurnal : Terjadi pada siang hari

**Nocturnal : Timbul di waktu malam

 

Daftar Pustaka :

Assegaf, M. 2008. Smart Healing, Kiat Hidup Sehat Menurut Nabi Ed.3. Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar. 69-74.

Atkinson, Rita L. 1991. Motivasi dan Emosi. In Agus Dharma S.H., M. Ed, PhD., (edisi 8_. Pengantar Psikologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga, 73-90.

Guyton, A.C & J. E. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Terjemahan : Irawati Setiawan. Jakarta : EGC.

Haryanto. 2003. Psikologi shalat. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Hardjana,A.M.1994. Stres tanpa Distres. Jakarta: Kanisius.

Lahey,B.B.,2004. Stres and Health psychology: an introduction ed. New York: Mac-Graw Hill. 500-508.

Markam, S dkk. 2011. Kamus Kedokteran. Jakarta : Badan Penerbit FKUI

Putra, Hari K. 2011.  Peranan Shalat Tahajud Dalam Menghadapi Stres Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31210 – Diakses Maret 2015.

Ramadhani,2008. Super Health Gaya Hidup Sehat Rasulullah.Yogyakarta: Pro-U Media.120-132.

Sarafino, E.P. 2006. Stress, Ilness and Coping. In: Flahive R. ed. Health Psychology Biopsychosocial Interaction 5th ed. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc.66-71.

Sherwood,L. 2001. Mekanisme Stres. In : Santoso B.I. ed. Fisiologi Manusia dari Sel ke System Edisi ke-2. Jakarta: EGC,654-661

Sholeh.2007. Terapi Shalat Tahajjud. Bandung: Hikmah.

Sholeh, Moh. 2001. Tahajud: Manfaat Praktis Ditinjau dari Ilmu Kedokteran. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Sholeh, Moh. 2009. Terapi Shalat Tahajud: Menyembuhkan Berbagai Penyakit. Jakarta: Mizan

Sisyanto, Rudi. 2010. Panduan Qiyamul Lail. Pekanbaru