PERSATUAN UMAT

oleh DEW 4

Bismillahirrahmanirrahim

            Umat Islam mengetahui bahwa bersatu itu adalah ajaran yang bersumber dari al Qur’an dan hadits nabi. Oleh karena itu, sekalipun terasa berat, harus dijalankan. Al Qur’an memberikan pesan bahwa, tidak boleh di antara kaum muslimin bercerai berai. Bahwa di antara mereka adalah bersaudara. Selain itu, dinyatakan pula di dalam hadits nabi bahwa, di antara kaum muslimin adalah bagaikan satu bangunan, maka bagian-bagiannya seharusnya saling memperkukuh.

            Persatuan dalam Islam merupakan hal penting yang diinginkan oleh umat. Sehingga kita wajib berjuang untuk menyerukan, menjalankan dan merealisasikanya. Persatuan sebagai sesuatu yang seharusnya dicintai, maka seharusnya juga diperjuangkan. Berjuang selalu harus diikuti dengan pengorbanan. Tidak pernah ada sebuah perjuangan tanpa pengorbanan. Tatkala persatuan sudah dianggap sebagai sesuatu yang dicintai, maka untuk mewujudkannya, harus dilakukan dengan perjuangan dan pengorbanan. Atas dasar pandangan bahwa, persatuan adalah bagian penting ajaran Islam yang harus dicintai itu, maka harus diperjuangkan hingga benar-benar terwujud.

            Merajut persatuan umat islam di Indonesia tidak mudah. Beberapa kasus dan fenomena politik akhir-akhir ini selalu membawa jargon-jargon agama. Satu sisi, kita melihat semakin meningkatnya semangat bersyariat umat muslim, akan tetapi di sisi lainnya, kita saksikan terjadi penurunan nilai-nilai spiritualitas agama dalam diri umat muslim itu sendiri. Alih-alih menjadi agen penebar rahmat—agama dan syariatnya justru malah sering dijadikan sebagai alat politik, yang bisa merobek persatuan bangsa.

            Lalu, jika ada sebuah pertanyaan “Mungkinkah umat Islam bersatu?” Itulah mengapa, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dengan tegas mengatakan, kesatuan umat Islam adalah realita dan pasti akan terwujud, bukan sebuah khayalan untuk menjawab keraguan orang tentang kemungkinan bersatunya umat Islam di bawah seorang Imaam (khalifah).

            Tulisan singkat ini bukan maksud untuk menjawab wacana sosial-keagamaan tersebut, akan tetapi ditujukan untuk mencari fondasi dan landasan pikir yang tergali dari nilai-nilai Qurani, yang dapat dipergunakan guna merajut ulang persatuan umat islam. Q.S. Āli Imrān (3): 103 merupakan salah satu ayat yang menghimbau umat islam pada persatuan, dan melarang bercerai berai.

            “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

            Lalu, juga dijelaskan dalam Q.S. Al-Anfal [8]: 73

            “Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar.”

            Terdapat anjuran As-Sunnah untuk menjaga persatuan dan menghindari perpecahan. Nabi Muhammad SAW juga dalam sabdanya banyak menyebutkan masalah persatuan ini, yang juga berisi anjuran untuk menjaga persatuan dan menghindari perpecahan, di antaranya adalah :

Muttafaq Alaih dari Abu Hurairah

            Dari Abu Hurairah, dari Nabi bersabda: “Barang siapa yang keluar dari ketaatan dan meninggalkan jama’ah (jama’atul muslimin) lalu meninggal dunia dalam kondisi seperti itu maka dia meninggal dalam kondisi Jahiliyyah.”

H.R. Muslim dari Abu Hurairah

            Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah ridha kepadamu dalam tiga perkara dan benci kepadamu dalam tiga perkara: Dia ridha kepadamu jika kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, kamu berpegang teguh kepada tali Allah seraya berjama’ah dan kamu tidak berpecah belah. Dia benci jika kamu suka dengan “katanya dan katanya”, terlalu banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.”

H.R. Abu Dawud dan Nasa’i dari Ali bin Abi Thalib

            Dari Ali, dari Nabi bersabda, “Darah kaum muslimin itu setara, orang yang paling dekat menjaga kehormatannya dan yang paling jauh melindungi keamanannya. Mereka adalah satu kekuatan dalam menghadapi orang lain.”

            Namun, kesatuan itu tidak akan datang begitu saja. Untuk mewujudkannya perlu kerja keras dan perjuangan yang berkesinambungan. Terdapat 5 hal dalam menjaga persatuan dan kesatuan

1. Menyamakan visi keimanan, yakni hanya menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan thoghut

            Manusia harus menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah yang mestinya merasa terhormat bisa melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak Allah. Jika manusia berbuat demikian, maka setiap orang Islam akan berebut untuk beramal shaleh seperti yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Ketika memahami bahwa Rasul mengajarkan bahwa umat Islam itu bagaikan sebuah bangunan yang satu bagian saling menguatkan bagian yang lain, maka umat Islam akan selalu berusaha untuk saling membantu, saling menolong, saling menopang, saling menunjang dan saling mengokohkan.

2. Hindari perselisihan dan perbedaan pendapat yang mengarah ke perpecahan

            Memang ada orang yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat itu adalah rahmat. Namun pandangan yang demikian itu tidak benar, karena bertentangan dengan QS 11: 118-119. Ayat tersebut mengungkap, bahwa manusia itu senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat. Artinya mereka yang selalu bersilisih itu tidak mendapatkan rahmat Allah. Untuk itu menghindari perselisihan pendapat hendaknya lebih diutamakan.

            Dalam rangka mencegah terjadinya perselisihan pendapat, sekaligus untuk menjaga persatuan umat islam, Rasul mengajak umatnya untuk menghindari perdebatan sekalipun berada dalam posisi yang benar. Allah berjanji untuk membangunkan rumah di sorga bagi orang yang menghindari perdebatan sekalipun pada posisi yang benar.

3. Jika terjadi perbedaan pendapat di antara orang-orang beriman, maka Allah menuntun umat Islam untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasul-Nya

            Hal ini maksudnya mengembalikannya kepada pedoman kita, yaitu Al Quran dan As Sunnah. Nabi Muhammad SAW berpesan bahwa kita tidak akan tersesat selama-lamanya bila kita berpegang teguh kepada keduanya. Yang menjadi masalah adalah banyak di antara umat ini yang tidak mengenal Al Quran dan As Sunnah.

            Sekalipun mereka telah puluhan tahun memeluk agama Islam, namun mereka tidak terbiasa mempelajari tuntunan Islam. Sehingga yang mereka amalkan dalam kehidupan sehari-hari jauh dari Al Quran dan As Sunnah sebagai sumber ajaran Islam. Mengingatkan orang-orang seperti ini berpotensi untuk mengundang perslisihan. Sehingga jauh hari Allah mengingatkan, kalau terjadi perselisihan di kalangan umat Islam, maka jalan keluarnya adalah kedua belah pihak harus kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

4. Menyadari bahwa menjaga persatuan dan kesatuan itu hukumnya wajib

            Kesadaran ini akan menjadi kekuatan pengendali dari tiap individu muslim untuk tidak berbuat sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik apalagi berpotensi menimbulkan perpecahan. Muncul rasa bersalah jika pendapatnya memancing perdebatan yang tidak sehat. Merasa berdosa jika amalnya menimbulkan pro dan kontra yang susah dipertemukan. Merasa risau jika pendapat, ucapan dan amalnya menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Dengan sadar dia akan meninggalkan amal-amal sunnah yang berpotensi menimbulkan perpecahan demi menjaga persatuan dan kesatuan umat.

5. Menghormati perbedaan yang muncul

            Jangan sampai muncul anggapan bahwa orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita adalah musuh yang harus diwaspadai. Sikap seperti ini akan memicu terjadinya konflik, karena menunjukkan bahwa mereka telah kehilangan rasa persaudaraannya. Abu Bakar Ashshidiq dan Umar bin Khaththab pernah beberapa kali berbeda pendapat. Namun keimanan mereka yang kuat menyebabkan mereka selalu mengedepankan jiwa persaudaraan mereka. Tidak pernah terjadi putusnya silaturrahmi di antara mereka. Bahkan yang muncul adalah semangat berkompetisi untuk memperbanyak amal shaleh.

Sumber :

Tafsir Surah Ali Imran Ayat 103: Perintah Menjalin Persatuan Umat Islam Indonesia. https://islami.co/tafsir-surah-ali-imran-ayat-103-perintah-menjalin-persatuan-umat-islam-indonesia/ cited 14 Maret 2020

Persatuan Umat dalam Perspektif Al-Quran dan As-Sunnah, Oleh Yakhsyallah Mansur https://minanews.net/persatuan-umat-dalam-perspektif-al-quran-dan-as-sunnah-oleh-yakhsyallah-mansur/ cited 14 Maret 2020

Betapa Berat Mewujudkan Persatuan Umat https://uin-malang.ac.id/r/141001/betapa-berat-mewujudkan-persatuan-umat.html cited 14 Maret 2020 cited 14 Maret 2020

Pentingnya Menjaga Persatuan dan Kesatuan Umat Islam https://griyaalquran.id/pentingnya-menjaga-persatuan-dan-kesatuan-umat-islam/ cited 14 Maret 2020