Cinta dalam Ujian

oleh: Adillah


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hidup ini penuh akan lika-liku kehidupan, yang terjal akan perjalanannya, mendaki untuk mencapai titik puncak impian kehidupan, jatuh bangun melewati rintangan yang penuh akan pahit manis kehidupan. Ya begitulah hidup, tak selamanya apa yang kita inginkan akan selalu tercapai dan tak selamanya apa yang kita harapkan akan menjadi sebuah kenyataan, hanya
Allah lah yang tahu mana yang terbaik untuk kita semua. Godaan terbesar umat manusia itu hawa nafsu, dan seperti halnya ketika ingin mencapai sesuatu, kita mestinya sangat bersemangat, dan ketika jiwa raga tak mampu tuk memumpuni maka hanya akan ada satu kata yang mewakili yaitu “mengeluh” dan berkata “Ujian apalagi ini ya Allah”.

Tak bisa dipungkiri bahwa manusia senangnya mengeluh dan berkata lelah, tapi perlu kita sadari bahwa itu adalah ujian terindah dari Allah. Kadang kita tak sadar bahwa dari tiap ujian yang datang menghadang, itu suatu pertanda akan kehadiran Allah untuk kita, namun seringkali kita hanya memandang sebelah mata. Misalnya ketika mendapat nilai rendah saat ujian malah membuat kita semakin terpuruk, galau, jatuh, sakit hati, kecewa. Banyak masalah internal yang datang kita hanya bisa menangis meronta kesakitan dalam diri, beranggapan bahwa
“Allah tidak adil sama saya”, mendapat banyak kegagalan dalam hidup malah membuat kita semakin pesimis dan malas untuk mencoba lagi. Sahabat tak sadarkah kita bahwa itu semua adalah hal yang kurang tepat untuk kita lakukan sebagai hambanya Allah SWT, pada kenyataannya itu adalah anggapan kita saja sebagai manusia biasa yang hanya berpikir bahwa ujian itu adalah tanda Allah tidak sayang kepada kita. Sungguh sangat disayangkan jikalau kita selalu berpikiran begitu bukan?
Ujian itu adalah bentuk cintanya Allah kepada kita, hal tersebut dibenarkan didalam sebuah
hadits :

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-jami’ no. 285)
Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al- Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).
Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat derajatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan bisa bersabar.

Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya.”
Dalam riwayat lain,

الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل يبتلى المرء على قدر دينِهم
“…kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya, mereka diuji sesuai dengan kualitas agama mereka.”
Jika ia orang yang sangat tegar dalam beragama, semakin berat ujiannya. Oleh karena itu Allah memberikan ujian kepada para Nabi dengan ujian yang berat-berat. Di antara mereka ada yang dibunuh, ada yang disakiti masyarakatnya, ada yang sakit dengan penyakit yang parah dan lama seperti Nabi Ayyub, dan Nabi kita shallallahu’alai wa sallam sering
disakiti di Makkah dan di Madinah, namun beliau tetap sabar menghadapi hal itu. Intinya, gangguan semacam ini terjadi terhadap orang yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan kadar iman dan taqwanya.
Jadi, kita yang sebagai umat manusia biasa ini sudah sepantasnyalah untuk selalu berbaik sangka kepada Allah, setiap masalah yang datang maka sebaiknya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena ujian itu adalah bentuk cinta-Nya Allah kepada hamba- hambanya, supaya kita semakin sering mengadu kepada-Nya, memohon ampunan dan petunjuk-Nya. Semoga kita menjadi sebaik-baiknya hamba. Aamiin.

Allahuma aamiin.
Barakallah fikum.
Sumber : http://www.binbaz.org.sa/noor/8751

Mengikuti Strategi Dakwah Rasulullah untuk Indonesia

Oleh:

Achmad Nabil Hafidh Maftuhin
FKUPN Jakarta


Dakwah merupakan salah satu sarana untuk masuk kedalam surga Allah dimana dakwah itu sendiri merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menyampaikan kebenaran terhadap setiap sesama kaum muslimin. Namun akhir ini, banyak sekali pendakwah bahkan hingga ustadz yang berdakwah tidak dengan mencontoh Rasulullah SAW. Dakwah mereka justru banyak sekali yang berisi caci makian, kebencian bahkan sampai mengkafir-kafirkan kepada sesama Muslim sekalipun.
Dakwah rasulullah hijrah sampai kepada Madinah dimana di Madinah beragam macam agama dan kultur budaya setempat. Kalimat yang pertama kali diucapkan oleh Rasulullah Saw, ketika sampai di Madinah adalah ajakan untuk melakukan hal-hal yang menjaga kondusifitas dan keamanan masyarakat setempat. Sebagaimana dalam sebuah hadis riwayat dari Abdullah bin Salam, bahwa Rasulullah Saw mengatakan, “Wahai segenap manusia, berbagilah makanan, tebarkanlah ucapan salam, pererat tali silaturahim, dan lakukanlah salat malam saat orang- orang tertidur pulas, niscaya akan masuk Surga dengan damai (HR. Al-Hakim)”. Rasulullah Saw mengajarkan bagaimana cara menghormati penduduk Madinah yang agamanya beragam. Untuk itulah, dalam ceramahnya Rasulullah Saw selalu menggunakan kalimat يأيها الناس (wahai para manusia). Bukan wahai para penduduk Madinah, atau wahai kaum Muslimin dan lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah Saw, yaitu Islam adalah pesan damai untuk kita semua dan seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).
Rasulullah Saw juga melarang umatnya untuk membunuh, namun yang terjadi justru malah saling memfitnah dan saling membunuh atas nama jihad. Begitu juga Rasulullah Saw melarang untuk mengambil hak orang lain, tetapi justru yang terjadi malah menghalalkan dengan segala cara untuk merampas apa yang bukan haknya. Jangan sampai hanya gara-gara perbedaan madzhab dan pandangan politik, persatuan, perdamaian dan persaudaraan yang terjaga bertahun-tahun rusak begitu saja. Sebagaimana di Suriah, hanya gara-gara perbedaan pandangan politik. Negeri yang dulunya indah, tentram dan damai menjadi hancur gara-gara konflik politik berbalut agama, sehingga menimbulkan konflik bersaudara.

Untuk itulah mari sebaiknya kita sebagai sesama umat muslim di Indonesia menjunjung tinggi nilai nilai persaudaraan dan menjauhkan diri dari kebencian atas segala perbedaan baik itu pendapat, budaya, ataupun lainnya karena sesungguhnya setiap manusia memiliki pola berpikir mereka masing-masing dan kita tidak mungkin menyamakan persepsi atau pola pikir jutaan manusia menjadi satu, sehingga alangkah baiknya bagi kita untuk menghormati satu sama lain.

Sumber Artikel :
Alif.id (2019, 29 Oktober). Strategi Dakwah Rasulullah. Diakses pada 29 Oktober 2019,
dari https://alif.id/read/nur-hasan/strategi-dakwah-rasulullah-saw-b213262p/