Perjalanan Mengetuk Pintu Ramadan

oleh: Aughi Nurul Aqiila

Sore; langit tidak tampak akan kelabu, namun jalanan sepi. Orang-orang termakan seruan negara untuk mengunci diri di rumahnya masing-masing. Hanya segelintir yang terpaksa berada di luar karena kalau di rumah, mungkin buka puasanya hanya bisa sampai maghrib nanti.

Saya terduduk, melamun menatap ambang pintu yang tiba-tiba diketuk. Rupaya tetangga–imam masjid kampung kami–datang memakai masker. Di tangannya ada semangkuk kolak kesukaan saya. Katanya, “Buat buka puasa nanti.” Saya tersenyum dan berterima kasih. Dia berbalik menuju rumahnya yang hanya berjarak 2 rumah dari sini. Sejenak, saya terdiam di balik pintu. Hening membawa saya memutar kembali Ramadhan tahun lalu ketika kami masih bisa tarawih berjamaah di masjid. Saya ingat betul bacaannya yang syahdu, membuat saya betah berlama-lama berdiri. Andai saja tahun ini…., ah! Mendadak saya kesal. Angin sore melambai-lambai membangunkan emosi yang saya tahan beberapa minggu belakangan ini.

“Ramadhan pasti ada di tempat lain,” ujar saya yakin dalam hati. Saya menyambar kunci motor di meja, lalu bergegas pergi.

Tidak disangka, jalanan seperti tak berpenghuni. Biasanya dengan mudah saya dapat menemukan penjaja kudapan buka puasa yang ramai oleh kerumunan pembeli. Mudah juga menemukan orang-orang yang berbagi takjil kepada para pengemudi. Suasana yang berbeda ini rasanya membuat jeda yang lebih panjang antara ashar dan maghrib.

Masjid Raya

Saya mengemudikan motor menuju masjid raya yang lumayan besar di pinggir jalan utama. Pada jam-jam ini biasanya ada jadwal pengajian. Ibu sering mengajak saya ikut. Walaupun awalnya terpaksa, namun akhirnya hati luluh juga. Mungkin benar, setan-setan di bulan Ramadan dibelenggu. Hati saya yang seperti batu bisa juga mendadak sendu ketika nasihat ustad menyambar-nyambar telinga. Sayangnya, hari itu sepertinya tidak ada pengajian. Saya hanya menemukan sepasang sandal di depan masjid.

Pintu masjid tertutup. Saya mencoba membukanya namun terkunci. Kulihat samping kanan kiri, mencari pintu lain yang bisa dibuka. Namun hasilnya nihil. Padahal dalam hatiku ada harap yang besar untuk dapat kembali melaksanakan tarawih di sini. Kemudian saya memutuskan duduk di depan pintu.

Tiba-tiba saya mendengar suara aneh. Seperti gesekan kayu yang sudah lapuk. Bunyi itu makin keras dan rasanya ada di dekat sini. Saya terperanjat. Berulangkali mengucap istighfar. Saya tidak berani menoleh ke arah sumber suara. Hampir saya terlonjak ketika seseorang berdiri di hadapan.

“Ada apa, Mas?” tanya seorang berpeci.

Saya mendongak. Syukurlah, ternyata manusia. Saya masih diam menenangkan rasa deg-degan yang tadi menyerang. Dia kemudian terkekeh. “Maaf, pintu masjid memang susah dibuka. Ditambah lagi sekarang jarang dibuka, jadi bunyinya seperti itu,” jelasnya menenangkan saya.

“Apa nanti malam ada tarawih berjamaah di sini?” tanya saya berharap.

“Tidak ada.”

“Kalau besok?”

“Tidak ada juga”

“Bagaimana dengan lusa?”

“Pulanglah, Nak. Tarawih berjamaah di rumah saja”

“Kalau saya I’tikaf di sini boleh?”

“Lebih baik kamu pulang. Di rumah lebih aman”

 Lelaki itu meninggalkan saya. Menutup kembali pintu masjid. Saya menunduk. Mungkin Ramadan ada di masjid lain. Saya bergegas menuju motor sebelum gelap menggerogoti langit.

Masjid kedua

Masjid ini bukan masjid raya. Letaknya di dekat rumah nenek. Masjid ini tidak besar dan sebagian besar jamaahnya adalah orang kampung nenek. Dalam pikiran saya, orang-orang kampung akan lebih mungkin untuk mematuhi aturan pemerintah untuk tidak sholat berjamaah di masjid. Saya bisa menduga bahwa akan ada anak-anak yang melingkar berlatih mengaji, ibu-ibu yang menyiapkan makanan buka puasa, dan kakek-kakek yang berdizikir di pojokan.  Jadi, saya dengan percaya diri melangkah masuk ke pelataran masjid yang sebenarnya pintunya pun masih kelihatan tertutup.

Alih-alih menemukan orang, saya justru disambut kucing yang mengeong di pelataran masjid. Saya masih berprasangka positif sampai di depan pintu masjid, ternyata terkunci. Dari kaca jendelanya pun tak tampak orang-orang yang ada dalam dugaan saya tadi. Hening. Bahkan suara lantunan ayat suci yang dikumandangkan dari speaker pun tidak terdengar. Saya menuju halaman belakang, berharap akan bertemu orang.

Nyatanya tidak.

Saya kesal bukan main. Ingin rasanya berteriak dan memaki keadaan. Saya menghela napas berulang kali. Mencoba menenangkan diri, pasti di rumah nenek pintunya akan selalu terbuka untuk saya.

Rumah Nenek

Setiap Ramadan, selalu ada jadwal buka puasa bersama di rumah nenek. Entah setiap minggu atau dua minggu sekali. Tradisi ini kami lakukan untuk mempererat tali silaturahim antar keluarga. Saya bisa mengingat sepupu-sepupu yang masih kecil akan saling berebut mainan, berteriak, membuat gaduh seisi ruangan. Para lelaki biasanya mengobrol sambil menonton TV. Sementara para wanita pasti sedang di dapur atau meja makan menyiapkan hidangan. Nyaman sekali rasanya berada di tengah kehangatan keluarga besar. Momen itu yang selalu saya tunggu di saat Ramadan tiba. Namun sekarang, jadwal berbuka puasa bersama tidak muncul di grup whatsapp keluarga.  Mereka justru saling mengingatkan untuk tetap berada di rumah.

Sebernarnya, Ibu melarang keras untuk pergi ke rumah nenek. Saya tahu nenek sakit-sakitan beberapa tahun terakhir ini. Ibu khawatir kondisi nenek terlalu lemah untuk bertahan dari virus menyebalkan itu, maka anak-anaknya pun menjaga mati-matian nenek dari dunia luar. Bahkan Bibi–yang tinggal serumah dengan nenek–pernah secara terang-terangan memberitahu saya untuk tidak berkunjung sampai kondisi ini pulih.

Saya tidak peduli! Saya rindu Ramadan di rumah nenek. Saya hanya ingin semuanya berjalan seperti biasanya.

Dengan energi dan emosi yang meluap, saya mengetuk pintu rumah nenek. Satu kali, dua kali,…. sepuluh kali. Tidak ada jawaban. Nenek memang suka memasak di dapur belakang, jadi mungkin tidak dengar. Bibi juga mungkin sedang keluar. Jadi, saya memutuskan untuk duduk di teras.

Beberapa menit kemudian Bibi datang. Di tangannya ada dua plastik sepertinya berisi makanan untuk buka puasa. Saya mendadak kegirangan dan langsung ingin menyalaminya. Namun, Bibi mundur beberapa langkah. Wajahnya menunjukkan raut tidak suka. Masker yang tadinya hanya tergantung di telinga, dia rapatkan menutup mulut dan hidung. Saya bisa merasakan hawa tidak mengenakkan.

“Ada apa?” tanya Bibi penuh selidik.

“Mau buka puasa bersama nenek, Bi. Kangen.”

Bibi terdiam. “Lain waktu saja. Nenek sedari kemarin batuk-batuk.” kata Bibi menohok saya. Saya tertolak lagi.

“Nih, buat buka puasa di rumah” Bibi menyerahkan sebungkus plastik. Mata saya rasanya memanas. Saya tidak kuat lagi. Dengan suara bergetar, saya menolak. Saya pamit pulang dengan kekecewaan yang menggebu.

Benar, pintu masjid saja tertutup untuk saya. Saya tidak menemukan Ramadan di masjid. Pintu rumah nenek sekalipun dikunci rapat-rapat. Ramadan juga tidak ada di rumah nenek. Ramadan tidak pula ada di sepanjang jalan pulang. Dalam hati, saya bingung harus mencari Ramadan dimana lagi.

***

Saya melewati waktu maghrib dengan kesendirian di atas motor. Sedikit mengganjal perut dengan roti dan air minum yang dibeli di warung dekat sini. Saya masih merenung melihat jalan yang lengang. Di telinga saya berulang kali diputar suara-suara khas Ramadan. Speaker masjid yang dikeraskan atau obrolan tetangga tentang anaknya yang baru mulai belajar berpuasa. Saya merasa memasuki Ramadan dengan pintu-pintu amalan yang tertutup, lalu saya harus melakukan apa?

Adzan isya berkumandang.

Saya memutuskan untuk pulang. Membawa pulang setumpuk kekecewaan. Mungkin akan saya hadiahkan pada Ibu, Bapak, atau adik. Mungkin juga kami saling memberi hadiah kekecewaan yang sama.

Sesampainya di rumah, saya melihat Bapak, Ibu, dan adik sedang tarawih berjamaah. Saya tahu mereka bertiga selalu tarawih berjamaah di rumah. Sementara saya lebih memilih sholat sendiri karena merasa jamaah seharusnya dilakukan di masjid. Bapak dan Ibu tidak marah. Mereka bilang bahwa saya memang butuh waktu untuk mengerti. Saya hanya duduk di kursi dekat mereka dan memperhatikan bagaimana mereka melaksanakan sholat berjamaah.

Mendadak ada yang menghangat dalam dada.

Bapak mengucap salam yang terakhir. Pertanda tarawih telah selesai. Dalam balutan mukena, Ibu lantas memeluk saya. “Kemana saja kamu?”

Saya baru ingat bahwa saya tidak membawa ponsel selama bepergian tadi. Saya hanya terdiam.

“Ibu masak makanan kesukaan kamu. Tuh masih ada di meja makan. Sudah buka puasa kan?” tanya ibu lembut.

“Sudah bu,” jawab saya lirih. Ibu masih memeluk saya. Saya bisa mencium aroma khawatir dari Ibu. Mendadak, saya merasa bersalah. Ibu yang tak pernah mempunyai jeda untuk dirinya sendiri karena sibuk memperhatikan kami.

“Bu,” panggilan saya membuat Ibu melepas pelukannya. “Apa di Ramadan kali ini semua pintu kebaikan telah tertutup untuk saya?”

“Pintu kebaikan seperti apa yang kamu maksud?”

“Pintu sholat berjamaah dan I’tikaf di masjid. Hmm, bahkan pintu silaturahim di rumah nenek pun juga tertutup untuk saya,” ujar saya sedih.

Ibu menatap Bapak dalam. Kemudian tersenyum. Katanya, “Kamu lupa ada pintu kebaikan yang justru terbuka lebar sekali untukmu?”

Saya terkejut. “Apa itu?”

“Pintu kebaikan sabar dan ridha,” tegas Ibu.

Hening mengisi keseluruhan ruang udara dalam rumah. Bapak dan adik menatap saya dengan seksama. Saya masih mencerna kata-kata Ibu yang banyak benarnya.

“Ibu tahu kondisi ini sulit buatmu dan buat kita semua. Namun, Ramadan tetapkah Ramadan. Keistimewaan dan keberkahannya masih tetap sama. Kamu hanya perlu fokus terhadap apa yang bisa kamu amalkan, jangan mencari hal lain yang kamu sudah tahu tidak akan bisa didapatkan.”

Saya seperti disambar petir di siang bolong. Saya memang belum berusaha untuk menjadi sabar dan menerima keadaan. Apalagi memahami bahwa sebenarnya masih banyak hal yang bisa saya amalkan daripada sekadar berandai tentang apa yang seharusnya terjadi.

“Besok, kamu coba membuka pintu kebaikan yang lebih besar lagi nggak?” tanya Bapak memecah keheningan.

“Apa itu, Pak?”

“Besok kamu jadi imam tarawih berjamaah di rumah, ya!” ujar Bapak semangat. Sontak, adik saya meloncat kegirangan. Ibu dan Bapak tertawa. Beberapa detik kemudian, saya ikut tertawa.

Ridha dan sabar memang sulit. Kita lakukan pelan-pelan ya. Saya membisikkan pada Ramadan yang malam itu akhirnya saya temukan di rumah, “Semoga selalu berkah.”

Guruku bernama Ramadhan

oleh: Mukti Mukhtar

14.41. Angka itu tertera pada layar smartphoneku ketika aku membuka mata.  “Sudah hampir waktu Ashar sepertinya” pikirku.

Aku mencoba mengubah posisiku yang tadinya berbaring untuk duduk di pinggiran tempat tidur. Dengan wajah yang masih lusuh, aku memandang keluar jendela kamarku. Tak lama, mataku kembali tertuju pada layar smartphone. Di bawah angka tadi, tertulis “Kamis, 23 April 2020”.

“Jadi sebentar lagi dia akan datang. Seingatku mungkin besok atau lusa dia akan sampai. Apakah tak apa ia datang ditengah kondisi wabah ini?”Tanyaku dalam hati.

 “Allahu Akbar…Allahu Akbar…” Suara adzan dari gawaiku menggema memutus lamunanku. Dengan langkah yang masih sedikit sempoyongan aku beranjak untuk mengambil air wudhu lalu menunaikan kewajibanku.

Tidak seperti dulu, saat ini hampir semua aktifitas harus dilakukan dari rumah. Bahkan shalat berjamaah yang merupakan kewajiban laki-laki muslim sepertiku, juga harus dilakukan di rumah bersama dengan Ayah dan Ibu, beserta satu orang adik perempuanku. Penyakit yang mewabah kehampir seluruh belahan bumi menjadi sebab dari semua perubahan yang terjadi akhir-akhir ini.

Kondisi ini membuatku khawatir dengan kedatangan guruku. Aku takut, guruku tidak bisa membawa pelajaran bagi kami sebagaimana biasanya. Aku takut, pelajaran yang dapat kuambil dari guruku tahun ini berkurang.

 “Kalau saja aku tahu tahun ini akan begini, aku akan mencoba memanfaatkan perjumpaanku tahun lalu dengan guruku lebih serius, terlapas dari pendidikan koas yang kujalani saat itu.” ketusku dalam hati.

Aku masih ingat betul perjumpaanku tahun lalu. Bisa dikatakan perjumpaanku dengan guruku tahun lalu merupakan pengalaman yang baru, karena kebanyakan perjumpaanku harus kuhabiskan di Rumah Sakit akibat kesibukanku sebagai koas kala itu. Walhasil, memang banyak pelajaran baru yang dapat ku petik, tapi aku merasa kalau seharusnya masih banyak yang bisa ku terima waktu itu.

Tiba-tiba lamunanku terputus oleh suara Utami, adikku yang masih duduk dikelas 5 SD.

“Ayah, nanti malam kita mulai shalat tarawihkan?” tanya Utami kepada ayahku yang duduk dihadapannya.

“Insyaa Allah, nak. Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kita tarawihnya dirumah saja” Jawab ayahku sambil melipat sajadah yang telah ia gunakan lalu beranjak menuju kamar.

“Oh, begitu, yah. Tapi kalau kita shalatnya dirumah saja nanti yang ceramah dan imam tarawihnya siapa, yah?” tanya adikku lagi.

“Tarawih tidak harus ada ceramahnya, nak. Kalau soal imam, biar nanti kakakmu yang jadi imamnya” jawab Ayahku dengan santai.

Deeggg. Mendengar percakapan itu, aku yang tadinya sedikit merasakan kantuk, seketika hilang. Pikiranku tertuju pada kata-kata ayahku tadi.

Saya yang jadi imam tarawih, yah? Kenapa bukan ayah saja?” tanyaku sambil beranjak menghampiri ayahku di kamar.

“Hafalan ayat-ayatmu lebih banyak dari ayah, nak. Nanti ayah yang imam shalat witirnya” jawabnya sambil berlalu meninggalkanku menuju teras rumah.

Aku termenung mendengar jawaban itu. Aku lalu beranjak ke dalam kamarku, menutup pintu dan kembali duduk di pinggiran kasur sembari memandang keluar jendela. Spot yang memang menjadi favoritku sejak dulu untuk merenung dikamarku.

Jawaban ayahku tadi memang ada benarnya. Hafalanku memang sedikit lebih banyak dari Ayahku. Tapi tetap saja, diminta menjadi imam shalat tarawih merupakan permintaan yang cukup berat bagiku. Apalagi ini harus mengimami ayah dan ibuku sendiri. Perasaan untuk takut berbuat salah, takut lupa dan macam-macam ketakutan lainnya mulai berkecamuk dalam pikiranku.

Astagfirullah….” Lirihku mengakhiri lamunan. Aku tersadar.

“Kenapa aku sangat merisaukan perihal ibadah dihadapan orang tuaku, sementara untuk menunaikan shalat sendiri saja aku tak pernah sekhawatir ini. Apakah selama ini aku lebih takut kepada orang tuaku dibandingkan Allah?” pikirku dalam hati.

Astagfirullah…astagfirullah” aku hanya bisa terus beristighfar. Kuakui, aku sedikit tertampar dengan pikiranku tadi.

Aku lalu beranjak ke meja belajar yang berada di samping tempat tidurku, kuambilnya mushafyang tersimpan diatas meja. Aku kembali ke tempat tidur, ku buka lembaran-lembaran mushaf itu satu demi satu, ku perhatikan ayat demi ayat sambil mencoba sedikit mengingatnya di kepalaku. Aku mulai mengulang-ulang kembali hafalanku. Memang benar hafalanku sedikit lebih banyak dibanding ayahku, tapi bukan berarti aku memiliki banyak hafalan. Belum lagi ditambah ayat-ayat yang dulunya sempat terhafalkan, namun mulai hilang akibat aku malas murojaah.

Aku mulai kecewa. Ku hitung ayat-ayat yang masih segar dalam ingatanku.

“Jumlahnya tidak akan cukup untuk tarawih sebulan penuh.” batinku. Aku mulai menyesal, mengapa dulu aku masih sering lalai dalam menambah dan mengulang-ulang hafalanku. Boro-boro untuk mengerti ayat-Nya, hafal tanpa tahu artinya saja sudah cukup buatku kala itu.

Ku tutup Al-Qur’an yang aku pegang, sembari kembali menengok kejauhan melalui jendela kaca. Posisi rumahku yang berada di dataran tinggi membuatku leluasa untuk memandang langit tanpa takut terganggu dengan bangunan-bangunan yang cukup padat di sekitar rumahku. Ku pandangi matahari yang kala itu sudah mulai siap untuk meninggalkan langit. Sambil kembali sedikit meringis dalam hati.

“Ya Allah, apa yang sudah kuperbuat selama ini dengan waktuku”.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, saat pemerintah akhirnya mengumumkan melalui media TV Nasional bahwa malam ini kita sudah diperbolehkan untuk melaksanakan tarawih. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, akupun menjadi imam untuk tarawih.

Allahu Akbar” ucapku sembari memulai tarawih kami.

Pada tarawih malam ini, aku putuskan untuk membaca satu-dua ayat saja pada rakaat pertama, dan membaca salah satu surah pendek pada rakaat kedua. Begitu seterusnya sampai kami selesai. Hal ini kulakukan karena terbatasnya hafalan ayat yang aku miliki.

Setelah selesai shalat, aku kembali masuk ke dalam kamarku. Ku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Sembari berbaring, ku tatap langit-langit dikamarku.

“Ya Allah…memang penyesalan selalu muncul dikemudian hari. Alangkah nikmatnya apabila dengan keadaan seperti ini, aku adalah seorang hafidz Qur’an. Tentu tak perlu lagi mencicil ayat-ayat yang akan ku bacakan dalam shalatku” ucapku lirih.

“ting-tong” ringtone handphoneku terdengar dari seberang kasurku. Kuraihnya gawai itu lalu ku buka pesan yang masuk.

Pesan itu dari Kiki, salah seorang temanku yang sekedar menanyakan kabar. Berhubung akibat pandemi ini sudah sebulan lebih kami tidak bertemu.

Aku membalas pesannya lalu menutup handphoneku. Tapi, salah satu teks pesannya masih menempel di pikiranku.

“Tapi berbagai pelajaran diberikan oleh pandemi ini. Bagi yang mau belajar, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Tapi bagi yang suka mendumel cuman dapat sia-sia saja” katanya saat kami sedikit membahas tentang dampak wabah ini.

“Eh, iya ! Benar juga yang Kiki katakan.” Ucapku spontan, ketika terus memikirkan kata-kata kiki di DM Instagram tadi. Lamunanku pecah. Aku menyadari sesuatu yang sangat penting.

Sejak sore tadi, aku terus meresahkan apakah guruku tahun ini datang dengan pelajaran yang banyak. Aku takut, kalau pelajarannya tahun ini akan terganggu karena adanya pandemi.

Nyatanya aku salah. Aku memandang pandemi ini dari sudut yang keliru. Justru, pandemi ini membuat pelajaran yang diberikan guruku menjadi semakin banyak. Buktinya adalah hari ini. Aku sudah diberikan pelajaran yang sangat berharga tentang waktu.

Pelajaran tentang bagaimana memaksimalkan waktu yang sudah Allah percayakan untuk hal-hal yang positif. Pelajaran tentang bagaimana Maha Kuasa-Nya Allah, yang dengan ciptaan-Nya mampu merubah keadaan menjadi benar-benar berbeda dari biasanya. Semua pelajaran ini, seperti kata temanku tadi hanya bisa didapatkan “…bagi orang yang mau belajar…”.

Aku bangkit dari tempat tidurku. Ku ambil mushaf, yang ada diatas meja belajar. Ku buka lagi lembarannya satu-persatu. Tapi kali ini niatnya beda. Aku tak mau lagi menyia-nyiakan waktu yang ada.

“Aku pasti bisa, aku harus menjadi lebih baik. Aku tidak mau ketinggalan pelajaran sedikitpun tahun ini” kataku membulatkan tekad dalam hati. Aku tak mau lagi membuang peluang untuk bertemu dengan guruku. Akupun makin semangat untuk menanti tiga puluh hari kedepan yang akan kujalani dengan guruku.

Guruku sudah tiba. Tarawih malam hari ini adalah penanda bahwa ia telah sampai. Guruku bernama Ramadhan.

Bukan Sinema, Bukan Lagu, Ini Waktu Ramadanku

oleh: Ariva Syiva’a

“Satu, Dua, Tiga..”

Adikku—Ima—tengah sibuk menghitung jumlah pohon yang kami lewati selama perjalanan mudik ke rumah Simbah kamidi Ngawi. Setibanya di sana, kami dijamudengan pemandangan rumah bergaya Belanda yang usianya sudah hampir dua abad lamanya. Rumah Simbah kami ini memiliki sejarah tersendiri. Di situlah dahulu Almarhum kakek kami, Mbah Abdurrahim mengajarkan kelima belas anaknya untuk salat dan mengaji. Dahulu, tiap pagi-pagi buta beliau kerap berdzikir sembari mengelilingi rumah. Lalu membangunkan anak-anaknya untuk mendirikan qiyamul lail. Ayahku sendiri tergolong anak yang bandel. Semasa kecil, Ayah sering sengaja bersembunyi di dalam lemari agar tidak dibangunkan salat. Seringnya taktik itu berhasil, namun sialnya pernah suatu pagi Simbah Putri (terjemahan: nenek) lupa menyiapkan peci. Saat hendak mengambil peci, Mbah Kakung akhirnya memergoki tubuh mungil Ayah tengah meringkuk tertidur pulas di antara gantungan baju.

Astaghfirullahaladzim..!” teriak Mbah kaget

“Innalillahi!” teriak Ayah yang tak kalah kaget

“Ngapain kau?” Mbah tampak geram

“Ngg.. AMPUN PAKK” Ayah menerobos tubuh Mbah yang jangkung

Mbah Kakung sontak menyabetkan sarungnya sembari mengomel tiada henti. Berlarian lah Ayah terbirit-birit keluar lemari menghindari sabetan sarung Mbah Kakung yang bertubi-tubi. Anak-anak Mbah yang lain tertawa cekikikan dibuatnya.

Usai membereskan barang-barang, kami segera berkumpul di ruang tengah untuk berbuka. Mbah Putri sudah menyiapkan sayur bayam, sambel lethok — saus gurih pedas khas Jawa Tengah yang berbahan dasar tempe sangit — dan ayam goreng yang masih hangat. “Wah uenak e rek!”, ucap salah seorang Pakdhe ku (terjemahan: Paman ku). “Ndang kalian selagi masih muda segera dimakan ayamnya! Jangan sampai nyesel kayak Pakdhe lho. Dulu pakdhe ndak bisa makan daging karena ndak ada uang, sekarang sudah banyak uang tetep ndak bisa makan karena kolesterol, HAHAHA ampun deh!” Kami semua tertawa miris dibuatnya. Kalau mengingat cerita Ayahku, memang berat dahulu sejarah perjuangan Mbah untuk menghidupi kelima belas anaknya. Pernah suatu saat, sangking banyaknya jumlah anggota keluarga dan hanya sedikit telur yang bisa dibeli, satu butir telur rebus diiris tipis-tipis untuk tujuh orang lalu disantap bersama nasi dan garam. Sebetulnya Mbah tergolong berkecukupan dan sudah menyiapkan tabungan untuk masa depan, namun semuanya habis terjual untuk memenuhi biaya pendidikan. “Harta terbaik yang bisa diturunkan adalah ilmu dan iman.”  Begitu bunyi pesan Almarhum Mbah yang sering Ayah sampaikan pada kami.

Keesokan paginya seusai sahur, azan subuh bersahutan mengiringi langkah kaki kami ke Masjid Kampung. Jalanan sudah cukup ramai dipenuhi jemaah lain. Kedua adikku tampak asyik mengobrol tentang cilok kuah saus pedas yang rencananya akan kami beli usai solat tarawih nanti malam. Aku tak henti-hentinya meminta mereka agar berhenti berlarian, khawatir mereka terpeleset genangan air sisa hujan lebat kemarin malam, tapi tentu saja tak mereka patuhi. Tibalah kami di bibir plataran Masjid yang sudah dipenuhi tumpukan sendal sendal jepit yang tersusun tak beraturan bak srundeng di dalam stoples makanan. Kami bergegas mencari shaff yang kosong di sela-sela kerumunan. Debu tipis di muka lantai masjid yang dingin menyapu lembut kaki-kaki mungil kami. Beruntung sekali tadi Simbah mengingatkan kami agar membawa sajadah masing-masing satu agar tidak bergidik kedinginan saat sujud. Salah satu adikku nampak celingukan, tertinggal di belakang. Mungkin mencari lemper ayam atau es dawet sisa takjil tadi sore, pikir ku. Dasar anak nakal.

“Ra, ngapain? Cepat sini!”

Engg.. anu mbak..” Ara berbisik dari kejauhan

“Anu anu.. apa?” Balasku sangsi

“Tadi ada..” Ara masih celingukan

“Lemper ayam? atau-” Aku berbisik kesal

“NAH ITU DIA!” Matanya berbinar-binar

Ara berjalan lurus mengikuti arah pandangannya, menyingkap kerumunan ibu-ibu yang tengah bertasbih menunggu ikamah. Aku bergegas mengikutinya sembari menggandeng adik bungsu ku agar tak menghilang. Kulihat Ara tengah mengulurkan sajadahnya pada seorang ibu yang tampak kedinginan di sudut Masjid. Ibu itu dengan susah payah berusaha duduk dan mengelus kepala adikku dengan tangannya yang sudah mulai menua sembari berterimakasih. Ara tampak menikmati momen itu dan dengan wajah polos nya ia tersenyum ke arah ku. Aku tercekat menyaksikan nya. Adikku dewasa juga ternyata.

Ikamah berkumandang dan kami bergegas merapatkan barisan. Bahu bertemu bahu, kaki bertemu kaki, hati kami tawaduk dan fisik kami mengikuti. “Allaaahuakbar!” Imam memimpin kami memulai salat subuh. Lantunan ayat suci terdengar jernih nan merdu, menggema pada dinding-dinding Masjid Kampung. Imam membacakan surah yang sesungguhnya belum aku hafal, namun terasa akrab di telinga — begitu indah. Ahh seakan semua deadline duniawi menguap seketika.

Tibalah kami di rakaat kedua dan sesuatu yang tak terduga terjadi. Sesuatu yang takkan pernah kami lupakan. Usai bangun dari rukuk dan imam mengucapkan “Sami’allahu Liman Hamidah” (Allah mendengar pujian orang yang memuji nya), aku dan Ima spontan sujud seperti yang biasa kami lakukan sehari-hari ketika salat dengan Bunda dan Ayah di rumah. Sunyi beberapa saat. Lalu tiba-tiba sang Imam merapalkan doa yang belum pernah kudengar. Doa apa ini? Apa ini tuntunan khas Jawa Timur? Aku bertanya-tanya dalam hati. Wajah ku yang sudah terlanjur melekat erat dengan sajadah kuangkat perlahan. Aku berusaha mengintip ke sebelah kanan dan kiri. Kulihat, Ima sontak berdiri lagi mengikuti jemaah lain dan Ara—yang memang berasal dari daerah ini—tampak sudah terbiasa, ia berdiri tegap dan khidmat mengikuti doa imam. Aku masih memikirkan matang-matang apakah aku harus berdiri atau tetap sujud. Waktu terasa berjalan amat lambat dan akhirnya aku memberanikan diri untuk bangkit, namun seketika rasa malu menyergap ku saat kulihat barisan jemaah lain berdiri tegap dan tak seorang pun yang keheranan perihal doa yang asing ini kecuali diriku. Jadilah aku seperti katak malang yang sujud-bangkit-sujud-bangkit di tengah kerumunan. Duhh parah.

Barulah aku tahu di kemudian hari bahwa doa asing itu adalah qunut yang artinya berdiri lama, diam, selalu taat, tunduk, doa, dan khusyuk. Doa itu menurut mazhab Syafi’i memang merupakan sunahuntuk dibaca dalam salat subuh. Selain itu, aku juga jadi mengerti bahwa ada pula qunut nadzilah yaitu doa yang diucapkan saat salat karena musibah yang menimpa kaum muslimin. Dahulu, Rasulullah SAW pertama kali melaksanakan qunut nadzilah paska tragedi Bir Ma’unah pada Bulan Safar ke-4 Hijriah (625 H) di mana 70 sahabat yang diutus beliau SAW untuk berdakwah ke wilayah Najd dibantai di Bir Ma’unah. Kemudian, di tengah kondisi yang memilukan ini, Nabi Muhammad SAW berdoa agar Allah memberikan balasan kepada para pelaku pembantaian yang keji itu.

Sepulang dari Masjid, kedua adikku tak henti-hentinya mengejek ku dengan sebutan katak malang karena ketidaktahuan ku terhadap tuntunan qunut saat salat subuh tadi. Arghh. Tentunya mereka juga bercerita pada Bunda dan membuat huru-hara.Beruntungnya saat itu Bunda tengah sibuk membantu Simbah membuat srundeng ayam jadi tidak terlalu fokus menanggapi ocehan mereka. Bau harum serai, lengkuas, dan daun salam yang tengah di tumis menyeruak memenuhi ruangan. Aroma abon sapi yang baru masak juga amat menggoda, ahh membuat lapar saja.

Mbah Putri memang paling jago memasak dan membuat aneka camilan. Dahulu semasa Ayah masih SMP, Mbah kerap membuat roti, lemper, dan aneka penganan lain lalu dititipkan ke Ayah dan anak-anak Simbah yang lain untuk dijual ke teman-teman di sekolah. Hasil penjualannya akan menjadi uang saku mereka hari itu dan ongkos untuk naik mikrolet pulang ke rumah. Apabila sedang bukan rezeki nya, terkadang penganan yang tersisa banyak harus dimakan sendiri dan terpaksa pulang berjalan kaki hingga 8 kilometer jauhnya. Beruntung sekali, penerapan sistem pendidikan karakter yang keras oleh Simbah ku itu dapat membentuk kepribadian yang mandiri dan tidak mudah loyo ketika Allah menguji. Tidak terbayang bila aku yang ada di posisi Simbah saat itu, tentunya tidak mudah menanggung amanah untuk membina ke-15 anaknya menjadi pribadi yang kuat dan taat terhadap syarikat.

Srundeng yang berwarna coklat keemasan dan abon gurih yang bau harum nya memenuhi ruangan membuat kami ngiler. Sebentar lagi adzan zuhur berkumandang dan Ima akan mendapat freepass untuk menyantap makanan lezat itu. Aku dan Ara menatap masam wajah Ima kecil yang kegirangan karena sebentar lagi bisa berbuka puasa setengah hari atau kami kerap menyebutnya mbedug. Mbedug sendiri berasal dari kata Bedug yaitu instrumen musik tabuh tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu dan biasa dibunyikan sebelum adzan. Selain itu, Bedug juga menjadi alat komunikasi untuk menandai dan merayakan momen-momen keagamaan. Zaman sekarang bedug sudah sangat jarang digunakan. Barangkali dahulu dipakai saat pengeras suara masih belum populer. Sebetulnya puasa Mbedug sendiri tidak diajarkan pada syarikat Islam, namun bisa menjadi sarana bagi adik kami yang masih kecil untuk berlatih menjalankan ibadah puasa. Ketika sudah akil balig nanti tentu saja Ima diharuskan menjalani puasa dari terbit fajar hingga matahari terbenam.

Usai menjalani hari yang panjang dan menyelesaikan ibadah tarawih, Aku, Ara, Ima, kakak kandung ku—Hana, dan kakak sepupu ku—Mai akhirnya diizinkan menikmati hiburan alun-alun terbesar di Jawa Timur. Sesampainya di kawasan alun-alun Ngawi kami terpesona dengan gemerlap lampu hias yang berpendar dengan indahnya di sepanjang jalan.

“Ayo coba semuanya!” seru kak Mai

“Iya.. kapan lagi?” celetuk Kak Hana

“Lohh.. kan besok besok bisa lagi kan?” tanyaku was was

“Hahaha.. bisa bisa..”

Mendengar jawaban itu aku yang masih berusia dua belas tahun tak ambil pusing dan merasa amat lega. Kami lalu sibuk memanjakan lidah kami dengan aneka kuliner dan menaiki berbagai wahana hiburan yang disediakan secara cuma-cuma.

Bertahun-tahun berlalu usai hari itu dan takdir membawa kami menapaki petualangan kami masing-masing. Sekarang Kak Hana dan Kak Mai tengah merantau di Pulau seberang, Ara tengah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren dan aku juga tengah merantau di Kota yang terpisah dengan Ima. Barulah saat ini aku memikirkan kembali betapa bahagia dan berharganya Ramadan kala itu. Mengingatnya membuat ku lebih menghargai detik demi detik yang kulalui. “Iya…kapan lagi?”

Kumandang Adzan di Langit Senja Kota

Khoirul Fahri Arrijal

Jalanan kota nampak lengang pagi ini, sekali-dua kali kicauan burung membuat syahdu langit kota. Aku telah bersiap di posisi sesuai arahan tadi malam. Tinggal menunggu aba-aba kepala pasukan.

Namun ada perasaan yang mengganjal, aku melihat perempuan diam mematung di bawah lampu jalanan, menatap kosong jalanan. Aku menatap lamat-lamat, melihat dengan saksama. Sepertinya aku mengenal sesosok perempuan itu. Meskipun yang terlihat hanya punggung badannya.

“Bagaimana keadaan di pos satu?” Aku mendengarkan melalui piranti modern yang ditempel di daun telinga, sangat jelas kalimat pertanyaan itu.

“Siap aman.” Jawab pasukan di seberang.

Aku masih menatap, menelaah tingkah laku perempuan itu. Tetap saja, diam mematung, dan tatapannya kosong.

“Keadaan pos dua, clear?” Tanya kepala pasukan.

Clear bos. Siap lanjutkan.” Jawab pasukan di sudut perempatan.

“Pos tiga, apakah sudah aman? Jika sudah, operasi toko emas akan segera dimulai.” Intruksi kepala pasukan. Aku mendengarkan dengan jelas, dan ada keraguan pada satu hal. Jika aku mengambil keputusan untuk dimulai, salah satu nyawa tak berdosa akan hilang.

“Beri aku lima detik, bos.” Jawabku cepat.

“Oke, hitungan dimulai dari sekarang.” Lanjut perintah ketua pasukan.

Tanpa pikir panjang, aku berlari ke arah perempuan yang diam mematung itu. Menyekap mulutnya dengan kain yang telah aku siapkan. Dia meronta-ronta, menggenggam keras lenganku. Aku menyeretnya ke celah ruko, agak kumuh. Menahan dia dalam posisi berdiri, mendekap kuat.

Dorrr… dorrr… dorrr…

Terdengar suara senapan angin memekakkan telinga, tiga kali tembakan dilontarkan. Entah apa yang mereka tembak, aku tak tahu pasti. Yang terpenting perempuan ini aman. Seandainya dia masih terdiam di sana, maka akan jadi sasaran tembak.

********

Rembulan menyabit anggun, menggantung indah di langit malam. Kerlipan cahaya gemintang ikut mewarnai gelapnya malam. Rapat operasi toko emas akan segera digelar, tinggal menunggu dua orang bodyguard ketua pasukan. Semenjak sore tadi, mereka mensurvei lokasi, menentukan sasaran tembak dan mencari dalih untuk pengalihan isu sementara.

“Mana peta kota?” Tanya ketua pasukan pada forum. Kami mendongak, fokus mengarah pada ketua pasukan.

“Ini bos, sudah siap.” Anak buah mengambil peta kota, kemudian membentangkan diatas meja eksekusi dengan satu lampu kuning temaram diatasnya.

Suara dorongan pintu dan hentakan kaki membuat kami menengok ke arah pintu utama. Dua orang bodyguard telah datang, matanya tajam, wajahnya seram, seyumnya sangar, tanggannya mengepal dan langkah kakinya berderap tegas.

“Ini tuan, hasil survei kami.” Dua orang bodyguard menceritakan taktik operasi toko emas. Idenya sangat brilian, dibagi menjadi 3 pos koordinasi, ditentukan pula jam kedatangan, langsung melakukan aksi cepat, diciptakannya ledakan hebat dan pengalihan massa untuk isu sementara turut dipaparkan dengan ciamik.

“Berarti tempat utama pas di depan toko itu?” Tanya ketua pasukan sambil menunjuk ke arah jendela. Bingkai jendela terbentang luas, sehingga pusat kota nampak jelas dari gudang di dataran tinggi ini. Anggukan kedua bodyguard sangat mantap, mengiyakan hal tersebut.

Briefing operasi malam ini selesai. Siapkan mental kalian. Bulatkan tekad. Dan teriakkan… ‘Kita satu, sama-sama mau.’ Seluruh isi ruang bergetar akan kalimat semangat pasukan.

 Aku berfikir ulang, mengingat konsep, mencoba meraba-raba, mengotak-atik trial and error konsep itu. Dan ketemu titik terangnya.

“Baik, inilah kesempatan ku.” Aku meyakinkan diri, memberikan semangat untuk terus menerjang segala keadaan.

********

Aku menarik tangan perempuan ini, menyeretnya jauh dari celah pertokoan. Berlari sejauh mungkin dari situ. Aku paham ide berikutnya. Toko petasan akan segera diledakkan dalam hitungan detik setelah tiga tembakan dihujamkan. Aku berlari sekencang-kencangnya, tetap menggandeng perempuan ini. Melepaskan atribut dan seragam penyamaran, berhenti sebentar, membuang di tempat sampah, lalu membakarnya. Tanpa ada niatan sepintas melihat wajah perempuan ini.

Aku menilik jam tanganku sekilas, sebelas detik lagi menuju pukul dua belas siang. Memang lagi teriknya. Itu tandanya toko petasan akan segera meledak. Aku menghitung jarak dengan tempat berpijak sekarang, menengok cepat ke belakang. Tambah sedikit lagi, kalau berhenti di sini, akan terkena dampaknya.

“Apa aku salah liat?” Gumamku dalam hati. Aku pernah mengetahui rautan wajah perempuan ini.

Aku berlari kencang, menambah kecepatan. Menarik lebih keras lagi. Tanpa tahu keadaan perempuan ini, mungkin kerudung yang dipakainya agak berantakan. Hitungan, 3. 2. 1… semua mata teralihkan.

********

“Sheila, apa kabar harimu? Ehhh hatimu? Bukannya kamu sudah melupakan segala sakit hati dan trauma minggu lalu. Jelas sangat sakit itu. Aku sedikit paham, meskipun belum tahu betul kejadian pastinya. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang saja. Aku pasti langsung meluncur ke rumahmu. Dan akan mengajakmu berkeliling kota. Semoga motor bututku cukup bensin, hehehe.” Sapaku dalam tulisan piranti genggam modern. Memang susah mengajak dia berdamai dengan masa lalunya. Berat.

“Iya.” Jawabnya, setelah ku terima dan terbaca. Singkat sekali. Mungkin benar, hatinya belum baik-baik saja.

Kali ini aku benar-benar tertegun. Berani sekali dia menjawab pesan singkatku. Ada sebuah kejadian yang belum bisa ia lupakan. Mengenai keluarga dan sanak familinya. Seringkali ia berdiri mematung di bawah lampu jalanan, menatap kosong. Mungkin sekarang dia sudah perlahan untuk menerima kenyataan atau dia memaksakan sesuatu keadaan agar baik-baik saja. Aku berusaha menebaknya.

********

Kakek Sheila duduk di sebelah ku, mengambil posisi ternyaman. Sheila pergi ke dapur, menyiapkan teh hangat dengan racikan istimewa keluarga sebagai hidangan berbuka puasa.

“Kau tahu, nak. Manusia diciptakan di bumi untuk apa?” Tanya beliau menodongku. Aku menggeleng perlahan. Kemudian beliau melanjutkan.

“Allah Ta’ala berfirman : (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ)

Yang artinya : Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

Lantunan suara kakek Sheila begitu merdu, penjelasannya begitu mengena. Wajahnya yang syahdu menghipnotis tatapanku. Tiba-tiba aku mengangguk pelan. Menerima seluruh isi kalimat barusan. “Ada benarnya orang ini,” batinku.

“Nak, kamu masih bujang. Banyak pengalaman yang akan dibuat oleh dirimu. Percuma jikalau kita memenuhi nafsu dunia. Memikirkan dunia, yang sekiranya tidak akan kita bawa mati. Percuma.” Ucap kakek Sheila penuh makna. Aku tertegun, menelan ludah. Mencermati kalimat yang diucapkan.

“Layaknya operasi toko emas kemarin. Aku sudah mengetahui hal itu setelah kau rapat bersama pasukan. Ketua pasukanmu yang melaporkannya. Memohon perlindungan dan pengalihan isu padaku.” Imbuh kakek Sheila. Sudah kuduga, beliau memiliki pangkat tertinggi dalam tim underground kota.

“Sekarang, kembalilah pada kodratmu sebagai manusia. Beribadah pada Tuhan, Allah swt. Memohon ampun padaNya, selalu berbuat baik kepada sesama dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.” Kalimat sederhana namun penuh makna. Aku terdiam, melamun, mencerna setiap kalimat. Kakek Sheila menepuk bahu ku, dan berbisik pelan.

“Kamu pasti bisa nak. Tuhan memberikan yang terbaik buat kamu. Aku juga yakin Sheila juga akan membantu mu,” ucap kakek Sheila.

“Ada apa ini?” Aku bertanya. Bingung. Menatap mata kakek Sheila.

Sheila kembali hadir, membawa dua gelas teh hangat dengan racikan istimewa keluarga. Berjalan anggun, mengenakan kerudung syar’i dan baju gamis memanjang se mata kaki, serta menundukkan pandangannya. Suara adzan maghrib berkumandang, mengisi relung langit senja kota.

Baru kali ini suasana ramadhanku penuh dengan tanda tanya. Dibumbui kebahagiaan murni, penuh makna, penuh dengan keaadan empati, penuh rasa kekeluargaan yang akrab. Bahkan bisa dibilang menjadi rumah kedua setelah gudang di dataran tinggi sana.

“Silahkan dinikmati tehnya karena sudah waktunya berbuka puasa. Maaf jika rasanya kurang enak.” Sheila mempersilahkan.

“Baik, Sheila.” Aku mengambil secangkir teh, menyeruput sedikit. Sambil mendalami maksud dari ucapan kakek Sheila.