Sebuah Refleksi dalam Sunyi


oleh: Icha Farihah D. F

Aku terbangun dari tidur yang tak sengaja ku niatkan bersama
tumpukan buku disampingku yang biasa digunakan sebagai referensi tugas dan ujian daring. Dengan langkah gontai, aku beranjak dari kasur dan mengamati jam dinding merah muda yang berdetak di tengah sunyi. Pukul 02.00 WIB dini hari. Waktu yang tepat untuk memandang langit dari atap. Hari ini, 15 Ramadhan, bulan sedang menampakkan kesempurnaan
bentuknya. Aku menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai atap sembari membawa buku catatan dan pulpen. Nampaknya menarik untuk
menumpahkan semua pikiran dan emosi dalam tulisan sembari ditemani
cahaya bulan.
Kalau orang kebanyakan memilih senja sebagai simbol romantisme
dan kekinian. Menurutku, waktu menjelang fajar lebih sesuai. Aku selau
menyukai waktu-waktu ini, waktu ketika hampir seluruh manusia terlelap dan
hanya menyisakan ketenangan, waktu ketika para manusia tangguh
menunjukkan kegigihan untuk mencari rezeki meski tubuh kadang tak bisa
berkompromi, dan waktu terindah ketika seseorang bersujud di sepertiga
malam dengan suara lirih kepada Tuhan Yang Selalu Terjaga. Sungguh
sebuah waktu yang Tuhan sendiri menjelaskan keutamaannya di dalam
alquran.
Banyak yang berkata bahwa ramadan kali ini berbeda karena pandemi
yang terjadi. Tak ada tarawih dan itikaf di masjid, iftar bersama teman dan
keluarga besar, dan kegiatan-kegiatan yang seharusnya menjadi ajang
merekatkan ukhuwah islamiyah. Sebuah kesedihan yang besar bagi umat
muslim ketika semua masjid di seluruh dunia ditutup dan semua orang hanya
boleh beribadah di rumah masing-masing. Beberapa menyatakan keadaan
pandemi ini merupakan azab karena menjauhkan kita dari ibadah. Padahal
kalau kita berpikir ulang, mungkin inilah waktu yang tepat untuk
mengembalikan semangat dan niat ibadah dari hati masing-masing, yaitu
ketika ibadah yang kita lakukan benar-benar penuh privasi dengan Allah
ta’ala, tanpa perlu pengawasan dan pandangan manusia.
Dari seberang terdengar suara seseorang membangunkan masyarakat
untuk makan sahur. Suara yang cukup keras dan tegas untuk membuat
mereka yang sedang terlelap dalam balutan selimut bangun. Aku menutup
kedua telinga dengan tanganku ketika volume suara pada toa mulai meninggi
dan akhirnya saat suara itu mulai menghilang, aku menghela napas dan

mengulum senyum. Indonesia mungkin pengecualian dalam pelarangan
beribadah di masjid, batinku. Di tengah pandemi yang mengerikan ini,
beberapa warga masih bersantai dan menjalankan aktivitas seperti biasa,
entah karena tidak takut, kurang informasi, atau terdesak untuk memutar
roda ekonomi. Belum lagi mereka yang memainkan teori konspirasi untuk
memecah belah pendapat umum. Aku menghela napas untuk kedua kali.
Sungguh ironi. Aku ingat terakhir kali ketika memikirkan semua permasalahan
itu membuat kepalaku pusing dan jatuh pada kecemasan yang tak wajar.
Akhirnya, aku memilih menerapkan apa yang disampaikan Stephen R. Covey
dalam bukunya, fokus terhadap sesuatu yang bisa kamu lakukan dan
pengaruhi (circle of influence), daripada fokus kepada sesuatu yang hanya
bisa kamu pikirkan tanpa ada yang bisa kamu ubah (circle of concern).
Berhenti menghabiskan energi untuk sesuatu yang tak dapat disudahi
dengan tangan sendiri.
Aku tahu pandemi ini menyebalkan, mengecewakan, dan membuat
putus asa. Semua orang mungkin sudah menghujat dan mengutuk si virus
karena ulahnya menjangkiti bumi. Tak ada yang salah dengan berkeluh
kesah sesekali, apalagi jika ada teman yang bercerita masalah karena
pandemi ini, sesepele rindu nongkrong di warung kopi hingga kehilangan
pekerjaan karena para pemilik modal yang tak mampu memberi gaji.
Mendengarkan adalah kunci, tanpa perlu banyak menasihati karena bisa jadi
mereka memang berada di tahap yang sulit dan tak patut mendapatkan toxic
positivity dari seseorang yang tak merasakan hal tersebut. Jadi, yang dapat
dilakukan adalah mmberikan empati tanpa perlu menghakimi.
Tak bisa dibohongi bahwa berada dalam “kurungan” pandemi memang
membosankan. Di saat-saat seperti ini barulah aku menyesali tentang
apresiasi, bahkan di tengah kesibukan bekerja dan belajar yang biasanya aku
maki karena lelah dan terlalu duniawi, aku lupa mengucap puji syukur.
Ternyata kesibukan pun merupakan sebuah bentuk nikmat yang baru terasa
ketika mendapat keluangan waktu yang sangat luang ini. Sebentar, aku
berpikir ulang. Jadi, waktu luang yang sangat luang ini pun perlu diapresiasi?
Alhamdulilah, ucapku tanpa suara. Semua memang butuh keseimbangan
dan saling melengkapi. Kita tidak tahu nikmatnya sehat jika tidak merasakan
sakit, begitu pula tentang kesibukan dan waktu luang.
Jika melihat jauh ke belakang, perjalananku untuk berada di titik ini
cukup panjang dan melelahkan. Jatuh bangun dan berliku. Berambisi dengan
penuh target-target hidup yang ingin dicapai, mulai dari pendidikan, karir,

keluarga, cinta, dan hal-hal lain yang kasat mata dan penuh gemerlap dunia.
Sekarang semua itu terasa bergetar dengan penuh kebimbangan. Hidup di
tengah pandemi yang tak pasti ini ternyata hanya mengharap satu hal dasar
sebagai makhluk hidup: menjadi seorang penyintas. Bertahan hidup adalah
hal yang sama-sama diperjuangkan manusia saat ini. Sungguh manusia
memang sangat rapuh dan tak berdaya.
Mungkin pandemi ini dirancang untuk mengembalikan hakikat
manusia. Apalagi kehadirannya membersamai bulan suci ramadan. Momen
seperti ini merupakan waktu yang sangat cocok untuk muhasabah diri. Masih
ingatkan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Salam mendapatkan wahyu pertama
di Gua Hira setelah menjalani tahanuts (menyendiri, red) beberapa hari di
sana? Artinya, kita memerlukan karantina dalam ramadan ini untuk
mengembalikan hati yang mungkin sudah hampir menghitam dan mulai
membatu. Momen yang perlu diapresiasi dengan memanfaatkan setiap
kesempatan dalam kesendirian ini sebaik mungkin karena tak ada yang tahu
tentang masa depan kecuali Sang Pemilik Waktu itu sendiri yaitu Allah ta’ala.
Aku tersadar dari renungan yang ku lakukan sebagai bentuk
prokrastinasi untuk menulis setelah seekor nyamuk berhasil mendapatkan
darah dari lenganku. Aku meraih pena dan mulai mengalirkan pikiran ke
dalam kata dengan cahaya bulan sebagai lampu penerang.
Wahai, Ramadan…
Terima kasih telah sudi menghampiri kami lagi.
Maaf karena tak mampu mengisi serambi-serambi masjid kali ini.
Berharap kekhusyuan kami bersamamu tetap sama meski dalam sunyi.
Berucap puji pada setiap pelajaran kehidupan yang diberikan oleh Sang Ilahi.
Menguatkan iman dalam kesendirian dan ketidakpastian masa depan.
Meyakini bahwa esok hari hanya milik Allah dan yang pasti adalah sekarang.
Sehingga kami hanya perlu mengejar kebajikan pada tiap kesempatan.
Memastikan bahwa setiap waktu dalam ramadan digunakan dalam ketaatan.
Agar Allah ridhoi ramadan di tengah pandemi sebagai cara mencapai takwa.
Sebagaimana yang telah diajarkan dalam alquran.

Bahwa keimanan akan menghadapi ujian dan cobaan
Bahwa segala kesulitan ini akan terlewati selama Allah menghendaki

JATAH TAKJIL DARI ALLAH

oleh: Alfian Nurfaizi

Matahari mulai turun, memancarkan mahkota emasnya menyusuri lautan langit biru. Begitulah suasana sore itu, tampak indah ketaatan makhluk yang memenuhi takdirnya untuk kembali setelah menemani dua pertiga siang. Kisah ini merupakan awal pertemuanku dengan sahabat selama menjadi mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran. Bulan ini adalah ramadhan pertamaku disini, setelah berbulan-bulan menjalani suka duka masa orientasi. Ramadhan ini terasa berbeda dari sebelumnya, ini pertama kalinya aku datang ke Masjid untuk mendengarkan ceramah secara sukarela. Masih teringat jelas di pikiranku pengalaman masa itu, perasaan hampa setelah tujuh belas tahun disibukkan urusan dunia. Begitulah sejatinya sifat manusia, selalu merasa kurang dan tak pernah puas atas segala pencapaian. Seperti sabda Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan Baihaqi dan Ibnu Hibban, “Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai beraikan urusannya,  lalu Allah akan jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang telah ditakdirkan saja. Sedangkan, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan ringankan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan, dan rezeki duniawi mendatanginya padahal ia tak minta”.

Suasana masjid fakultas cukup ramai dengan berbagai tipe mahasiswa yang menjalani aktivitas, ada yang tilawah menyelesaikan target harian, berkemas diri seusai kajian, hingga bersantai rebahan menunggu lantunan adzan. Waktu itu aku dan beberapa teman mahasiswa baru sempat merasa takut dan cemas ketika seorang kakak tingkat mendatangi kami, “Semoga tidak ada kesalahan yang kami lakukan hari ini” ucapku dalam hati. Segala puji bagi Allah, ternyata kakak tingkat tersebut memiliki maksud baik untuk mengajak kami berbagi takjil kepada masyarakat di sekitar kampus. Kami pun bersedia menerimanya, meskipun dengan sedikit berharap mendapat jatah untuk meringankan jatah kos bulanan.

Jam telah menunjukkan pukul empat, langit yang cerah perlahan mulai meredup. Beberapa kresek besar berisi nasi kotak telah menunggu kami bagikan. Kami pun berangkat berjalan bersama menyusuri jalan sekitar kampus, bergegas menjemput pahala atas amalan berbagi makanan berbuka. Pos pertama sampai, kami mulai membagikan takjil kepada orang-orang membutuhkan yang berada di sekitar. Perasaan bahagia kami rasakan ketika melihat wajah berseri penerima takjil, tak sedikit diantara mereka mendoakan keberkahan untuk kami. Sungguh sebuah rasa syukur yang tak dapat diungkapkan dalam kata-kata, suasana haru bercampur senang seakan menyatu menemani kami sepanjang perjalanan.

Satu jam telah berlalu, pos terakhir sudah berada di depan. Persediaan takjil kian menipis seiring tenaga kami yang semakin terkuras menjelang berbuka. “Eh, kita ambil jatah takjil dulu yuk sebelum kehabisan, sudah mau maghrib nih.” ucap temanku secara spontan. Memang saat itu setiap dari kami diperbolehkan untuk mengambil jatah takjil, sebagai bentuk balas jasa atas sedikit tenaga dan waktu yang kami luangkan. “Tapi jangan dulu deh, lihat di depan orangnya masih banyak. Kasihan nanti ada yang tidak kebagian, lagipula mereka lebih berhak dari kita yang sebenarnya masih berkecukupan, mending kita nunggu jatah takjil di Masjid fakultas aja.” Pendapat bijak dari temanku yang lain. Setelah berbagai pertimbangan, kami pun setuju dengan pendapat kedua. Tidak ada ruginya, sama-sama mendapat takjil hanya saja dari tempat dan waktu yang berbeda. Takjil pun habis dibagikan di pos terakhir, beberapa relawan telah mengambil jatahnya, beberapa relawan lain termasuk aku merelakan jatah untuk dibagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Suara adzan telah berkumandang, kami bergegas menuju masjid fakultas. Suasana masjid saat itu lebih ramai dari biasanya, banyak mahasiswa luar fakultas yang datang. Sempat terbisik dalam hati, “Apakah nanti kami kebagian dengan jumlah jamaah sebanyak ini?”. Perasaan was-was itupun segera ku lupakan tatkala melihat hidangan, bergegas kami meneguk segelas air dan memakan tiga butir kurma untuk membatalkan puasa. Tak sempat mengambil gorengan, lantunan iqomah memanggil kami untuk segera memenuhi shaf terdepan, mengejar pahala terbaik sholat berjamaah di bulan ramadhan.

Setelah imam mengucap salam, mahasiswa bergegas pergi berhamburan ke belakang mengambil jatah takjil. “Tenang, pasti kebagian kok. Serahkan segala urusan kepada Allah, maka Allah pasti memberikan yang terbaik.” kata temanku yang ikut membagikan takjil keliling. Seusai berdzikir dan sholat sunnah, kami pun menuju belakang untuk mengambil nasi. Sialnya ternyata kami kehabisan, rasa marah bercampur kecewa memenuhi sesak dada ini, kenapa kejadian tidak adil ini harus terjadi kepada kami ketika sudah melakukan cukup banyak kebaikan hari ini.

Akhirnya temanku mengajak untuk segera membeli makanan, “Perasaan menyesal tidak akan menyelesaikan masalah, mengikhlaskan akan membuat hati kita lebih baik, dan meningkatkan derajat kita di hadapan Allah. Yuk mending segera cari makan sebelum masuk waktu isya!”. Perkataan tadi sedikit menenangkan kami, perut yang kosong dan bunyi sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Kami bergegas berangkat ke jalan sekitar kampus untuk berburu makanan. Suasana jalan penuh ramai, semua orang sibuk menyelesaikan santap bukanya. “Hmm, harus menunggu sampai kapan ini sepinya? Masa penuh semua sih, sial banget hari ini.”, pikirku waktu itu. Setelah mencari tempat, kami pun tiba pada salah warung untuk segera duduk dan memesan makanan berbuka.

Warung itu satu-satunya tempat yang masih menyisakan tempat duduk, waktu berbuka hampir pasti membuat seluruh tempat penuh. Alhamdulillah sungguh beruntung kami bisa mendapatkan tempat tersebut, sedikit pelipur lara atas cobaan berlapis yang baru saja kami alami. Tak lama merasa senang, beberapa pengunjung disamping sedikit mengganggu kami dengan bertanya seputar kuliah dan menceritakan panjang lebar pengalamannya. Karena perut yang sangat lapar ditambah mood yang sedang buruk, kami menjawab seadanya tanpa sempat memandang wajahnya. “Apaan sih orang ini, mengganggu saja. Tidak tahu ya kalau orang sedang lapar?” menurut pemikiranku. Tak lama berselang hidangan kami pun datang, tanpa berfikir panjang kami pun bergegas menyantapnya dengan lahap. Melihat kami yang sangat rakus waktu itu membuat orang tersebut tertawa, kami berusaha tetap sabar meskipun kesal dengan kejadian itu. Sungguh diluar dugaan, ternyata orang tersebut sangat baik, beliau menawarkan lauk tambahan berupa pepes udang yang dibelinya yang akhirnya kami terima. Selain itu beliau juga menawarkan membelikkan jus, namun karena kami merasa itu terlalu memberatkan akhirnya kami menolak dengan alasan sudah memesan. “Astagfirullah, sungguh menyesal hati ini mengumpatnya tadi. Tidak ada yang tahu apa yang telah Allah rencanakan untuk hamba-Nya.” ucapku dalam hati dengan sedikit rasa haru.

Kamipun mengobrol dengan asyik setelah makan, sekedar berbagi rasa dan pengalaman sebagai mahasiswa tahun pertama di tanah perantauan. Tanpa kami sadari, beberapa orang disamping kami telah pergi tanpa sempat kami berpamit diri, rasanya agak sungkan ketika tak sengaja mengabaikan setelah diberi lauk makanan. Perlahan kami mulai tersadar, tanpa kejadian kurang beruntung yang dialami hari ini, kami tak akan dapat dipersatukan melalui indahnya ukhuwah persahabatan antar saudara seiman. Kami pun berjanji bersama, tidak akan mengulangi kesalahan lagi mulai hari ini, berjanji akan selalu berbuat baik, dan berjanji akan akan selalu husnudzon terhadap segala sesuatu yang telah Allah tetapkan. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Tak lama kemudian adzan isya berkumandang, kami segera menemui ibu penjual untuk membayar makanan. Subhanallah, pelajaran berharga bagi kami belum selesai di kejadian itu. Sungguh kebesaran dan kenikmatan Allah selalu hadir melalui jalan yang tanpa pernah disangka hamba-Nya, kami semakin terisak sedu ketika mengetahui bahwa makanan telah dibayar oleh orang baik disamping kami yang bahkan belum kami ketahui namanya. Tak terbendung lagi air mata bahagia kala itu, suatu rentetan pelajaran berharga yang akan kami ingat untuk selamanya. Jatah takjil dari Allah telah memberikan solusi atas apa yang dicari selama ini, rasa bahagia tatkala berbagi, indahnya beribadah berjamaah, nikmatnya rezeki, jalinan tali ukhuwah, hingga rasa syukur atas segala ketetapan Allah dengan sepenuh hati. Suara iqomah mulai terdengar, bergegas kami menghapus air mata dan segera pergi untuk memenuhi panggilan-Nya. Pelajaran hari itu pun akhirnya menjadi awal perjalanan kami untuk terus bersama berbagi dalam berbagi kebaikan

Surabaya,

Ramadhan 1438 H

Rembulan di Bulan Ramadhan

Oleh: Dyahati Wahyurini

“Helloo Darling” nada dering telpon genggam Za berbunyi, tanda ada telpon dari pujaan hati, Sam. Dengan senyum merekah di bibirnya, Za dengan sigap mengangkat telponnya.

“Hallo Sam, kemana saja? Seharian tidak ada kabar?”

“Za, kita putus ya, ini sudah mau bulan Ramadhan. Kita bisa pisah baik baik kan?”

Za hanya terdiam, otak dan hatinya masih berusaha mengartikan kata kata Sam.

“Kenapa? Ada cewek lain?Ya udah kita putus”

 “Astaghfirullah Za….”

Suara Sam terhenti karena Za mematikan teleponnya. Emosinya tak bisa menutupi kesedihan di wajahnya. Kekecewaan jelas tergambar dari matanya yang mulai berkaca-kaca. Senyum lebar dibibirnya sirna seketika.

“Za, ayo bangun! Sudah mau imsyak nih, nanti kamu tidak sempat sahur,” panggil Ibu dengan nada semakin meninggi.

“Iya Bu, Za segera ke meja makan.”

Za lansung bergegas bangkit dari tempat tidur. Hari ini puasa hari pertama, mereka berlima duduk bersama di meja makan dan mulai menyantap makanan sahur buatan ibu yang selalu enak dan akan tetap enak.  Kali ini meja makan dengan taplak bunga bunga itu penuh dengan makanan dan anggota keluarga yang lengkap. Di sisi kanan ada Zahara biasa dipanggil Za mahasiswi yang sudah menyelesaikan skripsi dan menunggu wisuda namun  terkendala dengan pandemi COVID-19. Tepat di samping Za, ada Dirga, adik bungsu, mahasiswa semester 3, dan di sisi kiri ada Bulan, anak pertama yang mandiri, seorang eterpreneur online. Ibu duduk di sebelahnya, dan Ayah duduk di tengah menghadap kami semua.

Bulan Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda bagi Za. Bagaimana tidak? Za sudah bukan mahasiswi lagi tapi juga belum  berpenghasilan. Sehari-hari ia hanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuka media sosial, membantu Ibu memasak, bermain games atau sekedar rebahan di kasur. Awalnya, banyak rencana yang ingin Za lakukan, mulai dari pergi liburan ke luar kota, makan di luar rumah, karaoke, buka bersama dan lain-lain. Za anak yang aktif berorganisasi, jumlah temannya terlampau banyak hingga tidak ada yang benar benar dekat dengannya. Setiap tahun, lebih lebih dari separuh bulan Ramadhan Za buka bersama di luar. Adanya pandemi Covid-19,  social distancing dan “di rumah aja”,memporakporandakan semua agenda Za hampir setiap hari Za menghabiskan waktunya di rumah. Za juga merasakan kesepian karena Sam sudah tidak menemani sahur, buka atau bahkan sekedar menanyakan kabar. Semakin hari, kegiatan Za semakin monoton dan kegabutan mulai terasa baik secara jiwa maupun raga.

Hari hari terus berlalu, Za selalu melihat kegiatan semua orang yang ada di rumah, dan kegiatan orang lain di media sosial. Za pun mulai membanding-bandingkan kehidupan, “Kenapa ya mereka bisa seperti ini, sedangkan aku tidak ada hasil apa apa? Hmm, kayak tidak berguna,” gumam Za lirih. Tak berapa lama Za memutuskan keluar dari kamar dan melihat anggota keluarga yang lain. 

“Dek, kamu hari ini ada kerjaan apa?” tanya Za antusias.

“Aduh Kak, ya kuliah laah, jadwal kuliah aku kan dari jam 7.30-16.00.”

“Oooh gitu, kirain libur,” jawab Za lirih.

Za lalu pergi ke ruang kerja kak Bulan, dan mulai melihat sekeliling, berharap ada yang bisa ia kerjakan.

“Kak, lagi apa? Main yuk!”

“Duh Za, kakak masih ada kerjaan nih, mau bantu?”

“Oh, ntar aja lah” jawab Za singkat.

Za pergi dengan wajah datar dan beralih ke ruang tamu, dan melihat ayah dan ibu sedang membuka laptop.

“Yah, lagi sibuk?”

“Iyaa nih, lagi mau kasih kuliah online

“Kalau ibu? Bu, masak buat buka puasa yok!” ajak Za penuh harap.

“Ibu sudah masak. Kamu mau masak apa? Nanti gagal lagi kayak kemarin, haha,” jawab ibu seraya meledek Za

“Kamu kayak gak ada kerjaan sih Za? Bersihin mobil atau bantu ibu ngoreksi aja!” tanya Ayah.

“Hmm, aku ke kamar lagi aja”

Za kembal lagi ke kamarnya, “Rencana liburan, bukber, reunian gagal semua. Hp juga udah tidak bunyi lagi, tidak ada yang mencari. Pekerjaan? belum ada. Penghasilan? Apalagi. Masak? Gagal terus. ah  aku ni bisa apa sih? Gak bermanfaat banget hari hari ku, ah bete, aaaah aku bosan! aku bosan! Bosan!” keluh Za di dalam kamar sedikit berteriak.  

Sore itu, senja tampak begitu indah diiringi dengan rintik rintik hujan yang mulai reda dan guratan warna warni di langit bebas. Pada akhirnya, keindahan senja akan berganti dengan gelapnya malam dan dinginnya angin menggetarkan jiwa. Waktu buka tiba, semua keluarga berbuka bersama di meja makan.

“Za, kenapa sih kok lesu, kayak tidak ada semangat? Kamu sakit?” tanya Ibu

“Gak,” jawab Za singkat

“Jadi kenapa?” tanya Ibu lagi, berusaha mencari tahu.

“Gak ada yang sayang dan peduli sama aku,” jawab Za lantang.

Za pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanan penutup malam itu. Dadanya terasa sesak dengan semua keluh kesahnya, nafasnya berat dengan semua kesepian yang melanda, nuraninya seakan tertutup dengan semua kilau dunia. Tangisnya pecah, air matanya tak lagi dapat terbendung, air mata mengalir mewakili perasaan yang tak terungkap dengan kata. Tiba tiba kak Bulan mengetuk pintu, dan masuk kamar.  

“Kamu kenapa sih? Tadi marah, sekarang nangis,”

 “Gak tau kak, aku pingin marah aja.”

“Sama siapa?”

“Aku mau marah aja kak, tapi gak tau sama siapa kak. Aku kesel kak, aku bosen,” jawab Za sambil menyeka air matanya. 

“Aku cuman kesel sama semua keadaan, kayak aku gak ada gunanya gitu kak, hari hari cuman berlalu gitu aja, gak ada yang mau ngehargai keberadaan aku di rumah,” lanjut Za sambil terus menangis

“Siapa yang bilang? Gak ada yang seperti itu Za, semua sayang sama kamu, kamu kan udah bantu banyak di ruma, kamu berguna kok, mungkin itu dari pikiran kamu aja,” kata Bulan berusaha menenangkan

“Aku bosan kak di rumah terus, aku merasa tidak dihargai, tidak ada yang bisa aku kerjakan,” jawab Za lirih sambil terus menangis.

“Kamu kurang bersyukur Za, coba deh di pikir,  Ramadhan kali ini, kita selalu sahur dan buka  bareng sekeluarga, udah lama kan tidak seperti ini? Kakak kerja dari rumah, kakak yang paling sering di rumah. Kakak merasa rumah ini sangat berbeda semenjak kita disuruh di rumah aja. Dapur selalu ramai dengan senda gurau saat masak, meja makan selalu penuh dengan cerita ringan sehari hari, ruang keluarga penuh dengan tawa canda. Kakak lebih mudah bicara tentang rencana pernikahan kakak, kakak bisa ketemu keluarga lebih sering. Yaa, semua itu tergantung pikiran kamu Za, kita gak bisa lama-lama sama keluarga kan? Jadi mumpung sekarang di rumah aja, yaa kita nikmatin aja, tidak ada yang tidak bisa kok Za, yang ada mau atau tidak mau, kalau mau yok bismillah, insyaAllah dibantu sama Allah. Kamu  mau penghasilan? Ya kamu jangan duduk saja. Mau bisa masak? Ya kamu harus latihan Za, tidak ada yang instan Za, semua butuh proses, nikmatin aja prosesnya. Tuh buktinya skripsi kamu selesai?

“Iyaa sih kak, tapi percuma skripsi selesai juga aku belum di wisuda,” jawab Za lirih.

“Aduh, diganti dong pemikirannya, alhamdulillah skripsi sudah selesai jadi sudah tidak repot lagi?”

“iya sih kakk.”

“Coba deh, sini lihat bulan Purnama di luar!  Terang kan?” tanya Bulan sembari menatap langit.

“Bagus kan? Tapi apa akan selalu bersinar seperti itu?”

Za menggeleng sembari menghapus air matanya.

“Pasti ada saatnya bulan itu tertutup awan, terus berubah bentuk, hilang dalam kelamnya malam, iya kan? Sama kayak kita Za, tidak selamanya kita itu selalu dalam keadaan yang sama, senang, sedih, suka, duka itu wajar, itu pasti ada, hanya bagaimana cara kita memandangnya saja, dan berusaha melewatinya, iya kan?”

“Tapi bulan kan benda mati kak, tidak sama dengan kita,” bantah Za

“Kita bisa belajar dari mana saja Za, termasuk dari benda mati. Sudahlah, nanti coba deh kamu renungkan, kakak kembali ke kamar ya, jangan nangis lagi” kata Bulan sambil menepuk pundak Za.

“iya kak”

“Eee, satu lagi, jangan samapi kamu menyesal karena belum lama menghabiskan waktu dengan Ibu sama Ayah ya Za, seperti aku sekarang. Kakak baru sadar, belum banyak berbakti ketika kakak udah mau nikah, ah jadi sedih, udah aah, daaa” kata Bulan sembari melambaikan tangan pada Za.

“Kakak benar, aku yang berpikir terlalu dangkal hingga tidak bisa melihat semua nikmat yang jelas ada di depan mataku. Mungkin selama ini yang membuatku kesepian, bosan, dan marah adalah diriku, karena ternyata yang tidak pernah menghargai aku adalah diriku sendiri,” perlahan air mata Za mulai reda berganti dengan senyum tipis di bibirnya. Kata-kata Bulan menerangi pikiran Za dan membuka lebar kedua matanya seterang rembulan di malam itu.  Mulai malam itu, Za bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya, dimulai dari syukur.

Bahkan dalam Al-Quran sudah dijelaskan berkali-kali seperti salah satu ayat di dalam Qs. Ar Rahman yang diulang sebanyak 31.

“Fabiayyi’aalaa’I Rabbikumaa Tukadzdzibaan”

“Maka nnikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Yaa, maka nikmat Tuhan-Mu yang mnakah yang kamu dustakan? karena pasti akan ada celah yang dapat kita syukuri dari suatu keadaan atau lebih tepatnya, tidak akan ada celah untuk kita tidak bersyukur.

-Selesai-

Apa Kabar Ramadanmu?

oleh: Salsabila Nur Rahmah Ali

“Hai, apa kabar Ramadanmu? Semoga baik-baik saja yaa”, entah sudah kali ke-berapa pertanyaan kawan karibku terulang, dengan kalimat yang sama sekali tak berbeda. Hmm baik-baik saja, bagaimana? Bagaimana bisa menjadikan Ramadan baik-baik saja pada situasi seperti ini? Aku merengut.

            Hari-hari telah berlalu. Bila saja semua jari tangan dan kaki digabungkan untuk menghitungnya, niscaya tetap saja tak akan cukup. Kebosanan melanda hingga mencapai tahap kronis. Terlebih, keresahan dan kerisauan turut muncul tak dapat dihentikan.

Ya, sudah dua bulan lamanya keadaan ini berlangsung. Keadaan yang menjadikan sistem WFH (Work from Home) ini harus diberlakukan. Masih terngiang dengan jelas bagaimana seruan gembiraku tatkala pengumuman WFH untuk kali pertamanya disiarkan, ‘Alhamdulillah Ummii, aku masih bisa di rumah nihh sampai 2 minggu kedepan!’. Alih-alih merasa khawatir dan resah, euforia gembira saat itu benar-benar terasa. Membayangkan bisa sejenak lebih lama beristirahat di rumah, terbebas dari perjuangan menjadi anak rantau, benar-benar membuat senyumanku saat itu tak hentinya terkembang.  Kuliah dari rumah benar-benar menjadi kali pertamanya dalam sejarah. Terbayang bagaimana bisa menyimak materi kuliah ditemani satu toples cemilan, tutor online dengan ‘selonjoran’, dan wahai! Kapan lagi kami dapat melakukan praktikum sembari ‘rebahan’. Ya, minggu awal WFH ini mewujud dengan lancar dan penuh keriangan.

Sampai pada akhirnya, keriangan itu lambat laun pudar, tergantikan kebosanan. Rasa kesal tatkala pembelajaran skills lab yang mengharuskan kami praktik dengan guling sebagai probandus dan headset sebagai stetoskop, rasa kesal karena aplikasi pembelajaran yang dipilih terlalu besar bagi sinyal mahasiswa daerah perkampungan, dan rasa rindu pada teman yang tak tertahankan, menjadikan suasana tak lagi menyenangkan, namun dipenuhi dengan sejuta keluhan.

Lantas, kini lihatlah! Tanpa perlu memperhatikan kami yang sedang bersama siapa, tanpa peduli kami sedang merisaukan apa, Ramadan bertamu sebagaimana biasanya.

@@@

            “Lisa, Lisa! Kok belum muncul-muncul juga? Segera sini Nak!” teriakan umiku dari arah dapur membuatku tersadar. Menengok jam, aku terkaget. Satu jam telah berlalu! Betapa telalu lama aku berbincang dengan kawan karibku, bahkan hingga melupakan garapan tutor yang hari ini harus terselesaikan.

Segera, aku beranjak menuju dapur. “Lisa, konsumsi makanan untuk 11 orang ya, tambah 2 karena ada kunjungan dari kantor!” Aku mengangguk dan lekas membantu menyelesaikan permintaan tanpa sepatah kata yang aku ujarkan. Ini menjadi kegiatan rutinan keluarga kami tiap bulan Ramadan, membagikan makanan buka pada pekerja usaha keluarga kami. Tahun-tahun sebelumnya, aku hanya membantu pada akhir bulan puasa ketika diliburkan. Akan tetapi, karena posisiku di rumah, kini aku tak alpa membantu tiap hari meski selalu saja terbayang tugas kuliahku yang menunggu untuk diselesaikan.

“Duh Lisa, konsentrasi! Dilihat yang benar-benar!” teriakan Umiku terdengar lebih lantang dari biasanya bagi aku yang sedang terbengong dengan pikiran melayang. “Eh iya, Umi”, gelagapan aku menyadari keteledoranku. Persoalan membuka toples lada saja aku tidak fokus, menyebabkan toples garam tersenggol hingga sebagian jatuh bertebaran. Aku segera membereskan.

Aku duduk sebentar. Belum terlaksana niatku untuk istirahat sejenak, “Lisa, setelah ini adiknya diajari ngaji ya! Bacaan qurannya sering salah, belum bisa membedakan ikhfa’ haqiqi dan idzhar halqi. Bisa jadi rusak itu bacaan Alquran”, gantian abiku yang memberi tugas tambahan. “Iya Bii,” lekas aku menuju musola rumahku, mengajari adikku cepat. “Kak, habis ini ajari aku hafalan yak. Seperti biasa, Kakak bacain aku satu baris, nanti aku ulangi”, adikku menahanku yang ingin segera pergi. Aku kembali duduk, menghela nafas, sembari mengingat bahwa target ngajiku hari ini saja juga masih jauh dari terpenuhi.

@@@

“Hei, apa kabar Ramadanmu? semoga baik-baik saja yaa”, entah sudah kali ke-berapa pertanyaan kawan karibku terulang dengan kalimat yang sama sekali tak berbeda. Hmm baik-baik saja, bagaimana? Bagaimana bisa menjadikan Ramadan baik-baik saja pada situasi seperti ini? Aku merengut.

Aku benar-benar resah. Ramadan kali ini mewujud menjadi Ramadan paling merana dalam hidupku, sepertinya. Lirih aku berbisik. ‘Betapa aku bosan di rumah, betapa aku merindukan kajian-kajian di sekitar kampusku, betapa aku merindukan berlomba tilawah dengan teman-temanku.’ Aku begitu membandingkan Ramadan yang terjadi pada tahun ini, pada rumah sederhana ini. Lancang, mulutku mengeluh. ‘Buat apa sih umiku susah-susah memberi buka puasa kepada para pekerja, kenapa tidak dalam bentuk uang saja? Kenapa tidak meminta pembantu buat masak saja? Harusnya kan ini menjadi waktu meraup pahala dengan mendengarkan kajian. Kenapa malah menghabiskan dua jam di dapur? Dan juga, kenapa pula adikku tidak dipanggilkan saja guru ngaji, menjadikan waktuku untuk mengejar target khataman berkurang.’ Ya Rabb, mengapa Ramadan kali ini benar-benar terasa asing bagiku?

Allah, sebenarnya sudah benarkah apa yang kulakukan? Bagaimana dengan seabrek kegiatan yang kulakukan dengan keluhan, apakah ia akan memperberat timbangan? Ataukah hanya menjadi sebuah kesia-siaan? Ah,  ketakutanku mulai membayang.

@@@

“Hai, apa kabar Ramadanmu? Semoga …”, hey! aku langung membekap erat mulut kawan karibku. Bagaimana bisa ia menanyakan hal serupa dan berharap hal yang sama, lagi dan lagi? Sedang ia saja telah mendengar seluruh rangkaian keluh kesahku.

“Sayang,,” kawan karibku menarik nafas panjang, mengambil posisi terbaiknya, sebagaimana biasanya ketika ia bersiap menasihatiku. “Aku memahami kondisimu, sangat bisa membayangkan berada dalam posisimu. Berbahagialah Sayang, kamu sudah berjalan sejauh ini. Kamu sudah berhasil melampui seluruh fase kehidupan sebelum ini. Hanya satu langkah dalam penyelesaian masalahmu. Bertahanlah! Bertahanlah sembari ubah sudut pandangmu, Sayang. Segalanya akan berjalan dengan baik-baik saja, percayalah!” Aku menghela nafas pelan, bersiap mendengar lebih lanjut sembari mencari celah untuk dapat mengkritiknya.

“Cobalah untuk melihat dengan kaca mata yang berbeda, Sayang. Kamu tau, betapa matematika Allah tidak selalu dapat kita tebak rumusnya. Betapa perhitungan Allah kadang berbeda dengan perhitungan sederhana kita. Sayang, tak hanya solat dan tilawah saja yang bisa menjadi cara kita meraup pahala. Tak hanya solat dan tilawah yang bisa menjadi tolak ukur seberapa kebaikan yang telah kita lakukan. Aduhai! Bahkan kamu seperti tak paham saja pelajaran agama di masa sekolah dasar. Segala aktivitas dan kesibukan yang diniatkan ibadah, akan bernilai sama dengan ibadah. Pun sebaliknya, sebanyak apapun ibadah kamu, seberagam apapun ibadah yang telah kamu lakukan, apabila pada akhirnya hanya untuk kamu sombongkan, akan menjadi tidak bernilai harganya.” Kawan karibku benar juga. Betapa selama ini, aku terbius untuk mengejar target khataman dengan mengabaikan banyak ladang pahala lainnya.

“Sayang, kamu lancang sekali jika mengatakan tak perlu ada usaha umimu untuk memasak dan memberikan buka puasa bagi para pekerja! Camkan baik-baik, menyiapkan buka orang yang berpuasa adalah bernilai mendapat pahala puasa tanpa mengurangi pahala orang berpuasa yang diberikan buka tersebut. Perihal alasanmu bahwa waktu menyiapkan berbuka adalah lebih baik diganti untuk mendengarkan kajian ataupun tilawah mandiri, coba kamu tanyakan pada ibumu. Sudah berapa juz yang diperolehnya dalam Ramadan ini. Terkadang kita yang terlalu jumawa, merasa lebih lama mengaji dibanding orang tua. Sedang kamu saja yang tidak tahu. Bahwasanya, sebelum membangunkan dirimu, disela pekerjaannya, dan pada akhir hari tatkala semua anggota keluarga terlelap, ibumu tak lupa untuk mengaji dan memanjatkan doa atasmu.” Kawan karibku sedikit menaikkan intonasi suaranya, pipinya memerah, merasa iba atas celoteh kekanakanku.

“Sayang, terus bersyukurlah. Bersyukurlah atas segala anugerah yang telah Allah berikan. Bersyukur atas kesibukan kuliah, bersyukur atas tanggungan amanah, dan bersyukur atas pekerjaan rumah yang berlimpah. Work from home ini nyatanya benar-benar menjadi ladang pahala bagi orang yang memahaminya. Bagaimana segala aktivitas produktifmu, waktu bermanfaatmu, dapat benar-benar dirasakan oleh orang terdekatmu, keluargamu. Sosok-sosok terdepan dibalik kehebatan dan segala kisah perjuangan dalam hidupmu.” Ya, aku mulai sepakat dengan kawan karibku. Aku percaya, hanya sedikit mengubah sudut pandang saja, Ramadan ini akan menjadi lebih indah.

            “Lantas sekarang, apa kabar Ramadanmu? semoga baik-baik saja yaa”. Tidak lagi merasa pelu jenuh dengan pertanyaan tidak kreatifnya, kali ini aku mengangguk mantap. Ya, aku akan mengusahakan ayng terbaik. Ramadan ini akan baik-baik saja dan luar biasa.

Kawan karibku tersenyum lebar, mengetahui pemahaman baruku. Ialah yang tak pernah alpa dalam mengingatkan atas jalur kebaikan. Ialah ia, titik bersih dalam hatiku.

-Tamat –

Akankah Rindu Ini Berbalas?

oleh: Muhammad Ihsan Nabil Fadhlurrahman

Mata yang kini lelah itu terus menatap layar yang terpampang di depannya. Tertuliskan berbagai tugas yang harus dikerjakan entah suka maupun tidak. Begitulah, ketika kuliah online dicanangkan, matanya yang dahulu punya banyak kesempatan istirahat hanya menjadi alat penerima sinar biru laptop “kentang”-nya yang sudah jenuh dipakai untuk mengetik berbagai tugas dan laporan tutorial.

Di belakang benda itu terdapat sebuah buku, yang dahulu tiada bosan dibaca olehnya meski sudah selesai berulang kali. Kumpulan kertas penuh tulisan yang dahulu menjadi peneman di kala sepi dan penghibur di kala sedih. Menikmati kedalaman makna yang dimilikinya, yang tak sebanding walau ada seribu lagu seperti “Peradaban”-nya Feast. Menjalani waktu ngabuburit dengan bercengkerama berdua, menikmati senja dengan indahnya lantunan suara sendiri.

Terbayang olehnya masa-masa studi di pondok. Penuh canda bermakna, tawa dalam ukhuwah, dan tangis yang hanya lillah. Saat dimana tidak ada dinding penghalang antara sehatnya jasmani dan kenikmatan rohani, membentuk pribadi tawadhu yang penuh syukur kepada Yang Mahakuasa.

Tergambar di angannya memori saat pertama kali Ramadan menyapa fisik mungilnya di pondok, menyuntikkan semangat berbeda dalam hidup bersamanya. Berlomba-lomba dalam kebaikan, itulah isi injeksi yang diberikan olehnya selama di pondok. Menikmati waktu siang dengan kebiasaan murojaah, berusaha sembunyi dari teman lain, menjaga kerahasiaan jumlah hafalan yang dimiliki.

Pada saat itu, kegiatan keseharian santri adalah kekuasaan OSIS, yang dipimpin oleh santri, berisi santri, dan menciptakan peraturan untuk santri. Mulai dari jadwal imam tarawih hingga harits lail—petugas jaga malam dan pembangun sahur—adalah buah dari pekerjaan organisasi santri ini. Menjadi sebuah kehormatan apabila seorang santri menjadi anggotanya, merasa diri setingkat lebih tinggi dari teman sekelasnya.

“Rahman, kamu jadi imam tarawih di malam ke-7 ya!” sapa kak Amrul, pengurus OSIS bagian ibadah. “Afwan kak, hafalan juz 7 ana belum lancar… mendingan ganti yang lain deh…” balas sosok mungil itu menolak. Kebiasaan di pondok itu hampir sama dengan beberapa masjid di daerah itu, sholat tarawih dengan bacaan 1 juz per hari. “Udah deh, coba aja dulu. Entar juga ketagihan… oke sip,” jawabnya lantas meninggalkan santri baru itu dalam keadaan bengong.

Saat itu hafalannya sudah mencapai 15 juz, cukup cepat di antara teman seangkatannya namun masih jauh dari kesempurnaan menurut pandangannya. Di tengah lamunannya, tepukan pelan terasa di belakang, “MasyaAllah akhi… tidak boleh melamun seperti itu!” sapa ramah seorang pemuda dengan postur jangkung. Rahman, yang tertarik dari dunia khayalnya, menjawab “Afwan kak, ana tadi diminta jadi imam di malam ke-7… jadi ana lagi berpikir cara murojaahnya kak.” Tersenyum,, pemuda yang diberi nama Nur oleh kedua orangtuanya itu membalas, “Kayak gak biasa aja murojaah dadakan. Coba aja, entar juga ketagihan… duluan ya Man!”

Setelah mengatakan hal itu, langkah pemuda itu berlanjut, menuju tempat ternyaman miliknya untuk murojaah. Gerakan kaki yang menggambarkan kedewasaan dalam berpikir; tegas, ringan, dan cepat. Begitulah sosoknya, seorang mantan pegawai sebuah merek otomotif dengan gaji mencapai 10 juta Rupiah yang merasakan kekosongan dalam jiwa walaupun secara dunia ia sudah mapan.

Tangan kanan mudir—pemimpin—pondok, begitulah julukan yang diberikan santri ke sosok itu. Selalu menjadi teman berdiskusi utama dari kalangan santri hingga membaca kitab bersama. Keistimewaan ini menciptakan kekaguman di antara penuntut ilmu. Semangat Ramadan tidak terlihat pudar dalam dirinya, berusaha meningkatkan amal ibadah hari demi hari, menghidupkan malam dengan tadarus, lantas melanjutkan salat sunnah sebelum sahur.

Terasa suntikan semangat memenuhi dirinya, Rahman memantapkan hati dan kaki menuju tempat favorit dimana hatinya terbiasa menyejukkan diri di dalamnya, memantapkan hafalan kitab primadona muslim seluruh dunia. Kalau orang berkata bahwa berkumpul dengan orang saleh dapat mengenyahkan penyakit futur, remaja itu merasakan dampaknya lebih dari rumor yang beredar.

Ondeh… kalaulah semua orang mengetahui dahsyatnya bertemu manusia berhati mulia

Tak akan lagi terdengar tangisan di tengah gulita

Hebatnya dampak itu tak tampak oleh mata

Namun hati penerima cahaya tak akan lupa dengan rasa

Telapak kakinya yang masih dalam masa perkembangan berkali-kali menjejak ke lantai, membunyikan kerinduan akan tujuan hidup yang sebenarnya. Lisannya tak berhenti bergerak mengulang memori yang telah dicapainya, membiasakannya agar menjadi refleks dalam kehidupan sehari-hari. Senyuman selalu tersungging dalam dirinya, memberikan kebahagiaan ke lingkungan sekitar.

“Man, bisa tukeran jadwal gak?” tanya seorang teman yang muncul secara tiba-tiba, memutus untaian kenikmatannya dan memaksanya menoleh untuk mengetahui siapa penanya tersebut. “Malam ke berapa?” balas Rahman setelah melihat lawan bicaranya. Ainul, begitulah ia disapa, seorang santri yang memiliki jiwa kepemimpinan dan merupakan ketua angkatan penuh warna dalam sejarah pondok itu.

“Gantian ya Man, ana diminta ngimamin pas malam ke-11. Ente kan malam ke-7 tuh… hafalan juz 7 ana lebih kuat dibandingkan juz 11… tolong ya Man…” wajahnya yang memelas menggugurkan niatan santri itu untuk menolak mentah-mentah permintaan ketua angkatannya. Dengan terpaksa, anggukan kepala tergerak perlahan menyetujui permintaannya. “Syukron san, insyaAllah hafalan ente kuat kok!” balasnya sembari menggerakkan tungkainya menjauh dari Rahman yang membatu memikirkan strategi baru lagi.

Tubuhnya perlahan bergerak merendah dan memberikan sedikit kenyamanan bagi pantatnya. Rasa bingung kembali hadir dan memenuhi benak remaja yang masih labil. Semua itu terjadi hingga lewat sebuah pemandangan di sudut matanya. Dari sana ia melihat sesosok pria kecil yang berusaha memasukkan hafalan dengan susah payah. Terkadang air mata terlihat jatuh mengikuti gaya gravitasi, menandakan sulitnya proses yang dialami untuk mencapai kuatnya hafalan.

Pras namanya, teman yang menjaga sifat rendah hati walau memiliki segudang bakat. Usaha yang dilakukannya dalam menjaga konsistensi amal selalu menjadi panutan teman sebayanya. Berusaha agar tak terjatuh ke dalam lubang kemalasan ketika banyak orang justru menjerumuskan diri ke dalamnya. Selalu memancarkan cahaya di setiap senyumanya.

Betapa ajaibnya kalian hai orang berakhlak emas

Menciptakan ketenangan hanya dengan menatap wajah

Lantas mengobarkan api di tengah lesunya diri

Menghempaskan segala gundah yang kian menguasai hati

Dan dengan itulah kabut yang bertebaran mulai mengabur, memberikan kejelasan baginya dalam melangkah. Remaja tanggung yang tadinya kebingungan itu kini dapat melanjutkan langkahnya, membiarkan segala galau pergi meninggalkan diri dan mencegahnya datang kembali lagi. Ramadan telah menyapanya, dan kini ia harus menjadikan setiap hari yang dijalani memiliki makna.

Begitulah jiwa mereka yang hidup di antara Alquran, selalu tercerahkan dengan kebahagiaan hakiki, tersenyum walau beban berat menghampiri, menangis dalam mengharap ridho ilahi. Menyenangkan, itulah satu kata untuk hari-hari yang terjalani di masa itu.

Dan inilah ia kini, seorang mahasiswa kedokteran, yang menjadi budak berbagai tugas, membutakan langkahnya dari menggapai kitab tercinta, meninggalkan jiwanya dalam keadaan kosong tanpa mengetahui penyebab kehampaan itu. Terkadang ia jatuh ke dalam tangisan tak beralasan, bingung dimana letak akar sedihnya diri, lantas kembali menjatuhkan air bening untuk meringankan beban di hati.

Dan seperti inilah kondisinya sekarang, seorang mahasiswa sok aktivis, berusaha mengikuti berbagai organisasi, yang lantas mendorong jiwa belum matangnya menuju jurang kesibukan, memaksakan pilihan antar dua tugas duniawi, melupakan tugas terpenting yang menjadi bekal pulang menuju kampung yang sesungguhnya.

Entahlah, ia kini hanya seekor burung yang terjebak dalam perangkap pemburu yang lapar, menunggu untuk dipanggang Bersama dengan rempah penikmat rasa. Menunggu akan datangnya penolong, membebaskannya dari derita tak berujung, membawanya kembali menuju jalan yang terang, lantas membimbingnya agar sesat tak terulang.

Dan kesucian yang dahulu diagungkan

Kini hanya tinggal kenangan yang dirindukan

Beratnya beban yang telah disetujui

Sekarang menjadi domino yang akan menimpa diri

Kecuali jasad itu dapat menghindar

Dan menjadikannya senjata penyerang buruknya tabiat