Izinkanku Menemuimu, Ramadhanku

oleh: Dewi Fortuna A.

Suatu hari, di antara dentang waktu paling sempurna, akan kuceritakan kisah serta jiwaku yang menggebu untuk bertemu indahnya suatu kurun waktu yang membuat hatiku terpasung. Suatu kurun waktu yang mempersilakanku menyelami indahnya cinta Allah swt.

Bandung, 2018

Tepat pukul 16.00 WIB, aku dan ibu tiba di kota Bandung. Kami segera menuju ke rumah sakit Hasan Sadikin untuk segera mengurus persiapan terapi nuklir untuk penyakit Hyperthyroid-ku esok hari. Setelah selesai mengurus persiapan untuk terapi besok, aku dan ibu segera menuju ke penginapan yang sudah kupesan.

“Ibu, mbak ndak sabar pulang.”

“Kenapa atuh ?”

“Setelah 4 tahun dipondok, tahun ini kan tahun pertama mbak bisa puasa di rumah, bu.”

“Masya Allah, tapi kan di pesantren juga ndak kalah seru, nduk? Banyak teman, banyak kegiatan, jadi bisa produktif ibadahnya.”

“Betul, bu. Maka dari itu, mbak punya rencana, untuk buat list ibadah yang rutin dikerjakan di pesantren supaya bisa rutin dan istiqomah juga dilakukan di rumah, tapi bareng ayah, ibu sama adik-adik.”

Ibu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.

Selepas membersihkan kamar, aku bersiap untuk sholat isya. Kulirik ibu sejenak, ibu sudah tertidur. Pasti ibu sangat lelah.

Namun, tiba-tiba, pada saat sujud terakhirku, aku merasakan nyeri yang menyengat di perutku.

Kuputuskan untuk tetap melanjutkan sholatku. Selepas salam, ku tekuk kedua kakiku.

Astaghfirullah

Sakit sekali. Ibu. Ingin rasanya kusebut nama ibu. Tapi saat mataku mendapati ibu sedang tertidur, aku tak tega membangunkannya.

“Allahumma Antasyafi Laa Syifaa A Illa Syifaa uka Syifa Allayyughodhiru Saqoman Wa laa Alaman,” Ucapku sembari terus menekan perutku yang sakit.

Waktu menunjukkan sudah pukul 00.30 WIB.

Ya Allah sakit sekali.

Aku sudah tidak kuat menahannya, alhasil rintihanku tanpa sengaja membangunkan ibu. Ibu terkejut melihatku menangis menahan sakit.

“Kenapa, nduk? Apa yang sakit, nak?”

“Perut mbak sakit, bu.”

“Ya Allah, Kita ke rumah sakit, ya.”

Kuanggukkan kepalaku lemah.

Sesampainya kami di rumah sakit, beberapa dokter tampak datang dan memeriksaku. Saat seorang dokter menekan perut kanan bagian bawahku, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Ditambah lagi, pada saat dokter menekuk kaki sebelah kananku.

“Jadi begini, bu. Berdasarkan pemeriksaan yang sudah dilakukan, disini saya mendiagnosis putri ibu mengalami Appendisitis, bu. Dan  harus segera di lakukan tindakan operasi. Jika tidak, ditakutkan dapat menyebabkan komplikasi yang lebih buruk, ibu.”

Ibu tercengang dengan penuturan dokter.

“Dok, sedari kemarin anak saya baik-baik saja. Bahkan kami besok akan melakukan terapi nuklir untuk Hyperthyroid anak saya.”

Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya ibu menandatangani lembar persetujuan tindakan operasi. Operasi dilakukan besok malam pukul 21.00 WIB.

Pukul 19.00 WIB, seorang dokter menghampiri kami dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan pada saat operasi.

“Jadi begini, ibu. Nanti kami akan lakukan pembiusan setengah badan. Dikarenakan putri ibu memiliki riwayat Hypertyroid. Kemungkinan terburuk adalah bisa terjadi gagal jantung seketika di meja operasi. Jadi, persentase selamat hanya sekitar 20%, bu. Namun kami akan tetap usahakan yang terbaik, bu.”

Ibu terduduk lemas mendengarkan penjelasan dokter.

Pukul 20.50, aku sudah siap dengan jubah operasiku. Ibu masih tampak sembab dengan tangisnya. Ibu menciumi wajahku sembari menggenggam erat tanganku.

“Sholawat ya, nak. Hatinya terus dibawa muroja’ah ya, nak”

Kusunggingkan senyumku pada ibu. Hatiku ingin berteriak bahwa aku takut, tapi tidak. Allah bahkan jauh lebih dekat daripada urat nadiku.

Ya allah, aku ingin bertemu Ramadhan-Mu walau hanya sebentar. Namun, apabila Engkau berkehendak merenggut nyawaku sebelum aku bertemu dengannya, aku ridho, ya Allah.

Kuyakini dalam hatiku, jika ini terakhir kalinya aku bisa membaca Al-Qur’an, maka ini adalah ibadah terindah selama hidupku. Kulantunkan ayat demi ayat surat Al-Fath, hingga seorang dokter menyuntikkan suatu cairan di punggungku. Pandanganku mulai kabur dan akhirnya terpejam.

Allah Allah Allah

Kubuka mataku perlahan. Kurasakan tubuhku masih terasa kaku untuk bergerak. Tak kusangka, Allah mendengar do’aku. Allah izinkan aku bertemu ramadhan kembali.

Terima kasih atas rahmat-Mu, ya Allah, Engkau izinkan aku bertemu Ramadhan-Mu. Akan kujadikan setiap ibadahku menjadi ibadah-ibadah indah layaknya surat Al-Fath yang kulantunkan di meja operasi, ya Allah.

“Aku sangat mencintai-Mu, Ya Allah.”

Hampir saja aku mengeluh atas kuasa Allah yang memberikanku sakit, namun, Allah mengingatkan “Boleh jadi, kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi, kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.” Janganlah kita mudah berburuk sangka terhadap Allah. Karena Allah mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.

Beauty Inside

Karya: Monica Adelia Puspitasari


Alhamdulillah,
Pujiku kepada Allah SWT. Telah dekat kepadaku bulan yang penuh berkah
itu.Suka cita menyambut datangnya dirimu. Banyak rencana yang telah kubuat
untuk menyambut dirimu. Oh ramadhanku.
Sayup-sayup kudengar teman-temanku mulai mempersiapkan diri datangnya
dirimu.
“Nanti sahur pertama mau lauk apa, mo?”
“Mending langganan aja menu saur dan buka di warung tendblue.”
“Masak aja lak wes.”
Begitulah ramadhan ku ditanah rantau kali ini, tidak kudengar lagi gedoran
pintu yang dilakukan oleh ibuku tercinta ketika membangunkan saur. Tidak
kurasa lagi tarawih berjamaah yang dilakukan bersama tetangga rumah. Tidak
ada lagi teriakan,kala menjelang buka puasa.
“Mo,udah buat teh belum?”
Ya begitulah kini ku bersiap melakukan rutinitas ramadhan kali ini seorang diri.
Namun aku tau sudah seharusnya diri ini mulai bersikap dewasa. Sudah
sepantasnya, diriku membuktikan bahwa aku mampu bertahan ditanah rantau
dengan segala fluktuasi kondisi yang ada.

Itu sepenggal cerita ramadhan pertamaku ditanah rantau, sahabat.
Oh iya, kenalin namaku Momo Intan yuwana. Anak pertama dari 1 bersaudara,
yang berambisi untuk bisa tinggal di Madinah Al-Munawarroh suatu saat nanti.
Aamiin. Panggil saja aku, Mo.
“Ci, udah siap sambut Ramadhan tahun ini?”
“Harus siap atuh, Mo.”
“Kalo didaerah sini teh sholat tarawihnya dimana,Ci?”
“Di pertigaan deket Indomarit, aku dulu disitu.”
“Serius,Ci? Jauh banget.”
Baiklah setiap yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya. Kepindahan kostku
demi mencari suasana yang lebih nyaman memunculkan konsekuensi. Ya
betul, kini lingkungan kost baruku tidak dekat dengan musholla. Bahkan tak
jarang gema kumadang adzan terasa jauh.
Hal tersebut tentu membuatku bingung,galau dan gelisah.
“Kemana aku akan melaksanakan sholat tarawih berjamaah ramadhan kali
ini?”

Sudahlah kau ini, hal seperti itu saya kau pusingkan. Allah itu selalu punya
rencana terbaik untuk hambaNya. Jadi bertawakal diri saja akan segala
ketetapannya.
Seperti dalam firman Allah SWT, dalam QS. Aṭ-Ṭalāq : 2
Arab-Latin: wa may yattaqillāha yaj’al lahụ makhrajā
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan
keluar baginya”
Sudah tentu Allah itu maha baik bagi hamba-hambaNya. maka sudah
sepatutnya bagiku ini untuk tetap bertawakal.
“Rumah Sakit dr.Kariadi Semarang mengkonfirmasi adanya kasus positif pada
1 pasien setelah melakukan perjalanan ke luar negeri”
“Inaillahi, bener ini berita yang muncul ditimeline youtube?” Tanyaku pada
dirisendiri setelah melihat breaking news pada video YouTube.
Astaghfirullah, seketika perasaan was-was,takut dan tidak percaya muncul
dibenakku. Ditanah rantau kini sudah ada yang positif, menurut riset
sederhanaku dan banyak berita diinternet telah memberitakan bahwa
penyebaran virus tersebut tergolong cepat. Inaillahi.

“Oke ga boleh panik!”
Seketika grup kelas dan angkatan ramai seketika, teman-teman mulai merasa
risau dan terusik ketenangannya. Kemudian disusul berita berbagai kampus
ternama sudah mulai mengeluarkan pernyataan melalui surat edaran yang
dikeluarkan oleh masing-masing rektor. Pembelajaran tatap muka akan
dialihkan ke pembelajaran jarak jauh hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
“Ini kampus kita belum keluarin edaran apa?”
“Aku habis pulang kampung dianter orangtua langsung disuruh balik lagi.
Bapakku ga bolehin aku stay dikost. Kata beliau percuma kamu kuliah di
jurusan kesehatan tapi kamu sendiri malah ga aware sama kesehatanmu.
Udah ayo pulang!”
“Bapakmu keren, Wid.”
“Aku mau balik kampung masih ngerasa ga enak temen-temen. Kampus kita
kan belum ngeluarin pernyataan resmi.”
Seperti itulah yang kami rasakan diawal bulan maret kemarin. Hingga akhirnya.
“Surat edaran rektor mengenai pembelajaran tatap muka semua dialihkan via
daring sudah muncul teman”
“Alhamdulillah, tapi dekan kita belum keluarin pernyataan mengenai surat
edaran rektor. Sebagai fakultas diranah kesehatan tentu banyak sekali
pertimbangannya. Jadi kita kudu sabar lagi teman. Tunggu info lebih lanjut.”
“Baiklah.”

Saat itu juga perasaanku mulai tidak nyaman, ingin sekali aku pulang agar bisa
berkumpul dengan orang tua dan tidak membuat mereka khawatir. Namun
apalah daya kewajiban sebagai pelajar tentu tetap diutamakan. Maka
menahan sedikit lebih lama dan bersabar merupakan kuncinya.
“Mba Dwi, gimana mau balik nggak?”
“Belum tau, Mo. Belum ada surat edaran lebih lanjut.”
“Yaudah kalo mau pulang, kabarin aja ya nanti kita pulang bareng.”
“Iya, Mo. Banyakin makan vit.C sama pake maskernya.”
Setelah aku telfon kakak sepupu yang memang sedang belajar di tanah rantau
yang sama denganku. Beban pikiranku sedikit lebih tenang. Namun aku belum
bisa memberi kabar pasti kepada orang tuaku. Hingga akhirnya
“Mo, mama dapet kiriman surat edaran kampusmu dari tante tata. Bener itu?”
“Iya bener, ma. Cuma mo masih tunggu surat edaran dari dekan fakultas
Momo,mah.”
“Yaudah hati-hati.”
Entah karena ada ikatan batin antara orangtua dan anak atau hari itu
perasaanku memang sedang peka sekali. Aku menangkap kekhawatiran yang
menguar dari pesan chat yang dikirimkan mama untukku yang meminta agar

anaknya segera pulang saja. Maka dari itu keesokan harinya ku beritahukan
informasi kepulanganku pada orangtua dan kakak sepupuku.
“Mo, mau balik besok.”
“Seriusan, Mo?”
“Iya mba, mama semalem chat Momo kirim surat edaran kampus. Mo, nggak
kirim padahal.”
“Oh ya udah, balik besok tapi tunggu ya. Mba, selesai magang siang habis itu
kita pulang bareng.”
“Oke mba. Ku tunggu.”
Malem harinya ku persiapkan segala keperluan kepulanganku. Di pagi harinya,
Keluarlah surat edaran dari dekan bahwa fakultasku mendukung surat edaran
rektor. Maka kepulanganku hari itu lebih terasa tanpa beban.
Maka disinilah aku sekarang, tempat aku tumbuh berkembang dari masa
kanak-anak hingga sebesar sekarang. Memang benar butuh effort untuk
menyesuaikan lingkungan dan situasi dengan perkuliahanku. Namun aku
mencoba menjalaninya dengan ikhlas dan semangat. Hingga kini bulan
ramadhan sudah didepan mataku.
Kini aku menyadari bahwa kejadian ini merupakan bagian dari jalan keluar
yang dijanjikan olehNya. Agar aku tidak lagi galau untuk tarawih ditanah rantau
maka Allah memberikan situasi yang tidak disangka-sangka oleh hambaNya.

Anjuran physical distancing dan social distancing menjadikan ramadhanku kali
ini menjadi lebih dekat denganMu. Tarawih dirumah bersama orangtua pun
menjadi agenda rutin. Selain itu kegiatan tadarus Al-quran pun menjadi lebih
masif. Serta ladang pahalaku semakin terbuka dengan dekatnya aku bersama
orangtua maka kesempatan menyempurnakan birrul walidain semakin terbuka
lebar .
Lalu, kuingat juga firman Allah dalam surat Al-Insyirah ayat 6:
Arab-Latin: Inna ma’al-‘usri yusrā
artinya “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Masyaallah. Sungguh nikmat yang tidak disangka bahwa ramadhan tahun ini
dengan situasi yang amat berbeda namun tidak mengurangi keberkahan dan
keindahan di dalamnya.
Semoga kita bisa menjadi hamba yang tidak kufur terhadap nikmatNya dan
selalu dalam lindunganNya. Aamiin.

Ada yang Berbeda Kali Ini

oleh: Nur Haura Zhafirah Lubis, S. Ked

Ramadhan 1441 Hijriah. Ada yang berbeda kali ini. Menunggu sidang isbat untuk pengumuman hari pertama Ramadhan, dari televisi tampak para alim ulama dan tokoh masyarakat dan aparat pemerintah menggunakan penutup yang menutupi mulut dan hidungnya. Setiap orang saat ini menggunakan masker. Ramadhan kali ini kita sambut di tengah pandemi penyakit yang disebabkan oleh virus.

Hasil keputusan sidang isbat menyepakati 1 Ramadhan bertepatan esok hari, hari Jumat. Malam ini kita menunaikan sholat tarawih, sholat yang keutamaannya sangat banyak dan hanya ditunaikan di bulan Ramadhan. Ada yang berbeda kali ini. Tarawih kita tunaikan di rumah masing-masing, tidak seperti biasanya, berjama’ah di masjid. Kami menunaikan sholat isya dilanjutkan sholat tarawih dan sholat witir berjama’ah diimami oleh Ayah.

Bangun pukul tiga lewat lima belas pagi, menyiapkan santapan sahur pertama. Ada yang berbeda kali ini. Tidak ada anak-anak yang membangunkan sahur dengan cara membunyikan tiang listrik di depan rumah.

Buka puasa pertama. Ada yang berbeda kali ini. Biasanya mengajak keponakan dan Ayah untuk ngabuburit dan mencari makanan untuk berbuka, kali ini memasak makanan sendiri di rumah. Tak banyak orang yang berjualan. Ada, tapi tidak banyak.

Ramadhan kali ini mungkin berbeda. Namun, semangat kita dalam menyambut bulan yang agung ini tak boleh sirna. Dua hari sebelum memasuki Ramadhan, jurnal Ramadhan dijilid spiral plastik di tempat fotokopi. Sangat menyenangkan mempunyai jurnal Ramadhan.

Halaman ketujuh jurnal Ramadhan. Bertuliskan ‘My Ideal Ramadhan’. Ramadhan yang extraordinary itu ketika setiap detik di bulan Ramadhan dihabiskan untuk mengerjakan kebaikan agar mendapat rahmat dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berlimpah.

Ramadhan yang extraordinary itu ketika diri ini selalu bermuhasabah, merefleksikan diri tentang bekal apa yang sudah dipersiaplan untuk ke kampung halaman kelak. Ramadhan yang extraordinary itu ketika selesai bulan Ramadhan, maka target-target ibadah selama Ramadhan dikerjakan juga di luar Ramadhan.

Semoga My Ideal Ramadhan ini terwujud. Aamiin.

Ada yang berbeda kali ini. Biasanya semangat menuntut ilmu menghadiri kajian ilmu di masjid-masjid menggunakan motor, kali ini kajian ilmu pun secara daring. Pandemi ini membuat kami untuk lebih kreatif lagi dalam mengeksplor metode dakwah. Kajian ilmu berbagai cara, seperti zoom, youtube, WhatsApp, Line, live instagram, dan berbagai macam kajian via daring. Semoga tidak melunturkan semangat kita dalam menuntut ilmu dan semoga Allah berkahi kita di dalam taman-taman surgaNya.

Mungkin ada rasa takut, cemas, khawatir di tengah pandemi ini. Namun, datangnya bulan Ramadhan ini menumbuhkan rasa berharap yang tinggi kepadaNya. Untuk terus semangat beribadah dan memohon ridhoNya agar pandemi ini segera usai. Indahnya Ramadhan kali ini ditunjukkan dengan semakin banyak orang yang peduli, saling mengasihi, dan memperbaiki diri terhadap sesama.

Kecewa Penuntun Kesadaran

oleh: Dian Mustkarini

Malam dingin tanpa bintang  menghampiri kamar Khansa. Angin merasuki pikirannya sangat dalam. Ia bertanya-tanya dan hampir menggertak. “hmmm.. Ramadhan ini sangat berbeda dengan sebelumnya, sepi tanpa ada kebersamaan”. Seluruh masyarakat tidak mampu keluar rumah begitu saja akibat wabah di negeri tempat tinggalnya. Kebiasaan tarawih, buka puasa, dan tilawah bersama telah sirna saat ini. Renungan itu mengingatkan betapa Bahagianya Ibadah Ramadhan tahun lalu. Saat itu, Sam dan lainnya mengadakan  buka puasa bersama. Tiba di restoran mereka bercengkrama dan bermain tebak-tebakan sambil menunggu azan Maghrib. Tilawah dengan teman satu kos, datang kajian ilmu bersama selalu dilakukan tiap hari. “Aku tidak tahu harus apa sekarang. Apa yang bisa kulakukan di rumah? tanpa mereka?”, Khansa tersenyum miris.

            Bersama keluarganya, Khansa merasa sahur ini  berbeda dari tahun-tahun yang lalu. Setelah sahur, Khansa bergegas ke kamar dan Sholat Subuh. Ia bosan, hampa, kehabisan akal mau melakukan apa selama puasa. Hanya menonton, main game, membersihkan rumah, dan belajar sesekali. Diraihnya bantal, guling, dan selimut hingga dia tertidur lagi dengan pulas.  Kring…kring.  “Aduh siapa ini, kok telepon pagi-pagi sih”, gumam Khansa. Matanya terbelalak mengetahui bahwa Sam yang menelpon. Dia mengajak buka bersama online dengan yang lain. Khansa langsung mengiyakan, karena mereka sudah dianggap saudara olehnya. Enam orang berwatak beda membuat setiap pertemuan mereka lebih berkesan, asyik, unik, bahkan konyol. Mereka saling mengajak menuntut ilmu agama dan memperbaiki akhlak masing-masing, apalagi si Sam, yang sangat mengutamakan agamanya. Tentunya, mereka juga punya rombongan lain yang tidak kalah pentingnya. Grup olahraga Sam, grup hangout Rendra, grup kajian si Arin dan Hani, serta grup Fika yang salah satunya ialah Khansa. Fika dan delapan orang lain sudah sangat solid, kompak, saling terbuka, berbagi suka duka bahkan saling ejek, saling bantu dengan Khansa. Kecerahan matahari pagi itu seolah mendukung kegembiraan Khansa karena mereka akhirnya saling menyapa setelah hampir dua bulan tak bersua. Sorenya, Ani temannya Fika menelpon Khansa, mengabarkan bahwa akan ada buka bersama online pada hari sabtu. “Waduh, Sam kan tadi ngajak hari sabtu juga. Aduh, Aku kan mau dua-duanya. Gimana ini. Hmm”, pikir Khansa. Setelah hampir dua jam, dia memutuskan ikut keduanya, namun lebih lama dengan Fika.  

Hari sabtu tiba. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah yang berseri karena senyum manisnya. Beberapa kali notifikasi chat masuk di ponsel Khansa. “Maaf aku nggak bisa sepertinyaL. Ada agenda mendadak hari ini, maaf yaa”, sahut Aris. Khansa muram seketika, namun tetap menghibur diri, “nggak apa, nanti sebentar aja di mereka, terus langsung ke Fika”. “Allahu Akbar Allahu Akbar”, azan Maghrib berkumandang. Khansa bergegas membatalkan puasanya lalu mengangkat video call dari Arin. “Selamat berbuka guys, es buah dan bubur sum sum nih, enak kan?”, Khansa menyoroti takjilnya dengan penuh semangat. “Wah enak tuh, mau dong. Coba kirim kesini hehe”, canda Aris. “Eh, tunggu. Ris, kok jadi ikut sih kamu? Pasti kangen ya sama kami sampai nggak bisa nolak, benar kan hehe. By the way, Sam mana ya? Kok belum ada?”, sahut Hani dengan sorotan pisang gorengnya. Khansa langsung tersenyum dalam karena Aris tetap menyempatkan datang sebentar ke video call mereka, sebelum izin left setelah 15 menit. Mereka saling melepas tawa dan bercerita walau terpisah jarak dan ruang. Kemudian Khansa berpindah ke video call dari Fika. Berbagi sorotan makanan telah membuat suasana seolah bertemu secara langsung. Setidaknya rindu dan harapan Khansa kini telah terobati.

“Teman, maaf ya nggak jadi ikut. Rita dan rombongan hubungin aku pas siang dan mohon banget aku ikut untuk foto album, terus aku lupa gabung sama kalian. Maaf banget”, tulis Sam di chat grupnya. “Saam saam, harusnya aku paham dari awal, kami hanya pilihan terakhirmu yang sering diabaikan. Kamu mungkin nggak berniat itu, tapi semua perilakumu membuat sadar bahwa kami nggak pernah seperti saudara bagimu”, ucap Khansa lirih sambil menahan air mata dengan sinisnya. Kekecewaan Khansa yang  memuncak dibanding sebelumnya membuat chat Sam tidak dibalas. Hani menelpon Khansa sambil menggertak dengan rasa yang sama, “hobi banget Ikut aliran kemana aja apalagi kalau mereka duluan yang ngajak. Minta maafnya pas sekali diiyain langsung diread aja, nggak ada penyesalan mungkin. Masih aja nggak berubah”. Kekecewaan itu mengingatkannya pada luka lama yang pernah Sam buat. Khansa sangat mengenalnya dengan baik. Saat bekerjasama sebagai partner dalam satu wadah, Sam seringkali tanpa sengaja tidak menghargai Khansa sebagai teman, melainkan sekadar “yang membantunya” takubahnya mirip sekadar bawahan. Tak pernah Sam berniat menyakiti, namun fakta berkata sebaliknya. Apalagi saat dihubungi oleh mereka berlima, biasanya dua sampai tiga patah kata yang menjadi balasan Sam, seolah tak ada hasrat. Untuk waktu lama, kekecewaan Khansa terpendam menggoreskan luka pahit tiap dirasa. Untuk sosok Sam, si polos nan sopan kepada semua orang, bagaimana bisa Khansa gamblang memarahinya.

“Sayang, Ini mama ada roti bakar untuk snack malam, belum tidur kan?”. “Ma, Khansa sudah ngantuk, besok aja ya”, ucap Khansa sambil membuka pintu kamarnya. “Eh kok murung? nangis ya?, sini cerita sama mama.” Ditaruhnya roti di meja sementara kepala Khansa terbaring nyaman di pangkuan Mamanya. “Aku tuh kecewa banget Ma. Kawan aku itu nggak datang padahal sudah janji mau ikut. Justru ikut rombongan kawannya yang lain, sampai lupa sama kami. Ada yang lain, kami diabaikan”. “Eh, nggak boleh ngomong begitu. Sayang, coba dipikir. Memangnya dia nggak boleh buka puasa sama yang lain?  Kalau dia sudah jadi temanmu, nggak boleh berteman sama yang lain,begitu?”, tutur Mama. Khansa bergumam, “Ya boleh sih, tapi kan dia sering Ma bersikap begitu sama kami. Wajar kan kalau aku jadi mikir macam-macam”. “hmm.. sabar dulu, ingat nggak? Ini Bulan Ramadhan yang penuh berkah. Coba mama cek, gimana ibadahmu? Sudah sering bolong kah?”, tanya mama. “hmm, Khansa jarang bolong sekarang sholat dan tilawahnya, asli nggak bohong. Eh Ma, Bulan Ramadhan itu katanya pintu neraka dikunci, jadi setan dibelenggu. Tapi mengapa masih ada yang berbuat zalim dan menyakiti orang lain?”. Mama menjawab sambil mengunyah roti, “Terus  mengapa anak mama si imut ini juga masih murung, kecewa bahkan su’udzon begitu?”. Khansa terdiam memikirkan perkataan mama. “Iya yah”, batin Khansa. “Begini, Setan memang sudah janji mau menggoda manusia sampai akhir. Tapi, kadang kita menjadikannya kambing hitam dan lupa diri, siapa kita sebenarnya. Coba ingat, mengapa manusia dijadikan khalifah di bumi oleh Allah?. Mengapa tidak malaikat saja yang selalu taat yang menjadi khalifah? Hakikatnya, manusia itu punya hati, pikiran dan hawa nafsu. Nafsu yang membawa manusia ke akhlak dan perilaku yang diinginkannya. Nafsu yang benar dari pemimpin mampu menjadikan rakyatnya lebih baik. Wajar kan kalau manusia jadi khalifah, apalagi manusia sebaik-baik makhluk ciptaan Allah. Tapi ingat, kita ini ciptaan, seorang hamba yang wajib menyembah Tuhannya. Coba dipikir lagi, Ramadhan yang penuh kesempatan beramal ini, kamu habiskan untuk apa?. Kalau lagi nonton tv dan main game, fokus banget kan kesitu? kadang malah nggak dengar mama panggil. Kemarin juga karena buka bersama online, kamu nggak ikut sholat berjamaah sama papa. Tilawah kamu lebih sebentar nggak dibanding videocall sama mereka?. Pas videocall karena sangat gembira, fokusnya paling full, eh pas ibadahnya fokus nggak mengingat Allah?”. Tanpa sadar, Air mata membasahi pipi Khansa yang merasa tertusuk atas ucapan mamanya. “hmm iya sih, tapi ma, kan menjalin silaturahmi juga berpahala?”, ucap Khansa lirih. “Suatu amal itu bergantung dengan niatnya sayang, misalnya murni hanya mau bersilaturahmi, tidak  semestinya sampai ibadah wajib dan sunnah jadi nomor dua kan?. Bagaimana jika dalam niat itu, hawa nafsumu tanpa sengaja ikut menguasai. Nafus dan senangnya melewati batas, sampai akhirnya hanya lelah yang tersisa pas kamu sholat dan tilawah. Kamu tahu nggak? Saat kamu dikecewakan orang lain, tandanya kamu diingatkan bahwa mereka juga manusia, punya nafsu yang sama atau lebih dari kamu. Mereka punya hak untuk memilih siapa teman terpenting baginya. Bukankah itu nafsu yang salah saat memaksakan semuanya padahal takdir Allah sudah di depan mata? apalagi karena itu kamu jadi lupa mensyukuri nikmat lainnya dari Allah, mulai kesehatan, keluarga lengkap, teman baik, dan masih banyak lagi. Coba kalau Sam itu orang jahat, mungkin dia sudah dimarahin sampai kamu lupa ada bagian khilaf dan salah darimu. Bukan tidak mungkin  kalau temanmu yang lain nantinya bisa ngecewain kamu bahkan lebih dalam. Kalau dibilang bahagia saat hangout atau kumpul, mungkin iya. Tapi itu hanya fatamorgana tanpa ketenangan, yang didapat dari godaan nafsu tak terkontrol. Alangkah baiknya jika nafsu itu dipakai untuk mendekatkan diri kita kepada Allah. Jadi nanti semangat kamu nomor satu hanya tertuju pada Allah, yakin deh, kamu nggak akan pernah kecewa. Gimana? Mau berubah mulai besok?. Tapi ingat, mama nggak bilang putuskan mereka dari teman baikmu ya. Sudah jangan nangis, nanti mama ikut nangis loh”, ucap Mama sambil mengelus kepala Khansa dan menciumnya. Khansa memeluk mamanya sambil terharu. Sambil mencoba menerima, ia sadar dirinya lah yang terlalu larut dalam lautan nafsu yang melampaui batas. Ia berniat bahwa mulai besok dia akan lebih mengutamakan ibadah dibanding teman-teman baiknya. Ia akan berusaha sekuat tenaga mengontrol nafsu, apalagi saat puasa. Puasa yang seharusnya menahan hawa nafsu seluruhnya, agar tidak hanya lapar dan haus yang didapat. Ketika manusia beribadah dengan hati ikhlas, khusyuk dan kerendahan hati dalam focus satu-satunya menghadap Allah semata, saat itulah tercapainya kebahagiaan mutlak dalam ibadah hamba-Nya, terkhusus di bulan Ramadhan yang pahalanya dilipatgandakan. Alias, bukan kebahagiaan semu yang didapat dari membaranya nafsu ke jalan yang salah. Yakinlah, kebahagaiaan duniawi lainnya akan turut mengikuti.  Bukan tentang bersama siapa, dimana, dan seringnya dia ibadah, melainkan berlabuh kemana hati, pikiran dan jiwa raganya. ~Kontrollah nafsu atau ia menguasaimu~

RAMADHAN HARI PERTAMAKU

oleh: Zuraida Ahadiyah Bulqies

“Hai, senang bertemu denganmu!”

Sontak perlahan aku menyodorkan tangan sambil gemetaran. Sejak saat itu aku mulai mengenalnya, gadis lemah lembut nan cantik. Matanya bening seakan kilau mutiara south sea pearl. Panggilannya  Zidya.

Zidya teman pertama yang kukenal di Junrejo. Sejak sepekan di Junrejo, aku tak pernah keluar rumah dan bermain dengan siapapun kecuali dengannya, teman baruku.

Sedianya Zidya gadis yang cukup aneh bagiku. Seragam sekolah yang ia gunakan menguning, kusam dan kurang rapi.

Kadang tebersit empati padanya, tiap kali melihat penampilannya yang sangat dekil. Rambutnya terurai dan nampak kusam.

“Kamu mau aku belikan seragam baru, Zid?” aku menawarkannya karena kasihan melihat penampilannya.

“Tidak usah. Begini saja sudah cukup bagiku. Alhamdulillah” Zidya memasang wajah tegar.

Zidya dan aku berkawan baik. Ia bercerita banyak tentang guru, satpam,  pegawai dan semua hal tentang sekolah baruku. Ia bercerita seolah guru TK mendongengkan fabel kepada muridnya. Sangat jelas, detail dan menarik perhatian.

“Kamu pernah membaca buku apa?” gadis itu bertanya.

”Ehmmm … buku sains, matematika, dan buku pelajaran lainnya, Zid,” jawabku sambil menggaruk kepala karena malas membaca kecuali pelajaran sekolah.

“Wah, bagus. Membaca harus digemari dan aku akan mengajakmu ke perpustakaan setiap hari agar kamu terbiasa membaca buku sekaligus kita bisa membaca Alquran dan murojaah.” Kata Zidya.

Zidya senang sekali membaca buku. Ia mengajakku ke perpustakaan di waktu istirahat dan jam kosong. Perpustakaan sudah menjadi tempat tongkronganku dan Zidya.

“Ayo ke perpus, ada buku novel baru. Sekaligus kita membaca Alquran dan murojaah.” Ujar Zidya.

Padahal aku termasuk orang yang anti membaca buku. Bahkan selama hidupku, bisa dihitung jari berapa kali aku mengkhatamkan buku.

Notabene siswa-siswi di sekolah baruku juga sama. Mereka tidak banyak yang gemar ke perpustakaan. Perpustakaan hanya akan menjadi tempat tongkrongan sambil rebahan karena lantainya dilapisi karpet.

Entah apa yang membuat Zidya tertarik membaca buku, dan berhasil menyihirku untuk gemar membaca. Setiap kali sekolah menginformasikan terbitan buku baru yang dimiliki sekolah di mading, aku enggan menolak ajakan Zidya. Rasanya kebiasaanku membaca menjadi makanan pokok dalam sehari.

“Baca buku novel terbaru, baca Alquran dan murojaah asyik juga ya, Zid,” cakapku dengan percaya diri.

“Ya, karena kamu ikhlas. Segala yang dilakukan dengan ikhlas akan menyenangkan diaplikasikan,”balasnya ramah.

Banyak waktu yang kita luangkan di perpustakaan. Hampir satu buku baru yang terkini khatam setiap hari dengan membacanya cepat. Buku yang kubaca adalah novel kontemporer yang new release dan best seller. Meskipun demikian, membaca Alquran tak kutinggalkan. Aku merehat sejenak otakku dengan membaca Alquran dan novel bergantian.

“Wah, lumayan juga uang jajanku tersisa sepuluh ribu rupiah karena sedang puasa bulan ramadhan.” Tak jarang kami menyisihkannya ke kotak amal El-zawa, pusat kajian zakat dan waqof di sekolah kami. Kotak amal di sekolah baruku terkenal akan kehampaannya. Takmir masjid jarang meliriknya karena saking seringnya tak terisi. Semenjak aku dan Zidya rutin mengisinya, kotak itu mulai penuh sehingga pernah suatu saat kami melihat takmir masjid keheranan dan kebingungan mencari kunci kotak amal untuk mengamankannya karena telah penuh. Saking lamanya.

Zidya mengingatkan dan mengajakku bershodaqoh. Alangkah tentramnya bersama Zidya, aku merasa lebih baik dan damai berteman dengannya.

Sekali waktu pulang sekolah, ia menyodorkan jari telunjuknya kepada anak kecil yang sedang memainkan gitar sambil kocar-kacir bernyanyi. Lampu merah merupakan tanda mulainya anak itu bernyanyi. Sedangkan lampu hijau menjadi tanda selesainya bocah itu menembang. Zidya menasihatiku,” Lihatlah pengamen cilik itu, untuk makan pun mereka harus berusaha keras. Jangan lupa bersyukur.”

Rumahku dan Zidya berdekatan, hanya terpisah 5 bangunan sehingga sangat sering kita bertemu di taman dekat rumah untuk membaca buku, membaca Alquran dan murojaah bersama.

“Ayo berangkat, ayo berangkat.” Setiap berangkat sekolah, Zidya rutin menjemputku 30 menit sebelum bel sekolah berbunyi. Zidya bagaikan alarm sekolahku. Di sekolah lama, aku terkenal siswi yang sering telat.

“Tumben sekali kamu rajin berangkat pagi. Cepat habiskan sereal yang telah ibu seduh dengan susu coklat kesukaanmu.” Ibu mengusap hangat kerudungku. Aku berlari kecil merapikan kancing lengan seragam. Ibu berusaha menangkapku dan memijat pundakku yang sedang menali sepatu di halaman depan.

“Tidak, bu. Temanku telah menunggu. Akan kuhabiskan seusai sekolah nanti.”

“Tidak akan renyah lagi, Nak. Ibu siapkan kotak bekal agar kamu memakannya di sekolah ya.”

“Assalamu’alaikum, Bu.”

“Eh, tapi … Wa’alaikumussalam.”

Akhir-akhir ini ibu sering memuji perubahan tingkah laku dan prestasi akademikku. Padahal aku merasa biasa saja dalam belajar. Bedanya, hanya semakin banyak buku yang kubaca dan kedisiplinanku ke sekolah semakin tertata.

Teman memang berpengaruh terhadap kehidupan. Berteman dengan Zidya membuatku berubah ke arah yang semakin baik. Ketika aku kesulitan menyelesaikan tugas sekolah, Zidya selalu ada untuk membantuku. Saat ulangan, Zidya mengingatkanku untuk re-call materi yang telah dipelajari. Kehadirannya kadang tidak disangka-sangka. Tiba-tiba mengetuk pintu kamar dan masuk menjelma peri yang berhumanitas.

Di perpustakaan, aku dan Zidya sering bercengkrama seolah-olah saudara kandung sendiri. Zidya mengajariku akan keikhlasan, prestasi akademik, kiat belajar, tips melawan bosan membaca dan menghafal Alquran dan banyak hal yang kupelajari darinya.

“Buku berjudul Buto Biru ini sangat berarti bagiku.” Zidya menunjukkannya padaku sambil ia peluk mesra.

“Bolehkah aku membacanya, Zid?” pintaku penuh pengharapan.

“Tidak perlu, cukup kamu membaca Alquran dan membaca novel kontemporer dan murojaah seperti kebiasaanmu,” katanya sambil menepuk pundakku.

Tidak lama kemudian, aku bergegas keluar menuju kelas karena bel berbunyi menandakan jam pelajaran kedelapan telah dimulai.

“Ayo Zid, ke kelas,” ajakku sambil menggandeng tangannya kemudian berlari menuju kelas. Namun, tiba-tiba Zidya menghilang. Tanganku yang semula bergandengan tangan dengannya menjadi kosong, tidak ada jejak sedikitpun darinya.

Di lorong-lorong menuju kelas, saru antara gelap yang pekat. Hening hampa ini membuatku merinding. Sesuatu menyentuhku dari belakang. Suara tawa dengan lantang terdengar membuat kupingku tak tahan.

“Hai, gadis kecil. Huahuaaaahuaaaahah. Kemarilah. Aku sangat lapar.” Suara ini menggema sepanjang koridor sekolah.

Aku menoleh ke belakang dan melihat raksasa yang amat besar dan menyeramkan.

“Tolong jangan mendekat, pergilah dari sini! Jangan coba-coba mendekat wahai makhluk aneh” teriakku keras.

“Ini adalah tempat yang sudah kulalui.” Ucapku dalam hati melihat lorong itu tiada putus-putusnya rasanya aku berada tetap di tempat awal dan terus memutari tempat yang sama.

Sedangkan raksasa terus saja menyeru.”Kemarilah wahai gadis. Aku sangat lapar. Aku akan memakanmu untuk makan siangku huahaahahahah ”

Raksasa bertubuh biru besar itu memegang jarum tajam yang besar sekali dengan bekas darah yang melekat dan mengarahkannya pada tubuhku yang terus berlari menghindarinya. Betapa menakutkannya saat itu. Setiap inci permukaan kulitku seperti berada di atas awang, tak menapak meski semili saja. Hening hampa ini membunuhku.

“Tolong, tolong, tolong. Pergi dari sini, tolong pergi, Raksasa.” Aku menjerit sekuat tenaga.

“Kamu bermimpi? Jangan tidur di perpustakaan. “Ayo, pulang.” Seseorang mengguncang tubuhku.

“Siapa kamu?” Aku keheranan.

Tak ada yang meyahut. Semua bak jalur hitam berputar melewati pintu ajaib Doraemon. Sembari terus berasumsi,aku berusaha tenang. Hal pertama yang kuingat saat itu adalah silaunya sengatan sinar mentari bersamaan dengan guncangan dari pundak belakangku. Aku berbalik. Semua terasa asing yang familier.

Nampak cahaya biru di meja belakangku.

Pandanganku semakin jelas. Aku terkejut mengetahui diriku berada di perpustakaan bersama sebuah kitab Alquran yang kupegang. Aku mencelos dan mengusap wajah frustasi. Sekali lagi kutepuk wajahku kuat-kuat.

Aku bersegera meninggalkan perpustakaan.

“Siang-siang saat bulan ramadhan ini menjadikanku terlelap nyenyak di perpustakaan sekolah dengan berbagai mimpi yang aneh.” Ini adalah puasa hari pertamaku di bulan Ramadhan, membaca Alquran dan murojaah hingga tertidur di perpustakaan sekolahku.