Muslim Milenial

Kita? Muslim Milenial?

Millennial.

Telinga kita pasti sudah tak asing dengan istilah itu. Tetapi mungkin hanya segelintir yang paham betul apa makna dari kata tersebut.

Istilah tersebut berasal dari ‘millennials’ yang diciptakan oleh salah dua pakar sejarah dan penulis Amerika yang bernama, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Generasi milenial atau Generasi Y, yang juga kerap disapa Generation Me dan akrab dipanggil Echo Boomers-apapun istilahnya itu, merujuk kepada mereka yang lahir pada 1980-1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Mereka disebut milenial karena merekalah satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923 dalam esainya yang berjudul “The Problem of Generation”.

Generasi milenial bisa dibilang adalah generasinya pemuda, pada generasi inilah jiwa-jiwa membara generasi yang seharusnya menjadi penggerak islam dimasa yang akan datang. Merekalah… bukan. Kitalah kompenen-komponen itu! Kita yang seharusnya menjadi penggerak Islam dengan kekuatan yang produktif dan kontribusi yang tak henti-henti nantinya! Maka dari itu penting untuk menjaga generasi ini agar tidak jauh dari nilai-nilai Islam.

Setelah memahami posisi generasi milenial sebagai generasi penggerak islam dimasa yang akan datang, kita sebagai generasi milenial perlu untuk tetap menjaga nilai-nilai islam dan menjalankan peran sebagai seorang muslim agar bisa terus bersama-sama menjadi benteng dan prajurit garis depan bagi agama islam, menghalau segala fitnah yang ditujukan. Bagaimana caranya? Baca ini!

  1. Mempelajari ilmu agama

Wajib hukumnya seorang muslim untuk mempelajari ilmu agama. Bagaimana mau berdiri di baris depan jika kita tidak puya persenjataan? Bagaimana mau membela islam jika ilmunya saja tidak tau? Oleh karena itu, kawanku, amat penting untuk bersegera mendatangi majelis-majelis ilmu agama. Dimanapun! Kita bebas memilih sesuai selera. Yang pasti tujuannya sama. Yaitu memperdalam ilmu kita untuk perbekalan di garis depan.

  1. Berdakwah dan memberikan edukasi kepada masyarakat.

Berdakwah dan mengajar adalah zakat ilmu. Wajib bagi seseorang yang telah mempelajari ilmu syar’i untuk menyampaikan ilmu tersebut kepada yang lainnya, sehingga dapat memberikan hidayah orang kafir agar masuk Islam dan memberikan hidayah orang yang berbuat maksiat agar menjadi istiqomah kembali ke jalan Allah subhanahu wa Ta’ala. Sungguh mubazir ilmu kita jika hanya disimpan untuk diri sendiri.  

 

  1. Bersabar terhadap perkataan masyarakat.

Menjadi pendakwah tidak sebercanda itu. Merupakan suatu keniscayaan atau seringkali terjadi, bahwa seorang da’i akan mengalami gangguan, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Tapi ingat! Da’i bukan artis. Mereka tak butuh sensasi dan kontroversi. Takkan seujung jari pun hal seperti itu menggoyahkan mereka dari konsisten berdakwah untuk tegaknya agama Allah Ta’ala. Yang perlu dipertanyakan, siapkah kita menjadi bagian dari mereka?

 

  1. Menaati perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Pemuda muslim generasi milenial seharusnya menjadi orang yang taat kepada Allah Ta’ala. Tidaklah mereka mendengar perintah, kecuali menjadi yang terdepan dalam melaksanakannya. Tidaklah mereka mendengar suatu larangan, kecuali menjadi yang terdepan dalam menjauhinya. Pemuda semacam ini berhak untuk mendapatkan pahala yang banyak pada hari kiamat, di bawah naungan ‘arsy milik Allah Ta’ala, ketika panas matahari didekatkan di atas kepala manusia. Berminat menjadi salah satunya?

 

  1. Mendekat kepada para ulama

Penting untuk mendengarkan nasihat dari ulama karena mereka memiliki pengalaman yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain dan terhindar dari propaganda yang menjauhkan diri dari nilai-nilai islam. Jangan hanya fasih dalam memberi nasihat, tapi pandai-pandailah juga untuk menerima nasihat.

 

  1. Menjadi tauladan bagi orang sekitarnya.

Tidak cukup hanya dengan memiliki ilmu dan menyampaikannya, jika kita sendiri tidak menaatinya. Jika berdakwah kepada orang lain alangkah baiknya juga menunjukkan akhlak yang mulia sehingga bisa menjadi tauladan bagi orang-orang sekitar. You are what you do, not what you say you’ll do.

 

  1. Bangga sebagai muslim.

Yang banyak kita saksikan di penghujung zaman di penjuru dunia saat ini, yang banyak mengikuti (taqlid) gaya orang kafir dalam segi pakaian, penampilan, dan perilaku mereka adalah kelompok pemuda. Iya, generasi milenial! Sebab itulah, langkah selanjutnya yang harus kita tempuh sebagai prajurit garis depan adalah berbangga dengan agama yang kita miliki. Buat apa malu menampakkan syi’ar-syi’ar agama yang benar adanya? Buat apa berpura-pura di hadapan manusia ketika hendak beribadah kepada Pencipta-mu? Pencipta kita semua? Maka dari itu, kawanku, sudahlah, jangan ikut-ikutan pakaian dan perilaku mereka hanya demi gengsi! Karena muslim milenial jauh lebih keren dari itu!

 

Pengaruh Teknologi

Teknologi yang kita tahu saat ini merupakan satu media dengan banyak kegunaan. Kita bisa ambil dua contoh saja seperti mobile phone dan Personal Computer (PC). Seiring berjalannya waktu, berbagai platform teknologi tersebut selalu berlomba-lomba untuk menciptakan fitur terbaru yang lebih canggih. Hal tersebut membuat konsumen dari generasi milenial tertarik untuk menjelajahi kemajuan teknologi. Eh, bukan. Tertarik untuk terlihat up to date dengan memiliki gawai keluaran terbaru.

Ericsson, di awal tahun 2016, mengeluarkan 10 Trend Consumer Lab untuk memprediksi beragam keinginan konsumen. Laporan penelitiannya lahir berdasarkan wawancara kepada 4.000 responden yang tersebar di 24 negara dunia. Dari 10 tren tersebut beberapa di antaranya, membuat dia harus memberi perhatian khusus terhadap perilaku generasi milenial. Dalam laporan tersebut Ericsson mencatat, produk teknologi akan mengikuti gaya hidup masyarakat milenial. Simpelnya, perilaku juga ikut berubah beriringan dengan teknologi yang semakin maju. Dan itu terbukti! Sepanjang tahun ini beberapa prediksi yang disampaikan Ericsson menunjukkan kebenarannya. Salah satunya, perilaku Streaming Native yang kini kian populer dimana remaja yang mengonsumsi layanan streaming video kian tak terbendung. Hingga akhir 2011 silam, rata-rata waktu yang dihabiskan di depan layar gawai hanya sekitar tiga jam sehari. Kemudian angka tersebut melambung empat tahun kemudian menjadi 20 persen. Terbukti, bukan?

Dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat, gadget dan internet seakan menjadi kebutuhan primer bagi generasi milenial. Akses internet dan media sosial yang mudah seharusnya dapat memudahkan akses untuk memperoleh informasi, dakwah, menjalin silaturahmi, dan belajar.

Akan tetapi mari kita tengok efek sampingnya. Kemudahan dalam mengakses media sosial juga dapat menyebabkan banyaknya peredaran berita bohong (hoax) di masyarakat. Ujaran kebencian kemudian mengiringi perkembangan hoax yang berakibat pada pecahnya persatuan. Terbentuklah kubu-kubu pro dan kontra dari suatu isu yang bahkan tak pasti kebenarannya. Sebab itulah, pengkajian ulang serta penerapan berpikir kritis yang didasarkan pada Al-Quran dan Hadits menjadi salah satu solusi bagi generasi milenial untuk melindungi dari efek samping globalisasi ini, khususnya hoax. Dengan pengkajian itu, diharapkan generasi milenial dapat berhenti bersikap barbar dan dapat menjadi kunci dalam perwujudan kedamaian dunia. Atau dalam lingkup lebih kecil, kedamaian Indonesia.

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta” (Q.S Thaha: 123, 124).

Inilah yang menimbulkan keprihatinan, realita yang ada menunjukkan bahwa umat Islam telah berpecah-belah menjadi banyak golongan. Antara satu dengan lainnya memiliki prinsip-prinsip yang berbeda, dan tak jarangsaling bertentangan. Kenyataan seperti ini menjadi bukti kebenaran nubuwwah (kenabian) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sendiri yang telah memberitakan iftiraqul ummah (perpecahan umat Islam) ini semenjak hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oalah, sudah memang gitu ya takdirnya. Sebentar! Lantas apakah kita cukup hanya diam saja pasrah dengan keadaan umat yang seperti ini? Syariat telah memerintahkan agar kita bersatu di atas Al-Haq, di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Kita tak boleh diam saja melihat kekacauan ini. Justru disinilah seharusnya peran kita-generasi milenial untuk menyatukan umat. Bagaimana caranya? Cukup dengan mengikuti kaidah yang benar dalam memahami al-Qur’an dan As-Sunnah.

Tapi apakah benar sesimpel itu?

 

 

 

Referensi:

Kominfo. 2016. Available at kominfo.go.id/mengenal-generasi-millennial

 

Muhammad Saifudin Hakim. 2016. Available at muslim.or.id/27701-nasihat-dan-bimbingan-untuk-pemuda-muslim-terhadap-diri-agama-dan-masyarakatnya.html

 

Mufatihatul Islam. 2017. Available at suaramuslim.net/generas-milenial-melek-teknologi/

 

Iffah Al Walidah. 2018. Available at

www.researchgate.net/publication/327628779_Tabayyun_di_Era_Generasi_Millenial

 

Muslim Atsary. 2011. Available at muslim.or.id/6966-kaedah-penting-dalam-memahami-al-quran-dan-hadits.html