Menutup Ramadhan dengan Indah

Mengatur pernak-pernik Ramadhan, agar ibadah tidak tercecer

 

Bertemu bulan suci Ramadhan adalah nikmat luar biasa dari Allah ﷻ. Sungguh sangat tidak pantas jika kedatangan nikmat agung ini tidak benar-benar kita fokuskan untuk meningkatkan ibadah dan amal sholeh kepada Allah ﷻ.

Dari sisi tekad, boleh jadi sudah ada keinginan untuk mengamalkan beragam amal ibadah, namun kondisi lingkungan seringkali menjadikan sebagian orang terseret pada deviasi (pengimpangan) tanpa sadar.

Jika Rasulullah ﷺ pada 10 malam terakhir Ramadhan kian menguatkan ibadah, tidak dengan kondisi sebagian besar masyarakat saat ini, terlebih kaum wanita. Sebagian sibuk menyiapkan penampilan terbaik dengan beragam rupa busana, perangkat rumah hingga kendaraan.

Hal demikian sama sekali tidak kita dapati pada sosok Nabi Muhammad ﷺ dan tentu saja istri-istri beliau. Aisyah mengatakan, “apabila Rasulullah ﷺ memasuki 10 terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” HR. Bukhari.

Hadits diatas tentu saja merupakan sebuah landasan kuat bahwa semakin Ramadhan menuju akhirnya, upaya diri untuk meningkatkan ibadah kepada Allah ﷻ kian dikuatkan. Dengan kata lain, tidak begitu diperlukan perkara-perkara yang tidak dicontohkan oleh Nabi, sekalipun hal itu sangat lumrah di masyarakat, seperti sibuk memikirkan makanan, pakaian, kendaraan, ataupun kediaman. Sekalipun itu tidak haram jika dilakukan, namun kita kehilangan momentum menutup ramadhan dengan indah.

 

Bagaimana dengan lebaran?

 

            “Apa iya, lebaran kita tanpa ada apa-apanya hanya karena alas an ibadah?

Sebagian wanita mungkin ada yang berpikir semacam itu. Tentu saja tidak perlu dibenturkan ibadah dengan lebaran, baik itu perihal penampilan maupun pernak-pernik lebaran, seperti aneka makanan. Semua mesti dipersiapkan karena saat lebaran biasanya sanak saudara datang bersilaturrahim, tetapi jangan itu yang menjadi headline hidup sehingga ibadah terbengkalai dan semangat ruhiyah berpisah dengan Ramadhan. Apalagi jika terbatas pada kebutuhan pribadi, penampilan misalnya. Maka cukuplah kita mengacu pada tuntunan Islam itu sendiri.

Pertama, pakaian yang digunakan dijamin kebersihannya. Jikapun harus lebih baik dari memomentum biasanya, maka siapkan tanpa harus mengganggu ibadah di akhir Ramadhan. Sebab ada juga anjuran Nabi perihal ini, “Sesungguhnya kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Maka perbaikilah keadaan kendaraan dan pakaian kalian agar kalian tampak mempesona di tengah-tengah manusia, karena sesungguhnya Allah tidak menyenangi kesembronoan.” HR. Abu Dawud.

Kedua, jauhi pakaian yang sama dari umat lain. Abdullah bin Amr bin Al Ash meriwayatkan, “Rasululah pernah melihat dua lembar pakaianku tercelup dengan warna kuning, maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ini termasuk dari pakaian orang kafir, maka janganlah engkau memakainya.” HR. Muslim.

 

Dengan demikian, terang bagi kita bahwa Islam benar-benar mengatur segala hal secara proporsional. Terhadap hal yang dapat meningkatkan kedudukan umat Islam di sisi Allah, Rasulullah ﷺ memberikan keteladanan yang jelas. Bahkan dalam soal penampilan, Islam lebih mementingkan pada sisi yang dapat menjaga dan meningkatkan keharmonisan rumah tangga, bukan pada perkara yang justru tidak jelas, menghabiskan waktu dan biaya. Dan, betapa ironisnya jika itu terjadi justru di akhir Ramadhan. Allahu a’lam

 

Referensi:

  1. Majalah Hidayatullah edisi Juni 2018
  2. https://rumaysho.com/519-perpisahan-dengan-bulan-ramadhan.html
  3. https://rumaysho.com/2747-selamat-jalan-ramadhan.htmlv