Pengaruh Puasa Ramadhan terhadap Diabetes Melitus

Definisi dan patomekanisme diabetes melitus

Diabetes Melitus (DM) atau yang biasa dikenal dengan kencing manis merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme karbohidrat akibat pankreas tidak dapat memproduksi insulin atau dapat memproduksi insulin namun tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif dan juga produksi insulin yang kurang. Insulin merupakan hormon yang mengatur keseimbangan glukosa darah dalam tubuh. Menurut data PERKENI 2015, jumlah penduduk Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 240 juta. Menurut data RISKESDAS 2007, prevalensi nasional DM di Indonesia untuk usia di atas 15 tahun sebesar 5,7%.

Penyakit DM ditandai dengan adanya hiperglikemia dan glikosuria yang disebabkan menurunnya produksi hormon insulin oleh pankreas (Utami, 2003 dalam Nuryati, 2009). Kadar glukosa darah adalah jumlah kandungan glukosa dalam plasma darah. Glukosa darah puasa (GDP) merupakan satu diantara cara untuk mengidentifikasi DM. Pada keadaan ini, gula tidak siap untuk ditransfer ke dalam sel, sehingga terjadi hiperglikemia dan hasilnya glukosa tetap berada di dalam pembuluh darah (Fathmi, 2012). Ketidakseimbangan produksi insulin di dalam tubuh pada DM mengakibatkan aliran glukosa darah tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga anabolisme sel menurun. Selanjutnya terjadi kerusakan antibodi dan penurunan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan gangguan neuropati sensori perifer, yakni penderita jarang atau bahkan tidak merasa sakit saat cedera. Hal ini mengakibatkan terjadinya luka hingga nekrosis (Nurarif & Kusuma, 2016). Prevalensi DM meningkat pada usia dewasa tua (lebih dari 40 tahun) disebabkan oleh perubahan terkait regulasi tubuh, kebiasaan hidup, dan lingkungan yang dapat memicu DM (Marinda, Suwandi, & Karyus, 2016).

Pada DM tipe 2 terjadi resistensi insulin pada lansia akibat (Marinda et al., 2016) :

  1. Perubahan komposisi tubuh, berupa jumlah jaringan lemak bertambah dan jumlah massa otot berkurang yang mempengaruhi penurunan jumlah dan sensitivitas insulin.
  2. Penurunan aktivitas fisik yang menyebabkan penurunan jumlah reseptor insulin.
  3. Perubahan pola makan karena jumlah gigi yang berkurang, sehingga persentase asupan karbohidrat meningkat.
  4. Perubahan pada neuro-hormonal, terutama insulin-like growth factor-1 (IGF-1) dan dehydroepandrosteron(DHEAS) yang berkurang hingga 50% pada lansia, sehingga sensitivitas reseptor insulin dan aksi insulin menurun.

Neuropati perifer menyebabkan sensasi nyeri pada kaki menurun bahkan hilang, sehingga dapat terjadi trauma tanpa terasa dan atrofi otot kaki yang berakibat perubahan titik tumpu dan ulsestrasi pada kaki, sedangkan sumbatan pembuluh darah menyebabkan penderita merasa sakit pada tungkai setelah berjalan pada jarak tertentu. Adanya angiopati mengakibatkan penurunan asupan nutrisi, oksigen, dan antibiotik yang mengakibatkan luka sukar sembuh (Sukarmin, 2016).

Penyakit DM dapat berdampak pada multi organ, seperti mata, saraf, ginjal, jantung, kulit, otak, dan eksremitas dengan komplikasi yang sering dialami, yaitu ulkus diabetik. Kejadian ulkus kaki diabetik sebesar 15% dan penderita luka kaki diabetik memiliki risiko kematian dini sebesar 25% (Astrada, 2014; Santy, n.d.). Diperkirakan pada tahun 2045, penderita DM yang mengalami gangguan pada mata, jantung, ginjal, saraf, dan kaki mencapai 700 juta orang. Sekitar 10% hingga 15% kejadian DM akan berkembang menjadi diabetic foot ulcer (DFU) dengan prevalensi sebesar 25% dari DM kurang terkontrol atau tidak terdiagnosis (IDF, 2017, 2017; Kumar & Clark, 2012).

DFU merupakan komplikasi DM yang paling serius dan mahal. Lambatnya penanganan DFU mengakibatkan keparahan luka yang berdampak pada infeksi, ganggren, amputasi, bahkan kematian, sehingga DFU menjadi tantangan kesehatan global terkait beban ekonomi dan sosial (IDF, 2017; Yazdanpanah, Nasiri, & Adarvish, 2015). Frekuensi DFU pada penderita DM sebesar 17,4% dan amputasi sebesar 16,2% yang meningkat 15 kali lebih tinggi daripada tanpa DM. Lebih dari 85% amputasi berawal dari ulkus, terutama DFU dengan kasus 1 amputasi setiap 20 detik pada suatu tempat di dunia. Risiko kematian penderita DM meningkat lebih dari 45% (Acker, 2015; Dòria et al., 2016; IDF, 2017; Yazdanpanah et al., 2015).

 

Apa itu puasa Ramadhan?

Puasa berasal dari bahasa Arab yaitu “Shaumu” yang berarti menahan dari segala sesuatu, seperti menahan tidur, menahan berbicara, menahan makan-minum, dan sebagainya. Menurut istilah dalam agama Islam, puasa berarti menahan diri daripada hal-hal yang membatalkannya, selama satu hari lamanya mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat. Di dalam agama Islam, berdasarkan hukumnya puasa terbagi menjadi empat macam, yaitu: puasa wajib (Ramadhan, kifarat, nazar), puasa sunnah (senin-kamis, ayyaumul bidh, arafah), puasa makruh, dan puasa haram (hari raya idul Fithri, hari raya Haji, dan tiga hari sesudah hari raya Haji) (Rasjid, 1976).

Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari lima komponen dalam rukun Islam. Perintah untuk melaksanakan puasa Ramadhan turun pertama kali pada tahun kedua Hijrah, yaitu tahun kedua sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Perintah puasa ini turun dengan hukum wajib (fardhu ‘ain) atas tiap-tiap muslim yang telah baligh dan berakal (mukallaf) (Rasjid, 1976).

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya:

Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

Puasa Ramadhan dilaksanakan mulai pada tanggal 1 Ramadhan, selama satu bulan penuh (29 atau 30 hari) (Rasid, 1976).

Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kamu sewaktu melihatnya (bulan Ramadhan) dan berbukalah kamu sewaktu melihatnya (bulan Syawal), maka jika ada yang menghalangi sehingga bulan tidak terlihat, hendaklah kamu sempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh hari (H.R. Bukhori).

 

Manfaat puasa Ramadhan bagi penderita DM

Manfaat puasa Ramadhan bagi kesehatan dapat disimpulkan dari sebuah penelitian metaanalisis oleh Patterson dkk. (2016) “Intermittent Fasting and Human Metabolic Health”. Intermittent fasting merupakan konsep diet puasa berselang dengan batasan waktu selama 16 jam. Puasa ini hanya membatasi makan dan tidak membatasi minum. Sedangkan puasa Ramadhan adalah kewajiban umat Islam untuk menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga matahari terbenam, dilaksanakan setiap hari selama 1 bulan Hijriah. Puasa Ramadhan ini dapat dikategorikan sebagai prolonged intermittent fasting yang durasinya bervariasi sekitar 11-20 jam bergantung pada letak geografis dan iklim suatu negara. Berdasarkan 35 penelitian sebelumnya didapatkan hasil yang sama bahwa puasa Ramadhan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh manusia. Adapun pengaruh terbesar yang terjadi berupa penurunan berat badan selama bulan puasa Ramadhan pada semua kelompok umur dan jenis kelamin. Pada 30 penelitian lainnya didapatkan terjadinya penurunan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) dan glukosa darah puasa pada semua kelompok dibandingkan dengan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Selain itu juga terjadi peningkatan kadar HDL (High Density Lipoprotein) pada wanita dan penurunan kadar kolesterol (Patterson dkk., 2016).

Pada penelitian Patterson dkk. juga didapatkan beberapa hipotesis mengenai pengaruh puasa terhadap mekanisme regulasi metabolik tubuh manusia. Pengaruh regulasi metabolik tersebut meliputi: Irama sirkadian, mikroorganisme lambung, dan perilaku gaya hidup yang dapat dimodifikasi. Berpuasa dapat mengembangkan irama sirkadian manusia dengan mengatur jam makan, sehingga dapat menurunkan risiko kegemukan, penyakit jantung, dan kanker. Kondisi lambung manusia pada saat berpuasa tentu akan berbeda dengan keadaan saat tidak berpuasa, di mana pada pengosongan lambung dan aliran darah lebih besar pada siang hari daripada di malam hari, serta respon metabolik terhadap beban glukosa lebih lambat di malam hari daripada di pagi hari. Aktivitas berpuasa ternyata juga dapat mempengaruhi perilaku atau gaya hidup manusia, mulai dari perilaku makan, beraktivitas, dan tidur. Pada saat berpuasa terjadi perubahan perilaku makan, dimana hanya diperbolehkan saat berbuka hingga sahur. Perubahan ini mengakibatkan berkurangnya konsumsi energi, sehingga orang yang berpuasa dapat mengalami penurunan berat badan. Pembatasan waktu makan tersebut juga berdampak pada aktivitas manusia, dimana terdapat peningkatan aktivitas dan pengeluaran energi. Dan terakhir pengaruhnya terhadap pola tidur, pola tidur ini berkaitan dengan irama sirkadian. Durasi dan kualitas tidur yang baik dapat terjadi apabila pengaturan makan (tidak terlalu larut malam) selama berpuasa dilakukan dengan baik (Patterson dkk., 2016).

Pada penderita DM tipe 2, puasa Ramadhan dapat berpengaruh terhadap penurunan berat badan dan penurunan kadar glukosa darah sewaktu. Mereka yang berpuasa selama 30 hari ternyata memiliki kadar gula sewaktu yang terkontrol dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan bukan merupakan kontraindikasi pada penderita DM tipe 2 (Yosephine dkk., 2002).

 

Tips puasa sehat bagi penderita DM

Bagi penderita diabetes melitus, kegiatan puasa Ramadhan akan mempengaruhi kendali glukosa darah akibat perubahan pola dan jadwal makan serta aktivitas fisik. Pasien diabetes sering tetap ingin berpuasa meskipun secara medis tidak memungkinkan. Peranan dokter, sekali lagi, bukan sebagai pemberi fatwa apakah seseorang pasien boleh berpuasa atau tidak. Dokter hanya berperan memberikan pandangan dan panduan mengenai dampak puasa terhadap kondisi medis pasien dan bagaimana mengurangi risiko komplikasi (Firmansyah, 2016). Pertimbangan medis terkait resiko serta tatalaksana DM secara menyeluruh harus dikomunikasikan oleh dokter kepada pasien DM dan atau keluarganya melalui kegiatan edukasi.

Berpuasa dalam jangka waktu yang lama akan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi akut seperti hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetikum, dan dehidrasi atau thrombosis. Risiko tersebut terbagi menjadi risiko sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah. Risiko komplikasi tersebut terutama muncul pada pasien diabetes melitus dengan resiko sedang sampai sangat tinggi (PERKENI, 2015).

 

Tabel 1. Kategori Risiko Terkait Puasa Ramadhan pada Pasien DM Tipe 2 (Al-Arouj et al, 2010)

Risiko sangat tinggi pada pasien:

·         Hipoglikemi berat dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadhan.

·         Riwayat hipoglikemi yang berulang.

·         Hipoglikemi yang tidak disadari (unawareness hypoglycemia).

·         Kendali glikemi buruk yang berlanjut.

·         DM tipe 1.

·         Kondisi sakit akut.

·         Koma hiperglikemi hiperosmoler dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadhan.

·         Menjalankan pekerjaan fisik yang berat.

·         Hamil.

·         Dialisis kronik.

Risiko tinggi pada pasien dengan:

·         Hiperglikemi sedang (rerata glukosa darah 150–300 mg/dL atau HbA1c 7,5–9%).

·         Insufisiensi ginjal.

·         Komplikasi makrovaskuler yang lanjut.

·         Hidup “sendiri” dan mendapat terapi insulin atau sulfonilurea.

·         Adanya penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko.

·         Usia lanjut dengan penyakit tertentu.

·         Pengobatan yang dapat mengganggu proses berpikir

Risiko sedang pada pasien dengan:

·         Diabetes terkendali dengan glinid (short-acting insulin secretagogue).

Risiko rendah pada pasien dengan:

·         Diabetes “sehat” dengan glikemi yang terkendali melalui;

ü  terapi gaya hidup,

ü  metformin,

ü  acarbose,

ü  thiazolidinedione,

ü  penghambat ensim DPP-4

 

Selain pengenalan risiko tersebut, penting bagi pasien untuk mengetahui kelompok pasien diabetes melitus yang boleh dan tidak boleh (tidak dianjurkan) berpuasa. Berikut akan dijelaskan dalam tabel 2.

Tabel 2. Kelompok Pasien DM yang Boleh dan Tidak Boleh (Tidak Dianjurkan) Berpuasa (Subekti, 2006)

Kelompok I
Pasien DM yang kadar glukosa darahnya terkontrol dengan perencanaan makanan dan olah raga saja. Dapat berpuasa tanpa masalah dengan tetap

memperhatikan pengaturan makan dan aktivitas fisik.

Kelompok II

Pasien DM yang selain melaksanakan perencanaan makan dan olah raga juga memerlukan obat hipoglikemik oral (OHO) untuk mengontrol kadar glukosa darahnya.

IIa Membutuhkan dosis tunggal dan kecil, misalnya glibenklamid 1 x 1 tablet sehari, pagi

 

Boleh berpuasa dengan menggeser obat pagi ke sore saat berbuka puasa.

 

IIb Membutuhkan OHO dengan dosis lebih tinggi dan terbagi, misalnya glibenklamid pagi 2 tablet dan sore 1 tablet.

Jika minum obat 3 kali sehari.

 

Dapat berpuasa dengan menggeser obat pagi ke saat berbuka dan obat sore ke saat makan sahur dengan dosis setengahnya.

erpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

erpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

Berpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

Berpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

Berpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan sahur dengan dosis setengahnya.

 

Kelompok 3

Pasien DM yang selain perencanaan makan dan olahraga juga membutuhkan / tergantung insulin atau kombinasi dengan OHO.

IIIa Membutuhkan insulin satu kali sehari.

Misalnya NPH 20U 1 x sehari.

 

Dapat berpuasa dengan motiviasi yang kuat dan harus dengan pengawasan yang ekstra ketat. Suntikan insulin digeser ke saat berbuka.

 

IIIb Membutuhkan insulin dua kali sehari atau lebih sehari.

Misalnya RI 3 x 12 U sehari.

 

Tidak dianjurkan berpuasa karena dianggap kadar glukosa darah tidak stabil.

 

IIIc Membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin satu kali sehari.

 

Boleh berpuasa dengan pengaturan OHO seperti kelompok II dan suntik insulin saat berbuka.

 

IIId Membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin dua kali sehari atau lebih.

kali sehari atau lebih.

 

Tidak dianjurkan berpuasa karena dianggap kadar glukosa darah tidak stabil.

glukosa darah tidak stabil.

 

 

 

Berdasarkan penjelasan tersebut, penting untuk pasien memperhatikan ibadah puasa yang dikerjakan apakah dapat mengganggu kesehatan pasien. Jika pasien tetap berkeinginan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan, maka ada beberapa tips yang harus diperhatikan: (PERKENI, 2015)

  1. Satu-dua bulan sebelum menjalankan ibadah puasa, pasien diminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh meliputi kadar glukosa darah, tekanan darah, dan kadar lemak darah, sekaligus menentukan resiko yang akan terjadi bila pasien tetap ingin berpuasa.
  2. Pasien diminta untuk memantau kadar glukosa darah secara teratur, terutama pertengahan hari dan menjelang berbuka puasa.
  3. Jangan menjalankan ibadah puasa bila merasa tidak sehat.
  4. Harus dilakukan penyesuaian dosis serta jadwal pemberian obat hipoglikemik oral dan atau insulin oleh dokter selama pasien menjalankan ibadah puasa.
  5. Mengatur porsi makanan sesuai dengan kebutuhan energi sebagai berikut:

Energi basal laki-laki = 30 kkal * BB

Energi basal perempuan = 25 kkal * BB

Pembagian porsi makanan berupa:

Karbohidrat  : 45-65 % total energi per hari

Protein : 10-20 % total energi

Lemak : 20-25% total energi

  1. Hindari melewatkan waktu makan atau mengkonsumsi karbohidrat atau minuman manis secara berlebihan untuk menghindari terjadinya hiperglikemia post prandial yang tidak terkontrol. Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi karbohidrat kompleks saat sahur dan karbohidrat simple saat berbuka puasa, serta menjaga asupan buah, sayuran dan cairan yang cukup. Usahakan untuk makan sahur menjelang waktu imsak (saat puasa akan dimulai).
  2. Hindari aktifitas fisik yang berlebihan terutama beberapa saat menjelang waktu berbuka puasa.
  3. Puasa harus segera dibatalkan bila kadar glukosa darah kurang dari 60 mg/dL (3.3 mmol/L). Pertimbangkan untuk membatalkan puasa bila kadar glukosa darah kurang dari 80 mg/dL (4.4 mmol/L) atau glukosa darah meningkat sampai lebih dari 300 mg/dL untuk menghindari terjadi ketoasidosis diabetikum.
  4. Selalu berhubungan dengan dokter selama menjalankan ibadah puasa.

Semoga tipsnya bermanfaat J

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Rouj M, et al. 2010. Recommendations for Management of Diabetes During Ramadhan. Diabetes Care (33):1895 -1902.

Acker, K. Van. (2015). Diabetic Foot Disease: When The Alarm to Action is Missing. IDF. Retrieved from https://www.idf.org/e-library/diabetes-voice/issues/46-july-2015.html?layout=article&aid=296

Astrada, A. (2014). Faktor-Faktor yang Memengaruhi Terjadinya Luka Kaki Diabetik pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Balai Pengobatan san Spesialis Perawatan Luka, Stoma, dan Inkontinensia “Kitamura” Pontianak pada Tahun 2014. Pontianak.

Dòria, M., Rosado, V., Pacheco, L. R., Hernández, M., Betriu, À., Valls, J., … Mauricio, D. (2016). Prevalence of Diabetic Foot Disease in Patients with Diabetes Mellitus under Renal Replacement Therapy in Lleida, Spain. BioMed Research International. https://doi.org/10.1155/2016/7217586

Fathmi, Ain. 2012. “Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Glukosa darah pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar”. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta. Skripsi S1.

Firmansyah M.A. 2016. Tata Laksana Diabetes Melitus saat Puasa Ramadhan. Contiuning Medical Education-204 (40)5.

IDF. (2017). IDF Launches Clinical Practice Recommendations on the Diabetic Foot. Retrieved November 23, 2017, from https://www.idf.org/news/48:idf-launches-clinical-practice-recommendations-on-the-diabetic-foot.html

IDF. (2017). IDF New IDF figures show continued increase in diabetes across the globe, reiterating the need for urgent action. Retrieved November 23, 2017, from https://www.idf.org/news/94:new-idf-figures-show-continued-increase-in-diabetes-across-the-globe,-reiterating-the-need-for-urgent-action.html

Kumar, P., & Clark, M. (2012). Kumar & Clark’s Clinical Medicine (Eight). London: Elsevier Health Science.

Marinda, F. D., Suwandi, J. F., & Karyus, A. (2016). Tatalaksana Farmakologi Diabetes Melitus Tipe 2 pada Wanita Lansia dengan Kadar Gula Tidak Terkontrol Pharmacologic Management of Diabetes Melitus Type 2 in Elderly Woman with Uncontrolled Blood Glucose. J Medula Unila, 5(2), 26–32.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan Penerapan Diagnosa Nanda, NIC, NOC dalam Penerapan Berbagai Kasus. (N. H. Rahil, Ed.) (Revisi Jil). Yogyakarta: Mediaction Publishing.

Nuryati, Siti. 2009. “Gaya Hidup dan Status Gizi Serta Hubungannya Dengan Hipertensi dan Diabetes Melitus Pada Pria Dan Wanita Dewasa di Dki Jakarta”. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Tesis S2.

Patterson, RE, dkk. 2016. Intermittent Fasting and Human Metabolic Health. J Acad Nutr Diet. California. 115(8): 1203-12

PERKENI. 2015. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2015. Jakarta: Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI).

Rasid, Sulaiman. 1976. Fikih Islam. Jakarta: Attahiriyah

Santy, W. H. (n.d.). Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) for The Management of Diabetic Foot Wound.

Subekti I. 2006. Berpuasa bagi pasien diabetes. Dalam: Syam AF, Setiati S, Subekti I. Tips Berpuasa Ramadhan pada Berbagai Penyakit Kronis. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 27-37.

Sukarmin. (2016). Hubungan Latihan Mobilisasi Kaki dengan Tingkat Penyembuhan Luka Ulkus Diabetik pada Pasien Diabetes Mellitus di Puskesmas Welahan 2 Kabupaten Jepara. Jurusan Keperawatan STIKES Muhammadiyah Kudus, 303–309.

Yazdanpanah, L., Nasiri, M., & Adarvish, S. (2015). Literature Review on The Management of Diabetic Foot Ulcer. World Journal of Diabetes, 6(1), 37. https://doi.org/10.4239/wjd.v6.i1.37

Yosephine, dkk. 2002. Pengaruh Puasa selama Ramadhan terhadap Status Klinik Penderita Diabetes Miletus Tipe 2. Jurnal Kedokteran Trisakti. Jakarta. 21(2): 47-