Sampaikan Salamku untuk Ramadhan Tahun Depan

RAMADHAN 1437 H

Manusia yang bertanggung jawab tidak akan pernah ingkar pada janjinya. Ia akan memberikan yang terbaik bagi orang yang disayanginya. Mungkin, begitu pula sikap yang harus kita tunjukkan pada Allah. Bukankah setiap manusia berhutang tauhid hanya pada Allah? Ketidaktenangan adalah perasaan yang akan hinggap dalam setiap jiwa yang berhutang. Maka, sudah semestinya bagi setiap Muslim untuk mencapai ketenangan jiwanya, maka ia harus memberikan yang terbaik di hadapan Allah, mencintaiNya dengan sebaik-baik pembuktian

 

Baris terkahir penulisan bukuku sudah selesai. Minggu depan insyaAllah masuk tahap editing. Malam ini, lorong di RS PKU Muhammadiyah sudah sangat sepi, hanya ada perawat shift malam yang masih berjaga dan mondar-mandir. Aku masih menunggu ibu yang tidak kian datang membawa kantung darah untuk Ayah.

“Mbak nia. Bisa bantu aku nenangin bapak?”, kata Ardi adik lelakiku.

“Bapak kenapa dek?”tanyaku panik

Ayahku adalah seorang penderita gagal ginjal. Beliau sudah cuci darah selama 9 bulan. Tapi sayang, aku terlalu lalai dan sibuk mengurusi kehidupanku sebagai mahasiswi kedokteran yang (mengaku) seorang aktivis. Aku gagal merawat ayah, beliau harus dirawat di Rumah sakit selama 4 bulan karena edema pulmo dan anemia berat. Dan sekarang, penyakitnya sudah merambat ke jantung dan otak. Hasil rontgen terakhir yang kubaca terlihat sekali jantungnya sudah membesar. Sesak nafasnya pun semakin tak terkendalikan. Beliaupun jadi sering marah-marah. Bicara nya ngelantur kemana-mana. Aku seperti tidak kenal dengan Ayahku yang sekarang. Malam itu aku kaget ketika masuk kamar, karena Ayah melepas infusnya secara paksa dan darah mulai bercucuran.

“Astaghfirullahaladzim. Dek Ardi panggil suster!!”

“Pergiii!! Kamu bukan anak bapak!!! teriak bapak membuat seisi ruang gusar.

Sungguh sejujurnya aku sudah tak kuat menahan air mata atas kalimat yang bapak lontarkan tadi. Tak lama kemudian, ibu datang membawa kantung darah untuk tranfusi dan sayur untuk makan sahur.

“Ibu, tadi bapak nekat melepas infusnya.”, ceritaku pada ibu sambil melahap makanan sahurku

“Iya, tadi dek Ardi sudah cerita”, jawab ibu sambil menyiapkan minum untukku

“Maafin nia ya buu”, sejenak aku berhenti melahap santap sahurku

“Tadi suster bilang, untuk mengantisipasi itu. Mungkin kedepannya satu tangan bapak akan diikat”, kata ibu sambil meneteskan air mata

“Astaghfirullah, tapi bapak kan nggak gila”, jawabku dengan wajah tidak terima

Ibu pun hanya menangis dan memelukku erat. Waktu sahur hingga shubuh aku pakai untuk tilawah dan ziyadah di dekat telinga Ayah. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00.     “Bapak, nia kuliah dulu ya”, bisiku ke telinga bapak

“Nia, Bapak minta maaf ya kemarin”

“Alhamdulillah, iya paak. Bapak cepet sembuh yaa”, jawabku sambil menangis

“Kamu naik bst ya? Ada ongkosnya?”Tanya bapak dengan wajah berseri

“Iya pak, ada insyaAllah”

“Maafin bapak juga yaa, belum bisa belikan kamu sepeda motor. Jadi kamu harus capek seperti ini”, kata bapak sambil menatapku

“Bapak, nggak usah dipikirin. Nanti biar Allah yang kasih langsung motornya ke Nia. Bapak nggak usah mikir itu. Yang penting bapak sehat. Nia buat lomba sama adek-adek. Pokoknya yang Ramadhan tahun ini hafalannya nambah paling banyak dapat hadiah langsung dari Allah. Jadi aku minta motornya langsung sama Allah Pak. Doain aja aku yang menang yaa”

“Kamu memang kakak yang baik, Nak. Terus seperti ini ya. . .”, jawab Ayah sambil memelukku.

——————————————————————————————————————

Pagi itu aku berangkat ke kampus pagi sekali. Jam 06.30 aku sudah sampai di masjid Rahmi FK UNS. Di bulan Ramadhan ini, SKI FK UNS punya program “Ramadhan Bersemi”, salah satu kegitannya adalah tilawah pagi 1 juz. Dan kebetulan bidangku Nisaa yang bertugas piket. Setelah itu aku pergi ke kelas untuk persiapan kuliah. Pukul 08.15, dosen tak kunjung datang. Tanda-tanda akan ada kuliah pengganti. Beberapa dari kami ada yang mengisi waktu untuk mengejar target ramadhan dengan tilawah. Senang sekali melihatnya, rasanya kelas menggema dengan suara Qur’an. 1 jam berlalu, ternyata benar, dosen yang akan memberi kuliah ada miss komunikasi, jadi kelasku terpaksa harus mengatur ulang jadwal pengganti.

“Yaaah, udah perjalanan ke kampus 30 menit, dosennya nggak dateng lagi:, gerutu teman sebelahku

“Kamu mau balik nggak di?”, Tanya salah satu kawan kepadaku berniat memberi tumpangan ke gerbang depan

“Aku sendiri aja nggak papa fid, aku mau ke histologi dulu untuk persiapan mengampu pratikum besok”.

 

(Tiba-tiba hp ku bergetar)

“Halo asssalamualaikum”

“Waalaikumusalam, ada apa bu?”, jawabku

“Bapak masuk ICU dek.”, kata ibu dengan isak tangisnya

“Innalilahi . . .Nia langsung kesana bu”

“Jangan nak, disini sudah ada yang jaga. Kamu selsaikan dulu tahfidzmu baru nanti pulang. Jangan lupa doakan ibu bapak ya. Jangan lupa juga beli buka, jangan irit-irit”, jawab ibuku menenangkan

“Iya bu. Ibu juga ya”, timpalku sambil menutup telepon.

 

Aku pun berangkat tahfidz dan tak terasa sudah menunjukkan pukul 17.15

“Ustadzah, nia pulang duluan yaa. Takut nggak dapat bst”, sambil mencium tangan ustadzah

“Loh, buka disini dulu aja nduk.”, kata ustadzah sambil menahan tanganku

“Waduh ndak usah repot ust, saya buka di jalan saja”,elakku lembut

“Eh ora-ora. Ini tak bawakan saja minum dan makannya”,sambil membawakan sebungkus plastik berisi es teh dan nasi bungkus.

“Matur suwun ustadzah”, jawabku smabil menerima pemberian ustadzah

 

Aku pun pergi berjalan meninggalkan markas manarul menuju ke halte di gerbang depan kampus. Adzan magrib sudah berkumandang, tapi bst tidak ada yang lewat. Kalau 10 menit lagi belum lewat, aku harus cari masjid terdekat dulu. Dan Alhamdulillah, tak lama kemudian, ada angkot lewat.

“Mau kemana mbak?”, Tanya abang angkot padaku

“Ke RS PKU Pak”, jawabku gelisah

“Waah, wis ora ono bst mbak. Numpak angkot wae”,bujuk pak angkot

Aku pun naik ke angkot itu, walaupun resikonya aku harus oper lagi.

“Kok pulangnya malem-malem mbak?  Kalau pulang jam segini, sudah ndak ada bst”, kata bapak angkot sambil menasihatiku bahwa tidak baik perempuan pulang malam

“Iya pak, tadi ada urusan sebentar”, jawabku dengan sungkan

“Saya sudah nggak narik lagi malam ini mbak. Saya antar saja lamgsung  ke depan PKU”, kata pak angkot dengan nada ramah

“Alhamdulillah, makasih banyak Pak”, jawabku. Allahuakbar . . .rasanya seperti ditolong langsung sama Allah

 

Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung sholat magrib dan menemui ibu di ruang ICU.

“Minta maaf sama bapak nduk”, tegur ibu padaku

Tubuhku rasanya terpaku melihat keadaan ayah yang semakin memburuk, bahkan sekarang untuk bernafas beliau harus dibantu ventilator.

“Bapak . . .Assalamualaikum”, bisik ku ke telinga Ayah

“Ini nia pak”,kataku yang sudah tak sanggup lagi membendung tangis

“Bapak minta maaf ya Nak. Maafkan bapakmu ini yang mungkin akan melanggar janji menemanimu hingga sumpah dokter nanti. Maafin juga bapakmu ini yang belum bisa belikan motor”

“Astaghfirullah. Jangan bicara gitu Pak, bapak pasti sembuh. Bismillah bapak pasti sembuh”, kataku sambil menenangkan Ayah

“Nak, bacakan bapak hafalanmu yang tadi kamu setorkan. Bapak mau dengar”, pinta Ayahh padaku

“Iya paak. . .”

Seusai aku membacakan quran. Bapak pun memelukku dan berkata dengan terengah-engah

,           “Kejar lailatul qodar ya Nak, doakan bapak ibu mu ini. Sampaikan salam bapak untuk ramadhan tahun depan”

Allah SWT sudah terlampau rindu dengan hambanya yang satu ini. Ayah meninggal malam itu. Sungguh ramadahan tahun itu, adalah ramadhan yang tak kan pernah kulupakan hingga sekarang.

 

Keesokan harinya, ada sepasang suami istri. Seorang dokter spesialis di RS Moewardi.. Mereka datang untuk mengucapkan belasungkawa dan memberikan sebuah hania yang Allah titipkan. Sebuah sepeda motor yang selalu kusebut di doa-doaku, hari ini diijabah oleh Allah tepat 1 hari setelah kepulangan Ayah. Adik-adikku pun langsung memeluk dan berkata, “Aku tau siapa yang menang di lomba kemarin mbak. Aku tau siapa yang dapet hania dari Allah”

 

Aku pun berbisik dalam hati, “Ya Allah terimakasih atas hania indah di bulan suci ini, aku

akan selalu ingat nasihat Ayah bahwa Allah sesuai prasangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan. Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik dari poada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. Semoga aku bisa menyampaikan salam Ayah untuk Ramadhan tahun depan dan semoga aku bisa memberikan amal terbaik di sisa Ramadhan yang harus berakhir tanpa Ayah.

 

RAMADHAN 1438 H

Bahkan yang terlihat kuatpun harus ada yang menguatkan. Bahkan yang terlihat bersemangatpun harus tetap disemangati. Bahkan yang dianggap paham pun harus tetap dipahmkan karena itulah Allah menjadikan Nabi Harun penguat Nabi Musa. Saudaramu, amanahmu. Minimal jaga dia dalam doa-doa di ujung sajadahmu.

 

Alhamdulillah Ayah, aku sampai di Ramadhan 1438 H. Salam ayah sudah kusampaikan. Semoga Ramadhan kali ini, bisa menjadi Ramdhan terbaik Nia, bisik ku dalam hati. Sejujurnya ini adalah ramadhan tersulit karena harus dilewati bersamaan dengan berbagai macam ujian blok, osce dan kawan kawannya. Alhamdulillah ada sahabat dan adik-adikku yang selalu membuatku terpacu untuk melakukan kebaikan.

“Mbak, di hari ke 4 Ramdhan ini aku udah khatam loo. Masak mbak yang hafidzah kalah sama aku”

“MasyaAllah, aku pun jadi semakin terpacu untuk berfastabiqul khoiroot. Ramadhan terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi belum tentu aku dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.”

 

(HP ku bergetar)

“Assalamu’alaikum. Benar dengan mbak nia?”, sapa seorang perempuan dengan nada lembut

“Waalaikumusalam. Iya dengan siapa ya?”, jawabku

“Saya Ekalia mbak. Saya dapat kontak njenengan dari ustadzah mu’minah.”

“Oiya, ada apa mbak?”

“Begini mbak nia, untuk ramadhan tahun ini taman bermain Maya Ananta di RS. Moewardi akan ada TPA setiap senin-jumat. Dan kebetulan kita kekurangan pengajar. Ustadzah mu’minah yang merekomendasikan antum mbak”

“Maya Ananta?”, tanyaku dengan nada sedikit ragu

“Iya, itu taman bermain untuk anak-anak kanker mbak”

“MasyaAllah . . . .insyaAllah saya usahakan. Tapi saya hanya bisa hari senin dan kamis saja. Bagaimana mbak?”, balasku dengan tertegun akan adanya agenda TPA yang mulia itu

“Ogitu ya mbakk, oke ndak apa”

 

Sore ini, aku langsung bisa berkunjung ke Maya Ananta untuk belajar quran bersama anak-anak penderita kanker. Ada satu anak khusus yang harus aku sendiri yang mendatangi ke kamarnya, karena ia baru saja selesai di kemoterapi. Jadi belum beoleh kemana-mana. Tapi karena semangatnya kuat, maka aku yang akan mendatanginya.

“Assalamualaikum”, sapaku kepada penghuni kamar

“Waalaikumusalam. Kakak pasti Kak Nia ya”, jawab seorang anak dengan rambut botak yang terlihat puscat sekali

“Iyaa, kok kamu tau? Namamu siapa?”, timpalku padanya

“Aku suka baca buku kakak tentang perjuangan kakak mengahafal quran dan merawat Ayah. Namaku Afsya”, jawab ia dengan senyum cerah seakan bukan penderita kanker

“MasyaAllah kamu baca bukunya?”, tanyaku dengan wajah kagum

“Aku boleh minta tanda tangan nggak kak?”, sambil menyodorkan buku kepadaku

“Boleh. . . .Asalkan kita tilawah dulu yaa”

 

Seusai tilawah, Afsya pun meneteskan air mata. Dan ia memberiku pesan yang masih terngiang hingga sekarang. “Sedih sekali kak rasanya harus berbaring di kasur ini. Aku ingin sekali bisa bermanfaat untuk banyak orang, aku ingin sekali bisa kuat baca ber juz-juz setiap harinya. Aku heran, kenapa orang yang diberi nikmat sehat masih saja menduakan ramadhan dengan hal duniawi lain. Kak, temani aku mengkhataman quran ku ya”

“InsyaAllah Afsya. Kita luruskan niat kita untuk-Nya ya”, jawabku sambil menangis mengingat segala nikmat yang kadang aku lupa untuk mensyukurinya

“ Oiya aku juga lagi nulis buku kak, nanti kalau Allah lebih dulu memanggilku sebelum buku ini selsai. Tolong lanjutkan ya. Aku percaya kakak penulis hebat.”, kata Afsya sambil memberikan rancangan bukunya padaku dengan judul Sampaikan Salamku untuk Ramdhan Tahun Depan

Aku sanagt kaget membaca judul rancangan buku itu. Karena itu adalah kalimat terkahir yang Ayah ucapkan sebelum meninggal. Qadarullah. Afsya pun meninggal tepat setelah ia khatamkan  bacaan qurannya. Di hari ke 20 Ramadhan. Aku baru saja ingin berpamitan untuk i’tikaf dan tidak mengajarnya di penghujung ramdhan. Tapi Allah berkehendak lain, ia lebih dahulu berpamit untuk selamanya. Semoga Allah menerima segala amalnya. Dan semoga aku juga berkesempatan untuk menyampaikan salamnya untuk ramadhan tahun depan.

 

Tulisan ini adalah kisah nyata dan didedikasikan untuk 2 orang yang telah mengingatkan saya bahwa teman terbaik tak akan berubah. Teman sejati yang ada disamping kita tetaplah kematian. Tak kan disangka apakah salam untuk ramadhan selanjutnya tersampaikan. Semoga dengan mengingat kematian, tak ada lagi amal yang dirasa cukup untuk Ramadhan yang akan berakhir ini. Dan Semoga tahun depan kita masih bisa menyambut dan mengakhiri ramadhan dengan sebaik baiknya kemenangan.

 

29 Ramadhan 1438

 

Diah Kurniawati

Jikalah Ini Ramadhan Terakhirku, Maka Aku Ingin Mengarunginya Bersamamu

Sore yang indah, ufuk barat mulai memancarkan pesona, membuai kedamaian, dan memanja senja dengan keelokan mentarinya. Peluhku mulai menguap, mungkin beranjak menuju sang surya bersama kawanan angin yang berterbang ria. Namun tak begitu lama, pemandangan itu sirna ditelan masa. Pergi menjauh bagai kekasih yang tak setia. Ia pergi tanpa pesan, dan hanya menyisakan kegelapan. Inikah fatamorgana? Memikat jiwa-jiwa pencinta dunia, padahal ia hanya sementara. Sungguh dunia ini hanyalah fana yang berdusta, terasa lama, tapi ternyata bagaikan suatu pagi atau sore saja dibanding akhirat sang keabadian masa.

Hasan. begitulah orang-orang memanggilku. Hasan Al-Fatih, nama yang sangat baik dan mengisyaratkan harapan kebaikan dari pemiliknya. Dulu ayahku adalah orang yang pandai membaca al-Quran, rajin mengikuti pengajian, bahkan yang diadakan mesjid-mesjid kampung sebelah pun ia datangi. ia begitu berwibawa dan bersahaja, berakhlak mulia dengan kesantunan tiada tara. Tak heran ia memberiku nama yang megah ini. Ayah terkagum pada sosok penakluk Konstantinopel yang perjuangannya membawa ia pada derajat sebaik-baik pemimpin sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

Aku adalah anak satu-satunya, sepeninggal ayah tiga belas tahun lalu, ibu memilih untuk tidak menikah lagi, lalu fokus membesarkanku. Sepertinya, ibu adalah bidadari tanpa sayap yang Alloh karuniakan terkhusus untukku, ia adalah madrasah pertama dalam kehidupanku. Ia berani mengambil peran ganda, sebagai ibu yang penuh kasih sayang, lalu menopang tugas ayah mencari nafkah.

Usianya beranjak senja, sinar matahari yang sedari dulu menaunginya saat bekerja mengeringkan ikan asin di lapangan pinggir pantai, kini tega mengurai ikatan-ikatan peptida protein lensa bola mata ibunda. Katarak telah merenggut jendela dunianya. Aku pilu, sedih dan sendu, menyaksikan kesulitan ibuku menghadapi hari-hari tanpa semburat sinar pembeda merah dan biru.

Sejak ibu terserang penyakit ini, akulah yang menggantikan tugasnya mencari sepeser uang. Taruhannya terasa berat bagiku, karena aku harus menggadaikan masa depanku. Selain tidak ada uang, aku juga tidak ada waktu untuk melanjutkan sekolah di jenjang SMA karena tersibukkan mencari penghasilan.

Aku hanya lulusan SMP, pekerjaanku sesuai dengan jerih payah pendidikan yang sempat aku kenyam. Sepeda ontel warisan ayah, kugunakan untuk mencari rupiah kehidupan. Berkeliling setiap hari, dari pagi hingga sore menghampiri mengitari kampung demi kampung di kecamatan kami. Berteriak lantang melengking menawarkan ikan-ikan laut hasil tangkapan para nelayan.

Hingga saat ini, ibu tidak mengizinkanku berperang dengan ombak di lautan, ia tak mau jika aku menjadi nelayan. Ia trauma berat pada kisah ayahku yang akhir hayatnya harus dipeluk samudra biru. Perahu tua yang ia tunggangi, tiba-tiba kalah dengan gejolak ombak yang berpesta di lautan. Berhari-hari jasad beliau sulit ditemukan, tim SAR sudah dikerahkan, tapi barulah pada hari ketiga sosok ayahku menepi di Pantai Pangandaran.

Aku memang tidak lagi belajar di sekolah formal, tapi ibu tak pernah alfa mengingatkanku untuk mampir ke pengajian-pengajian mesjid sebagaimana ayahku dulu. Ia tahu bahwa ilmu agama adalah yang utama. Namun ada satu hal yang belum ibuku tahu, yaitu bahwa anaknya mulai dewasa. Ia masih memperlakukanku layaknya anak SD yang manja menahun. Ibu sangat menyayangiku, tapi itu bukanlah hal aneh, karena memang hanya akulah satu-satunya teman hidup ibu di rumah gubuk kami.

Usiaku sudah menginjak dua puluh tahun, beberapa temanku melanjutkan sekolah bahkan sampai kuliah, tapi mayoritas mulai belajar mencari rezeki bersama ayah-ayah mereka di laut sebagai nelayan. Teman-teman perempuanku banyak yang sudah bersuami, mereka keluar dari Kantor Administrasi Sekolah lalu bertandang ke Kantor Urusan Agama. Sebagian mereka bahkan sudah memiliki momongan, ada yang baru satu, ada juga yang sudah punya tiga. Bagaimana denganku? Aku masih lajang, masih mencari petunjuk dari Alloh tentang dimana tulang rusukku sedang ia tempatkan.

Dia yang sedang duduk di dalam mesjid itu, ya, dia yang sedang dikelilingi anak-anak kecil santri TPA itu, adalah putri semata wayang dari salah satu keluarga terpandang. Ia berakhlak baik, dan kepalanya dipenuhi segudang wawasan. Teramat rupawan dan berhasil membuat hatiku tertawan. Juluran jilbabnya yang panjang, resmi membuat sel-sel saraf pusatku berkolaborasi mendukung hati ini untuk tak berpindah ke lain hati.

Langit dan bumi adalah satu paket yang membuat alam ini indah terpatri, namun jarak jauh keduanya, membuat mereka bagaikan dua insan yang tak pernah bisa saling mendampingi. Begitulah kiranya antara aku dengan Nurmala. Tapi Kawan, kalian harus ingat namaku; Hasan Al-Fatih. Pemilik nama itu haruslah gagah berani, termasuk demi mencari perhiasan terindah yang bisa Alloh anugerahkan pada hamba-hambanya di muka bumi. Perhiasan itu adalah, wanita sholehah.

Limpahan harta milik ayah Nurmala hanyalah setitik dari setetes nikmat yang Alloh titipkan pada dunia. Pengetahuan yang tertaut di kepala gadis itu tidaklah seberapa dibanding keluasan ilmu Alloh yang maha mengetahui segalanya. Kehormatan yang mereka dapatkan bahkan tak sampai sebutir debu dibanding kemuliaan Sang Maha Agung. Inilah kalimat-kalimat senjata penyemangatku. Tak ada yang tak mungkin, karena hanya Dialah penguasa segalanya, dan Ia, sesuai prasangka hambaNya.

Semangatku mulai mencuat, meluap-luap, bermunculan satu persatu, lalu beradu bergemuruh di dalam qalbu. Kupacu tenagaku hingga butiran peluh mengalah pada lelah lalu gugur dari waktu ke waktu. Siang hari, aku menjajakkan ikan keliling kampung, lalu malam setelah isya hingga jam sebelas malam, aku berkutat dengan montir-montir muda lulusan SMK yang berprofesi di Bengkel Putra Bahari. Dini hari jam tiga pagi, aku sudah berada di Pasar Pananjung menjual beragam sayuran segar. Aku bekerja membanting tulang, menyita hampir sebagian besar waktu tidur malamku demi menjemput benda mengkilap di toko emas Permata Biru pinggir jalan itu. Setidaknya, jika aku bertamu pada ayah Nurmala kelak, aku sudah menyiapkan sedikit bekal agar tak dilempar seenak hati atau dibuang tak diacuhkan.

Hari ini, tepat tanggal satu ramadhan, umat muslim bersuka cita bahagia, mengharapkan limpahan pahala di bulan penuh kemuliaan. Ramadhan syahrul mubarok, ramadhan syahrul Quran, ramadhan syahrul maghfirah. Termasuk aku, aku bahagia sekaligus takut. Bahagia menyadari keberkahannya, menikmati hari-hari dimana nafas menjadi tasbih, bahkan tidur menjadi ibadah. Tapi aku justru takut kalau-kalau tidak mampu memaksimalkan ibadah di bulan suci ini.

Sepulang tarawih malam pertama ini, dari sebuah sudut ruang aku mendengar suara tangis yang teramat pilu. Kubuka daun pintu, dan mataku tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk memeluk kedua lututnya sambil menangis tersedu-sedu. Ibu, kenapa menangis? tanyaku spontan, lalu kuseka kedua aliran air matanya. Ibu sedih Nak, kenapa dulu tak pernah terpikirkan untuk menghapal Al-Quran. Sekarang, bahkan untuk membaca pun, mata ibu sudah tak sanggup lagi. Ibu sedih sudah tiga tahun tidak membaca mushaf Al-Quran, hanya tahu sedikit hapalan surat-surat pendek yang dulu Kyai Haji ajarkan.” Ia semakin tersedu, meratap semakin dalam, dan aku pun terbisu, tertekan hentakan sendu yang menusuk qalbu.

Aku galau, kupeluk sang bidadariku, dan tetes air matanya dengan lembut berlabuh di pundakku. Bukan tak ada jalan keluar, tapi biaya lah yang memaksa ibuku untuk tetap bersabar. Operasi katarak telah banyak digencarkan,, tapi mau tak mau, tetap harus ada uang yang tak sedikit untuk hal itu.

Aku beranjak ke kamarku, lalu merenung menatap diri penuh dosa di depan cermin kusam yang merenta. Teringat sosok ibuku, kasih sayangnya, pengorbanannya, dan semua tentang kemuliaan jasanya. Kubandingkan dengan apa yang sudah kuberikan padanya hingga detik ini, ternyata nyaris nihil, aku sama sekali belum mampu membuatnya bahagia. Dan kini, aku justru tersibukkan dengan angan-anganku untuk menggandeng Nurmala.

Malam semakin sunyi, rembulan tertutup awan, bahkan bentuk nya pun hampir tak kelihatan. Aku berjalan meyusuri jalan setapak yang dikawal rumput-rumput liar kanan-kirinya. Langkahku diteduhi raksasa-raksasa pohon kelapa yang sedang menari dibuai angin darat, mungkin sebenarnya mereka sedang bertanya padaku Mau kemana Kau pergi Nak?

Kehadiranku di bibir samudra tidak disambut meriah oleh ombak-ombak yang biasanya ceria, mungkin mereka lelah setelah seharian berlomba menyentuh daratan. Aku melanjutkan perjalanan hingga berhenti untuk duduk di sebuah batu besar pinggir pantai. Beberapa ratus meter di sebelah baratku, nampak beberapa perahu kecil mulai bersiap menuju lautan luas, dilengkapi dengan jaring penangkap ikan yang akan memenjarakan satwa-satwa penghuni limpahan air asin ini. Para nelayan itu mungkin akan melaksanakan sahur pertama di tengah laut biru, disaksikan beribu bintang dan intipan ikan-ikan.

Seketika aku teringat ayahku. Ayah sangat menyayangi ibu, ia adalah sosok yang takkan membiarkan anak istrinya mengurai air mata hanya karena suatu iming-iming dunia. Ia akan bekerja keras demi memberi apa yang ibu dan aku mau. Teringat lebaran Idul Fitri lima belas tahun lalu, aku dan ibu memakai baju baru, tapi ayah hanya mengenakan baju koko yang biasa ia pakai untuk jumatan. Ternyata, uang ayah tidak cukup untuk membeli baju kami bertiga, namun ayah berlapang dada asalkan anak istrinya bahagia.

Malam ini, aku mengambil suatu keputusan. Aku tak peduli lagi pada tujuan awal yang membuatku membanting tulang siang dan malam. Aku ingin membuat ibu sehat kembali, aku ingin ia bisa melihat kembali. Bahkan jika uang yang susah payah kucari untuk melamar Nurmala harus aku gunakan pun, aku tak peduli.

Uang yang sudah aku kumpulkan selama ini masih jauh dari syarat ideal biaya operasi. Aku bekerja lebih keras lagi, menjual ikan sebanyak dua kali lipat dari pada biasanya, dan mendagangkan sayur lebih banyak dari sebelumnya. Aku bangun lebih awal, bermunajat di setiap momen sepertiga malam terakhirnya, lalu bergegas menuju Pasar Pananjung menjajakkan beragam sayuran, sahur disana ditemani lalu-lalang para pembeli dagangan. Setiap pulang tarawih aku bergegas bekerja menuju bengkel dan baru bisa tidur jam dua belas malam.

Hari ke sepuluh bulan ramadhan ini, uangku masih kurang seperenamnya. Aku bekerja semakin keras, bahkan mengurangi porsi jatah makan sahur dan berbukaku demi sedikit tambahan biaya operasi itu. Adalah pak Teguh, pemilik Bengkel Putra Bahari, yang berbaik hati meminjamkan uangnya guna menutupi kekurangan biaya untuk membuka pintu ruang operasi ibu.

Tanggal empat belas ramadhan, tepatnya pukul sembilan malam, aku mulai duduk gelisah di lorong ruang tunggu, berdoa harap-harap cemas menanti keberhasilan operasi ibu. Operasi dinyatakan selesai, tapi masih harus ditutupi perban. Malam berikutnya, kami kembali lagi ke Rumah Sakit untuk membuka perban ibu. Aku tidak ingin kehilangan momen indah ini. Aku berdiri tepat di depan bidadariku, tak peduli pada dokter yang memintaku sedikit mundur agar lebih memudahkannya mencopot perban itu.

Iya membuka kelopak mata dengan sangat hati-hati, berproses untuk mendapat lapang pandang seluas dulu saat masih jelas memandang. Terlihat semburat sinar lampu menelisik masuk pada celah matanya, membuat ibuku berkedip-kedip ragu-ragu. Beberapa detik kemudian setelah matanya membuka sempurna, ia berkata Hasan, anakku.

Aku bahagia bukan kepalang. Kupeluk ibu erat-erat, dan tanpa sadar air mataku jatuh menetes di bajunya. Betapa tidak, sejak tiga tahun lalu, inilah hari penting disaat ibuku bisa melihat kembali.

Sama sekali tidak ada penyesalan dalam diriku. Uang yang kukumpulkan untuk meminang Nurmala itu, ternyata lebih membuatku bahagia bisa melihat ibu tersenyum lebar menyaksikan dunianya yang kembali baru. Ibu bahkan tak tahu, dan aku tak ingin ia tahu tentang niat awal tujuan uang itu.

Aku tak peduli, aku hanya takut jika ramadhan ini adalah ramadhan terakhirku. Betapa jahatnya aku jika harus membiarkan ibu bersedih sepanjang waktu, sedangkan aku menikmati untaian kalimat-kalimat suci Al-Quran yang setiap hurufnya dilipatgandakan sekian kali pahala kebaikan. Aku ingin menikmati indahnya ramadhan ini bersama bidadariku, bersama-sama mencari rahmat dan maghfirahNya dalam naungan bulan yang Ia muliakan.

Satu sisi, aku merasa rugi, mengapa tidak aku kumpulkan uang itu sejak dulu, akibatnya aku harus bersusah payah bekerja keras mencari uang di awal bulan ramadhan yang selayaknya menjadi ladang panen pahala ibadah. Tapi tak apa, aku lebih takut lagi jika ini adalah ramadhan terakhirku dan kelak tak dapat bertemu lagi di tahun depan. Aku takut nyawa ini terburu-buru Alloh ambil sebelum aku sempat membahagiakan ibu. Jika pun tahun depan tak bisa kusapa lagi bulan seindah ini, aku ingin ibu tetap menikmatinya dengan khusyuk, serta menikmati huruf-huruf Al-Quran yang terrangkai indah berdasarkan wahyu.

Lima belas hari terakhir kedepan, aku tak ingin lagi bercengkrama dengan pekerjaan-pekerjaan yang menyita waktu. Aktivitasku di bengkel dan di pasar kuhentikan sementara. Fokusku saat ini tidak banyak, hanya ingin membeli baju baru untuk ibu, dan berbekal agar bisa terhindar dari kesibukan dunia di sepuluh malam terakhir nanti. Jikalah tahun depan tak bisa kuraih lagi ramadhan, maka aku berharap malam lailatul qodar tahun ini bisa aku dapatkan, demi tabungan ibadah seribu bulan. Semoga Alloh memanjangkan umurku. Aamiin

Adapun untuk Nurmala, aku tetap berharap ia menjadi Nurmalaku. Aku siap berjuang kembali, bekerja keras lagi sembari memantaskan diri. Aku tahu kami bagaikan langit dan bumi, tapi ingatlah, bahwa langit dan bumi senantiasa saling melengkapi. Semoga, ia menjadi bidadari kedua setelah ibuku. Aamiin.

 

 

Aku Benci Ramadhan

Ah Ramadhan lagi…

Puasa lagi…

Lapar lagi…

Aku tidak mengerti kenapa mereka selalu berbahagia di bulan ini.

Jujur, aku membenci bulan ini.

Aku merasa tidak berdaya.

Satu bulan terasa seperti setahun.

Aku tidak suka.

 

Kenapa mereka masih bisa bersemangat sholat?

Kenapa mulut mereka masih bisa membaca berlembar-lembar Al-Qur’an?

Apakah mereka tidak merasa lelah seperti ku?

Apakah mereka tidak merasa haus?

Tidakkah jua merasa lapar?

Ah, andai aku dapat memberi tahu mereka betapa nikmatnya bila bulan ini dihabiskan hanya dengan uring-uringan saja.

 

Meskipun begitu, aku masih bisa senang.

Ternyata, pikiran ku sampai pada sebagian diantara mereka.

Dari kejauhan aku melihat orang yang berpuasa, tapi meninggalkan sholat wajib hingga akhir waktu.

Ada juga yang tertidur sehingga tertinggal waktu sholat.

Aku juga melihat seseorang yang menghabiskan waktu menunggu berbuka puasanya dengan membicarakan keburukan yang lain.

Lalu sebagian yang lain tengah asik berkelahi, saling melemparkan bahasa ku,

Aku tersenyum.

Aku bahagia.

 

Ternyata, aku masih mereka ingat saat ini

Dibalik jeruji ini pun aku masih bisa berkuasa.

Kapan kah mereka tersadar?

Meskipun aku tak menginginkan mereka sadar,

Bahwa sesungguhnya mereka telah menjadi teman ku.


-Terpenjara, 10 Ramadhan 1439 H

 

 

Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu,  sesungguhnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

“Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu ditutup dan setan-setan dibelenggu”. (Muttafaq ‘alayh, Bukhari, no. 1899. Muslim, no. 1079)

 

Walaupun dibelenggu, jika seorang manusia telah tersesat, maka tidak akan ada bedanya kecuali orang-orang yang diberi petunjuk.

Semoga kita bisa memanfaatkan waktu yang amat singkat ini dengan sebaik-baiknya dan terhindar dari hal yang menjerumuskan dalam dosa.

Wallahualam