Berkaryalah untuk Dunia, Beramallah untuk Akhirat

Assalamu’alaykum wa rohmatullahi wa barokatuh

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda

اِذَاجَاءَرَمَضَانُفُتِحَتْاَبْوَابُالْجَنَّةِوَغُلِّقَتْاَبْوَابُالنَّارِوَصُفِّدَتِالشَّيَاطِيْنُ.

Jika tiba bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu semua syaitan (HR. Bukharidan Muslim).

Pada bulan ini setiap detiknya merupakan modal yang sangat besar, sebab pahala kebaikan dilipatgandakan, karenanya jangan disia-siakan.

Demikian pula yang disampaikan sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

إنيلأمقتأنأرىالرجلفارغالافيعملدنياولاآخرة

Sungguh aku marah kepada orang yang nganggur. Tidak melakukan amal dunia maupun amal akhirat. (HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, 8539).

Ada dua persiapan yang paling penting disiapkan yaitu persiapan mental dan persiapan fisik sehingga Ramadhan kita lebih produktif dibandingkan dengan sebelumnya.

Persiapan mental

  1. Persiapan utama menyambut Ramadhan adalah persiapan mental. Dimulai dengan hati yang gembira dan lapang dada akan bertemu dengan bulan yang mulia.
  2. Luruskan niat. Karena setiap amal tergantung niatnya, alangkah baiknya kita niatkan seluruh aktivitas muamalah kita sebagai ibadah. Misal mandi sebagai ibadah, membersihkan kamar dan lain sebagainya.
  3. Menyusun agenda. Kalau selama ini kita dapat menyusun agenda kegiatan duniawi dari pagi sampai malam dengan begitu teliti, alangkah baiknya kalau kita juga dapat menyusun rutinitas ibadah dengan lengkap.
  4. Membaca buku atau kitab tentang fiqh yang menyangkut puasa, shalat Tarawih, i’tikaf dan sebagainya. Hal ini penting untuk diperhatikan supaya kita mengetahui batas-batas syara’ dalam melakukan ibadah
  5. Membersihkan hati dan saling memaafkan sesama. Sebelum masuknya Ramadhan, dianjurkan untuk memperbaiki hubungan dengan manusia (hablumminannas) dan hubungan dengan Allah (hablumminallah) yaitu bertaubat.
  6. Persiapan dana, jangan lupa keluarkan infaq dan shadaqah sebanyak-banyaknya dengan membantu fakir miskin, memberikan makan orang berbuka puasa dan sebagainya.

PersiapanFisik

Persiapan fisik untuk menjalankan ibadah puasa itu penting. Kalau fisik lemah tentunya amal ibadah akan terganggu. Padahal kita sudah mempersiapkan target yang banyak untuk Ramadhan yang akan datang, seperti memperbanyak membaca al-Qur’an, shalat sunnat tarawih, rawatib, dhuha dan sebagainya.

  1. Makan dan minum secukupnya, hindari balas dendam ketika malam harinya.
  2. Biasakan sahur
  3. Minum suplemen jika perlu
  4. Atur pola tidur, baik itu tidur siang ataumalam

 

Sumber

http://aceh.tribunnews.com/2017/05/27/menuju-ramadhan-produktif?page=2.

 

Akankah menjadi Ramadhan Terakhirku?

Fa, bangun. Rafa…. cepetan bangun…. Reyhan mengguncang tubuh Rafa dengan keras. Laki-laki berpenampilan rapi dengan jas putih dan tertera label nama Christoffer Reyhano.

Rafa yang tengah tertidur pulas mulai terusik dengan suara Rey yang semakin mengeras memanggil namanya, Gue ngantuk, Rey. Sana deh lo! ujarnya sambil membentak Reyhan, melanjutkan tidurnya.

Fa, bangun sekarang atau loe bakal kena masalah sama dr. Roman. Ingat Fa, dr. Roman. Kata Reyhan mengakhiri perjuangannya untuk membangunkan sahabatnya itu. Mendengar kata dr. Roman, tiba-tiba saja mata Rafa terbelalak dan langsung bangun dari tidurnya, merapikan jas putihnya yang sudah kumal karena posisi tidurnya yang sembarangan.

dr. Roman kesini? tanya Rafa mengkonfirmasi pernyataan Rey, yang hanya dijawab dengan anggukan kepala Rey yang terlihat sudah pasrah. Dr. Roman tiba di ruangan jaga dokter muda, tepat saat Rey dan Rafa bersusun rapi membentuk sebuah barisan dengan dokter muda yang lain.

Selamat pagi, Koas! sapa dr. Roman, yang disambut dengan suara kecil yang seakan tidak bisa keluar dari mulut mereka, Selamat Pagi, Dok!

Pagi itu atau lebih tepatnya pukul 05.00 tepat saat adzan subuh berkumandang, dr. Roman bertugas memberikan pengarahan kepada Koas yang baru memasuki stase Penyakit Dalam, dengan gaya khas dr. Roman yang tegas dan tidak bisa disela sedikitpun. Di rumah sakit ini, dr. Roman adalah dokter yang paling terkenal dengan ketegasannya, sehingga tidak ada satu koas (sebutan untuk dokter muda) pun yang bisa membantahnya. Rafa yang masih diselimuti rasa kantuk sehabis jaga semalam suntuk tidak sengaja menguap tepat saat dr. Roman membelakanginya. Reyhan yang melihat kelakuan sahabatnya itu lantas menyikutnya dengan keras, Fa… bisiknya. Rafa tidak sadar dengan panggilan Reyhan, namun sebuah suara mengagetkannya.

Muhammad Rafaizan Al-Fatih…. panggil dr. Roman dengan tegas. Reyhan kembali menyikutnya, namun lagi-lagi Rafa mengindahkan sahabatnya itu.

Muhammad Rafaizan Al-Fatih…. panggil dr. Roman sekali lagi, dan kali ini lebih keras. Rafa mulai tersadar bahwa yang memanggil namanya bukanlah Reyhan, melainkan dr. Roman. Sontak saja ia menjawab dengan lugas, Siap, Dok.

dr. Roman langsung berbalik badan menghadap Rafa yang terkenal dengan kepintarannya. Oh, kamu Rafaizan Al-Fatih. Harus dipanggil dua kali baru menjawab, ya? tanya dr. Roman sambil memandangi wajah Rafa yang masih terlihat mengantuk. Dr. Roman berdecak heran melihat kelakuan Rafa yang hanya menggeleng pelan mendengar pertanyaan darinya. Dr. Roman menghela napas keras, dan mengalihkan perhatiannya dari Rafa yang masih terdiam terpaku di barisan teman-temannya. Semua koas mendengarkan dengan seksama pengarahan yang disampaikan oleh dokter senior itu.

Terimakasih banyak, Dok! ucap para Koas, mengiringi berakhirnya pengarahan oleh dr. Roman. Semuanya tersenyum lega setelah dokter senior itu menghilang dibalik pintu.

Fa, loe parah ya sampai tidak menjawab panggilan dr. Roman. Kata Rey akhirnya. Ngantuk… jawabnya lugas, sambil berjalan perlahan ke arah kursi tempatnya beristirahat, melanjutkan tidurnya. Reyhan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu, apalagi saat ia mengajak Rafa untuk shalat subuh di mushola rumah sakit, Rafa mengindahkannya.

Rafa, laki-laki dengan perawakan tinggi, berkulit putih, memiliki wajah yang bisa dibilang Good Looking oleh para teman-temannya di kampus, dan tentu saja memiliki otak yang sangat mempuni untuk menjadi seorang dokter. Namun, dibalik penampilannya yang sangat good looking dan dikenal memiliki keluarga yang taat beribadah, ia memiliki sifat yang bertolak belakang dengan penampilan luarnya. Rafa sering meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu menjalankan shalat. Tidak banyak yang tau tentang hal itu, kecuali Reyhan sahabatnya dari SMA. Reyhan, laki-laki yang berasal dari keluarga yang memiliki dua keyakinan berbeda, ayahnya adalah muslim, sedangkan ibunya adalah seorang non-muslim. Namun, sejak mengenal Rafa, ia mantap memutuskan untuk menjadi mualaf seperti keyakinan yang dianut oleh ayahnya. Reyhan pun terkenal sebagai sosok yang sholeh dan selalu melaksanakan shalat tepat waktu, walaupun dengan risiko ia harus dimarahi oleh dokter senior. Karena prinsip hidupnya, semua rezeki dari Allah dan ia yakin dengan melaksanakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah, ia yakin Allah akan meluruskan semua perjalanan hidupnya. Reyhan sebenarnya tau, Rafa adalah laki-laki yang taat beribadah. Tetapi, entah kenapa, setelah beberapa lama Reyhan menjadi mualaf, sikap Rafa mulai berubah sedikit demi sedikit menjadi malas untuk beribadah dan sangat egois.

Sekembalinya Reyhan dari mushola, ia lihat Rafa sudah berpakaian rapi sambil merapikan pakaian kotornya ke dalam tas besar berwarna hitam yang terletak disampingnya.

Wah… Rafa sudah tidak sabar ingin shalat tarawih di rumah kayanya?goda Reyhan, saat berada di depan sahabatnya itu. Kebetulan hari itu bukan jadwal Rafa dan Reyhan untuk jaga malam, jadi mereka bisa pulang lebih awal. Rafa yang mendengar perkataan Rey langsung menjawab, Gue nggak sabar mau tidur pulas di rumah. Ujarnya serius.

Rey menghela napas panjang, Gue kira loe senang bisa ketemu sama bulan Ramadhan lagi. Harusnya loe bersyukur masih dipanjangkan umur sampai sekarang. Jangan sampai loe menyia-nyiakan datangnya bulan Ramadhan, perbanyak shalat sunah dan jangan pernah meninggalkan shalat fardhu sekalipun, Fa.  Nasihat Rey yang lagi-lagi hanya ditanggapi dengan anggukan kecil. Reyhan menyerah untuk menasihati Rafa kali ini, ia pun pergi ke lemari pakaian, ikut merapikan pakaian kotornya. Sudah beberapa hari, Rey selalu menasihati Rafa untuk memperbanyak ibadah, apalagi menjaga shalat tepat waktu sebelum bulan Ramadhan tiba, tetapi nasihat itu hanya bertahan sebentar di otak Rafa sebelum terbang menghilang dari otaknya. Rafa dan Rey berpamitan dengan teman-temannya yang lain yang bertugas jaga hari itu, saat keduanya sudah selesai merapikan pakaian dan mengerjakan semua laporan yang harus diselesaikan hari itu.

Setelah tiba di rumah, Rafa langsung masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama, suara adzan Ashar berkumandang. Bunda memanggil anak satu-satunya itu dengan lembut, Fa, ayo shalat. Sudah adzan… Rafa mendengar suara Bunda, namun rasa malasnya mengalahkan  keinginannya untuk shalat, Nanti Bun, Rafa nyusul. Jawabnya singkat. Bunda kembali ke tempat sholat dimana ayah berada, setelah mendengar jawaban dari Rafa.  Ayah segera memulai shalat Ashar berjamaah dengan Bunda.

Sore berganti malam yang ditandai dengan kumandang suara Adzan yang menyeru dari mushola-mushola perumahan. Rafa masih tertidur pulas dibalik selimut tebalnya. Bunda kembali lagi mengajak Rafa untuk shalat berjamaah, tetapi tidak ada suara yang menjawab ajakannya. Bunda kembali ke tempat shalat dengan wajah murung, Ayah hanya tersenyum menguatkan Bunda, Nanti ayah bicara dengan Rafa. Kata ayah meyakinkan. Ayah menunggu Rafa terbangun dari tidurnya di ruang keluarga. Namun, sampai tengah malam Rafa tidak kunjung keluar dari kamarnya. Bunda yang kasihan melihat ayah yang sudah terkantuk-kantuk berkata, Sahur nanti aja Ayah bicara sama Rafa, sekarang ayah istirahat saja dulu. Ayah menuruti nasihat Bunda.

Waktu sahur tiba, Rafa menggeliatkan tubuhnya setelah puas tidur semalaman. Kakinya melangkah keluar kamar, dan terkejut melihat bunda sudah berada disana. Bunda… sapa Rafa. Bunda langsung menarik tangan anaknya itu ke ruang keluarga, mendudukannya disana.

Fa… ayah memulai pembicaraan. Ayah dan bunda tau kamu itu kelelahan setelah jaga 1 minggu di rumah sakit, walaupun begitu kamu tidak boleh meninggalkan shalat. Apalagi sekarang sudah masuk bulan Ramadhan, kamu harus lebih rajin beribadahnya, Fa.

Rafa tau, Yah. Tapi, biarpun Rafa tidak shalat, Rafa masih tetap bisa jadi dokter, kan? Masih ada ayah dan bunda untuk mendoakan Rafa saat shalat. katanya santai.

“Astaghfirullahalazim. Bunda beristighfar mendengar perkataan Rafa.

Bagaimana kalau ayah dan bunda sudah tidak ada? Shalat itu tidak bergantung ada atau tidaknya orang tua, tetapi shalat itu adalah kewajiban setiap umat Islam. Kamu harus bersyukur masih diberikan umur yang panjang sampai bisa menikmati indahnya Ramadhan lagi, Fa. Kata ayah mengakhiri. Rafa hanya bisa terdiam mendengar perkataan ayah. Sahur di keluarganya kala itu terasa dingin, ayah masih bersikap dingin bahkan setelah shalat Subuh berjamaah selesai.

Fa… Rafa… panggil sebuah suara yang membuyarkan lamunannya. Ia masih kepikiran dengan perkataan ayah saat sahur tadi. Entah mengapa, perkataan ayah membuatnya sedikit tersadar. Iya, La. Kenapa? tanyanya kepada Mala yang sejak tadi menunggunya. Reyhan sudah sejak 30 menit yang lalu tidak kembali dari mushola, Fa. Padahal kami harus memeriksa pasien untuk laporan pagi. Rafa menyadari sahabatnya itu sudah lama pergi dari ruangan jaga dokter, biasanya 15 menit Reyhan sudah kembali ke ruangan. Rafa bergegas pergi ke mushola, tak lupa dititipkannya laporan pagi yang sedang ia tulis kepada Mala. Nitip sebentar.

Bangunan berwarna hijau di ujung lorong rumah sakit, itulah tujuan Rafa untuk mencari keberadaan Rey. Pintu kayunya terbuka, batin Rafa. Assalamualaikum Rafa mulai menapakan kaki ke dalam mushola, tak lupa dilepaskannya alas kaki di depan pintu. Rafa mencari sekeliling dimana Reyhan berada. Matanya tertuju pada seorang pria yang tengah sujud dalam sholatnya. Melihat hal itu, Rafa pun menunggu sampai sholatnya selesai. Detik berganti menit, namun posisi Rey tetap tidak berubah dari posisi sujudnya. Kaki Rafa mulai melangkah mendekat ke arah sahabat karibnya itu. Rey… Rey… digoyangkannya tubuh Reyhan dengan kuat berharap bahwa Rey sedang tertidur dalam sholatnya.

Rey, jangan becanda. Tangan Rafa mulai membalikkan tubuh Rey perlahan setelah tidak mendapat jawaban berkali-kali. Rafa mengucap istighfar ketika melihat tubuh Reyhan yang sudah terbujur kaku dibalik posisi sujudnya. Laki-laki itu lemas melihat sahabat karibnya. Seorang karyawan rumah sakit yang kebetulan ingin melaksanakan shalat menghampiri Rafa, bertanya, Kenapa, Dok? Rafa terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan karyawan itu, dan hanya bisa melihat ke arah Rey yang terbaring disampingnya.

Berita meninggalnya Reyhan menyebar dengan cepat keseluruh Rumah Sakit. Semua petugas Rumah Sakit tidak menyangka Reyhan akan dipanggil secepat itu, karena selain rajin beribadah, ia juga terkenal dengan keramahannya kepada pasien dan petugas yang ada disana. Reyhan baru 1 tahun menjalani masa koas, dan menjadi dokter adalah cita-citanya sedari SMA. Orang yang paling terkejut dengan peristiwa ini adalah Rafa, dalam ingatannya masih terngiang saat-saat Rey mengingatkan dirinya untuk Shalat Subuh, dan betapa bersyukurnya Rey karena bisa memasuki bulan Ramadhan lagi tahun ini. Rafa tidak menyangka jika kemarin adalah saat-saat terakhirnya bisa bersama dengan sahabat terbaiknya itu. Rafa sangat bahagia karena bisa menjadi salah satu teman Rey, dan ia kagum karena Rey tidak pernah malu untuk menasihatinya dikala dirinya tidak mau melaksanakan ibadah shalat. Kenangan akan Rey masih teringat di benak Rafa, bagaimana dia mengingatkannya shalat, dan selalu membuat perumpamaan yang sama saat Rafa tetap ngotot tidak mau shalat, Lebih baik mendirikan shalat sendiri Fa, daripada nanti Kita yang dishalatkan sama orang lain. Kata Rey setengah bercanda.

Sejak saat itu, Rafa menyadari bahwa umur seseorang tidak pernah tau kapan akan berakhir, seperti kata Ayah dan Rey, bahwa kita harus bersyukur karena bisa dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan semua ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Kini, tak ada lagi sahabat yang akan mengingatkannya untuk selalu bersyukur dengan semua waktu yang telah Allah berikan kepada kita, dan Rafa juga sadar, sebagai seorang muslim kita tidak boleh meninggalkan kewajiban untuk melaksanakan shalat, walau dalam keadaan apapun, karena Allah SWT telah mengatur sedemikian rupa sehingga tidak akan menyulitkan hambanya.

Allah SWT bisa mencabut nyawa hambanya kapan saja dan dimana saja, bersyukurlah karena bisa menikmati bulan Ramadhan ini dalam keadaan sehat walafiat, siapa tau jika ini adalah Ramadhan terakhir yang bisa kita nikmati keberkahannya.

Ramadhan, akankah kusambut lagi dikau tahun depan? Atau akankah ini menjadi Ramadhan terakhirku? kata Rafa di akhir doa shalat Idul Fitri, dan berharap semoga bisa dipertemukan dengan Ramadhan selanjutnya.

 

 

**