Menutup Ramadhan dengan Indah

Mengatur pernak-pernik Ramadhan, agar ibadah tidak tercecer

 

Bertemu bulan suci Ramadhan adalah nikmat luar biasa dari Allah ﷻ. Sungguh sangat tidak pantas jika kedatangan nikmat agung ini tidak benar-benar kita fokuskan untuk meningkatkan ibadah dan amal sholeh kepada Allah ﷻ.

Dari sisi tekad, boleh jadi sudah ada keinginan untuk mengamalkan beragam amal ibadah, namun kondisi lingkungan seringkali menjadikan sebagian orang terseret pada deviasi (pengimpangan) tanpa sadar.

Jika Rasulullah ﷺ pada 10 malam terakhir Ramadhan kian menguatkan ibadah, tidak dengan kondisi sebagian besar masyarakat saat ini, terlebih kaum wanita. Sebagian sibuk menyiapkan penampilan terbaik dengan beragam rupa busana, perangkat rumah hingga kendaraan.

Hal demikian sama sekali tidak kita dapati pada sosok Nabi Muhammad ﷺ dan tentu saja istri-istri beliau. Aisyah mengatakan, “apabila Rasulullah ﷺ memasuki 10 terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” HR. Bukhari.

Hadits diatas tentu saja merupakan sebuah landasan kuat bahwa semakin Ramadhan menuju akhirnya, upaya diri untuk meningkatkan ibadah kepada Allah ﷻ kian dikuatkan. Dengan kata lain, tidak begitu diperlukan perkara-perkara yang tidak dicontohkan oleh Nabi, sekalipun hal itu sangat lumrah di masyarakat, seperti sibuk memikirkan makanan, pakaian, kendaraan, ataupun kediaman. Sekalipun itu tidak haram jika dilakukan, namun kita kehilangan momentum menutup ramadhan dengan indah.

 

Bagaimana dengan lebaran?

 

            “Apa iya, lebaran kita tanpa ada apa-apanya hanya karena alas an ibadah?

Sebagian wanita mungkin ada yang berpikir semacam itu. Tentu saja tidak perlu dibenturkan ibadah dengan lebaran, baik itu perihal penampilan maupun pernak-pernik lebaran, seperti aneka makanan. Semua mesti dipersiapkan karena saat lebaran biasanya sanak saudara datang bersilaturrahim, tetapi jangan itu yang menjadi headline hidup sehingga ibadah terbengkalai dan semangat ruhiyah berpisah dengan Ramadhan. Apalagi jika terbatas pada kebutuhan pribadi, penampilan misalnya. Maka cukuplah kita mengacu pada tuntunan Islam itu sendiri.

Pertama, pakaian yang digunakan dijamin kebersihannya. Jikapun harus lebih baik dari memomentum biasanya, maka siapkan tanpa harus mengganggu ibadah di akhir Ramadhan. Sebab ada juga anjuran Nabi perihal ini, “Sesungguhnya kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Maka perbaikilah keadaan kendaraan dan pakaian kalian agar kalian tampak mempesona di tengah-tengah manusia, karena sesungguhnya Allah tidak menyenangi kesembronoan.” HR. Abu Dawud.

Kedua, jauhi pakaian yang sama dari umat lain. Abdullah bin Amr bin Al Ash meriwayatkan, “Rasululah pernah melihat dua lembar pakaianku tercelup dengan warna kuning, maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ini termasuk dari pakaian orang kafir, maka janganlah engkau memakainya.” HR. Muslim.

 

Dengan demikian, terang bagi kita bahwa Islam benar-benar mengatur segala hal secara proporsional. Terhadap hal yang dapat meningkatkan kedudukan umat Islam di sisi Allah, Rasulullah ﷺ memberikan keteladanan yang jelas. Bahkan dalam soal penampilan, Islam lebih mementingkan pada sisi yang dapat menjaga dan meningkatkan keharmonisan rumah tangga, bukan pada perkara yang justru tidak jelas, menghabiskan waktu dan biaya. Dan, betapa ironisnya jika itu terjadi justru di akhir Ramadhan. Allahu a’lam

 

Referensi:

  1. Majalah Hidayatullah edisi Juni 2018
  2. https://rumaysho.com/519-perpisahan-dengan-bulan-ramadhan.html
  3. https://rumaysho.com/2747-selamat-jalan-ramadhan.htmlv

Pengaruh Puasa Ramadhan terhadap Diabetes Melitus

Definisi dan patomekanisme diabetes melitus

Diabetes Melitus (DM) atau yang biasa dikenal dengan kencing manis merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme karbohidrat akibat pankreas tidak dapat memproduksi insulin atau dapat memproduksi insulin namun tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif dan juga produksi insulin yang kurang. Insulin merupakan hormon yang mengatur keseimbangan glukosa darah dalam tubuh. Menurut data PERKENI 2015, jumlah penduduk Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 240 juta. Menurut data RISKESDAS 2007, prevalensi nasional DM di Indonesia untuk usia di atas 15 tahun sebesar 5,7%.

Penyakit DM ditandai dengan adanya hiperglikemia dan glikosuria yang disebabkan menurunnya produksi hormon insulin oleh pankreas (Utami, 2003 dalam Nuryati, 2009). Kadar glukosa darah adalah jumlah kandungan glukosa dalam plasma darah. Glukosa darah puasa (GDP) merupakan satu diantara cara untuk mengidentifikasi DM. Pada keadaan ini, gula tidak siap untuk ditransfer ke dalam sel, sehingga terjadi hiperglikemia dan hasilnya glukosa tetap berada di dalam pembuluh darah (Fathmi, 2012). Ketidakseimbangan produksi insulin di dalam tubuh pada DM mengakibatkan aliran glukosa darah tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga anabolisme sel menurun. Selanjutnya terjadi kerusakan antibodi dan penurunan sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan gangguan neuropati sensori perifer, yakni penderita jarang atau bahkan tidak merasa sakit saat cedera. Hal ini mengakibatkan terjadinya luka hingga nekrosis (Nurarif & Kusuma, 2016). Prevalensi DM meningkat pada usia dewasa tua (lebih dari 40 tahun) disebabkan oleh perubahan terkait regulasi tubuh, kebiasaan hidup, dan lingkungan yang dapat memicu DM (Marinda, Suwandi, & Karyus, 2016).

Pada DM tipe 2 terjadi resistensi insulin pada lansia akibat (Marinda et al., 2016) :

  1. Perubahan komposisi tubuh, berupa jumlah jaringan lemak bertambah dan jumlah massa otot berkurang yang mempengaruhi penurunan jumlah dan sensitivitas insulin.
  2. Penurunan aktivitas fisik yang menyebabkan penurunan jumlah reseptor insulin.
  3. Perubahan pola makan karena jumlah gigi yang berkurang, sehingga persentase asupan karbohidrat meningkat.
  4. Perubahan pada neuro-hormonal, terutama insulin-like growth factor-1 (IGF-1) dan dehydroepandrosteron(DHEAS) yang berkurang hingga 50% pada lansia, sehingga sensitivitas reseptor insulin dan aksi insulin menurun.

Neuropati perifer menyebabkan sensasi nyeri pada kaki menurun bahkan hilang, sehingga dapat terjadi trauma tanpa terasa dan atrofi otot kaki yang berakibat perubahan titik tumpu dan ulsestrasi pada kaki, sedangkan sumbatan pembuluh darah menyebabkan penderita merasa sakit pada tungkai setelah berjalan pada jarak tertentu. Adanya angiopati mengakibatkan penurunan asupan nutrisi, oksigen, dan antibiotik yang mengakibatkan luka sukar sembuh (Sukarmin, 2016).

Penyakit DM dapat berdampak pada multi organ, seperti mata, saraf, ginjal, jantung, kulit, otak, dan eksremitas dengan komplikasi yang sering dialami, yaitu ulkus diabetik. Kejadian ulkus kaki diabetik sebesar 15% dan penderita luka kaki diabetik memiliki risiko kematian dini sebesar 25% (Astrada, 2014; Santy, n.d.). Diperkirakan pada tahun 2045, penderita DM yang mengalami gangguan pada mata, jantung, ginjal, saraf, dan kaki mencapai 700 juta orang. Sekitar 10% hingga 15% kejadian DM akan berkembang menjadi diabetic foot ulcer (DFU) dengan prevalensi sebesar 25% dari DM kurang terkontrol atau tidak terdiagnosis (IDF, 2017, 2017; Kumar & Clark, 2012).

DFU merupakan komplikasi DM yang paling serius dan mahal. Lambatnya penanganan DFU mengakibatkan keparahan luka yang berdampak pada infeksi, ganggren, amputasi, bahkan kematian, sehingga DFU menjadi tantangan kesehatan global terkait beban ekonomi dan sosial (IDF, 2017; Yazdanpanah, Nasiri, & Adarvish, 2015). Frekuensi DFU pada penderita DM sebesar 17,4% dan amputasi sebesar 16,2% yang meningkat 15 kali lebih tinggi daripada tanpa DM. Lebih dari 85% amputasi berawal dari ulkus, terutama DFU dengan kasus 1 amputasi setiap 20 detik pada suatu tempat di dunia. Risiko kematian penderita DM meningkat lebih dari 45% (Acker, 2015; Dòria et al., 2016; IDF, 2017; Yazdanpanah et al., 2015).

 

Apa itu puasa Ramadhan?

Puasa berasal dari bahasa Arab yaitu “Shaumu” yang berarti menahan dari segala sesuatu, seperti menahan tidur, menahan berbicara, menahan makan-minum, dan sebagainya. Menurut istilah dalam agama Islam, puasa berarti menahan diri daripada hal-hal yang membatalkannya, selama satu hari lamanya mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat. Di dalam agama Islam, berdasarkan hukumnya puasa terbagi menjadi empat macam, yaitu: puasa wajib (Ramadhan, kifarat, nazar), puasa sunnah (senin-kamis, ayyaumul bidh, arafah), puasa makruh, dan puasa haram (hari raya idul Fithri, hari raya Haji, dan tiga hari sesudah hari raya Haji) (Rasjid, 1976).

Puasa Ramadhan merupakan salah satu dari lima komponen dalam rukun Islam. Perintah untuk melaksanakan puasa Ramadhan turun pertama kali pada tahun kedua Hijrah, yaitu tahun kedua sesudah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Perintah puasa ini turun dengan hukum wajib (fardhu ‘ain) atas tiap-tiap muslim yang telah baligh dan berakal (mukallaf) (Rasjid, 1976).

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya:

Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”.

Puasa Ramadhan dilaksanakan mulai pada tanggal 1 Ramadhan, selama satu bulan penuh (29 atau 30 hari) (Rasid, 1976).

Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kamu sewaktu melihatnya (bulan Ramadhan) dan berbukalah kamu sewaktu melihatnya (bulan Syawal), maka jika ada yang menghalangi sehingga bulan tidak terlihat, hendaklah kamu sempurnakan bulan Sya’ban tiga puluh hari (H.R. Bukhori).

 

Manfaat puasa Ramadhan bagi penderita DM

Manfaat puasa Ramadhan bagi kesehatan dapat disimpulkan dari sebuah penelitian metaanalisis oleh Patterson dkk. (2016) “Intermittent Fasting and Human Metabolic Health”. Intermittent fasting merupakan konsep diet puasa berselang dengan batasan waktu selama 16 jam. Puasa ini hanya membatasi makan dan tidak membatasi minum. Sedangkan puasa Ramadhan adalah kewajiban umat Islam untuk menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga matahari terbenam, dilaksanakan setiap hari selama 1 bulan Hijriah. Puasa Ramadhan ini dapat dikategorikan sebagai prolonged intermittent fasting yang durasinya bervariasi sekitar 11-20 jam bergantung pada letak geografis dan iklim suatu negara. Berdasarkan 35 penelitian sebelumnya didapatkan hasil yang sama bahwa puasa Ramadhan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh manusia. Adapun pengaruh terbesar yang terjadi berupa penurunan berat badan selama bulan puasa Ramadhan pada semua kelompok umur dan jenis kelamin. Pada 30 penelitian lainnya didapatkan terjadinya penurunan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) dan glukosa darah puasa pada semua kelompok dibandingkan dengan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Selain itu juga terjadi peningkatan kadar HDL (High Density Lipoprotein) pada wanita dan penurunan kadar kolesterol (Patterson dkk., 2016).

Pada penelitian Patterson dkk. juga didapatkan beberapa hipotesis mengenai pengaruh puasa terhadap mekanisme regulasi metabolik tubuh manusia. Pengaruh regulasi metabolik tersebut meliputi: Irama sirkadian, mikroorganisme lambung, dan perilaku gaya hidup yang dapat dimodifikasi. Berpuasa dapat mengembangkan irama sirkadian manusia dengan mengatur jam makan, sehingga dapat menurunkan risiko kegemukan, penyakit jantung, dan kanker. Kondisi lambung manusia pada saat berpuasa tentu akan berbeda dengan keadaan saat tidak berpuasa, di mana pada pengosongan lambung dan aliran darah lebih besar pada siang hari daripada di malam hari, serta respon metabolik terhadap beban glukosa lebih lambat di malam hari daripada di pagi hari. Aktivitas berpuasa ternyata juga dapat mempengaruhi perilaku atau gaya hidup manusia, mulai dari perilaku makan, beraktivitas, dan tidur. Pada saat berpuasa terjadi perubahan perilaku makan, dimana hanya diperbolehkan saat berbuka hingga sahur. Perubahan ini mengakibatkan berkurangnya konsumsi energi, sehingga orang yang berpuasa dapat mengalami penurunan berat badan. Pembatasan waktu makan tersebut juga berdampak pada aktivitas manusia, dimana terdapat peningkatan aktivitas dan pengeluaran energi. Dan terakhir pengaruhnya terhadap pola tidur, pola tidur ini berkaitan dengan irama sirkadian. Durasi dan kualitas tidur yang baik dapat terjadi apabila pengaturan makan (tidak terlalu larut malam) selama berpuasa dilakukan dengan baik (Patterson dkk., 2016).

Pada penderita DM tipe 2, puasa Ramadhan dapat berpengaruh terhadap penurunan berat badan dan penurunan kadar glukosa darah sewaktu. Mereka yang berpuasa selama 30 hari ternyata memiliki kadar gula sewaktu yang terkontrol dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan bukan merupakan kontraindikasi pada penderita DM tipe 2 (Yosephine dkk., 2002).

 

Tips puasa sehat bagi penderita DM

Bagi penderita diabetes melitus, kegiatan puasa Ramadhan akan mempengaruhi kendali glukosa darah akibat perubahan pola dan jadwal makan serta aktivitas fisik. Pasien diabetes sering tetap ingin berpuasa meskipun secara medis tidak memungkinkan. Peranan dokter, sekali lagi, bukan sebagai pemberi fatwa apakah seseorang pasien boleh berpuasa atau tidak. Dokter hanya berperan memberikan pandangan dan panduan mengenai dampak puasa terhadap kondisi medis pasien dan bagaimana mengurangi risiko komplikasi (Firmansyah, 2016). Pertimbangan medis terkait resiko serta tatalaksana DM secara menyeluruh harus dikomunikasikan oleh dokter kepada pasien DM dan atau keluarganya melalui kegiatan edukasi.

Berpuasa dalam jangka waktu yang lama akan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi akut seperti hipoglikemia, hiperglikemia, ketoasidosis diabetikum, dan dehidrasi atau thrombosis. Risiko tersebut terbagi menjadi risiko sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah. Risiko komplikasi tersebut terutama muncul pada pasien diabetes melitus dengan resiko sedang sampai sangat tinggi (PERKENI, 2015).

 

Tabel 1. Kategori Risiko Terkait Puasa Ramadhan pada Pasien DM Tipe 2 (Al-Arouj et al, 2010)

Risiko sangat tinggi pada pasien:

·         Hipoglikemi berat dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadhan.

·         Riwayat hipoglikemi yang berulang.

·         Hipoglikemi yang tidak disadari (unawareness hypoglycemia).

·         Kendali glikemi buruk yang berlanjut.

·         DM tipe 1.

·         Kondisi sakit akut.

·         Koma hiperglikemi hiperosmoler dalam 3 bulan terakhir menjelang Ramadhan.

·         Menjalankan pekerjaan fisik yang berat.

·         Hamil.

·         Dialisis kronik.

Risiko tinggi pada pasien dengan:

·         Hiperglikemi sedang (rerata glukosa darah 150–300 mg/dL atau HbA1c 7,5–9%).

·         Insufisiensi ginjal.

·         Komplikasi makrovaskuler yang lanjut.

·         Hidup “sendiri” dan mendapat terapi insulin atau sulfonilurea.

·         Adanya penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko.

·         Usia lanjut dengan penyakit tertentu.

·         Pengobatan yang dapat mengganggu proses berpikir

Risiko sedang pada pasien dengan:

·         Diabetes terkendali dengan glinid (short-acting insulin secretagogue).

Risiko rendah pada pasien dengan:

·         Diabetes “sehat” dengan glikemi yang terkendali melalui;

ü  terapi gaya hidup,

ü  metformin,

ü  acarbose,

ü  thiazolidinedione,

ü  penghambat ensim DPP-4

 

Selain pengenalan risiko tersebut, penting bagi pasien untuk mengetahui kelompok pasien diabetes melitus yang boleh dan tidak boleh (tidak dianjurkan) berpuasa. Berikut akan dijelaskan dalam tabel 2.

Tabel 2. Kelompok Pasien DM yang Boleh dan Tidak Boleh (Tidak Dianjurkan) Berpuasa (Subekti, 2006)

Kelompok I
Pasien DM yang kadar glukosa darahnya terkontrol dengan perencanaan makanan dan olah raga saja. Dapat berpuasa tanpa masalah dengan tetap

memperhatikan pengaturan makan dan aktivitas fisik.

Kelompok II

Pasien DM yang selain melaksanakan perencanaan makan dan olah raga juga memerlukan obat hipoglikemik oral (OHO) untuk mengontrol kadar glukosa darahnya.

IIa Membutuhkan dosis tunggal dan kecil, misalnya glibenklamid 1 x 1 tablet sehari, pagi

 

Boleh berpuasa dengan menggeser obat pagi ke sore saat berbuka puasa.

 

IIb Membutuhkan OHO dengan dosis lebih tinggi dan terbagi, misalnya glibenklamid pagi 2 tablet dan sore 1 tablet.

Jika minum obat 3 kali sehari.

 

Dapat berpuasa dengan menggeser obat pagi ke saat berbuka dan obat sore ke saat makan sahur dengan dosis setengahnya.

erpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

erpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

Berpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

Berpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada

saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan

sahur dengan dosis setengahnya

Berpuasa dengan obat pagi dan siang diminum pada saat berbuka, dan obat sore digeser ke saat makan sahur dengan dosis setengahnya.

 

Kelompok 3

Pasien DM yang selain perencanaan makan dan olahraga juga membutuhkan / tergantung insulin atau kombinasi dengan OHO.

IIIa Membutuhkan insulin satu kali sehari.

Misalnya NPH 20U 1 x sehari.

 

Dapat berpuasa dengan motiviasi yang kuat dan harus dengan pengawasan yang ekstra ketat. Suntikan insulin digeser ke saat berbuka.

 

IIIb Membutuhkan insulin dua kali sehari atau lebih sehari.

Misalnya RI 3 x 12 U sehari.

 

Tidak dianjurkan berpuasa karena dianggap kadar glukosa darah tidak stabil.

 

IIIc Membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin satu kali sehari.

 

Boleh berpuasa dengan pengaturan OHO seperti kelompok II dan suntik insulin saat berbuka.

 

IIId Membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin dua kali sehari atau lebih.

kali sehari atau lebih.

 

Tidak dianjurkan berpuasa karena dianggap kadar glukosa darah tidak stabil.

glukosa darah tidak stabil.

 

 

 

Berdasarkan penjelasan tersebut, penting untuk pasien memperhatikan ibadah puasa yang dikerjakan apakah dapat mengganggu kesehatan pasien. Jika pasien tetap berkeinginan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan, maka ada beberapa tips yang harus diperhatikan: (PERKENI, 2015)

  1. Satu-dua bulan sebelum menjalankan ibadah puasa, pasien diminta untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh meliputi kadar glukosa darah, tekanan darah, dan kadar lemak darah, sekaligus menentukan resiko yang akan terjadi bila pasien tetap ingin berpuasa.
  2. Pasien diminta untuk memantau kadar glukosa darah secara teratur, terutama pertengahan hari dan menjelang berbuka puasa.
  3. Jangan menjalankan ibadah puasa bila merasa tidak sehat.
  4. Harus dilakukan penyesuaian dosis serta jadwal pemberian obat hipoglikemik oral dan atau insulin oleh dokter selama pasien menjalankan ibadah puasa.
  5. Mengatur porsi makanan sesuai dengan kebutuhan energi sebagai berikut:

Energi basal laki-laki = 30 kkal * BB

Energi basal perempuan = 25 kkal * BB

Pembagian porsi makanan berupa:

Karbohidrat  : 45-65 % total energi per hari

Protein : 10-20 % total energi

Lemak : 20-25% total energi

  1. Hindari melewatkan waktu makan atau mengkonsumsi karbohidrat atau minuman manis secara berlebihan untuk menghindari terjadinya hiperglikemia post prandial yang tidak terkontrol. Pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi karbohidrat kompleks saat sahur dan karbohidrat simple saat berbuka puasa, serta menjaga asupan buah, sayuran dan cairan yang cukup. Usahakan untuk makan sahur menjelang waktu imsak (saat puasa akan dimulai).
  2. Hindari aktifitas fisik yang berlebihan terutama beberapa saat menjelang waktu berbuka puasa.
  3. Puasa harus segera dibatalkan bila kadar glukosa darah kurang dari 60 mg/dL (3.3 mmol/L). Pertimbangkan untuk membatalkan puasa bila kadar glukosa darah kurang dari 80 mg/dL (4.4 mmol/L) atau glukosa darah meningkat sampai lebih dari 300 mg/dL untuk menghindari terjadi ketoasidosis diabetikum.
  4. Selalu berhubungan dengan dokter selama menjalankan ibadah puasa.

Semoga tipsnya bermanfaat J

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Rouj M, et al. 2010. Recommendations for Management of Diabetes During Ramadhan. Diabetes Care (33):1895 -1902.

Acker, K. Van. (2015). Diabetic Foot Disease: When The Alarm to Action is Missing. IDF. Retrieved from https://www.idf.org/e-library/diabetes-voice/issues/46-july-2015.html?layout=article&aid=296

Astrada, A. (2014). Faktor-Faktor yang Memengaruhi Terjadinya Luka Kaki Diabetik pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di Balai Pengobatan san Spesialis Perawatan Luka, Stoma, dan Inkontinensia “Kitamura” Pontianak pada Tahun 2014. Pontianak.

Dòria, M., Rosado, V., Pacheco, L. R., Hernández, M., Betriu, À., Valls, J., … Mauricio, D. (2016). Prevalence of Diabetic Foot Disease in Patients with Diabetes Mellitus under Renal Replacement Therapy in Lleida, Spain. BioMed Research International. https://doi.org/10.1155/2016/7217586

Fathmi, Ain. 2012. “Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Glukosa darah pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Daerah Karanganyar”. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta. Skripsi S1.

Firmansyah M.A. 2016. Tata Laksana Diabetes Melitus saat Puasa Ramadhan. Contiuning Medical Education-204 (40)5.

IDF. (2017). IDF Launches Clinical Practice Recommendations on the Diabetic Foot. Retrieved November 23, 2017, from https://www.idf.org/news/48:idf-launches-clinical-practice-recommendations-on-the-diabetic-foot.html

IDF. (2017). IDF New IDF figures show continued increase in diabetes across the globe, reiterating the need for urgent action. Retrieved November 23, 2017, from https://www.idf.org/news/94:new-idf-figures-show-continued-increase-in-diabetes-across-the-globe,-reiterating-the-need-for-urgent-action.html

Kumar, P., & Clark, M. (2012). Kumar & Clark’s Clinical Medicine (Eight). London: Elsevier Health Science.

Marinda, F. D., Suwandi, J. F., & Karyus, A. (2016). Tatalaksana Farmakologi Diabetes Melitus Tipe 2 pada Wanita Lansia dengan Kadar Gula Tidak Terkontrol Pharmacologic Management of Diabetes Melitus Type 2 in Elderly Woman with Uncontrolled Blood Glucose. J Medula Unila, 5(2), 26–32.

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan Penerapan Diagnosa Nanda, NIC, NOC dalam Penerapan Berbagai Kasus. (N. H. Rahil, Ed.) (Revisi Jil). Yogyakarta: Mediaction Publishing.

Nuryati, Siti. 2009. “Gaya Hidup dan Status Gizi Serta Hubungannya Dengan Hipertensi dan Diabetes Melitus Pada Pria Dan Wanita Dewasa di Dki Jakarta”. Bogor : Institut Pertanian Bogor. Tesis S2.

Patterson, RE, dkk. 2016. Intermittent Fasting and Human Metabolic Health. J Acad Nutr Diet. California. 115(8): 1203-12

PERKENI. 2015. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2015. Jakarta: Pengurus Besar Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PB PERKENI).

Rasid, Sulaiman. 1976. Fikih Islam. Jakarta: Attahiriyah

Santy, W. H. (n.d.). Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) for The Management of Diabetic Foot Wound.

Subekti I. 2006. Berpuasa bagi pasien diabetes. Dalam: Syam AF, Setiati S, Subekti I. Tips Berpuasa Ramadhan pada Berbagai Penyakit Kronis. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 27-37.

Sukarmin. (2016). Hubungan Latihan Mobilisasi Kaki dengan Tingkat Penyembuhan Luka Ulkus Diabetik pada Pasien Diabetes Mellitus di Puskesmas Welahan 2 Kabupaten Jepara. Jurusan Keperawatan STIKES Muhammadiyah Kudus, 303–309.

Yazdanpanah, L., Nasiri, M., & Adarvish, S. (2015). Literature Review on The Management of Diabetic Foot Ulcer. World Journal of Diabetes, 6(1), 37. https://doi.org/10.4239/wjd.v6.i1.37

Yosephine, dkk. 2002. Pengaruh Puasa selama Ramadhan terhadap Status Klinik Penderita Diabetes Miletus Tipe 2. Jurnal Kedokteran Trisakti. Jakarta. 21(2): 47-

Embara Sebelas Purnama [1]

Setelah sebelas purnama yang akan datang,

kitakan berjumpa kembali, insyaaAllah!

Allahumma ballighna Ramadhan,

Ramadhan, wa Ramadhan.

 

“Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)“ – Maula bin al Fadhl

 

Ramadhan telah usai, namun bukan berarti kita dibenarkan untuk meninggalkan versi terbaik kita dalam 12 bulan siklus tahun yang telah Allah tetapkan. Hidupkan nilai dan pesan Ramadhan di bulan-bulan lain dan hidupkan sunnah-sunnah khusus pada suatu bulan hijriah tertentu. Lakukan pengembaraanmu dengan lebih baik, sampai pelabuhan hati kembali terobservasi, sampai oase gurun kehidupupan kembali terlihat dari kejauhan, Ramadhan yang akan datang. Atau setidaknya, hingga Allah memanggil kita kembali menuju keharibaann-Nya, sedang Ia ridha dengan kita, dan kita ridha dengan-Nya. Aamiin

 

Bersama perjalanan sang waktu, ada ibrah yang sungguh berharga bagi orang-orang yang mau merenung akannya. Ibrah yang terletak bukan pada “kapan sebuah hitungan waktu diakhiri dan dimulakan kembali”, namun pada “dengan apa dahulu waktu-waktu yang telah berlalu itu diisi” dan “bagaimana waktu-waktu yang akan datang nanti dihiasi” – Extraordinary Ramadan

 

Berikut ini ceklist produktivitas khusus yang dapat Sahabat adaptasi dan gunakan sebagai panduan dalam memaksimalkan bulan hijriah tertentu. Semoga bermanfaat!

 

Syawwal

  • Maksimalkan sunnah-sunnah seputar malam dan shalat Idul Fitri
  • Menyambung silaturahim dengan berkunjung ke rumah kerabat dan kolega. Atau setidaknya dengan menhubungi mereka via telepon dan media sosial.
  • Segera menunaikan hutang puasa wajib bulan Ramadhan
  • Tidak melewatkan puasa sunnah 6 hari di bulan Syawwal

 

Dzu al Qa’dah 

Berumrah. Sahabat Anas bin Malik mengatakan: ”Bahwa Rasulullah melakukan umrah 4 kali, semuanya di bulan Dzulqa’dah, kecuali umrah yang mengiringi haji beliau.” – Muttafaq ‘alayh

 

Dzu al Hijjah

  • Memperbanyak dzikir (tahlil, takbir dan tahmid) dan puasa pada 10 hari pertama
  • Melakukan ibadah haji
  • Berpuasa pada hari Tarwiyah dan Arafah (9 dan 10 Dzu al Hijjah)
  • Menyimak kisah khutbah Arafah Haji Wada’ Rasulullah yang fenomenal
  • Maksimalkan sunnah-sunnah seputar malam dan shalat Idul Adha
  • Memaksimalkan amalan hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzu al Hijjah) dengan berdzikir, berdoa -terutama doa sapu jagad-, bersyukur, dan makan dan minum untuk ridha Allah
  • Siapkan diri dengan menabung jauh-jauh hari
  • Melakukan evaluasi akhir tahun. Hisablah dirimu sebelum dihisab

 

Muharram

  • Mensyukuri ni’mat usia hingga bertemu tahun yang baru ini.
  • Melakukan perencanaan untuk satu tahun mendatang.
  • Menghidupkanlah semangat berhijrah!
  • Berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) dan hari sebelumnya atau sesudahnya (9 / 11 Muharram)
  • Mencari tahu dan mempelajari ada apa apa dan bagaimana sebenarnya kisah tragedi Karbala dan syahidnya cucu Rasulullah, Hussain bin Ali r.a.

 

Rabi’ul Awwal

Ini salah bulan kelahiran dan wafatnya Rasulullah. Jadikan ia sebagai momentum untuk mempelajari dan membaca kembali kisah kehidupan Rasulullah dengan penuh kerinduan. Bershalawatlah atas beliau.

 

Rajab 

  • Berumrah
  • Melakukan pemanasan menjelang Ramadhan
  • Berdoa agar disampaikan pada bulan Ramadhan mendatang
  • Ada peristiwa besar Isra’ Mi’raj di bulan ini, Cobalah untuk mempelajari kisah Isra’ dan Mi’raj, hikmahnya, Tafsir surah al Isra’ ayat 1 dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Masjid al Aqsa

 

Sya’ban

  • Memperbanyak puasa sunnah
  • Menuntaskan penggantian puasa wajib Ramadhan tahun lalu
  • Mulai memperbanyak tilawah
  • Pemanasan menjelang Ramadhan
  • Berdoa agar disampaikan pada bulan Ramadhan mendatang

 

Wallahu a’lam

[1] Artikel ini diambil dari Buku Extraordinary Ramadhan yang dapat diunduh di extraordinaryramadan.blogspot.com Bagian Menuai, dalam topik “Embara 11 Purnama”.

Mempertahankan Semangat Ramadhan [1]

 

Kini, Ramadhan telah usai, pertanyaan besarnya adalah apa yang harus dilakukan?

 

“Kembali lagi melakukan puasa setelah puasa Ramadhan, itu tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena jika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelah itu. ‘Balasan dari  kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ “ – Lathaiful Ma’arif, 388

 

Idul Fitri bukan hanya hari kemenangan, tetapi ia juga hari perpisahan, perpisahan dengan Ramadhan. Tidak ada jaminan apakah kita akan merasakan nikmatnya Ramadhan kembali di tahun depan. Dengan berat hati dan menahan air mata kita berkata, “Sampai jumpa tahun depan, Insyaa Allah”.

 

Sekarang Ramadhan telah usai. Pertanyaan besarnya adalah apa yang harus dilakukan? Apakah kita akan meninggalkan segala hal baik yang kita dapatkan di bulan Ramadhan, seakan mengakui bahwa bulan Ramadhan adalah hujan musiman yang datang dan berlalu begitu saja dan kita adalah muslim musiman yang berganti identitas diri saat musimnya berubah?

 

Mari kita hidupkan semangat Ramadhan hingga 11 bulan mendatang, agar setidaknya kita tidak menyesal saat mengetahui bahwa Ramadhan ini adalah yang terakhir bagi kita.

 

Bekarya, Bekerja, Beribada Lillah

Sadarilah, Sahabat, bahwa perintah beribadah tidak untuk dilakukan di bulan Ramadhan saja, tetapi di sepanjang hidup kita. Setiap waktu adalah peluang untuk meraih ridha-Nya. Curahkan setiap ibadah yang kita lakukan hanya untuk Allah semata. Pastikan bahwa setiap waktu yang telah berlalu tidak terbuang sia-sia.

 

Menjaga Koneksi dengan Ilahi

Teruslah mengingat Allah dan menjaga koneksi dengan-Nya. Lakukan amalan-amalan wajib dan sunnah dengan istiqamah. Ingatlah selalu akan rahmat-Nya yang luar biasa dan syukuri itu semua.

 

Muhasabah Diri

Lanjutkan upaya evaluasi diri. Luangkan satu waktu me time untuk bermuhasabah. Lakukan penghitungan atas dirimu sendiri sebelum dihitung di Hari Perhitungan nanti.

 

Istiqamahkan Mengaji dan Mengkaji

Teruskan dan kembangkanlah budaya belajar Islam pada saat Bulan Ramadhan. Buatlah target bacaan al Quran, hadits, ayat hafalan, khazanah Islam, dll tiap hari. Ikuti kajian dan mejelis ilmu untuk menguatkan ilmu dan semangatmu

 

Mengasah Peduli

Jangan putus hubungan dirimu dengan umat. Teruslah memberi kontribusi: seminimal mungkin dengan berupaya menjadi seseorang yang profesional pada setiap hal dan bidang yang kita tekuni. Persembahkanlah suatu warisan terbaikmu bagi umat ini.

Jadilah selalu diri kita di saat Ramadhan. Hidupkan semangat Ramadhan hingga Ramadhan mendatang. Atau setidaknya hingga nafas sampai di ujung tenggorokan. Sebab boleh jadi,   detik, menit, jam, hari, bulan, atau tahun ini adalah yang terakhir.

 

[1] Artikel ini diambil dari Buku Extraordinary Ramadhan yang dapat diunduh di extraordinaryramadan.blogspot.com Bagian Menuai, dalam topik “Warisan Ramadhan”.

Puasa Ramadhan

 

Definisi Puasa Ramadhan

Puasa menurut bahasa adalah menahan diri. Sedangkan menurut syari’at, puasa adalah menahan diri dari makanan, minuman, hubungan suami-istri, dan semua perkara yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari dengan niat ibadah.

Allah telah mewajibkan puasa kepada umat Muhammad sebagaimana Dia mewajibkannya kepada umat-umat terdahulu. Sesuai dengan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa” [Q.S. Al-Baqarah : 183].

Puasa pada bulan Ramadhan adalah wajib berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’. Allah berfirman

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembela (antara yang haq dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan itu, maka hendalah ia berpasa pada bulan itu.” [Q.S. al-Baqarah : 185].

Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda, “Tali Islam dan kaidah Agama itu ada tiga, dan Islam dibangun di atas ketiganya. Barangsiapa meninggalkan salah satu dari ketiganya, maka ia kafir dan darahnya halal. (ketiga tali Islam itu, dan kaidah agama) itu adalah kesaksian bahwa tidak Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan.” [H.R. Abu Ya’la, dalam Musnadnya, 4/236 dengan sanad hasan].

Dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, dia mengisahkan

أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصِّيَامِ فَقَالَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الزَّكَاةِ فَقَالَ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَالَ وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لَا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا وَلَا أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ

Ada seorang Arab badui yang rambutnya berdiri datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang sholat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Beliau menjawab, “Sholat lima waktu kecuali jika kamu ingin menambah sholat yang lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku puasa yang diwajibkan Allah kepadaku”. Beliau menjawab, ”Puasa di bulan Ramadhan, kecuali apabila kamu mau melakukan puasa lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku zakat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitahukan kepadanya syari’at-syari’at Islam. Lalu lelaki itu berkata, “Demi Tuhan yang memuliakanmu. Aku tidak akan menambah dan mengurangi apa yang Allah wajibkan kepadaku barang sedikit pun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia pasti beruntung jika dia jujur.” atau “Dia pasti masuk surga jika dia jujur.” [HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam]

Keutamaan dan Manfaat Puasa Ramadhan

Keutamaan puasa disebutkan dan ditegaskan didalam hadist-hadist berikut. Rasulullah bersabda :

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

“puasa adalah perisai dari Neraka, sebagaimana perisai salah seorang diantara kalian untuk perang” [H.R. Ahmad, no. 15844]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbudat bodoh. Apabila ada orang lain yang memerangi atau mencacinya, hendaklah dia katakan, ‘Aku sedang puasa’ (dua kali). Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ta’ala daripada bau minyak kasturi. Dia rela meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” [HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam]

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari Neraka disebabkan (puasa) hari itu sejauh (perjalanan) tujuh puluh tahun” [H.R. al-Bukhori, no. 2840; Muslim, no. 1153].

“sesungguhnya orang yang berpuasa itu mempunyai doa yang tidak ditolak pada saat ia berbuka” [H.R. Ibnu Majah, no. 1753 dan al-Hakim, dan ia menshahihkannya].

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“sesungguhnya di dalam Syurga itu terdapat sebuah pintu yang disebut sebagai ar-Rayyan, orang-orang yang berpuasa masuk (ke dalam Syurga) pada hari Kiamat melalui pintu itu dan tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk melalui pintu tersebut. Ditanyakan, ‘Di manakah orang-orang yang berpuasa?’ kemudian mereka berdiri dan masuk melaluinya tanpa seorang pun selain mereka. Jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, pintu tersebut ditutup sehingga tidak ada seorangpun selain mereka yang bisa masuk melaluinya” [H.R. al-Bukhori, no. 1896; Muslim, no. 1152].

Bulan Ramadhan mempunyai keutamaan yang besar dan keistimewan yang bermacam-macam yang tidak dimiliki bulan-bulan yang lain. Hadist-hadist berikut menetapkan hal itu dan menguatkannya :

“shalat lima waktu dan jum’at ke jum’at berikutnya, serta Ramadhan ke Ramdhan selanjutnya adalah penghapus dosa-dosa diantara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” [HR. Muslim, no. 16].

“Barangsiap yang berpuasa pada bulan Ramdhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosa nya yang telah lalu akan diampuni.” [H.R. Bukhori, no. 38; Muslim, no. 760].

“Aku melihat salah seorang dari umatku terngah-engah kehausan, setiap kali ia tiba di kolam air, maka ia tercegah darinya (tidak dapat mencapainya), kemudian (masa) puasa Ramadhan datang padanya, sehingga memberina air minum dan melepaskan dahaganya.” [H.R. ath-Thabrani].

“Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan pembesar-pembesar jin dibelenggu, pintu-pintu Neraka ditutup dan tidak ada satupun pintunya yang dibuka, sementara pintu-pintu Syurga dibuka dan tidak ada satupun pintunya yang ditutup, lalu seorang penyeru berseru, ‘Hai pencari kebaikan datanglah dan hai pencari keburukan behentilah.’ Allah mempunyai orang-orang yang terbebas dari Neraka dan itu terjadi pada setiap malam.” [H.R. al-Tirmidzi, no. 682 dan dia mengatakan bahwa hadist ini gharib.  Diriwayatkan pula oleh al-Hakim 1/582 dan dia menshahihkannya sesuai dengan syarat al-Bukhori dan Muslim].

Manfaat Puasa bagi Kesehatan

Adapun beberapa manfaat puasa bagi kesehatan telah disepakati oleh para medis dari kalangan Muslim dan non muslim, manfaat ini beragam mencakup, berbagai sistem anatomi tubuh dari pencernaan, peredaran darah, pernapasan dan lainnya. Manfaat puasa efektif melindungi kesehatan tubuh, hinga orang-orang non muslim saja mengkhususkan beberapa hari untuk mereka puasai. Bahkan sebagian mereka ikut berpuasa bersama kaum muslimin karena tinjauan kesehatan. Diantara manfaat puasa yang tercantum dalam buku-buku kedokteran dan ilmiah adalah sebagai berikut :

Puasa mampu mengobati gangguan usus kronis, obesitas, tekanan darah tinggi, radang ginjal dan penyakit kulit. Hal ini dikarenakan tidak makan dan tidak minum selama beberapa waktu dapat mengurangi kadar air dalam tubuh. Otomatis hal ini berpengaruh pada keberadaan airdalam kulit, sehingga menambah daya perlawanannya pada penyakit dan mempercepat penyembuhan.

Mengatasi gangguan pencernaan

Mengurangi kadar gula darah

Mengurangi berat badan

Baik untuk penyembuhan bebrapa penyakit jantung

Baik untuk penyembuhan radang ginjal dan persendian/rematik.

Pertama, mengatur menu makanan dan makan dengan teratur, berarti mengorganisasi kerja suatu alat yang fundamental dalam tubuh, yakni alat pencernaan.  Menjadwal lambung dan usus untuk bekerja dan istrahat dalam waktu-waktu tertentu adalah suatu proses yang sehat lagi penting untuk menguatkan ketahanan lambung dan usus. Tidak makan dan tidak minum selama beberapa waktu saat menjalankan puasa memberikan kesempatan kepada organ lambung dan usus untuk membuang sisa-sisa makanan yang kebanyakan tidak baik untuk tubuh. Mikroba-mikroba yang kita dapati dalam alat pencernaan akan menjadikan sisa-sisa makanan ini sebagai sarang utama pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Maka ketika residu makanan ini hanya ada sedikit dalam sistem pencernaan, mikroba-mikroba tersebut tidak memiliki kesempatan hidup, dengan demikian, racun dan bahaya sarang ini pun berkurang.

Kedua, puasa dapat mengurangi kadar minyak yang dihasilkan kelenjar-kelenjar minyak dan dapat mengurangi aktivitas kelenjar-kelenjar ini, sehingga kondisi kulit yang berminyak dapat berkurang. Dari situ, radang kulit berminyak dan radang pada lipatan-lipatan kulit pada orang yang memiliki kulit seperti juga akan membaik, penyebaran jerawat juga akan melambat, bisul yang biasa muncul pada kulit berminyak akan hilang. Mengurangi mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung zat-zat tertentu, seperti protein yang terdapat pada keju, daging, telur dan ikan yang semua ini potensial menimbulkan penyakit sensitif. Juga dapat mengurangi gatal-gatal dan menyembuhkan eksim. Puasa juga dapat mengurangi kondisi garam pada makanan dan minuman hingga dapat meminimalisir bertumpukny cairan dan iar pada jaringan-jaringan dalam tubuh. Dengan demikian akan mengurangi resiko munculnya radang kulit kronis, sebab pada bagian tubuh yang bengkak dan mengandung cairanlah mikroba-mikroba mendapati peluang besar untuk berkembang biak dan menciptakan penyakit baru.

Ketiga, puasa efektif mengurangi gangguan psikologis dan syaraf yang berdampak menimbulkan beberapa jenis gangguan penyakit kulit. Puasa, meninggalkan dosa-dosa kecil maupun dosa besar dan menuju pada Allah dapat mengurangi beban urusan yang membelit hati, sehingga mampu melahirkan ketenangan jiwa. Keadaan ini jelas membantu dalam mengatasi penyakit-penyakit kulit yang sangat dipengaruhi oleh kondisi syaraf, seperti vitilogo (suatu penyakit kulit dimana warnah kuling berkurang yang akan menimbulkan bercak-bercak putih pada kulit). Puasa juga menetralkan tabiat, mencerdaskan pikiran menajamkan mata hati dan menyinari jiwa untuk menerima limpahan karunia kesucian dan penerangan Rabbani.

Keutamaan Perbuatan Baik selama Ramadhan

Karena keutamaan Ramadhan, setiap kebaikan dan bermacam-macam perbuatan baik pun diutamakan. Diantara perbuatan-perbuatan baik tersebut antara lain sebagai berikut :

Shadaqoh : keutamaan Shadaqoh pada bulan Ramadhan ialah diantara dalil-dalil berikut ;

~”sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramdhan” [H.R. al-Tirmidzi, no. 663. Hadist ini adalah hadist dhaif].

~”Barangsiapa yang memberi makanan untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun” [H.R. Ahmad, no. 21168; dan at-Tirmidzi, no. 807. Hadist ini adalah hadist shahih].

~”Barangsiapa yang memberi makanan atau minuman untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa dari hartanya yang halal, maka malaikat akan memanjatkan shalawat baginya selama beberapa saat pada bulan Ramdhan dan malaikat Jibril akan memanjatkan shalawat baginya pada malam Qadar (Lailatul Qadar).” [H.R. at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 2/261 dan Abu asy-Syaikh].

~”Rasulullah adalah orang yang paling dermawan diantara manusia dalam melakukan kebaikan dan beliau lebih dermawan lagi melakukan kebaikan tersebut pada bulan Ramadhan dimana malaikat Jibril mendatanginya.” [H.R. al-Bukhori, no. 6].

 

Shalat Sunnah pada Malam Ramadhan ; Berdasarkan dalil-dalil berikut, Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa yang melakukan qiyamul lail pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap ganjaran Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [H.R. al-Bukhori, no. 37; Muslim, no. 760].

 

“Rasulullah senantiasa menghidupkan malam-malam Ramadhan, dan jika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau membangunkan keluarganya dan semua anak-anak serta orang dewasa yang mampu melakukan shalat.” [H.R. Muslim, no. 1174].

 

Membaca al-Qur’an al-Karim : karena Rasulullah memperbanyak membaca al-Qur’an al-Karim pada bulan Ramadhan dan malaikat Jibril membacakan al-Qur’an kepada beliau pada bulan Ramadhan [H.R. al-Bukhori].

Rasulullah membaca al-Qur’an didalam shalat lebih lama pada bulan Ramadhan daripada bacaannya pada bulan-bulan yang lain. Pada suatu malam, Hudzifah melaksanakan shalat bersama Rasulullah , dan beliau membaca surat al-Baqarah, kemudian Ali Imran dan an-Nisa. Setiap kali membacakan ayat memberikan peringatan tentang sesuatu yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdo’a. tidaklah beliau melaksanakan shalat melainkan dua rakat sampai Bilal datang dan mengumandangkan adzan untuk shalat. [H.R. Muslim, no.772].

Rasulullah juga bersabda : “puasa dan al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seoang hamba pada hari Kiamat. Puasa berkata ‘Wahai Rabb, aku menahannya dari makan dan minum pada siang hari. Dan al-Qur’an berkata, ‘Wahai Rabb, aku menahannya dari tidur pada malam hari, maka izinkan kami memberikan syafa’at kepadanya.” [H.R. Ahmad, no. 6589 dan an-Nasa’i].

 

I’tikaf : yaitu menetap di Masjid untuk melakukan ibadah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah selalu melakukan I’tikaf selama sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah memanggilnya sebagaimana disebutkan dalam hadist shahih [Muslim, no. 1171]. Rasulullah juga bersabda :

“Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertaqwa,dan Allah akan menjamin bagi orang yang menjadikan masjid sebagai rumahnya dengan memberinya kasih sayang, rahmat dan keberhasilan melewati titian menuju keridhaan Allah sampai ke Syurga.” [H.R. at-Thabrani dalam al-Kabir, 6/254; dan al-Bazzar, 6/506].

 

Umrah : yaitu melakukan ziarah ke Baitullah Masjidil Haram untuk melaksanakan Thawaf dan Sa’I pada bulan Ramadhan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah,

“Umrah pada bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku.” [H.R. Al-Bukhori, no. 1863; Muslim, no. 1256].

“Umrah satu sampai dengan umrah yang berikutnya adalah penghapus dosa-dosa yang dilakukan diantara keduanya.” [H.R. al-Bukhori, no. 1773; Muslim,no. 1349].

 

Rukun-Rukun Puasa

Rukun-rukun puasa adalah sebagai berikut :

Niat, yaitu kemantapan hati untuk berpuasa sebagai (wujud) ketaatan atas perintah Allah, atau mendekatkan diri kepada-Nya, berdasarkan sabda Rasulullah,

“sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu bergantung pada niatnya” [H.R. al-Bukhori]

 

Jika puasa yang akan dilaksanakannya adalah puasa Wajib, maka niatnya wajib dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Ini berdasarkan Sabda Rasulullah,

“barangsiapa yang tidak meniatkan puasa sejak malam harinya, maka tidak ada puasa baginya.” [H.R. at-Tarmidzi, no. 730 dengan lafadz yang berbeda].

 

Hadist ini ada dalam riwayat an-Nasa’i, no. 2334. Jika puasa itu adalah puasa sunnah, maka puasanya sah, walaupun niatnya dilakukan setelah terbitnya fajar dan matahari telah meninggi dengan syarat ia belum makan apapun. Ini berdasarkan pernyatan Aisya,

“pada suatu hari Rasulullah masuk ke dalam rumahku, kemudian bertanya, apakah kalian mempunyai makanan? Kami menjawab, ‘Tidak.’ Lalu Rasulullah bersabda, ‘(jika demikian), maka aku berpuasa’.” [H.R. Muslim, no. 1154].

 

Imsak, yaitu menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan berhubungan seksual.

Waktu, yang dimaksudkan dengan waktu disini adalah siang hari, yaitu sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Jika seseorang berpuasa pada malam hari dan berbuka pada siang hari, maka puasanya sama sekali tidak sah, sebagaimana Allah berfirman,

“kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.”[Q.S. al-Baqarah : 187].

 

Sunah-Sunah Puasa

Perkara-perkaa yang disunahkan dalam puasa adalah :

Menyegerakan berbuka puasa (ta’jil), yaitu segera berbuka puasa ketika waktu berbuka telah tiba pada saat matahari benar-benar telah terbenam, sebagaimana sabda Rasulullah,

“manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” [H.R. al-Bukhori, no. 1957; Muslim, no. 1098]

Anas bin Malik juga berkata,

“sesungguhny  Nabi tidak mengerjakan shalat Magrib sampai berbuka puasa (terlebih dahulu) walaupun hanya seteguk air.” [H.R. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath, 8/335].

Berbuka puasa dengan kurma matang, atau kurma kering, atau air. Yang terbaik diantara ketiganya adalah yang pertama, yaitu kurma matang, sedangkan yang kurang baik adalah yang terakhir, yaitu air. Seorang Muslim disunahkan berbuka puasa dengan sesuatu yang ganjil : tiga, lima, atau tujuh, sebagaiman Anas bin Malik berkata,

“Rasulullah berbuka puasa dengan beberapa kurma ruthab (yang setengan matang)sebelum mengerjakan shalat Maghrib. Jika ruthab tidak ada, beliau berbuka puasa dengan kurma matan. Jika (kurma matang) tidak ada, beliau meneguk beberapa tegukan air.” [H.R. at-Tirmidzi, no. 696].

Berdoa ketika berbuka puasa, karena Rasulullah berdoa ketika berbuka puasa, sebagai berikut,

“Ya Allah untukMu kami berpuasa dan dengan rikiMu kami berbuka, (maka terimalah (puasa) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)” [H.R. ath-Thabrani, 12/156; Abu Dawud, no. 33-58].

 

Ibnu Umar juga berdo’a ketika berbuka puasa, yaitu dengan do’a berikut :

“Ya Allah, aku meminta kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu, semoga Engkau mengampuni dosa-dosaku.” [H.R. Ibnu Majah, riwayat shahih].

 

Sahur, yaitu makan dan minum pada saat sahur diakhir malam dengan niat puasa, sebagaimana sabda Rasulullah,

“sesungguhnya pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahli kitab adalah makan sahur.” [H.R. Muslim, no. 1096]. Dan sabda Rasulullah,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

 

”makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.” [H.R. al-Bukhori, no. 1923; Muslim, no. 1095].

 

Mengakhirkan sahur sampai akhir bagian malam hari, berdasarkan sabda Rasulullah,

“Umtku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.” [H.R. Ahmad, no. 20805, hadist shahih].

Waktu ahur dimulai sejak pertengahan malam yang akhir dan berakhir beberapa saat sebelum fajar tiba. Ketentuan ini berdasarkan pernyataan Zai bin Tsabit,

سَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إلَى الصَّلاةِ قَالَ أَنَسٌ قُلْت لِزَيْدٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami melaksanakan sahur bersama Rasulullah kemudian beliau berdiri untuk shalat. Aku bertanya, ‘Berapa jarak waktu antara adzan dengan sahur?’ Rasulullah menjawab, “sekitar (membaca) 50 ayat. [H.R. al-Bukhori, no. 1921; Muslim, no. 1097].

 

CATATAN :

Orang yang merasa ragu-ragu mengenai terbitnya fajar, ia boleh makan dan minum sampai ia merasa yakin bahwa fajar telah terbit, kemudian ia berhenti dari makan dan minum, sebagaimana firman Allah menyebutkan,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

 

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. [Q.S. al-Baqarah : 187].

Seorang berkata kepada Ibnu Abbas, “Aku sedang sahur tetapi tiba-tiba aku merasa ragu-ragu sehinga aku berhenti sahur.” Ibnu Abbas berkata kepadanya, “Makanlah selama kamu merasa ragu-ragu sampai kamu tidak merasa ragu-ragu (yakin).” [H.R. Ibnu Abu Syaibah 2/288].

Al-Hafidz meriwayatkannya dalam “Al-Fath.” Makan dan minum sampai benar-benar nyata terbit fajar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Imam Malik berpendapat bahwa orang yang makan dan minum dalam keadaan ragu mengenai terbitnya fajar, maka ia harus mengganti puasanya, dan ini hanya sekedar upaya untuk berhati-hati.

 

Perkara-Perkara yang Makruh dalam Puasa

Bagi orang yang sedang berpuasa, makruh hukumnya melakukan perkara-perkara yang dapat merusak puasanya, meskipun jika dilakukan secara wajar, tetapi perkara-perkara tersebut tidak membatalkan puasa. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Berlebih-lebihan dalam berkumur dan membersihkan hidung dengan menghirup dan mengeluarkan air ketika berwudhu, berdasarkan sabda Rasulullah

“dan bertindaklah maksimal dalam menghirup air dengan hidung kecuali engkau sedang berpuasa.” [H.R. Abu Dawud, no. 2366; at-Tirmidzi, no. 788; an-Nasa’I, no. 87; Ibnu Majah, 1/78, ia menshahihkannya].

Rasulullah tidak menyukai terlalu dalam menghirup air karena takut akan masuknya air tersebut ke dalam rongga (hidung)nya yang akan merusak puasanya.

Ciuman, karena mencium kadang-kadang membangkitkan syahwat yang dapat merambat sampai merusak puasanya dengar keluarnya air madzi atau dengan hubungan suami istri yang harus dibayar dengan kaffarah.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata,

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ وَهُوَ صَائِمٌ ثُمَّ ضَحِكَتْ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu pernah mencium sebagian istrinya dalam keadaan beliau sedang berpuasa.” Kemudian ‘Aisyah tertawa” [HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam]

 

Suami terus menerus melihat istri dengan syahwat.

Menghayalkan hubungan suami istri.

Menyentuh wanita dengan tangan atau menempel tubuhnya dengan tubuh.

Mengunyah daun sirih karena dikhawatirkan beberapa baginya masuk ke dalam tenggorokan.

Mencicipi makanan.

Berkumur-kumur bukan wudhu atau keperluan yang mengharuskannya.

Bercelak pada permulaan siang, tetapi jika bercelak pada akhir siang, maka hal itu diperbolehkan.

Berbekam atau mengeluarkan darah karena dikhawatirkan akan melemahkan tubuh yang menyebabkan harus membatalkan puasanya, karena hal yang demikian terdapat perkara yang dapat membatalkan puasa.

 

Perkara-Perkara yang Membatalkan Puasa

Perkara-perkara yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut ;

Masuknya cairan ke dalam tubuh melalui hidung seperti memasukkan obat lewat hidung, atau mata dan telinga, seperti meteskan cairan/obat ke keduanya, atau melalui dubur dan kemaluan wanita, seperti suntikan.

Sesuatu yang masuk ke dalam tubuh karena berlebih lebihan dalam berkumur dan menghirup air dengan hidung ketika berwudhu dan lainnya.

Keluarnya air mani karena melihat wanita secara terus-menerus, selalu memikirkannya, mencium, atau berhubungan suami istri.

Muntah dengan sengaja, sebagaimana sabda Rasulullah,

“barang siapa yang muntah dengan sengaja, maka ia harus mengganti puasanya.” [H.R. a-Tarmidzi, no. 720].

Sedangkan orang yang muntah tanpa disengaja karena tak mampu menahannya, misalnya,maka hal itu tidak membatalkan puasa.

Makan dan minum atau bersenggama dalam keadaan terpaksa untuk itu.

Orang yang makan dan minum karena menduga masih malam, tetapi kemudian nyatalah baginya bahwa fajar telah terbit.

Orang yang makan dan minum karena menduga bahwa hari telah malam, tetapi kemudian nyata baginya bahwa hari masih siang.

Orang yang makan dan minum karena lupa, tetapi kemudian ia tidak berhenti darinya karena menduga bahwa berhenti makan dan minum itu tidak wajib selama ia telah makan dan minum hinga meneruskan berbuka sampai malam.

Masuknya sesuatu yang bukan makanan atau minuman ke dalam tubuh melalui mulut, misalnya menelan permata atau benang, sebagaimana diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Puasa itu karena sesuatu yang masuk, dan bukan karena sesuatu yang keluar.” Yang dimaksudkan oleh Ibnu Abbas adalah bahwa puasa itu batal dengan masuknya sesuatu ke dalam tubuh dan bukan karena keluarnya sesuatu darinya, seperti darah dan muntah.

Menolak berniat puasa meskipun tidak makan dan minum jika penolakan tersebut ditafsirkan sebagai berbuka puasa, tetapi jika sebaliknya, maka puasa itu tidak batal.

Murtad (keluar) dari Islam, walaupun ia kembali masuk ke dalam Islam, berdasarkan firman Allah

“jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Q.S. Az-Zumar : 65].

 

Perkara-Perkara yang Diperbolehkan Bagi Orang yang Berpuasa

Orang yang berpuasa diperbolehkan melakukan perkara-perkara sebagai berikut :

Menggunakan siwak pada siang hari. Tetapi, menurut Imam Ahmad, menggunakan siwak makruh hukumnya bagi orang yang sedang berpuasa setelah matahari condong ke arah barat.

Mendinginkan badan dengan air karena panas yang sangat menyengat, baik dengan menyiramkan air ke seluruh badan atau dengan berendam di dalam air.

Makan dan minum dan hubungan suami istri pada malam hari, hingga terlihat dengan jelas terbitnya fajar.

Bepergian untuk suatu kebutuhan yang diperbolehkan meskipun perjalanan tersebut bisa jadi akan mengakibatkan dirinya berbuka puasa.

Berobat dengan jenis obat apapun yang halal selama tidak ada yang masuk ke dalam tubuh, misalnya denan menggunakan jarum jika hal itu bukan infus.

Mengunyahkan makanan unuk anak kecil jika yang bersangkutan tidak menemukan orang yang dapat mengunyahkan makanannya dengan syarat tidak ada sesuatu apapun yang masuk ke dalam tubuhnya.

Menggunakana minyak wangi dan wewangian, hal ini karena tidak ada riwayat yang melarangnya dari pembuat syari’at.

 

Perkara-Perkara yang Dimaafkan

Perkara-perkara yang dimaafkan apabila dilakukan oleh orang yang berpuasa adalah sebgai berikut :

Menelan ludah walaupun banyak. Maksudnya adalah ludahnya sendiri, bukan ludah orang lain.

Terpaksa muntah dan mengeluarkan cairan dari perut (dengan syarat) jika tidak aa yang masuk lagi ke dalam perutnya setelah (keluar) sampai pada ujung lidahnya.

Menelan lalat (serangga) karena terpaksa dan tanpa disengaja.

Debu jalanan, dan asap dari pabrik-pabrik, asap kayu bakar dan seluruh bentuk asap yang lain yang tidak dapat dihindari.

Bangun pagi dalam keadaan junud, meskipun ia menghabiskan seluruh siangnya dalam keadaan junud.

Mimpi basah, tidak ada akibat apapun bagi orang yang berpuasa jika ia mengalami mimpi basah, hal itu tidak meyebabkan puasanya batal. Rasulullah bersabda,

“hukum tidak dapat diberlakukan atas tiga orang, yaitu : orang gila sampai ia sadar, orang tidur sampai ia bangun, dan anak kecil sampai ia bermimpi (baligh).” [H.R. Ahmad, no. 1330 dan Abu Dawud, no. 4399].

Makan dan minum tanpa disengaja atau lupa. Tetapi Imam Malik berpendapat bahwa orang yang makan dan minum karena lupa, ia harus mengqadha’ nya puasanya jika puasa itu adalah puasa wajib, sebagai kehati-hatian darinya. Sedangkan puasa sunnah, tidak kewajiban mengqadha’nya. Hali ini berdasarkan sabda Rasulullah;

إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

“orang yang lupa sedangkan ia berpuasa, kemudian ia makan atau minum, maka ia harus menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberinya makan dan minum.” [H.R. al-Bukhori, no. 1933; Muslim, no. 1155].

Sabda Rasulullah yang lain,

“ barang siapa yang berbuka puasa pada bulan Ramadhan karena lupa, ia tidak wajib mengqadha’nya dan tidak wajib pula membayar kafarat (denda).” [H.R. ad-Daraquthni 2/178. Hadits shahih].