Si Manis Nan Mungil Kurma, Hidangan Sunnah ala Rasulullah

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh ikhwah fillah.

Alhamdulillah, ketemu lagi indahnya Ramadhan di tahun ini. Mari kita memanfaatkan kesempatan emas ini untuk berlomba-lomba memaknai dan menggapai berkah sebanyak-banyaknya. Lantas apa yang terbersit di benak antum wa antunna tatkala mendengar kata Ramadhan? Puasa. Yaps, benar sekali. Menunaikan ibadah puasa merupakan nikmat tersendiri di hati para hamba-Nya dalam menjiwai Ramadhan yang identik dengan buah kurma. Lalu, apa istimewanya si imut hitam manis ini? Yuk kita kupas lebih mendalam.

 

  1. Kurma : Menu Berbuka Puasa dan Sahur Ala Rasullullah

َنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Dari Anas bin Malik ra berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).

Berdasarkan hadist di atas dapat diambil beberapa pelajaran berharga, yaitu :

  • Anjuran untuk segera berbuka puasa.
  • Anjuran untuk berbuka puasa dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka boleh memakan tamr (kurma kering), atau jika tidak ada pula maka minumlah air.

Apa sih keunggulan kurma hingga menjadi menu berbuka puasa yang dianjurkan Rasullullah? Nah, pada saat berpuasa, lambung berada dalam kondisi kosong sehingga sukar bagi makanan untuk langsung dicerna ke seluruh organ tubuh dan menjadi sumber energi, kecuali kurma. Hal ini dikarenakan buah kurma mengandung karbohidrat yang cocok dengan kondisi liver (hati) pasca berpuasa, terutama kurma matang yang masih segar sebelum lambung siap menerima makanan lainnya.

Bahan makanan yang mengandung gula (glukosa dan fruktosa) mudah untuk dicerna oleh tubuh dan terserap oleh darah, lambung, maupun usus. Proses yang terjadi hanya memerlukan waktu 5 hingga 10 menit untuk diserap oleh usus dalam kondisi kosong. Hal ini menjadikan konsumsi kurma yang kaya serat dapat mengembalikan kekuatan tubuh secara cepat. Sedangkan menyantap makanan tanpa unsur gula membutuhkan waktu penyerapan lebih lama, yaitu sekitar 3 hingga 4 jam.

Selain untuk berbuka, konsumsi kurma juga dianjurkan di waktu sahur.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

’Sebaik-baik sahurnya orang mukmin adalah kurma tamr.’ (HR. Abu Daud 2345, Ibnu Hibban 3475 dan dishahihkan al-Albani dan Syuaib al-Arnauth)

Dalam hal ini, kurma tamr yang mengandung karbohidrat tinggi sangat dianjurkan saat sahur agar tubuh memiliki cadangan energi yang cukup untuk berpuasa.

 

  1. Kandungan dan Khasiat Kurma

Bagaimana ikhwah mengenai pembahasan keterkaitan kurma dengan puasa? Lanjut yah. Kurma memiliki nama ilmiah Phoenix dactylifera dan merupakan tanaman buah tertua yang ditanam di daerah kering. Baru tau kan? Nah, sekarang kita akan menyelami khasiat lain dari kurma. Kurma mengandung banyak nutrisi yang berguna bagi tubuh. Mengonsumsi buah kurma dapat mengembalikan energi secara instan melalui kadar gula yang tinggi (berupa fruktosa, glukosa, dan sukrosa) dan mengganti kehilangan elektrolit selama puasa.

Zat besi yang tinggi pada buah kurma dapat membantu pembentukan hemoglobin yang berguna untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh lebih besar. Kondisi ini akan membantu dalam mempercepat metabolisme sel. Peningkatan metabolisme ini akan meningkatkan produksi energi yang bermanfaat untuk mempertahankan sel agar tidak rusak dan membangun kembali sel yang telah rusak.

Buah kurma mengandung potasium atau kalium sebesar 696 mg yang bermanfaat untuk mengendalikan detak jantung, fungsi otak, dan mengurangi rasa lelah pasca beraktivitas. Selain itu, kurma juga mempunyai berbagai kandungan zat-zat protein, lemak, serat, vitamin A, B1, B2, B12, C, kalsium, klorin, tembaga, magnesium, sulfur, fosfor, dan beberapa enzim yang berperan dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Bahkan, sebuah penelitian tentang toksisitas liver membuktikan bahwa kurma berfungsi menormalkan enzim-enzim liver (aspartate transaminase, alanine transaminase, alkaline phosphatase, lactate dehydrogenase), menurunkan peroksidasi lemak, dan meningkatkan atioksidan enzim maupun non-enzim.

 

  1. Jenis-jenis Kurma

Apabila dilihat dari varietasnya, ternyata buah kurma memiliki lebih dari 450 jenis. Beberapa jenis kurma tersebut meliputi ajwa,  khalasah, anbara, safawi, barhi saghai, khudri dan lain-lain. Namun, kurma ajwa atau biasa disebut dengan kurma nabi adalah jenis yang paling utama. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kurma Ajwah itu berasal dari surga, ia adalah obat dari racun”. Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa yang dimaksud kurma Ajwah dalam hadist tersebut adalah kurma Ajwah Al-Madinah, yakni berasal dari Madinah khususnya daerah Al Awali. Kurma Ajwah dikenal sebagai kurma Hijaz terbaik dari seluruh jenisnya. Bentuknya amat bagus, padat, agak keras, kuat, lezat, harum, dan empuk.

Anjuran untuk mengkonsumsi buah kurma Ajwah ini terdapat dalam hadist Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang diriwayatkan dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau pernah bersabda,

مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada pagi hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir”

Selain dari jenisnya, kurma juga dibedakan berdasarkan tingkat kematangannya. Terdapat 4 fase kematangan kurma dengan karakteristik sebagai berikut,

  1. Kimri, merupakan kurma berumur 5 hingga 17 minggu, berwarna hijau dengan ukuran yang masih kecil, dan memiliki kadar air yang sangat tinggi. Kimri belum layak untuk dikonsumsi karena masih mentah.
  2. Khalaal, yakni kurma berumur 19-25 minggu, berwarna kekuningan, kulit kencang, dengan ukuran sudah optimal, dan kadar air sekitar 50%. Khalaal sudah mulai dapat dikonsumsi namun belum sempurna rasanya.
  3. Ruthab atau kurma basah, yakni kurma berumur 26-28 minggu, berwarna merah kecoklatan, kulit relatif masih kencang, rasanya manis, dan memiliki kadar air 30-40%.
  4. Tamr atau kurma kering, merupakan kurma fase akhir, berwarna kecoklatan atau lebih gelap, rasanya sangat manis, namun kadar air mulai menurun sehingga kulit berubah menjadi keriput.

Berdasarkan 4 fase kematangan tersebut, kurma dengan tingkat kematangan Ruthab dan Tamr lah yang lebih direkomendasikan untuk dikonsumsi.

 

Cara Rasulullah mengkonsumsi buah kurma tersebut bervariasi, baik dimakan langsung, dikombinasi dengan buah semangka, atau dengan meminum air rendaman kurma.

Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau makan semangka dengan kurma muda seraya bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَأْكُلُ الْبِطِّيخَ بِالرُّطَبِ فَيَقُولُ: نَكْسِرُ حَرَّ هَذَا بِبَرْدِ هَذَا، وَبَرْدَ هَذَا بِحَرِّ هَذَا

Kami memecah panasnya ini (kurma muda) dengan dinginnya ini (semangka) dan dinginnya ini (semangka) dengan panasnya ini (kurma muda).” (Sunan Abu Dawud; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

 

Kemudian, Rasulullah juga menyukai air hasil rendaman buah kurma ataupun kismis sebagaimana hadist berikut,

َعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ

Dari Ibnu Abbas Radhiyalahu ‘anhu, ia berkata,”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah dibuatkan rendaman kismis dalam satu bejana, kemudian beliau minum rendaman tersebut pada hari itu, juga esok harinya dan keesokannya harinya. Pada sore hari ketiga beliau memberi minuman tersebut kepada yang lain, jika masih ada yang tersisa , beliaupun menuangnya.”

Subhanallah, ternyata infused water yang kita kenal saat ini pun sudah lebih dahulu diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memang memiliki manfaat yang baik bagi tubuh.

 

  1. Kurma untuk Tahnik

Tahnik, yaitu memberi makan kurma yang telah dikunyah lalu dimasukkan ke dalam mulut bayi, termasuk di antara hal yang disunnahkan dilakukan oleh orang tua ketika mendapati buah hati saat lahir.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan pengertian tahnik, “Tahnik ialah mengunyah sesuatu kemudian meletakkan/ memasukkannya ke mulut bayi lalu menggosok-gosokkan ke langit-langit mulut. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bayi terlatih dengan makanan, juga untuk menguatkannya. Yang patut dilakukan ketika mentahnik hendaklah mulut (bayi tersebut) dibuka sehingga (sesuatu yang telah dikunyah) masuk ke dalam perutnya. Yang lebih utama, mentahnik dilakukan dengan kurma kering (tamr). Jika tidak mudah mendapatkan kurma kering (tamr), maka dengan kurma basah (ruthab). Kalau tidak ada kurma, bisa diganti dengan sesuatu yang manis. Tentunya madu lebih utama dari yang lainnya”

 

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Burdah dari Abu Musa, dia berkata ;

“Aku pernah dikaruniai anak laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebuah kurma (tamr).

Di antara hikmah dilakukannya tahnik supaya yang paling pertama masuk di perut bayi adalah sesuatu yang manis, ditambahkan saat itu ada do’a untuk mengharapkan keberkahan. Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafizhohullah menjelaskan, “Adapun hikmah dari tahnik menggunakan kurma maka para ulama terdahulu berpendapat bahwa ini adalah sunnah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar yang paling pertama masuk ke perut bayi adalah sesuatu yang manis. Oleh karena itu, dianjurkan mentahnik dengan sesuatu yang manis jika tidak mendapatkan kurma.” Fatwa  Al  Islam         Su’al wal Jawab No.102906

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Tahnik dilakukan dengan kurma dan hukumnya adalah sunnah (anjuran). Namun andai ada yang mentahnik dengan selain kurma, maka sudah dianggap pula sebagai tahnik. Akan tetapi, tahnik dengan kurma lebih utama.” Syarh Muslim, Imam Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turost-Beirut, cetakan kedua, tahun 1392 H, 14: 124.

Hikmah mengapa tahnik harus dengan yang manis sebenarnya telah terungkap dalam ilmu kedokteran. Berikut penelitian penelitian dokter spesialis, dr. Muhammad Ali Al Baar. Ringkasan perkataan beliau sebagai berikut:

Sesungguhnya kandungan zat gula “glukosa” dalam darah bayi yang baru lahir adalah sangat kecil. Jika bayi yang lahir beratnya lebih kecil maka semakin kecil pula kandungan zat gula dalam darahnya. Oleh karena itu, bayi prematur (lahir sebelum dewasa), beratnya kurang dari 2,5 kg, maka kandungan zat gulanya sangat kecil sekali, di mana pada sebagian kasus malah kurang dari 20 mg/ 100 mL darah. Adapun anak yang lahir dengan berat badan di atas 2,5 kg, maka kadar gula dalam darahnya biasanya di atas 30 mg/100 mL. Kadar semacam ini berarti (20 atau 30 mg/100 mL darah) merupakan keadaan bahaya dalam ukuran kadar gula dalam darah. Hal ini bisa menyebabkan terjadinya berbagai penyakit antara lain; bayi menolak untuk menyusui, otot-otot melemas, berhenti secara terus-menerus aktivitas pernafasan dan kulit bayi menjadi kebiruan, kontaraksi atau kejang-kejang.

Apakah bayi yang sudah ditahnik dengan kurma sudah tidak tergolong sebagai ASI eksklusif? Hal ini terkadang menjadi pertanyaan kalangan medis karena berdasarkan teori, makanan pertama dan terbaik baik bayi adalah kolostrum yaitu ASI pertama kali yang keluar ketika menyusui pertama dan masih keluar beberapa hari setelah melahirkan. Kolostrum mengandung gizi tinggi dan imunitas umum tubuh.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ‘makanan’ adalah yang selain susu yang ia menetek darinya, selain kurma yang ia ditahnik dengannya, dan selain madu yang ia disuapi untuk pengobatan dan yang selainnya. Yang dimaksud adalah bahwa tidak dihasilkan kekenyangan baginya selain dari susu (ASI) saja.” (Fathul Baari 1/352, Syamilah)

Tahnik bukanlah memberi makan, melainkan hanya mengoles sedikit saja kurma yang dikunyah. Maka, bayi yang ditahnik tanpa memakan sesuatu selain ASI tetap tergolong sebagai bayi dengan ASI eksklusif.

 

Masyaa Allah, demikianlah banyak keberkahan yang bisa kita petik dari buah kurma. Yuk ikhwah, konsumsi kurma, si manis nan mungil kaya khasiat, hidangan Sunnah ala Rasulullah…

 

Kajian Edisi Ramadhan

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi

Dewan Eksekutif Pusat FULDFK Indonesia

Penulis: Ziana Alawiyah, Lydia Yuniarsih, Arizal

Editor: Mohd. Sarli, Najla Asysyifa

 

Referensi

Al-Bukhari (5467 Fathul Bari) Muslim (2145 Nawawi), Ahmad (4/399), Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (9/305) dan Asy-Syu’ab karya beliau (8621, 8622)

Astrini, Sarah Retno., Wahyuni, Ida., dan Widjasena, Baju. (2015). Perbedaan Pemberian Kurma (Phoenix dactylifera) terhadap Kelelahan Kerja pada Pekerja Bagian Finishing di PT. PP (Persero) Tbk. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 3(1), 454-461.

Badwilan, Ahmad Salim. 2008. The Miracle of Dates: Rahasia sehat alami dengan kurma. Jakarta: PT Mizan Publika.

Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Darul ma’rifah-Beirut, tahun 1379 H, 9: 558.

Fatwa  Al  Islam         Su’al wal Jawab No.102906

Giyatmo. (2013). Efektivitas Pemberian Jus Kurma Dalam Meningkatkan Trombosit Pada Pasien Demam Berdarah Dengue di RSU Bunda Purwokerto. Jurnal Keperawatan Sudirman, 8(1), 32-37.

Hadits mutawatir, HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 3

HR. Al-Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4.

https://almanhaj.or.id/2227-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-menganjurkan-berbuka-puasa-dengan-kurma.html 

https://almanhaj.or.id/2229-makan-tujuh-butir-kurma-ajwah-dapat-menangkal-racun-dan-sihir.html

https://almanhaj.or.id/3045-petunjuk-nabi-tentang-minum.html

https://muslimafiyah.com/bayi-sudah-ditahnik-dengan-kurma-berarti-sudah-tidak-asi-eksklusif-lagi.html\

Ramadhas M., Palanisamy K., Sudhagar M., et al. Ameliorating effect of Phoenix dactylifera on lambda cyhalothrin induced biochemical, hematological and hepatopathological alterations in male wistar rats. Biomedicine & Aging Pathology. India: Elsevier Masson SAS. 2014;7-14.

Syarh Muslim, Imam Nawawi, terbitan Dar Ihya’ At Turost-Beirut, cetakan kedua, tahun 1392 H, 14: 124.

Ramadhan Produktif

Marhaban yaa Ramadhan. Menjadi kegembiraan yang luar biasa dan rasa syukur bagi kaum Muslimin dapat ditemukan kembali dengan bulan yang berkah. Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa. Tak hanya puasa saja, tetapi kita juga diperintahkan untuk meningkatkan berbagai macam ibadah, dimana dengan kata lain bulan Ramadhan adalah arena peningkatkan kualitas dan kuantitas religius.

Read More

Bulan Ramadhan Males-malesan? Nggak Jaman…

Tidak terasa sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Alhamdulillah, Allah masih mengizinkan kita untuk bernapas di bumi Allah ini, bahkan sampai dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah. Kau tahu tidak, datangnya bulan Ramadhan itu tidak hanya dinantikan oleh seluruh muslim di bumi, tetapi juga dinantikan oleh para penghuni langit, karena amalan ibadah yang dikerjakan InsyaAllah mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.

Read More

Obesitas dan Pola Makan yang Berlebih-Lebihan (Israf) dalam Islam

Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan dunia dengan prevalensi yang selalu meningkat setiap tahunnya, baik pada usia anak-anak hingga usia dewasa. Obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai macam komplikasi penyakit yakni diabetes melitus, penyakit kardiovaskuler, kanker, gangguan psikososial, bahkan berujung pada kematian.

Read More